Blog Tausiyah275

Januari 18, 2006

Tentang (rencana penerbitan) Playboy di Indonesia

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 4:58 am

ehmm…kok nampaknya pornografi memang ‘tidak jelas’ statusnya…dibilang haram, tapi diijinkan…jika diterbitkan malah dibasmi… 😦 piye nich sikap ulama? 😦

http://www.indomedia.com/bpost/012006/18/nusantara/nusa1.htm

FPI: Jangan Pakai Nama Playboy

Jakarta, BPost
Penggagas penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia ternyata pernah melakukan konsultasi dengan Front Pembela Islam (FPI), salah satu kelompok Islam garis keras di negara ini. Namun FPI bersikap, jika majalah itu terbit dengan nama Playboy, maka organisasi Islam itu tidak akan segan-segan menyikatnya. Karena itu FPI meminta majalah itu berganti nama.

“Tiga bulan yang lalu ada sekelompok anak muda energik telah menemui saya untuk berkonsultasi mengenai penerbitan majalah Playboy,” kata Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq Shihab di Jakarta, Selasa (17/1).

Rizieq menegaskan dalam pertemuan tersebut FPI sudah menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana penerbitan majalah yang banyak mengeksploitasi tubuh wanita itu. “Kalau mereka tetap terbit pada bulan Maret maka akan kami sikat,” kata Rizieq.

Menyangkut nama, Rizieq menganjurkan mereka agar tidak menggunakan nama Playboy karena konotasinya tidak bisa dipisahkan dari unsur pornografi.”Apalagi mereka membeli franchise dari Amerika senilai Rp1 miliar. Sayang kan kalau ternyata digunakan untuk investasi yang dapat menyulut penolakan gerakan Islam. Mengapa tidak menggunakan nama lain saja. Saya mengusulkan nama Pria, Gentlement atau Jantan,” tuturnya.

Menyangkut isi, Rizieq menganjurkan penggagas Playboy yang terdiri atas para anak muda berusia antara 20 hingga 30 tahun itu untuk tetap menjunjung tinggi norma-norma agama.

Sementara itu, Dewan Pers menyatakan akan menggelar rapat pleno khusus untuk membahas maraknya penolakan terhadap rencana peluncuran Majalah Playboy edisi Indonesia.

“Kami banyak mendapat pertanyaan-pertanyaan dan statement tentang penolakan peluncuran Playboy itu, minggu depan kami akan melakukan rapat pleno yang khusus membahas masalah ini,” kata Wakil Ketua Dewan Pers, RH Siregar di Jakarta, Selasa.

Menurut RH Siregar, Dewan Pers tidak mempunyai otoritas untuk menghentikan atau melarang penerbitan karena tidak ada pasal dalam UU No.40/1999 tentang Pers yang memberikan kewenangan tersebut.

Aturan mainnya adalah dari pertanyaan dan statement yang berkembang itu akan dibawa ke rapat pleno untuk kemudian menentukan sikap, selanjutnya akan dilaporkan kepada publik. Namun pada intinya Dewan Pers sendiri, menurut dia tidak setuju dengan rencana peluncuran Playboy versi Indonesia tersebut. ant

Iklan

3 Komentar »

  1. “Namun FPI bersikap, jika majalah itu terbit dengan nama Playboy, maka organisasi Islam itu tidak akan segan-segan menyikatnya. Karena itu FPI meminta majalah itu berganti nama.” HEK HEK! serius neh

    hue hue hue…makanya, saya bilang TIDAK JELAS :p 😀 🙂 😉

    Komentar oleh fahdi — Januari 18, 2006 @ 5:34 am | Balas

  2. Penggagas penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia ternyata pernah melakukan konsultasi dengan Front Pembela Islam (FPI), salah satu kelompok Islam garis keras di negara ini. Namun FPI bersikap, jika majalah itu terbit dengan nama Playboy, maka organisasi Islam itu tidak akan segan-segan menyikatnya. Karena itu FPI meminta majalah itu berganti nama, GA SALAH NIHH…???!!

    itulah yang saya herankan ukhti Lia…agak2 ‘bingung’ dg cara mereka berpikir…:(

    Komentar oleh Lia — Januari 25, 2006 @ 11:03 am | Balas

  3. Kalo mau membasmi pornografi yang jangan setengah setengah jangan hanya majalah playboy tapi juga majalah yang lain yang juga mengumbar pornografi. Tetapi yang lebih penting mengenai majalah adalah isinya. Biar namanya majalah playboy tapi kalo cover sampul depannya menampilkan Titi Qadarsih menggunakan baju muslim ya nggak apa apa tapi alangkah mulianya juga kalo namanya bukan “Playboy”. Globalisasi boleh tapi kalo 100% mengadopsi barat ya kita (terutama pelaku bisnis) khan nggak ada bedanya sama “pelacur” yang rela mengorbankan harga diri dgn dibungkus “kebebasan pers”, “kebebasan berekspresi” untuk mencapai keuntungan komersial. Saran saya ya mbok mendirikan majalah yang khas Indonesia yang menampilkan busana tradisional (dgn balutan modern) khan bisa. Khan ada mas Ramli, Adji Notonegoro dan desainer terkenal Indonesia yang mampu mendesain baju khas Indonesia yang sesuai dengan zaman sekarang, sopan dan dipake oleh model-model terkenal terus ditampilkan sbg cover majalah, khan keren juga dan lebih terhormat.

    makanya, seperti saya bilang…tidak jelas nich ulama2nya…jika hendak memberantas, langsung saja..agar tidak ada yg merasa diberi angin.. 🙂

    Ya introspeksi juga buat FPI kalo mau ngamuk jgn ngancur-ngancurin properti orang, dialoglah secara baik-baik kalo nggak bisa ya lapor polisi beres khan.

    betul…tidak boleh merusak barang orang lain… Islam sangat menghormati kepemilikan …

    Komentar oleh Roni Pratomo Yudistian — Februari 1, 2006 @ 7:49 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: