Blog Tausiyah275

November 3, 2005

Nikah Sirri

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Munakahat — Tausiyah 275 @ 11:39 am

Berawal dari thread yg dilontarkan Lilis di milis gadjah dengan judul nikah sirri, aku melihat bahwa hal ini bisa dibuat tulisannya dan menjadi pengetahuan bersama. So, seperti biasa, aku riset, kumpulkan referensi2 shahih, dipilah-pilah, diedit, dan akhirnya dimuat. Selamat menikmati, semoga bermanfaat. 🙂

Istilah nikah sirri (NS) sudah sering kita dengar, namun terkadang ada ambiguitas (kebingungan) dalam definisinya. Beberapa orang menyatakan bahwa NS = nikah di bawah tangan, tidak mendaftar ke KUA. Ada pula yg menyatakan NS = nikah tanpa melakukan resepsi, sementara pendapat lain menyatakan NS = nikah diam2 tanpa diketahui siapapun. Dan masih banyak definisi2 NS lainnya.

Berdasar dari sekian banyak statement ttg NS, aku cari referensi dari beberapa ulama serta dari ahli psikolog yg berhasil aku dapatkan. Secara garis besar, menurut mereka, definisi NS dibagi menjadi:
1. Pernikahan yg dipandang sah dari segi agama (Islam), namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan).
2. Pernikahan yg dilakukan tanpa kehadiran wali dari pihak perempuan (catatan: laki2 TIDAK memerlukan wali pada saat pernikahan).
3. Pernikahan yg sah dilakukan baik oleh agama maupun secara negara (juga tercatat di KUA), namun tidak disebarluaskan (tidak diadakan resepsi).

Mungkin yg menjadi pertanyaan Lilis adalah pengertian nikah sirri untuk no 2. Mari kita kupas ya?? 🙂

Banyak pendapat ulama yg MELARANG (beberapa ulama, majlis fatwa Al-Azhar serta Daarul Ifta’ Mesir, bahkan menyatakan Islam MENGHARAMKAN) pernikahan sirri jenis ini, dengan banyak pertimbangan. Diantaranya adalah:
1. Pihak perempuan tidak menghadirkan wali yg sah. Seorang gadis, pada saat menikah MESTI disertai wali yg sah (ayah kandung atau saudara kandung yg mempunyai pertalian darah). Jika terpaksa karena wali ‘normal’ tidak ada, maka wali yg diangkat adalah wali yg dipilih. Sabda Rasulullah SAW,“Tidaklah sah suatu pernikahan itu kecuali dengan adanya wali mursyid dan dua saksi yang adil”.
2. Pernikahan yg tidak disertai kehadiran wali dari perempuan akan DIANGGAP PERZINAHAN. Sumbernya sama dg hadits pada no 1.

Sedangkan untuk kasus pernikahan sirri jenis no 1, beberapa pengamat sosial menyatakan SEBAIKNYA tidak dilakukan. Beberapa alasan yg berhasil aku kumpulkan:
1. Nikah sirri model begini tidak mempunyai landasan yang kuat secara sosial. Akhirnya, seandainya salah satu di antara kedua pihak (suami atau istri-red) mengingkari adanya hubungan pernikahan mereka, maka dengan mudah bahtera rumah tangga pun bubar.
2. Si perempuan tidak bisa menuntut hak waris, dll. Urusan talak bisa jadi terbengkalai. Jika begini jadinya, biasanya perempuan dan anak-anaklah yang paling menderita. Karena akta pernikahan biasanya selalu diminta untuk melengkapi administrasi sekolah, pencatatan kelahiran, dll.
3. Dengan mendaftar ke KUA, maka akan ada bukti autentik yang tertulis dapat menjadi salah satu alat memperkuat komitmen yang dibangun oleh pasangan tersebut. Walaupun memperkuat komitmen tidak terbatas pada aktanya, karena akta sendiri bisa dibatalkan melalui gugatan perceraian.

Semoga bermanfaat 🙂
Jika ada pertanyaan, bisa ditulis di bagian komentar, insya ALLOH aku akan bantu cari solusinya 🙂

catatan tambahan:
Wali wajib hukumnya dalam suatu pernikahan bagi seorang perempuan. Khususnya yang masih perawan. Hanya janda dan pria saja yang dapat menikah tanpa diwalikan. karena hukumnya wajib maka otomatis setiap pernikahan tanpa wali hukumnya batal. Walaupun ada kasus-kasus tertentu perwalian dapat diwakilkan seperti, sang ayah hilang, masuk penjara atau sedang sekarat. Itu pun perwaliannya masih harus dipegang oleh para kerabat dekatnya.

Iklan

21 Komentar »

  1. Wah, salut!

    maksudnya?? maaf…saya ndak ngerti 😉

    Komentar oleh Joan — November 3, 2005 @ 1:29 pm | Balas

  2. lo udah pernah nikah mi ??

    heheh…..
    *ngeloyor*

    lho, gw kan mbahas ‘tata cara’ nikah sirri…bukan membahas ttg kehidupan setelah pernikahan. jadi ga perlu nikah utk nulisnya toh?? 🙂

    Komentar oleh achmadi — November 3, 2005 @ 3:05 pm | Balas

  3. makasih bgt infonya…

    sama2… semoga berguna 🙂

    Komentar oleh lilis — November 9, 2005 @ 4:51 am | Balas

  4. tante gw, nikah di batam, gak ngabarin ortunya. nikahnya sih di KUA, pake perayaan juga. tapi walinya pake wali hakim. padahal itu ortunya masih ada. sehat wal afiat. kalo yang kayak gini gimana, ya?

    aku kutip ya??

    Banyak pendapat ulama yg MELARANG (beberapa ulama, majlis fatwa Al-Azhar serta Daarul Ifta’ Mesir, bahkan menyatakan Islam MENGHARAMKAN) pernikahan sirri jenis ini, dengan banyak pertimbangan. Diantaranya adalah:
    1. Pihak perempuan tidak menghadirkan wali yg sah. Seorang gadis, pada saat menikah MESTI disertai wali yg sah (ayah kandung atau saudara kandung yg mempunyai pertalian darah). Jika terpaksa karena wali ‘normal’ tidak ada, maka wali yg diangkat adalah wali yg dipilih. Sabda Rasulullah SAW,“Tidaklah sah suatu pernikahan itu kecuali dengan adanya wali mursyid dan dua saksi yang adil”.
    2. Pernikahan yg tidak disertai kehadiran wali dari perempuan akan DIANGGAP PERZINAHAN. Sumbernya sama dg hadits pada no 1.

    jadi jika merujuk dari dalil di atas..maaf yaaa…nampaknya tantemu no 2… 😦

    Komentar oleh dian ina — November 13, 2005 @ 7:43 am | Balas

  5. KLo yang point 3 gmn tuch penjelasannya. Masa hy gara2 gak ada resepsian or gak bilang2 di bilang nikah siri?

    hmmm…point 3 itu didapat dari seorang ulama… ADA yg menggolongkan demikian… 🙂
    terima kasih atas komentarnya.. 🙂

    Komentar oleh zie — Juli 22, 2006 @ 10:53 pm | Balas

  6. walah…jadi pengen neh cepet** nikah dengan jalan yang diridhoi ALLAH SWT hehehehehe….

    Komentar oleh OhM — September 24, 2006 @ 6:43 am | Balas

  7. nikah sirri yang saya pahami adalah nikah yang secara agamanya sah, soalnya yang dimaksud dengan perkawinan adlah apabila ia telah memenuhi rukun dan syarat-syarat pernikahan. dan nikah siri itu memenuhi rukun dan syarat tapi ia tidak melakukan pencatatan pernikah di kua jadi dimata hukum negara ia tidak sah. sehingga kedudukan perempuan yang dinikahi secara sirri sangat lemah dimata hukum apabila dikemudian hari terjadi peristiwa hukum maka ia tidak ada kekeuatan hukumnya karena tidak ad bukti yang kuat seperti buku nikah. dan status anaknya hanya ikut garis keturunan ibu secara perdata karena ia dianggap anak luar nikah. beber ga????

    Komentar oleh era — Juli 11, 2007 @ 5:57 pm | Balas

  8. Anda berani menjamin bahwa dalil2 yang diajukan di atas semuanya shahih dan dapat dijadikan landasan hukum? hati2 ya…

    Komentar oleh mJ — Oktober 17, 2007 @ 3:50 pm | Balas

  9. Dalam pembahasan wali nikah Imam Abu Hanifah berbeda pendapat dengan tiga imam madzab lainnya. Beliau menetapkan bahwa wanita yang telah baligh dan berakal (dalam kondisi normal) maka diperbolehkan memilih sendiri calon suaminya. Dia tidak hanya tergantung pada walinya saja. Lebih lanjut beliau menjelaskan wanita baligh dan berakal juga diperbolehkan aqad nikah sendiri baik dalam kondisi perawan atau janda. Walau beliau mengeluarkan pendapat yang sangat berani ini. Beliau masih menyaratkan laki-laki yang dipilih perempuan harus sekufu. Jika tidak sekufu walinya diperbolehkan menentangnya.

    bagaimana pendapat anda

    Komentar oleh tiwi — November 8, 2007 @ 7:58 am | Balas

  10. tapi gmn sm kasusku? aq dan pasangan berniat nikah lillahita’ala.tapi ortu belum kasih izin, COZ aku masih dlm masa kuliah dan nantinya ikatan dinas, ga’ boleh nikah dulu…kalo langgar, bisa dikeluarin. tapi gimana sama hubungan aku ma ‘dia’?kami cuma berusaha untuk jauh dari zina..dan kaya’nya, keadaan no 2 lah yang jadi rencana kami…tolong bantuan…

    Komentar oleh liza — Januari 12, 2008 @ 9:10 am | Balas

  11. ASS.mi,,,,,
    gimana kalau nikah tanpa sepengetahuan orang tua, tapi mengganti wali dengan salah satu kerabat dari pihak perempuan?????

    Komentar oleh rahma — Mei 1, 2008 @ 7:45 pm | Balas

  12. bagaimana kalau posisinya sedang pacaran,maksudnya ke2 belah pihak tidak ingin pacaran karena takut dosa,trus mau nikah belum diperbolehkan ortu ke2nya,karena alasan ekonomi.dan mereka pengen nikah sirri,untuk kedepannya mereka berencana untuk tidak memiliki anak dulu sebelum ke2 ortunya menikahkan mereka. Mohon solusinya,terimakasih..

    Komentar oleh bowo — Desember 26, 2008 @ 5:55 pm | Balas

  13. bagaimana kalau perempuannya sudah janda dan laki-lakinya belum pernah menikah. Apakah kami harus menggunakan wali sah dari pihak perempuan juga???? bagaimana seandainya tidak menggunakan wali sah dari pihak perempuan, misalkan hanya pakai wali hakim saja. pls reply soon. thx alot

    Komentar oleh dewi — April 23, 2009 @ 10:10 am | Balas

  14. Saat ini saya berstatus Janda dan berencana akan menikah dengan seorang pria yang sudah beristri. Sebenarnya saya berniat untuk memberitahukan Ayah saya mengenai hal ini tetapi karena beliau saat ini mempunyai penyakit, saya menjadi khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

    Apakah hukumnya jika saya menikah tanpa didampingi oleh Ayah saya

    Komentar oleh diana — Maret 26, 2010 @ 11:03 am | Balas

  15. bagaimana jika ketika menikah diwalikan dan tidak di ketahui oleh orang tua apakah pernikahan tersebut masih halal?tetapi dalam hal ini ada alasan karena kami tidak ingin melakukan dosa perzinaan..bagaimana tentang hal ini?

    alasannya kenapa mesti diwalikan jika pihak yg lebih berhak menjadi wali masih ada? sebaiknya anda hubungi orang tua pihak perempuan, untuk mendapatkan ijin.

    Komentar oleh kyubi — Agustus 30, 2010 @ 2:30 am | Balas

  16. TS katakan : “Wali wajib hukumnya dalam suatu pernikahan bagi seorang perempuan. Khususnya yang masih perawan. Hanya janda dan pria saja yang dapat menikah tanpa diwalikan.”

    Setahu saya HARAM hukumnya wanita (baik janda atau gadis) menikah tanpa wali, dalilnya banyak. Contoh :

    1. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak sah nikah kecuali
    dengan keberadaan WALI.” [sumber:HR At-Tirmidzi (no.1101) kitab An-Nikaah;
    Abu Dawud (no.2085) kitab An-Nikaah; Ibnu Majah (no.1881) Kitab An-Nikaah;
    Ahmad (no.19024); Al-Hakim (I/170) dan ia menshahihkannya, serta
    dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (no.879) dan
    lihat Al-Irwaa’ (VI/235)]

    2. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapapun wanita yang
    menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya batil, pernikahannya
    batil, pernikahannya batil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita
    berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya.
    jika mereka terlunta lunta(tidak mempunyai wali) maka penguasa adalah wali
    bagi siapa yang tidak mempunyai wali.” [sumber:HR At-Tirmidzi(no.1102),
    kitab An-Nikaah, dan menilainya sebagai hadits hasan; Abu Dawud(no.2083),
    kitab An-Nikaah; Ibnu Majah (no.1879), kitab An-Nikaah;Ahmad
    (no.23851,24798); Ad-Darimi (no.2184)kitab An-Nikaah; dan dishahihkan
    Al-Albani dalam Shahih Ibni Maajah (no.1524), Shahih At-Tirmidzi (no.880),
    dan Irwaa-ul Ghaliil (no.1840)

    3. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wanita tidak boleh
    menikahkan wanita, dan tidak boleh pula wanita menikahkan dirinya sendiri.
    sebab, hanya PEZINA-lah yang MENIKAHKAN DIRINYA SENDIRI.” [sumber:HR. Ibnu
    Majah (no.1882), kitab An-Nikaah dari Abu Hurairah, dan dishahihkan
    Al-Bukhori (no.5127)kitab An-Nikaah; Abu Dawud (no.2272), kitab Albani
    dalam shahiih Ibni Maajah (no.1527) dan al Irwaa’ (no.1841)

    Komentar oleh Asum — Maret 20, 2011 @ 9:57 pm | Balas

  17. mo ty…bagaimana tata cara nikah sirih.,n surat ap yg prlu dbc dlam al-qur’an

    Komentar oleh cojan — September 8, 2011 @ 6:29 pm | Balas

  18. […] di Kabupaten Purbolinggo, tepatnya di kecamatan Rembang. Di sana sedang ramai berlangsung praktik nikah sirri. Sebenarnya tidak ada yg salah dengan nikah sirri, namun yg terjadi di daerah situ, […]

    Ping balik oleh Penyalahgunaan Nikah Sirri « Blog Tausyiah275 — Desember 11, 2011 @ 1:44 pm | Balas

  19. […] ALLOH…ada yg membisniskan nikah sirri. Padahal, seperti pernah aku tulis, nikah sirri itu merugikan pihak […]

    Ping balik oleh Bisnis Nikah Sirri « Blog Tausyiah275 — Oktober 21, 2012 @ 2:43 am | Balas

  20. […] tersebut tidak sepenuhnya salah, meski tidak bisa serta merta dijadikan patokan. Saya pernah membahas mengenai nikah sirri ini, silakan anda baca lagi untuk lebih […]

    Ping balik oleh Salah Kaprah Antara Nikah Sirri (Nikah Siri) Dengan Nikah Resmi « Blog Tausiyah275 — Oktober 21, 2012 @ 10:27 am | Balas

  21. […] kemudahan menikah ini seringkali disalahgunakan untuk melakukan nikah sirri, padahal lebih baik menikah secara resmi daripada menikah […]

    Ping balik oleh Rukun Nikah | Blog Tausiyah275 — November 25, 2013 @ 9:15 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: