Blog Tausyiah275

Januari 23, 2012

Islam Dan Kartu Kredit

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Lain-lain,Muamalah,Seri Kesalahan2,Teknologi — Tausyiah275 @ 5:05 pm

Bismillah,

Di jaman sekarang, siapa sih yang tidak memakai kartu kredit? Seringkali juga disebut kartu hutang karena pada dasarnya kita belanja dg cara berhutang dahulu ke bank, lalu bank yg akan membayarkan dahulu belanjaan kita. Selanjutnya kita mesti melunasi hutang kita pada saat jatuh tempo yg telah ditentukan.

Lalu, apa hukumnya kartu kredit? Halal atau haram?

Jika dilihat dari kegunaannya, seperti saya tulis di atas, kartu kredit adalah alat bantu sebagai alat bayar dengan cara BERHUTANG. Dalam Islam, boleh kok berhutang.

Lho, kan ada bunganya? Itu kan termasuk riba?

Sekarang, bagaimana menyikapinya kartu kredit?

Pertama, yg mesti diakali dan disikapi agar JANGAN SAMPAI kena bunga alias riba! Yang mesti diperhatikan adalah BUNGA DIKENAKAN jika anda TIDAK MEMBAYAR FULL (LUNAS) hutang anda bulan itu. JANGAN PERNAH membayar biaya minimum atau tidak full, meski sebesar 99%. Karena sisanya, walau hanya 1% akan membengkak menjadi hutang yg besarnya akan sangat signifikan, cepat atau lambat. Jadi, pastikan BAYAR FULL HUTANG ANDA BULAN ITU!

Kedua, pastikan hutang anda tidak terlalu besar! Jika kartu kredit anda memberikan limit Rp 7 juta, sementara gaji anda hanya Rp 5 juta/bulan, itu berarti sangatlah jelas, bahwa JANGAN DIHABISKAN limit hutang anda! Lah, jika anda habiskan limit sebesar Rp 7 juta sementara gaji anda lebih kecil, itu sama saja dengan peribahasa “Lebih besar pasak daripada tiang” dong! :-) Dari beberapa bacaan yg pernah saya ketahui, untuk amannya disarankan berhutang TIDAK LEBIH dari 30% gaji.

Ketiga, anda berhutang untuk hal2 yg memang DIBUTUHKAN, bukan DIINGINKAN! Ada perbedaan yg signifikan antara butuh dan ingin. Butuh itu berarti barang tersebut tidak bisa tidak mesti ada. Sementara ingin muncul karena hawa nafsu semata. Setidaknya jika ada berhutang karena butuh, misalnya kebutuhan pokok, maka masih dianggap wajar. Yang penting, perhatikan poin pertama.

Saya rasa 3 poin di atas sudah cukup sebagai petunjuk agar anda bisa memanfaatkan kartu kredit secara optimal tanpa perlu terkena riba/bunga.

Di sisi lain, saya memahami mengapa tidak ada bank yg mau menawarkan kartu kredit syariah. Karena jika merujuk pada pengertian syariah, maka mesti ada akad (langsung) antara pihak pengutang dan yg terhutang (bank). Dan jelas, sangat tidak efisien jika bank2 syariah mesti menempatkan orang2nya di toko2 hanya agar menjadikan kondisi berhutang tersebut menjadi syar’i.

Entahlah, mungkin di masa depan ada terobosan baru mengenai kartu kredit syariah.

Semoga berguna.

Januari 9, 2012

Apel Untuk Bidadari

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah,Tarbiyah — Tausyiah275 @ 2:53 pm

Cerita ini saya dapat dari inbox. Semoga bermanfaat. :-)

“Pada berbagai tahap kehidupan kita, tanda-tanda cinta yang kita temui itu beragam: ketergantungan, daya tarik, kepuasan, kecemasan, kesetiaan, kesedihan, tetapi di dalam hati, sumbernya selalu sama. Manusia mempunyai sedikit sekali kemampuan untuk saling berhubungan dengan sesamanya, mensyukuri apa adanya.”.

Dia berjalan dengan mata menatap ke bawah, kepala tertunduk. Ketika dia melihatku, dia bicara, dan aku menangkap pandangannya. Dia lusuh dan kumal, tak ada cahaya di matanya. Dia berkata,”Assalaamu ‘Alaykum.” Begitu sopannya dia.

Dengan lembut aku menjawab salamnya, “Wa ‘Alaykum salaam.” Aku terus berjalan dalam kesunyian, pemuda ini -yang tak kuketahui siapa namanya- telah membawa hatiku pergi jauh, entah ke mana.

Aku menatap pada kedua matanya, mengamati sebuah harapan yang pernah sirna, kataku dalam hati, “Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? Bagaimanakah perasaan ibu yang telah menyaksikan putranya tumbuh seperti ini?”. Beberapa waktu kemudian kudapati jawaban itu tak akan pernah ada, ibunya telah meninggal -tidak beberapa lama setelah ia lahir. Rupanya ia seorang piatu!
(lagi…)

Januari 6, 2012

Banyak Anak Ajaran Islam?

Bismillah,

Artikel ini saya buka dengan sebuah hadits Rasululloh SAW sebagai berikut,“Nikahilah wanita-wanita yang penyayang lagi subur. Sesungguhnya aku berbangga dengan jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Mari kita tengok lingkungan sekitar kita, atau malah keluarga kita sendiri. Banyak orang tua (terutama jaman dahulu) yg mempunyai anak (sangat) banyak. Tidak lagi 3, 4, atau 5, bahkan bisa mencapai belasan anak! Orang tua saya sendiri merupakan produk KB alias keluarga besar, karena kakek nenek saya mempunyai anak 14 orang! :-)

Pertanyaannya, apakah mereka mempunyai banyak anak karena hadits yg saya sebut atau hal lain?

Saya pribadi mempunyai pendapat, pertama: bisa jadi para leluhur kita pernah mendengar atau tahu ttg hadits itu, lalu ustad/ulamanya yg mengajarkan hadits tersebut ‘salah’ mengajarkan sehingga terjadi pemahaman yg salah. Kedua: jaman dahulu populasi memang masih sedikit, jadi wajar saja leluhur kita ‘berlomba-lomba’ mempunyai keturunan yg banyak. ;-) Ketiga: pekerjaan jaman dahulu membutuhkan banyak tenaga. Jika punya anak banyak maka tenaga bantuan akan semakin banyak sehingga pekerjaan bisa lebih cepat selesai dan mudah dikerjakan. Keempat: jaman dahulu tidak banyak hiburan seperti jaman sekarang. Orang tua jaman dulu memanfaatkan hubungan suami istri sebagai hiburan. Semakin sering menghibur diri, maka peluang punya anak (banyak) makin besar. ;-)

Apabila yg terjadi adalah no 1, maka sesungguhnya terjadi kesalahpahaman yg luar biasa terhadap hadits tersebut. Hadits tersebut benar2 ditelan mentah-mentah tanpa adanya pemahaman ataupun penelitian dan pemikiran lebih lanjut dan mendalam.

“Pak, anaknya berapa?”
“Sepuluh! 4 laki-laki, 6 perempuan”
“Banyak sekali pak?”
“Kan saya mengikuti hadits, bahwa Rasululloh SAW senang umatnya yg banyak. Jadi, saya berkontribusi dg keluarga besar saya”
“…..”

Saya membayangkan dialog seperti di atas, dan mendadak saya merasa geli sendiri. Geli karena (menurut saya) sang bapak telah menelan mentah2 hadits Rasululloh SAW.

“Lantas, mestinya bagaimana? Sang bapak dianggap sesat?”

Oh, tentu saja tidak. Saya hanya ingin mengajak anda semua untuk memperhatikan hadits berikut. Beliau bersabda,”Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok (makanan).” Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Pada hadits di atas disebut bahwa jumlah umat Islam (para pengikut Rasululloh SAW) sangat banyak, namun mereka ternyata tidak berdaya terhadap serangan bangsa-bangsa lain. Jumlah umat Islam yg banyak tersebut tidak lain seperti buih air bah, plus dihinggapi dengan penyakit wahan.

“Jadi, apa maksud artikel ini?”

Saudara-saudara sekalian, saya tidak melarang atau bahkan mengharamkan anda (atau keluarga anda) mempunyai banyak anak. Lha wong Rasululloh SAW sendiri bangga dg umatnya yg jumlahnya banyak, masa saya mesti melawan atau tidak menyukai hal ini. Namun, hendaknya mempunyai anak itu MESTI ADA PERHITUNGAN.

Perhitungan apa yg mesti dilakukan/disiapkan?

Pertama, pastikan anak anda terpenuhi kebutuhan kasih sayang dan perhatian. Jika anda punya anak 10 tapi tidak disayang dan diperhatikan, anak2 anda malah bisa jadi gelandangan dan mengganggu masyarakat, malah menjadi penjahat misalnya (naudzubillah). Lantas, apa anak2 seperti itu yg anda harapkan? Lebih baik anda punya anak ‘cuma’ 3-4 orang tapi anda dekat dengan mereka. Kehangatan keluarga terasa lalu saling menyayangi.

Kedua, persiapkan kebutuhan (lahir/badan) anak anda dengan baik. ALLOH SWT sudah menjamin rejeki tiap2 anak. Tapi anda selaku orang tua juga mesti menyiapkan kebutuhan anak anda. Makanan yg bergizi, pakaian yg layak, pendidikan yg memadai, hiburan yg sesuai. Bayangkan anda punya banyak anak tapi pakaiannya kumal, lalu tidak sekolah, kurus kering. Jelas, anda tidak suka. Apakah anda mau membuat Rasululloh SAW bangga dg banyaknya umat beliau namun penampilannya ‘menyedihkan’?

Ketiga, jikapun akhirnya anda ditakdirkan mempunyai banyak anak, maka anda tidak perlu lantas merasa terbebani dan takut miskin. Apalagi sampai membunuh anak anda karena takut miskin. Saya pernah menulis artikel “Jangan kau bunuh anakmu karena takut miskin” dan saya yakin itu sangat berhubungan dengan poin ini.

Ayat yg berkaitan dengan poin-poin di atas adalah:
- “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS An-Nisaa’(4): 9).

- “Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dan seorang ayah bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Dan seorang ibu bertanggungjawab atas harta dan anak suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya “ (HR. Bukhari Muslim)

Kesimpulan:
- Islam tidak melarang umatnya mempunyai banyak anak, tapi mesti diperhatikan juga tercukupinya kebutuhan mereka, baik itu materi maupun rohani.

- Umat Islam jangan cuma jumlahnya saja yg banyak (KUANTITAS), tapi juga mesti BERKUALITAS!

- Bagi yg anaknya sedikit, atau malah tidak punya anak, jangan kuatir, anda masih akan tetap dibanggakan oleh Rasululloh SAW dan insya ALLOH masih Islam, selama masih menjalankan rukun Islam. :-)

Semoga bermanfaat

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.