Blog Tausiyah275

April 22, 2006

Etika, Sopan Santun, dan Adab Bertamu

Filed under: Hikmah,HOT NEWS,Muamalah — Tausiyah 275 @ 9:00 am

Well…artikel ini merupakan ‘oleh-oleh’ dari perjalananku selama beberapa hari di Yogya. Sebelumnya, aku ucapkan banyak2 terima kasih kepada Godril, Billy, dan terutama kepada Ronceh yang telah mengundangku datang ke Yogyakarta. Semoga ALLOH SWT membalas kebaikan kalian berlipat ganda, aamiin. :-) Btw, artikel ini agak sedikit panjang, jadi mohon maaf…karena aku mesti sediakan referensi yg cukup lengkap ;)

Artikel ini terinspirasikan dari smsku ke Godril, saat hendak pulang ke Jakarta. “Ril, thanks banget dah mau direpotin ama aku selama di Yogya. Sorry kalo ada yg ga berkenan. Semoga ga kapok didatengin lagi, hehehe..” Nah, Godril membalasnya dg sms seperti ini“Kowe ncen ngrepoti kok. Gaya gawe maap2an brg. Huehe. Wes kroso bersalah? Hahaha. Okay jg makasi dah dateng. Maap kalo ada sambutan yg kurang berkenan n kurang.” Hehehe…lucu juga loh mas Godril ini, barangkali ada yg berminat, beliau masih jomblo kok ;-)

Nah, dari sms itu…aku hendak memfokuskan ke bagian MEREPOTKAN. Seorang tamu, HENDAKNYA, kedatangan dia TIDAK TERLALU MEREPOTKAN tuan rumah. Makanya, seringkali kita melihat, mendengar, dan mengalami sendiri, jika kita bertamu dan tuan rumah menyuguhkan makanan/minuman, biasanya kita akan berkata “Waduh, maaf nih, merepotkan..!!!” :p

Sekilas kita anggap ini basa-basi, namun sesungguhnya Islam sendiri telah memberikan panduan bagaimana tidak saja menjadi tamu yang baik, namun juga bagaimana menjadi tuan rumah yang baik.

Bahkan, sebenarnya dalam Islam, bertamu tidak mesti menginap, bahkan menjadi/mendapat undangan (pernikahan/walimahan, sunatan, ataupun yang lain), sudah dapat dikategorikan sebagai bertamu. Dengan demikian, hal yang serupa juga berlaku untuk tuan rumah. Dia tidak mesti harus ‘diinapi’, namun mengundang saja sudah dapat digolongkan sebagai tuan rumah.

Al Qur’an yang mempunyai posisi hukum tertinggi di Islam, menjelaskan secara sekilas mengenai etika bertamu ini, sebagaimana bisa kita lihat di An-Nur(24): 27-29,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.== Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. == Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Dari referensi-referensi hadits dan etika bertamu dari Rasululloh SAW yg aku dapatkan, aku tuliskan beberapa diantaranya:

UNTUK TAMU:

- Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur/halangan, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengatakan:“Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim)

- Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya. Ini berarti Islam secara NYATA mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan manusia, kecuali dalam hal takwa.

- Apabila kita sedang berpuasa sekalipun, diharapkan hadir. Ada hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

- Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.

- Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.

- Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah :
“Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikan telah bershalawat untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

“Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum”.

- Tidak Mengintai Ke Dalam Bilik. Jika kita hendak bertamu dan telah sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak. Tindakan ini sangat dilarang dan mempunyai ancaman yang sangat keras. Hadits di bawah ini menjelaskan hal tersebut:

Dari Abu Hurairoh ia berkata, Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam (nama lain Rasululloh SAW) bersabda,”Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”

Dari Anas bin Malik,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu.”

Hadits ini menunjukkan ancaman yang keras untuk orang yang mengintip dan melihat orang yang berada di rumahnya tanpa memperoleh izin sebelumnya.

- Tidak Masuk Rumah Walaupun Terbuka Pintunya. Dari ayat 27 An Nuur, sebagaimana telah ditulis di atas, kita baru boleh masuk rumah orang lain harus mendapatkan izin dari pemilik rumah.

- Minta Izin Maksimal Tiga Kali. Tamu yang hendak masuk di (halaman) rumah orang lain jika telah meminta izin tiga kali, tidak ada yang menjawab atau tidak diizinkan, hendaknya pergi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata,“Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya,”Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab,”Saya mendengar Rasululloh bersabda,”Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah kembali.”

- Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Masuk. Ketika tamu tiba di depan rumah, hendaknya tidak menghadap ke arah pintu. Tetapi hendaknya dia berdiri di sebelah pintu, baik di kanan maupun di sebelah kiri. Hal ini dicontohkan Rasululloh SAW.Dari Abdulloh bin Bisyer ia berkata,“Adalah Rasululloh SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan”Assalamu ‘alaikum … assalamu ‘alaikum …”

- Hendaknya Menyebut Nama Yang Jelas. Ketika tuan rumah menanyakan nama, tamu tidak boleh menjawab dengan jawaban “Saya (sebutkan nama)” atau jawaban yang tidak jelas. Karena tujuan tuan rumah bertanya adalah ingin tahu siapa tamu yang mengunjunginya dan untuk menentukan sikap apakah tamu tersebut boleh masuk atau tidak.

TUAN RUMAH:

- Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan/melupakan orang-orang fakir. Rasululloh SAW bersabda:“Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).

- Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasululloh SAW dan membahagiakan teman-teman sahabat, ataupun syukuran dalam rangka bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLOH SWT.

- Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan:“Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)

- Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.

- Jangan menampakkan kejemuan/kebosanan terhadap tamu, tetapi tunjukkanlah kegembiraan dengan kahadiran tamu tersebut, diantaranya dengan cara bermuka manis dan berbicara ramah.

- Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya. ***jadi ingat pengalamanku, bertamu ke rumah seorang teman. Kami (ber-5) bertamu hingga 5jam untuk menjenguknya, namun tuan rumah tega membiarkan kami kelaparan, xixixi…sebenarnya bukan masalah makanannya, namun jika melihat adab ini, sudah ‘sewajarnya’ jika tuan rumah memberi suguhan.***

- Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan. ***ini juga terkait dg poin di atas. Jika buru-buru membereskan hidangan, kesannya mengusir tamu…hehehe…***

- Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

Demikian artikel tentang bertamu ini…semoga bisa diterapkan oleh pembaca, khususnya oleh penulis artikel ini. Semoga bermanfaat :-)

About these ads

17 Komentar »

  1. BAGUS 1000x

    Komentar oleh Okta — Juni 11, 2006 @ 7:54 pm | Balas

  2. saya sangat senang apabila google menampilkan tentagn bab ini

    Komentar oleh Rahayu — Maret 14, 2007 @ 2:03 pm | Balas

  3. bagus.akan bermanfaat lagi bila lebih di bumingkan

    Komentar oleh lintang — Maret 21, 2007 @ 2:04 pm | Balas

  4. wah bagus banget, ,emang dalam segala hal yang kita lakukan harus berdasrkan etika

    Komentar oleh ARIE JAMAICA — Mei 4, 2007 @ 9:29 am | Balas

  5. waduuhh.. untung ada nii artikel jdi sy bisa lebih ngerti dn bisa ngerjain tugas agama. hhe :P

    Komentar oleh larash — November 18, 2007 @ 3:36 pm | Balas

  6. tnkz artikelnya,,,,,,,,,

    Komentar oleh mya — Januari 10, 2008 @ 8:13 pm | Balas

  7. Wah artikelnya bagus banget. kami pengin banget kalau seandainya artikel ini ditambahin dengan dampak positif dan negatif dari artikel sopan santun ini. karena budaya sopan santun sekarang ini sudah mulai hilang. terima kasih. maaf kalau ada kesalahan dalam berkata-kata. mohon dilaksanakan.

    Komentar oleh Nora&Novia — Februari 24, 2008 @ 1:19 pm | Balas

  8. ada beberapa versi dari etika dan itu benar tapi saya ingin menambahkan sedikit saja mungkin menurut saya etika adalah suatu kepribadian yang bisa dirubah dan berubah yang disebabkan pola hidup seperti lingkungan dan kepribadian seseorang.trims

    Komentar oleh dimas — April 6, 2008 @ 9:15 pm | Balas

  9. artikel ini bagus….dan sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas kuliah saya. saran saya, lebih bagusnya artikel ini di tambah dengan gambar

    Komentar oleh etha — April 18, 2008 @ 7:53 pm | Balas

  10. thnks ya artikelnya bantu nha dalam tugas peper nich he.he.he

    Komentar oleh nha — Mei 16, 2008 @ 12:38 pm | Balas

  11. Mmm…
    sangad bgs…bagi anak” skoLah..

    suatu pelajaran yg sangad penting…

    Komentar oleh Ihsan — Juli 19, 2008 @ 10:27 pm | Balas

  12. sangat setuju karena
    ini sangat bagus
    dan pula juga untuk pengetahuan kita
    saya setuju dech…..

    Komentar oleh dimaz — Oktober 13, 2008 @ 3:27 pm | Balas

  13. bagus artikelya……
    ini bacaan yang paling pas untuk anak2 penerus negara…..

    Komentar oleh jerly — Februari 18, 2009 @ 9:54 pm | Balas

  14. BACALAH LAGI ARTIKEL INI BIAR HAFAL, BARU KITA LAKUKAN…. BIASANYA ….. LUPAAN LHO

    Komentar oleh den ros — Maret 3, 2009 @ 10:52 am | Balas

  15. bagus juga ternyata artikelnya, emang penting juga lho buat yang belum tahu tentang etika bertamu… terkadang ada orang yang bertamu dengan etika yang kurang sopan .. tuk itu makasih banyak deh atas artikelnya

    Komentar oleh syarif — Desember 24, 2009 @ 2:15 pm | Balas

  16. pantaskah jika seorang cewek samperin cowok?

    Komentar oleh ari — Januari 14, 2010 @ 8:32 pm | Balas

  17. aku pdo ihsan……………………………

    Komentar oleh aly — Januari 16, 2011 @ 7:48 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

%d bloggers like this: