Blog Tausiyah275

Maret 24, 2008

Bersentuhan Dengan Lawan Jenis Bukan Mahram

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 11:22 pm

Bismillah,

Salah satu hal yg sering menjadi pertanyaan adalah hukum bersentuhan dengan lawan jenis, terutama yg BUKAN MAHRAM (laki2 terhadap perempuan atau sebaliknya). Selain sering diajukan, hal ini seringkali menjadi perdebatan, antara yg membolehkan dengan tidak membolehkan.

Di artikel ini, saya akan menjelaskan hal ini berdasar pengetahuan yg saya miliki. Semoga bermanfaat.

Sebelumnya, saya hendak jelaskan dahulu, bahwa artikel ini akan membahas apakah bersentuhan dengan lawan jenis bukan mahram akan MEMBATALKAN WUDHU atau tidak. Jadi, bukan sembarang bersentuhan, karena yg jelas Islam melarang keras laki-laki dan perempuan yg bukan mahramnya untuk bersentuhan.

Sejak kecil, saya mendapatkan doktrin, dari guru2 (SD, SMP, SMA) bahwa bersentuhan kulit dengan lawan jenis yg bukan mahram AKAN MEMBATALKAN WUDHU. Bapak sendiri menjelaskan, bahwa doktrin itu terkait berdasar hukum yg ditetapkan oleh Imam Syafi’i. Beliau juga menjelaskan bahwa hukum tersebut tidak serta merta diterapkan dengan kaku, karena untuk beberapa kasus, hukum tersebut ‘mesti’ bersifat fleksibel.

Bapak menjelaskan, hukum bersentuhan ini bisa menjadi fleksibel untuk para jama’ah haji. Seringkali terjadi, usai wudhu, akan terjadi persentuhan (kulit) antar lawan jenis yg bukan mahramnya. Bisa dibayangkan jika kita ‘kaku’ dalam menerapkan hukum Syafi’i, kita akan berulangkali berwudhu. Selain melelahkan, hal ini juga malah akan membuat kita tertinggal sholat hanya karena kita terlalu kaku.

Nah, sebenarnya, bagaimana sih sebenarnya hukum bersentuhan kulit dg lawan jenis itu, apakah membatalkan wudhu atau tidak?

A. Yang mendukung bahwa bersentuhan kulit akan membatalkan wudhu
Beberapa dalil yg diajukan oleh para pendukung hal ini antara lain:
Hadits Rasululloh SAW, yakni:
1) “Dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Thabrani dan Baihaqi)

2) Dari asy-Sya’bi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marasil)

3) Aisyah berkata, “Maka barangsiapa diantara wanita-wanita beriman itu yang menerima syarat tersebut, Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Aku telah membai’atmu – dengan perkataan saja – dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’at itu; beliau tidak membai’at mereka melainkan dengan mengucapkan, ‘Aku telah membai’atmu tentang hal itu.’

4) Dalil yang terkuat dalam pengharaman sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya adalah menutup pintu fitnah (saddudz-dzari’ah), dan alasan ini dapat diterima tanpa ragu-ragu lagi ketika syahwat tergerak, atau karena takut fitnah bila telah tampak tanda-tandanya. Semua pihak, terutama 4 imam besar, mendukung hal ini tanpa penolakan sedikitpun.

Pada umumnya, yg memegang pendapat ini adalah mazhab Syafei, mazhab Az-Zuhri, ‘Ata’ bin As-Sa’ib, Al-Auza’ie. Dalil dasar mereka adalah An Nisa(4):43,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

B. Yang mendukung bahwa bersentuhan kulit tidak akan membatalkan wudhu
Sementara itu, para pendukung bahwa bersentuhan kulit tidak membatalkan wudhu, mengajukan dalil2 sebagai berikut:
1) “Dari Ismail bin Abdurrahman dari neneknya, Ummu Athiyah, mengenai kisah bai’at, Ummu Athiyah berkata: Lalu Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau berucap, ‘Ya Allah, saksikanlah.'”(Ibnu Hibban, al-Bazzar, ath-Thabari, dan Ibnu Mardawaih

2) “Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: “Sesungguhnya seorang budak wanita diantara budak-budak penduduk Madinah memegang tangan Rasulullah saw., lalu membawanya pergi ke mana ia suka.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya pada “Kitab al-Adab”)

3) Dari Anas bahwa Nabi saw. masuk ke rumah Ummu Haram binti Milhan dan beliau diberi makan. Ummu Haram adalah stri Ubadah bin Shamit, dan Ummu Haram membersihkan kepala beliau (dari kutu) lalu Rasulullah SAW tertidur …” (HR Bukhari dalam Kitabul jihad Was-Sair bab Ad-du’au biljihadi Wasysyahadatu lirrijali wannisa’ no. 2580 dan Kitabul Isithsan no. 5810).

4) Dari Anas dari bibinya Ummu Haram binti Milhan, Ummu Haram berkata,”Rasulullah SAW tidur di dekat aku lalu bangun dan tersenyum …(HR Bukhari dalam Kitab Al-Jihadu Wassair bab Fadhlu Man Yusri’u Fi sabilillah… no. 2590).

Sementara pendapat ini didukung oleh mazhab Hanafi.

C. Bersentuhan kulit tidak membatalkan wudhu dengan syarat, yakni tanpa disertai dengan syahwat. Yang dimaksud tidak disertai dengan syahwat di sini adalah tidak melakukan hubungan badan (jima’).
Dalil-dalil yang digunakan antara lain:
1) Aisyah istri Nabi saw. berkata, “Saya tidur di depan Rasulullah dengan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, beliau mendorongku. Lalu, aku menarik kedua kakiku. Apabia beliau berdiri, aku memanjangkan kembali kedua kakiku.” Aisyah menambahkan, “Pada waktu itu tidak ada lampu di rumah.” (HR Bukhari)

2) Dalil2 di poin B

Jika kita melihat dalil2 yg diajukan, tentu membuat kita akan menjadi bingung. Yg bilang batal wudhu, dalilnya jelas. Sementara yg bilang tidak batal wudhu, dalilnya juga shahih. Lantas, bagaimana sikap kita?

Saudara2ku, kita tidak perlu bingung. Pilihlah salah satu pendapat di atas. Insya ALLOH semua pendapat di atas sama2 benar, karena mereka mempunyai rujukan yg sama2 shahih. Adapun perbedaan penafsiran tidak perlu dipermasalahkan. Sekarang keyakinan (dari dalam hati) kita yg harus diperkuat, pendapat mana yg akan kita amalkan?

Bagi yg yakin dg pendapat A, silakan dianut pendapat tersebut. Hanya saja, jika anda naik haji, jangan bersikap kaku. Sementara bagi yg memilih pendapat B dan C, silakan diamalkan. Namun dengan catatan, tidak dengan serta merta seenaknya menyentuh/bersentuhan dengan wanita, terutama yg bukan mahramnya. Apalagi sampai memeluk, dengan alasan “Lho, saya kan menganut bersentuhan tidak batal…” ;-)

Saya sendiri menganut mazhab Syafi’i, tapi bersifat moderat. Dalam artian, jika bersentuhan dg istri, yaaa…saya tidak anggap batal, karena saya contoh dari Rasululloh SAW di atas. :-)

About these ads

12 Komentar »

  1. tergantung
    sentuhannya apa sama apa
    hihihiihi

    Komentar oleh Luthfi — Maret 25, 2008 @ 11:28 am | Balas

  2. Yapz.. semua nya juga tergantung situasi, kondisi, dan aksi :) Allah Always Know whatever Human doin..? :D

    Komentar oleh ridhoyp — Maret 25, 2008 @ 7:21 pm | Balas

  3. walah bagian akhirnya kok tetep nggantung :p

    tapi males banget kalo ketemu “cewek-cewek pondokan” yang gag mau salaman ama kita, tapi kalo ketemu kyai atau “cowok-cowok pondokan” mau salaman

    duh najis po ya :(

    mungkin mereka beranggapan kyai/cowo pondokan sebagai saudara..jadinya merasa lebih ‘bebas’ salaman..
    berpikir positif saja :-)

    Komentar oleh paydjo — Maret 26, 2008 @ 2:28 pm | Balas

  4. kalo saya baca yang membatalkan wudu….kok keteranganya tidak ada yang berhubungan dengan masalah solat dan wudu…sementara keterangan yang tidak membatalkan wudu keterangannya jelas ketika rosul SOLAT, beliau memegang aisah…jadi???

    mohon pencerahanya.

    wudhu dan sholat terkait. jika Rasululloh SAW memegang Aisah ~ batal wudhu, otomatis batal sholatnya. demikian

    Komentar oleh riyan — Maret 27, 2008 @ 9:57 am | Balas

  5. saya lebih tertarik pada kata “menyentuh”nya di surah An Nisa(4):43,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

    dalam surah ini ada perkataan “junub” dan “menyentuh”.
    sepemahaman saya yg bodo..”junub” adalah keadaan dimana telah melakukan hub. suami-istri dan berakhir dengan ejakulasi (keluar sperma).
    “menyentuh” adalah kata yang sering digunakan untuk maksud yang sama (hub.suami-istri)
    bukankah kalo tidak salah (maaf saya bener-bener bukan pengingat yang baik) lelaki jika telah bersentuhan/melakukan hub.suami istri tanpa keluar sperma (ejakulasi) tidak wajib mandi sebaliknya..wanita bila telah bersentuhan tetap wajib mandi walaupun tidak mengalami ejakulasi.

    jadi apakah “menyentuh” yang dimaksud adalah demikian?? ataupun menyentuh walaupun hanya di ujung jari?

    mohon penjelasannya…salam

    untuk hal ini, masih ada silang pendapat di antara para ulama. Ada yg berpendapat menyentuh di sini = berhubungan suami istri. ada juga yg berpendapat bersentuhan kulit.

    Saya sendiri berpendapat, untuk lebih hati2 dalam bersikap, saya pribadi mengambil sikap menyentuh = bersentuhan kulit. Kecuali untuk kasus2 tertentu, misalnya di masjidil haram, yg sulit untuk tidak bersentuhan dg lawan jenis, itu bisa menjadi pengecualian.

    Demikian

    Komentar oleh tono — Maret 30, 2008 @ 2:41 pm | Balas

    • setuju dg anda….

      Komentar oleh ita — Oktober 25, 2014 @ 9:25 pm | Balas

  6. menurut saya, semua itu tergantung dari bagimana kita memandang sesuatu. Apakah mengandung syahwat/tidak. Tapi mungkin menurut saya, alangkah lebih baik, kita sebagi muslim dan muslimah dapat menjaga apa yang sudah alloh beri kepada kita sebagai umatNya. Lebih baik mulai dari sendiri dan sejak dini, daripada memikirkan hal yang bertolak belakang dengan keimanan dan ajaran alloh dan rasulullah saw.

    Komentar oleh andita — Maret 31, 2008 @ 4:21 pm | Balas

  7. mz,,, saya ada tugas lho…tolongin donk arabnya manaaa

    Komentar oleh kemplu — April 21, 2008 @ 9:18 am | Balas

  8. what?

    Komentar oleh nocodingoncrack — Mei 21, 2008 @ 10:12 am | Balas

  9. [...] yg paling mudah adalah bersentuhan kulit dg lawan jenis bukan mahram. Saya yakin mayoritas kaum muslim Indonesia, terutama yg hanya tahu madzhab Syafi’i akan [...]

    Ping balik oleh Berilmu dan Menuntut Ilmu Itu Janganlah Ber-kacamata Kuda! « Blog Tausyiah275 — Juli 19, 2012 @ 8:53 pm | Balas

  10. Tolong anda jelaskan sanad dari hadist yang apabila bersentuhan itu tidak membatalkan wuduk , shohihkah, hasankah, dhoifkah, atau palsu. Dalam mengeluarkan hadist haruslah mengeluarkan sanad. Dan terangkan kepada saya, hadist diatas apakah menunjukkan setelah itu Rasulullah SAW itu sholat? Karena anda mengartikan tidak batal wudhu, sebagian dari orang yang tak memahami menjadikan dalil anda ini menjadi boleh melakukan sholat setelah menyentuh yang bukan mahramnya ataupu mukhrimnya. Sebagai acuan bagi anda buka AL Qur’an surat An nur ayat 30 dan 31. Kalau anda mengerti tentang hujjah dalam beritjihad dalam Islam, pastilah anda tau kedudukan AL Qur’an terhadap hadist. Anda boleh buka kitab 4 imam mazhab, hanbali, maliki, syafi’i , hanafi. Tak ada pertentangan diantara merekà dan jumhur ulama di kalangan Ahluh sunnah waljamaah tentang usul ilmu ( pokok ilmu ) , yaitu mereka sepakat bahwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram membatalkan wudhu , mereka berbeda tentang furu'( cabang ) mereka berbeda pendapat tentang bersentuhan kulit antara sesama mahram.

    Komentar oleh Frozen Sahara — Oktober 9, 2013 @ 5:31 am | Balas

  11. Dan sangat jelas diatas, hadist yang anda jadikan referensi untuk tidak membatalkan wudhu ketika bersentuhan dengan wanita adalah dalam konteks Rasulullah terhadap istri istri beliau, bukan terhadap perempuan yang bukan mukhrim dan bukan mahram. Jangan menakwilkan hadist tanpa pengetahuan yang cukup. Apalagi menakwilkan AL Qur’an , astagfirullah.

    Komentar oleh Frozen Sahara — Oktober 9, 2013 @ 6:17 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Get a free blog at WordPress.com

%d blogger menyukai ini: