Blog Tausiyah275

Desember 23, 2005

Kesaksian Spiritual Haji (03)

Filed under: Hikmah,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 6:26 am

bagian kedua

Sholat di Hijr Ismail
Setelah itu kami menuju Hijr Ismail untuk sholat. Alhamdulillah kami mendapat tempat yang baik untuk sholat. Kamipun berdoa untuk diri kami sendiri. Dan juga menyampaikan doa pesanan teman-teman. Di tempat ini berdoa lebih leluasa. Bisa lebih lama. Hijr Ismail adalah bagian dari bangunan Kabah. Jadi tidak sah dijadikan tempat tawaf. Setelah puas, kami memberikan tempat kepada jemaah lain agar mereka juga mendapat keleluasaan menunai sholat dan berdoa.

Puas Meminum Minum Air Cinta Kasih
Selesai berdoa di Hijr Ismail, kami mengikuti arus putaran tawaf hingga dapat keluar dengan mudah. Lalu bersiap sholat menghadap Maqom Ibrahim. Setelah itu kami bersiap menuju Sumur Zam Zam. Ketika hendak menuju Sumur aku membathin bahwa kami akan meminum air sebagai penghargaan Allah untuk ikhtiar cinta kasih seorang Ibu Hajar mempertahankan kehidupan bayinya Ismail. Belum jauh masuk ke daerah Sumur, tiba-tiba ada orang yang selesai minum keluar sehingga aku langsung mendapatkan tempat minum. Di situ aku minum sepuasnya air yang sejuk itu. Termasuk membasuh muka dan kepala. Setelah itu keluar, menunggu istriku Adelina selesai meminum air Zam Zam di bilik kaum perempuan.

Bersihkan Niatmu
Sesampai di penginapan, kami bertukar pengalaman. Kami menceritakan kepada teman-teman kemudahan mencium Hajar Aswad. Seorang teman menceritakan ‘kegagalannya’ mencium Hadjar Aswad. Padahal, saat itu dia sudah demikian dekat. Ketika itu dia merasa badannya dengan ringan diangkat “seseorang” menjauhi Hajar Aswad. Kepada kami dia mengakui sempat mempunyai niat kurang baik saat ingin mencium Hajar Aswad.

Sai’: Kuatkan Dirimu Dalam Beriktiar
Berbeda dengan tawaf yang pasif, ketika menunaikan Sai jemaah harus aktif menguatkan ikhtiar. Kewajiban setiap muslim hanyalah berikhtiar sekuatnya. Jangan mengharapkan hasil lebih dulu. Sebab mengharapkan hasil setara menabur bibit kekecewaan yang engkau akan tuai apabila harapanmu tidak tergapai. Kuatkan ikhtiarmu, engkau akan menjadi seorang profesional dalam bidangmu. Hargai anakmu berdasarkan disiplinnya mengerjakan tugas, bukan dari nilai yang dia peroleh. Hargai kegigihan ikhtiar suamimu mencari nafkah, bukan besar uang yang dibawanya pulang.

Alhamdulillah Sai dapat kami tunaikan dengan lancar. Seorang teman menceritakan ‘teguran’ untuk istrinya saat Sai. Sang istri terlepas dari pegangannya. Seolah hilang tertelan di antara kerumunan orang banyak. Sang istri dijumpanya kembali di penginapan dalam keadaan menangis. Temanku menceritakan langsung bahwa kejadian itu hanya terjadi seketika. Beberapa detik saja. Dia tidak menemukan istrinya di daerah Sai.

Jumrah: Melempar Kejahatan Dalam Dirimu
Rangkaian ibadah yang cukup berat adalah melempar jumrah. Sebab seringkali, jemaah yang kurang memahami hakikatnya berdesakan hingga memakan korban. Buku “Haji” Ali Syariati mengupas secara mendalam makna melempar jumrah. Ketiga berhala yang dilempar melambangkan tiga atribut Allah (Rabb, Maalik dan Ilah) yang ingin dimiliki makhluk. Hayatilah Surat Al Fatihah dan An Nass, pembuka dan penutup Al Quran. Keduanya memuat kesepadanan ketiga atribut Allah diatas. Ingatlah, sesungguhnya kita melempar kejahatan syetani yang ada di dalam diri kita. Jangan sampai justru kita yang meragakan syetan, melempar dengan penuh nafsu.

Aku berdoa kepada Allah untuk memberikan keselamatan dan kemudahan saat mengerjakan rangkaian ibadah ini. Aku berkonsentrasi menghayati kedua surat diatas, banyak beristifgar, dan menunggu bimbingan. Kembali “suara” itu terdengar menunjukkan jalan, belok kiri atau belok kanan. Setelah menunaikan lemparan salah satu jumrah, kami menepi untuk berdoa, bersyukur kepada Allah. Tidak terlupakan saat “suara” itu menyuruhku berhenti padahal kulihat ada jarak untuk masuk mendekati Jumrah Aqobah. Tiba-tiba aku merasa mengerti maksudnya. Jarak itu berguna untuk menyelamatkan jemaah yang berada di depan dari tekanan orang yang datang. Seorang jemaah yang ingin keluar memelukku. Ia berterima kasih mendapatkan ruangan. Kemudian kami dapat masuk mendekati jumrah. Melempar untuk diri sendiri dan anggota jemaah yang berhalangan. Saking dekatnya dengan jumrah, terasa beberapa kali kepalaku menerima lemparan batu kecil.

Arafah: Padang Kebijakan
Arafah puncak haji. Tidak sah haji tanpa kehadiran di Arafah. Meski menemukan banyak pepohonan hijau, daerah itu sangat panas. Setelah mendengar kutbah Arafah, kami keluar mencari tempat sendiri-sendiri untuk merenung. Ada buku doa Arafah milik anggota jemaah yang kubaca. Bagus sekali isinya. Sampai menangis. Lalu buku itu diedarkan untuk dibaca jemaah lain. Istriku sangat tertarik dengan buku itu. Sepulang haji, ia mengcopy beberapa eksemplar untuk dibagikan kepada jemaah calon haji. Setelah berdoa, aku tertarik memantau kondisi sekitar. Sebagaimana di Mina, begitu banyak sampah di Arafah. Terutama bekas makanan dan minuman yang melimpah di tempat itu. Banyak orang berderma membagikan makanan kepada jemaah. Aku berdisplin tidak ingin membuang sampah sembarangan. Bila ada kesempatan membersihkan sampah, aku berdoa “Ya Allah, sebagaimana hambaMu ini tidak ingin mengotori bumiMu yang suci, maka sucikan pula hati hamba dari kemusyrikan dan kemunafikan”.

Doa Orang Tua Terkabul
Begitu banyak kenikmatan yang kami rasakan selama menunaikan ibadah membuatku bertanya. Mengapa semua kemudahan itu aku rasakan? Pertanyaan itu kuajukan setelah selesai sholat di lantai dua Masjidil Haram menghadap ke Multazam. Terdengar kembali ‘suara’ itu menjawab: “Itu karena doa Ibumu…”

Sontak aku menangis terharu. Tidak mempedulikan tangis itu bakal terdengar siapa saja. Berkali-kali aku memanggil ibuku. Untuk berterima kasih. Allah menitipkan kasihNya kepada setiap orang tua, terutama Ibu, agar kita mengenal cintaNya.

Aku teringat ‘kebangkitan’ spiritualku awal 1997. Hanyalah doa ibu yang menyelamatkanku dari goncangan kejiwaan saat pertama kali aku mendengar ‘suara-suara.’ Saat semua orang tidak berdaya dengan masalahku, ibuku datang. Kukatakan kepada beliau bahwa aku sedang mengalami “sesuatu”. Aku hanya minta didoakan keselamatan. Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. Dan Ibuku benar. Setelah didoakan keadaanku membaik. Kemudian ‘suara’ itu menjelaskan banyak hal, termasuk kandungan surat Al Fatihah. Peristiwa itu kami abadikan sebagai nama putri kami Dina Zahra Fatihah.

Dalam keharuan, aku menyampaikan kesaksian kepada Allah bahwa kedua orang tuaku telah menunaikan amanah mereka mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Aku mendoakan kebaikan untuk keduanya. Di sanalah, aku berdoa kepada Allah semoga mudah menghapalkan ayat 23 dan 24 surat Al Israa’ untuk bacaan sholat: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.

Sobatku, bacalah dan hafalkan ayat itu dengan tartil. Nikmatilah alunan Firman Allah itu. Resapi pesan moral yang dikandung. Ada awal untuk menghadirkan dan menikmati Tuhan melalui kepandaian kita berterima kasih menghargai pengorbanan orang tua.

bersambung

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: