Blog Tausiyah275

November 5, 2012

Perempuan DILARANG Mencukur Alis

Bismillah,

Salah satu kesalahan yg sering dilakukan oleh kaum muslimah adalah mencukur (ataupun mengubah bentuk) alis. Hal ini terutama bisa kita lihat pada saat pernikahan. Hampir tidak ada perempuan yg alisnya tidak dicukur/dibentuk saat dirias, termasuk istri saya.

Padahal istri saya sudah wanti-wanti kepada si perias untuk membiarkan alisnya apa adanya. Tapi tak dinyana, si perias sempat beraksi dengan memotong ujung alis istri saya. Beruntung istri saya tahu dan segera melarang si perias meneruskan aksinya.

Tindakan mencukur alis dilarang keras di Islam. Bahkan Rasululloh SAW sendiri bersabda,“ALLOH SWT melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato. ALLOH SWT pula melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan yang meminta dicabut.” (HR. Muslim no. 2125)
(catatan: Pengertian rambut wajah di sini adalah alis.)

Anda bisa bayangkan, ALLOH SWT sendiri sampai melaknat. Ini menunjukkan bahwa mencukur alis termasuk hal yg MESTI DIHINDARI DAN TIDAK DILAKUKAN!

Bagi yg sudah melakukan, terutama dikarenakan tidak tahu hukumnya ataupun melakukan krn terpaksa, maka satu2nya hal yg bisa dilakukan adalah bertaubat dg sebenar-benarnya taubat (taubat nasuha). Sementara bagi yg tetap melakukannya meskipun sudah tahu hukumnya, maka usaha taubat nasuhanya mesti dilakukan lebih mendalam. Hal ini dikarenakan anda sudah tahu larangan ini tapi masih ‘nekad’ melakukannya.

Ada cerita bahwa seorang perempuan melakukan hal ini (mencukur alis) dikarenakan dia ingin tampak cantik di saat pernikahannya.

Saya menyayangkan pernyataan ini karena dia menggunakan kriteria cantik versi manusia, bukan cantik versi ALLOH SWT. Sesungguhnya kecantikan dalam pandangan manusia tidaklah ada artinya di mata ALLOH SWT. Tidak apa2 dianggap tidak cantik oleh manusia, asalkan tidak melanggar hukum ALLOH SWT.

Semoga berguna.

November 1, 2012

Saat Dilamar, Perempuan Mesti Diam Atau Boleh Bicara?

Bismillah,

Pada saat acara lamaran, yang dilakukan oleh (pihak) pria kepada (pihak) perempuan, seringkali kita temui salah satu kesalahan (salah kaprah) yg terjadi di masyarakat Indonesia.

Salah kaprah yg saya maksud adalah mengenai diamnya pihak perempuan, terutama yg masih gadis. Saya melihat salah kaprah ini terjadi karena para ulama, ustad mengajarkan hadits-hadits berikut secara ‘mentah2′.

“Janganlah menikahkan seorang janda sebelum meminta persetujuannya & janganlah menikahkan anak gadis sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya; Wahai Rasululloh SAW, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab: Dia diam.” Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Abi Utsman. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa yaitu Ibnu Yunus dari Al Auza’i. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Syaiban. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid & Muhammad bin Rafi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq dari Ma’mar Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hasan telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah semuanya dari Yahya bin Abi Katsir seperti makna hadits Hisyam beserta isnadnya. Lafazh hadits ini juga sesuai dgn hadits Hisyam, Syaiban & Mu’awiyah bin Salam. (HR Muslim 2543)

“Ya, dia dimintai izin. ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya). Maka Rasululloh SAW bersabda: Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (HR Muslim 2544)

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan anak gadis harus dimintai izin darinya & izinnya adalah diamnya? Dia (Rasululloh SAW) menjawab; Ya.” (HR Muslim 2545)

“Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasululloh SAW mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasululloh SAW bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasululloh SAW bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasululloh SAW bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

“Dari Abu Hurairah dari Rasululloh SAW, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasululloh SAW, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

‘Kesalahan’ pengajaran yg saya maksud adalah jika seorang gadis setuju utk dilamar, maka dia MESTI diam!

Saya menemukan beberapa kasus, beberapa di antaranya teman saya yg menikah karena terpaksa. Ketika saya tanya bagaimana sikap mereka saat dilamar, mereka menjawab diam.

Yang lebih ‘mengerikan’ lagi adalah pendapat beberapa ulama yg mengatakan bahwa jika seorang gadis saat dilamar dia menjawab “Mau” (atau sejenisnya) yg menyatakan ekspresi/persetujuan dia untuk dilamar, maka lamaran tersebut BATAL!

Kesalahan yg hendak saya soroti adalah:
1. Sikap orang tua yg tidak mengerti (tidak bisa membaca) sikap diam anak gadisnya saat dilamar.
2. Diamnya si gadis adalah persetujuan.

Orang tua MESTINYA bisa mengetahui sikap anak gadisnya pada saat dilamar seorang laki2, apakah diamnya adalah tanda setuju (seperti hadits) ataukah tidak kuasa menolak (dengan alasan apapun, terutama takut dituduh tidak berbakti pada orang tua).

Sementara itu, jika seorang gadis menyetujui lamaran yg dilakukan pihak pria dg berkata-kata, maka LAMARAN SAH! Lha wong diamnya saja sudah dianggap setuju, maka apalagi dengan berkata-kata (menyatakan persetujuannya). :-)

Jadi:
- bagi pihak laki2, kapan anda melamar perempuan pujaan anda? ;-)
- bagi pihak perempuan, jangan ragu untuk mengungkapkan persetujuan anda apabila dilamar. terlebih oleh laki2 yg memang anda inginkan untuk menjadi pendamping hidup.

Semoga bermanfaat

Mei 27, 2012

Antara Garpu Dan Tangan Kanan

Bismillah,

Saya yakin kita semua sudah mengenal sendok dan garpu sebagai alat untuk membantu menikmati makanan. Jika di masyarakat Barat sana, atau jika kita pergi ke restoran Barat terutama yg menyuguhkan daging steak, lebih dikenal pisau dan garpu sebagai alat bantu untuk makan.

Garpu senantiasa dipegang oleh tangan kiri, kecuali orang kidal. Pada saat makan steak, garpu berperan serta dalam hal ‘memegang’ makanan (daging) di piring dan pisau yg berperan memotong-motong daging. Juga berperan untuk ‘menusuk’ kentang/makanan lain untuk disantap. Sementara saat makan ‘biasa’, garpu berperan untuk menusukkan dan mengambil makanan2/lauk pauk favorit sebelum akhirnya pindah ke mulut untuk dikunyah.

Yang menjadi ‘masalah’ adalah jika garpu digunakan tangan kiri untuk makan. Disebut masalah karena Islam, melalui Rasulnya, sudah MELARANG makan menggunakan tangan kiri!

Mari perhatikan hadits2 berikut:
“Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanan dan apabila dia minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena setan apabila dia makan, makan dengan tangan kiri dan apabila minum, minum dengan tangan kiri.” (HR Muslim)

Dari Jabir r.a., dari Rasululloh SAW sabdanya,”Janganlah kamu makan dengan tangan kiri, karena hanya syetan yang makan dengan tangan kiri.”.

Dari Ibnu ‘Umar r.a., katanya Rasululloh SAW bersabda,”Apabila kamu makan dan minum, makan dan minumlah dengan tangan kanan, karena hanya setan yang makan minum dengan tangan kiri.”.

Dari Iyas bin Salamah bin Akwa’ r.a., dia mengatakan bahwa bapaknya menceritakan kepadanya,”Seorang laki-laki makan dekat Rasululloh SAW dengan tangan kiri. Maka bersabda beliau kepadanya,”Makanlah dengan tangan kanan !”. Jawab orang itu,”Aku tidak bisa !”. Sabda Nabi SAW,”Tidak bisa ? Tidak ada orang yang melarangmu melainkan perasaan sombongmu.”. Kata Iyas,”Orang itu benar-benar menjadi tidak dapat mengangkat tangan ke mulutnya.”

Saya pun pernah menulis setidaknya 2 artikel terkait dengan makan, di artikel adab makan Rasululloh SAW dan adab makan dan minum ini.

Saya yakin akan banyak orang bertanya-tanya mengenai hadits dan artikel di atas, terutama mengenai pelarangan menggunakan tangan kiri untuk makan. Bahkan, bisa jadi Islam dianggap tidak toleran dan tidak mengerti dengan orang-orang yg kidal.

Sebenarnya solusinya sangat mudah! PINDAHKAN GARPU KE TANGAN KANAN PADA SAAT MEMASUKKAN MAKANAN KE MULUT!

Mungkin terdengar aneh, terutama jika kita makan steak. Namun, menurut saya inilah solusi terbaik yg bisa kita lakukan, terutama agar kita bisa tetap makan dengan nyaman serta sesuai dengan syar’i (hukum) Islam.

Saya sendiri sudah sejak lama mempraktikkan hal ini. Pada saat menyantap steak, saya menggunakan garpu untuk ‘memegang’ daging steak dan pisau untuk memotong-motongnya. Namun pada saat hendak menyantap daging tersebut, saya memindahkan garpu ke tangan kanan dan menyuapkan daging ke dalam mulut saya. Sejauh ini saya tidak menemui masalah ataupun mendapat protes dari orang2 sekitar saya.

Lalu, bagaimana dg orang yg kidal? Jika merujuk pada hadits Rasululloh SAW yg ketiga di atas, MESTI DIUPAYAKAN untuk makan dg tangan kanan. Menurut saya tidak sulit dan merepotkan, toh HANYA PADA SAAT MAKAN SAJA orang2 kidal ‘terpaksa’ menggunakan tangan kanan mereka untuk makan. Sementara untuk aktivitas2 lain, kekidalan mereka tidak dipersoalkan oleh Islam.

Semoga bermanfaat.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.