Blog Tausiyah275

Maret 17, 2006

“Pornografi dan Liberalisme”

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 8:40 am

(agak panjang…pikir dahulu sebelum membacanya…)

Selasa, 14 Maret 2006
Wartawan senior Indonesia menuduh RUU APP ‘berbau Arab’. Nabi dan Imam Syafi’i juga orang Arab, tapi mengapa kita mau mengikutinya? Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 139

Oleh: Adian Husaini
Menyusul maraknya aksi penolakan terhadap RUU Anti-pornografi (APP), beberapa hari lalu, seorang muslim yang tinggal di Bali menelepon saya, dan memberitahukan kondisi kaum Muslim Bali yang semakin terjepit. Kadangkala, mereka mendapat tuduhan, bahwa RUU APP adalah salah satu bentuk Islamisasi.

Jika RUU itu nantinya disahkan, maka Bali pun akan diislamkan, dan wanitanya dipaksa memakai jilbab. Entah dari mana isu itu ditiupkan di Bali, sehingga sampai muncul ancaman, jika RUU APP diterapkan, maka Bali akan memerdekakan diri dari Indonesia.

Ancaman semacam ini dulu juga nyaring terdengar di kalangan kaum Kristen tertentu, ketika RUU Pendidikan Nasional akan disahkan. Mereka mengancam, Papua dan Maluku akan memisahkan diri, jika RUU Pendidikan Nasional disahkan. Tetapi, ketika RUU itu disahkan menjadi UU, gertakan mereka juga kurang terdengar lagi.

Kaum Muslim Bali dan banyak komponen masyarakat lainnya di sana, jelas sangat mengharapkan lahirnya satu Undang-undang yang bersikap tegas terhadap tayangan-tayangan pornografi dan pornoaksi yang semakin meruyak di belantara tanah air Indonesia. Pada tahun 1945, kaum Muslim juga ditekan untuk mengganti Piagam Jakarta, dengan alasan ancaman separatisme wilayah tertentu.

Pornografi adalah musuh umat manusia beradab, sehingga selama ini selalu ada upaya agar manusia yang masih bertelanjang, diberikan pekaian penutup tubuh mereka. Anehnya, sebagian argumentasi penolakan RUU APP justru berorientasi kepada primitivisme.

Ada yang berpendapat, jika RUU ini diterapkan maka suku-suku tertentu yang selama ini biasa hidup telanjang akan terkena ancaman pidana. Logika kaum liberal ini sebenarnya carut-marut dan paradoks.

Pada satu sisi mereka mengagungkan progresivitas (dari bahasa Latin : progredior, artinya, saya maju ke depan), tetapi pada sisi lain, mereka justru mundur ke belakang, dengan memuja nativitas dan primitivitas.

Sayangnya, suara-suara masyarakat yang sehat, seakan tersekat. Logika mereka tersumbat oleh gegap gempitanya gerakan penolakan RUU APP dimotori oleh LSM-LSM dan public figure tertentu yang berpaham liberal, yang meyakini ‘kebebasan’ sebagai ideology dan agama mereka. Kebebasan, menurut mereka, adalah keimanan, yang tidak boleh diganggu gugat. Karena itu mereka menolak berbagai pembatasan, baik dalam hal agama atau pakaian. Kata mereka, itu wilayah privat, wilayah pribadi yang tidak boleh dicampurtangani oleh negara. Maka mereka pun berteriak: biarkan kami berperilaku dan berpakaian semau kami, ini urusan kami! Bukan urusan kalian! Bukan urusan negara! Negara haram mengatur wilayah privat! Itulah logika dan keimanan kaum liberal, pemuja kebebasan.

Karena RUU APP dianggap melanggar wilayah privat, maka mereka berteriak lantang: tolak RUU APP! Ketika kasus Inul mencuat, seorang tokoh liberal menulis dalam sebuah buku berjudul “Mengebor Kemunafikan”: “Agama tidak bisa “seenak udelnya” sendiri masuk ke dalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat…Agama hendaknya tahu batas-batasnya.”

Logika kaum liberal yang mendikotomikan antara wilayah privat dan wilayah publik itu sebenarnya logika primitif, yang di negara-negara Barat sendiri sudah kedaluwarsa. Sejak lama manusia sudah paham, bahwa kebebasan individu selalu akan berbenturan dengan kebebasan publik.

Karena itulah, di negara-negara Barat yang memuja liberalisme, ada peraturan yang membatasi kebebasan manusia, yang memasuki dan mengatur wilayah privat, baik dalam soal tayangan TV, pakaian, minuman keras, dan sebagainya.

Ada kode etik dalam setiap jenis aktivitas manusia. Tidak bisa atas nama kebebasan, orang berbuat semaunya sendiri. Masalahnya, karena peradaban Barat adalah peradaban tanpa wahyu, maka peraturan yang mereka hasilkan, tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi pada kesepakatan akal manusia. Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemauan manusia.

Di Indonesia, karena liberalisme sedang memasuki masa puber, maka tampak ‘kemaruk’ (serakah) dan memalukan.
Semua hal mau diliberalkan. Ketika terjadi penolakan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM, seorang aktivis Islam Liberal tanpa malu-malu menulis di jaringan internet, bahwa jika kita menjadi liberal, maka harus ‘kaffah’, mencakup segala hal, baik politik, ekonomi, maupun agama.

Kaum liberal di Indonesia belum mau belajar dari pengalaman negara-negara Barat, dimana liberalisme telah berujung kepada ketidakpastian nilai, dan pada akhirnya membawa manusia kepada ketidakpastian dan kegersangan batin, karena jauh dari keyakinan dan kebenaran abadi.

Manusia-manusia yang hidup dalam alam pikiran liberal dan kenisbian nilai akan senantiasa mengalami kegelisahan hidup dan ketidaktenangan jiwa. Mereka, pada hakikatnya berada dalam kegelapan, jauh dari cahaya kebenaran. Karena itu, mereka akan senantiasa mengejar bayangan kebahagiaan, fatamorgana, melalui berbagai bentuk kepuasan fisik dan jasmaniah; ibarat meminum air laut, yang tidak pernah menghilangkan rasa haus. Lihatlah kehidupan manusia-manusia jenis ini.

Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka. Tidak ada kebahagiaan yang abadi dapat mereka reguk, karena mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki.

Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Tuhan, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Quran sudah menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini:

“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS 45:23).

Dalam satu tayangan televisi, seorang pengacara terkenal pembela Anjasmara bersikukuh bahwa apa yang dilakukan Anjasmara dengan foto bugilnya adalah satu bentuk seni, dan bukan pornografi. Padahal, foto Anjasmara yang dipamerkan untuk umum di Gedung Bank Indonesia itu jelas-jelas mempertontonkan seluruh auratnya, kecuali alat vitalnya.

Apakah si pengacara itu tidak berpikir, jika foto Anjasmara itu diganti oleh foto diri atau foto ayahnya. Apakah itu juga seni? Jika memang masih dianggap satu bentuk seni, mengapa alat vital Anjasmara masih ditutup dengan lingkaran putih? mbok, sekalian agar dianggap lebih indah dan ‘nyeni’ alat vital itu dibuka dan diberi lukisan tertentu?

Dalam tradisi Yunani, yang menjadi akar liberalisme seni di Barat, patung-patung para dewa pun ditampilkan telanjang bulat dengan alat vital terbuka. Kenapa si pengacara itu masih tanggung dalam memuja liberalisme? Apa landasan yang menyatakan alat vital tidak boleh dipertontonkan di muka umum ? Jika alasannya adalah ‘tidak etis’, maka suatu ketika dan di satu tempat tertentu, misalnya di klub-klub nudis, alat vital manusia pun wajib dipertontonkan, karena mengikuti kehendak dan selera umum.

Dalam Islam, nilai etika bersifat permanen dan tidak berubah. Batas aurat wanita dan laki-laki jelas. Mana dan kapan boleh diperlihatkan juga diatur dengan jelas oleh wahyu, baik melalui ayat-ayat Al-Quran maupun hadits Rasulullah saw. Karena itu, kaum Muslim sebenarnya tidak perlu berdepat panjang tentang batasan aurat manusia, karena pedomannya sangat jelas.

Pornografi dan pornoaksi adalah aktivitas yang terkait erat dengan promosi perzinahan yang secara keras dilarang oleh Al-Quran. Karena itu, seorang dokter yang memeriksa bagian aurat tertentu dari pasien atau mayat manusia, dengan tujuan medis, tidak masuk dalam kategori pornografi atau pornoaksi. Ini tentu berbeda dengan Dewi Soekarno yang secara sengaja mempublikasikan foto-foto bugilnya dalam ‘Madame de Syuga’. Berbeda juga dengan tayangan-tayangan erotis dalam berbagai acara televisi kita sekarang ini.

Paham kebebasan atau liberalisme dalam berbagai bidang, memang sedang gencar-gencarnya dicekokkan kepada masyarakat Indonesia. Kaum Muslim Indonesia kini dapat melihat, bagaimana destruktif dan jahatnya paham ini.

Ketika Lia Eden ditangkap, kaum liberal berteriak memprotes. Ketika Ahmadiyah dinyatakan sebagai paham sesat oleh MUI, maka mereka pun berteriak membela Ahmadiyah. Ketika goyang ngebor Inul dikecam, mereka pun memaki-maki para ulama sebagai sok-moralis, sok penjaga moral dan sebagainya.

Ketika film Buruan Cium Gue (BCG) dikritik dan dikecam, mereka juga membela film itu atas nama kreativitas seni. Sekali lagi, menurut mereka, kebebasan harus dipertahankan. Sekarang, dalam kasus RUU APP, sikap dan posisi kaum liberal pun tampak jelas, di barisan mana mereka berdiri; di barisan al-haq atau al-bathil.

Kita sesungguhnya perlu mengasihani pada cara berpikir kaum liberal ini. Apalagi yang sudah tua dan ‘sakit-sakitan’, seperti Goenawan Mohammad. Bangga dengan julukannya sebagai budayawan, dia menulis satu artikel di Koran Tempo berjudul ‘RUU Porno: Arab atau Indonesia’.

Dia menganggap bahwa RUU APP ini akan merupakan bentuk adopsi nilai-nilai dunia Arab, dan jika RUU ini disahkan, maka akan berdampak pada kekeringan kreativitas pada dunia seni dan budaya.

Nama Mohammad yang ditempelkan pada Goenawan itu saja sudah mengadopsi nilai-nilai Arab, karena kata Mohammad bukan berasal dari bahasa Jawa. Al-Quran dan hadits pun dalam bahasa Arab. Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga orang Arab. Para sahabat Nabi pun orang Arab.

Imam Syafii juga orang Arab. Apakah karena mereka orang Arab, lalu kita tidak boleh mengikutinya? Kaum Muslim selama ini sudah mafhum, bahwa Islam memang agama yang diturunkan di Arab, tetapi jelas agama ini adalah untuk memberi rahmat kepada seluruh alam.

Ayat-ayat Al-Quran banyak menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya untuk orang Arab. Karena itulah, orang tua Goenawan Mohammad pun bangga memberi anaknya nama ‘Mohammad’, yang jelas-jelas mengadopsi nilai Arab.

Jika konsisten memperjuangkan nilai lokal, nama Goenawan Mohammad harusnya diganti dengan ‘Goenawan Terpuji’. Bahkan, kata ‘Goenawan’ itu pun bukan asli Jawa, melainkan impor dari India.

Masalahnya, bukan Arab atau non-Arab. Tetapi, Islam atau bukan. Benar atau salah. Itulah yang seharusnya menjadi acuan berpikir bagi Goenawan. Setiap Muslim atau yang masih mengaku Muslim, seharusnya memiliki pandangan hidup (worldview) Islam. Tidaklah sepatutnya jika nilai kebenaran Islam diletakkan derajatnya di bawah unsur ‘kreativitas seni’.

Jika kreativitas seni dijadikan sebagai standar nilai, maka akan terjadi kekacauan hidup. Siapa yang menentukan kreativitas seni itu baik atau buruk? Apakah semua kreativitas seni adalah baik? Tentu saja tidak.

Kreativitas seni Madonna yang mempertontonkan ciuman lesbi di atas panggung dengan Britney Spears dan Christina Aguilera, dalam pandangan Islam, jelas sangat tidak baik, dan sangat tidak beradab, alias biadab.

Tetapi, ketika itu, pada 28 Agustus 2003, di panggung terbuka acara penganugerahan MTV Video Music Awards di Radio City Music Hall New York, para penonton malah melakukan standing applause. Para penonton menyambut adegan jorok itu dengan berdiri serentak dan bertepuk tangan cukup panjang.

Sutradara film Guy Ritchie, suami Madonna, malah ikut bertepuk tangan dengan wajah senang. Ia sama sekali tidak keberatan dengan tingkah polah istrinya. Bagi penonton, tindakan Madonna dianggap sebagai kreativitas seni. Entah bagaimana sikap pemuja liberalisme dan kreativitas seni seperti Goenawan Mohammad andaikan dia hadir dalam acara itu.

Kreativitas seni memang penting, tetapi kebenaran nilai-nilai Islam adalah lebih penting lagi. Sudah saatnya, kaum pemuja liberalisme seperti Goenawan Mohammad bertobat dan mengoreksi pikirannya, ngaji lagi yang baik dan benar, sehingga tidak bangga dan takabbur dalam kesesatan pikirannya. Ingatlah, kita semua pasti mati dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita kepada Allah SWT. Kekuasaan dan kepopuleran tidak akan bertahan lama. Masih ada waktu untuk bertobat. Wallahu a’lam. (Jakarta, 10 Maret 2006/hidadayatullah.com).

Iklan

16 Komentar »

  1. Artikel yang menarik mengenai isu pronogafi πŸ˜€

    hehehe…betul akhi Riky..artikel yg bisa menjadi ‘mesiu’ adu argumen…hehehe… πŸ™‚

    Komentar oleh Riky Kurniawan — Maret 17, 2006 @ 10:52 am | Balas

  2. artikel yang sangat sok tau..

    husss…orang liberal kok berkomentar seperti ini?? malah terkesan bukan liberal donk?? πŸ˜‰

    belom pernah merasakan menjadi seorang ‘liberal’
    lebih baik nggak usah terlalu merasa ngerti..
    before I was a religious kinda person..
    but now.. Im at once liberal and religious…
    dan menjadi seorang liberal adalah pilihan hidupku..
    dimana gue bisa memandang dunia yg beraneka ragam ini
    tidak hanya dari satu sudut pandang saja…

    orang lain juga (barangkali) berpikir tidak dari satu sudut pandang saja…tidak boleh menghakimi begitu donk ah… πŸ˜‰

    dan yang paling penting..gue nggak menjadi seorang
    yang naif dan hypocrite..yang selalu merasa, gue adalah
    kaum pemuja kebenaran yang sangat teramat benar..
    sedangkan gue hidup didunia..yg kebetulan allah
    menciptakan bumi ini terdiri dari beraneka kepercayaan
    dan budaya… dan memandang sinis ke tiap hal yang ternyata
    dari sudut pandang gue menyimpang dan katanya sebagai degradasi moral..(KATANYA!!)
    dan sebagai pemuja liberalism gue nggak akan merasa
    sok suci dan dengan arogannya menunjuk-nunjuk manusia
    lainnya untuk bertobat karna ‘wahai dikau manusia yg
    berlumuran akan dosa…tobatlah.. tobatlah..kiamat sudah dekat..’

    orang liberal tidak akan mencaci maki orang yg tidak sepaham dengan dia. justru dia akan lebih ‘cuek’ dalam menanggapi pernyataan orang2 yang tidak sepaham πŸ™‚

    yang dilakukan anjasmara terkategori sbg seni… dan
    jangan samakan patung dewa yunani bugil dengan manusia
    bugil dan lengkap dengan alat vitalnya dipamerkan
    disebuah exhibition.. penilaian yg sangat sempit…

    dari analogi yg (mbak?) Rahma tulis di atas, pointnya apa? dewa yunani, dengan manusia bugil? saya kok tidak melihat relevansinya ya?? mohon pencerahannya:)

    nggak perlu ngebanding2in budaya dan paham yg kamu
    anut dgn budaya barat,toh madonna sbg lesbian dalam rangka
    sebuah akting..mangkanya penonton memberikan applause..
    mungkin orang barat menilai pola pikir kamu nggak lebih dari
    pola pikir alien yg nggak perlu ditanggepin… nggak bisa
    membedakan antara nyata dng bo-ongan…

    jika terlalu sering dibohongi, nantinya malah susah membedakan mana yg bohong dan mana yg benar donk?? πŸ˜‰

    perlu diketahui..menjadi seorang liberal nggak bikin hati
    saya menjadi gersang…

    lho, apa tidak terbalik? biasanya orang liberal ‘menuduh’ orang2 yg pro RUU APP = orang yg gersang πŸ˜‰

    malah sebaliknya.. dunia serasa menjadi lebih luas..nggak
    hanya seputar Indonesia saja… allah menciptakan bumi ini
    penuh dgn keaneka ragaman..mungkin mau melihat cara ummatnya
    dalam menjaga keharmonisan tanpa ada rasa prejudice one another…
    dan ternyata memiliki agama membuat umatnya menjadi sombong dan angkuh selangit..
    ..

    ah…mbak Rahma bisa saja membuat statement seperti ini… hehehe…

    emangnya orang barat yang nggak memiliki agama atau science / seni
    sbagai tuhannya merasa batinnya gersang..jangan sok tau..
    sebaliknya,mereka hidup tenang tanpa ditakuti hari pembalasan atau neraka..

    sabar mbak…sabar… πŸ™‚ silakan baca dulu artikel ini, tapi jangan emosi dulu ya??

    Komentar oleh rahma — Maret 18, 2006 @ 5:01 pm | Balas

  3. mau minta pencerahan tapi dispam?? aneh..

    dispam? maksudnya bagaimana mbak Rahma?

    Komentar oleh rahma — Maret 23, 2006 @ 1:09 am | Balas

  4. ngasih jawaban yg pertanyaan balik diatas ada diblog gue ..mau pencerahan kan katanya

    insya ALLOH jika ada waktu saya berkunjung ke blog mbak Rahma..
    sedang kekurangan bandwidth untuk selancar ke tempat2 lain…
    terima kasih:)

    Komentar oleh rahma — Maret 23, 2006 @ 1:59 am | Balas

  5. Sayangnya Indonesia bukanlah negara yang berdasarkan pada Islam, artinya opini dan argumen anda tidak bisa diberlakukan secara umum di Indonesia (hanya bisa diberlakukan untuk para pemeluk agama Islam saja). (Sayangnya) pemeluk Islam di Indonesia tidak semuanya punya pendapat yang sama dan anda mengelompokkan mereka sebagai penganut paham liberal. Kata liberal di sini pun oleh anda telah diartikan dan diinterpretasikan secara sangat negatif, dimana menurut saya tidak sepenuhnya benar.

    baik…jika begitu, silakan mas Agus definisikan kata liberal agar diinterpretasikan secara positif πŸ™‚ silakan posting lagi di sini ya? πŸ™‚

    Masalah yang anda definisikan sebagai pornografi, pornoaksi, kebebasan berbusana dsb. adalah sesuatu yang sudah lama ada di bumi Indonesia. Islam datang sebagai agama baru setelah agama-agama lain dan kepercayaaan lokal lebih dulu ada. Ada nilai yang bisa diubah dengan kehadiran Islam sebagai agama baru penduduk Nusantara, tetapi ajaran-ajaran dan adat istiadat lama pun tetap dibiarkan hidup berdampingan dengan Islam yang akhirnya menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Nusantara. Keberhasilan Islam menjadi agama mayoritas penduduk Nusantara dan tetap dibiarkannya nilai-nilai lama hidup berdampingan adalah suatu prestasi yang sangat besar dari para ulama masa itu, dan tentunya kita perlu belajar banyak dari mereka ttg keberhasilan dakwah dan akulturasi ini.

    oke…setuju..:)

    Sayangnya di jaman sekarang sebagian pemeluk Islam di Indonesia seperti berubah menjadi orang yang sangat sangar, yang seringkali dengan ringan kata mengeluarkan kata-kata yang menghina atau menghujat pemeluk agama lain atau sesama pemeluk Islam yang berbeda paham. Golongan ini sering menganggap bahwa merekalah yang paling benar di muka bumi ini, padahal kebenaran mutlak hanyalah di tangan Allah.

    saya setuju…mestinya lebih toleran ya mas Agus? πŸ™‚

    Menghujat dan menghina (seperti yang anda contohkan dalam artikel anda ini) adalah sesuatu yang menurut saya kurang baik dan kurang simpatik, meskipun itu benar adanya. Saya kira kita masih bisa dan masih punya banyak perbendaharaan kata yang baik-baik untuk menunjukkan kesalahan atau kekeliruan mereka. Dan yang perlu diingat lagi, belum tentu semua pendapat kita itu benar adanya karena manusia adalah sumbernya lupa dan alpa.

    UTTSSS….INI BUKAN ARTIKEL SAYA…harap dibaca ulang dengan cermat πŸ™‚

    Tentang RUU APP, wajar saja jika banyak orang menolak jika cara mereka berbusana harus dibatasi dan diatur sedemikian rupa oleh negara apalagi jika harus mengikuti standar sebuah agama tertentu, karena sejauh ini Indonesia bukanlah negara yang berasaskan pada agama tertentu. Juga tentang wanita yang sering dijadikan kambing hitam dan penyebab terjadinya kasus perkosaan dll., padahal sumber utama atau penyebab semua itu belum tentu para wanita dan cara berbusananya.

    saya masih melihat bahwa RUU APP ini MASIH BISA DIREVISI. Mestinya, para pemrotes itu, memberikan solusi alternatif, tidak sekedar protes saja πŸ™‚ Adapun penggunaan standar Islam (jika Islam = agama tertentu yang anda maksud), saya pikir wajar-wajar saja…mayoritas penduduk Indonesia kan beragama Islam? πŸ˜‰

    Masalah penyebab….saya menilai cara berpakaian menjadi salah satu pemicu. ‘Kasarnya’, jika mengutip ucapan SBY, yang pamer udel saja dianggap pornografi (silakan baca ucapan SBY ini di koran tempo, Sabtu 25 Maret 2006)

    Sumber utama yang saya kira sudah cukup jelas adalah dibebaskannya penyebaran materi porno (siara tv, majalah, vcd dll) di mana-mana. Sebagai informasi buat anda, di Hamburg Jerman, untuk bisa membeli film porno saja kita hanya bisa mendapatkannya di sex shop yang bagian depannya ditutup tirai hitam. Tidak di sembarang tempat kita bisa menemukan sex shop, dia hanya diijinkan di wilayah2 tertentu saja. Demikian juga dengan acara TV, acara2 yang benar-benar mengeksploitasi sex baru bisa disiarkan setelah pukul 24:00.

    materi porno juga salah satu sumber utama. Saya setuju bahwa ‘mestinya’ ada peraturan tentang materi porno ini, namun anda juga tahu bagaimana ‘kacaunya’ Indonesia toh?? πŸ˜‰ 😦

    Sedikit keluar dari masalah, saya sedikit geli dengan apa yang diberlakukan di Aceh dalam menonton konser2 musik a la barat. Tempat menonton wanita dipisahkan dari tempat menonton pria, demikian juga untuk penonton yg sudah berkeluarga. Penyanyi yg berpakaian sensual pun harus memakai jilbab. Jika memang syariat Islam sudah diterapkan di sana, kenapa tidak sekalian saja dilarang hal-hal yang memang tidak sesuai dgn Islam. Musik2 a la barat adalah sesuatu yang tidak sesuai Islam, anak saya pun saya larang untuk menonton MTV karena banyak yg tidak sesuai dgn Islam, dan saya pun konsisten tidak pernah menonton apa yang saya larang kepada anak saya.

    Anda mungkin bisa membaca sejarah, bagaimana Al Qur’an tidak langsung menyatakan khamar itu = HARAM. πŸ™‚ Jadi, mesti step by step. Anda bisa bayangkan jika terjadi shock culture pada masyarakat Aceh?? πŸ™‚

    Kasus “aturan konyol nonton musik” di Aceh mengindikasikan bahwa umat Islam tidak sepenuhnya rela meninggalkan kebiasaan a la barat. Pantas jika Islam sering dijadikan bahan tertawaan oleh pihak lain, karena aturannya kadang-kadang memang konyol.

    seperti saya tulis di atas, mungkin pemerintah menerapkan tahapan-tahapan dalam penerapan syariat Islam di Aceh πŸ™‚

    mohon maaf kalau tidak berkenan dan ada salah-salah kata.

    dimaafkan mas Agus, terutama karena itu bukan artikel saya…
    silakan dibaca kembali dengan teliti πŸ™‚

    Komentar oleh agusset — Maret 24, 2006 @ 10:16 am | Balas

  6. thanks diskusinya yg diemail..menarik juga..ntar kalo lagi sempet dibalas ..

    oke..mbak Rahma…saya tunggu emailnya lhoo…:)

    Komentar oleh rahma — Maret 27, 2006 @ 4:51 pm | Balas

  7. bagi sang pemuja liberalism kami ucapkan selamat. karena anda telah menentukan jalan hidup anda. sekali lagi selamat.

    heheh..tenang mas Kiko…
    ALLOH SWT membebaskan setiap orang untuk memilih jalan hidupnya…
    tugas kita adalah mengingatkannya..namun jika telah diingatkan masih tetap berbeda, ya…sudah, kita tidak boleh memaksanya πŸ™‚

    Komentar oleh kiko — April 14, 2006 @ 10:58 am | Balas

  8. sesusungguhnya hidup adalah pilihan.saya percaya kok pada sang liberal.beliau seorang yang cerdas. semua pilihan didasarkan atas kesadaran bahwa akan ada konsekuensi yang akan didapatnya.namaun anehnya ketika para pemuja liberalism mengatakan bahwa berbeda pendapat itu sesuatu yang wajar. namun kenyataannya ketika ada yang berpendapat bahwa telanjangnya seseorang dimuka umum itu termasuk tindakan porno, eh..justru merekalah yang dengan semangat 45 menentangnya pendapat tersebut.dimanakah ketidak munafikan mereka.aneh…..belum lagi ketika fatwa MUI tetntang Ahmadiyah. kalau para pemuja memang menjunjung tinggi perbedaan pendapat biarlah urusan itu menjadi urusan antara MUI dan ahmadiyah. namun apa yang dilakukan oleh pemuja liberalism? mereka justru menunjukka ketidak konsistenannya terhadap apa yang mereka agungkan. mereka malah mengatakan MUI itu tolol….aneh…

    hehehe…itu sih liberal munafik…hehehe..
    jika tidak sesuai dengan keinginannya, malah ribut…
    ya ya ya…memang begitulah kelompok orang2 yg terlalu mengedapankan hawa nafsu πŸ˜‰

    Komentar oleh kiko — April 14, 2006 @ 11:15 am | Balas

  9. jika emang itu jalan yang dipilih (menjadi pemuja sekaligus penganut liberalism) terserah saja. hasilnya akan kita lihat diakhirat nanti.ok?

    sip mas Kiko… πŸ™‚

    Komentar oleh kiko — April 14, 2006 @ 11:25 am | Balas

  10. Mas,
    nama anda siapa sih ?

    wah…mas Justus, kok jadi tanya nama? πŸ˜‰

    saya salut dgn anda dalam menjawab komentar komentar yg di berikan yg saya nilai bisa bikin sedikit emosi.

    jika ada yg emosi, tidak boleh ditanggapi dg emosi lagi..tidak akan pernah selesai.
    justru, salah satu pihak mesti berkepala dingin dan berpikir tenang πŸ™‚
    dalam hal ini saya mesti berkepala dingin+berpikir tenang dalam menanggapi komentar emosional πŸ˜‰

    Kalau menurut pemikiran saya LIBERAL itu artinya kira kira kebebasan ya ?

    lebih kurang begitu… πŸ™‚

    seharusnya org org yg berpaham Liberal ini kalau konsisten dgn alirannya mereka harus CUEK, Masa bodoh, gak ambil perduli dgn segala macem artikel ya, tapi kalau saya baca komentarnya koq perasaan mereka agak memaksakan pendapatnya sendiri ya ?
    Atau barangkali menurut mereka Kebasan itu hanya milik mereka ? dan tidak dimiliki oleh orang lain ? sehingga orang lain harus ikut sependapat dgn mereka ?
    Mungkin sebaiknya definisi liberal ini harus diganti menjadi : Liberalism adalah aliran sekumpulan orang yang gemar berdebat yang selalu ingin berbeda pendapat tanpa mengindahkan sosio kultur agama dan berusaha memaksakan kehendaknya kepada seluruh masyarakat untuk berlaku bebas ?

    hmm…jika menyimak komentar anda, saya punya definisi sendiri mengenai liberalisme:
    orang-orang yang bebas mencampuri urusan orang lain dan memaksakan kehendak mereka pada orang lain πŸ™‚

    upsss…tenangkan pikiran anda (jika ada yg tersinggung) jika komentar saya dinilai emosional.. πŸ˜‰

    Komentar oleh Justus — Mei 2, 2006 @ 11:18 am | Balas

  11. He he he
    iya, soalnya saya nyampe kesini dari link link pendukung RUUAPP yg saya search, jadi saya belum tahu nama anda.
    tapi sekarang udah koq.
    Mas Fahmi kan ?

    betul sekali mas Justus πŸ™‚

    Mas, bangsa kita ini sepertinya perlu banyak lagi orang orang semacam Mas Adian Husaini yah ?
    supaya bisa mengcounter argumen argumen dari org org yg ingin merusak akidah islam dgn alasan kebebasan berpikir dan moderat.

    nampaknya demikian mas Justus..tepat sekali… πŸ™‚

    Lanjutkan perjuangan mas.

    insya ALLOH…minta bantuan doanya… πŸ™‚

    Wassalam

    wa’alaykumsalam wr wb

    Komentar oleh Justus — Mei 4, 2006 @ 6:53 am | Balas

  12. wah, akidah islam lagi yg diperjuangkan.. ini memperjuangkan moral bangsa indonesia [yg banyak agama] apa cuman islam doang?? huhu.. ketawan deh belangnya..

    mas NNFYTK, adalah hal yg wajar jika kaum muslim memperjuangkan hak mereka…apalagi sebagai kaum mayoritas.. di luar negeri, katakanlah Inggris, kaum Katolik juga seringkali memperjuangkan hak mereka. Masalah kaum minoritas kena imbas, yaaa lumrah…tinggal dicari solusinya..

    Hal yg sama, MESTINYA, berlaku juga di Indonesia…sayangnya, kaum minoritas kadang sudah apriori terlebih dahulu..jadinya sulit duduk bersama untuk mencari solusi 😦

    dan lagi, RUUAPP revisi, setelah saya baca setengah isi dari pasal ke pasal [kira2 sampe pasal 26] isinya ttg pantat inul doang.. huhu

    ah..masa sih?? apa anda yakin anda tidak salah baca RUU APP?? hehe… πŸ˜‰

    mo nanya, awal RUU ini keluar gara2 romir datengin dpr laporin inul ya? itu romir yg jelas2 zinah, kok ga diapa2in ya?? sampe ke gep di apartmen semanggi tuh.. crot!

    wah..jangan suudzon dulu mas NNFYTK… bisa jadi bung Romir itu sudah NIKAH SIRRI…masalah dia ‘berbohong’ dan berkelit dg pernikahannya, itu urusan lain…

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 5, 2006 @ 8:04 pm | Balas

  13. saya tinggal di qatar(negara dekat saudi).
    bedaaaaaa jauh dgn di ind.
    di sini yg dipake syariat islam. mobil mewah diparkir dimana2… aman, toko emas bergelantungan berkilo2 gram…tidak perlu pake pintu besi (=krn tdk ada yg nyuri). pokoknya, dr obrolan teman2 saya (para istri2 org ind jg) yg tinggal disini, semua uda ngga merasa aman lg tinggal di ind. takut kriminalitas dan pornografi di ind.
    syariat islam tdk pernah salah. disini setiap fasilitas pasti dipisah antara laki dan perempuan. no problem. sayang sekali yg belum pernah merasakan indahnya syariat islam, sudah memvonis yg tidak2. astaghfirullah..

    nah…ini kesaksian dari mbak Elly…
    bagaimana?? ada sanggahan?? πŸ™‚

    Komentar oleh elly — Juni 27, 2006 @ 6:08 pm | Balas

  14. Sudahlah, kalangan SEPILIS tidak usah ditanggapi. Mereka bukanlah entitas yg super penting di alam semesta.

    betul sekali mbak(?) Adrizia πŸ™‚

    Kata Dr. Aidh al qarni, pengarang buku Laa Tahzan, kalangan SEPILIS itu munafik. Haruskah kita mendengarkan kalangan SEPILIS?

    tidak perlu mendengarkan ucapan mereka…buang2 waktu πŸ™‚

    Komentar oleh adrizia — Juli 24, 2006 @ 9:43 am | Balas

  15. http://www.russianbare.com

    Komentar oleh t — November 9, 2006 @ 8:01 pm | Balas

  16. nah, skali lagi,,,
    ada sdikit pembiasan antara liberalisme dan pluralisme yg signifikan disinih,,,
    blajar dulu ttg liberalisme baru ngomong!!!
    mas justus, scara pribadi saya gak kenal sama anda tapi dari gaya bahasanyah,, ehmm siapa nih??
    =P

    adrizia,, sepilis??
    huahahahahaha,,, gini nih,,
    patut digarisbawahi,,
    liberalisasi dan agama seringkali berbenturan,,
    patut disadari,, memang liberalisme menginginkan kebebasan berpikir dan berbuat yg sebebasbebasnya, (kita berpikir maka kita ada) dan patut dicatat pula, demokrasi sejati lahir hanya dan hanya jika didasari mental yg sadar akan hakhak kebebasannya, in other words, liberalism makes a good democracy,,
    “demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandanganpandangan kaum minoritas!” (jodieisme)
    memang secara umum liberalisme menganggap agama adalah salahsatu bentuk pengekangan terhadap potensi akal manusia, namun tidak dapat disangkal bahwa salahsatu toko nasional kita, tan malaka, dg gagah beraninya menyatakan bahwa islam adalah satusatunyah agama yg logis, rasional, dan dialektis (nahlo, kok bisa??)
    ijtihad?? bukankah ijtihad dapat lahir dari sebuah dialektika ttg sesuatu??
    memang terlalu sensitif dan nisbi bila bicara ttg liberalisme, seolaholah liberalisme adalah hantu yg ditakuti, namun bukankah manusia bukanlah sebuah makhluk yg tanpa batas??
    dan liberalisme yg lahir dari alam pikiran manusia yg terkekang dan menginginkan kebebasan pasti memilik keterbatasannya sendiri, disadari ato tidak, memang inilah kenyataannya!!

    liberalisme, lahir pada abad 19, diiringi dg lahirnya ismeisme baru di eropa yg serentak menjadi agama baru disana! kenapa hal ini bisa terjadi, well, setau saya, islam masih belum menjadi jamur dimusin hujan di eropakala itu,,
    seiring dg tumbuh suburnya ideologiideologi komunisme, marxisme-leninisme, humanisme, sosialisme, dan ismeisme taikucing lainnya, liberalisme mencari bentuk terbaiknya sendiri, tanpa embelembel agama,,
    nah, disini, di indonesia raya ini, di tanah air yg (katanya) dicintai oleh rakyat dan bangsanya ini, liberalisme masuk sejak budi oetomo berdiri,, kebebasan berpikir yg turut membebaskan indonesia dari penjajahan! setidaknya kita masih bisa berterimakasih pada liberalisliberalis muda kala itu!!
    dan liberalisme yg masih muda itu tumbuh di era reformasi tanpa bisa dihentikan kecuali oleh liberalisme itu sendiri, yg dalam hal ini akan terjadi seperti neokapitalisme saat ini, sesuatu yg tumbuh dab terus tumbuh akan dan pasti akan menggali liang kuburnya sendiri, hanya masalah waktu!

    yg saya tangkap disinih, liberalisliberalis kita saat ini seolaholah telah melupakan tuhannya, padahal mereka sedang membela tuhannya matimatian, liberalisme!!
    dan sekali lagi, kita juga ikut mengagungagungkan tuhan kita, masingmasing, karena kita, ya kita, kita semua telah sukses dan gemilang membunuh tuhan dan bersukacita atasnya!!

    any denial? think about this,,
    fundamentalisme justru hanya akan memenjarakan tuhan!
    saya gak tau bagaimana orangorang yg berkuasa di peradilan syariah itu menafsirkan kearifan terkenal qur’an,”tak ada paksaan dalam agama!” das!! sekali lagi liberalisme diatas angin!
    bahkan seringkali, saya melihat tuhan di eksistensialisme dan atheisme, saya melihat banyak orang yg mengaku bertuhan di indonesia tapi tidak melihat tuhan disana!!
    baiklah, pada titik ini, saya ungkapkan sejujurnya, saya pernha mengalami perawatan di salahsatu rumahsakitjiwa di bandung, ya! saya gila tapi tidak idiot!
    saya gila, tapi saya tau bahwa saya gila!
    saya gila, tapi saya tau menjadi gila ada banyak untungnya!
    saya jadi tau bahwa belakangan ini, fatwafatwa haram mui ttg ajaran ahmadiyah, kasus lia eden (lia “edan”) sudah sampai pada tahap kegamangan agama yg mengingatkan saya pada suasana sehabis perang agama di eropa dibeberapa dasawarsa abad 16,, agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenangwenangan, dan penyempitan pikiran! apa yang terjadi belakangan ini menampakkan wajah agama yang ahistoris dan kemunduran ruh beragama itu sendiri, nama tuhan sering “dipinjam” untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu, celakanya tuhan bahkan dipakai untuk menyerang pribadi atau golongan lain yang dianggap tidak bertuhan, liberalisme salahsatunya, sehingga tuhan kemudian menjelma menjadi banyak dengan sosok yang berdarahdarah menyeramkan dan kemudian kehilangan keesaannya pada titik ini, kehilangan kepengasihannya dan seluruh kebaikannya yang maha meliputi, tuhan telah dipenjarakan dan dikerdilkan! fundamentalisme justru hanya akan memenjarakan tuhan!
    ada yg masih ingat isi dari piagam madinah pasal 25??
    lupa?
    baiklah, pertama, kaum yahudi dari suku ‘awf adalah satu bangsa-negara (ummat) dengan warga yang beriman,, kedua, kaum yahudi bebas memeluk agama mereka, sebagaimana kaum muslimin bebas memeluk agama mereka,, ketiga, kebebasan ini berlaku juga terhadap pengikutpengikut/sekutusekutu mereka, dan diri mereka sendiri,, dengan ini nyatalah, bahwa aksi kekerasan yang dipraktekkan oleh kelompokkelompok tertentu di tanah air adalah bentuk penyelewengan nilai agama,, patut diingat bahwa agama akan menjadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan kemanusiaan tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya! itu penggunaan agama yang salah!!

    dan sebagai manusia yg gila, saya bersyukur, bahwa apa yg terlihat di panggung politik indonesia, tidak sepenuhnya kebijakankebijakan yg timbul, termasuk ruu app, adalah murni berdasarkan aspirasi rakyatnya, karena masih banyak agendaagenda pribadi yg terselip disana! bila tidak, kenapa terjadi kontroversi??

    dan seyogyanya, sebagai muslim, kenapa tidak kita biarkan saja aktoraktor itu bermain hingga panggung sandiwara bertajuk “perpolitikan indonesia” menutup tirainya!
    toh, kita bukanlah pemegang kebijakan yg terkait secara langsung dan formal!

    holy regards,

    jodieisme
    nasakom.blogs.friendster.com
    jexixka@yahoo.co.uk

    Komentar oleh jodieisme — Januari 28, 2008 @ 4:39 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: