Blog Tausiyah275

April 30, 2006

Perempuan Menggugat

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 5:25 am

*semula ini komentar di sini, tapi aku ganti saja menjadi sebuah artikel baru…terima kasih untuk mbak Erna, atas komentarnya 🙂 *

Seberapa banyak sih perempuan yang tidak merasa secure dengan adanya RUU APP bila dibandingkan dgn perempuan Indonesia seluruhnya ? Jelas segelintir wanita tsb tidak merasa secure, wong mereka terbiasa dengan mempertontonkan sensualitas mereka di ranah publik. Bahkan periuk nasinya dari hasil mempertontonkan tubuhnya tsb.

Justru mereka lah yang merendahkan derajat perempuan Indonesia. Tapi mereka dgn lantangnya menyuarakan seakan-akan mewakili perempuan Indonesia seluruhnya.

Selain itu mereka juga beralasan RUU APP sangat diskriminatif thd perempuan, krn perempuan dianggap sbg objek dan pelaku pornografi.

Coba lihat lagi RUU APP, dalam pasal-pasal TIDAK SAMA SEKALI mengatakan perempuan/wanita.
Kecuali di penjelasan, dijelaskan bagian-bagian sensualitas. Sekarang perempuan dan laki-laki memang secara fisik berbeda khan ? Tidak mungkin kita berargumen dgn persamaan gender utk masalah ini. Bentuk tubuh perempuan dan laki-laki jelas berbeda, begitu pula bagian-bagian yang membangkitkan birahi juga berbeda.

Bila mereka mempertentangkannya, harusnya mereka menggugat TUHAN !
Kenapa perempuan diberikan bentuk tubuh seperti ini ?
Kenapa perempuan mempunyai banyak sekali bagian tubuh yang indah dan sensual yang menarik hasrat kaum laki-laki ?
Kenapa diciptakan gender yang berbeda ? Kenapa tidak hanya satu gender saja, sehingga kaum perempuan tidak perlu capek-capek memperjuangkan persamaan gender dalam segala hal, termasuk bentuk fisik ?
Kenapa perempuan diciptakan ?
Kenapa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam) ?

Perempuan dan laki-laki dikaruniai hasrat/birahi dalam memandang lawan jenisnya. Dan perempuan dikaruniai lebih banyak bagian tubuh yang indah yang menarik bagi kaum laki-laki. Saya setuju bahwa tubuh perempuan itu mengandung nilai seni dan sensualitas yang tinggi bila di pandang oleh kaum laki-laki yang normal maka hasrat kaum laki-laki itu akan terpancing.

Tapi pertanyaannya apakah itu harus dipertontonkan ke ranah publik ? Yang jelas itu men-drive hasrat birahi kaum laki-laki.
Apakah mereka berhak menjual bentuk tubuhnya untuk diperlihatkan ke kaum laki-laki hidung belang ?
Apakah kita wajib melindungi kaum perempuan yang justru merendahkan kaum perempuan itu sendiri ?

RUU APP BUKAN menyeragamkan budaya, BUKAN menyeragamkan dalam berpakaian, BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup yang tertinggal dan kurang beradab, bukan untuk menangkapnya, kenapa ? Karena mereka bukan dgn sengaja mempertontonkannya. Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka lebih beradab dalam era globalisasi ini

RUU APP ini justru utk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi krn di UU yang ada tidak jelas batasan melanggar kesusilaan.
RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan, tidak untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan)
RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan dengan dijadikan objek yang laku dijual dan dibeli oleh kaum laki-laki hidung belang.
RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi yang nantinya mereka tidak fokus dalam belajar dan membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

Janganlah kalian EGOIS karena saat ini kita dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
Janganlah kalian EGOIS karena saat ini job order untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

Lihatlah masa depan bangsa… lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu dan lugu dan mereka sedang giat belajar.
Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
Jangan hina harga diri mereka ketika mereka tahu ibunya mempertontonkan keindahan tubuhnya demi kaum lelaki.

Bila mereka terganggu, mereka tidak akan fokus belajar demi ilmu untuk masa depan mereka dan masa depan bangsa.
Mereka akan terjerumus ke fantasi mereka dengan melihat media pornografi akhirnya mereka akan terjerumus ke dalam dunia free sex.
Akhirnya perempuan juga yang akan menjadi korban: hamil. Dan berikutnya perbuatan dosa lagi yang mereka lakukan, yaitu Aborsi
Atau lahir seorang anak yang tidak diketahui Bapaknya, atau Bapaknya tidak bertanggung jawab.
Kasihan kaum perempuan bila menanggung beban seperti itu.

Apakah mereka bisa membangun negaranya ?

Tanggung jawab siapakah ini ?

Jelas tanggung jawab kita sekarang ini. Sama seperti kita memberantas Narkoba agar kita tidak hilang generasi penerus. Sama seperti kita mempertahankan Sumber Daya Alam untuk anak cucu kita kelak. Sama dengan menyelesaikan hutang negara agar anak kita tidak terbebani oleh hutang negara. Sama dengan kita melestarikan hutan saat ini demi anak cucu kita.

Iklan

25 Komentar »

  1. SETUJU !! saya suka analisis Anda, teruslah berjuang kaerna hidup ini adalah perjuangan.. !!!

    uhuk…mas Mysyam…ini analisis mbak Erna, bukan saya lho.. 🙂

    Komentar oleh mysyam — April 30, 2006 @ 5:44 am | Balas

  2. Sebagai perempuan saya setuju sekali tulisan ini. Saya justru sangat terhina ketika mereka pawai dan ada pamer payudara segala di bundaran HI !

    Dukung terus RUU yang akan memberantas habis Pornografi yang menghina kaum perempuan.

    Lihat web http://ruuappri.blogsome.com

    terima kasih mbak Rita, untuk komentar dan infonya 🙂

    Komentar oleh Rita — April 30, 2006 @ 8:31 am | Balas

  3. pak, biar gimanapun, sektor2 penghasil uang yg berdasarkan [yg menurut lo] menjual-sensualitas-tubuh, udah banyak nyumpang nyumbang duit buat negara dari pajak..

    pantas saja, selama ini kita banyak makan duit haram…akibatnya kelakuan juga tidak jauh dari yang haram2… astahgfirullah…

    terus, knapa gusar krn hal beginian? toh kl ga ada peminat, ga bakalan ada hal semacam ini..

    lah syahwat itu kan salah satu sifat dasar manusia..mana mungkin tidak ada peminat.. kecuali memang orang itu sudah ‘tidak layak’ menjadi orang 😉

    sebenarnya yg mesti diperhatikan adalah PENGATURANNYA…RULES OF THE GAMES…!! 🙂

    pak, tolong diingat, nasib dan perilaku anak cucu kita [termasuk mental] lebih ancur dikarenakan tingkah pola korupsi, pola pikir yg ga mau berusaha buat sukses, melainkan sukses lewat jalur cepet walo dosa..

    lho…pemerintah toh sudah berusaha menanggulangi korupsi…meski agak sulit karena sudah mendarah daging selama tahunan..

    untuk masalah pornografi ini, selagi masih hangat…belum terlalu banyak generasi yg tercemar…maka mesti cepat2 ditanggulangi dan dilakukan upaya preventif… 🙂

    jadi analisis kebanyakan orang selama ini ttg perusakan moral yg berasal dari pornography dan pornoaksi yang menyebabkan mental bangsa terpuruk adalah salah! mungkin pornography dan pornoaksi salah 1 aspek, tapi bukan wanita berbusana “minim” [walo menurut gw standar2 aja] yg menyebabkan hal itu. tapi penjualan dvd porno yg bisa dibeli anak kecil dengan mudah.

    yaa…sama saja… Playboy ternyata mudah didapatkan di pinggiran jalan…perempatan lampu merah. makanya saya sudah singgung di atas, pemerintah SEDANG membenahi korupsi dan pornografi.. 🙂

    tolong luasin scope analisisnya.

    mungkin nanti mbak Erna yg akan menulis… soalnya artikel ini bukan tulisan saya, hehehe.. 🙂

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — April 30, 2006 @ 10:19 am | Balas

  4. Saya mengatakan bahwa efek pornografi akan membuat fantasi untuk anak-anak dan implementasinya dalam bentuk free sex (sex di luar nikah). Apa free sex ini bukan kerusakan moral ?

    Wah kalau free sex juga dibilang kebebasan pribadi, jelas kita tidak mempunyai titik temu.

    Afek domino dari free sex:
    1. Aborsi, karena kemungkinan hamil sangat besar
    2. Perselingkuhan, karena sudah biasa gonta-ganti
    3. Anak tidak terurus, karena kasus perceraian akibat efek perselingkuhan
    4. Anak berontak dgn mengkonsumsi Narkoba
    5. Penyakit kelamin merajalela: HIV/AIDS
    6. PSK berserakan di-mana-mana, bahkan anak SMP di bandung sudah menjadi PSK

    Pornografi bukan hal yang remeh temeh, memang bukan hanya ini yang menjadikan moral bangsa itu rusak. Tapi dalam konteks ini saya membahas dari sisi pornografi yang mengakibatkan kerusakan moral bangsa. Bukan apa saja yang merusak moral bangsa.

    tepat sekali mbak Erna 🙂

    Komentar oleh Erna — April 30, 2006 @ 1:42 pm | Balas

  5. ga ngerti. emang daridulu pemerintah ga pernah coba berantas pornography?! emang dasar petugasnya aja yg mental korup! [makan tuh, mental] dan emang dasar pendidikan sex aja yg kurang diterapin di keluarga [jgn salahin tindakan free sex, itu imbasnya ke masalah pendidikan dalam keluarga sebagai kerabat terdekat]

    jadi solusi dari anda bagaimana??

    dan poin2 efek domino diatas, dalam konteks RUU APP, apa perlu?! itu udah ada di norma agama [kalo masih inget waktu belajar PMP dulu, ada yg namanya norma] nah, tugas siapa itu?! AGAMA! bukan pemerintah yg dipaksa ngeluarin UU APP. buat apa ada agama? piciknya..

    adakalanya pemerintah perlu ikut turun tangan…

    @tausyiah: itu tau syahwat adalah sifat dasar manusia.. 1 hukum pengaturan yang kae gimana yg mau dipake kalo tau bahwa manusia itu ga ada yg sama?! RUU APP?!?!

    lho…itu kan lebih baik daripada dibiarkan ‘liar’….tidak ada aturan sama sekali?? kita toh bukan hidup di hutan??

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 1, 2006 @ 9:36 am | Balas

  6. Agak susah kalau kita berbicara dengan orang liberal yang membebaskan berbagai macam budaya masuk.

    Negara PUNYA HAK PENUH untuk menjaga negara dan warga negaranya, termasuk dari budaya yang dapat merusak.

    Pornografi, Free Sex, Waria, Gay/Lesbian adalah penyakit masyarakat yang perlu diberantas. Lebih banyak merusaknya dibandingkan kita hanya berdalih ‘kebebasan’. Kebebasan seperti apa ? Kebebasan yang dapat merusak masyarakat ?

    Sudahlah… jangan berdalih dengan pendidikan sex? Itu hanya cara bagaimana melakukan free sex secara aman (tanpa hamil). Tapi intinya tidak sama sekali ditanamkan bahwa free sex itu HARAM. Dan harusnya ada juga UU yang melarang PERZINAHAN/PERSELINGKUHAN.

    Adalagi kampanye pemakaian kondom utk mencegah penyebaran HIV/AIDS? Jelas sangat aneh dan bertentangan dari maksudnya utk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Kampanye pembodohan ini sudah saatnya diakhiri, krn virus HIV bisa lolos juga. Dan malah dgn kampanye ini ABG jadi merasa aman dgn melakukan PERZINAHAN.

    Dan sudah terbukti juga lokalisasi tidak bermanfaat, PERZINAHAN tetap ada di mana-mana termasuk disekolah SMP ! Lokaliasasi hanya merupakan legalisasi negara terhadap PERZINAHAN. Sangat miris sekali negara ini justru mengambil pajak dari bisnis prostitusi !

    Saya hanya mau menegaskan apa kata pemilik blog ini:
    “Sesuatu yang telah diatur saja masih banyak pelanggaran, apalagi tidak diatur !”

    Komentar oleh Erna — Mei 3, 2006 @ 4:59 am | Balas

  7. tulisan anda: menggunakan alat analisis dengan perspektif patriaki (tidak demokratis), sehingga memiliki kecenderungan terus-terusan menyalahkan sekelompok orang. saya rasa pornografi memang perlu diatur, itu sudah banyak di KUHP, UU PA, UU Penyiaran dan lain sebagainya, memang tidak termaktub dalam RUU tersebut yang menyebutkan perempuan, tapi dalam pelaksanaan UU ada tafsir, sementara tafsir hukum kita sangat patriarkis. pernahkan anda berfikir bahwa aturan yang mengatur moral itu sebenarnya gak perlu, karena itu bukan tugas negara. moral itu privasi bung. saya rasa ketika ada orang yang men-judge seperti anda, pernahkan anda ke lapangan untuk mengetahui situasi sesungguhnya? berempatilah yang perlu anda lakukan…

    mbak Sofie..komentar anda ini ditujukan ke siapa ya??
    jika ke saya, kok rasanya tidak mengena… mungkin ke mbak Erna ya??

    Komentar oleh sofie — Mei 4, 2006 @ 11:03 am | Balas

  8. Kenapa perempuan diberikan bentuk tubuh seperti ini ?
    Kenapa perempuan mempunyai banyak sekali bagian tubuh yang indah dan sensual yang menarik hasrat kaum laki-laki ?
    Kenapa diciptakan gender yang berbeda ? Kenapa tidak hanya satu gender saja, sehingga kaum perempuan tidak perlu capek-capek memperjuangkan persamaan gender dalam segala hal, termasuk bentuk fisik ?
    Kenapa perempuan diciptakan ?
    Kenapa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam) ?

    Saya akan senang sekali kalau Anda mau menanyakan pada Tuhan, apa jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas.

    wah…mas Toni, jadi anda meminta saya menghadap-Nya lebih dahulu?? 😉
    hmmm….sepertinya komentar mas Toni ini bisa jadi 1 artikel tersendiri…menarik juga..hmmm..

    Mungkin semua persoalan ini akan selesai klo laki-laki suka laki-laki dan perempuan suka perempuan. Gk bakalan lagi ada kasus pornografi. Wait a second, sepertinya gay, lesbian, dll adalah penyakit masyarakat .. wah saya jadi bingung, semua jadinya salah dong .. komposisi dunia ini gk ada yang bener. Gimana klo kita hancurkan saja dunia? :p

    mas Toni, di Islam (dan nampaknya di semua agama) sebenarnya sudah diatur hubungan laki-laki dg perempuan…hanya manusia kadang (dan memang sering) sesuka dirinya mengganti-ganti dan menafsirkan sendiri aturan tersebut… Hanya saja, sekarang pemerintah ‘terpaksa’ turun tangan, karena perkosaan dan pelecehan seksual itu sudah masuk ‘wilayah’ hukum positif…

    demikian jawaban saya…

    BTw, yang saya quote itu sebenarnya adalah bentuk penindasan.

    saya tahu kok… 🙂
    hmmm…bener2 pertanyaan2 yg menarik utk dibahas… 🙂

    Komentar oleh toni — Mei 4, 2006 @ 11:05 am | Balas

  9. Menanggapi komentarnya sdr.Toni,
    menurut saya, “GOD creates with a reason”, semua yang Tuhan ciptakan itu pasti ada alasannya, tidak ada yang sia-sia.
    Tuhan menciptakan laki-laki/wanita dengan segala fitrahnya(fisik+psikis)adalah untuk menjadi ujian bagi dirinya maupun orang lain; kembali lagi kepada manusianya…apakah ujian itu bisa menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia atau malah menjadi lebih hina dari makhluk lainnya??
    Wajah yang cantik/ganteng, kesehatan, syahwat, ilmu, keluarga,kekayaan,jabatan, dan semua yang kita miliki…apakah bisa membuat kita menjadi manusia yang mulia atau malah sebaliknya???

    betul sekali mbak Bee…terima kasih komentarnya… 🙂

    Komentar oleh Bee — Mei 5, 2006 @ 12:49 pm | Balas

  10. permisii, numpang ngejunk lagi..

    gimana kalo cowo2 pada dikebiri biar ga napsuan lagi?!

    kalo nyuruh cewe pake tutup2in keindahan, gimana kalo lakilaki diilangin napsunya?!

    fair enough?

    wah…itu namanya tidak fair..
    dalam Islam, NAFSU DAN AURAT TIDAK BOLEH DIUMBAR…namun dibutuhkan..

    lebih fair jika:
    – keindahan perempuan tidak dipertontonkan ke semua orang
    – lelaki lebih bisa mengendalikan hawa nafsu

    fair kan?? 🙂

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 5, 2006 @ 7:50 pm | Balas

  11. lhoo, kalo udah ditutup2in tapi tetep napsu, gimana? dimana fairnya??!
    emang di arab kasus pemerkosaan dikit yah?

    ato, biarkan wanita memamerkan aurat, tapi laki2 yg nahan napsu..

    aneh sekali…

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 6, 2006 @ 6:59 pm | Balas

  12. untuk mas/mbak noneedforyoutoknow,
    dari komentar anda yang terakhir, anda juga tau, di Arab saja yang mayoritas kaum wanitanya “tertutup” masih ada perkosaan, apalagi di tempat yang kaum wanitanya “terbuka” dimana keindahan itu ‘disajikan’ secara bebas dan semua orang bebas menikmati secara cuma2…:p

    Menurut saya, fitrahnya wanita itu memiliki kecenderungan untuk pamer, ingin diperhatikan, dsb. Sedangkan laki-laki, normalnya memiliki kecenderungan dan ketertarikan kepada wanita.

    Makanya saya setuju pendapatnya Mas yg punya blog, supaya fair dan tidak saling merugikan, sebaiknya:
    – keindahan perempuan tidak dipertontonkan ke semua orang
    – lelaki lebih bisa mengendalikan hawa nafsu

    Memang tidak mudah mengendalikan nafsu syahwat, apalagi kaum laki-laki
    yang ditakdirkan memiliki dorongan nafsu syahwat yang ‘di atas normal’,
    jangankan melihat yang terbuka, melihat wanita yg ‘ditutup’ rapat sekalipun, dia tetap nafsu.

    Dengan kenyataan demikian, bukan berarti kita harus ‘menyalahkan’ Tuhan lagi.
    Manusia tinggal memikirkan bagaimana caranya supaya fitrah yang diberikan padanya bisa menjadi nikmat, dan jalan kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.

    Bagi laki-laki yang memiliki dorongan syahwat yang sangat tinggi, jika dia menginginkan wanita yg dilihatnya,
    nikahilah!! jangan diperkosa, heheh…emangnya ayam…’dicobain’ terus ditinggalin ;p =))

    Mungkin itulah kenapa Islam membolehkan menikahi lebih dari satu wanita…untuk kepentingan laki2 dan perempuan itu sendiri,supaya keduanya lebih mulia dan terhormat:)

    Kalo si laki-laki tidak/belum sanggup menikah secara lahir dan batin, caranya coba tanyakan pada Mas yg punya blog ini…hehehe…:p

    Buat yang wanita juga sama…meskipun memang hak anda untuk ‘mempertontonkan’ keindahan yang anda miliki,
    tapi ‘please dech…kasian dong kaum lelaki yg melihat anda…gimana tersiksanya mereka…;)
    Jika anda tidak ingin ‘diganggu’…ya jangan ‘berusaha mengganggu’dong…hehehe…
    Tanpa perlu mengumbar keindahan fisik anda pun, anda tetap cantik kok…;;)

    Biar fair, bo’ ya sama2 saling mengendalikan diri…berikan apa yg ada miliki pada yg berhak menerimanya dan pada waktunya…:)

    Semoga bermanfaat untuk kita semua…;)

    Komentar oleh Bee — Mei 8, 2006 @ 8:11 am | Balas

  13. 1.bee itu laki-laki atau perempuan ya?
    2.Jika tidak hendak ‘menyalahkan’ Tuhan, memang bukan itu yang dimaui, ada hal yang sifatnya profan dan tidak terjangkau, namun jika anda melihat RUU APP melandaskan atas nama Tuhan, padahal Tuhan tidak perlu disangkutpautkan dengan negara, Indonesia bukan negara agama, tapi negara pancasila. Untuk pemilik blog, komen saya juga untuk anda, untuk memperkaya wacana anda yang kecederungannya misoginis:)
    terima ksih

    Komentar oleh sofie — Mei 8, 2006 @ 10:10 am | Balas

  14. arab = wanita tertutup = banyak perkosaan

    malaysia = wanita tertutup dan terbuka = sedikit kasus perkosaan

    analogikan sendiri

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 8, 2006 @ 10:11 pm | Balas

  15. 1.bee itu laki-laki atau perempuan ya?
    ya?saya?
    saya perempuan/wanita/cewe…sama kaya mbak Sofie.
    salam kenal ya…:)

    2.Jika tidak hendak ‘menyalahkan’ Tuhan, memang bukan itu yang dimaui, ada hal yang sifatnya profan dan tidak terjangkau, namun jika anda melihat RUU APP melandaskan atas nama Tuhan, padahal Tuhan tidak perlu disangkutpautkan dengan negara, Indonesia bukan negara agama, tapi negara pancasila. Untuk pemilik blog, komen saya juga untuk anda, untuk memperkaya wacana anda yang kecederungannya misoginis:)
    terima ksih

    Jika anda bilang Tuhan tidak perlu disangkutpautkan dengan negara, apakah negara pancasila itu tidak berke-TUHAN-an??
    menurut anda, kapan kita ‘menghadirkan’ Tuhan dalam kehidupan kita??apakah hanya pada saat melakukan ritual ibadah saja? atau pada setiap gerak, tingkah laku kita??mungkin meliputi cara berpakaian, memperlakukan orang lain, dsb.

    Komentar oleh Bee — Mei 9, 2006 @ 10:15 am | Balas

  16. dari mas/mbak noneedforyoutoknow:
    “arab = wanita tertutup = banyak perkosaan

    malaysia = wanita tertutup dan terbuka = sedikit kasus perkosaan

    analogikan sendiri ”

    Untuk fakta ini, rasanya saya udah berusaha ngasih ‘solusi kecil’. sekarang apa solusi terbaik menurut anda untuk masalah ini???

    Komentar oleh Bee — Mei 9, 2006 @ 10:19 am | Balas

  17. dari mas/mbak noneedforyoutoknow:
    “arab = wanita tertutup = banyak perkosaan

    malaysia = wanita tertutup dan terbuka = sedikit kasus perkosaan

    analogikan sendiri ”

    Anda sudah memberikan penjelasan YANG SANGAT JELAS sekali.
    1. RUU APP tidak menyuruh berpakaian ala Arab
    2. Di Malaysia ada UU Pornografi, yang sampai mengatur berciuman dan berpelukan.

    Komentar oleh Erna — Mei 9, 2006 @ 10:45 am | Balas

  18. Wacana pengaturan yang tertuang dalam RUU APP salah satu pemikiran untuk mencari jalan keluar dari hancurnya moral bangsa ini. Terlepas dari bagaimana sebuah agama memandang, dan bagaimana kekonsistensian sebuah agama terhadap penafsiran-penafsiran hukum dari kitab sucinya masing-masing, tetap sebuah produk ciptaan manusia tidak akan tercerabut dari akarnya, yaitu salah satunya agama atau keyakinan yang dianut.
    Saya pribadi, suka perempuan yang cantik dan menarik. Tapi saya tidak menginginkan jika anak saya (jika perempuan) kemudian menjadi santapan pembicaraan laki-laki berkenaan dengan fantasi seksual yang liar atau fotonya dengan pose sensual menjadi fantasi seksual para laki-laki, yang mana kemudian laki-laki itu melampiaskannya dengan pemaksaan kepada anak perempuan dari orang tua yang tidak berdaya. Sungguh tidak pernah saya bayangkan bagaimana perasaan saya jika melihat anak saya nanti memakai rok mini dan baju yang minim berada di jalanan. Sementara jika saya melarangnya, kemudian anak saya membantah dengan mengatakan bahwa hal tersebut sudah menjadi keumuman dan kewajaran.
    Sederhana saja, saya cuma memikirkan keselamatan keluarga saya saja nanti. Jika orang lain mau hancur moralnya, silakan saja, lakukan sendiri, tapi jangan buat hal kehancuran moral itu menjadi hal yang wajar dimata kami. Bukan atas nama agama semata kami mengatakannya, tapi hargailah perasaan kami, itu saja.

    Komentar oleh adhi nugraha — Mei 9, 2006 @ 1:28 pm | Balas

  19. @bee: solusi yg dianjurkan, perbaiki hubungan keluarga.. ga perlu buat undang2, tapi benerin keluarga. dari yg paling kecil aja. ga usah ribet2 buat RUU yg bakalan buat pecah belah indo. lagian, institusi agama adalah tempat “belajar” moral, kalo moral ancur, itu jelas ada yg salah dengan iman. nah, obatin imannya dong.. udah ada hukum yg ngatur ttg industri pornography, kok malah ke arah tindakan pribadi yg diatur?

    @adhi: kalo di hidup saya begini, saya ga peduli orang lain mau pake baju gimanapun [terbuka ato tertutup] dan saya ga peduli anak orang dandan gimana. tapi kalo buat tunangan saya / adek saya / ibu saya pake yg terbuka2, saya punya hak menegur beserta alasan2nya karena itu menyangkut saya pribadi. nah, kalo masuk ke hukum masalah ginian, apa rasanya jika saya ngerasa adek saya berpakaian normal2 aja, tapi ada orang yg terangsang gara2 liat adek saya [entah orang itu lagi berahi merongrong ato sex appeal adek saya yg tinggi] lantas itu adalah suatu kejahatan yg dilakukan adek saya?!

    ga masuk akal.

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 10, 2006 @ 4:12 am | Balas

  20. Legal Opinion: Urgensi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi
    Rabu, 10 Mei 2006, 17:25:11 – oleh : Alif
    Tim Pengajar FHUI -Depok
    Fatmawati, SH. MH.
    Heru Susetyo, SH. LL.M. M.Si.
    Yetty Komalasari Dewi, SH. M.Li.

    Dalam ilmu hukum dipelajari tentang kaedah hukum (dalam arti luas). Kaedah hukum (dalam arti luas) lazimnya diartikan sebagai peraturan, baik tertulis maupun lisan, yang mengatur bagaimana seyogyanya kita (suatu masyarakat) berbuat atau tidak berbuat. Kaedah hukum (dalam arti luas) meliputi asas-asas hukum, kaedah hukum dalam arti sempit atau nilai (norma), dan peraturan hukum kongkrit.

    Asas-asas hukum merupakan pikiran dasar yang umum dan abstrak, merupakan latar belakang peraturan hukum konkrit yang terdapat di dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan perundang-undangan dan putusan hakim. Sementara itu, kaedah hukum dalam arti sempit atau nilai (norma)
    merupakan perumusan suatu pandangan obyektif mengenai penilaian atau sikap yang seyogyanya dilakukan atau tidak dilakukan, yang dilarang atau dianjurkan untuk dijalankan (merupakan nilai yang bersifat lebih kongkrit dari asas hukum).

    Berkaitan dengan RUU Pornografi dan Pornoaksi, berdasarkan argumentasi yuridis (perspektif ilmu hukum), maka RUU ini memiliki dasar pembenar sebagai berikut:

    1. Berdasarkan asas Lex Specialis Derogat Legi

    Generalis, maka RUU ini nantinya akan berlaku sebagai hukum khusus, yang akan mengesampingkan hukum umum (dalam hal ini adalah KUHP) jika terdapat pertentangan diantara keduanya. Hal ini sudah banyak terjadi dalam UU di R.I., sebagai contoh adalah UU Kesehatan sebagai lex specialis (hukum yang khusus) dengan KUHP sebagai lex generalis (hukum yang umum). Dalam Pasal 15 ayat
    (1) UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan diatur perihal diperbolehkannya aborsi atas indikasi medis, yaitu dalam keadaan darurat yang membahayakan jiwa ibu hamil dan atau janinnya. Berbeda dengan UU Kesehatan, KUHP sama sekali tidak memperkenankan tindakan aborsi, apapun bentuk dan alasannya. Artinya dalam hal ini, jika terjadi suatu kasus aborsi atas indikasi medis
    (seperti diatas), berdasarkan asas Lex Specialis derogate Legi Generalis, maka yang berlaku adalah UU Kesehatan dan bukan KUHP;

    2. Berdasarkan asas Lex Posteriori Derogat Legi Priori

    Maka RUU ini nantinya akan menjadi hukum yang disahkan belakangan, yang akan menghilangkan hukum yang berlaku terlebih dahulu (KUHP) jika terjadi pertentangan diantara keduanya.

    Sedangkan berdasarkan argumentasi logis, maka RUU ini dapat dibenarkan dengan alasan sebagai berikut:

    * Pornografi dan Pornoaksi yang marak belakangan ini tidak saja membawa korban (victim) orang dewasa tetapi juga anak-anak. Dalam kaitan ini, UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 tidak menyinggung sedikit-pun tentang masalah pornografi anak (child-pornography). Namun mengatur (senada dengan Convention on the rights of the Child 1989) bahwa anak wajib dilindungi dari
    ‘bahan-bahan dan material’ yang illicit dan membahayakan perkembangan jiwa dan masa depannya. Pornografi adalah satu bentuk illicit materials yang
    dapat membahayakan perkembangan jiwa anak. Oleh karena itu, diperlukan suatu dasar hukum untuk melindungi anak-anak dari masalah pornografi.

    * UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, tidak memiliki klausul yang cukup melindungi pers dan khalayak dari penyalahgunaan pornografi.

    * UU tentang Penyiaran No. 32 tahun 2002 juga tidak banyak mengatur dan melindungi khalayak penyiar dan pemirsa dari penyalahgunaan pornografi dan pornoaksi.

    * Secara fitrah manusia memang memiliki kebutuhan seksual dan tidak ada seorangpun yang berhak mengambil hak dasar ini. Namun demikian, bagaimana menggunakan kebutuhan seksual ini agar tidak memberikan dampak yang negative terhadap masyarakat luas, tentu saja perlu diatur. Sebagai perbandingan, USA yang memiliki nilai-nilai budaya yang cenderung lebih ‘permissive’ dibandingkan Indonesia, misalnya, memiliki Child Obscenity and Pornography Prevention Act of 2002. Di Inggris ada Obscene Publications Act 1959, dan Obscene Publications Act 1964 yang masih berlaku sampai sekarang, yang mengatur dan membatasi substansi atau gagasan dalam media yang mengarah kepada pornografi.

    Di dalam sistem hukum Civil Law (European Continental), UU berperan dalam pembentukan hukum. Salah satu tujuan pembentukan hukum (UU) adalah untuk
    menyelesaikan konflik yang terjadi diantara anggota masyarakat (pemutus perselisihan). Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa seiring dengan kemajuan zaman, kehidupan masyarakat-pun mengalami perubahan. Oleh karenanya, hukum-pun harus mengikuti perubahan/perkembangan masyarakat agar hukum mampu menjalankan fungsinya tersebut.

    Artinya, jika hukum tidak diubah sesuai dengan perkembangan masyarakat-nya, maka hukum menjadi mati dan tidak mampu mengatasi masalah sosial yang terjadi/muncul dalam suatu masyarakat. Masalah pornografi dan pornoaksi mungkin dulu belum dianggap atau dinilai penting, namun demikian beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan semakin berkembangnya teknologi informatika, masalah tersebut telah memberikan dampak social yang sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

    Dalam kaitannya dengan RUU ini, walaupun menurut sebagian orang masalah
    pornografi dan pornoaksi dapat diselesaikan oleh KUHP khususnya pasal 281 dan 282, namun apabila dicermati sebenarnya pasal-pasal tersebut pun masih memiliki
    beberapa kelemahan, yaitu tentang kriteria kesusilaan dan tentang ancaman hukuman. Kedua-nya dapat dijelaskan sebagai berikut:

    * Kriteria Kesusilaan. KUHP tidak memberikan definisi atau batasan yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan ‘kesusilaan’. Tentu saja hal ini menyebabkan terjadinya ‘multitafsir’ terhadap pengertian kesusilaan, dengan kata lain, kapan seseorang disebut telah bertingkah laku susila atau asusila (melanggar susila). Terjadinya penafsiran yang berbeda terhadap suatu ketentuan dalam UU seharusnya tidak boleh terjadi karena ini menyebabkan ketidakpastian hukum. Oleh karena itu, jika RUU Pornografi dan Pornoaksi justru memberikan pengertian
    dan batasan yang lebih jelas atau detail, seharusnya secara logis hal ini dapat dibenarkan. Logikanya, suatu peraturan yang lebih jelas atau detail justru akan menghindari terjadinya ketidakpastian hukum dan menghindari implementasi yang sewenang-wenang dari aparat penegak hukum (non-arbitrary implementation).
    Dan jika kepastian hukum justru dapat tercapai dengan adanya RUU ini, maka seharusnya kita mendukungnya.

    * Ancaman Hukuman. Ancaman hukuman yang terdapat pada pasal 281 dan 282 KUHP sangat ringan. Kedua pasal tersebut yang dianggap oleh sebagian orang sudah cukup untuk mengatasi atau mengantisipasi masalah pornografi dan pornoaksi, hanya memberikan maksimal hukuman penjara 2 tahun 8 bulan dan maksimal denda Rp. 75.000 (lihat pasal 282 ayat 3). Jika tujuan dijatuhkan-nya hukuman adalah untuk mencegah orang untuk melakukan perbuatan tersebut, jelas hukuman maksimal penjara dan denda seperti diatas (2 tahun 8 bulan dan 75.000), tidak akan memberikan dampak apapun pada pelakunya. Ancaman hukuman tersebut tidak memiliki nilai yang signifikan sama sekali untuk ukuran sekarang.

    Berdasarkan paparan di atas, sebenarnya RUU APP ini memiliki cukup legitimasi baik dari sisi yuridis maupun sosiologis. Hanya saja, disarankan untuk lebih memperbanyak atau memperkuat argumentasi yuridis bahwa RUU ini memang dibutuhkan walaupun telah diatur secara tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan (argumentasi kelebihan RUU ini dibandingkan pengaturan
    yang telah ada). Sebagai contoh, UU Kesehatan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Disamping itu ada juga UU KDRT, yang sebenarnya secara substansi telah diatur dalam KUHP, tetapi toh dapat diberlakukan UU KDRT karena memiliki argumentasi logis yang merubah kekerasan dalam rumah tangga dari delik aduan (dalam KUHP) menjadi delik biasa (dapat dilaporkan oleh siapa saja yang melihat atau mengetahui peristiwa tersebut).

    Kemudian, harus diakui bahwa ada beberapa rumusan yang belum ‘pas betul’ dengan tujuan pembentukan RUU ini, yaitu antara lain rumusan/ definisi tentang
    ‘pornoaksi’. Karena dalam pelbagai literature agak sulit secara legal formal untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘pornoaksi’. Sedangkan, definisi ‘pornografi’ sudah lumayan ter-cover dalam RUU APP, di –mix dengan definisi pada UU sejenis di negara lain dan encyclopedia. Maka, suatu studi yang lebih kritis tentang ‘pornoaksi’ amat perlu dilakukan.

    Untuk keberlakuan RUU APP ini, dapat mengikuti metode pemberlakuan UU Lalu Lintas (penggunaan seat-belt), dimana diberikan cukup waktu untuk sosialisasi RUU
    ini, atau masa transisi, dan setelah sekian tahun (misal 2 atau 3 tahun), baru-lah RUU ini diberlakukan secara penuh.

    Wilayah Perdebatan dan Kontroversi

    Selama ini wilayah perdebatan dan kontroversi yang paling banyak diungkap oleh para pengkritisi RUU APP ini adalah :

    * Apakah pornografi dan pornoaksi adalah issue public atau issue privat yang berarti termasuk ranah publik-kah atau ranah privat?

    * Apakah pornografi dan pornoaksi ada dalam wilayah persepsi yang berarti masuk dalam ranah moral dan agama (yang berarti pelanggaran terhadapnya hanya dapat dikenakan sanksi moral atau sanksi agama) ataukah masuk dalam ranah hukum public dan kenegaraan yang berarti dapat dikenakan sanksi hukum yang mengikat dan memaksa (sanksi pidana).

    * Apakah pelarangan terhadap pornografi dan pornoaksi adalah suatu bentuk pelanggaran HAM terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan pers ataukah
    justru perlindungan terhadap pers yang sehat dan edukatif dan perlindungan terhadap anak dan khalayak penikmat pers dan media.

    * Apakah pelarangan terhadap pornografi atau pornoaksi adalah suara dari mayoritas masyarakat ataukah semata-mata ‘pemaksaan’ issue dari ‘kelompok-kelompok tertentu’ saja atau bahkan sebagai ‘pintu masuk pemberlakuan syari’at Islam di Indonesia’?

    * Apakah pornografi memang harus diatur dengan Undang-Undang, atau cukup diserahkan pada UU yang ada saja (jawabannya ada di atas).

    * Apakah pelarangan pornografi dan pornoaksi tidak akan menimbulkan viktimisasi terhadap perempuan ataukah malah menimbulkan viktimisasi perempuan?

    Menurut hemat kami, keberatan-keberatan tersebut harus disikapi dengan proporsional. Ada memang ranah yang harus diseimbangkan, bahwasanya pelanggaran pornografi misalnya tidak boleh sekali-sekali melanggar hak anak dan perempuan. Bahwasanya pornografi disini aktornya adalah laki-laki dan
    perempuan, tidak hanya perempuan, sehingga kekhwatiran terhadap viktimisasi terhadap perempuan mestinya tak usah terjadi. Bahwasanya pornografi memang harus diatur dengan UU karena ketidakdigdayaan UU yang ada. Juga, karena di negara-negara barat saja pornografi memiliki pengaturan tersendiri. Dan,
    bahwasanya RUU APP ini bukan agenda sektarian kelompok-kelompok tertentu saja (apalagi sebagai pintu masuk Syari’at Islam seperti selama ini dikhawatirkan
    khalayak penolak dan pengamat asing), melainkan lahir dari suatu kebutuhan untuk menciptakan media yang sehat dan edukatif disamping sebagai legislasi yang menjamin perlindungan terhadap masyarakat, utamanya anak-anak dan kaum perempuan dari penyalahgunaan pornografi dan pornoaksi.

    Yang terakhir, suatu RUU semestinya harus mencerminkan keadilan dan kepastian hukum (justice and certainty of law), maka suatu studi mendalam diiringi
    proses penyusunan yang aspiratif (akomodatif terhadap suara-suara dan kebutuhan dalam masyarakat maupun pemerintah) sudah semestinya dilakukan.
    Wallahua’lam

    Depok, 8 Maret 2006

    Disclaimer : Legal opinion ini adalah pendapat para pengajar tersebut di atas dan tidak mewakili institusi

    terima kasih infonya, mbak Salma… 🙂

    Komentar oleh Salma — Mei 10, 2006 @ 11:09 am | Balas

  21. @mbak erna

    kalo boleh tau, di malaysia itu diperuntukkan siapakah larangan tersebut?! sepertinya hanya untuk kaum muslim [contoh penerapan syariat yg benar] hal tersebut jg berlaku untuk masalah berpakaian [muslimah harus berjilbab] soalnya, saya berpelukan dan berciuman [perpisahan] dengan tunangan saya di KLIA [didepan security] saya ga ditangkap.

    dan di RUU APP memang benar tidak menyuruh berpakaian a la arab, tapi berpakaian a la kadarnya kah? dan lagi, petugas moral?! dapet kerjaan pengganti tuhan ni.. huhu

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 10, 2006 @ 6:47 pm | Balas

  22. Ah… anda kurang baca berita, coba cari di detik.com utk masalah berpelukan dan berciuman di malaysia.

    Untuk masalah petugas pengganti tuhan…
    Kalau anda tidak setuju adanya petugas yang mengatur masalah-masalah di dunia, ga perlu UU, Kejaksaaan, MA, Pengadilan dan polisi dong. Biar lah semua kesalahan-kesalahan manusia, ditentukan oleh tuhan nanti.
    Tidak ada satupun di dunia ini yang berhak menghukum, hanya tuhanmu yang berhak menghukumnya ?

    Komentar oleh Erna — Mei 13, 2006 @ 9:42 pm | Balas

  23. di arab = banyak perkosaan, di amerika = banyak perkosaan. apa ada yg punya data valid?.. banyakan mana? saya kira anak tk pun tau jawabannya. yaa amrik lah… mereka kaum free sex sejati man… amrik pingin nyari temen sebanyak2 nya… sasarannya yaa.. orang indo lah… ya ndak?

    Komentar oleh MJ — Oktober 20, 2006 @ 2:25 am | Balas

  24. kalo diliat dari nama anda “noneedforyoutoknow” kok rasanya lebih “beranian” mbak Erna dech… anda berani sesumbar… tapi anda ndak brani nulis nama anda sndiri. kayak gue.. gue sih cuman pingin ngomen si “ndak punya nama” itu tuh…. kalo saya sebage orang “luar” sih jelas anda noneedforyoutoknow kalah duluan sebelom diadu 😀

    Komentar oleh MJ — Oktober 20, 2006 @ 2:29 am | Balas

  25. mari kita berdoa buat “noneedforyoutoknow” agar segera sadar dan insap dan kembali kejalan tuhan dia. itupun kalo dia merasa punya tuhan. tuhan dia pasti benar. noneedforyoutoknow yang perlu “dibenarkan”. amen

    Komentar oleh fx. antony — Oktober 20, 2006 @ 2:34 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: