Blog Tausiyah275

Desember 21, 2005

Kesaksian Spiritual Haji (01)

Filed under: Hikmah,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 4:39 am

aku dapatkan ini dari pak Budi yang bersangkutan 🙂 Beliau memberikan komentarnya di artikel ini. Aku edit sedikit sesuai dengan kebutuhan, tanpa mengurangi maknanya 🙂

Kesaksian Spiritual Haji
========================

Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…” Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini!

Panjar ONH Dibayar Mertua
Kerinduan berangkat haji semakin menguat setelah adikku dan istrinya berhaji menyusul Ibu dan Bapak yang sudah berangkat tahun sebelumnya. Salah satu cara merawat kerinduan itu dengan memasang hiasan keramik bergambar Masjidil Haram di dinding mushola rumah. Namun, berdasarkan proyeksi kondisi keuangan, kami mungkin baru dapat berangkat tahun 2002. Ketika mendengar pertimbangan kami, bapak mertua tegas berkata: “Berangkatlah kalian haji tahun ini. Bapak beri pinjaman untuk panjar ONH kalian berdua.” Setelah membayar panjer ONH suami istri US$2000, aku memperingatkan istri untuk kemungkinan menjual mobil Kijang Krista guna menutupi ongkos haji.

Ongkos Hajimu Sudah Disiapkan!
Aku tertarik untuk meminta doa kepada seorang Ustadz yang materi kutbah Jumatnya sangat menyentuh. Aku menandai Ustaz itu. Sebab, pernah tiga kali sholat Jumat secara berturut-turut, di kota yang berbeda, surat Al A’laa dan Ghaasyiyah dibacakan dalam sholat. Dan Ustadz itu imam sholat yang ketiga dengan bacaan serupa. Sembari memberi salam, aku mengulurkan jabat tangan, “Pak Ustadz, saya ingin sekali naik haji. Tolong doakan saya.”

Wajah Ustadz itu nampak teduh saat memejamkan matanya. Berdoa. Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…” Ustadz itu nampak demikian yakin. Tetapi tak urung keraguan meliputiku. Bagaimana mungkin dengan kondisi bisnis di kantor yang sedang menurun? Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini! “Ramalan” Ustaz itu tidak hanya kusampaikan kepada istriku, tetapi juga kepada mertua, sanak saudara dan teman-teman. Aku sengaja mengikat diriku dengan beban. Dan aku ingin menyaksikan bagaimana beban yang melilitku itu dilepaskan.

Akhir Tahun Menegangkan
Sebagaimana karyawan lain, 23 Desember 2000 adalah hari yang menegangkan bagiku. Sebab pada hari itu akan diumumkan keputusan manajemen perusahaan terkait dengan THR dan bonus.

Aku gelisah sejak dini hari dan selama makan sahur. Biaya ONH harus segera dilunasi dalam beberapa hari kemudian. Setelah subuh aku tidak ingin tidur. Istriku memahami kekegelisahanku. Kami harus rela menjual mobil untuk menutupi ongkos haji. Akhirnya kami putuskan untuk pasrah saja. Kami isi waktu dengan jalan-jalan pagi di sekitar kompleks sambil mengarang lagu Islami untuk anakanak. Aneh, inspirasi mengarang lagu demikian lancar mengalir. Setiba kembali di rumah aku menulis bait-baik itu dengan komputer dan mencetaknya untuk dibagi kepada teman-teman.

Aku terlambat tiba di kantor. Tidak sempat ikut rapat pagi. Melewati ruangan atasan dengan sungkan. Terbersit prasangka negatif saat tangannya melambai memanggilku. Duh, mau diapain aku?

Rupanya ia ingin mengajakku bicara mengenai hal yang paling ditunggu semua orang hari itu. Atasanku belum lama mengisi jabatan di bagianku. Aku dimintai saran sebab menurutnya aku staff paling senior. Dia belum tahu cara menyampaikan kepada bawahannya keputusan manajemen perusahaan mengenai THR dan bonus serta pesan pimpinan tertinggi. Kepadanya kusarankan untuk memanggil karyawan satu per satu masuk ke dalam ruangannya untuk diberikan penjelasan secara pribadi.

Atasanku mengganguk setuju. Karena aku sudah berada di ruangannya, dia memutuskan menjadikanku bawahan pertama yang menerima penjelasan. Kepuasan hakikatnya adalah posisi relatif antara harapan dan kenyataan. Aku tidak berharap banyak. Takut kecewa.

Lega rasanya hati ini saat atasanku menyampaikan keputusan rapat pimpinan untuk tetap memberikan bonus meski kondisi bisnis saat itu kurang menggembirakan. Suka cita itu bertambah setelah mengetahui besar bonus sebanding dengan tahun sebelumnya. Alhamdulillah, terbayang bonus itu melebihi ongkos haji kami. Pak Ustadz itu benar!!!

Ya Allah, telah Engkau cukupkan rezeki untuk biaya perjalanan haji kami. Maka karuniakan pula kepada kami keselamatan dalam perjalanan, kelancaran segala urusan, dan yang terpenting karuniakan kepada kami kekhusyukan selama peribadatan. Lindungi pula harta dan keluarga yang kami tinggalkan.

Salam untukmu wahai Nabi…
Perjalanan haji dimulai menyelesaikan ritual sholat Arbain dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah. Roudoh, wilayah sempit antara makam dan mimbar Nabi, sebagai tempat ijabah berdoa menjadi incaran para jamaah. Aku memutuskan untuk mengunjungi Roudoh di malam hari. Allah mengabulkan doaku. Tepat jam 2:30 aku terbangun, lalu mandi dan memilih pakaian bersih terbaik. Sepanjang jalan menuju masjid Nabawi dan Raudoh aku berdoa dan banyak mengirim sholawat untuk Nabi. Sepagi itu kulihat banyak orang berduyun ingin masuk Roudoh. Aku ikut antri. Informasi yang kuketahui Roudoh ditandai dengan karpet putih. Ketika merasa karpet yang diinjak berwarna putih, aku bertanya kepada seorang jamaah untuk
menghilangkan keraguan. “Excuse me brother, where is Roudoh?”

“This is Roudoh! Shalat here two rakaat.” Jawab laki-laki itu sangat bersahabat sambil memberikan tempatnya kepadaku untuk sholat. Saat selesai sholat dan berdoa, aku mendengar suara riuh askar yang melarang orang sholat di sekitar makam Nabi. Demikian kuat Islam menolak syirik.

Aku ingin mendekat menuju mimbar untuk sholat dan berdoa sekali lagi. Dengan perlahan berjingkat melewati celah sempit jemaah yang sedang sholat atau duduk. Dari arah berlawanan, nampak seorang laki-laki ingin keluar. Ia juga harus melewati barisan jemaah. Tiba-tiba badannya agak oleng, hampir terjatuh. Alhamdulillah, lengannya dapat kutahan supaya tidak jatuh. Aku tidak persis ingat mukanya, namun laki-laki itu mengecupkan tangan kanan di bibirnya. Nampak berdoa. Kemudian ia menempelkannya tangannya di dadaku. Kenangan yang tidak terlupakan. Sebab ketika mengunjungi lagi Roudah, ada tangan yang menahanku agar tidak terjatuh. Barangsiapa mengerjakan kebajikan dengan penuh keikhlasan, maka Allah tidak pernah menyia-nyiakan amalannya.

“Suara-Suara” Itu Kembali Terdengar
Jemaah haji senantisa kembali dengan cerita-cerita yang sering kali tidak masuk akal. Sahabat pembaca, sadarilah pengalaman mereka adalah kesaksian spiritual yang memantapkan keimanan. Boleh jadi pengalaman itu terdengar memalukan. Tetapi nikmatilah. Sebab itu teguran Allah di dunia. Pasti lebih ringan ketimbang di akhirat. Dan aku hanyalah menambah koleksi kesaksian itu. Kesaksianku adalah kembali mendengar ‘suara-suara’.

Patut kuingatkan ‘suara-suara’ itu bukan produk akustik yang dapat didengar setiap orang. ‘Suara-suara’ itu melintas di dalam hati dalam bentuk dialog maupun teguran. “Suara” itu mengurai hikmah di balik peristiwa, menjawab pertanyaan kritis, atau menyertai diri menghalau ketakutan. “Suara” itu sangat kuat saat menjalani ibadah tawaf.

bersambung

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: