Blog Tausiyah275

Februari 18, 2006

Kepiting = Halal Dimakan

Filed under: Fiqh — Tausiyah 275 @ 1:00 pm

Jika kemarin membahas ikan hiu, kini kita bahas kepiting ๐Ÿ™‚

Di keluargaku sendiri, hingga hari ini masih berdebat tentang kepiting, apakah boleh dimakan, atau tidak. Hal ini dikarenakan menurut Mama, kepiting adalah hewan yg hidup di 2 alam, sehingga menurut hukum Islam, HARAM dimakan. Berbeda dg RAJUNGAN, menurut beliau, lingkungan hidupnya sudah jelas, di air.

Well…terlepas dari itu semua, kebetulan aku mendapat email yg berisi fatwa MUI, yg menjelaskan kepiting = halal. Semuanya kembali kepada kita, apakah kita meyakini bahwa kepiting hidup di 2 alam, atau hanya 1 alam (manut dg fatwa MUI ini), insya ALLOH masing2 ada kebaikan dan ganjarannya:)

Untuk lebih jelasnya, mungkin ada rekan2 yg lebih tahu tentang jenis kepiting yg disebut oleh MUI ini?

KEPUTUSAN FATWA KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA tentang KEPITING

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam rapat Komisi bersama dengan Pengurus Harian MUI dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika

Majelis Ulama Indonesia (LP.POM MUI), pada hari Sabtu, 4 Rabiul Akhir 1423 H./15 Juni 2002 M.,

Setelah

MENIMBANG

1. bahwa di kalangan umat Islam Indonesia, status hukum mengkonsumsi kepiting masih dipertanyakan kehalalannya;

2. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hukum mengkonsumsi kepiting, sebagai pedoman bagi umat Islam dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.

MENGINGAT

1. Firman ALLOH SWT tentang keharusan mengkonsumsi yang halal dan thayyib (baik), hukum mengkonsumsi jenis makanan hewani,dan sejenisnya, antara lain :

2. “Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah [2]:168).

3. “(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk… “ (QS. al-A’raf[7]: 157).

4. Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka? ” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan ALLOH kepadamu. Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama ALLOH atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada ALLOH, sesungguhnya ALLOH amat cepat hisab-Nya”. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan ALLOH kepadamu; dan syukurilah ni’mat ALLOH jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang ALLOH telah berikan kepadamu, dan bertakwalah kepada ALLOH yang kamu beriman kepada-Nya. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang baik, bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan panjang,..”(OS. al-Baqarah [2] : 172).

5. Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya berlumur debu.Sambil menengadahkan kedua tangan ke langit ia berdoa, ‘Ya Tuhan, ya Tuhan,.. (berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh ALLOH swt. Sedangkan, makanan orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. (Nabi memberikan komentar),’Jika demikian halnya, bagaimana mumgkin ia akan dikabulkan doanya”… (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

“Yang halal itu sudah jelas dan yang harampun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halas haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara syubhat sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya…” (HR.Muslim).

6. Hadis Nabi : “Laut itu suci airnya dan halal bangkai (ikan)-nya” (HR.Khat-iisa11),

7. Pada dasarnya hukum tentang sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya

8. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI Periode 2001-2005

9. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan :

1. Pendapat Imam Al Ramli dalam Nihayah Al Muhtajila Ma’rifah Alfadza-al-Minhaj, (t.t : Dar’al -Fikr,t.th) juz VIII, halaman 150 tentang pengertian “Binatang laut/air ,dan halaman 151- 152 tentang binatang yang hidup di laut dan di daratan

2. Pendapat Syeikh Muhammad al-Kathib a;-Syarbainidalam Mughni Al-Muhtajila Ma’rifah Ma’ani Al-Minhaj, (t.t :Dar Al-Fikr, T.th), juz IV Hal 297 tentang pengertian “binatanglaut/Air “, pendapat Imam Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi dalam Minhaj Al-Thalibin, Juz IV, hal. 298 tentang binatang laut dan di daratan serta alasan (‘illah) hukum keharamannya yang dikemukakan oleh al-Syarbaini :

3. Pendapat Ibn al’Arabi dan ulama lain sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah (Beirut : Dar al-Fikr,1992), Juz lll, halaman 249 tentang “binatang yang hidup di daratan dan laut”

4. Pendapat Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA (anggot A Komisi Fatwa) dalam makalah Kepiting : Halal atau Haram dan penjelasan yang disampaikannya pada Rapat Komisi Fatwa MUI, serta pendapat peserta rapat pada hari Rab 29 Mei2002 M./ 16Rabi’ul Awwal 1421 H.

5. Pendapat Dr. Sulistiono (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB) dalam makalah Eko-Biologi Kepiting Bakau (Scylllaspp) dan penjelasannya tentang kepiting yang disampaikan pada Rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, 4 Rabi’ul Akhir 1423 H / 15 Juni 2002M, antara lain sebagai berikut:

6. Ada 4 (empat) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yaitu :
a. Scylla serrata,
b. Scylla tranquebarrica,
c. Scylla olivacea, dan
d. Scylla pararnarnosain.

Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan “kepiting”
1. Kepiting adalah jenis binatang air, dengan alasan:
a. Bernafas dengan insang.
b. Berhabitat di air.
c. Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.

2. Kepiting termasuk keempat jenis di atas(lili._angka 1) hanya ada yang:
a. hidup di air tawar saja
b. hidup di air taut saja, dan
c. hidup di air laut dan di air tawar. Tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam : di laut dan di darat.

Rapat Komisi Fatwa MUI dalam rapat tersebut, bahwa kepiting, adalah binatang air baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam : di laut dan di darat :

Dengan bertawakkal kepada ALLOH SWT.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : FATWA TENTANG KEPITING

1. Kepiting adalah HALAL dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.
2. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan, akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal : 4 Rabi’ul Akhir 1423 H. 15 Ju1i2002M

KOMISI FATWA
MAJLIS ULAMA INDONESIA

Iklan

18 Komentar »

  1. Yes!!!

    Halal. ๐Ÿ™‚

    hahaha..ngidam kepiting ya akhi Vnuz?? hehehe.. ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh vnuz — Februari 20, 2006 @ 6:04 pm | Balas

  2. Terlepas dari haram dan halalya kepiting,itu tergantung dari keyakinan dan niat kita masing-masing. Kalau MUI bilang halal silahkan anda pakai fatwanya.tapi terlepas dari itu semua, bukan dari halal dan haramnya, tapi kepatuhan kita kepada Allah untuk mematuhi perintahnya, ada kenikmatan tersediri dimana kita menahan diri semata-mata karna cinta dan kepatuhan kita kepada Allah, denga keikhlasan. Allah maha mengetahui niat kita.
    sudah menjadi sifat manusia untuk mencari-cari cara untuk membelarkan suatu. kalau rajungan tidak boleh kenapa tidak coba kepiting.

    perintah ALLOH SWT terkadang tidak dijelaskan secara detail di Al Qur’an, ataupun Al Hadits (terutama seiring dengan tingkat kemajuan manusia). Itulah gunanya ulama, untuk berijtihad…menentukan ‘hukum’ sesuatu, apakah halal, haram, wajib, sunnah, dst. Saya sendiri setuju dg pendapat anda, lebih baik kita menahan diri karena cinta dan patuh kepada ALLOH. Tulisan ini sekedar membuka cakrawala, agar tidak ‘menyalahkan’ saudara kita yg kebetulan doyan kepiting ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh Farianda — Februari 22, 2006 @ 6:04 am | Balas

  3. om 2x & tante 2x
    kalau masih meragukan atau belum sreg fatwa MUI ya.. jangan dilakukan . toh masih banyak makanan lain yang bisa dikunsumsi. Khan ya.. begitu poro sedulur..

    sepakat dengan mas Roy…
    fatwa TIDAK MENGIKAT…boleh diikuti, boleh tidak ๐Ÿ™‚
    jika tidak sreg, ya tidak usah diikuti ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh roy — Maret 29, 2006 @ 6:05 am | Balas

  4. Ass.Wr.Wb.

    wa’alaykumsalam wr wb

    Al Quran sudah menjelaskan semua tentang dunia dan akhirat, Rasulullah SAW pun menjabarkan melalui semua hadistnya baik yang shahih maupun tidak, tinggal bagaimana kita berusaha bijak untuk menyikapinya. Bagaimanapun segala pertanggungan jawab nantinya hanya kita dengan Sang Khalik. Maka lakukanlah apa yang dikatakan baik oleh Al Qur’an dan Hadist dan tinggalkan apapun yang dilarang.

    DD

    betul sekali mas Dimas…terima kasih komentarnya ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh Dimas Djarot — Mei 18, 2006 @ 9:16 am | Balas

  5. lha wong enak-enak kok ora olih dipangan sih keprewe. Kepiting khan dudu kewan amphibia (urip di dua alam) sing termasuk amphibia kan kodok, buaya, kura-kura, penyu.

    hehe…terima kasih komentarnya, mas Kamsi ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh kamsi — Juni 14, 2006 @ 6:37 pm | Balas

  6. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan, akan diperbaiki sebagaimana mestinya.
    apakah ini artinya MUI sendiri ragu-ragu ? yoopo se ?

    Komentar oleh Rudi S — September 12, 2006 @ 11:13 am | Balas

  7. Ditulis: “Bernafas dengan insang”. Kalau gitu, ikan paus, ikan lumba2, bole dimakan gak ?

    Komentar oleh Arie — Oktober 17, 2006 @ 11:40 am | Balas

  8. yang jelas-jelas di haramkan adalah makanan dari generasi babi.

    Komentar oleh tenggara — Januari 16, 2007 @ 10:51 am | Balas

  9. alhamdulillah
    halal aduh emang aku suka makan kepiting dan rajungan jadi gak ragu dech boat makannya

    Komentar oleh tini — April 9, 2007 @ 2:54 pm | Balas

  10. Alhamdulillah, saya mendpatkn jawaban karena dengan keterbatasan ilmu saya, pada suatu ketika saya dihadapkan dengan sebuah keraguan dengan pertanyaan beberapa teman. jadi web ini sangat bermanfaat mudah2an dapat di pertanggungjawabkan.

    Komentar oleh Musyawir M — November 7, 2007 @ 12:54 pm | Balas

  11. Kalau kita mau membandingkan hewan yang habitat hidupnya di air namun masih bisa hidup di darat adalah ikan lele dan ikan gabus (kutuk), dia bernafas pakai insang namun kuat hidup di darat. Namun dia tetap binatang air demikian pula kepiting. Demikian pula ikan paus konon dia bernafas pakai paru-paru namun hidup di air. Semua itu tidak lain adalah bukti kebesaran Allah sang khaliq.

    Komentar oleh e1 — November 22, 2007 @ 8:38 pm | Balas

  12. Kalau kita mau membandingkan hewan yang habitat hidupnya di air namun masih bisa hidup di darat adalah ikan lele dan ikan gabus (kutuk), dia bernafas pakai insang namun kuat hidup di darat.

    akh jgn bilang hidup di darat dong, mereka kan tetep aja ikan, dibiarin di ember tanpa air, paling lama juga sehari udah mati tu ikan, jadi jangan bikin yang baca jadi ragu dung. afwan seblmnya

    Komentar oleh firdaus — Februari 9, 2008 @ 11:53 pm | Balas

  13. wah kalo haram gawat banget…Soalnya aku dah sering banget makan kepiting
    http://ardiansyahputra.wordpress.com/

    Komentar oleh trae — Mei 24, 2008 @ 6:17 am | Balas

  14. Kepiting = halal selagi bukan hasil mencuri hahahahahahaha . . . . . .
    Tapi klo kalian meragukan kepiting halal atau haram ya udah masih banyak makanan lain kok yang lebih enak lagi.
    lagian makan kepiting itu ribet isinya tulang doang?
    wakwkkwkakwkakwkawkakwk . . ..

    Komentar oleh Dede — September 24, 2009 @ 9:23 pm | Balas

  15. wah, baru baca niyh artikel..

    pas banged istri ane lg ngidam kepiting neh ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh aji — April 9, 2010 @ 10:53 am | Balas

  16. […] lain yang sejenis: – ikan hiu tidak haram – obat batuk vicks mengandung alkohol – kepiting halal dimakan – makanlah produk halal – Pengaruh Makanan Haram dalam Perspektif Biologi Kuantum Share […]

    Ping balik oleh 4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Halal « Blog Tausyiah275 — Desember 28, 2011 @ 5:13 pm | Balas

  17. […] terkait: – ikan hiu tidak haram – obat batuk vicks mengandung alkohol – kepiting halal dimakan – pengaruh makanan haram Share this:FacebookTwitterLike this:SukaBe the first to like this post. […]

    Ping balik oleh Makanlah Produk Halal « Blog Tausyiah275 — Desember 28, 2011 @ 5:34 pm | Balas

  18. Menurt Saya kepiting tetap Haram, karena fatwa tsb ada kalimat, “jika tidak membahayakan…”
    Suatu ketika Saya pernah silaturahmi ke rumah guru Saya, Habib Umar Al-Attas Jakarta Timur, beliau mengatakan kepiting dan kodok memiliki zat tertentu yang ada di tubuhnya yang membahayakan tubuh kita. Wallohualam….

    Komentar oleh cahaya — Maret 31, 2016 @ 1:39 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: