Blog Tausiyah275

November 17, 2012

Tata Cara Pelaksanaan Akikah (Aqiqah)

Bismillah,

Akikah atau aqiqah adalah salah satu sunnah yg ditinggalkan dan dicontohkan Rasululloh SAW. Sunnah ini dilakukan kepada anak yg baru lahir dan dilakukan pada hari 7, 14, 21, dst (kelipatan 7).

Pada saat pelaksanaan akikah ini, orang tuanya MESTI menyembelih kambing dengan ketentuan, 2 ekor kambing jika bayinya laki-laki dan 1 ekor kambing jika bayinya perempuan. Jadi, jika ada orang tua yg punya bayi kembar 3 laki-laki, maka dia mesti menyembelih 6 ekor kambing.

Berikut ini dalil2 mengenai sunnahnya aqiqah:

- Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

- “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

- Dari Aisyah dia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

- Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad)

- Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (HR Bukhari)

- Dari Ummi Kurz Al-Ka’biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda:“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing” (HR. Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516)

- Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasululloh SAW bersabda,“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad)

- Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasululloh SAW pernah ber‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. (HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak juz 4, hal. 264) (Keterangan : Hasan dan Husain adalah cucu Rasululloh SAW.)

- Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Al-Baihaqi)

- Dari Abu Buraidah r.a.:”Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.” (HR Baihaqi dan Thabrani).

- “Seorang anak yang baru lahir tergadaikan oleh akikahnya. Maka disembelihkan kambing untuknya pada hari ke tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Ashabussunah)

- Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Karaz Al Ka’biyah bahwa ia bertanya kepada Rasululloh SAW tentang akikah. Beliau bersabda, “Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor. Dan tidak akan membahayakan kamu sekalian, apakah (sembelihan itu) jantan atau betina.”

Dari dalil2 di atas, kita bisa lihat bahwa aqiqah itu:
– dilakukan pada hari 7, 14, 21, dst (kelipatan 7). aqiqah bisa dilaksanakan selama si anak belum baligh (+/- 12 tahun utk anak laki2 dan 10 tahun utk anak perempuan).

- saat dilakukan aqiqah, bayi dicukur rambutnya dan ditimbang beratnya serta dikonversi dalam bentuk emas. Lalu ortunya bersedekah seberat emas tsb.

- pemberian nama (secara resmi) diberikan kepada bayi saat aqiqah tersebut.

- jika bayinya laki2 maka saat aqiqah memotong 2 ekor kambing, sementara untuk bayi perempuan cukup 1 ekor kambing.

Beberapa hal tambahan:
– Menurut sebagian kalangan Syafii, jika seseorang mengetahui dirinya ternyata belum diaqiqahi oleh ortunya (saat dia masih kecil), maka dia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri. Dalilnya hadits riwayat Al Thabrani yang berasal dari Anas RA disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah diutus sebagai nabi. Derajat hadits ini seperti yang disebutkan dalam silsilah ash-Shahihah, menurut Al Albani adalah sahih.

- Biaya aqiqah, afdholnya dari orang tua. Tapi boleh juga dari pihak lain, misalnya kakeknya si bayi. Ulama dari mazhab Maliki dan Hambali memandang bahwa biaya aqiqah harus berasal dari ayahnya. Jadi, jika biayanya berasal dari harta orang lain tidak disebut sebagai aqiqah. Namun pendapat kalangan Syafii lebih kuat. Menurut mereka, aqiqah menjadi tanggungan orang yang bertanggung jawab memberikan nafkah kepada si anak, entah ayah, ibu atau kakeknya. Pasalnya, perintah untuk menunaikan aqiqah berlaku mutlak tanpa dibatasi kepada ayah saja. Sebagai contoh, aqiqah Hasan ra dan Husein ra dilakukan oleh kakek mereka, Nabi Muhammad SAW.

- Saat pelaksanaan aqiqah, TIDAK MESTI dilakukan pengajian atau ceramah. Hal ini dikarenakan inti aqiqah adalah menyembelih kambing dan memakannya (serta berbagi kepada kenalan).

- Apabila memang tidak punya biaya, SEBAIKNYA JANGAN BERHUTANG hanya karena ingin aqiqah. Sekali lagi, hukum aqiqah adalah SUNNAH, BUKAN WAJIB.

- Memotong rambut si bayi hendaknya yg rata, jangan sampai bagian depan, kanan, kiri, dan belakangnya jadi amburadul. TIDAK PERLU digunduli. Bahkan, jika si bayi memang gundul, tidak perlu memaksakan menggunting/memotong rambutnya.

- Daging aqiqah boleh dibagikan kepada orang non muslim (teman orang tuanya atau tetangga).

- Ketentuan 2 ekor kambing utk anak laki2 tidak mengikat. Dalam satu hadits disebutkan, bahwa Rasululloh SAW meng-aqiqah-kan Hasan dan Husen dengan 2 ekor kambing (bukan 4 ekor).

- Pastikan nama yg diberikan adalah nama yg baik.

Semoga bermanfaat

November 5, 2012

Perempuan DILARANG Mencukur Alis

Bismillah,

Salah satu kesalahan yg sering dilakukan oleh kaum muslimah adalah mencukur (ataupun mengubah bentuk) alis. Hal ini terutama bisa kita lihat pada saat pernikahan. Hampir tidak ada perempuan yg alisnya tidak dicukur/dibentuk saat dirias, termasuk istri saya.

Padahal istri saya sudah wanti-wanti kepada si perias untuk membiarkan alisnya apa adanya. Tapi tak dinyana, si perias sempat beraksi dengan memotong ujung alis istri saya. Beruntung istri saya tahu dan segera melarang si perias meneruskan aksinya.

Tindakan mencukur alis dilarang keras di Islam. Bahkan Rasululloh SAW sendiri bersabda,“ALLOH SWT melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato. ALLOH SWT pula melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan yang meminta dicabut.” (HR. Muslim no. 2125)
(catatan: Pengertian rambut wajah di sini adalah alis.)

Anda bisa bayangkan, ALLOH SWT sendiri sampai melaknat. Ini menunjukkan bahwa mencukur alis termasuk hal yg MESTI DIHINDARI DAN TIDAK DILAKUKAN!

Bagi yg sudah melakukan, terutama dikarenakan tidak tahu hukumnya ataupun melakukan krn terpaksa, maka satu2nya hal yg bisa dilakukan adalah bertaubat dg sebenar-benarnya taubat (taubat nasuha). Sementara bagi yg tetap melakukannya meskipun sudah tahu hukumnya, maka usaha taubat nasuhanya mesti dilakukan lebih mendalam. Hal ini dikarenakan anda sudah tahu larangan ini tapi masih ‘nekad’ melakukannya.

Ada cerita bahwa seorang perempuan melakukan hal ini (mencukur alis) dikarenakan dia ingin tampak cantik di saat pernikahannya.

Saya menyayangkan pernyataan ini karena dia menggunakan kriteria cantik versi manusia, bukan cantik versi ALLOH SWT. Sesungguhnya kecantikan dalam pandangan manusia tidaklah ada artinya di mata ALLOH SWT. Tidak apa2 dianggap tidak cantik oleh manusia, asalkan tidak melanggar hukum ALLOH SWT.

Semoga berguna.

November 1, 2012

Saat Dilamar, Perempuan Mesti Diam Atau Boleh Bicara?

Bismillah,

Pada saat acara lamaran, yang dilakukan oleh (pihak) pria kepada (pihak) perempuan, seringkali kita temui salah satu kesalahan (salah kaprah) yg terjadi di masyarakat Indonesia.

Salah kaprah yg saya maksud adalah mengenai diamnya pihak perempuan, terutama yg masih gadis. Saya melihat salah kaprah ini terjadi karena para ulama, ustad mengajarkan hadits-hadits berikut secara ‘mentah2′.

“Janganlah menikahkan seorang janda sebelum meminta persetujuannya & janganlah menikahkan anak gadis sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya; Wahai Rasululloh SAW, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab: Dia diam.” Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Abi Utsman. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa yaitu Ibnu Yunus dari Al Auza’i. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Syaiban. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid & Muhammad bin Rafi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq dari Ma’mar Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hasan telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah semuanya dari Yahya bin Abi Katsir seperti makna hadits Hisyam beserta isnadnya. Lafazh hadits ini juga sesuai dgn hadits Hisyam, Syaiban & Mu’awiyah bin Salam. (HR Muslim 2543)

“Ya, dia dimintai izin. ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya). Maka Rasululloh SAW bersabda: Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (HR Muslim 2544)

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan anak gadis harus dimintai izin darinya & izinnya adalah diamnya? Dia (Rasululloh SAW) menjawab; Ya.” (HR Muslim 2545)

“Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasululloh SAW mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasululloh SAW bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasululloh SAW bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasululloh SAW bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

“Dari Abu Hurairah dari Rasululloh SAW, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasululloh SAW, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

‘Kesalahan’ pengajaran yg saya maksud adalah jika seorang gadis setuju utk dilamar, maka dia MESTI diam!

Saya menemukan beberapa kasus, beberapa di antaranya teman saya yg menikah karena terpaksa. Ketika saya tanya bagaimana sikap mereka saat dilamar, mereka menjawab diam.

Yang lebih ‘mengerikan’ lagi adalah pendapat beberapa ulama yg mengatakan bahwa jika seorang gadis saat dilamar dia menjawab “Mau” (atau sejenisnya) yg menyatakan ekspresi/persetujuan dia untuk dilamar, maka lamaran tersebut BATAL!

Kesalahan yg hendak saya soroti adalah:
1. Sikap orang tua yg tidak mengerti (tidak bisa membaca) sikap diam anak gadisnya saat dilamar.
2. Diamnya si gadis adalah persetujuan.

Orang tua MESTINYA bisa mengetahui sikap anak gadisnya pada saat dilamar seorang laki2, apakah diamnya adalah tanda setuju (seperti hadits) ataukah tidak kuasa menolak (dengan alasan apapun, terutama takut dituduh tidak berbakti pada orang tua).

Sementara itu, jika seorang gadis menyetujui lamaran yg dilakukan pihak pria dg berkata-kata, maka LAMARAN SAH! Lha wong diamnya saja sudah dianggap setuju, maka apalagi dengan berkata-kata (menyatakan persetujuannya). :-)

Jadi:
– bagi pihak laki2, kapan anda melamar perempuan pujaan anda? ;-)
– bagi pihak perempuan, jangan ragu untuk mengungkapkan persetujuan anda apabila dilamar. terlebih oleh laki2 yg memang anda inginkan untuk menjadi pendamping hidup.

Semoga bermanfaat

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.