Blog Tausiyah275

April 28, 2006

Membandingkan Kok Dg Yg Lebih Jelek?

Filed under: HOT NEWS,Tidak Jelas Juntrungannya — Tausiyah 275 @ 3:21 pm

Kontroversi terbitnya Playboy hingga kini masih terus berlangsung. Kubu yang Pro maupun yang Kontra terus saling menyerang dengan argumen dan statemen masing-masing. Pemerintah Indonesia sendiri tidak banyak berbuat banyak untuk mengatasi kemelut ini. Duh…Gusti, punya pemerintah kok tidak jelas tindakannya. 😦

Terlepas dari itu, beberapa waktu lalu, aku sempat melihat wawancara yang dilakukan di ANTv, terhadap Andhara Early, perempuan yang menjadi cover majalah Playboy edisi perdana ini, termasuk di dalamnya menjadi model pemotretan dari majalah yang sama. Berbagai pertanyaan dan pendapat dilontarkan kepada ibu muda ini. Meski senyum senantiasa menghiasi bibirnya, namun aku melihat jawaban yang diberikan model PB ini tidak smart, bertele-tele, dan klise.

Dari sekian jawaban (membosankan) yang diberikan Andhara Early, ada jawaban (klise) yang selalu dijadikan ‘senjata’. “Lho, penampilan saya di majalah PB kan masih sopan. Coba anda bandingkan dengan tabloid-tabloid atau majalah-majalah lain, mereka lebih erotis, pose lebih seronok, bla bla bla…” Wah, aku terperanjat mendengar jawaban seperti ini.

MENGAPA ANDHARA EARLY MEMBANDINGKAN DIRINYA DENGAN HAL YG LEBIH JELEK? Apakah dg cara membandingkan dg hal yg lebih jelek (berpose seronok), lantas dia merasa mendapat ‘ijin’ untuk berpose yang (sama-sama) seronok? Mengapa dia tidak membandingkan dirinya dengan majalah lain, yang menuntut modelnya untuk berpenampilan sopan dan mempunyai prestasi dari sekedar buka-buka baju?

Tapi, hmmm…mari kita tinjau sejenak perilaku (umum) anak SD dan mahasiswa.

Seorang mahasiswa, akan selalu berkompetisi untuk hal-hal yang lebih baik. Dia akan menggunakan parameter-parameter yang mempunyai nilai lebih. Sebagai contoh, dia akan terpacu belajar lebih giat untuk meningkatkan nilai IP, dia akan terpacu untuk bergaul dalam masyarakat untuk belajar bersosialisasi lebih luas, dia akan belajar kepemimpinan untuk memacu dirinya menjadi pemimpin di masyarakat. Apabila dia gagal mencapai tujuannya, misalnya nilai ujiannya jelek, dia akan membandingkan diri dg yang nilainya lebih baik, lalu dia akan ‘menyalahkan diri sendiri’ dan selanjutnya akan memacu dirinya untuk berusaha lebih baik lagi di waktu berikutnya.

Kini kita lihat seorang anak SD. Sedikit banyak, mungkin karakter anak SD akan mirip dg mahasiswa. Dia akan bersaing, berkompetisi untuk mencapai yang lebih jelek. Namun, perbedaannya…jika anak SD mendapat nilai jelek, maka dia akan beralasan,“Ah, Ma…si A kan nilainya lebih jelek dari aku…!!”

Jadi, figur Early bisa anda nilai sendiri… πŸ˜‰

Iklan

18 Komentar »

  1. Bukan kah itu yang ingin pemirsa dengar?
    Yang lebih jelek aja gpp, tapi karena dia tampil di pb
    makanya jadi sorotan.

    hahahah…ya ya ya…rasa malu emang sudah kian menghilang..
    padahal malu = sebagian dari iman… πŸ™‚

    Komentar oleh andriansah — April 29, 2006 @ 12:37 am | Balas

  2. betul juga loe! setuju banget gw. Dasar aneh, kok ngebandingin diri sendiri ama yg lebih jelek. Diri sendiri pula yang dibandingin =))

    heheh…betul sekali mas iAng πŸ™‚
    apa ndak malu pas nyombongin dirinya sama jeleknya dengan orang lain?? xixixix.. πŸ™‚

    Komentar oleh iang — April 29, 2006 @ 2:34 am | Balas

  3. bukan masalah bandingin dengan yg lebih baik ato buruk, tapi lebih ke arah “kenapa saya?? kok majalah2 yg laen didiemin aja, padahal lebih seronok dari yg saya lakuin..”

    yaa…mestinya memang semua diberantas…
    mungkin citra PB lebih kental dibandingkan citra majalah2 lain seperti FHM dll…
    masalah citra/image, kadang mengalahkan akal sehat dan penilaian yang obyektif.. 😦

    nah, coba pikir lagi dimana keadilannya? emang dasar karena nama PB aja, makanya digenjreng.. kurang kali ya “amplop” buat para penolak itu?

    ah..jangan menuduh atau menyinggung masalah amplop jika tidak ada bukti.. πŸ™‚

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — April 29, 2006 @ 5:08 pm | Balas

  4. Perempuan Menggugat

    Seberapa banyak sih perempuan yang tidak merasa secure dengan adanya RUU APP bila dibandingkan dgn perempuan Indonesia seluruhnya ? Jelas segelintir wanita tsb tidak merasa secure, wong mereka terbiasa dengan mempertontonkan sensualitas mereka di ranah publik. Bahkan periuk nasinya dari hasil mempertontonkan tubuhnya tsb.

    mbak Erna, maaf…komentarnya saya setip…saya pindahkan ke artikel baru di sini.

    Komentar oleh Erna — April 29, 2006 @ 11:08 pm | Balas

  5. kata siapa citra PB lebih kental dari citra majalah laen yg sejenis?! emang yg nentang aja yg kuper dan taunya cuman PB = porno karena ada telanjangnya.. kalo masalah image, mereka semua ga beda kok..

    wah…lagi-lagi komentar anda menunjukkan kualitas diri anda yang sebenarnya.. πŸ˜€
    silakan anda cek di http://en.wikipedia.org/wiki/Playboy.
    masalah image tidak beda, yaa…itu kan menurut anda..orang lain boleh beda donk?? πŸ™‚

    dan bukannya menuduh tanpa bukti, tapi hal-hal seperti yg gw sebut adalah udah rahasia umum.. jgn naif.

    saya menghindari suudzon…
    masalah rahasia umum dan jangan naif…saya tidak mau debat kusir.. πŸ™‚

    buat mba erna, itu masalah dia.. dan jangan jadiin masalah bersama. suka2 dia itu tubuh orang yg mo di ekspos, kalo mbak ga mau diekspos [mungkin karena kurang menarik] ya urusi dewek..

    haiyah..jika begitu, masalah eksploitasi tubuh perempuan juga jangan anda2 (pendukung) jadikan masalah bersama..silakan urus masing2 juga.. πŸ™‚

    wah..lagi2 kualitas diri anda tercermin dari komentar anda… πŸ™‚

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — April 30, 2006 @ 10:26 am | Balas

  6. suka2 dia itu tubuh orang yg mo di ekspos

    jangan lupa, suka2 orang juga gak suka ngeliat orang mengexpose tubuh. mata-mata dia kok..

    betul mas iang… πŸ™‚

    tapi tempat umum(*) kan milik bersama. jika anda mengexpose tubuh anda dalam sebuah tempat umum, perhatikan juga orang lain yang menggunakan tempat yang sama.

    (*) saya asumsikan tubuh diexpose di tempat umum. kalo di tempat pribadi, seperti kamar mandi, beda lagi urusannya. itu lingkungan privasi masing2 orang.

    tepat…setuju…to the point πŸ™‚

    Komentar oleh iang — April 30, 2006 @ 11:14 am | Balas

  7. komen lo tentang early disini… sama di kampung…

    duh!

    *tepok jidat*

    ah…coba mas Ardho perhatikan…komentar saya tentang Early di kampung, setali tiga uang… jika tidak salah, komentar saya dulu mengenai penampilan Early yg ‘sopan’…tapi setelah dia menjadi model PB…ehmm…tentu tidak sama lagi donk.. πŸ™‚

    Komentar oleh aRdho — April 30, 2006 @ 11:40 pm | Balas

  8. kalo ga suka jangan diliat?! define tempat umum..
    define yg dimaksud dengan pakaian terbuka.. [keliatan dengkul, ato ketek?! ato keliatan belahan dada?!]

    hmmm..terlalu banyak define…tidak akan selesai… πŸ˜‰

    dan musi tau, itu link wikipedia yg oom tulis itu versi america punya. dah dijelasin kalo playboy indo adalah berbeda dengan content playboy international [dan sudah dibuktikan].

    ah…ini kan baru edisi2 awal…
    di negara2 lain bugil lho…
    lagipula…versi Amerika, versi Eropa…sama saja…
    kemasan boleh beda…tapi isi (nyaris) serupa πŸ˜‰

    tolong jangan jadiin indonesia mengharamkan bhinneka tunggal ika.

    lho..yang mengharamkan bhinneka tunggal ika itu siapa mas NNFYTK??

    andai semua penganut islam menjalankan syariat di kehidupan sendiri, pasti ga bakalan jadi kae begini ni negeri..

    andai semua orang tidak meributkan definisi dan aturan yang hendak diterapkan demi ketertiban hidup, saya juga yakin tidak akan seperti begini…

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 1, 2006 @ 9:45 am | Balas

  9. TANYAKAN KENAPA ?

    wah…mas Roy ini korban iklan ya?? πŸ™‚

    Komentar oleh Mas ROY — Mei 4, 2006 @ 2:03 am | Balas

  10. bagaimanapun, PB itu salah satu (dr sekian banyak)simbol kapitalis yg kehadirannya selalu dilindungi oleh alasan2 ekonomi…

    betul…kapitalisme…
    nah, untuk mendukung kapitalisme ini…mesti ada liberalisasi… πŸ˜‰

    dasar pemerintah geblek, warganegaranya jg gampang bgt panasan…

    tidak perlu menggeblek2an pemerintah..
    apakah anda yakin anda bisa mengendalikan segala sesuatunya, jika anda di posisi pemerintah??

    Komentar oleh yeah — Mei 4, 2006 @ 11:04 am | Balas

  11. definisi international itu sebenernya udah ada.. tapi, knapa kita selalu mencari definisi sendiri?! [gw ga bertanya seperti para politikus partai politik yang gila teori untuk mencari definisi yg akhirnya cuman ahli teori tanpa tindakan nyata].

    ini definisi internasional yg mana ya mas NNFYTK?? saya ra mudheng…

    btw, itu ada komentar Tetua NU di Gatra, udah baca? ttg syariah tuh..

    insya ALLOH saya akan beli Gatra tsb, yg baru…kan?

    btw, sepinter2nya pemerintah, kalo rakyatnya ga mau pinter [goblog terus] ya mau gimana lagi?! makanya, AYOOO SEKOLAAAHHH!!! [jgn tawuran dan anarkis mulu]

    jika sebaliknya bagaimana?
    sebagian rakyatnya yg ga pinter malah menghambat yg ingin pinter…

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 5, 2006 @ 7:56 pm | Balas

  12. ttg sekolah, kalo sebaliknya yg terjadi, berarti itu mayoritas adalah bodoh! [karena orang pinter yg mayoritas pasti bisa bikin yg bodoh jadi pinter, inget dimana lu bergaul, lu bakalan jadi seperti orang2 pergaulan lo] kalo yg bodoh ga bisa dibilangin sama yg pinter, artinya gak tau diri / ga tau lagi berdiri dimana!

    ttg gatra, ini linknya mas..

    http://www.gatra.com/artikel.php?id=94174

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 6, 2006 @ 7:17 pm | Balas

  13. ttg sekolah, kalo sebaliknya yg terjadi, berarti itu mayoritas adalah bodoh! [karena orang pinter yg mayoritas pasti bisa bikin yg bodoh jadi pinter, inget dimana lu bergaul, lu bakalan jadi seperti orang2 pergaulan lo] kalo yg bodoh ga bisa dibilangin sama yg pinter, artinya gak tau diri / ga tau lagi berdiri dimana!

    ttg gatra, ini linknya mas..

    http://www.gatra.com/artikel.php?id=94174

    hahhah…thx sudah membuat saya tertawa, mas NNFYTK.
    thx juga buat link-nya… πŸ™‚

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 6, 2006 @ 7:18 pm | Balas

  14. Koq ngotot amat belain Early & PB.

    Pasti anda pelanggan PB dan penikmat pornogarfi yah bung NNFYTK ? Atau ada pengusaha majalah syur yah…

    Maaf jadi curiga aja… mudah-mudahan bukan.

    mas Dodol…jangan (mudah) suudzon dg orang lain πŸ™‚
    tiap orang berhak membela apa yg dia percaya…
    yg penting, diskusi dilakukan dg sehat..tidak saling cemooh dan mengina πŸ™‚

    Komentar oleh Dodol — Mei 15, 2006 @ 2:09 am | Balas

  15. maaf ya mbak /pak tolong jangan berpikir terlalu sempit mengenai permasalahan RUU APP tersebut sebab menurut saya boleh2 aja, tapi bukan tubuh perempuan tersebut yang menjadi porno atau orang2 yang menjual tubuhnya demi sesuap nasi memperpanjang hidup karena permasalahan hidup tergusur oleh kapitalisme. tapi pikiran kita melalui otak kita yang memandang sesuatu tubuh perempuan tersebut porno atau jorok.

    jika kita memandang dengan cara berbeda akan tubuh seseorang maka ceritanya akan lain, terlebih jika kita memandang tubuh kita sebagai anugrah Sang ILLahI dengan menghargi dan menghormati tubuh perumpuan manapun maka tidak akan sesuatu itu dianggap porno. dan RUU APP bukan suatu UU yang menjadi patokan sebagai suatu moralitas bangsa yang harus di bina dg RUU tersebut karena suatu moralitas seseorang tidak bisa kita kreteria kan bagaimana moralitas seseorang dengan orang lain apakah seseorang itu bermoral baik, jika anda bisa mengklasifikasikan suatu moralitas sesorang dan menilai moralitas seseorang baik atau buruk maka menurut saya anda sama dengan TUHUN YANG MAHA ESA, anda sama saja menghakimi seseorang bahwa orang itu bermoral buruk….

    Komentar oleh awan — September 15, 2006 @ 2:31 am | Balas

  16. maaf ya mbak /pak tolong jangan berpikir terlalu sempit mengenai permasalahan RUU APP tersebut sebab menurut saya boleh2 aja, tapi bukan tubuh perempuan tersebut yang menjadi porno atau orang2 yang menjual tubuhnya demi sesuap nasi memperpanjang hidup karena permasalahan hidup tergusur oleh kapitalisme. tapi pikiran kita melalui otak kita yang memandang sesuatu tubuh perempuan tersebut porno atau jorok.

    jika kita memandang dengan cara berbeda akan tubuh seseorang maka ceritanya akan lain, terlebih jika kita memandang tubuh kita sebagai anugrah Sang ILLahI dengan menghargi dan menghormati tubuh perumpuan manapun maka tidak akan sesuatu itu dianggap porno. dan RUU APP bukan suatu UU yang menjadi patokan sebagai suatu moralitas bangsa yang harus di bina dg RUU tersebut karena suatu moralitas seseorang tidak bisa kita kreteria kan bagaimana moralitas seseorang dengan orang lain apakah seseorang itu bermoral baik, jika anda bisa mengklasifikasikan suatu moralitas sesorang dan menilai moralitas seseorang baik atau buruk maka menurut saya anda sama dengan TUHUN YANG MAHA ESA, anda sama saja menghakimi seseorang bahwa orang itu bermoral buruk….

    Komentar oleh awan — September 15, 2006 @ 2:38 am | Balas

  17. Weh..weh..
    Gua jadi suka gak ngudheng dengan komentar macam:
    “Tubuh, tubuh sendiri koq”, atau
    “Tergantung pribadi masing-masing”
    Pertanyaannya, prinsip suka-suka gue ini ada batasan apa tidak kalao ada batasan gak beda secara esensial dong dengan yang tertuduh suka “melarang ini, melarang itu”.
    Kalau mau konsisten menganut uu-suka-suka-gue berarti boleh dong gua mempertontonkan “barang” gue ke ce-ce ti t4 umum? Biar lebih adil gue mo lakuin itu di samping stand majalah yang jual PB.
    Saya tahu ini analogi bodoh, tapi saya kira setaraflah dengan argumen-argumen asbun diatas…

    Komentar oleh Latahan — Oktober 28, 2006 @ 11:57 am | Balas

  18. sebetulnya saya ingin menanggapi artikel ini, namum menurut saya hal terpenting yang akan menjadi jawabannya adalah Piagam Jakarta yang tidak dicantumkan dalam UUD 1945. jadi persoalan tersebut akan terjawab bila mulai dari aturan dasar yang dikuatkan.
    sebab mengapa “Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
    Piagam jakarta yang pada tanggal 22 Juni 1945 dari panitia kecil bentukan BPUPKI menghasilkan salah satu naskah pembukaan UUD 1945 alinea keempatnya tersebut sebagai emrionya dengan tanpa mengenyampinkan pembangunan interpersonal warga negara.
    Keinginan tersebut telah muncul dari tokoh-tokoh ulama pasca kemerdekaan untuk menjadikan aturan syari’at dalam Piagam Jakarta kedalam UUD 1945 tersebut sebab mereka memang berkorban besar untuk terbentuknya negara ini.
    Dalam teori Konstitusi yang popular dikemukakan Herman Heller bahwa: “Konstitusi mencerminkan kehidupan politik dalam masyarakat sebagai suatu kenyataan dan belum dalam pengertian hukum, kemudian kehidupan politik dalam masyarakat itu (”die politische verfassung als gesellschaft licke wirklich kit”) terdapatlah unsur-unsur hukumnya melalui abstraksi barulah menjadi satuan kaedah hukum (”ein rechtsverfassung”). Kemudian kaidah hukum tersebut disusun dalam suatu naskah atau tertulis seperti UUD 1945″.
    Apakah Partai-partai politik yang menjadikan Islam dan Sya’riat dalam Aturan Dasar Partai sekarang bisa memantapkan syarat dan peluang tersebut sebagai sarana untuk menata warga negara kearah peradaban yang lebih baik terlepas oleh korupsi dan hal buruk lainnya yang sudah jelas memiliki pengaruh kemunduran bangsa ini?
    Bila kita telaah dalam parlemen pemeluk Islam merupakan kekuatan mayoritas (dalam kuantitas Identitas Ke WN-annya besar dan merupakan cara sederhana untuk dapat menunjukan konsistensi humanisme dan syarat untuk tetap berada di Indonesia menurut pasal 29 UUD 1945).
    Sudah sangat wajar bila kalimat tersebut termaktub dengan asumsi dasar bahwa mayoritas perwakilan parlemen adalah Muslim. tidak ada pihak yang benar maupun bukan Muslim akan dirugikan, sebab konsistentesi aturan tersebut sudah jelas bagi mereka yang Muslim. Tendensi nilai normatifnya-pun berupa Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi ”’pemeluk-pemeluknya”’. Jadi tidak ada konsekuensi bagi mereka yang bukan pemeluk untuk menjalankan sya’riat.

    Semoga kita tetap konsisten sebagi Mahkluk-Nya.

    Salam Sejahtera,

    Adi Wijaya

    Komentar oleh Adi Wijaya — Juni 22, 2007 @ 6:17 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: