Blog Tausiyah275

Februari 19, 2006

Pro Kontra Pencari Amal Jariah di Jalanan

Filed under: Muamalah — Tausiyah 275 @ 5:12 am

‘Sedikit’ berbeda dengan penghibur jalanan, artikel ini sangat terkait dengan para pencari sumbangan yang ‘berkeliaran’ di jalan2. Tentunya tidak pernah tidak, kita pernah menemui salah seorang diantaranya. Ada yang kita temui di metromini, saat makan di warung pinggir jalan, di jalan. Bahkan mungkin kita pernah temui mereka berdiri di dekat masjid yang sedang mereka bangun.

‘Status’ pencari sumbangan ini, menurutku, berbeda dengan penghibur jalanan ataupun anak jalanan. Karena dia mempunyai misi agama, sehingga uang yang mereka terima BELUM TENTU mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Ini berarti, ADA sebagian uang yang mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Tapi, anda jangan buruk sangka dulu…

Kemarin sore aku melihat liputan investigasi dari Trans TV. Di sana disiarkan ‘kehidupan’ para pencari sumbangan. Well…mereka memang ‘tidak kenal menyerah’ dalam mengumpulkan amal jariah. Namun ada sisi yang patut kita cermati.

Menurut tim Trans TV (TTV), beberapa pengurus ‘hanya’ mewajibkan setoran amal jariah sebesar Rp 15.000/minggu (Rp 2.000/hari lebih dikit). Sementara amalan yang didapat bisa sebesar Rp 30.000/hari. Sehingga seminggu bisa terkumpul Rp 210.000, sedangkan setoran hanya Rp 15.000 (lebih kurang 7.14%). Jadi, sisanya (Rp 195.000) digunakan untuk keperluan pribadi (sebagaimana pernyataan para pencari sumbangan tersebut).

Beberapa ulama (salah satunya Antonio Syafii) menyatakan bahwa hal itu BERTENTANGAN dengan syariah. Karena pengurus (amil) hanya berhak 1/8 (12.5%). Jadi, semestinya para pencari sumbangan hanya berhak Rp 26.250 saja. Seorang ulama lain (pengurus MUI DKI Jakarta) bahkan menyatakan bahwa tindakan ini merupakan pelanggaran.

Seorang ibu yang ditanya hanya berkata, yang penting dia berniat menyumbang, masalah digelapkan/digunakan pribadi, itu urusan pencari amal dg ALLOH SWT. Jawaban lainnya, ada yg minta ditunjukkan surat tugas, dan masih banyak lainnya.

Well…sikapku sendiri, aku tidak bisa melarang pencarian amal jariah, ya iya lah…:p Hanya saja ada beberapa poin yg hendak aku fokuskan:
1. Kepala MUI sendiri hendaknya bisa ‘mencegah’ penarikan dana di jalanan itu. Caranya? Menurutku tidak sulit, dana yang terkumpul di MUI, rasa2nya cukup untuk membantu (meski tidak full) pembangunan masjid itu.
2. Pemerintah Daerah bisa memberdaya gunakan, dengan menyediakan bahan bangunan, namun dg syarat para pengurus/warga sekitar masjid itu bekerja di Pemda, tentunya mereka juga mendapat upah yg memadai.
3. Pencarian amal jariah mesti dikoordinasikan dengan baik. Jumlah yg mesti disetor setidaknya dibuat sedikit lebih tinggi. Selain itu, mestinya…(menurutku lhoo…) gunakan NETWORK yg ada.🙂
4. Jika kita hendak beramal, hendaklah dg ikhlas, tidak perlu mikir macem2. (silakan baca lagi artikel tentang penghibur jalanan)
5. Jangan terlalu banyak membangun masjid. Jumlah masjid yg terlalu banyak hanya akan mengakibatkan kian banyaknya masjid yg kosong, karena tidak ada ‘ruh’ untuk mengisi kegiatan masjid. Cukup direnovasi/diperbesar. Berbeda mazhab? Ah, tidak perlu sampai membangun masjid ‘tandingan’😉

Sebelum mengakhiri artikel (yg lumayan panjang ini), aku hendak ceritakan pengalaman temanku yg bertempat tinggal di daerah Jakarta Utara (lupa tepatnya). Dia bercerita, suatu kali masjid dia hendak direnovasi, maka pengurus masjid juga mencari amal jariah di jalanan. Kebetulan masjidnya di samping jalan besar, jadi pengurus masjid ‘berhalo-halo ria’ menggunakan pengeras suara. Setelah 5-6bulan, akhirnya terkumpul dana yg cukup, dan setelah masjid selesai direnovasi, maka selesai pula pencarian amal jariah di jalanan tersebut.

Intinya: TETAP BERBAIK SANGKA PADA PENCARI AMAL JARIAH.🙂
*terima kasih sudah bersedia membaca artikel yg cukup panjang ini…*🙂

2 Komentar »

  1. […] bersandiwara. Ada juga yg menyesal karena menyumbang kepada panitia pembangunan masjid, yg ternyata ditengarai para panitia pembangunan masjid itu lebih banyak menggunakan uang sumbangan untuk kepenti…. Ada juga yg menyesal karena ‘salah’ memberikan uang untuk menyumbang…semula dia […]

    Ping balik oleh Jangan Menyesal Berbuat Baik « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:47 am | Balas

  2. […] masjid ataupun pondok pesantren. Hal ini seringkali menjadi perdebatan tiada henti dari yg pro dan kontra dg pencari amal jariah ini. Nah, dengan menjadi orang kaya, maka umat Islam akan bisa membantu masjid dan pesantren yg […]

    Ping balik oleh Umat Islam HARUS KAYA, Tapi… | Blog Tausiyah275 — Agustus 11, 2013 @ 9:47 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: