Blog Tausyiah275

Desember 25, 2011

Toleransi Sosial Dan Toleransi Aqidah Bagi Seorang Muslim

Bismillah,

Tiap tahun, di bulan Desember, selalu terulang hal yg sama, yakni ‘keributan’ dan debat kusir terkait dengan ucapan selamat Natal. Bagi saya pribadi, hingga saat ini saya masih berkeyakinan bahwa mengucapkan selamat Natal (atapun selamat hari Raya besar lainnya) itu berkaitan dengan akidah.

Tapi, saya sendiri menganggap dan yakin bahwa hubungan sosial saya dengan orang2 non muslim baik2 saja tanpa perlu mengucapkan selamat pada hari Raya mereka. Setidaknya, hubungan saya dengan rekan2 kantor yg non muslim ya biasa2 saja tuh. Tanpa ucapan selamat dari saya, toh hubungan saya dan mereka tidak ada perubahan. Tidak lantas canggung dan ada perasaan ga enak.

Adapun jika mereka mengucapkan selamat Idul Fitri atau Idul Adha, ya itupun hak mereka. Saya pun tidak akan menjauhi apalagi memusuhi temen2 non muslim yg tidak mengucapkan selamat pada saya. Lha wong yg seagama dan tidak mengucapkan selamat juga saya tidak musuhi.

So, bagi saya, toleransi yg mesti dijalani seorang muslim terbagi atas 2, seperti judul artikel ini, toleransi sosial dan akidah.

Toleransi Sosial

Yang dimaksud dengan toleransi sosial adalah toleransi yg terkait dengan kegiatan sosial, atau hubungan dengan sesama manusia. Contohnya: perdagangan (di pasar), pekerjaan, lalu membangun fasilitas umum bersama. Bisa juga di dalam urusan teknologi, siskamling bersama, arisan, dan masih banyak lagi. Intinya, selama tidak ada kaitan (terutama langsung) dengan agama, bagi saya maka sudah sewajarnya kaum muslim tetap melakukan kontak dan hubungan.

“Jika ikut mengamankan orang Kristen yg hendak merayakan Natal, apakah termasuk toleransi sosial?”

Dengan tegas, saya jawab “YA”.

“Lho, mengapa? Bukankah tadi anda mengatakan toleransi sosial tidak terkait dg agama?”

Memang betul, bahwa ada urusan orang Kristen yg merayakan Natal, tapi sebagai seorang muslim, maka kita wajib untuk menjaga lingkungan kita dari hal2 yg membahayakan/meneror. Janganlah karena perbedaan agama, lantas kaum muslim mengkotak-kotakkan jaminan keamanan antara muslim dan non muslim.

Bukankah Rasululloh SAW sendiri tidak mengganggu kaum Yahudi dan Nasrani yg ada di Madinah, hingga akhirnya kaum Yahudi (sendiri) yg melakukan pelanggaran (pengkhianatan) terhadap kaum Muslim. Bahkan saat Islam (terutama saat Saladin Al Ayyubi)masuk dan menguasai Yerusalem, tidak ada darah orang Kristen yg tumpah (baca: dibunuh).

Begitu pula saat siskamling. Masa karena ada tetangga yg non muslim, sehingga penjaga siskamling yg muslim lantas tidak peduli dan membiarkan rumahnya dicuri/dirampok? Jelas ini tindakan salah!

Toleransi Akidah

Sementara itu, jika yg dimaksud dengan toleransi akidah, maka saya jelas2 akan menolaknya. Termasuk (hingga saat ini, bagi saya) dalam hal pengucapan selamat Natal (atau hari besar lainnya).

Mengapa?

Yg jelas tidak ada contoh dari Rasululloh SAW mengenai ucapan Natal. Natal sendiri sudah diperingati oleh kaum Nasrani/Kristen sejak 336 M (saya ambil referensi di sini dan sini). Dengan demikian, SEHARUSNYA jika referensi itu benar adanya, umat Nasrani/Kristen di Semenanjung Arab mestinya sudah merayakan hal tersebut karena jarak antara kerajaan Romawi dan Arab tidaklah terlalu jauh.

Dan sebagai seorang Nabi dan Rasul, maka Rasululloh SAW akan memberikan contoh pertama kali jika memang memberi selamat hari besar (terutama Natal) itu adalah hal yg baik. Begitu juga yg akan dilakukan oleh sahabat2 dan ulama2 terdahulu.

Untuk masalah peribadatan, Rasululloh SAW sendiri sudah mencontohkan bahwa TIDAK ADA TOLERANSI DALAM AKIDAH. Anda bisa lihat dan baca asbabun nuzul turunnya surat Al Kaafiruun, terutama ayat “Lakum dinukum waliyadin”, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Bagi yg belum mengetahui latar belakangnya, saya ceritakan secara singkat saja.

Kala itu kaum Quraisy sudah kehabisan akal untuk menghambat dakwah Islam yg dilakukan Rasululloh SAW. Maka para pembesar Quraisy mengajak bertemu dengan Rasululloh SAW, dan dalam pertemuan itu, para pembesar Quraisy menawarkan ‘jalan damai’ dengan melakukan kompromi dalam ibadah.

Kompromi dalam ibadah yg dimaksud adalah saling bergantian beribadah kepada Tuhannya masing. Jadi dalam rentang waktu tertentu, kaum Quraisy akan menyembah ALLOH SWT. Namun di lain waktu, kaum muslim mau ikut menyembah tuhannya kaum Quraisy.

Maka turunlah ayat ini, yg menegaskan bahwa dalam hal AQIDAH, TIDAK ADA TOLERANSI. Dan jika Natal tidak ada kaitannya dg aqidah, maka mestinya Rasululloh SAW mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. :-)

Nah, dalam perkembangannya, saya melihat bahwa terkadang kaum muslim ‘terpaksa’ mengucapkan selamat Natal (hari besar) kepada non muslim. Seperti seorang pimpinan (bos) ataupun HRD. Atau bisa juga seseorang yg sedang berada di negara yg mayoritas non muslim.

Bagi saya, kondisi tersebut adalah terpaksa. Dan selama orang yg mengucap selamat tersebut memang bisa melindungi akidahnya, ya tidak apa2. Hanya saja, sepanjang saya tahu, meski saat di Mekkah, kaum Quraisy mayoritas, toh Rasululloh SAW tidak lantas mengucapkan selamat hari raya kepada kaum Quraisy saat mereka merayakan hari2 besarnya.

Bahkan jika merujuk ke sini, maka ternyata ada cukup banyak pendapat ulama (dalam dan luar negeri) yg membolehkan mengucapkan selamat Natal.

1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi

2. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’

3. Dr. Wahbah Zuhayli

4. Dr. M. Quraish Shihab

5. Fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) dan Buya Hamka

6. Dr. Din Syamsuddin

7. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah

8. Isi Fatwa MUI 1981

Sebagai catatan tambahan: para pendapat di atas MEMBEDAKAN UCAPAN NATAL DENGAN IKUT PERIBADATAN NATAL. Dengan kata lain, meski membolehkan mengucapkan selamat natal, tapi untuk (ikut) urusan peribadatan, tetap diharamkan! Jadi, memang tindakan melarang ikut ibadat Natal sudah benar, hanya saja utk ucapan selamat Natal masih menjadi perdebatan.

Sementara fatwa Yusuf Al-Qaradhawi tentang boleh ucapan selamat hari raya agama non Islam itu ada syaratnya yakni apabila orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khusus seperti: kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya. Hal ini termasuk di dalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang ALLOH SWT namun dicintai-Nya sebagaimana Dia SWT mencintai berbuat adil.

Lagi, bagi saya pribadi, hingga saat ini saya masih berkeyakinan bahwa BELUM PERLU mengucapkan selamat natal (hari besar) kepada non muslim. Bisa jadi pandangan saya ini salah dan saya masih perlu dibukakan wawasannya lagi, terutama jika merujuk pada (minimal) 8 pendapat di atas.

Bagi anda2 yg merasa boleh dan tidak haram hukumnya utk mengucapkan selamat Natal (hari besar) kepada non muslim, ya monggo. Toh saya tidak memaksa anda untuk mengikuti pendapat dan pendirian saya. :-)

Semoga bermanfaat.

Tambahan: artikel ini sebagai UPDATE terhadap artikel saya ini, yg menyatakan MUI dan Buya Hamka mengharamkan memberi selamat Natal. Seharusnya adalah: MUI dan Buya Hamka MELARANG KAUM MUSLIM MENGIKUTI PERIBADATAN HARI NATAL.

Desember 22, 2011

(Hari) Ibu Dalam Kacamata Islam

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausyiah275 @ 6:19 pm

Bismillah,

Hari ini, 22 Desember, bangsa Indonesia merayakan hari Ibu. Saya perhatikan banyak sekali ucapan2 di Facebook maupun di Twitter yg isinya adalah menyanjung, menghormati, menyayangi, dan aneka kata lainnya yg intinya ucapan terima kasih kepada Ibu mereka.

Namun, di balik itu semua, ada hal yg menggelikan (menurut saya) yg saya temukan. Ada sebuah tulisan berisi “Hari Ibu ternyata bukan dari budaya Islam, apakah kita mesti mengikuti budaya Barat ini?” lebih kurang demikian isinya. Terus terang, saya tidak terlalu ingat detailnya, karena menurut saya tidak terlalu penting.

Jika kita perhatikan, menarik juga pernyataan tersebut. Terlebih jika dikaitkan dengan hadits Rasululloh SAW berikut:

  • “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dalam musnadnya juz II hal. 50)
  • “Dan pasti kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak dan sejengkal demi sejengkal, hingga kalaupun mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.”, Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab , “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim no. 2669)

Dan ayat Al Qur’an berikut:
“Tidak akan rela orang-orang Yahudi dan Nasrani kepadamu hingga kamu mengikuti millah (agama) mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Tentu saja ayat dan hadits tersebut akan membuat banyak orang (terutama kaum muslim) bertanya-tanya.

  • “Apakah ini berarti saya tidak boleh mengekspresikan kecintaan dan kasih sayang saya terhadap ibu saya?”
  • “Jika memang dilarang, bagaimana solusi dari Islam? Jangan hanya melarang saja!”
  • “Ah, picik sekali. Ini kan bukan budaya yg terkait aqidah. Tidak perlu terlalu serius lah!”
  • “Jadi orang Islam sulit sekali ya? Apa2 saja dilarang! Dibilang bid’ah, bla bla bla.”

Barangkali pertanyaan2 dan komentar2 di atas ditemui ataupun muncul di benak kita.

Jadi, bagaimana sebenarnya kedudukan Ibu dalam Islam?

Ibu punya kedudukan yg SANGAT TINGGI dalam Islam. Beberapa dinyatakan dalam ayat Al Qur’an dan hadits Rasululloh SAW berikut:

  • “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)
  • Suatu saat Rasululloh SAW pernah ditanyai orang: “Ya Rasul, siapa sih orang yang paling harus saya taati di dunia ini??” Rasul menjawab: “ibumu”, “lalu siapa lagi Ya Rasul??” Rasul menjawab: “I bumu”, “kemudian setelah itu siapa lagi Ya Rasul??” orang itu bertanya lagi, Rasul menjawab: “ibumu”, orang itu bertanya lagi kemudian siapa lagi Ya Rasul?”, Rasul menjawab: “bapakmu”

Pada ayat di atas, disebut ibu dulu baru bapak. Demikian juga pada hadits, bahkan ibu disebut 3 kali baru bapak. Ini menunjukkan Islam sangat peduli dan menempatkan ibu dalam kedudukan yg tinggi!

“Kok tidak ada hari Ibu dalam Islam?”

Demikian pertanyaan yg (mungkin) timbul atau pernah didengar.

Bagi Islam, jelas tidak perlu ada hari Ibu (secara khusus), terutama jika dikaitkan dengan masalah menyayangi, menghormati, dan seterusnya, jika ternyata Ibu hanya diperlakukan secara istimewa di 1 (satu) hari itu saja. Islam mengajarkan kepada kita utk berbuat baik (menyayangi, menghormati, dan seterusnya) pada ortu (terutama ibu) SETIAP HARI.

  • Apalah arti menyayangi di hari Ibu, tapi di hari lain memperlakukan beliau seperti seorang pembantu?
  • Apalah arti berkata sayang di hari Ibu, tapi di hari lain memarahi ibunya karena kesalahan yg sepele?
  • Apalah arti memberi bunga di hari Ibu, tapi di hari lain menyusahkan dan membebani hidup beliau?

Tapi, menurut saya bukan berarti Islam melarang memperingati hari Ibu. Well, banyak dari kita yg butuh momen atau mesti ada waktu2 khusus utk mengingatkan ttg pentingnya Ibu. So, tidak ada salahnya memperingati hari Ibu, asalkan memang sehari-hari kita sudah menyayangi, menghormati beliau. Dan di hari Ibu, kita memberi PERHATIAN YANG LEBIH daripada di hari biasa.

Lagipula, Ibu mana sih yg tidak senang diperhatikan secara khusus (walau hanya 1 hari)? Dan ingat, menyenangkan hati orang lain (terlebih Ibu) itu sangat baik dan dianjurkan!

Akhir kata, daripada sibuk memberi cap larangan kepada orang2 yg merayakan hari Ibu, coba cek dahulu, apakah anda2 yg melarang itu sudah memperlakukan Ibu anda dengan baik? ;-)

Semoga bermanfaat.

Desember 12, 2011

Kekasihku Pergi Saat Berjihad [kisah pegawai Pajak]

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausyiah275 @ 5:29 pm

*sebuah kisah yg menarik yg saya dapat di inbox saya. semoga bermanfaat. artikel lain tentang staf pajak yg bersih bisa dibaca di sini.*

SAYA TEMUKAN SOSOK IDEAL PEGAWAI PAJAK pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.

Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011, si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance, saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus bangkit menyikapi keadaan ini.

Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena, tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya).

Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu –bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.