Blog Tausiyah275

Maret 12, 2006

“Teori Konspirasi” Anti-Porno

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 1:26 am

Bambang Harymurti pemimpin redaksi majalah TEMPO bersemangat mengkampanyekan sebuah teori konspirasi. Katanya, RUU APP, tersembunyi konspirasi Timur Tengah

oleh Dzikrullah *)

Biasanya, majalah TEMPO selalu menolak dengan sinis teori konspirasi jika itu diajukan oleh kalangan Muslim. Konspirasi Israel-Neo-Con dibalik serangan 9/11, ditolak. Konspirasi RMS-Kristen Internasional-kekuatan-kekuatan Barat di balik kerusuhan Ambon-Poso, ditolak juga. Konspirasi IMF-Multinational Corporations-Barat Anti-Islam di balik kejatuhan Soeharto, ditolak. Konspirasi Kristenisasi Internasional-Bisnis Konglomerat-CSIS di balik gerakan pemurtadan umat Islam Indonesia, ditolak. Namun, tadi pagi (9/3/2006) di ruang Diponegoro hotel Mandarin Jakarta yang adem, Bambang Harymurti pemimpin redaksi majalah TEMPO bersemangat mengkampanyekan sebuah teori konspirasi.

Menurut dia, segala usaha menggolkan RUU Anti-Pornografi-Pornoaksi (RUU-APP) semata-mata merupakan agenda politik tersembunyi Ikhwanul Muslimin dan Hizbut-Tahrir dari Timur Tengah, demi memaksakan nilai dan gaya hidup mereka di sana kepada bangsa Indonesia. Weleh-weleh-weleh.

Bagi puluhan wartawan bule yang hadir dalam diskusi Jakarta Foreign Correspondent Club itu (kebanyakan tentu wartawan politik), sudah pasti teori konspirasi Bambang jauh lebih menarik untuk digali, ketimbang keprihatinan seorang ibu, Santi Soekanto, pembicara lain dalam forum itu. Santi – yang mewakili Aliansi Masyarakat Anti-Pornogradi dan Pornoaksi, yang juga wartawan senior– datang membawa komputer penuh dengan file berupa gambar, potongan koran, berita koran, iklan, clip film dan sinetron Indonesia, yang menunjukkan benang merah usaha yang luar biasa raksasa untuk merusak anak-anak dan remaja Indonesia lewat pornografi. Salah satu yang ditayangkan di forum itu adalah sebuah adegan sinetron remaja di SCTV, di mana beberapa pasang pelajar SMA berseragam menonton film porno. Mereka digambarkan terangsang, lalu satu per satu meninggalkan ruangan untuk memuaskan syahwatnya.

Menanggapi argumen Santi, Bambang yang lulusan Universitas Harvard, Amerika, mengatakan, “Kalau berbagai tayangan dan penerbitan porno itu menjadi sebab perkosaan dan lain-lain, tentu Skandinavia adalah kawasan yang tingkat perkosaannya paling tinggi. Tapi, Timur Tengah justeru yang tingkat perkosaannya paling tinggi, di mana peraturan justeru sangat ketat.” Ck..ck..ck.. serampangan benar tuduhan Bambang terhadap negera-negara Timur Tengah itu.

Bambang juga berkali-kali menuduh, bahwa Aliansi (Santi dan kawan-kawan) sebenarnya tidak peduli pada pornografi. Buktinya, katanya, pasal-pasal dalam KUHP sudah cukup untuk menyeret pelaku pornografi, namun Aliansi dan mereka yang mengusung RUU-APP tidak pernah melakukan tekanan kepada polisi untuk mengambil tindakan tegas guna melaksanakan pasal-pasal itu. Meskipun tuduhan “tidak pernah melakukan tekanan terhadap polisi” itu asal bunyi (karena usaha-usaha itu nyatanya sudah dilakukan), secara jujur memang gejala korupsi di kalangan penegak hukum juga harus jadi perhatian kita. “Jadi, mereka (Aliansi) ini sebenarnya lebih peduli pada agenda tersembunyi, yaitu mendorong pelaksanaan syariat Islam di negeri ini, seperti Taliban di Afghanistan. Saya menghawatirkan, potensi gerakan kekerasan jika RUU ini diberlakukan.”

Analisis ini diamini oleh Leo Batubara, salah satu Ketua Dewan Pers, yang berbulan-bulan ini sangat bersemangat membela majalah porno Playboy Indonesia agar boleh terbit di sini. “Saya tidak suka multiparty system, tapi saya suka multi-posision (dalam melakukan hubungan seks),” katanya. “Dari mana saya dan istri saya bisa belajar posisi-posisi itu kalau bukan dari media porno?” Hadirin tertawa. Menurut Leo, kebutuhan orang dewasa akan pornografi juga harus dilindungi dengan undang-undang. Ia menyimpulkan, RUU-APP ini hanya salah satu cara pemerintah Presiden SBY untuk menyenangkan hati Majelis Ulama Indonesia supaya kekuasannya didukung terus, sekaligus mendapatkan cara baru untuk mengontrol kebebasan pers.

Leo juga berkali-kali mengklaim, bahwa 41 juta orang Sunda pasti menolak RUU-APP itu, karena akan mengkategorikan tari jaipongan sebagai pornoaksi. tayuban di Jawa, tari Bali, dan orang Papua yang hanya berkoteka juga dikhawatirkan Leo akan ditangkapi polisi. Suami isteri yang berciuman di depan umum juga akan ditangkap. “Ini gerakan Taliban Afghanistan, atau Saudi Arabiyah, mau dipaksakan kepada bangsa Indonesia,” katanya berapi-api. Teori konspirasi lagi.

Berbagai tema yang berkembang di media massa, di ruang-ruang DPR, dan di masyarakat seputar RUU-APP tumpah di forum wartawan asing itu. Semua keberatan itu dikemas dengan sangat menarik lewat dua isu, “konspirasi Islam militan Ikhwanul Muslimin-Hizbut Tahrir-Timur Tengah-Pro-Taliban untuk memaksakan syariat Islam di Indonesia” serta “konspirasi pemerintah SBY-Majelis Ulama Indonesia untuk mengekang kembali kebebasan pers”. Sungguh teori-teori konspirasi yang punya news-value sangat tinggi di masa kini, bukan? Uenaak tenaaan…

Bagi Bambang dan Leo, tidaklah penting untuk mendengarkan kecemasan yang melanda jutaan ibu dan ayah atas serangan pornografi, sementara mereka saban sore menuntun tangan mungil anak-anaknya dengan penuh kasih sayang menuju masjid atau mushalla, atau taman bacaan Al-Quran. Itu tidak penting.

Bambang dan Leo mungkin juga tidak percaya, bahwa ada jutaan pemuda dan pemudi yang hanif, yang sehari-hari menjaga pandangan mata dan pergaulannya agar ibadahnya khusyu’ dan akhlaknya semakin baik. Tidak penting juga bagi Bambang dan Leo untuk mendengarkan kegelisahan para ulama (karena dari cara mereka menyebut kata “ulama” terasa, bahwa mereka tidak merasa perlu menghormatinya), betapa kerja keras mereka mendidik jutaan santri terancam oleh raksasa industri pornografi.

Bambang dan Leo jelas tidak merasa penting untuk mengapresiasi kerja keras ibu-ibu yang tulus semisal Santi dan Bu Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati, yang bekerja keras mengumpulkan begitu banyak bukti dahsyatnya kerusakan masyarakat kita akibat industri pornografi dan pornoaksi. Nampaknya tidak terbayang oleh Bambang dan Leo, bahwa ada jutaan orang tua yang setiap malam meneteskan air mata memohon kepada Allah agar anak-anaknya diselamatkan dari kerusakan zaman. Tidak, tidak, tidak. Itu bukan hal-hal yang penting bagi Bambang dan Leo.

Karena itu sulit diterima oleh Bambang dan Leo, bahwa tanpa Ikhwanul Muslimin maupun Hizbut Tahrir sekalipun, akan ada jutaan penduduk Indonesia yang siap melakukan apa saja (termasuk mendukung RUU-APP yang banyak kelemahan redaksionalnya), agar di mata Allah Subhanahu wa ta’ala mereka tidak dianggap membiarkan berlangsungnya kemungkaran. Jutaan penduduk Indonesia seperti ini, dengan sabarnya mendukung proses demokrasi agar ikhtiar mereka disempurnakan Allah.

Bagi jutaan penduduk Indonesia yang seperti ini, menghadapi keberingasan kejahatan seperti pornografi, dan orang-orang yang membelanya seperti Bambang dan Leo memang memprihatinkan. Namun mereka sudah biasa menghadapi hal itu, karena sudah membaca pesan al-Quran, bahwa akan selalu ada permanent confrontation (demikian istilah Prof Naquib Al-Attas, bukan lagi clash of civilization) antara Haq dan Bathil, sampai akhir zaman.

Ada dua konsep yang absen dalam diskusi tadi pagi di hotel Mandarin, yaitu konsep DOSA dan AKHIRAT. Konsep inilah yang memisahkan antara Santi dan Bambang-Leo dalam dunia yang sangat berjauhan, sehingga nyaris mustahil dipertemukan.

Istilah “melindungi masyarakat” dan “kerusakan akhlak bangsa ini” yang dulang-ulang Santi, bukanlah sesuatu yang difahami dengan kecemasan yang sama oleh orang yang tidak memahami konsep dosa dan pengadilan Akhirat. Tak ada kecemasan apa-apa. Sedangkan bagi Santi dan banyak orang yang ikut melawan kejahatan pornografi, jika pilihannya cuma dua, lebih baik mereka dipaksa oleh negara untuk masuk surga, daripada diberi kebebasan oleh negara untuk melenggang ke neraka.*

Iklan

1 Komentar »

  1. wahh mau ikut protes nich
    sekalian jumpa fans ama artisss2 cantik

    halah…niatnya dah ‘aneh’ begini… 😉

    Komentar oleh aley — Maret 12, 2006 @ 11:25 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: