Blog Tausiyah275

Juni 13, 2007

Syarat-syarat Menjadi Khatib Jum’at

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Lain-lain — Tausiyah 275 @ 10:14 pm

**sekian lama aku tuliskan MATERI khutbah Jum’at (yg kini pindah ke blog khusus Khutbah Jum’at), artikel tentang BAGAIMANA menjadi khatib malah belum aku tuliskan. ;-) Semoga artikel beeikut bisa melengkapi+menyempurnakan, bagi yg membutuhkan. :) **

Khutbah Jum’at itu memang memerlukan rukun yang harus terpenuhi, agar bisa sah secara aturan. Bilamana salah satu rukun itu tidak terpenuhi, memang akan membuat khtbah itu rusak, alias tidak sah.

Yang paling pokok untuk diketahui bahwa khutbah Jum’at itu terdiri dari dua bagian. Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, di mana keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khurbah.

Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa khutbah Jum’at itu dilakukan sebelum shalat Jum’at. Berbeda dengan khutbah Idul Fitri atau Idul Adha yang justru disampaikan setelah selesai shalat Id.

Adapun rukun khutbah Jum’at, para ulama mencoba mengumpulkannya dari berbagai dalil, lalu didapat paling tidak ada lima perkara.

1. Rukun Pertama: Hamdalah
Khutbah Jum’at itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz yang memuji ALLOH SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.

2. Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAW
Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau ana mushallai ala Muhammad.

Namun nama Muhammad SAW boleh saja diucapkan dengan lafadz Ahmad, karena Ahmad adalah nama beliau juga sebagaimana tertera dalam Al-Quran.

3. Rukun Ketiga: Berwasiat untuk Taqwa
Yang dimaksud dengan berwasiat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada ALLOH SWT. Dan menurut Az-Zayadi, wasiat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah ALLOH SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah ALLOH SWT. Sedangkan menurut Ar-Ramli, wasiat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada ALLOH SWT.

Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: takutlah kalian kepada ALLOH. Atau kalimat: marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat.

Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jum’at itu.

4. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya
Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: tsumma nazhar atau potongan ayat yg tidak jelas.

Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.

5. Rukun Kelima: Doa untuk umat Islam di khutbah kedua
Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat (Ya ALLOH, ampunilah orang-orang muslim laki dan wanita). Atau kalimat Allahumma ajirna minannar (Ya ALLOHk, selamatkan kami dari api neraka).

About these ads

20 Komentar »

  1. jadi khotib harus nikah dulu gak sih?

    jelas tidak dik Azil. silakan lihat lagi rukunnya…

    Komentar oleh Azil — Juni 14, 2007 @ 8:08 am | Balas

  2. bagaimana status shalat jumat jika khotib seorang misionaris?? tolong lengkapi dengan hadist dan dalil qur’an…terima kasih

    Komentar oleh Ashabul Kahfi — September 29, 2007 @ 5:49 pm | Balas

    • maksudnya seorang misionaris bagaimana,mas Kahfi?

      Komentar oleh Tausyiah275 — Desember 14, 2012 @ 8:05 am | Balas

  3. bagaimana hukumnya jika khutbah jum’at diterjemahkan

    Komentar oleh mulyadi — Agustus 19, 2008 @ 10:12 am | Balas

    • khutbah Jum’at hendaknya menggunakan bahasa lokal agar mudah dimengerti.
      demikian mas Mulyadi

      Komentar oleh Tausyiah275 — Desember 14, 2012 @ 8:05 am | Balas

  4. seorang khotib memakai bahasa arab,
    menurut saya bagus,
    tapi bagaimana dengan para jama’ah yang mayoritas tak mengerti bahasa arab?

    Komentar oleh hambali — Desember 17, 2008 @ 10:59 am | Balas

    • mas Hambali,seperti jawaban saya di atas, hendaknya seorang khatib menggunakan bahasa lokal agar masyarakat tahu dan mudah memahami isi khutbahnya.

      Komentar oleh Tausyiah275 — Desember 14, 2012 @ 8:06 am | Balas

  5. dlm fiqih ada juga yang menyebutkan bahwa diantara rukun khutbah jumat adalah membaca syahadat dg riwayat dari imam ahmad dan abi daud ” Khutbah tanpa membaca syahadat ibarat tangan yang terputus”. mohon penjelasan dengan uraian Anda.

    Komentar oleh zen — Januari 9, 2009 @ 10:59 pm | Balas

  6. jawabang diatas gak nyambung dgn pertanyaan. yg ditanya syarat khotib yg dijawab syarat khutbah.

    btw baik bila anda menuliskan siapa penulis artikel ini, setahu kami ini adalah jawaban ustadz syarwat LC

    Komentar oleh ikhsan — Desember 26, 2009 @ 4:11 pm | Balas

  7. minta pendapt seorang khotib harus nikah terlebih dahulu

    tidak ada kewajiban seorang khatib mesti menikah dahulu. hal tersebut BUKAN syarat khatib Jum’at. demikian.

    Komentar oleh uki — Maret 21, 2010 @ 1:24 pm | Balas

  8. saya ingin bertanya apakah kita diwjibkan untuk ikuty shalat jumat dan mengekuti khutbah jumat?

    Komentar oleh ade — Oktober 16, 2010 @ 4:18 pm | Balas

    • mas Ade, khutbah dan sholat Jum’at itu satu kesatuan.

      Komentar oleh Tausyiah275 — Desember 14, 2012 @ 8:08 am | Balas

  9. bagai mana pada hari raya yang jatuh pada hari juma’at khutbahnya diawali dg takbir kemudia baru hamdalah BOLEH GA”?

    Komentar oleh teddy — Oktober 22, 2010 @ 2:04 am | Balas

  10. dalilnya?

    Komentar oleh mq — Desember 29, 2010 @ 12:36 pm | Balas

  11. apakah seorang muslim yg tdak memegang 5 waktu, sah menjadi imam atau hatib!

    Komentar oleh Bambang — Desember 14, 2012 @ 7:26 am | Balas

  12. bagai mana klo hatib yg tdak memegang 5 waktu! Sah apa tdak ya?

    Komentar oleh Bambang — Desember 14, 2012 @ 7:29 am | Balas

    • mas Bambang, secara syarat dan rukun sah. tapi tentunya aneh jika khatib yg sholatnya ‘bolong-bolong’ memberikan khutbah.
      bagaimana dia bisa menasihati orang lain, sementara diri sendiri juga belum bisa melakukan?

      Komentar oleh Tausyiah275 — Desember 14, 2012 @ 8:10 am | Balas

  13. […] Ternyata, jika para khatib ingin mencontoh Rasululloh SAW selaku suri tauladan terbaik, hendaknya mempersingkat khutbah dan memperlama sholatnya. Sementara itu, syarat2 menjadi khatib bisa dibaca di sini. […]

    Ping balik oleh Khutbah Jum’at Yang Baik Itu Seperti Apa? | Blog Tausiyah275 — April 20, 2013 @ 10:03 am | Balas

  14. Terus status 2 Kalimat Syahadat didalam Rukun Khutbah itu sendiri bagaimana ???

    Komentar oleh Adriv Genk Tunk Sink — Oktober 11, 2013 @ 12:17 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Get a free blog at WordPress.com

%d blogger menyukai ini: