Blog Tausiyah275

Februari 19, 2006

Sholat Ghaib

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh — Tausiyah 275 @ 8:08 am

Sekedar mengingatkan, bahwa sholat ghoib/sholat ghaib adalah sholat jenazah, namun TIDAK DILAKUKAN DI DEPAN JENAZAH. Jadi, misalkan ada saudara kita yang meninggal, di Jawa Timur atau di Jawa Tengah, atau di tempat lain, yang kita tidak sempat menghadiri sholat jenazahnya, maka Rasululloh SAW mencontohkan untuk melakukan sholat ghoib/sholat ghaib.

‘Sedikit berbeda’ dg sholat jenazah, sholat ghoib/sholat ghaib tidak perlu dilakukan berjama’ah dan bisa dilakukan kapan saja (lebih baik segera dilakukan setelah kita mendengar berita wafatnya kenalan kita). Sementara untuk syarat-syarat dan tata caranya, serupa dengan cara sholat jenazah.

Demikian info ini…semoga bermanfaat 🙂

Iklan

3 Komentar »

  1. terima kasih tas info”nya.

    sama2 ukhti Windi 🙂

    Komentar oleh windi — Maret 4, 2006 @ 2:30 am | Balas

  2. jika memberi informasi tlg beserta dalil2

    Komentar oleh bunga — Januari 17, 2007 @ 8:50 am | Balas

  3. Asal munculnya istilah sholat Ghoib adalah berdasarkan satu hadits, bahwa Nabi SAW mengumumkan kematian raja Najasyi pada harinya kemudian keluar bersama para sahabatnya menuju lapangan lalu membuat shaf dan bertakbir empat kali. (HR Bukhori Muslim dari sahabat Abu Hurairoh).
    Adapun mengenai hukumnya, para ahli ilmu berselisih hingga tiga pendapat yang masyhur. Pertama: bahwa sholat ghoib disyariatkan dan ia adalah sunnah, ini pendapatnya Syafi’i dan Ahmad, berdalil dengan hadits di atas. Kedua: hukum ini berlakuk khusus bagi jenazahnya raja Najasyi, tidak untuk yang lainnya, ini pendapatnya Malik dan Abu Hanifah dengan dalil bahwa peristiwa sholat Ghoib ini tidak pernah ada kecuali pada kejadian meninggalnya raja Najasyi. Ketiga: mengkompromikan / menjamak antara dalil-dalil, yakni apabila seseorang meninggal dunia di suatu daerah / negeri dan belum / tidak ada yang mensholatkannya, maka dilakukan sholat Ghoib, seperti yang dilakukan Nabi SAW atas raja Najasyi karena ia meninggal di lingkungan / tempat orang-orang kafir dan belum disholatkan. Adapun jika telah disholatkan di tempat dia meninggal atau tempat lainnya, maka tidak dilaksanakan sholat Ghoib karena kewajiban untuk mensholatkannya telah gugur dengan sholatnya kaum muslimin atasnya. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dirajihkan oleh Al Khattabi, serta Abu Dawud membuat bab tentangnya dalam Sunannya, dikuatkan pula oleh Al Albany dan Muqbil bin Hadi Al Wadi’i -semoga Allah merahmati semuanya-. Di antara pendapat-pendapat ini yang kami lihat lebih kuat dan menurut kami lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat yang ketiga. Wal ‘ilmu indallah

    Komentar oleh wiharto — September 12, 2008 @ 7:28 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: