Blog Tausiyah275

Februari 15, 2006

Aa Gym – Tentang Penghinaan thd Rasululloh SAW

Filed under: Aa Gym — Tausiyah 275 @ 7:16 am

(artikel ini sudah muncul jauh sebelum kasus Denmark tersebar luas)

Saudaraku percayalah, semakin mudah kita tersinggung, apalagi hanya karena hal-hal sepele, maka akan semakin sengsara pula hidup ini. Apakah kita akan memilih hidup sengsara ?. Tentu tidak bukan ?. Justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal. Bagaimana bisa begitu ?. Kalau kita tidak ada yang menghina atau menyakiti, kapan kita mau memaafkan ?. Yang pasti, semakin kita berjiwa pemaaf, maka hati kita akan semakin lapang; semakin bisa memahami orang lain; dan hidup kita akan semakin aman dan tentram.

Rasulullah SAW dihina, tetapi ia tetap cemerlang bagaikan intan berlian, sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal, sengsara. Demikian juga Salman Rusdhie yang terus dilanda ketakuan dan tak bisa ke mana-mana. Siapa yang menabur angin, maka ia akan menuai badai. Ada kisah menarik. Suatu ketika Nabi Isa AS dihina, tapi ia tetap tersenyum, tenang, dan mantap. Tidak sedikit pun beliau menjawab dengan kata-kata kotor dan tajam seperti dilontarkan orang yang menghina tersebut. Saat ditanya oleh sahabatnya, “Wahai Nabi, kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah engkau membalasnya dengan kebaikan ?”. Nabi Isa AS menjawab, “Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan; kalau yang kita miliki itu kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata mulia”.

Begitulah cuplikan dari sebuah tausiah yang bernas dari Aa Gym pada beberapa waktu yang lalu, sedangkan selengkapnya tausiah yang mententramkan dan mencerdaskan dari KH. Abdullah Gymnastiar adalah sebagai berikut :

Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan ; kalau yang kita miliki itu kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata mulia.

Sahabat, alangkah menderitanya orang-orang yang sempit hati. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, dan penuh rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilaluinya sering kali diisi kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan dendam kesumat. Dia pun akan mudah tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak ada kata maaf. Hatinya baru terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya. Karena itu, tak heran bila menjelang tidur, otaknya berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan rasa dendam yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan pada orang yang dibencinya. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali. Hanya sebentar, belum tentu panjang umur. Amat rugi kalau kita tidak bisa menjaga suasana hati. Saudaraku, kekayaan yang sangat mahal dalam hidup ini adalah suasana hati. Walau rumah kita sempit, tapi hati kita lapang, maka akan terasa lapang pula hidup kita. Walau tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita sehat, maka hidup akan lebih tenang. Walau badan kita lemas, tapi kalau hati tegar, maka jiwa kita insya Allah akan terasa lebih mantap.

Lalu, bagaimana caranya agar kita berhati lapang dan mampu mengatasi perasaan-perasaan yang sempit itu ?.

Pertama, kita harus mengondisikan hati agar selalu siap untuk dikecewakan. Hidup ini tidak akan selamanya sesuai dengan keinginan. Artinya, kita harus siap dengan situasi dan kondisi apapun. Kita jangan hanya siap dengan kondisi enak saja. Kita harus siap dengan kondisi yang paling pahit dan sulit sekalipun. Benarlah bila pepatah mengatakan: ‘Sedia payung sebelum hujan’. Artinya, hujan atau tidak hujan kita harus selalu siap.

Kedua, kalau toh ada yang mengecewakan, maka jangan terlalu dipikirkan. Mengapa ?. Kita akan rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja, karena yang memberi dan membagikan rezeki hanyalah Allah semata; juga yang mengangkat derajat dan menghinakan manusia juga hanya Allah. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang ?. Apalagi kalau kita tidak salah dan berada di jalan yang benar. Biar pun orang tersebut kelelahan menghina kita, sungguh tidak akan berkurang sedikit pun pemberian Allah kepada kita. Kita tidak akan hina dengan cemoohan orang. Kita hanya akan hina dengan perilaku kita sendiri.

Rasulullah SAW dihina, tetapi ia tetap cemerlang bagaikan intan berlian, sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal, sengsara. Demikian juga Salman Rusdhie yang terus dilanda ketakuan dan tak bisa ke mana-mana. Siapa yang menabur angin, maka ia akan menuai badai.

Ada kisah menarik. Suatu ketika Nabi Isa AS dihina, tapi ia tetap tersenyum, tenang, dan mantap. Tidak sedikit pun beliau menjawab dengan kata-kata kotor dan tajam seperti dilontarkan orang yang menghina tersebut. Saat ditanya oleh sahabatnya, “Wahai Nabi, kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah engkau membalasnya dengan kebaikan ?”. Nabi Isa AS menjawab, “Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan; kalau yang kita miliki itu kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata mulia”.

Sungguh seseorang akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Suatu ketika seorang saleh bernama Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya dengan kata-kata: “Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar”. Namun, Ahnaf bin Qais malah menjawab, “Sudahkah? Apakah masih ada hal lain yang akan disampaikan ?. Sebentar lagi saya masuk ke kampung. Kalau nanti didengar orang-orang sekampung, mungkin nanti mereka akan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampikan, sampaikanlah sekarang !”.

Saudaraku percayalah, semakin mudah kita tersinggung, apalagi hanya karena hal-hal sepele, maka akan semakin sengsara pula hidup ini. Apakah kita akan memilih hidup sengsara ?. Tentu tidak bukan ?.

Justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal. Bagaimana bisa begitu ?. Kalau kita tidak ada yang menghina atau menyakiti, kapan kita mau memaafkan ?. Yang pasti, semakin kita berjiwa pemaaf, maka hati kita akan semakin lapang; semakin bisa memahami orang lain; dan hidup kita akan semakin aman dan tentram.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Bila Diri Sempit Hati, KH Abdullah Gymnastiar, Republika, Senin, 29 Nopember 2004.

Iklan

8 Komentar »

  1. Subhanallah….alangkah mulianya tulisan ini. Alangkah mulianya sebuah hati apabila kita mengisinya dengan kebaikan….Semoga kita semua termasuk orang2 yang hanya memiliki dan hanya menanamkan investasi kebaikan saja…aminnn….

    tepat sekali, ukhti Deshinta…semoga kita bisa meneladani keluhuran akhlak Rasululloh SAW 🙂

    Komentar oleh Deshinta — Februari 18, 2006 @ 11:22 pm | Balas

  2. iya saya setuju sekali dengan AA Gym. Tingkat spiritual Nabi Mohammed Muhammad sudah begitu tinggi melebihi manusia biasa. Beliau begitu dekat dan indentik dengan keilahian yang tidak tersentuh oleh keburukan sedikitpun karena saking mulianya Beliau. Jadi yang merendahkan / menurunkan level Beliau bukanlah karikatur itu tapi tanggapan / persepsi / reaksi umat moslem sendiri yang bertindak seakan-akan mewakili Beliau menumpahkan amarah.

    tepat sekali…Rasululloh SAW memiliki akhlak yg jauh melebihi manusia2 kebanyakan.
    makanya, ukhti Medhyati, kita mesti lebih tenang dan hati-hati dalam bersikap/bereaksi terhadap provokasi… 🙂

    Komentar oleh medhyati — Maret 3, 2006 @ 8:23 am | Balas

  3. bener apa yg disampaikan oleh AA Gym, bahwa Rosululloh telah mengajarkan kesabaran kepada kita,apakah kita akan terpancing dengan propokator yang sesungguhnya akan menghancurkan islam kenapa jalan kekerasan yg harus ditempuh bukankah islam rahmatan lilalamin, marilah kita maju bersama tingkatkan kualitas ibadah dan kualitas kemampuan kita agar kita bisa menghadapi kapitalis2 yang menjadi musuh islam

    betul sekali mas Suwito…
    jangan mudah terpancing…justru kita mesti lebih waspada dan mempersiapkan diri menghadapi musuh2 Islam 🙂

    Komentar oleh suwito — Mei 3, 2006 @ 9:58 am | Balas

  4. kita harus tenang menanggpinya, kerena bila kita sabar hati akan tenang hadapin dengan kebaikan ar rang itu malu sendiri

    Komentar oleh ridwan — September 19, 2006 @ 9:24 pm | Balas

  5. memang setiap perbuatan yang bernilai ibadah akan selalu dihalang-halangi oleh syatan, dengan segenap kemampuan dan kelicikannya
    mereka trus menggoda dan menjerumuskan manusia kedalam kesesatan.

    Komentar oleh shdiq — Oktober 30, 2006 @ 8:33 pm | Balas

  6. subhanallah Aa tausiaahnya mengugah hati saya tetap semangat Aa, ALLAHUAKBAR………..

    Komentar oleh edy lukman hakim — April 3, 2008 @ 8:56 pm | Balas

  7. Sungguh pada diri Rasulullah SAW, terdapat suri tauladan yang baik….. Jika umat Islam dapat mengikuti apa yang di contohkannya maka niscaya umat Isalam akan menjadi umat yang unggul dan bukan tidak mungkin umat agama lain akan berbondong-bondong masuk agama Islam tanpa ada peperangan. Allahu Akbar……

    Komentar oleh Heru Iswahyudi — Mei 20, 2008 @ 10:15 am | Balas

  8. wah, abis ngliat judulnya,
    kupikir isinya apah… huffft….

    kalo ada org lain yg baca judulnya doang tanpa ngbaca isinya. bisa ambigu maknana nih…

    tapi alhamdulilah isi kontennya tidak ada masalah….

    jd pengen request nih, tlg title nya diedit mas.
    Isinya ngga pa2 … cuma title nya aja yg diedit.
    Dari –> Aa Gym – Tentang Penghinaan thd Rasululloh SAW
    Menjadi –> Tentang Penghinaan thd Rasululloh SAW

    itu aja enough koq.
    Kan nama Aa Gym nya masih ada di bawah Title nyah.

    wassalamu’alaikum warahmatullah… 😀

    Komentar oleh gugum — November 14, 2011 @ 1:35 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: