Blog Tausiyah275

Mei 29, 2007

Suami Dilarang Berhubungan Badan Dg Istri Yg Sedang Haid

Filed under: Fiqh,Lain-lain — Tausiyah 275 @ 1:40 pm

Artikel ini aku buat sehubungan dengan salah satu pencarian ke artikel oral dan sex dalam Islam. Si pencari menggunakan kata kunci “berhubungan badan dengan perempuan haid”, yg ternyata mengarah ke artikel tersebut. Ketika aku lihat lebih detail, ternyata artikel tentang sex dan haid belum ada, sehingga aku putuskan untuk menulis dan memuat artikel ini.

Al Qur’an, secara implisit, telah menyatakan bahwa HAID ADALAH KOTORAN dan MELARANG SEORANG SUAMI UNTUK BERGAUL (BERHUBUNGAN BADAN) DENGAN ISTRINYA KETIKA ISTRINYA SEDANG HAID. “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran“. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al Baqarah(2):222)

Dari ayat di atas, yg dimaksud dengan dilarang berhubungan badan adalah dalam konteks suami memasukkan (maaf) alat kelaminnya ke dalam (maaf) alat kelamin istrinya. Sementara untuk hubungan sex yg TIDAK MELIBATKAN ALAT KELAMIN PEREMPUAN, Rasululloh SAW MENGIJINKANNYA.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Lakukanlah segala-galanya kecuali jima”

Seorang penanya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apa yang halal bagiku dari istriku ketika dia sedang haid?” Rasulullah menjawab, “Ikatkan kencang-kencang ikat pinggangnya, kemudian terserah kepadamulah yang bagian atasnya.”

Dari Masruq, dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah, “Apa yang halal bagiku dari istriku ketika sedang haid?” Aisyah menjawab, “Semuanya halal kecuali kemaluan.”

Jika merujuk dari ulama2 4 mazhab, maka Imam Syafi’i dan Imam Hanafi berpendapat, bahwa haram hukumnya untuk istimta’ (bersenang-senang, dalam konteks ini adalah berhubungan badan) dengan istri ketika dia sedang haid, pada bagian tubuh antara pusat dan lutut tanpa ada sesuatu yang menghalanginya, dan dibolehkan jika ada penghalang, seperti pakaian dan sebagainya. Tetapi jima’ tidak dibolehkan sama sekali sekalipun memakai penghalang.

Dengan kata lain, kedua Imam di atas membolehkan si suami-istri untuk berhubungan sex dan mencapai kepuasan TANPA MELAKUKAN PENETRASI. Penghalang digunakan untuk mencegah/menghindari si suami ‘kebablasan’.

Sedangkan Imam Maliki berpendapat, tidak boleh melakukan jima’ dengan istri ketika sedang haid, tetapi sekedar istimta’ pada bagian tubuh yang ada antara pusat dan lutut, ada dua pendapat: Pertama dilarang sekalipun ada sesuatu penghalang. Itulah pendapat yang masyhur. Kedua, boleh sekalipun tidak ada penghalang.

Pendapat Imam Maliki nyaris serupa dengan dengan kedua Imam sebelumnya.

Terakhir, Imam Hambali mempunyai pendapat bahwa boleh hukumnya untuk istimta’ dengan istri ketika dia sedang haid dan nifas pada bagian tubuh yang ada antara pusat dan lutut tanpa sesuatu penghalang. Yang diharamkan hanyalah jima’.

Di beberapa referensi kedokteran yg aku dapatkan, ternyata saat mens (haid), saluran antara vagina dan rahim (mulut rahim ) sedang terbuka sehingga akan mudah masuknya penyakit ke dalam rahim di samping itu juga ada resiko yang cukup fatal di mana kalau sampai ada udara yang masuk kedalam rahim saat melakukan hubungan badan. Kalau misalnya ada udara terdorong masuk ke dalam mulut rahim lalu masuk ke dalam pembuluh darah, ini akan membawa kuman ke jantung sehingga menimbulkan gangguan jantung. Kalau terbawa ke otak, dengan cepat akan terjadi suatu reaksi alergi atau akan menyebabkan gangguan otak (akan mengalami kejang-kejang dan diikuti dengan kematian mendadak).

Belakangan kalangan kedokteran berhasil menemukan fakta bahwa saat tidak suci kondisi kelamin wanita sangat rentan jika terjadi gesekan atau kemasukan benda asing. Saat itu sel-sel di dalam kelamin wanita keadaannya tidak sama dengan saat suci.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa wanita yang biasa tetap melakukan hubungan sex saat haid atau nifas mempunyai resiko kanker yang lebih tinggi dari yang tidak.

Dengan demikian, ternyata terbukti lagi bahwa Al Qur’an merupakan wahyu dari ALLOH SWT, BUKAN KARANGAN MUHAMMAD SAW. Mengapa? Karena di jaman Rasululloh SAW dulu tidak ada penjelasan medis (secara akal), namun Al Qur’an sudah jauh mendahului menetapkan larangan ini (berhubungan badan dg istri yg sedang haid).

Mudah2an artikel ini berguna dan menambah keyakinan kita.

About these ads

14 Komentar »

  1. Betul,aku setuju sekali…Bertahanlah,paling juga seminggu..

    Komentar oleh Joni — Juli 12, 2008 @ 4:07 am | Balas

  2. jima’ itu apa?
    la klo cuma petting
    ato digesekin di luar celana boleh ga?
    kan ga saling ketemu tuh alat kelamin
    ada do’a buat berhubungan ga?
    maklum peru(penganten baru geto)
    thx b4

    jima’ = berhubungan seksual.
    Sebaiknya walau ‘sekedar’ petting, saya tidak menyarankan, karena nanti ditakutkan keterusan.

    do’a berhubungan akan saya posting di artikel mendatang, insya ALLOH

    Komentar oleh sarul — November 19, 2008 @ 1:04 pm | Balas

  3. sumpah gw setuju banget… untuk para suami2 bertahanlah paling lama juga seminggu. please deh…

    Komentar oleh intan — Januari 14, 2009 @ 6:28 pm | Balas

  4. untung suami gue sangat pengertian bangeet…
    thanks to you husb….

    Komentar oleh vonie — Januari 21, 2009 @ 2:23 pm | Balas

  5. jima apa yah… maklum deh orang awam “)=

    jima’ = berhubungan seksual

    Komentar oleh qq — Februari 17, 2009 @ 1:44 pm | Balas

  6. fgfj,jk,cfbdngfgmhk,

    Komentar oleh atye — Maret 19, 2009 @ 10:39 am | Balas

  7. saya mau bertanya..
    jika saya sudah mandi wajib karna mengira sudah selesai haidh (sudah 1 stgh hari darahnya tidak keluar lagi). tetapi saat selesai berhubungan dengan suami ternyata waktu istinja’ dan mandi wajib darahnya keluar lagi. bagaimana hukumnya dalam islam?
    saya tidak tahu kalau haidh saya belum selesai, karena sudah lebih dari satu hari darah tidak keluar lagi.

    terima kasih.

    jika memang tidak tahu, insya ALLOH tidak apa2.
    sebaiknya memang dilebihkan 1-2 hari usai haid, utk memastikan haidnya sudah bersih.

    demikian

    Komentar oleh tita — April 21, 2009 @ 9:41 am | Balas

  8. subhanallah dalam berhubungan intim ternyata ada aturan dan tata caranya, betapa besar rahmat dan hidayah yang didapat kita kaum Rasulullah saw.

    betul sekali :-)

    Komentar oleh rahmat — April 24, 2009 @ 11:35 am | Balas

  9. bgaimana dg istri yg srng mneluarkan darah?alias istihadah…jk suami bnr2 ingin mlakukan’itu’ apa hukumnya?

    dicek dulu penyebabnya.
    apakah karena haid ataukah memang ada penyakit (di luar haid).
    artikel ini menyorot pada HAID, bukan penyakit.

    demikian

    Komentar oleh ?? — Desember 26, 2009 @ 12:25 pm | Balas

  10. bagaimana jika suami istri yang tidak sengaja pada saat setelah berhubungan, ternyata sang istri hari itu dan saat itu datang bulan padahal stengah jam sebelum berhubungan masih blum haid..?
    mohon solusi, karna msh jd pikiran dosa dan akibatnya,,,

    intinya, jika tidak tahu, maka hukum tidak akan berlaku. jadi anda dan istri (insya ALLOH) TIDAK BERDOSA :-)
    hanya saja, saran saya, sebaiknya dicatat tanggal2 istri anda haid, sehingga jika sudah mendekati tanggal2 itu, lebih berhati-hati jika hendak berhubungan badan.

    Terlebih lagi, haid kadangkala mundur/maju 1-2 hari.

    Komentar oleh Donny — Februari 13, 2011 @ 9:10 am | Balas

  11. klw misalnya tidak cocok kb,,,ada keluar darah hanya sedikit2 tiap hari,,itu terjadi hampir sebulan,,,apakah suami blh mencampuri istrinya???trims

    Komentar oleh muti — April 20, 2011 @ 1:08 pm | Balas

  12. Apa hukumnya jika berhubungan suami istri,istri dlm keadaan sdh selesai haid tp belum mandi wajib?tp stlh berhubungan keluar haid lg?trims

    hukumnya boleh, jika anda sudah yakin istri anda sudah selesai haid.

    tapi utk lebih amannya, pastikan istri anda tidak keluar lagi haid sebelum berhubungan, karena jika masih ada darah haid yg keluar, dikhawatirkan ada penyakit yg akan mencelakakan kalian berdua.

    demikian

    Komentar oleh delia — Agustus 26, 2011 @ 2:35 pm | Balas

  13. apa hukumyna bila suami melakukan onani di waktu istri sedang dalam massa nifas.

    Komentar oleh Adhityan — September 15, 2011 @ 1:01 pm | Balas

  14. Apakah dibolehkan suami dan istri melakukan hubungan badan pada malam hari raya (Idul Fitri atau Idul Adha) ?
    Apakah dibenarkan suami dan istri melakukan hubungan badan dengan bertelanjang bulat ?

    1. boleh
    2. sebaiknya tidak telanjang bulat (penjelasan menyusul di artikel mendatang, insya ALLOH)

    Komentar oleh DURACHMAN R — November 17, 2011 @ 1:02 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Get a free blog at WordPress.com

%d blogger menyukai ini: