Blog Tausiyah275

Oktober 8, 2005

Tata Cara Sholat Tarawih

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Sholat — Tausiyah 275 @ 10:21 am

Sekedar informasi, bukan berarti aku menyalahkan yg taraweh 20 rakaat… 😉 (insya ALLOH di kesempatan lain aku tuliskan juga artikel ttg sholat taraweh 20 rakaat…

(Dikutip dari tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, judul asli Sholatut Tarawih, edisi Indonesia Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat.)

Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa allam

Dari hadits-hadits dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam dan witir lengkap berbagai cara:

Pertama.
Shalat 13 rakaat dan dimulai dengan 2 rakaat yang ringan.
Berkenaan dengan ini ada beberapa riwayat:
a. Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)

b. Hadits Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. Kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku seakan-akan beliau memegang telingaku, seakan-akan membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat yang ringan. Beliau membaca Ummul Qur’an pada kedua rakaat itu, kemudian beliau memberi salam kemudian beliau shalat hingga sebelas rakaat dengan witir, kemudian tidur. Bilal datang dan berkata: Shalat Ya Rasulullah! Maka beliau bangun dan shalat dua rakaat, kemudian shalat mengimami orang-orang. (HR. Abu Dawud dan Abu `Awanah dalam kitab Shahihnya. Dan asalnya di Shahihain)

Ibnul Qayim juga menyebutkan hadits ini di Zadul Ma`ad 1:121 tetapi Ibnu Abbas tidak menyebut bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan sebagaimana yang disebutkan Aisyah.

c. Hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam apabila bangun malam, memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan, kemudian shalat delapan kemudian berwitir. Pada lafadh lain: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat Isya, kemudian menambah dengan dua rakaat, aku telah siapkan siwak dan air wudhunya dan berwudlu kemudian shalat dua rakaat, kemudian bangkit dan shalat delapan rakaat, beliau menyamakan bacaan antara rakaat-rakaat itu, kemudian berwitir pada rakaat yang ke sembilan. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sudah berusia lanjut dan gemuk, beliau jadikan yang delapan rakaat itu menjadi enam rakaat kemudian ia berwitir pada rakaat yang ketujuh, kemudian beliau shalat dua rakaat dengan duduk, beliau membaca pada dua rakaat itu “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Idza zulzilat.

Penjelasan.
Dikeluarkan oleh Thahawi 1/156 dengan dua sanad yang shahih. Bagian pertama dari lafadh yang pertama juga dikeluarkan oleh Muslim 11/184; Abu Awanah 1/304, semuanya diriwayatkan melalui jalan Hasan Al-Bashri dengan mu`an`an, tetapi Nasai meriwayatkannya (1:250) dan juga Ahmad V:168 dengan tahdits. Lafadh kedua ini menurut Thahawi jelas menunjukan bahwa jumlah rakaatnya 13, ini menunjukan bahwa perkataannya di lafadh yang pertama: “kemudian ia berwitir” maksudnya tiga rakaat. Memahami seperti ini gunanya agar tidak timbul perbedaan jumlah rakaat antara riwayat Ibnu Abbas dan Aisyah.

Kalau kita perhatikan lafadh kedua, maka di sana Aisyah menyebutkan dua rakaat yang ringan setelah shalat Isya’nya, tetapi tidak menyebutkan adanya shalat ba’diyah Isya. Ini mendukung kesimpulan penulis pada uraian terdahulu bahwa dua rakaat yang ringan itu adalah sunnah ba`diyah Isya.

Kedua
Shalat 13 rakaat, yaitu 8 rakaat (memberi salam setiap dua rakaat) ditambah lima rakaat witir, yang tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir (kelima).

Tentang ini ada riwayat dari Aisyah sebagai berikut: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidur, ketika bangun beliau bersiwak kemudian berwudhu, kemudian shalat delapan rakat, duduk setiap dua rakaat dan memberi salam, kemudian berwitir dengan lima rakaat, tidak duduk kecuali ada rakaat kelima, dan tidak memberi salam kecuali pada rakaat yang kelima. Maka ketika muadzin beradzan, beliau bangkit dan shalat dua rakaat yang ringan.

Penjelasan :
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad II:123, 130, sanadnya shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Dikeluarkan juga oleh Muslim II:166; Abu Awanah II:325, Abu Daud 1:210; Tirmidzi II:321 dan beliau mengesahkannya. Juga oleh Ad-Daarimi 1:371, Ibnu Nashr pada halaman 120-121; Baihaqi III:27; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla III:42-43.

Semua mereka ini meriwayatkan dengan singkat, tidak disebut padanya tentang memberi salam pada tiap dua rakaat, sedangkan Syafi’i 1:1/109, At-Thayalisi 1:120 dan Hakim 1:305 hanya meriwayatkan tentang witir lima rakaat saja.

Hadits ini juga mempunyai syahid dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1:214 daan Baihaqi III:29, sanad keduanya shahih. Kalau kita lihat sepintas lalu, seakan-akan riwayat Ahmad ini bertentangan dengan riwayat Aisyah yang membatas bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat, sebab pada riwayat ini jumlah yang dikerjakan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah 13 rakaat ditambah 2 rakaat qabliyah Shubuh. Tetapi sebenarnya kedua riwayat ini tidak bertentangan dan dapat dijama’ seperti pad uraian yang lalu. Kesimpulannya dari 13 rakaat itu, masuk di dalamnya 2 rakaat Iftitah atau 2 rakaat ba’diyah Isya.

Ketiga.
Shalat 11 rakaat, dengan salam setiap dua rakaat dan berwitir 1 rakaat.

Dasarnya hadits Aisyah berikut ini: “Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat pada waktu antara selesai shalat Isya, biasa juga orang menamakan shalat `atamah hingga waktu fajar, sebanyak 11 rakaat, beliau memberi salam setiap dua rakaat dan berwitir satu rakaat, beliau berhenti pada waktu sujudnya selama seseorang membaca 50 ayat sebelum mengangkat kepalanya”.

Penjelasan:
Diriwayatkan oleh Muslim II:155 dan Abu Awanah II:326; Abu Dawud I:209; Thahawi I:167; Ahmad II:215, 248. Abu Awanah dan Muslim juga meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, sedangkan Abu Awanah juga dari Ibnu Abbas.

Mendukung riwayat ini adalah Ibnu Umar juga: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tentang shalat malam, maka sabdanya: Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Kalau seseorang daripada kamu khawatir masuk waktu Shubuh, cukup dia shalat satu rakaat guna menggajilkan jumlah rakaat yang ia telah kerjakan.

Riwayat Malik I:144, Abu Awanah II:330-331, Bukhari II:382,385, MuslimII:172. Ia menambahkan (Abu Awanah): “Maka Ibnu Umar ditanya: Apa yang dimaksud dua rakaat – dua rakaat itu? Ia menjawab: Bahwasanya memberi salam di tiap dua rakaat.”

Keempat.
Shalat 11 rakaat yaitu sholat 4 rakaat dengan 1 salam, empat rakaat salam lagi, kemudian tiga rakaat.

Haditsnya adalah riwayat Bukhari Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Menurut dhahir haditsnya, beliau duduk di tiap-tiap dua rakaat tetapi tidak memberi salam, demikianlah penafsiran Imam Nawawi. Yang seperti ini telah diriwayatkan dalam beberapa hadits dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak memberi salam antara dua rakaat dan witir, namun riwayat-riwayat itu lemah, demikianlah yang disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Nashr, Baihaqi dan Nawawi.

**update, 3 September 2008***
Hadits yg menyatakan Rasululloh SAW shalat tarawih 4 raka’at dg 1 salam adalah sebagai berikut:
“Nabi Saw. salat tidak lebih dari sebelas rakaat, baik dalam bulan Ramadhan maupun lainnya: Beliau salat empat rakaat –jangan tanya tentang bagus dan lamanya– kemudian empat rakaat lagi—jangan tanya pula tentang bagus dan lamanya–, kemudian tiga rakaat…” (HR. Muslim)
**update, 3 September 2008***

Kelima
Shalat 11 rakaat dengan perincian 8 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan tersebut, maka beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, selanjutnya beliau witir satu rakaat, kemudian memberi salam (maka genap 9 raka’at). Kemudian Nabi sholat 2 raka’at sambil duduk.

Dasarnya adalah hadits Aisyah radliallahu `anha, diriwayatkan oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir. Bahwasanya ia mendatangi Ibnu Abbas dan menanyakan kepadanya tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam maka Ibnu Abbas berkata: Maukah aku tunjukan kepada kamu orang yang paling mengetahui dari seluruh penduduk bumi tentang witirnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Ia bertanya siapa dia? Ia berkata: Aisyah radlillahu anha, maka datangilah ia dan Tanya kepadanya: Maka aku pergi kepadnya, ia berkata: Aku bertanya; Hai Ummul mukminin khabarkan kepadaku tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Ia menjawab: Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudlunya, maka ia bersiwak dan berwudlu dan shalat sembilan rakaat tidak duduk padanya kecuali pada rakaat yang kedelapan, maka ia mengingat Allah dan memuji-Nya dan bershalawat kepada nabi-Nya dan berdoa, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, kemudian berdiri dan shalat (rakaat) yang kesembilan, kemudian beliau duduk dan mengingat Allah dan memujinya (at tahiyat) dan bershalawat atas nabi-Nya shallallahu `alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian memberi salam dengan salam yang diperdengarkan kepada kami, kemudian shalat dua rakat setelah beliau memberi salam, dan beliau dalam keadaan duduk, maka yang demikian jumlahnya sebelas. Wahai anakku, maka ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menjadi gemuk, beliau berwitir tujuh rakaat, beliau mengerjakan di dua rakaat sebagaimana yang beliau kerjakan (dengan duduk). Yang demikian jumlahnya sembilan rakaat wahai anakku.

Penjelasan
Diriwayatkan oleh Muslim II:169-170, Abu Awanah II:321-325, Abu Dawud I:210-211, Nasai I/244-250, Ibnu Nashr halaman 49, Baihaqi III:30 dan Ahmad VI:53,54,168.

Keenam.
Shalat 9 rakaat, dari jumlah ini, 6 rakaat beliau kerjakan tanpa duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat yang keenam tersebut, beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi shallallahu `alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit dan tidak memberi salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk.

Yang menjadi dasar adalah hadits Aisyah radiyallahu anha seperti telah disebutkan pada cara yang kelima.

Itulah cara-cara shalat malam dan witir yng pernah dikerjakan Rasulullah, cara yang lain dari itu bisa juga ditambahkan yang penting tidak melebihi sebelas rakaat. Adapun kurang dari jumlah itu tidak dianggap menyalahi karena yang demikian memang dibolehkan, bahkan berwitir satu rakaatpun juga boleh sebagaimana sabdanya yang lalu: “….Maka barang siapa ingin maka ia boleh berwitir 5 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir 3 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir dengan satu rakaat.”

Hadits di atas merupakan nash boleh ia berwitir dengan salah satu dari rakaat-rakaat tersebut, hanya saja seperti yang dinyatakan hadits Aisyah bahwasaya beliau tidk berwitir kurang dari 7 rakaat.

Tentang witir yang lima rakaat dan tiga rakaat dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a. Dengan sekali duduk dan sekali salam
b. Duduk at tahiyat setiap dua rakaat
c. Memberi salam setiap dua rakaat

Al-Hafidh Muhammad bin Nashr al-Maruzi dalam kitab Qiyamul Lail halaman 119 mengatakan: Cara yang kami pilih untuk mengerjakan shalat malam, baik Ramadlan atau lainnya adalah dengan memberi salam setiap dua rakaat. Kalau seorang ingin mengerjakan tiga rakaat, maka di rakaat pertama hendaknya membaca surah “Sabbihisma Rabbikal A’la” dan pada rakaat kedua membaca surah “Al-Kafirun”, dan bertasyahud dirakaat kedua kemudian memberi salam. Selanjutya bangkit lagi dan shalat satu rakaat, pada rakaat ini dibaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), setelah itu beliau (Muhammad bin Nashr) menyebutkan cara-cara yang telah diuraikan terdahulu.

Semua cara-cara tersebut boleh dilakukan, hanya saja kami pilih cara yang disebutkan di atas karen didasarkan pada jawaban Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shalat malam, maka beliau menjawab: bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jadi kami memilih cara seperti yang beliau pilih.

Adapun tentang witir yang tiga rakaat, tidak kami dapatkan keterangan yang pasti dan terperinci dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau tidak memberi salam kecuali pada rakat yang ketiga, seperti yang disebutkan tentang Witir lima rakaat, tujuh dan sembilan rakaat. Yang kami dapati adalah bahwa beliau berwitir tiga rakaat dengan tidak disebutkan tentang salam sedangkan tidak disebutkan itu tidak dapat diartikan bahwa beliau tidak mengerjakan, bahkan mungkin beliau melakukannya.

Yang jelas tentang pelaksanaan yang tiga rakaat ini mengandung beberapa ihtimaalat (kemungkinan), diantaranya kemungkinan beliau justru memberi salam, karena demikialah yang kami tafsirkan dari shalat beliau yang sepuluh rakaat, meskipun di sana tidak diceritakan tentang adanya salam setiap dua rakaat, tapi berdasar keumuman sabdanya bahwa asal shalat malam atau siang itu adalah dua rakaat, dua rakaat.

Sedangkan hadits Ubay bin Ka’ab yang sering dijadikan dasar tidak adanya salam kecuali pada rakaat yang ketiga (laa yusallimu illa fii akhirihinna), ternyata tambahan ini tidak dapat dipakai, karena Abdul Aziz bin Khalid bersendiri dengan tambahan tersebut, sedangkan Abdul Aziz ini, tidak dianggap tsiqah oleh ulama Hadits. Dalam at-Taqrib dinyatakan bahwa dia maqbul apabila ada mutaba’ah (hadits lain yang mengiringi), kalau tidak ia termasuk Layyinul Hadits. Di samping itu tambahan riwayatnya menyalahi riwayat dari Sa’id bin Abi Urubah yang tanpa tambahan tersebut. Ibnu Nashr, Nasai dan Daruqutni juga meriwayatkan tanpa tambahan. Dengan ini, jelas bahwa tambahan tersebut adalah munkar dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Tapi walaupun demikian diriwayatkan bahwa shahabat-shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan witir tiga rakaat dengan tanpa memberi salam kecuali pada rakaat yang terakhir dan ittiba’ kepada mereka ini lebih baik baik daripada mengerjakan yang tidak dicontohkan. Dari sisi lain perlu juga diketengahkan bahwa terdapat banyak riwayat baik dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, para shahabat ataupun tabi’in yang menunjukan tidak disukainya shalat witir tiga rakaat, diantaranya: “Janganlah engkau mengerjakan witir tiga rakaat yang menyerupai Maghrib, tetapi hendaklah engkau berwitir lima rakaat.” (HR. Al-Baihaqi, At Thohawi dan Daruquthny dan selain keduanya, lihat Sholatut Tarawih hal 99-110).

Hadits ini tidak dapat dipakai karena mempunyai kelemahan pada sanadnya, tapi Thahawi meriwayatkan hadits ini melalui jalan lain dengan sanad yang shahih. Adapun maksudnya adalah melarang witir tiga rakaat apabila menyerupai Maghrib yaitu dengan dua tasyahud, namun kalau witir tiga rakaat dengan tidak pakai tasyahud awwal, maka yang demikian tidak dapat dikatakan menyerupai. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II:385 dan dianggap baik oleh Shan’aani dalam Subulus Salam II:8.

Kesimpulan dari yang kami uraikan di atas bahwa semua cara witir yang disebutkan di atas adalah baik, hanya perlu dinyatakan bahwa witir tiga rakaat dengan dua kali tasyahhud, tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bahkan yang demikian tidak luput dari kesalahan, oleh karenanya kami memilih untuk tidak duduk di rakaat genap (kedua), kalau duduk berarti memberi salam, dan cara ini adalah yang lebih utama.

Untuk cara sholat tarawih di rumah, bisa dibaca di sini.

Iklan

80 Komentar »

  1. nya sholat taraweh

    maksudnya??

    Komentar oleh muhtar — Oktober 15, 2005 @ 4:15 am | Balas

  2. supaya lebih yakin dengan pilihan coba angkat yang empat !

    sudah saya jelaskan…:)

    Komentar oleh a m mahbub — Oktober 15, 2005 @ 5:44 am | Balas

  3. Trus lemahnya yang 23 ?

    sabar ya mas, saya sedang susun dulu… sebenarnya bukan lemah, namun mereka punya referensi sendiri. smoga kerjaan saya bisa cepet beres, jadi saya bisa segera posting 🙂 anda bisa lihat di sini.

    Komentar oleh Lukmanul Hakim — Oktober 17, 2005 @ 8:00 am | Balas

  4. Assalamualaikum Wr. Wb. : Klo lah ini memang khilapah ( perbedaan pendapat ) so jangan dipaksakan dengan dalil hadist seadanya sehingga seolah andalah yang benar !! tapi salut juga buat ente yang rajin susun menyusun gauna tegaknya siar agama Allah…? tapi setahu saya justru taraweh 23 itu diadakan oleh Umar Bin Khottob RA dangan berjamaah !! dan tidak mungkin beliau berani menambah rakaat tarawih klo tidak atas dasar perbuatan Rosululllah!! dan juga sabda Rosul yang isinya ” ikutilah masaku ,setelahku , setelahnya dan setelahnya ” so tidak . SO sabda Rosul itu cukup jadi hujjah bolehnya mengikuti perbuatan sahabat tabiin tabiut tabiin . Wallohu A’lam Bishowaab . Wassalam mohon maaf atas kekurangan dalam penyampaiannya…

    betul ini soal khilafiyah. yg penting adalah masing2 punya referensi yg bisa dipertanggungjawabkan dan TIDAK SALING MENYALAHKAN. 🙂 wah, saya kan kebetulan punya akses + info, mesti saya sebarkan…mudah2an bisa jadi pencerahan buat yg lain 🙂 utk sholat taraweh 20 rakaat anda bisa lihat di artikel saya yg baru di sini. terima kasih atas kunjungan dan komentarnya 🙂

    Komentar oleh hasan nurdin — Oktober 19, 2005 @ 1:52 pm | Balas

  5. Semua hadis dan pendapat di atas adalah benar jadi ga masalah, menurut saya yang jadi masalah adalah bagimana dengan yang tidak melakukannya sama-sekali

    lho, sholat taraweh kan hukumnya SUNNAH.. 🙂 banyak ulama yg mengidentikkan sholat taraweh = sholat malam yg dimajukan jam pelaksanaannya 🙂

    jadi, tidak apa2 tidak sholat taraweh…hanya saja, SAYANG SEKALI tidak sholat taraweh, karena banyak manfaat di dalamnya 🙂

    Komentar oleh Dani — Maret 20, 2006 @ 2:38 am | Balas

  6. “gitu aja kok repot” says gusdur xixixixixi
    yah sesuai in aja keyakinan masing2 aja.ngapain repot.
    salut buat mod yang mau nulis2 di site ini thanks yah

    Komentar oleh kurt_kabayan — September 23, 2006 @ 7:33 pm | Balas

  7. Alhamdulillah udah bisa di kasih komentarin…..
    Klo emang boleh plih 11 rakaat dengan berbagai cara.. gimana klo 4 rakaat satu kali salam dan di kerjakan satu kali lagi hingga 8 rakaat kemudia witir 3 rakaat ?? iyakan ..makasih udah bisa kasih hadis /penjelasan smoga ini smua yang di harapkan Allah dan RasulNya….”sekalian “>>Komentar oleh hasan nurdin — October 19, 2005 @ 1:52 pm
    klo emang beliau “umar bin khatab pernah melakukannya bisa ga di kasih hadis /penjelasannya.. solanya semua bisa mengatakan si Fulan pernah melakukan hal tersebut sekalipun itu sahabat dekat nabi ..klo ga ada hadist yang shahih kan ga asyik….. “soryy klo ada yang nyinggung tapi Ane orangnya penasaran….

    Komentar oleh komar as-shalih — September 24, 2006 @ 10:45 am | Balas

  8. Allah berfirman: …Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya (4:103)
    Apapun sholatnya, contoh yang dipakai ya “Sholatnya Rasulullah SAW” bukan sholatnya sahabat atau lainnya. “Sholatlah sebagaimana kau ketahui AKU(single) lakukan sholat” (BM 346).
    Kalau riwayat Umar menyuruh sholat tarawih jamaah itu ATSAR bukan HADIST.
    – Sholat Sunat lebih baik dikerjakan sendiri/di rumah (SM.735, SM753)
    – Sholat malam dikerjakan pada TENGAH MALAM (SB 991, SM 735)
    – Sholat witir dikerjakan pada WAKTU SHAUR (BM 403-410)
    (Silakan cek di AL Qur’an, Kitab Shahih Muslim(SM), Shahih Bukhari(SB), Kitab Bulughul Maram(BM)

    Komentar oleh Lilik — September 27, 2006 @ 3:15 pm | Balas

  9. Ass, saya mau tanya, kalau kita sholat tarawihkan sudah termasuk sholat witir, dan kalau kita mau sholat malam kan harus ditutup lagi dengan sholat witir, nah yang saya mau tanya berapa rakaat witri yang harus kita kerjakan?kalau ganjil berarti jumlah sholat witir kita jadi genap dong, gimana jadinya?

    Komentar oleh heny — September 28, 2006 @ 10:51 am | Balas

  10. warga ditempat saya ketakutan shollat taraweh karena tiap malam ada acara pengumpulan dana, dan siapa yg nyumbang disebutin namanya pake mick

    Komentar oleh heris — September 28, 2006 @ 2:03 pm | Balas

  11. udah deh jangan di ributin berapa banyak rakaat sholat taraweh, kalian sholat kagak? dan yang jelas dari kecil hingga gede gw sholat taraweh gak pernah berkurang dan gak pernah nambah, tetep aja 23 rakaat. dan semenjak dari kecil gak ada yang bilang sholat taraweh itu 11 atau 13 rakaat, jangan coba mencari perbedaan yang bakal membuat umat islam pecah belah…. jalankan sesuai dengan kepercayaan masing-masing, makasih

    Komentar oleh Andit — September 30, 2006 @ 3:49 pm | Balas

  12. 23 rakaat itu udah termasuk witir 3 rakaat. begitu tah, udah jangan pada ribut…

    Komentar oleh Andit — September 30, 2006 @ 3:51 pm | Balas

  13. Trims untuk informasinya tetang shalat taraweh. sehingga kita dalam beribadah tidak hanya melaksanakan dengan dasaar ” taqlid buta”.

    Komentar oleh Imam As'ari — Oktober 7, 2006 @ 11:49 am | Balas

  14. saya mah gak ngasih komentar banyak.lebih baik kalau kita selalu melakukan shalat malam &witir semampunya.tapi ada pertanyaan nih,ada imam dia shalat witir 3 rakaat dengan 2 tasyahud/seperti shalat magrib,namun pada rakaat terakhir sebelum ruku dia bertakbir(seperti praktik takbir shalat id) dan berdoa,kemudian bertakbir lagi dan ruku,dst.ana gak tahu landasan hadistnya.shalat witirnya beda gitu.kalo 1 rakaat dan yang 3 rakaat(1 tasyahud)atau 2 rakaat+1 witir,itu mah udah lumrah,

    Komentar oleh liii — Oktober 8, 2006 @ 2:54 am | Balas

  15. Mengapa 20 rakaat bukan 8 rakaat ? (4/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu
    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah
    amma ba’du

    ——————————————————————————–

    Pengarang dari kitab “Al Fiqhu ‘Ala al Madzaahibil Arba’ah” menyatakan bahwa
    shalat tarawih itu adalah 20 raka’at menurut semua imam madzhab kecuali witir.

    Dalam kitab “Mizan” karangan Imam Asy-Sya’rani halaman 148 dinyatakan bahwa
    termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad, shalat tarawih itu
    adalah 20 raka’at. Imam Asy-Syafi’i berkata: “20 raka’at bagi mereka itu
    adalah lebih saya sukai!”. Dan sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah
    itu adalah lebih utama beserta pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat
    dari beliau, bahwa shalat tarawih itu adalah 36 raka’at.

    Dalam kitab “Bidaayatul Mujtahid” karangan Imam Qurthubi juz I halaman 21
    diterangkan bahwa shalat tarawih yang Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang
    untuk melakukannya dengan berjama’ah adalah disukai; dan mereka berbeda
    pendapat mengenai jumlah raka’at yang dilakukan orang-orang pada bulan
    Ramadlan. Imam Malik dalam salah satu dari kedua pendapat beliau, Imam Abu
    Hanifah, Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal memilih 20 raka’at selain
    shalat witir.

    Pada pokoknya Imam Madzhab Empat tersebut di atas memilih bahwa shalat tarawih
    itu adalah 20 raka’at selain shalat witir. Sedang orang yang berpendapat bahwa
    shalat tarawih itu adalah 8 (delapan) raka’at adalah menyalahi dan menentang
    terhadap apa yang telah mereka pilih. Dan sebaiknya pendapat orang ini dibuang
    dan tidak usah diperhatikan, karena tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal
    Jama’ah, yaitu golongan yang selamat, yang mengikuti sunnah Rasulullah saw.
    dan para shahabat beliau.

    Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa shalat tarawih delapan raka’at itu
    adalah berdasarkan hadits ‘A’isyah ra. sebagaimana disebutkan di muka.

    Hadits tersebut tidak sah untuk dijadikan dasar shalat tarawih, karena maudlu’
    dari hadits tersebut apa yang nampak jelas adalah shalat witir. Dan sebagaimana
    kita ketahui, shalat witir itu paling sedikit adalah satu raka’at dan paling
    banyak adalah sebelas raka’at.

    Dan Rasulullah saw. pada waktu itu melakukan shalat sesudah tidur empat raka’at
    dengan dua salam tanpa disela, lalu melakukan shalat empat raka’at dengan dua
    salam tanpa disela, kemudian melakukan shalat tiga raka’at dengan dua salam
    juga tanpa disela.

    Yang menunjukkan bahwa hadits ‘A’isyah ra. ini adalah shalat witir:

    1.. Ucapan ‘A’isyah:”Apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?”
    Sesungguhnya shalat tarawih itu dikerjakan sesudah shalat isyak dan sebelum
    tidur.
    2.. Sesungguhnya shalat tarawih itu tidak didapati pada selain bulan Ramadlan.
    Dengan demikian, maka sudah tidak ada dalil yang menentang kebenaran shalat
    tarawih 20 raka’at. Imam Al-Qasthalani dalam kitab “Irsyadus Saarii” syarah
    dari Shahih Bukhari berkata: “Apa yang sudah diketahui, yaitu apa yang dipakai
    oleh “jumhur ulama'” adalah bahwa bilangan / jumlah raka’at shalat tarawih itu
    20 raka’at dengan sepuluh kali salam, sama dengan lima kali tarawih yang setiap
    tarawih empat raka’at dengan dua kali salam selain witir, yaitu tiga raka’at.

    Komentar oleh Ahmad — Oktober 9, 2006 @ 5:16 pm | Balas

  16. kelemahan dalil yang mengatakan “di zaman Umar orang-orang shalat tarawih 23 rakaat”. perhatikan, dalil tersebut hanya menyebutkan “di zaman Umar” tetapi tidak menyebutkan apakah Umar shalat 23 rakaat?dan dimana terjadinya? Bahkan ada riwayat lain yang menyebutkan tarawih 23 rakaat tidak dilakukan di madinah tetapi di Yaman.
    Yang kedua ada dalil yang menebutkan Rasulullah shalat tarawih 8 rakaat di masjid kemudian melanjutkan dirumah menjadi 23 rakaat. Hadist tersebut adalah hadits munkar, coba kita perhatikan, apa mungkin seorang Rasul, suri teladan bagi umat Islam menyembunyikan jumlah rakaat dari umatnya?kalupun hadits itu benar tentu bertentangan dengan hadits yang lebih shahih, yaitu hadits Aisyah yang menyatakan Rasulullah tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat.

    Komentar oleh faisal — November 9, 2006 @ 10:30 am | Balas

  17. pusinggggggggg aku kira semuanya pada bener yg ga benar yang nggak ngelakuin ya gaaaaaaaaaaaaaaa ?

    Komentar oleh EN WILDAN RAMADHAN — September 12, 2007 @ 2:12 pm | Balas

  18. Benar apa yg dikatakan oleh Lily bhw dalam hal shalat kita harus mencontoh tata cara sebagaimana yang dilakukan olh Rasulullah, bukan olh para shahabat. Tapi, pertanyaannya adalah : SIAPAKAH YG LEBIH TAHU DALAM SOAL MENCONTOH RASULULLAH SAW ITU, APAKAH KITA ATAU PARA SHAHABAT NABI? terima kasih, wassalam.

    Komentar oleh Atho — September 13, 2007 @ 10:58 am | Balas

  19. Ada ulasan panjang mengenai tarawih ini. Di sini,

    http://orgawam.wordpress.com/2007/09/09/benarkah-tarawih-20-rakaat-1/

    Semoga manfaat

    Komentar oleh wisanggeni — September 14, 2007 @ 12:52 am | Balas

  20. Ada ulasan panjang mengenai tarawih ini. Di sini,

    http://orgawam.wordpress.com/2007/09/09/benarkah-tarawih-20-rakaat-1/

    Semoga manfaat

    Komentar oleh wisanggeni — September 14, 2007 @ 12:55 am | Balas

  21. assalamu’alaikum cape deh ribut mulu.Yang penting ngejalanin karena ini perkara sunnah, jadi santai aja. 8 atawa 20 kan udah ada dasarnya masing-masing ikutin aja, jangan takut dikira taklid buta. Ini emang istilah lagi ngetren untuk nunjukin yang ngomong lebih faham dalil, tapi sesungguhnya sering dipake buat membenarkan secara mutlak pendapat yang khilafiyah tersebut. Jadi enggak usah maen mutlak-mutlakan. Lebih dari itu juga adalah kebesaran jiwa para pengurus masjid yang sekarang sering jadi perebutan berbagai aliran untuk menghormati keyakinan kebanyakan orang di lingkungannya, jangan dipaksain. beragama kok dipaksa. Ingat kata IBn Sina, ciri orang yang lulus puasanya adalah orang yang berhasil meneladani sifat-sifat Alloh diantaranya mengajak kepada kebenaran dengan lemah lembut tidak dengan cara menghina apalagi menggunakan kekerasa. TQ Wallahul MUwaffiq illa Aqwamith Thariq Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Komentar oleh ahmad — September 19, 2007 @ 2:18 pm | Balas

  22. lebih khushuk lebih baik

    Komentar oleh Widhi — September 26, 2007 @ 1:42 pm | Balas

  23. di tempat saya tarawih di lakukan 11 rokaat dengan rincian 8 tarawih 3 witir , taapi pelaksanaanya 4 rakaat baru salam tanpa attahiyat awwal dan bacaan fatikhah imam di baca keras semua,kira kira boleh ngga?

    mas Jay, untuk tarawih 4 raka’at, memang TIDAK ADA tahiyat awal seperti halnya sholat Isya dan Dhuhur serta Ashar. Jadi memang benar yg dilakukan imam anda, insya ALLOH…

    Komentar oleh jay — September 29, 2007 @ 7:54 pm | Balas

  24. berarti kalau pendap anda demikian anda bukan termasuk orang islam yang beriman ,kalau islam beriman itu tegas tidak membenarkan karena kelompok tapi membenarkan bewdasar keterangan yang jelas .
    Wassallam

    Komentar oleh iyan — Oktober 3, 2007 @ 4:40 pm | Balas

  25. seperti mas jay tegas ( memang benar yang di lakukan imkam anda)

    Komentar oleh iyan — Oktober 3, 2007 @ 4:45 pm | Balas

  26. Malah di Madinah terawih 36 rokaat lho. Yg sebelas rokaat saja masih bingung, dia 4 rokaat 1 kali salam atau 2 rokaat 1 kali salam (disunnahkan) dan 3 rokaat sholat witir 1 kali salam atau 2 kali salam, dan apakah diakhiri qunut (mereka kan anti qunut). Hehe… sekedar becanda neeh, apa mereka juga menyertai/menutup sholat tarawih dengan towaf/keliling kakbah yang dilakukan oleh Rasululloh. Nah ketahuan tuch yg tdk konsisten siapa??????

    Komentar oleh JAVAVAMPIRE — Oktober 21, 2007 @ 3:20 am | Balas

  27. saya tidak sepakat dengan shalat tarawih yang hanya dikerjakan 11 raka’at itu, itu namanya orang malas, mending gak usah tarawih sekalian, mau menghadap tuhan saja kok dihitung-hitung…..!!! mana Islam mu…?????????

    Komentar oleh sony — Maret 12, 2008 @ 2:19 am | Balas

  28. Tuhan sudah memberikan segalanya kepada anda, namun apa yang anda berikan kepada Tuhan-Nya…????????

    Komentar oleh sony — Maret 12, 2008 @ 2:23 am | Balas

  29. Makasih ya, banyak informasi yg saya dapat. Dan tak lupa permisi numpang download.

    Komentar oleh elhadiry — Agustus 13, 2008 @ 8:41 am | Balas

  30. Buat sony, komentar jgn sembarangan dong, kamu kan tidak punya dasar yg kuat, hanya asal saja. Coba baca nih sebagai referensi kamu :
    http://www.eramuslim.com/ustadz/acv/shl/1/33/

    Awas hati-hati ya kalau komentar masalah agama, jangan asal!

    Komentar oleh elhadiry — Agustus 13, 2008 @ 8:51 am | Balas

  31. penjelasan yang lebih jelas tentang malam Nisfu sa”ban,apakah bisa juga di lakukan pada malam hari.terima kasih

    Komentar oleh yanti — Agustus 15, 2008 @ 8:39 am | Balas

  32. Tanya donk…
    DOa-doa di Shlat Tarawih tu ap aj?? Sbnrny Brp rakaat c? Witir tu gmn??

    Komentar oleh Hendry — Agustus 27, 2008 @ 8:57 pm | Balas

  33. benar juga ya…percuma kita tiap malam shalat tarawih…tapi tak sesuai dengan cara rasullah pasti di tolak ama Allah kan………good…good……semoga artikel ini bermanfaat bagi semua muslim di indonesia bahkan di seluruh dunia amin……….

    Komentar oleh arman — September 2, 2008 @ 11:41 am | Balas

  34. assalamualaikum,,,, blh tnya …? klo sandainya shalat tarawih dirumah tUz mengerjakannya 13 rakaat gpp kn? oy mang manfaat shalat tarawih apa aja seh ?tolong jawab ya………. terimaksih

    Komentar oleh Fitria — September 5, 2008 @ 9:46 am | Balas

  35. Sholat tarawih hukumnya sunah, dikerjakan dapat pahala tidakpun ga apa. Kalau ada yang sholat tarawih 23 rakaat termasuk witir itu bagus, yang 11 rakaat termasuk witir itu juga sip, nah yang ga bagus dan ga sip itu yang ga sholat tarawih apalagi ga puasa.

    Komentar oleh Vira — September 5, 2008 @ 10:05 am | Balas

  36. assalamualaikum, yang pasti semuanya dah di akuin kebenarannya,kalau puasa gak shalat tarawih ya… kurang afdoo…..l gitu.

    Komentar oleh adam — September 6, 2008 @ 1:14 pm | Balas

  37. Subhanallah … 🙂 SAUDARA-SAUDARAKU, semua yang telah di jelaskan, insya allah akan menjadi saksi kebaikan bagi kita, yang akan membimbing menuju pintu syurga, sollallahu a’la Muhammad. JAGA Tali silahturahmi ya. ingat kita didunia hanya sementara wasslkm

    Komentar oleh cal — September 8, 2008 @ 1:43 pm | Balas

  38. IKUT MEKAH AJA BUNG 20 Rekaat SUDAH PASTI BENAR. KIBLAT KITA SEMUA KAN KE MEKAH …..MEKAH AJA 0 KENAPA KITA 8 ……
    LEBIH MASUK AKAL KAN

    Komentar oleh Faiq Abdillah — September 9, 2008 @ 10:46 am | Balas

  39. Jangan ngeributin jmlh rakaat sholat taraweh, mo 20 atau 8 sama aja yang perlu kta pikirkan apakah ibadah kta slama ini diterima gak sama ALLAH SWT…?

    Komentar oleh suyaman — Oktober 2, 2008 @ 3:33 pm | Balas

  40. minta jelasin dalil selawat ke atas nabi setelah selesai 4 rakaat tarawikh…terima kasih

    Komentar oleh din — Desember 13, 2008 @ 9:57 pm | Balas

  41. puasa bagi orang yang perjalanannya jauh gmana…???

    Komentar oleh rio — Agustus 22, 2009 @ 1:16 pm | Balas

  42. Puasa bagi orang yang perjalanannya jauh?
    bawa rantang berisi nasi+lauk buat buka, klo engga, beli dirumah makan aja untuk buka. Beres kan. ^_^

    Komentar oleh Adhie — Agustus 23, 2009 @ 4:38 am | Balas

  43. bagaimana jika sewaktu menjalankan ibadah puasaa, kita mempunyai nafsu akan makanan yang bermacam2 yang ingin dibeli ? apakah hukumnya ?

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:31 am | Balas

  44. hukum bagi orang yang mempunyai nafsu byk/keinginan byk terhadap makanan

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:33 am | Balas

  45. keingin yang byk terhadap makanan sewaktu menjalankan ibadah puasa /

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:34 am | Balas

  46. keinginan yg byk terhadap makanan sewaktu beribadah puasa

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:35 am | Balas

  47. keinginana yg byk terhadap makanan sewkt beribadah puasa

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:36 am | Balas

  48. puasa dilaksanakan,mengaji,dll,tapi seperti shalat kemesjid tidak bisa karaena punya anak kecil, apakah kah hukumnya dan apakah ada pengaruhnya terhadap rezeki mendatang ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????//////////

    Komentar oleh hirliani — Agustus 23, 2009 @ 11:39 am | Balas

  49. Thx untuk postingnya… sy yakin penulis bukan bermaksud memecah belah umat melainkan ingin menyampaikan ilmu. Agar kita tau dasar dan ilmu kenapa kita melakukannya… Jangan sampai ada kata “dari dulu juga gitu koq taraweh…”

    Komentar oleh Semar — Agustus 23, 2009 @ 5:38 pm | Balas

  50. ndak USah dimaslahkan….wong kita sama sama muslim…
    muslimin dan muslimat saudaraku…..

    Komentar oleh agus — Agustus 24, 2009 @ 8:23 pm | Balas

  51. Benar yg penting sholat itu ikhlas khusuk tumakninah, tahu syart rukunnya, tidak untuk riyak dan cari musuh. Menurut saya tolong dikaji dan diamati Namanya sholat tarawih hanya ada pada zaman Umar bin khattab. Jadi kalau mau konsisten ya tarawih 20 rakaat witir 3 rakaat, sesuai kesepakatan 4 madzhab. Kalau ikut shalat Nabi Muhammad saw. namakan aja shalat Qiyamul Lail. Jangan Tarawih. Lihat jamaah di Mekkah Madinan dan negara-negara Islam di Dunia (OKI) tunjukkan yang shalat tarawihnya hanya 8 rakaat. Gak salah shalat sunnah di Bln Ramadahan 8 rakaat setelah Isya’, tapi namanya Qiyamullail sesuai hadits Siti Aisyah tsb. Yang penting kita jangan terpecah belah gara-gara beda ilmu dan prinsip “pokoke” kudu beda.

    Komentar oleh Reza — Agustus 25, 2009 @ 11:51 am | Balas

  52. YANG 8 NGGAK IKUT SAHABAT. MERASA LEBIH PINTAR DAN TAHU DARI SAHABAT. PADAHAL NABI TELAH MENJAMIN AKAN KEBENARAN DARI SAHABAT (KULAFAURASYIDIN). YANG TIDAK PERCAYA AMA SAHABAT UMAR BERARTI TIDAK PULA PERCAYA AMA NABI…ALIAS…SEEESSAAAAAAATT. PENGHUNI NERAKA

    Komentar oleh Kian Anggara — Agustus 25, 2009 @ 4:17 pm | Balas

  53. Berapa Jumlah Rakaat Shalat Tarawih?
    Fiqih Islam, Hadits
    13/9/2007 | 01 Ramadhan 1428 H | Hits: 11,829
    Oleh: Mochamad Bugi
    Kirim Print

    Rasulullah saw menganjurkan kepada kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Nabi saw. Sangat mengajurkan qiyam ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Kemudian Nabi saw. Bersabda, “Siapa yang mendirikan shalat di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (muttafaq alaih)

    Dan fakta sejarah memberi bukti, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam secara turun temurun mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Alhamdulillah. Tapi sayang, dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan di beberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat. Seharusnya itu tak boleh terjadi jika umat tahu sejarah disyariatkannya shalat tarawih.

    Pada awalnya shalat tarawih dilaksanakan Nabi saw. dengan sebagian sahabat secara berjamaah di Masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi membiarkan para sahabat melakukan tarawih secara sendiri-sendiri. Hingga dikemudian hari, ketika menjadi Khalifah, Umar bin Khattab menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih terpencar-pencar di dalam Masjid Nabawi. Terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar memerintahkan Ubay bin Kaab untuk memimpin para sahabat melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Untuk selengkapnya silahkan lihat Al-Lu’lu War Marjan: 436. berdasarkan riwayat itulah kemudian para ulama sepakat menetapkan bahwa shalat tarawih secara berjamaah adalah sunnah.

    Bahkan, para wanita pun dibolehkan ikut berjamaah di masjid, padahal biasanya mereka dianjurkan untuk melaksanakan shalat wajib di rumah masing-masing. Tentu saja ada syarat: harus memperhatikan etika ketika di luar rumah. Yang pasti, jika tidak ke masjid ia tidak berkesempatan atau tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah, maka kepergiannya ke masjid tentu akan memperoleh kebaikan yang banyak.

    Jumlah Rakaat

    Berapa rakaat shalat tarawih para sahabat yang diimami oleh Ubay bin Kaab? Hadits tentang kisah itu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak menjelaskan hal ini. Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Hanya menyebut Rasulullah saw. shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat selama tiga malam. Berapa rakaatnya, tidak dijelaskan. Hanya ditegaskan bahwa tidak ada perbedaan jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Jadi, hadits ini konteksnya lebih kepada shalat malam secara umum. Maka tak heran jika para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk shalat malam secara umum. Misalnya, Iman Bukhari memasukkan hadits ini ke dalam Bab Shalat Tahajjud. Iman Malik di Bab Shalat Witir Nabi saw. (Lihat Fathul Bari 4/250 dan Muwattha’ 141).

    Inilah yang kemudian memunculkan perbedaan jumlah rakaat. Ada yang menyebut 11, 13, 21, 23, 36, bahkan 39. Ada yang berpegang pada hadits ‘Aisyah dalam Fathul Bari, “Nabi tidak pernah melakuka shalat malam lebih dari 11 rakaat baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.”

    Sebagian berpegang pada riwayat bahwa Umar bin Khattab –seperti yang tertera di Muwattha’ Imam Malik—menyuruh Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dari untuk melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat dengan rakaat-rakaat yang panjang. Namun dalam riwayat Yazid bin Ar-Rumman dikabarkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilaksanakan di zaman Umar adalah 23 rakaat.

    Dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa Umar, Ali, dan sahabat lainnya melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat selain witir. Pendapat ini didukung Imam At-Tsauri, Imam Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i.

    Di Fathul Bari ditulis bahwa di masa Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin shalat tarawih hingga 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Imam Malik berkata bahwa hal itu telah lama dilaksanakan.

    Masih di Fathul Bari, Imam Syafi’i dalam riwayat Az-Za’farani mengatakan bahwa ia sempat menyaksikan umat Islam melaksanakan shalat tarawih di Madinah dengan 39 rakaat dan di Makkah 33 rakaat. Menurut Imam Syafi’i, jumlah rakaat shalat tarawih memang memiliki kelonggaran.

    Dari keterangan di atas, jelas akar persoalan shalat tarawih bukan pada jumlah rakaat. Tapi, pada kualitas rakaat yang akan dikerjakan. Ibnu Hajar berkata, “Perbedaan yang terjadi dalam jumlah rakaat tarawih mucul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Jika dalam mendirikannya dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka berakibat pada sedikitnya jumlah rakaat; dan demikian sebaliknya.”

    Imam Syafi’i berkata, “Jika shalatnya panjang dan jumlah rakaatnya sedikit itu baik menurutku. Dan jika shalatnya pendek, jumlah rakaatnya banyak itu juga baik menurutku, sekalipun aku lebih senang pada yang pertama.” Selanjutnya beliau mengatakan bahwa orang yang menjalankan tarawih 8 rakaat dengan 3 witir dia telah mencontoh Rasulullah, sedangkan yang menjalankan tarawih 23 rakaat mereka telah mencontoh Umar, generasi sahabat dan tabi’in. Bahkan, menurut Imam Malik, hal itu telah berjala lebih dari ratusan tahun.

    Menurut Imam Ahmad, tidak ada pembatasan yang signifikan dalam jumlah rakaat tarawih, melainkan tergantung panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Imam Az-Zarqani mengkutip pendapat Ibnu Hibban bahwa tarawih pada mulanya 11 rakaat dengan rakaat yang sangat panjang, kemudian bergeser menjadi 20 rakaat tanpa witir setelah melihat adanya fenomena keberatan umat dalam melaksanakannya. Bahkan kemudian dengan alasan yang sama bergeser menjadi 36 rakaat tanpa witir (lihat Hasyiyah Fiqh Sunnah: 1/195)

    Jadi, tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk memperselisihkan jumlah rakaat. Semua sudah selesai sejak zaman sahabat. Apalagi perpecahan adalah tercela dan persatuan umat wajib dibina. Isu besar dalam pelaksanaan shalat tarawih adalah kualitas shalatnya. Apakah benar-benar kita bisa memanfaatkan shalat tarawih menjadi media yang menghubungkan kita dengan Allah hingga ke derajat ihsan?

    Cara Melaksanakan Tarawih

    Hadits Bukhari yang diriwayatkan Aisyah menjelaskan cara Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam adalah dengan tiga salam. Jadi, dimulai dengan 4 rakaat yang sangat panjang lalu ditambah 4 rakaat yang panjang lagi kemudian disusul 3 rakaat sebagai witir (penutup).

    Boleh juga dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Ini berdasarkan cerita Ibnu Umar bahwa ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang cara Rasulullah saw. mendirikan shalat malam. Rasulullah saw. menjawab, “Shalat malam didirikan dua rakaat dua rakaat, jika ia khawatir akan tibanya waktu subuh maka hendaknya menutup dengan satu rakaat (muttafaq alaih, lihat Al-Lu’lu War Marjan: 432). Rasulullah saw. sendiri juga melakukan cara ini (lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47 dan Muwattha’: 143-144).

    Dari data-data di atas, Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Rasulullah saw. kadang melakukan witir dengan satu rakaat dan kadang tiga rakaat.

    Jadi, sangat tidak pantas jika perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih menjadi isu yang pemecah persatuan umat. []

    Komentar oleh zulkifli — Agustus 26, 2009 @ 3:15 pm | Balas

  54. saya ingin lihat apakah anda mempunyai doanya bilal

    Komentar oleh brian — Agustus 27, 2009 @ 8:44 pm | Balas

  55. Benar saudaraku yang dikatakan oleh Imam Syafi’i bahwa orang yang menjalankan tarawih 8 rakaat dengan 3 witir dia telah mencontoh Rasulullah, sedangkan yang menjalankan tarawih 23 rakaat mereka telah mencontoh Umar, generasi sahabat dan tabi’in.
    INGAT 8 RAKAAT NABI BERLANGSUNG SELAMA sekitar 4 JAM karenanya setiap 2 kali salam (4 rakaat) jamaah sholat istirahat (TARWIHAH), makanya disebut TAROOWIH.Sampai-sampai waktu sahur hampir habis.
    Jadi bagi yang suka 8 rakaat , maka bacaan Qur’an harus PANJANG dan LAMA. Bagi yang 20 rakaat, bacaan bisa diperingan (bukan dipercepat). Yang jadi titik tekan adalah kualitas panjang sholat, bukan jumlah rakaat. Itulah JUMHUR ULAMA.
    Sholat berjamaah tarawih setiap hari saja juga tidak dicontohkan Nabi, ngapain kira ribut masalah jumlah rakaat???. Itu sudah selesai di tingkat para FUQAHA/MUJTAHID. Tugas kita cukup menjaga ukhuwah saja. Ditempat saya…Imamnya 20 rakaat, jadi yang biasa 8 rakaat dapat istirahat DULU…menunggu witir besama. NYAMAN dan AKURRRR khan??. Yang salah YANG NGGAK TARAWIH.

    Komentar oleh alfan — Agustus 29, 2009 @ 11:19 am | Balas

  56. assalamualaikum sobat..
    aku mo nanya
    klo sholat tarawih yang 8 rakaat 1 salam ada nggak hadisnya ya?
    sebelumnya makisih banyak ya….
    wassalam

    Komentar oleh sandi — September 6, 2009 @ 4:19 pm | Balas

  57. saya sangat senang mendengar, sangat tidak pantas jika perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih menjadi isu yang pemecah persatuan umat.
    tapi mengapa saat seseorang yang biasanya melaksanakan sholat tarawih 13 rakaat dengan witir, dan saat dia berjamaah dengan orang yang melaksanakan sholat tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. ia tidak mau sesekali untuk bersosialisasi dan mengikut orang yang melaksanakan 23 rakaat, dan mengapa tidak sebaiknya ia juga turut mengikuti kecuali ia melaksanakan sendiri atau dengan jamaah yang juga biasa menggunakan 13 rakaat…
    apakah hal ini bisa di katakan salah satu pemecah pemersatuan islam….
    maaf kalo saya salah dalam mengatakan hal ini…

    Komentar oleh yosar — April 21, 2010 @ 10:22 pm | Balas

  58. Ibadah itu harus memiliki referensi yang jelas kuat dan benar sebab urusannya dengan Allah bukan hanya ikut-kutan. banyak hadits yang tidak bisa dijadikan rujukan untuk ibadah, contohnya hadits MAUDU. Carilah hadits yang sohih sebagai rujukan ibadah.

    Komentar oleh ABDUL GOFUR F — Juli 26, 2010 @ 2:06 pm | Balas

  59. terimakasih atas artikel yang sudah anda tempel, dan share2 yang anda-anda argumentasikan..
    semua bagiku adalah guru..

    Komentar oleh ahnad fabregas — Juli 26, 2010 @ 8:56 pm | Balas

  60. Bapak saya tarawih 11 rokaat karena bapak saya udah tua,,,diganti ma imam baru 23 rokaat kami fine fine aja gk ada masalah.dan warga juga menerima yang penting pelaksanaanya khusuk gk terburu,buru dan bacaannya bikin hati adem…suara nya enak bngt,,jadi mo 11 apa 23 asal ayatnya panjang aku sih suka aj

    Komentar oleh soimun — Agustus 10, 2010 @ 8:38 pm | Balas

  61. yang penting khusu’ n tumakmninah..,
    gk ush kburu-buru.
    bkn mslh jmlh rokaatnya.
    bukankah qt akan berlama-lama ketika qt bertemu kekasih kita or org yg qt sayangi..?

    Komentar oleh ABDULLOH — Agustus 11, 2010 @ 7:46 am | Balas

  62. ya semua yang pakai 23 maupun 11 rekaat boleh..menurut
    keyakinan anda semua ,anda mantap yang mana .aja jangan dibuat debat semua ada dalilnya..kok…

    Komentar oleh paim — Agustus 11, 2010 @ 8:31 am | Balas

  63. knp trweh d mushola dkt rmh sy cpet bgt gerakanx, jd kita mlh ga bs kusyu’ sholatx.pdhal jamaahx jg byk yg tua2, kan jd ksian yg ga kuat ngikutin imamx.hukumx gimana y? bukanx dpt phala yg ada mlh bdn jd sakit smua krn grakanx super cpt… mohon balasanx, mksih…

    coba imamnya ditegur, tentunya dengan cara yg baik-baik.
    betul, bagaimana bisa ibadah dg baik apabila gerakannya terlalu cepat?

    Komentar oleh fukayna — Agustus 13, 2010 @ 9:56 pm | Balas

  64. semoga yang sudah kasih info dan yang komentar dengan dasar ingin berbagi ilmu diberi balasan pahala kebaikan oleh Allah swt, dan yang baca juga mendapat petunjuk untuk meningkatkan kualitas ibadahnya,
    tujuan akhir kita sama….. surga Allah… bertemu dengan-Nya dan kekasihnya….
    betapa indah hal itu…

    Komentar oleh fajar — Agustus 14, 2010 @ 11:57 am | Balas

  65. semoga perbedaan ini jadi “ROHMATAL LIL’ALAMIN…….. tapi harus diingat “ALFADLU LIL MUTAQODIMIN”

    Komentar oleh M. HADY — Agustus 19, 2010 @ 12:45 pm | Balas

  66. saya awam mengenai dalil-dalil agama.

    sekedar berbagi informasi: pada bulan Ramadhan tahun 2009 yang lalu, saya Alhamdulillah dapat menunaikan Ibadah Umrah dan jamaah sholat tarawih di Masjid Nabawi-Madinah pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan serta ziarah ke Makam Rasulullah SAW. pada saat itu, sholat tarawih di Masjid Nabawi dilaksanakan 20 rakaat (setiap 2 rakaat 1 salam) ditambah 3 rakaat witir (2 rakaat dan 1 rakaat dengan 2 salam) serta do’a qunut pada rakaat terakhir sholat witir.

    Semoga bermanfaat.

    Komentar oleh asro — Agustus 19, 2010 @ 12:50 pm | Balas

  67. aslam….saudara semua
    masalah berapa rakaat 8 atau 23 itu hanyalah masalah fiqih , tapi jangan lah sampai menjadi suatu ujung perpecahan. karena kita semua sama umat muslim. sama hal nya seperti Imam2 besar kita mereka mungkin berbeda pendapat tentang fiqih tetapi mereka tetap satu dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. yang terpenting adalah jangan sampai berbeda akidah. contohnya MENGENAI KE ESA AN ALLAH. dan rosulullah adalah nabi akhir jaman. itu adalah hal yang terpenting. karena sekarang kita sudah cukup terpecah belah dengan berbagai macam pendapat-pendapat yang susah dicari kebenarannya. ayo lah kita sebagai saudara muslim semua kita hormati perbedaan pendapat dan mari lah kita bersama-sama bersatu karena itu lah hal UTAMA.

    Komentar oleh ellank — Agustus 22, 2010 @ 11:43 am | Balas

  68. Sy hny ingn mmbr kesmpulan sj:
    1. Rasulullah tdk prnh mmberikan perintah secr explisit ttg blngan tarawih. Jd mau 11, 13, 20, 21…bebas
    2. Rasulullh melaksanakan Trawih (qyamul lail) pd mlm pertama dan kedua. Strsnya Rasul mmrntahkan utk dilaksnkan dirumah masing2 (shohih Bukhori)
    3. Kata “Tarawih” bid’ah yg ada “qyamul lail”
    4. Tarawih berjamaah adalah bid’ah (bahkan Umar sendiri mengataknnya sebagi Bid’ah (shohih Bukhori)).
    5. Rasul mengerjakan sholat Tarawih dirumah tanpa berjamaah.

    Komentar oleh gugun — September 1, 2010 @ 11:37 am | Balas

  69. mohon ijin share dan copy paste di blog kecil saya, semoga jadi lebih bannyak yang baca. alamat asal akan tetap disebutkan sebagai sumber

    Komentar oleh kabar islam — November 5, 2010 @ 4:28 pm | Balas

  70. Ma’af Sdr Penulis Saya mau tanya Umur anda brp tahun, Sudah berapa ribu buku yang anda baca dan sdh berapa orang guru yang anda tanyakan sehingga anda berani membuat pernyataan. kalau hanya anda belajar dari buku sebaiknya anda pakai untuk diri anda sendiri aja dan tidak usah ditulis utk umum. Trims

    Komentar oleh Ghazali — Juli 19, 2011 @ 10:25 am | Balas

  71. Assalamualaikum wr.wb.

    Ya saya rasa masalah ini tidak perlu di perdebatkan saudaraku.karna di hadist manapun ( shih ) tidak ada yang menerangkan berapa banyaknya jumlah rakaat shalat taraweh dan witir. bilangan 11 atau 23 hitu hanya di dapat dari para tabiin dan tabiut, jadi kita hanya bisa ber ij’tihad dan hukum ij,tihad sendiri berarti, kalau kita benar maka mendapat 2 pahala dan apa bila kita salah kita mendapat 1 pahala, berdasarka kisah sahabat, seorang sahabat hendak pergi berperang, dan beliau mendatangi Rassulullah SAW. dan beliau bekata ya rassul bagai mana kalau hamba menemukan 1 masaalah, cari lah di alqur,an, ( Jawab Rassul ), dan beliau bertanya lagi: bagai mana kalau hamba tidak menemukan di al qur,an, carilah dari hadist ( perkataanku )Jawa Rassul, lalu beliau bertanya lagi: bagaimana kalai hamba tidak temukan juga, Maka Ber Ij’tihad lah kamu dan apabila kamu benar maka kamu akan mendapatkan 2 pahala dan apabila kamu salah maka akan mendapat 1 pahala.

    So buat apa kita ributkan yang akan memecah belahkan islam, seperti yang telah terjadi sekarang. saya sendiri melakukan taraweh 11 rakaat, tetapi gak masaalah kalau istri saya melakukan shalat taraweh 23 rakaat, karna itu bukan bid,ah. yang harus kita waspadai adalah bid,ah yang telah menjamur di negri kita ini.

    OK Atas perhatiannya saya ucapka terima kasih.

    Assalamualaiku WR.WB

    Komentar oleh Darma — Juli 20, 2011 @ 8:59 am | Balas

  72. bagaimana rasulullah melakukan salat taraweh ?

    Komentar oleh sulthanan nashira — Juli 30, 2011 @ 11:02 am | Balas

  73. janganlah kita bicara paling keras, belum tentu kita paling benar di mata Allah SWT, itu sabda nabi besar Muhammad SAW…. jadi ibadah lah yg khusyu’,dan terhadap orang yang berbagi pengetahuannya adalah baik adanya,kan bagi yg ragu jadi bisa banyak mengerti….. selamat ibadah kawan/saudaraku semoga kita kumpul lagi di surganya Allah SWT,amin

    Komentar oleh handi prasetyo — Juli 31, 2011 @ 8:50 pm | Balas

  74. ass…… tolong tampilkan hadisnya biar agar lebih kuat jangan cuma arti arti dari hadisnya saja

    Komentar oleh rusmin — Agustus 3, 2011 @ 2:21 pm | Balas

  75. asss wr.wb seiring dengan bnyaknya perdebatan tentang rokaat tarawe ada yg 20, 8 dll, disamping itu pula ada juga permasalahan rokaat witir karena di masjid kami terjadi perdebatan antara 3 rokaat satu salam/2 rokaat kemudian salam atau 1 rokaat kemudian salam 2/1 rokaat

    Komentar oleh rusmin — Agustus 3, 2011 @ 2:26 pm | Balas

  76. sss wr.wb seiring dengan bnyaknya perdebatan tentang rokaat tarawe ada yg 20, 8 dll, disamping itu pula ada juga permasalahan rokaat witir karena di masjid kami terjadi perdebatan antara 3 rokaat satu salam/2 rokaat kemudian salam atau 1 rokaat kemudian salam 2/1 rokaat, saya mohon bantuan jawaban beserta alasan yang kuat di ikuti dengan hadis yang sohe, mohon untuk jawaban karena saya bingung yang mana harus diikuti…..

    wa’alaykumsalam wr wb
    silakan anda baca http://tausyiah275.blogsome.com/2005/10/20/taraweh-20-rakaat/ dan http://tausyiah275.blogsome.com/2005/10/08/tata-cara-sholat-tarawih/

    pada dasarnya semuanya mempunyai dasar hukum yg kuat. tidak perlu bingung. anda ikuti yg anda bisa lakukan saja, insya ALLOH sama-sama diterima ALLOH SWT.

    demikian.

    Komentar oleh rusmin — Agustus 3, 2011 @ 2:28 pm | Balas

  77. Buat rekan semua, menurut saya tidak masalah kita membahas masalah sholat tarawih, kita dalam beribadah mencari mana yang lebih sempurna dan ada petunjuknya dari rasulullah, hal ini bukan berarti kita harus ribut dan gontok “an ingin selalu lebih benar( itu cerita ulama zaman dulu),saya setuju penulis menguraikan tulisannya disini mengenai sholat tarawih, tentunya dengan landasan yang kuat ( hadits shohih ), mengenai kita mau mengikuti yang mana itu dikembalikan kepada kita sendiri yang melakukannya.

    Komentar oleh abdul Hamid — Agustus 9, 2011 @ 8:06 am | Balas

  78. asslm…….
    hmmmhhhh……….
    Tugas kita tu yg pnting
    ngibadah wae,
    yg tau itu benar/slh, itu lemah/kuat….
    Cuma yang maha tau………
    Cuma DIA yg brhak menilai ibadah kita masing2,
    yg pntg kita jalankn, dan kita serahkan smua sma yg maha kuasa,

    ucapan terima kasih bwt yg udh posting sswt yg brmanfa’at ini…….. Perlu di kmbangkan.
    Smoga gak slh niat aja,

    jazaakumullah……
    Wsslm…….

    Komentar oleh ilham nadzr — Agustus 16, 2011 @ 4:55 am | Balas

  79. […] Dari sekian masjid yang saya kunjungi, beraneka ragam jumlah raka’at sholat tarawihnya. Rata-rata jika tidak 11 raka’at, ya 23 raka’at. […]

    Ping balik oleh Imam Tarawih 23 Raka’at, Tolong Bacaannya Yang Tartil Ya?! « Blog Tausyiah275 — Desember 1, 2011 @ 5:40 pm | Balas

  80. […] yg terbiasa sholat tarawih di masjid, mereka menemui kesulitan mengenai cara sholat tarawih di rumah. Padahal sebenarnya caranya sama saja antara sholat tarawih di rumah dengan di […]

    Ping balik oleh Sholat Tarawih Di Rumah Atau Di Masjid? « Blog Tausyiah275 — Desember 2, 2011 @ 6:36 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: