Blog Tausiyah275

Desember 24, 2005

Kesaksian Spiritual Haji (04) – tamat

Filed under: Hikmah,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 6:39 pm

bagian ketiga

Sholat Di Atap Masjid dan Jemaah Mesir
Saat sholat Jumat kali kedua, aku terlambat datang sehingga sulit mendapatkan tempat yang menyenangkan. Sholat Jumat sebelumnya, akupun tidak memperoleh tempat datar, terpaksa harus berdiri di tangga. Pengalaman pertama kali sholat Jumat yang tidak memungkinkan sujud.
Demikian padatnya keadaan Masjidil Haram saat sholat Jumat.

“Suara” itu terdengar menyarankan, “Mengapa engkau tidak mencoba sholat di bagian atap Masjid?” Usulan tidak menarik. Sholat di lantai dekat pintu Babus Salam saja panas, apalagi di atap. “Nggak ah, mana tahan. Terik sekali!” “Suara” itu kembali menjawab. Malah menantang. “Tidak! Akan menyenangkan. Ayolah.” Kuputuskan mengikuti saran’nya’. Akhirnya terpilih tempat yang cukup strategis, tetapi tetap saja terpanggang panas. Lalu kukenakan topi payung dan selendang untuk menahan panas. Tidak berapa lama datang seorang jamaah, yang akhirnya
kukenal berasal dari Mesir. Ia membawa payung. Teduh bayangan payung jatuh tepat ke arahku, melindungiku dari sengatan panas. Ingin sekali aku mengaji. Tetapi suaraku serak. Sebab sedari selesai Subuh hingga Dhuha aku membaca Al Quran di dalam Masjid.

Jemaah Mesir itu membaca Al Quran dengan dialek khas namun bacaannya jelas. Tiba-tiba dia terbatuk. Dengan cepat, kutawarkan permen menthol. “Good for your throat” bujukku. Dia menerimanya, tetapi tidak memakannya. Ketika ingin membaca surah yang lain, aku memberanikan diri ‘memesan’ surat Al Mulk untuk dia baca. Dan diapun membaca dengan baik.

Ketika surat Al Mulk selesai, dia kembali batuk. Aku lalu tawarkan Komix. Dia menerimanya. Dan aku kembali ‘memesan’ surah Ar Rahman. Dia menyetujui, lalu membacanya dengan tartil. Selesai membaca surat Ar Rahman, aku menawarkan dirinya untuk istrirahat minum. Kutunjukkan botol mineral Dua Tang yang aku bawa dari Indonesia. Aku peragakan bagaimana air tidak akan muncrat bila knopnya ditekan dan air akan muncrat bila knop ditarik. Kuberikan kepadanya sebagai hadiah. Dia senang sekali. Tetapi sekali lagi kembali “memesan” surah Al Waqiah. Dia kembali dengan suka hati membacanya dengan baik.

Selesai dia mengaji, kami ngobrol sebentar. Dia nampak tidak banyak mengerti bahasa Inggris. Ketika dia menyebutkan Egypt, aku menduga dia berasal dari Mesir. Spontan aku berkata: “Oh…Firaun…Firaun.” Dia hanya tersenyum simpul membenarkan. Meski pakai bahasa tarzan, suasana menyenangkan. Tidak terasa sengatan terik matahari. Namanya Ahmad. Dia mendoakanku suatu hari dapat mengunjungi negerinya Mesir. Sobat, jangan menyepelekan doa di Masjidil Haram. InsyaAllah, suatu saat aku – malah kudoakan beserta anak mantuku – berziarah ke Mesir.

Akhirnya saat sholat Jumat tiba. Ada keraguan panas akan menyengat meski seorang yang badannya tinggi berada di depanku. Keraguanku tercampakkan, saat semilir angin terasa sejuk membelai kulitku berulang-ulang. Ya Allah, janjimu benar. Sholat di atap Masjidil Haram menyenangkan. Sejuk. Dan aku dapat mendengarkan surah yang ingin kubaca pada hari Jumat lewat perantaraan lisan seorang jemaah Mesir.

Minuman Hangat Sebelum Tahajjud
Aku menguatkan niat untuk Tahajjud di Masjidil Haram. Saat terbangun, aku ingin lebih dulu menyenangkan diri dengan minuman hangat. Teh Susu misalnya. Namun sayang sekali, pemanas air di penginapan kami belum berfungsi. Air masih dingin untuk membuat seduhan. Aku mengharapkan dalam situasi dini hari seperti ini masih ada penjual minuman. “Suara” itu kembali terdengar, “InsyaAllah, engkau akan mendapatkan penjual minuman teh susu hangat.”

Aku melanjutkan langkah menelusuri pertokoan Pasar Seng yang masih sepi. Kucoba memperlambat langkah sembari mengawasi jika ada penjual minuman. Ternyata tidak ada hingga mendekati tangga atas Masjidil Haram. Aku langsung kembali membathin. Tak apalah. Minum air Zam Zam saja cukup.

Ketika hendak masuk pintu masjid, aku melihat seseorang melintas sambil hati-hati memegang gelas yang nampak mengepul. Nah, pasti di sekitar sini ada penjual minuman. Lalu kucoba mengikuti jalan yang agak mendaki. Masya Allah, tidak jauh kulihat satu-satunya kedai yang masih buka. Langsung ku hampiri membeli segelas teh-susu.

Berhajilah Selagi Muda
Ketika kami selesai sholat di lantai dua menghadap Multazam, aku merasa ada tangan seseorang yang menyentuh pundakku. Ketika aku menoleh, kulihat seorang bapak yang cukup tua. Tersenyum. Namun tiba-tiba dia menangis. Aku salah tingkah. Mau bertindak apa? Kudekati saja sambil meletakkan tanganku di pundaknya. Seolah merangkul. Aku menunggu hingga dia puas menangis. Masih dalam keadaan terisyak, bapak itu berkata: “Bapak terharu melihat kalian. Masih begitu muda, tetapi sudah memenuhi panggilan Allah berhaji.”

Kami jadi turut terharu. Sembari berusaha keras menutup rapat celah-celah kesombongan yang ditiupkan syaitan, aku menyarankan supaya bapak itu untuk mendoakan semoga anak-anaknya dapat berangkat haji selagi muda. Bapak itu mengangguk. Dia kemudian menceritakan asal dan kondisi anak-anaknya. Ya Allah, mudahkanlah bagi anak keturunannya menunaikan haji selagi muda.

Doa Untuk Pak Sabeni
Setelah merampungkan tawaf haji, kami menghubungi bapak mertua di Jakarta. Ada kabar duka. Pak Sabeni, supir kami yang baik hatinya, berpulang tiba-tiba. Kami memanjatkan doa untuknya. Aku membacakan Surat Yasin khusus untuknya di Masjidil Haram. Semoga Allah mengabulkan doa kami, mensejahterakan almarhum di alam barzahnya. Memberi kesabaran dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan. Istriku sangat terkejut. Ia mengenang kebaikan almarhum yang akan menjaga anak-anak kami selama kami menunaikan ibadah haji.

Penutup
Kami cukupkan penuturan pengalaman haji kami di sini. Penuturan ini hanyalah sebagian ekspresi kesyukuran kami kepada Allah. Tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun dari siapapun. Kecuali dari Allah. Semoga penuturan ini dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi calon jemaah haji khususnya. Rawatlah kerinduan Anda berhaji dengan menyakini haji adalah kewajiban. Niatkan pergi haji dengan menyisihkan sejumlah uang tabungan pembuka. Semoga Allah menjadikan perjalanan haji sebagai bagian penting untuk kematangan spiritual kita.

Semoga Allah berkenan menunjukkan sebagian tandatanda keagunganNya saat Anda berhaji.

Salam
Budi Hikmat + Adelina Syarif
Gema Pesona Estat K-9
Jalan Tole Iskandar 45,
Depok 16412

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: