Blog Tausiyah275

Agustus 14, 2007

Haramkah Kulit Babi?

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Lain-lain,Muamalah — Tausiyah 275 @ 1:11 am

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi kaum muslim, kapanpun dan dimanapun, bahwa BABI HARAM DIMAKAN. Ini didasarkan kepada firman ALLOH SWT, Al Baqarah(2):173,“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Beberapa ayat lain yang terkait dg HARAMNYA MEMAKAN BABI adalah:
- Al An’am(6):145,“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

- Al Maidah(5):3 (ayat terakhir yg diturunkan kepada Rasululloh SAW),“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jadi, sudah cukup jelas bahwa ALLOH SWT melarang muslim untuk makan babi, kecuali terpaksa (tidak ada makanan lain) atau tidak tahu.

Lalu, bagaimana hukumnya kulit babi? Kulit babi, jika dijadikan bahan makanan, JELAS HARAM JUGA…!!! Sementara untuk penggunaan kulit babi untuk keperluan lain, yg tidak dimakan, ada beberapa pendapat.

MEMPERBOLEHKAN
Dari koleksi bukuku, Halal&Haram dari Yusuf Qardhawi, pada bagian “Memanfaatkan Kulit Tulang dan Rambut Bangkai” (hal 61-62) di bagian akhir disebutkan:
Dan diriwayatkan pula, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:“Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci/bersih.” (Riwayat Muslim dan lain-lain)

Kulit yang disebut dalam hadis-hadis ini adalah umum, meliputi kulit anjing dan kulit babi. Yang berpendapat demikian ialah madzhab Dhahiri, Abu Yusuf dan diperkuat oleh Imam Syaukani.

Adapun pada kenyataannya, Rasululloh SAW TIDAK PERNAH menyatakan/memerinci hadits ttg penyamakan tersebut, apakah kulit anjing dan babi termasuk di dalamnya atau tidak. Hadits2 yg ada hanya berbicara ttg bangkai KAMBING. Jadi, ini adalah pendapat para ulama.

MENGHARAMKAN
Namun ada juga ulama yang menyatakan/berpendapat bahwa BABI DAN ANJING ITU PADA DASARNYA NAJIS, jadi dalam bentuk apapun (sekalipun kulitnya sudah disamak), para ulama ini menyatakan bahwa HARAM hukumnya menggunakan/memanfaatkan kulit babi/anjing.

Ulama-ulama yg mengharamkan imam Hanafi, Syafii, dan Hambali. Mereka berpatokan pada ayat Al An’am(6):145 di atas. Mereka menerjemahkan “semua itu” (lihat ayat di atas di bagian huruf yg tebal) sebagai semua bagian hewan, baik kulit, darah, tulang. Dengan kata lain, seperti aku tulis di atas, DASARNYA HEWAN ITU ADALAH NAJIS.

Lalu, bagaimana kita bersikap?

Tidak sulit, anda tentukan saja sikap anda. Apapun pilihan anda, insya ALLOH benar, karena kedua pendapat di atas muncul dari pendapat para ulama yg kadar ilmu, pemahaman serta pengetahuannya, insya ALLOH, bisa dipertanggungjawabkan.

Hanya saja, bagi yg memilih hukum yg memperbolehkan penggunaan/memakai kulit babi, haruslah menghormati orang2 yg menganggap kulit babi itu najis. Caranya? Dengan tidak menempelkan pakaian/peralatan dari kulit babi kepada orang2 yg mengharamkan kulit babi, meski dg maksud bercanda.

Sedangkan bagi yg mengharamkan kulit babi, juga mesti menghormati keputusan serta toleran dg pilihan orang2 yg memakai kulit babi/anjing. Mereka juga berdasarkan alasan yg cukup kuat. Jadi tidak perlu bersikap berlebihan (menjauhi atau memusuhi).

Semoga bermanfaat…

About these ads

4 Komentar »

  1. mas fahmi (bener gak ya namanya hee…) sendiri gmn??? pendapat yg pertama or kedua?

    betul, itu nama saya
    Saya sendiri memilih untuk TIDAK menggunakan kulit babi. Kenapa? Karena masih banyak kulit2 lain yg bisa digunakan, seperti kulit kambing, sapi, dan yang lainnya.

    Saya juga sebisa mungkin TIDAK bersentuhan dg kulit babi/anjing. Tapi jika ‘terpaksa’ bersentuhan, lebih baik membersihkan bagian yg terkena/bersentuhan.

    Hanya untuk lebih berjaga-jaga :)

    Komentar oleh kgome — Agustus 15, 2007 @ 1:59 pm | Balas

  2. saya ingin mengucapkan tahniah kepada awak.cerita nie mmg bagus….saya harap banyak lagi cerita dari awak….

    Komentar oleh sity fatin ilyasmin — September 7, 2007 @ 2:05 pm | Balas

  3. assalamualaikum,
    Saya lebih terarah utk mengikut pendapat imam as-syafie iaitu kulit babi haram / najis berat. Persoalannya jika suatu ketika dahulu seseorang pernah mamakai sepatu dan pada saat ini baru beliau sedar sepatu yang dipakainya dahulu (sekarang sepatu itu sudah tidak dipakai lagi)diperbuat dari kulit babi, wajibkah orang itu menyucikan kaki dengan 7 kali air (termasuk 1 kali air tanah) ???

    Komentar oleh sham — Mei 26, 2009 @ 11:00 am | Balas

  4. Bismillah Wa’ala alihi washohbihi wamaawallah. ini adalah peringatan bahwa menyatakan kebolehannya memakai kulit dari hewan2 yang najis adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan apalagi Yusuf Qordhawi ttg buku halal&haram itu banyak celaan dari para ulama maka pendapatnya tdk boleh diikuti. lihat fatwa yang shahih di http://www.islam-qa.com/id/ref/1695 or http://ummuvanessa.multiply.com/journal/item/126

    Komentar oleh Abu_ahmad — Juni 11, 2009 @ 3:19 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

%d bloggers like this: