Blog Tausiyah275

Mei 4, 2006

Poligami vs Playboy

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 10:33 am

Aku temukan artikel ini di koran “Pos Kota” milik seorang kenalan. Hmmm…aku ketik sebagian saja, tidak copy paste seluruhnya, namun tidak mengurangi maknanya.

Tabloid poligami ditolak aktifis perempuan, bahkan mereka mengancam akan melancarkan somasi jika tetap menerbitkan majalah tersebut.

Ketua Umum Dharma Wanita Pegawai Negeri Sipil (DW-PNS), Nila F Moeloek menyatakan dirinya tidak setuju dg terbitnya tabloid tersebut, karena tidak pantas dan tidak bagus. Menurut Ketua LBH Apik Ratna Babaramurti, pihaknya akan melihat isi tabloid tersebut, jika menyebar luaskan ajaran poligami dan membodohi perempuan maka mereka akan mengajukan somasi.

Redaktur Pelaksana Tabloid Poligami, Dastro mengatakan bahwa penerbitan tabloid ini untuk memunculkan sisi lain, karena ada pemikiran yang jernih dan bagus dari mereka yang memilih poligami.

Hmmm…rasa-rasanya aku tidak mendengar pernyataan Ketua Umum DW-PNS dan Ketua LBH tentang Playboy, namun urusan poligami kok mereka ‘getol’ dan ‘semangat’ sekali menentangnya ya?😉 Terlebih lagi jika melihat alasan dari ketua umum DW-PNS yang aku cetak tebal…sangat sangat subjektif.

Aneh…poligami yg tercantum di Al Qur’an dan menjadi sunnah Rasululloh SAW (meski pada pelaksanaannya diperketat) ditentang…sementara playboy yg jelas-jelas bertentangan dg Al Qur’an malah tidak dikomentari/ditentang (apa artinya mereka2 setuju?)

Ya ya ya…seperti kata pepatah Jawa, dunia makin gila, siapa yang tidak gila tidak kebagian… NAMUN, orang beriman TIDAK PERLU menjadi gila untuk kebagian… ALLOH SWT tidak tidur dan tidak akan keliru kok🙂

Artikel terkait:
Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak?
Hentikan Mengghibah Aa Gym!!!
Ini Halal, Itu Haram, Jadi Anda Pilih Yang Mana?
Puisi Suami yang Minta Ijin Poligami
Press Release dari Aa Gym
Balasan Puisi Sang Istri …
Surat-surat Pendukung Poligami
Jangan Haramkan Yang Halal, Juga Jangan Halalkan Yang Haram
Efek Samping Poligami

89 Komentar »

  1. elu gila nggak mi?

    alhamdulillah, ndak Bi[G]🙂

    Komentar oleh Bi[G] — Mei 4, 2006 @ 12:01 pm | Balas

  2. Aku seneng juga dengan blog2 semacam ini, yang seneng ngadu domba secara halus, bikin suasana panas tambah panas, tinggal tunggu saatnya meletus bak merapi.

    wah…mas Alwan..terus terang saya KEBERATAN jika blog saya dianggap mengadu domba (secara halus ataupun frontal), karena tujuan saya bukan mengadu domba…hanya MEMPERTANYAKAN… mengapa untuk urusan playboy tidak ada suaranya…tapi menyangkut poligami, langsung ‘panas’..demikian..

    ok so far so good, salam sejahtera utk fasilitator moga tercapai apa yang kau inginkan Amen.

    terima kasih untuk komentarnya mas Alwan..🙂

    Komentar oleh alwan — Mei 5, 2006 @ 3:26 am | Balas

  3. Ya begitulah hasil Korban Feminisme yang di usung kaum “KARTINI INDONESIA” , poligami nggak mau, selingkuh iya, sex bebas asik yaou, playboy beredar Ok, jadi DW-PNS : Dharma Wanita Pecinta Niatan Syaitan kalee yeee…

    ehm…ehm..mas (mbak?) Dhafie..jangan terlalu begitu… biasa saja mas🙂

    Komentar oleh dhafie — Mei 6, 2006 @ 8:38 am | Balas

  4. eh, mo nanya.. adam dan hawa kan diciptain untuk menjadi pasangan, setuju kan??

    setuju🙂

    lalu, kalo tujuan diciptainnya 1 laki 1 wanita, knapa bisa jadi 1 lelaki banyak wanita ya skrg??

    ada beberapa penyebab:
    – karena banyak lelaki yg terbunuh, baik dalam perang ataupun dalam kehidupan sehari-hari…
    – saat balita, kemampuan survive bayi perempuan lebih baik daripada bayi laki-laki (maaf, saya lupa referensinya)

    knapa ga dari dulu diciptain 1 lelaki, dengan 4 wanita [walo tulang rusuk jadi kurang, tapi tetep banyak wanita]

    wah..saya tidak tahu alasannya…
    ALLOH SWT, Sang Pencipta, yang Maha Mengetahui …
    mungkin mas NNFYTK bisa langsung bertanya pada ALLOH SWT🙂😉

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 6, 2006 @ 6:55 pm | Balas

  5. feminisme tidak menimbulkan korban dalam konteks ini, persoalannya adalah pada prioritas yang harus anda selesaikan, poligami belum ada sekalipun aturannya secara hukum, sementara pengaturan hal pornografi sudah dilakukan di banyak UU baik yang sifatnya generalis maupun specialis.

    wah masa poligami tidak ada aturannya secara hukum? hukum apa yg anda maksud mbak Sofie? hukum positif?
    bagaimana bisa dibuat aturannya, jika baru sebatas usulan saja sudah banyak penolakan? coba lihat PP No 10/1970 (jika tidak salah), ttg poligami… PP (atau UU) itu saja sudah diprotes…😉

    hukum agama? hmmm…silakan mbak Sofie buka Al Qur’an…An Nisa(4):129, serta Sunnah Rasul…rasa2nya sudah jelas.. sifat manusia yg cenderung mempersulit diri sendiri, padahal Islam diturunkan tidak untuk mempersulit pengikutnya untuk melaksanakan ajarannya..🙂

    Komentar oleh sofie — Mei 8, 2006 @ 10:21 am | Balas

  6. Ah kalau belum mengalami seperti halnya orang buta memegang gajah, tergantung apanya yang dipegang, memang menjadi sangat subyektif.
    Padahal ber-poligami (sebenarnya poligini) itu mengandung makna pembelajaran yang dalam untuk menemukan makna kehidupan hakiki. Lebih dalam lagi hal ini dikupas di http://groups.yahoo.com/group/polygami_forum Tentu semuanya (baik bagi prianya atau wanitanya)dengan landas pijak yang kuat.

    terima kasih komentarnya mas Kelana🙂

    Komentar oleh Kelana — Mei 16, 2006 @ 12:24 am | Balas

  7. Ah kalau belum mengalami seperti halnya orang buta memegang gajah, tergantung apanya yang dipegang, memang menjadi sangat subyektif.
    Padahal ber-poligami (sebenarnya poligini) itu mengandung makna pembelajaran yang dalam untuk menemukan makna kehidupan hakiki. Lebih dalam lagi hal ini dikupas di http://groups.yahoo.com/group/polygami_forum Tentu semuanya (baik bagi prianya atau wanitanya)dengan landas pijak yang kuat.

    laoh…dobel?

    Komentar oleh Kelana — Mei 16, 2006 @ 12:26 am | Balas

  8. Polygami itu hak alias benar, (Quran & Hadist) artinya bargsiapa melakukan akan jadi pahala (kebaikan diakhirat), yang tidak ya tidak berdosa.

    Bagi yang anti maka ada hukum : “..bargsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan ummatku..(hadist) ”

    “..surga yang sangat tinggi (sebanding dengan orang mati dalam jihad fiisabilillah bagi yang taat pada suami ..”

    Kalo ada yang anti…. tau sendiri kan hukumnya… termasuk kalo ada org islam kok anti poligami perlu dipertanyakan keislamannya, walaupun islam bukan saja poligami. Ok ?

    ah…tepat sekali mas Lajaroma…
    ISLAM BUKAN SAJA POLIGAMI…NAMUN JANGAN MENOLAK POLIGAMI…🙂

    Komentar oleh lajaroma — Mei 16, 2006 @ 4:38 am | Balas

  9. dua-duanya ga usah terbit, tapi kalo orang oportunis bilang poligami boleh lah… doesnt matter ~la… apalagi lakinya kaya.. , sesuai agama tuh… libido lelaki ga boleh di hambat… dari pada selingkuh poligami ajaa kata bang rhoma…
    excuses..excuses…

    loh, mas Oportunis…poligami tidak sekedar excuse…tapi ada dalilnya..🙂

    katanya manusia itu ga bisa bisa adil… katanya kalo poligami ga adil bisa dipotong tangannya? ah emang oportunis hanya butuh yang dimaui saja

    wah…sinis sekali komentarnya mas Oportunis😉
    lagipula, saya baru dengar jika tidak adil poligami akan dipotong tangannya.. bisa dijelaskan lebih detil??😉

    Komentar oleh oportunis@sejati.com — Mei 17, 2006 @ 8:27 am | Balas

  10. Hare gene mau aja prumpuan dibegoin ama lelaki.

    mas Bejo, poligami BUKAN UNTUK MEMBEGO-BEGOKAN perempuan🙂
    justru poligami bertujuan mengangkat harkat perempuan🙂

    Lebih bego kalo prumpuannya ngedukung kelakuan yang ngebegoin.

    wah…saya tidak setuju dg istilah bego🙂😉

    Komentar oleh Bejo — Mei 17, 2006 @ 9:46 am | Balas

  11. Ah, mbak bisa aja. Masak martabat perempuan diangkat melalui poligami? Itu mah ketauan banget bodohnya. Martabat itu diangkat pake pendidikan dan prestasi. Masak pake poligami? He … he … he … Itu mah menghina perempuan banget. Mending ngaku aja dah kalo poligami ga bisa dijelasin pake akal sehat. Mending juga ga usah percaya sama yang gitu-gituan. Pelopor, penganjur dan pelaku poligami (siapapun dia) cuma bikin akal-akalan dan cara untuk, maaf, memuaskan syahwatnya. Betulan deh, pelopor, penganjur dan pelaku poligami cuma mau muasin dia punya, maaf, benda di bawah pusar. Alasan martabat, akibat perang, menyantuni, atau apa kek … itu kan cuma kamuflase dari syahwat yang berbelora di bawah pusar sana.

    ah…maaf, mas Solihin ini agamanya apa?
    jika Islam, silakan merujuk ke Al Qur’an dan As Sunnah…di sana sudah jelas kok juklak dan juknisnya ttg poligami.
    jika non Islam, yaa…anda tidak punya hak untuk berkomentar bahwa poligami adalah pemuas syahwat belaka…silakan baca sejarah Rasululloh SAW dg teliti..🙂

    Komentar oleh A. Solihin — Juni 4, 2006 @ 5:46 am | Balas

  12. Mas Solihin, memang susah sih ya belajar melihat dengan kacamata orang lain. Saya juga suka berprasangka buruk dengan mereka yang pengin poligami. Soalnya saya cuma bisa bayangin poligami dengan alasan seperti itu (maklum syahwat saya rasa cuup besar), cuma saya gak berani ngomong terus terang sama istri. Sebagaimana saya dulu kalau pas bulan Romadhan melihat orang makan terus langsung menuduh orang tersebut tidak mampu menahan rasa haus dan laparnya (karena saya kalau nggak kuat nahan lapar dan haus pas bulan Ramadhan suka bocor puasanya). Eh belakangan saya baru tahu bahwa seorang musafir diperbolehkan tidak puasa. Kalau inget waktu itu saya suka malu sendiri….

    betul mas Widi…terima kasih komentarnya🙂

    Komentar oleh widi — Juni 13, 2006 @ 2:07 am | Balas

  13. waah..poligami yang bener itu..yaitu mengikuti sunnah Rosululloh SAW. Coba deh inget-inget..siapa saja yang menjadi istri Nabi Muhammad SAW, kayaknya yang paling kita inget cuma Siti Khodijah yang janda dan kaya raya,dan Siti Aisyah yang masih perawan dan cantik pula. Tapi coba diinget istri2 beliau yang lainnnya. Istri2 beliau selain St.Khodijah dan St.Aisyah, adalah kaum wanita yang ditinggal mati suaminya dalam jihad, hidupnya miskin tanpa suami dan pekerjaan tetapi mempunyai banyak anak, ada yang diceraikan suaminya yang jahiliyah, ada yang anak yatim piatu dan tanpa sanak saudara, dan lain-lain yang pada umumnya memang membutuhkan bantuan..Nah..kalo kaum lelaki ingin poligami, ya ikuti cara Rosululloh SAW. yaitu memilih istri sesuai kriteria yang telah dicontohkan, jangan yang perawan, cantik, dan kaya semua. Itu namanya poligami mengikuti hawa nafsu, bukan mengikuti sunnah. Kalo udah tau poligami yang benar kayak begini, saya yakin banyak lelaki yang mundur untuk ber-poligami. Tul Ga…??:)

    tepat sekali mas Dahrdann…terima kasih komentarnya🙂

    Komentar oleh dahrdann — Juli 1, 2006 @ 1:54 pm | Balas

  14. Ikut komentar nih. Kalo lelaki berpoligami dengan 2, 3, 4 istri atau malah lebih karena alasan janda perang, janda miskin, janda cerai oleh suami jahiliyah, atau apa kek; maka pertanyaannya: bagaimana janda-janda ini dipuaskan nafkah lahir dan batinnya? Janda-janda ini kan punya syahwat juga. Lalu suami kan harus memenuhi kebutuhan syahwat istri-istri-istri-nya itu. Bagaimana si suami bisa memenuhi kewajibannya? Bohong besar kalo dibilang istri-istri-istri ini “sudah puas” tanpa diperhatikan kebutuhan syahwatnya. Pasti ada keinginan (dan hak!) mereka untuk dipuaskan. Suami (kalau benar dia suami yang baik) wajib memenuhi syahwat istri-istri-istri mereka.

    Suami macam apa yang punya kemampuan memenuhi kebutuhan syahwat istri-istri-istri sebanyak ini? Ada dua. Satu, pastilah si suami ini amat-sangat-besar-banget kemampuan syahwatnya. Atau, dua, dia lelaki cuma doyan kawin tapi tak mampu memenuhi kebutuhan istri-istri-istri-nya alias lelaki tak bertanggung jawab.

    Pilihan ada pada Anda. Mau dikibulin sama lelaki tukang tipu macam ini; atau berharap lelaki ini punya syahwat yang cukup besar untuk melayani 4 istri atau lebih.

    Itu baru urusan syahwat. Gimana urusan bagi waktu, perhatian, rejeki, kasih sayang, dsb, dsb? Jadi, penganjur, pelaku, sekaligus pelopor poligami (walaupun dikasih alasan-alasan yang surgawi) adalah cuma lelaki tukang tipu atau lelaki bersyahwat super besar.

    wah, mas Hidayat…berarti anda ‘menyalahkan’ Rasululloh SAW?
    tolong, baca lagi sejarah Rasululloh SAW…jangan mengambil kesimpulan semudah itu..🙂

    Komentar oleh Hidayat Kaban — Juli 7, 2006 @ 8:54 pm | Balas

  15. Mangkanya gw ga percaya sama ajaran-ajaran aneh kaya gini. Kenapa? Alasannya ini ajaran ga adil. Jauhin aja.

    Kalo lelaki boleh beternak istri, kok perempuan ga boleh?

    Kalo lelaki boleh muasin syahwatnya ke banyak istri, kok perempuan ga boleh?

    Lelaki yang berbuat begitu dibilang bermoral; perempuan yang begitu dibilang bermoral. Aneh ya?

    Saran gw, tinggalin deh ajaran-ajaran aneh begini. Buka mata, telinga, dan otak. Ajaran-ajaran ini udah masuk kategori “sekte” yang hanya memuaskan birahi tapi membenarkan moral lelaki. Pendukungnya? Ya, lelaki birahi dan perempuan yang gampang ditipu.

    duh…siapa pula ini Gelora Syahwat??
    berkomentar tapi tidak menunjukkan jati diri sebenarnya😦
    ditambah komentarnya ‘ga nyambung’ pula..😦

    Komentar oleh gelora syahwat — Juli 7, 2006 @ 9:03 pm | Balas

  16. boleh ikut nimbrung dikit aja…..
    klo segala sesuatu kita ukur dari kacamata duniawi memang semua itu terasa tidaklah adil…knp pria boleh punya lebih dari satu istri sedangkan wanita tidak boleh punya lebih dari satu pria, dan masih banyak komentar2 lainnya yg bila kita coba melihat dengan hati yg jernih semua penolakan itu berasal dari cara pandang duniawi..tapi jika kita coba melihat dari kacamata keimanan bahwa Allah SWT dalam Quran dan Sunnah membolehkan poligami,kita selaku muslim harus menerimanya secara keseluruhan.kalaupun kita tidak sanggup untuk menerima hal tersebut,tidak sewajarnya jika kita “mempertanyakan” aturan Allah.
    Alhamdulilah saya telah mempunyai seorang istri, kebetulan istri saya pun tidak melarang saya untuk berpoligami.tapi saya pribadi sama sekali tidak mempunyai niat kearah sana,bukan karena tidak bisa,tapi karena begitu berat tanggung jawab selaku seorang suami di akhirat kelak.Dengan lebih dari satu istri,berarti lebih banyak hal yg harus kita pertanggunjawabkan di akhirat kelak.

    terima kasih komentarnya, mas Husaeni🙂

    Komentar oleh husaeni — Juli 24, 2006 @ 7:32 am | Balas

  17. Saya setuju dengan mas husaeni , Segala sesuatu yang telah tertuang di Al Qur’an adalah sesuatu yang harus dipercayai sepenuhnya begitu seorang memutuskan untuk menyebut kalimat syahadat. Kalau ada ajaran Al Qur’an yang sekarang terlihat buruk , saya yakin itu perbuatan si manusianya yang salah menterjemahkan ajaran mulia tersebut. Manusia yang diwajibkan untuk bisa mngukur kemampuannya. Dan kalau manusia memilih untuk melakukan atau tidak melakukan suatu ajaran hanya karena ALLAH semata saya yakin hanya kebaikan yang di dapat.
    Tidak hanya perkawinan poligami namun perkawinan monogami pun ada yang berakhir dengan perceraian karena masalah perkawinan dimana2 sama saja tapi apa hal itu membuat kita2 antipati terhadap perkawinan monogami.
    Islam tidak menganjurkan ataupun menolak ataupun agama pertama yang mngusulkan dilakukannya poligami TAPI Islam adalah agama pertama yang mengatur poligami.
    Semoga Allah menolong orang2 yang memilih untuk melaksanakan perintah / ajaranNYA dan menjauhi larangan2NYA dengan hanya karena ingin beryaqwa kepadaNYA ….Amiieen Yaa Rabbal Alamin

    sepakat dg mas(?) Berry🙂

    Komentar oleh Berry — Agustus 4, 2006 @ 12:16 pm | Balas

  18. poligami????hayahhhhh…..jangan donk:(,meskipun itu sunnah rosul dan g di larang,tapi tolongdong perasaan kaum wanita di fikir khn.sakit rasa nya klo di poligami.(meskipun indah lom maried :P),di duain ama pacar aja sakit nya dah g tanggung2:”>,pa lagi di madu…walah2..bisa berabe.kacau dah!!.pokok nya jangan deh…coba klo laki2 tu jadi kita2(perempuan)pasti ngerasa in pedih nya..ya gak kaum2 ku ^_^

    hmmm…sebenarnya tidak perlu terlalu ketakutan, mbak Indah…semuanya ada aturannya kok.
    poligami kan tidak begitu saja…mesti ada syarat2 yg mesti dipenuhi…🙂

    Komentar oleh indah — Agustus 17, 2006 @ 4:12 pm | Balas

  19. Assalamualikum wr wb,

    wa’alaykumsalam wr wb

    Dari berbagai pernyataan di atas saya dapat menyimpul kan bahwa sudah saat nya KITA kaum muslimin untuk lebih belajar lagi mendalami ajaran Al Qur’an dan Al Hadits. bagaimana kita bisa menjadi muslim yang baik kalau kita tidak mengerti serta memahami apa yang ada dalam kitab kita? bahkan ada lagi yang ANTI banget dengan ajaran Rosulullah SAW! Na’udzubillah…..

    betul sekali mas Ngeko…kita mesti lebih banyak lagi belajar, tidak saja ilmu agama namun juga ilmu dunia. ilmu dunia dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (dan bisa juga berguna untuk agama), ilmu agama dibutuhkan agar kita tidak sesat dalam beribadah🙂

    dan ada juga yang SOK pinter tapi nyatanya kelihatan banget bodohnya, memang benar bahwa “banyak orang pinter merasa bodoh, tapi lebih banyak lagi orang bodoh yang merasa pinter”

    untuk komentar ini, saya memilih tidak berkomentar😉

    Ya ikhwan marilah kita kembali ke jalan NYA, mudah2n Allah SWT berkenan membimbing dan menunjuki kita ke jalan yang di Ridhoi NYA, amien ya robbal ‘alamien….

    aamiin….🙂

    Wassalam

    wa’alaykumsalam wr wb

    Komentar oleh Ngeko — Agustus 23, 2006 @ 6:56 pm | Balas

  20. Hmm poligami..topik bahasan yang cukup menarik neh.. aku cuma mau ikut berkomentar.. sebaiknya dalam menginterpretasikan ayt dalam kitab suci kita harus lihat dulu konteksnya.. gimana sih situasi saat ayat itu ditulis.. kalo ga salah Nabi Muhammad memperbolehkan poligami karena saat itu banyak janda-janda dan anak yatim yang terlantar.. so dibuatlah aturan tentang poligami n memang aturan itu diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup para janda dan anak yatim tadi.. lha kalo skrg diterapin ya ga relevan.. dan harus dilihat dulu latar belakangnya.. karena menurut saya pernikahan adalah hubungan yang sakral antara seorang pria dengan seorang wanita.. yang tidak terpisahkan dan tak dapat diceraikan oleh manusia.. gitu ganti….

    betul sekali..🙂

    Mas Sued, sebenarnya Al Qur’an + Rasululloh SAW sendiri telah memberikan persyaratan yg ‘ketat’ bagi orang2 yg hendak berpoligami…🙂

    Komentar oleh sued — Agustus 29, 2006 @ 3:21 pm | Balas

  21. poligami??? bahasan yang ga pernah basi de kayaknya… Tapi, buat mereka yang berpoligami???huhu basiii banget… Kasian deh loe yang berkedok di belakang agama..sunnah rasul…atau apa keq… Knapa?? malu ya?? kog kalo di tanya knapa kog poligami? selaluuu aja dikaitin sama agama… Hm, gentle dikit dunk! tapi, yah ga heran..mana ada orang yang menganut poligami ‘gentle’…heheheheeee
    jangan tersungging… Interpretasi tiap orang sm yang lain itu beda..tergantung pendidikan, latar belakang keluarga, dan ajaran moral tentunya…
    O ya, buat yang selalu bilang “baca dunk sejarah Rasulluloh SAW dengan teliti”..pesen gw cuma satu.. kayaknya elo deh yang harusnya baca sejarah Rasulluloh SAW DENGAN TELITI…
    Setau gw, istri sah Rasul yah cm satu, si Kadhijah..mpe dia ga punya anak..Rasul tetep setia..Ketika Kadhijah mati, Rasul baru nikah lagi… Dia nikah ma banyak perempuan (janda pastiya) buat apa se???yah buat meluaskan agama islam…
    Iya ga se???

    mbak(?) Thea, seperti saya tulis di komentarnya mas Sued, Al Qur’an dan Rasululloh SAW tidak mengijinkan poligami dg mudah. ada syarat yg mesti dipenuhi. tapi jika pelaku poligami (suami + istri2nya) rukun2 saja, kita tidak perlu sewot dan main hakim sendiri🙂

    jadi, yah..basi deh buat kamu…

    wah…basi ini ditujukan kepada siapa, mbak??😉

    Komentar oleh thea — Agustus 29, 2006 @ 4:19 pm | Balas

  22. Poligami adalah sesuatu yg tidak perlu dipersoalkan lagi oleh orang yg menamakan dirinya MUSLIM, karena hal itu sdh ada dalm Al-Qur’an dan Assunah, sementara kita selaku muslim Haram hukumnya tidak meyakini satuuu saja ayat yg ada dlm Kitabullah.semetara bagi ibu2 yg belum mampu melakukan hal itu ya silahkan aja mempelajarinya lebih dlm lg, kalo ms belum mampu jg ya udh bicarakan baik2 dgn suami, toh berhaji aja diperuntukkan bagi mereka yg mampu, bagi yg tidak mampu ya nggak, TAPI TDK DGN MENOLAK AYAT TTG POLIGAMI. Dan sy pikir ibu2 tdk perlu takut krn seorang suami perlu berfikir seribu kali utk berpoligami, karena poligami bukan hanya menyangkut mslh SEX, tapi menyangkut masalah AMANAH dan Dakwah, apalgi saat ini keluarga POLIGAMI menjadi sorotan masyarakat, sehingga KESAKINAHAN KELUARGA POLIGAMI betul-betul akan menjadi kudwah bagi keluarga lain yg anti poligami.WALLAHUA’LAM.

    tepat sekali mas Susanto…
    JANGAN MENOLAK AYAT POLIGAMI..🙂 mungkin itu kuncinya🙂

    Komentar oleh Susanto — Agustus 30, 2006 @ 8:19 am | Balas

  23. Poligami adalah sesuatu yg tidak perlu dipersoalkan lagi oleh orang yg menamakan dirinya MUSLIM, karena hal itu sdh ada dalm Al-Qur’an dan Assunah, sementara kita selaku muslim Haram hukumnya tidak meyakini satuuu saja ayat yg ada dlm Kitabullah.semetara bagi ibu2 yg belum mampu melakukan hal itu ya silahkan aja mempelajarinya lebih dlm lg, kalo ms belum mampu jg ya udh bicarakan baik2 dgn suami, toh berhaji aja diperuntukkan bagi mereka yg mampu, bagi yg tidak mampu ya nggak, TAPI TDK DGN MENOLAK AYAT TTG POLIGAMI. Dan sy pikir ibu2 tdk perlu takut krn seorang suami perlu berfikir seribu kali utk berpoligami, karena poligami bukan hanya menyangkut mslh SEX, tapi menyangkut masalah AMANAH dan Dakwah, apalgi saat ini keluarga POLIGAMI menjadi sorotan masyarakat, sehingga KESAKINAHAN KELUARGA POLIGAMI betul-betul akan menjadi kudwah bagi keluarga lain yg anti poligami.WALLAHUA’LAM.

    lho…dobel?😉

    Komentar oleh Susanto — Agustus 30, 2006 @ 8:21 am | Balas

  24. Sebentar lagi di Yogya akan berdiri Yayasan Poligami insya4JJI, Mohon Doa Restunya.

    semoga yayasan tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan mampu menjadi alat dakwah dalam menyiarkan Islam🙂 aamiin…

    Komentar oleh Andri Setyawan — September 2, 2006 @ 4:22 pm | Balas

  25. Nocoment deh..masalah poligami, buat pecinta poligami gue ucapin ….hidup poligami, bkn ajza partai poligami di MPR/DPR buat perwakilannya, dan bikin semacam OKI tuch… biar poligami lebih mendunia & ada kongres na segala. HIDUP POLIGAMI…BRAVO….buat pendukungnya…!!!!

    Komentar oleh riyan — September 15, 2006 @ 3:24 pm | Balas

  26. baguslah tabloid poligami didemo. bokap gue ngelakuin poligami. Nyokap gue adalah istri pertama. Walaupun nyokap gue ga nentang tapi gue bisa liat penderitaan batin beliau kalo sebetulnya beliau ga mau suaminya punya istri lagi. sebagai anak lakinya jelas gue sedih juga ngeliat nyokap menderita kaya gitu, gue cuma bisa bilang naudzubillahmindzalik gue ampe punya istri lebih dari satu. gue muslim dan percaya bahwa poligami itu sah. tapi untuk poligami loe harus adil sedangkan di al quran dibilangin bahwa “walau Anda bersusah payah untuk adil, Anda tidak akan bisa.”. jadi hindarin ajalah daripada celaka.

    Komentar oleh maulana — Oktober 6, 2006 @ 6:24 pm | Balas

  27. Saya cukil kalimat ini dari sebuah artikel. Semoga bermanfaat.
    “Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadits disebutkan (yang artinya) “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.” (HR. Lima)

    Komentar oleh muslim — Oktober 6, 2006 @ 7:05 pm | Balas

  28. ya bagus uanget lah!!
    Memang sekali-kali para feminis tuh perlu dihajar, dikorek telinganya, biar denger ajaran Tuhannya!!!

    Komentar oleh r_rafar — Oktober 7, 2006 @ 2:16 am | Balas

  29. Assalamu’alaikum..
    saya melihat poligami dari segi suami pun istri. kalu dari suami memang dia bisa menyalurkan hasratnya secara halal kalu misalkan istrinya yg satu sedang haid/nifas, yg terkadang kalu tidak disalurkan bisa2 pusing ^^, yg jelas lebih diridhoi Allah daripada suami memilih zinah or nikah mut’ah/kontrak. tapi kalu yang namanya rezeki, insyaAllah ditambah oleh Allah seiring dg bertambahnya anggota keluarganya..memang semua masalah kalu dilihat dari setiap sisi pasti terlihat lebih banyak kesulitannya,.tapi cobalah kita belajar untuk melihat setiap hikmah dari setiap kejadian..
    Sedangkan dari istri, mgk dg poligami dia bisa saling bantu antara istri ketika salah satu istri sedang mengalami sakit/melahirkan, sedangkan kondisi suami lebih banyak keluar untuk mencari nafkah.
    saya punya Abang yang berpoligami,.pertama memang berat dan terasa sangat menyakitkan perasaan,bukan hanya kepada istrinya tapi dari kami saudara2nya jg melihat itu dg kecewa..tapi seiring waktu, alhamdulillah malah rezekinya semakin bertambah dan sekarang sudah bisa saling memahami antara istrinya..
    Allah Maha Tahu setiap isi hati setiap hamba2Nya..mudah2an Allah meridhoi setiap hamba2Nya yg berusaha mengikuti setiap langkah NabiNya..amiin..
    mohon maaf bagi yang kurang berkenan dg masukan ini..mudah2an setiap kita bisa melihat permasalahan dari sisi positifnya..so .. Be a smart and positif thingking..
    wassalam..^^

    Komentar oleh Amrullah — November 8, 2006 @ 2:08 pm | Balas

  30. Saya semakin tahu, mana yang dalam berpikir menggunakan kaca mata dunia, dan mana yang menggunakan kacamata akhirat. Yang menggunakan kacama dunia, ukurannya hanya akal dan rasional. Yang menggunakan kacamata akhirat, lebih jernih dan menempatkan pada porsinya. Dan orang yang beriman tentu lebih mengedepankan ajaran agamanya daripada ajaran akalnya.

    Komentar oleh anam — Desember 8, 2006 @ 9:37 am | Balas

  31. begitu aja kok repot… yang jelas ada dua kejadian yang menjadi sorotan panas. aa gym dengan poligaminya dan Yahya Zaini dengan adegan mesumnya. kata gua lebih gentle aa gym, ketimbang yahya yang malu-malu akhirnya malu-maluin banget. emang sih hak mereka. ya udah gitu aja kok repot.

    Komentar oleh majid — Desember 8, 2006 @ 3:43 pm | Balas

  32. boleh kirim artikel gak?

    Komentar oleh bung salih — Desember 8, 2006 @ 5:22 pm | Balas

  33. MENYIKAPI POLEMIK SEPUTAR POLIGAMI
    (Keterangan Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah tentang poligami di dalam kitabnya Umdatut Tafsir (3/102))

    Telah bermunculan di zaman kita sekarang ini generasi dengan paham kafir, nalar ala nasrani. Mereka tumbuh di bawah didikan barat di negeri-negeri kita dan negeri-negeri mereka sendiri. Mereka dibesarkan dengan aqidah-aqidah tersebut. Sesekali dengan terang-terangan dan terkadang malu-malu. Sampai mereka berhasil menyusupkan paham-paham sesatnya dan menguasai fitrah-fitrah kaum muslimin. Sehingga jadilah motto utama mereka adalah mengingkari poligami, dan memandangnya sebagai perbuatan keji yang tidak bisa diterima oleh akal mereka.
    Diantara mereka ada yang terang-terangan mengingkarinya dan diantara mereka ada yang malu-malu. Dalam hal ini mereka dibela oleh sebagian orang-orang yang mengaku-ngaku ulama Al Azhar, yang mana seharusnya kewajiban seorang ulama adalah membela Islam dan memperkenalkannya kepada orang-orang jahil hakikat-hakikat syari’at. Akan tetapi yang terjadi malah kebalikannya, mereka bangkit membela orang-orang yang memang telah tumbuh dengan didikan dan aqidah kafir guna membatasi poligami di dalam islam, kata mereka!!
    Para ulama tersebut tidak mengetahui bahwa yang diinginkan oleh manusia-manusia tersebut hanyalah memupuskan sisa-sisa paham poligami di negeri-negeri Islam. Dan tidak ada yang diinginkan oleh anak-anak didikan barat tersebut dari para ulama Al Azhar selain bersama-sama dengan mereka dalam mengharamkan poligami dan melarangnya sampai keakar-akarnya. Yang ada di dalam pikiran pemimpin-pemimpin mereka poligami adalah kemungkaran karena itu mereka menolak keberadaannya dari segala macam sisinya.
    Kemudian kondisinya menjadi semakin parah, sampai-sampai kami mendengar salah satu negara yang mengaku islami meletakkan di dalam undang-undang mereka larangan dari berpoligami, bahkan undang-undang tersebut tegas-tegasan menyatakan perkataan yang kufur, bahwa poligami –menurut mereka- adalah haram.
    Mereka tidak sadar bahwa disebabkan pernyataan lancang dan jahat ini mereka menjadi murtad keluar dari agama Islam. Sehingga berlakulah atas mereka serta orang-orang yang ridha dengan perbuatan mereka ini seluruh hukum bagi orang yang murtad yang telah dikenal oleh setiap kaum muslimin. Atau tidak jauh kemungkinannya bahwa mereka sendiri mengetahuinya, sehingga mereka masuk ke dalam kekufuran dan kemurtadan dalam keadaan tahu dan dengan sengaja.
    Bahkan salah seorang yang mengaku sebagai ulama Al Azhar –dan ini adalah cobaan besar bagi Universitas Al Azhar- pernah saking lancangnya, ia membuat tulisan yang terang-terangan menyatakan bahwa Islam mengharamkan poligami. Perbuatan ini merupakan kelancangannya kepada Allah Swt dan sekaligus merupakan kedustaan dengan mengatasnamakan agama-Nya, padahal merupakan tanggung jawab baginya adalah menjaga agama Allah, dan menjadi di antara orang-orang yang turut menegakkannya dan membelanya!!
    Bahkan ada diantara mereka –pria dan wanita- yang baru tahu baca tulis memposisikan diri-diri mereka sebagai mujtahid agama, meng-istimbath hukum-hukum dan memfatwakan halal dan haram serta mencaci maki ulama-ulama Islam ketika ulama-ulama tersebut ingin mengingatkan mereka dan berhenti dari kelancangannya. Padahal kebanyakan makhluk-makhluk lancang ini tidak tahu tata cara wudhu’ dan shalat bahkan tidak tahu bagaimana bersuci, akan tetapi mereka dalam masalah poligami adalah ahli ijtihad!!
    Bahkan kami menyaksikan diantara mereka ada yang ikut campur dalam urusan yang mereka tidak memiliki ilmunya berdalil dengan ayat-ayat Al Qur’an dengan makna, karena dia tidak tahu lafal Al Qur’an!!
    Dikarenakan kelakuan-kelakuan mereka yang jahat serta kelancangan-kelancangan mereka yang mungkar dan kekufuran-kekufuran mereka yang nyata ini masuklah orang-orang non muslim ke dalam masalah ini. Mereka menulis pandangan-pandangannya dalam rangka ijtihad!! Seperti pendahulu-pendahulunya meng-istimbath hukum-hukum dari Al Qur’an –padahal mereka tidak beriman dengannya- untuk memperdaya kaum muslimin dan menyesatkan mereka dari agama mereka.
    Sampai-sampai ada seorang penulis non muslim membuat tulisan di salah satu harian yang sepertinya islami, orang ini menulis artikel dengan judul “Poligami adalah Aib” dengan kelancangannya ini berarti dia telah mencaci syariat Islam, dan memaki seluruh ummat Islam sejak datangnya Islam sampai sekarang. Dan (bersamaan dengan ini semua) kami tidak mendapati seorang pun yang terpanggil kecemburuannya yang apabila sebaliknya ada seorang penulis muslim yang berani mencaci agama si penulis tersebut, yakin ramai-ramai mereka akan membela agamanya. Akan tetapi ummat Islam memang orang-orang yang beradab.
    Yang pertama kali dilakukan oleh manusia-manusia anti poligami ini adalah berlagak prihatin dengan keutuhan keluarga, terutama anak-anak. Mereka menuduh poligami sebagai penyebab meningkatnya jumlah anak-anak terlantar, terlebih lagi kondisi kebanyakan kaum bapak yang pas-pasan, kemudian menikahi lebih dari seorang istri. Mereka adalah para pendusta, bahkan sensus yang mereka buat yang mendustakan mereka sendiri. Lantas mereka ingin menetapkan undang-undang yang mengharamkan poligami bagi laki-laki yang fakir, dan mengidzinkan hanya kepada laki-laki yang kaya dan berkecukupan!! Ini adalah keburukan di antara sederet keburukan yang lainnya yaitu menjadikan syariat Islam yang mulia ini terbatas bagi orang-orang kaya. Kemudian ketika upaya yang mereka lakukan tidak mendapat sambutan, malah kegagalan yang mereka rasakan, mereka beranjak kepada langkah berikutnya, yaitu mempermainkan ayat-ayat Al Qur’an tentang poligami.
    Mereka berdusta bahwa bolehnya poligami bersyarat, yaitu syaratnya adil, sedangkan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa berbuat adil adalah mustahil. Ini yang menjadi sandaran haramnya poligami menurut mereka akibat pendalilan sempit yang mereka lakukan, berdalil dengan sebagian ayat dan meninggalkan sebagian lainnya. Dalil mereka adalah firman Allah Swt,
    “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (Qs. An-Nisaa’; 129) dan mereka campakkan firman-Nya yang berbunyi,
    “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (Qs. An-Nisaa’; 129).
    Keadaan mereka seperti orang-orang yang beriman dengan sebagian Al Kitab dan meninggalkan sebagian yang lain!
    Kemudian mereka juga mempermainkan lafal-lafal dan sebagian kaidah-kaidah ushul. Mereka menamakan poligami dengan hukum mubah (boleh), dan atas pemerintah hendaknya mengikat sebagian perkara yang mubah dengan ikatan-ikatan (peraturan) yang sesuai demi kemaslahatan. Padahal mereka tahu betul, dalam hal ini mereka sesat dan menyesatkan, karena tidaklah layak poligami dinamakan dengan mubah yang menurut makna ilmiyah yang sebenarnya adalah; perkara yang dibiarkan yang tidak ada keterangan nas akan halal dan haramnya. Perkara yang mubah adalah yang Rasulullah SAW katakan,
    “Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah maka halal hukumnya, sedangkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah maka haram hukumnya, dan apa yang dibiarkan maka itu adalah maaf (dari-Nya)”.
    Adapun poligami, terdapat di dalam Al Qur’an nash yang jelas akan kehalalannya, ditambah lagi penghalalan poligami datang dalam bentuk perintah yang mana hukum asalnya adalah wajib, Allah Swt berfirman,
    “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi” (Qs. An-Nisaa’; 3), adapun berubahnya hukum wajib kepada halal adalah dengan firman-Nya, “Yang kamu senangi” (Qs. An-Nisaa’; 3).
    Kemudian (sebenarnya) mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa poligami adalah halal (bukan mubah) dengan sebenar-benarnya makna halal, dengan nas Al Qur’an dan berdasarkan contoh yang mutawatir lagi nyata dan tidak diragukan lagi semenjak zaman nabi SAW, para shahabat-Nya, hingga hari ini, akan tetapi mereka adalah kaum yang suka berdusta.
    Dan syarat adil pada ayat ini, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (Qs. An-Nisaa’; 3) adalah syarat pribadi bukan tasyri’, yaitu syarat yang kembalinya kepada individu mukallaf bukan hal yang diatur oleh pengadilan dan mahkamah. Karena sesungguhnya Allah Swt telah mengidzinkan bagi seorang lelaki –idzin dengan bentuk perintah- untuk menikahi wanita-wanita yang dia sukai tanpa syarat harus dengan idzin seorang hakim atau undang-undang atau pemerintah, atau yang lainnya. Allah Swt juga memerintahkan apabila seseorang takut tidak dapat berbuat adil kepada istri-istrinya, hendaknya dia mencukupkan dengan seorang istri saja. Karena siapa pun tidak berkuasa atas hati seseorang yang ingin menikah sampai dia mengetahui apa yang terdapat di dalam hatinya dari perasaan takut atau tidaknya dia dari tidak dapat berbuat adil.
    Bahkan dalam hal ini Allah Swt telah menyerahkan keputusannya kepada pertimbangan hatinya, dan mengajarkannya bahwa pada hakikatnya dia tidak dapat berbuat adil antara istri-istrinya dengan sesempurnanya, dimana tidak ada sedikit pun kecondongannya terhadap salah satu istri-istrinya, karena itulah Allah Swt memerintahkannya untuk tidak condong (dalam ayatnya),
    “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (Qs. An-Nisaa’;129).
    Pada ayat ini Allah Swt menganggap cukup dalam mentaati perintahnya untuk berbuat adil, dengan dia melakukan keadilan tersebut semampunya, dan memaafkan darinya hal-hal diluar kemampuannya.
    Keadilan yang diperintahkan ini adalah diantara perkara yang berubah-ubah sesuai keadaan, yang terkadang datang dan pergi pada diri mukallaf yang bersangkutan, oleh karena itu tidak masuk akal kalau ia menjadi syarat sahnya akad, yang benar ia semata-mata hanya syarat pribadi yang erat kaitannya dengan diri si mukallaf dan sikapnya.
    Berapa banyak orang yang bertekad untuk melakukan poligami dan di dalam hatinya memendam niat untuk tidak berlaku adil, kemudian dia pun tidak menjalankan apa yang dahulu dipendamnya dan malah berlaku adil kepada istri-istrinya. Dalam hal ini tidak seorang pun yang paham syariat sanggup menuduh orang tersebut telah menyelisihi perintah Rab-nya, karena dia telah mentaati-Nya dalam berlaku adil. Sedangkan tekad di dalam hatinya sebelum itu –untuk tidak berlaku adil- tidak berpengaruh apa-apa terhadap sah tidaknya akad –sejak semula-, terlebih lagi bahwa nash-nash seluruhnya secara tegas menerangkan bahwa Allah Swt tidak memberikan sangsi kepada seorang hamba terhadap bisikan hatinya selagi dia tidak melakukannya atau mengatakannya.
    Dan berapa banyak orang yang berpoligami dengan tekad untuk berbuat adil akan tetapi tidak dia lakukan. Maka orang ini telah menanggung dosa dengan meninggalkan keadilan dan meyelisihi perintah Rab-nya. Akan tetapi tidak seorang pun yang paham syariat sanggup menuduh bahwa kejahatannya mempengaruhi asal akadnya dengan istri yang baru sehingga memindahkannya dari halal dan boleh kepada haram dan batal, melainkan dosanya kembali kepada dirinya sendiri dalam urusan ketidakadilannya kepada pada sang istri. Dan yang wajib baginya adalah mentaati Rab-nya dalam menegakkan keadilan, ini adalah perkara yang sudah dimaklumi tidak ada yang menyelisihi dalam hal ini dari orang-orang yang paham agama dan syariat.
    Adapun mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang menunggangi akal-akal mereka, bukan ahli ilmu apalagi dalil, mereka menyelewengkan dalil dari tempatnya, dan mempermainkan dalil-dalil syariat dari Al Kitab dan As-Sunnah selagi mereka mampu.
    Diantara permainan mereka, mereka berdalil dengan kisah Ali bin Abi Thalib RA ketika melamar anak perempuan Abu Jahl di masa hidup Fathimah binti Rasulullah Saw. Dan ketika Rasulullah Saw dimintai idzin dalam hal ini, beliau berkata,
    “Saya tidak mengidzinkan, tidak mengidzinkan, tidak mengidzinkan, kecuali apabila Ibnu Abi Thalib ingin menceraikan anakku kemudian menikahi anak mereka, karena sesungguhnya dia (Fathimah –pentj) adalah bagian dariku menggundahkanku apa-apa yang menggundahkannya dan menyakitiku apa-apa yang menyakitinya”.
    Mereka tidak membawakan hadist lengkap dengan lafalnya akan tetapi merangkum kisah dengan rangkuman yang buruk untuk dipakai dalil bahwa Nabi Saw melarang poligami, bahkan sebagian mereka terang-terangan berdalil dengan kisah ini untuk mengharamkan poligami! Mempermainkan agama dan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
    Lantas mereka meninggalkan kelanjutan kisah yang di sana terdapat bantahan atas kedustaan mereka –saya tidak katakan pendalilan mereka- yaitu perkataan Rasulullah Saw pada kejadian yang sama,
    “Dan saya bukannya mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram, akan tetapi demi Allah tidak akan bersatu anak Rasulullah SAW dengan anak musuh Allah disatu tempat selama-lamanya”
    Kedua lafal diatas diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim. Inilah Rasulullah Saw sang penyampai dari Allah Swt yang ucapannya adalah pembeda antara yang halal dan yang haram menegaskan dengan lafal arabi yang nyata pada kejadian yang penting yang berkaitan dengan orang yang paling dicintainya yaitu anaknya yang mulia As-Sayyidah Az-Zahra’ bahwa ia tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal, akan tetapi ia mengingkari apabila anaknya berkumpul dengan anak musuh Allah dibawah tanggungan seseorang.
    Menurut pemahamanku (penulis –pentj): Bahwa beliau Saw tidak melarang Ali RA menyatukan anaknya dengan anak Abu Jahl, dimana kapasitasnya sebagai seorang Rasul yang menyampaikan hukum syariat dari Rab-nya, hal ini berdasarkan dalil keterangan dari beliau sendiri bahwa ia tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram, akan tetapi beliau melarang sebagai larangan pribadi beliau sebagai kepala keluarga yang mana Ali RA adalah anak pamannya dan Fathimah anaknya, hal ini berdasarkan bahwa keluarga dari anak perempuan Abu Jahl yang datang kepada beliau meminta idzin kepada beliau dalam urusan yang diminta oleh Ali RA dari mereka. Dan perkataan kepala keluarga tidak disangkal lagi ditaati terlebih lagi apabila dia seorang pemuka Quraisy dan Arab bahkan pemuka sekalian manusia Saw.
    Tidak ada pada mereka sedikitpun pendalilan begitu pula kesungguhan mengikuti dalil dari Al Kitab maupun As-Sunnah. Tidak pula mereka dikatakan ahli dalam hal ini dan memiliki kemampuan. Akan tetapi yang ada pada mereka semata-mata hanyalah hawa kepada sesuatu tertentu yang mereka cari-cari alasan-alasannya yang terkadang hanya dilontarkan oleh orang jahil atau orang yang lalai.
    Bahkan pada goresan tulisan-tulisan mereka terdapat bukti yang menyingkap dan membongkar apa yang mereka sembunyikan dalam batin-batin mereka. Diantara contohnya bahwa ada seorang pejabat tinggi di salah satu departement pemerintahan di negeri kami, membuat tulisan yang mengesankan bahwa tulisan tersebut resmi dan dimuat di koran-koran sejak beberapa tahun yang lampau, dia memposisikan dirinya sebagai seorang mujtahid bukan hanya dalam syariat Islam semata bahkan dalam seluruh syariat dan hukum!! Diapun lancang dengan membuat perbandingan antara agama Islam -dalam perkara dimana syariat Islam menghalalkan poligami- dengan agama-agama lainnya!! Begitu pula (Islam dibanding-bandingkan –pentj) di sisi hukum dan undang-undang ummat-ummat paganis! Orang ini tidak punya malu sehingga mengunggulkan ajaran Nasrani yang mengharamkan poligami, begitu pula ajaran-ajaran kufur lainnya yang serupa bahkan perkataannya nyaris lugas menyatakan keutamaan ajaran-ajaran mereka dari ajaran Islam yang suci!!
    Orang ini lupa bahwa dengan perbuatannya tersebut berarti dia telah keluar dari agama Islam dengan kekufuran yang nyata, padahal dari namanya mengisyaratkan bahwa orang ini dilahirkan dalam keluarga muslimah. Ditambah lagi perkataannya yang menandakan jahilnya orang ini dengan agama Nasrani sehingga dia menetapkan keunggulan agama Nasrani dari ajaran Islam. Karena merupakan hal yang sangat diyakini dan tidak diragukan lagi bahwa Sayyiduna Isa As tidak mengharamkan poligami yang halal di dalam Taurat yang mana Isa As sendiri datang untuk membenarkan apa yang terdapat di dalam Taurat sebagaimana hal ini dimaklumi berdasarkan nash yang terdapat di dalam Al Qur’an. Akan tetapi yang mengharamkannya adalah sebagian pendeta-pendeta yang datang setelah Sayyiduna Isa As lebih dari delapan ratus tahun sesudahnya dengan pasti, yang dengannya mereka menjadikan untuk diri-diri mereka sendiri hak dalam menghalalkan dan mengharamkan. Dan hal inilah yang disesalkan oleh Allah Swt di dalam kitab-Nya yang mulia,
    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At-Taubah: 31)
    Yaitu ayat yang ditafsirkan oleh Rasululullah Saw ketika Adi bin Hatim At-Tha’i Radhyallahu ‘anhu –yang sebelumnya adalah penganut agama Nashrani dan kemudian memeluk Islam- minta kepada beliau tafsirannya, yaitu tatkala ia mendangar ayat ini seraya ia berkata kepada Rasulullah SAw, “Sesungguhnya mereka tidak menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib mereka? Maka Rasulullah Saw bersabda,
    “Tentu sesungguhnya mereka telah mengharamkan untuk ummatnya apa yang telah dihalalkan dan menghalalkan apa yang telah diharamkan, lantas mereka mengikuti perintah orang-orang alim dan rahib-rahib tersebut, itulah bentuk peribadahan mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib tersebut”
    Wahai ummat Islam jangan biarkan syaithan menyeret kalian dan jangan biarkan para pengikutnya dan orang-orang yang mengikuti para penyembah syaithan memperdaya kalian sehingga kalian meremehkan kekejian yang memang ingin mereka sebarluakan diantara kalian dan meremehkan kekufuran yang memang mereka ingin jerumuskan kalian ke dalamnya.
    Karena masalahnya bukan sekedar boleh atau tidak boleh, sebagaimana yang mereka samarkan kepada kalian. Melainkan ini adalah masalah aqidah, apakah kalian tetap kokoh di atas keislaman kalian dan di atas syari’at yang Allah Swt turunkan kepada kalian dan Dia perintahkan kalian untuk mentaatinya seperti apapun keadaan kalian? Atau kalian malah mencampakkannya -hanya kepada Allah kita mohon perlindungan- sehingga kalian kembali kepada panasnya kekufuran dan kalian bersiap-siap menerima kemurkaan Allah dan rasul-Nya? Inilah kondisi yang sebenarnya.
    Sesungguhnya mereka yang mengajak kalian kepada pelarangan poligami, mereka sendiri tidak merasa sungkan menggauli sekian banyak wanita-wanita genit dan perempuan-perempuan simpanan dan kondisi mereka yang seperti ini sudah bukan rahasia lagi. Bahkan sebagian mereka tidak malu-malu menanggalkan seragamnya dan membuang kotorannya di koran-koran dan tulisan, kemudian membela kebebasan berijtihad di dalam syari’at dan agama dan merendahkan Islam dan kaum muslimin.
    Sesunguhnya Allah tatkala ia menghalalkan poligami –dengan nash yang jelas di dalam Al Qur’an- Dia menghalalkannya di dalam syari’at-Nya sepanjang masa pada setiap zaman dan masa. Dan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi dan yang akan terjadi, tidak luput dari ilmunya Allah apa yang terjadi berupa peristiwa-peristiwa di zaman ini dan tidak pula apa yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang. Seandainya hukum ini akan berubah dengan berkembangnya zaman –seperti yang dituduhkan orang-orang yang menyelewengkan agama- tentu Dia akan jelaskan nashnya di dalam kitab-Nya atau melalui sunnah rasul-Nya,
    “Katakanlah (kepada mereka):”Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui seagala sesuatu”. (QS. Al Hujurat: 16)
    Dan Islam berlepas diri dari kependetaan dan kerahiban. Tidak seorang pun berhak menghapus hukum yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam kitab-Nya atau di dalam sunnah rasul-Nya Saw. Dan tidak seorang pun berhak mengharamkan sesuatu yang telah Allah halalkan dan tidak pula menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, tidak seorang khalifah, raja, presiden atau menteri. Bahkan semua ummat ini tidak berhak akan yang demikian apakan berdasarkan kesepakatan atau dengan perhitungan suara terbanyak. Yang wajib bagi mereka semua adalah tunduk kepada hukum Allah, dengar kata dan taat. Simaklah firman Allah Swt berikut,
    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 16: 116-117)
    Dan simak juga firman-Nya,
    “Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah:”Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. 10:59)
    Maka ketahuilah bahwa setiap orang yang mengupayakan diharamkannya poligami atau dilarang atau mengikatnya dengan syarat-syarat yang tidak ada landasannya di dalam Al Kitab dan As-Sunnah Sungguh dia telah membuat kedustaan atas nama Allah. Dan ketahuilah bahwa setiap orang akan menghisab dirinya masing-masing, hendaklah seseorang melihat kembali dimana dia akan dibangkitkan dan dimana dia akan ditempatkan. Sungguh tunai sudah kewajibanku, Alhamdulillah.

    Sumber: Umdatut-Tafsir (3/102), dinukil dan diterjemahkan dari kitab Fiqih Ta’addud Az-Zaujaat karya Asy-Syaikh Musthafa Al Adawi.

    Komentar oleh bung salih — Desember 8, 2006 @ 5:23 pm | Balas

  34. Dunia sekarang emang edan dan serba terbalik, dimana sesuatu yang diharamkan sudah dianggap bisa dan begitu juga sebaliknya. Begitulah prilaku sebagian besar manusia, maka oleh sebab itu benarlah apa yang telah disabdakan oleh Baginda RASULULAH yang menyatakan: ” sedikit sekali manusia yang selamat, perbandingannya ibarat seekor kerbau yang berbulu hitam yang mana pada bulu2 hitam tsb ada beberapa helai bulu putih (orang yg selamat) “.
    Coba kita merenung, siapa yang menciptaka jagad raya yang sangat teratur/rapi ini. Sangat tidak logis apabila Sang Pencipta membuat suatu tatanan untuk manusia justru malah akan merendahkan martabat/ menghancurkan manusia itu. sendiri. DIA yang menciptakan sesuatu tentu DIA pulalah yang lebih mengetahui segala sesuatu yang berlaku dan yang dibutuhkan oleh yang diciptakannya tersebut. Karena kecendrungan sipat manusia berbuat kerusakan dalam arti mennyeluruh,maka diturunkan-Nya-lah Al-Quran sebgai pedoman dan juknisnya adalah diri Rasulullah.
    Buat rekan2 yang pro /kontra mengenai poligami, silakan berkomentar itu hak anda. Dan semua komentar anda itu baik yang pro maupun yang kontra benar. Karena memang begitulah pemahaman rekan2 saat ini,untuk itu marilah kita sama2 meningkatkan ilmu dana pemahaman mengenai islam agar kita islam secara menyeluruh.

    Komentar oleh siti — Desember 9, 2006 @ 2:36 pm | Balas

  35. Assalamu Alaikum
    Saya pelaku Poligami dengan 2 Istri. Usia saya saat ini 33 Tahun dengan Istri yang tak sampai 30 tahun.
    Daripada anda sekalian banyak berdebat, yang ingin diskusi secara sehat dan bersilaturrahim hubungi saja email saya Terima Kasih…

    Komentar oleh Abu Kamilah — Desember 10, 2006 @ 4:24 pm | Balas

  36. Allah memang maha adil, melihat sikap dan respon pemerintah dan -juga- sebagian masyarakat yang memiliki standar ganda terhadap poligami (kasus Aa Gym) dan zina (kasus YZ) semakin memperjelas kepada kita bahwa sebagian masyarakat dan -parahnya- pemerintah dari sebuah negara berpenduduk muslim terbesar didunia ini TIDAK PUNYA STANDAR MORAL YANG JELAS !!! Pantas bencana ada dimana-mana. seperti kata Ebiet : “tanyakan sama rumput yang bergoyang” (orang2 yang senantiasa berdzikir kepada Allah). SBY…SBY.. nyesel gw pilih lo !!!!

    Komentar oleh Mahdar Hidayatullah — Desember 10, 2006 @ 6:57 pm | Balas

  37. Dengan adanya perbedaan pendapat ini saya pada khususnya semakin sadar bahwa pengetahuan agama yang kita miliki sangatlah terbatas,kenapa kita tidak mulai belajar mendalami ilmu agama ,Cukuplah kita caci mencaci,maki memaki yang justru akan mengeraskan hati dan kita tidak akan mendapatkan ilmu yang benar, Mari kita kaji dengan hati yang IKHLAS serta Berserah diri kepada aturan Allah,Karena Sesengguhnya kesesatan akan menjadi muara utama bagi kita yang kurang akan ilmu agama.semoga dengan adanya perbedaan pendapat ini umat muslim semakin sadar akan pentingnya ilmu agama dalam menjalani kehidupan didunia.Cobalah ber Tauhid dan hanya kepadaNYAlah segala sesuatu disandarankan insyaALLAH KITA AKAN MENDAPATKAN KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT..

    Komentar oleh Moiz — Desember 11, 2006 @ 12:24 pm | Balas

  38. Saya gak akan bicara tentang data statistik (baca : demografi) tentang jumlah laki2 dan perempuan. Tidak juga membandingkan antara poligami dan kasus YZ & ME (yang kebetulan kasus ini yang terungkap di publik.). Tapi saya ingin mengajak kita untuk melihat isu ini dari sisi yang lain. Jadi tergantung dari mana kita memandang isu ini.
    Memang diakui bahwa mungkin poligami “menyakitkan” bagi sebagian kalangan. Tapi cobalah untuk melihat dari sisi lain. Bagaimana dengan perempuan2 muslim yang “gelisah” ketika jodoh tak kunjung datang disaat usia sudah semakin “menunjuk angka jam 12” (karena keterbatasan keindahan fisik, dll) padahal mereka adalah muslimah2 potensial dalam berdakwah, bagaimana dengan janda2, para wanita baik2 yang menjadi korban pelecehan seksual (maaf… ) yang diemohi oleh laki2 yang mengagungkan keperawanan (mayoritas laki2 kayak gitu kan…?), wanita2 yang mempunyai ketidaksempurnaan fisik dari sisi medis, dll. BAgaimana kalo kita yang mengalami “kegelisahan dan ketidak berdayaan” itu???
    Kalo menurut saya, review lagi deh tentang motivasi berpoligami. Kalo cuman sebatas mengejar kepuasan seksual, dijamin angka 4 yang sudah diturunkan dari langit tidak pernah akan menjawab kebutuhan kepuasan seksual. Tapi kalo motivasinya adalah menjawab permasalahan “ketidakberdayaan”, kenapa enggak…? Save them. Lindungi mereka. Muliakan mereka. Dan jangan pernah berbuat aniaya kepada mereka.
    (tapi apakah kita termasuk orang yang dipandang Allah mampu melakukannya? )
    Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam hidup ini sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dalam mengejawantahkan konsep hidup bermartabat yang telah Allah gariskan dan yang telah Rasulullah teladankan. Amiiin….

    Komentar oleh bagus — Desember 12, 2006 @ 1:17 pm | Balas

  39. Saya gak akan bicara tentang data statistik (baca : demografi) tentang jumlah laki2 dan perempuan. Tidak juga membandingkan antara poligami dan kasus YZ & ME (yang kebetulan kasus ini yang terungkap di publik.). Tapi saya ingin mengajak kita untuk melihat isu ini dari sisi yang lain. Jadi tergantung dari mana kita memandang isu ini.
    Memang diakui bahwa mungkin poligami “menyakitkan” bagi sebagian kalangan. Tapi cobalah untuk melihat dari sisi lain. Bagaimana dengan perempuan2 muslim yang “gelisah” ketika jodoh tak kunjung datang disaat usia sudah semakin “menunjuk angka jam 12” (karena keterbatasan keindahan fisik, dll) padahal mereka adalah muslimah2 potensial dalam berdakwah, bagaimana dengan janda2, para wanita baik2 yang menjadi korban pelecehan seksual (maaf… ) yang diemohi oleh laki2 yang mengagungkan keperawanan (mayoritas laki2 kayak gitu kan…?), wanita2 yang mempunyai ketidaksempurnaan fisik dari sisi medis, dll. BAgaimana kalo kita yang mengalami “kegelisahan dan ketidak berdayaan” itu???
    Kalo menurut saya, review lagi deh tentang motivasi berpoligami. Kalo cuman sebatas mengejar kepuasan seksual, dijamin angka 4 yang sudah diturunkan dari langit tidak pernah akan menjawab kebutuhan kepuasan seksual. Tapi kalo motivasinya adalah menjawab permasalahan “ketidakberdayaan”, kenapa enggak…? Save them. Lindungi mereka. Muliakan mereka. Dan jangan pernah berbuat aniaya kepada mereka.
    (tapi apakah kita termasuk orang yang dipandang Allah mampu melakukannya? )
    Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam hidup ini sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dalam mengejawantahkan konsep hidup bermartabat yang telah Allah gariskan dan yang telah Rasulullah teladankan. Amiiin….

    Komentar oleh bagus — Desember 12, 2006 @ 1:18 pm | Balas

  40. POLIGAMI DALAM QURAN ITU BERADA DALAM KONTEKS “PERLINDUNGAN SOSIAL” BAGI PARA WANITA : Wanita yatim dilindungi hartanya dari ‘keinginan’ wali untuk menguasai hartanya.
    Poligami bukan berlandaskan pada kelebihan laki-laki dalam hubungan seksual SEMATA, tetapi JUGA pada kelebihan laki-laki untuk mencukupi kebutuhan harian dan sebagai ‘pendidik dan pemimpin’ dalam keluarga utuh.
    Jadi, janda-janda ditinggal mati yang tidak cantik, punya tanggungan anak, miskin, adalah wajib dinikahi untuk memberi perlindungan moral dan material. Istri pertama tidak boleh egois, kekayaan suami hanya dipakai untuk bersenang-senang sendirian.
    Andai saya kaya, istri saya pasti memperbolehkanku untuk menikahi janda tak cantik, miskin lagi punya anak yatim.

    Komentar oleh Hanif — Desember 13, 2006 @ 11:36 am | Balas

  41. assalamu’alaikum……..
    aneh memang, jika kita lihat di baik kontroversi ini ada fakta yang terlihat. Poligami sudah diatur dalam agama, orang berhak meyakini ajaran agama masing-msing. tapi yang terjadi kenapa sampai pemerintah turut campur pada urusan pribadi seseorang. dan masih banyak yang memperdebatkan kasus poligami ini menunjukkan sangat rendahnya pemahaman sebagian masyarakat terhadap ajaran agama yang dianutnya.setuju atau tidak pada poligam? jawabnya setuju, namun mau dipoligami atau tidak itu urusan pribadi masing-masing. so, gak usah debat!

    Komentar oleh nn — Desember 16, 2006 @ 2:51 pm | Balas

  42. semudah itukah meniru sunnah Rasul?…
    sementara sunnah yang jelas2 mudah saja masih sering susah (tidak mau) kita lakukan?…
    logika manusia…yang sederhana saja…
    yang mudah saja susah bahkan menolak dengan alasan susah…
    lalu…kenapa yang susah malah dicari…?
    kalo mau jujur…
    alasan orang berpoligami sekarang kurang lebih gak jauh dari urusan syahwat…koreksi kalo salah…
    tapi…jujur aja deh…
    mana ada lelaki jaman sekarang yang akhlaknya selevel Rasulullah?…dan maaf…mana ada juga wanita jaman sekarang yang akhlaknya selevel istri2 Rasulullah? yang nota bene ikhlas dimadu? dengan alasan karena ALLAH?…
    so…polygami for this time…cuma pelegalan tuk sekedar hindari slingkuh…
    kalo mo menghindar slingkuh…benahi tu otak..bukan dengan hancurin perasaan istri…

    terkesan apriori ya? mungkin…
    tapi kita renungkan deh…
    seorang istri yang dah nemenin kita dari masih sama2 miskin…sampe nglahirin banyak anak dan tetep setia..setelah kehidupan mapan…hanyalah dimadu dan diduakan imbalan yang didapat dari suami..? itu adil?…wallaualam…

    kalo mo ngikur sunnah rasul…sepertinya masih banyak sunnah rasul yang bisa dan gampang kita laksanakan..sekaligus tanpa harus nyakitin istri kita yang dah sangant setia kepada kita…

    Komentar oleh al_gasstot — Januari 3, 2007 @ 11:21 pm | Balas

  43. o ya…
    satu lagi…
    buat pemilik blog…?
    anda pernah ngrasain di-poligami-kan?
    ato merencanakan?
    kalo sudah dan merasakan barokahnya..alhamdulillah…brarti anda termasuk dalam orang2 yang cukup berhasil melaksanakan sunnah rosul…
    kalo belum…maaf…mungkin dukungan anda terhadap poligami akan menyakitkan banyak wanita…baik yang sudah jadi korban…ato yang belum…

    Komentar oleh al_gasstot — Januari 3, 2007 @ 11:28 pm | Balas

  44. kenapa tidak ada yang mengomentari #26 ya ?🙂

    Komentar oleh starchie — Januari 7, 2007 @ 7:46 am | Balas

  45. #45 Yang salah bukan poligaminya, tapi pelakunya. Seperti halnya dengan banyak keluarga yg anak2nya broken home yg melakukan pernikahan biasa. Pernikahan bukan hal yang salah kan ?

    Komentar oleh adhi nugraha — Januari 8, 2007 @ 11:59 am | Balas

  46. mo gak mo,orang Islam hrs mo poligami,kan udah syariahnya.Poligami kan juga sunnah Rasul tuh.Tapi laki2 jangan mo nglaksanain sunnah yang poligami doank donk.Puasa, sholat, ibadah yang laen ogah,poligaminya mau’

    Komentar oleh neni — Januari 14, 2007 @ 3:09 pm | Balas

  47. untuk mbak/mas yang nulis blog ni..silahkan berkoar2 tentang indahnya poligami..mudah2an anda dan seluruh keturunan perempuan anda dipoligami…dan mudah2an mereka semua adalah istri per-1 yang mendampingi suami dari miskin sampe berhasil..trus suaminya kawin lagi,karna poligami sunnah…Amin Ya Robbal Alamin….Trus..sapa yang bilang kami para aktivis wanita mendukung Play Boy????
    mang kami kurang kerjaan pa??

    Komentar oleh Lisa — Januari 20, 2007 @ 8:34 pm | Balas

  48. yang tentang polygami,,, oranny kurang berilmu tu…. jangan hanya nentang dan tidak setuju kalau belum tau ilmunya… belajar dulu deh

    Komentar oleh harikasidi — Februari 1, 2007 @ 1:42 pm | Balas

  49. Allah maha tau dan maha mengerti kemampuan hambanya. Tidak akan memberi beban di luar kemampuan. Poligami bukan anjuran, tetapi merupakan suatu solusi atas suatu permasalahan. Seperti pesawat terbang, perlu disiapkan pintu darurat, tetapi tidak boleh dipakai bila tidak darurat. Sekarang kedaruratan seseorang untuk poligami ada bermacam-macam, kalo mengenai ketidak mampuan istri sudah banyak kita ketahui. Namun kalo kedaruratan karena yang laen, seperti seorang pria yang mapan dan memiliki harta yang cukup, takut tergoda untuk berzina…atau ada seorang pria yang ‘agak playboy’ dan sebagainya.
    Allah memberikan nafsu bukan untuk dikekang dan bukan pula untuk di umbar sembarangan, tetapi disalurkan sesuai ajarannya. Islam tidak mewajibkan untuk poligami, tapi juga tidak melarang, Islam mengaturnya. Saya termasuk mempunyai rencana poligami, tapi saya sedang menata hati dan mohon petunjuk Allah, sudah saatnyakah saya poligami ????

    Komentar oleh purwono — Februari 15, 2007 @ 5:16 pm | Balas

  50. keren ternyata bener kalo perbedaan itu membuat dunia menjadi indah tanpa perbedaan dunia sepi ya

    Komentar oleh nik — Februari 23, 2007 @ 10:53 am | Balas

  51. Ya ALLAH berilah kekuatan Iman bagi hamba-MU yang berjuang menegakkan ISLAM
    Ya ALLAH bukalah mata hati makhluk-MU yang menghinakan Ayat-Ayat MU

    Maha Suci ENGKAU
    Segala Puji hanyalah untuk MU

    Komentar oleh Heroe Bojonggede — Maret 3, 2007 @ 1:57 pm | Balas

  52. loh..??jelas2 poligami itu melecehkan perempuan..

    yang cowok kan enak..iya lah orang nabi muhammad cowok..

    coba cewek?? beda kan pasti..

    apalagi itu jaman dulu..jaman bahulak di mana hak2 perempuan masih terbatas..

    sekarang?? ya jelas udah gak relevan..

    kalo masalah playboy..kenapa yang dilarang berpakaian aneh2 cuma cewek..sedangklabn cowok gag??

    wah..itu bias gender namanya.
    kalo RA Kartini tau bisa gawat mas..

    sekarang udah jaman kebebasan mas..laki-perempuan udah bebas menentukan pilihannya..

    masalah moral biar pribadi masing2 yang ngurus…

    Komentar oleh amrino — April 10, 2007 @ 11:50 am | Balas

  53. memang selama ini jarang bisa dipisahkan arti poligami, nikah, zinah, dan selingkuh. seandainya masyarakat bisa membedakannya dengan jelas. mungkin lebih enak nanggapinya. yang jelas anti plyboy

    Komentar oleh Aunur Rohman — April 16, 2007 @ 3:10 pm | Balas

  54. hapus plyboy

    Komentar oleh Aunur Rohman — April 16, 2007 @ 3:11 pm | Balas

  55. Alloh SWT ciptakan dunia seisinya, termasuk manusia, diikuti dengan atuan-aturannya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Kalau kita ikuti aturan itu dengan seksama, saya yakin para wanita akan ikhlash jika di poligami asal moligaminya juga mengikuti aturan-aturan Alloh SWT. Yang tidak setuju boleh aja, semoga Alloh SWT. kasih hidayah pada mereka yang tidak setuju. Seandainya saya mau ngomong kasar, maka saya akan bilang bahwa yang tidak setuju itu karena mereka bodoh dan mengaku pinter. Tapi saya tidak mau katakan itu.

    Komentar oleh 'ABDILLAH — April 17, 2007 @ 5:46 pm | Balas

  56. Saya salut dengan komentar pak ‘abdillah. boleh ikuti jalan fatwa tapi jangan sampai keluar dari jalan taqwa. yang penting, setiap langkah kita kita ukur aja dengan qur’an dan hadits, boleh nggak oleh Alloh SWT. via Qur’an dan juga oleh Rosullulloh via Hadits.

    Komentar oleh 'ABDUL HASAN — April 17, 2007 @ 5:51 pm | Balas

  57. hukum poligami adalah “jaiz” jadi coba belajar lagi y

    Komentar oleh s_anoa — April 19, 2007 @ 11:13 am | Balas

  58. Poligami atas nama Alloh dan nafsu, membuat para kyai, ulama dan tokoh muslim lainnya menjadi cabul. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

    Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

    Komentar oleh Saleh Aziz — Juni 12, 2007 @ 9:07 pm | Balas

  59. POLIGAMI ADALAH BUDAYA TRIBAL

    Poligami merupakan sebuah wacana yang cukup kontroversial
    di kalangan ummat Islam.Kontroversial karena penafsiran terhadap
    surah An Nisa ayat 3 yang menjadi dalil argumentasi yang membenarkan
    poligami didominasi oleh penafsiran yang bias kelaki-lakian dimana
    perempuan / istri yang dimadu hanya dijadikan obyek pasif yang tidak
    memiliki hak apa-apa.Bahkan dalam wacana-wacana kelompok radikal
    Islam , penolakan seorang istri terhadap keinginan suaminya untuk
    menikah lagi dianggap sebagai bentuk kedurhakaan bahkan dianggap
    sebagai bentuk penentangan terhadap hukum Allah.

    Makna adil seperti yang disyaratkan dalam ayat tersebut pun direduksi
    sedemikian rupa sehingga dianggap hanya keadilan jasmaniyah seperti
    makan , minum , pergiliran dll , padahal penafsiran ini tidaklah didukung
    satu nash pun , bahkan Allah s.w.t sendiri berfirman dalam ayat 129
    dalam surah yang sama “wa lan tastathii’uu an ta’diluu bainannisaa-i
    walau harastum” (dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil
    diantara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian) ,
    tetapi ayat ini terkesan disembunyikan oleh kalangan yang mendukung
    wacana pro poligami.

    Akan tetapi dalam tulisan ini kami tidak menyorot masalah makna adil
    ataupun nash-nash mengenai poligami akan tetapi akan lebih menyoroti
    masalah poligami dari sisi kultur / budaya masyarakat Arab waktu itu
    dan melihat benarkan praktek poligami ini ajaran agama atau cuma
    produk budaya yang ditutupi dalih agama.

    Poligami sebetulnya merupakan praktek yang banyak dilakukan oleh
    bangsa-bangsa di dunia , di timur ataupun di barat , di lingkungan
    masyarakat yang beradab ataupun yang terbelakang , jadi bukanlah
    sebuah praktek yang dimonopoli Islam , praktek poligami pun sempat
    di legalkan di lingkungan agama Katholik sebelum dihapuskan oleh
    Paus Leo XIII pada tahun 1866.

    Bila kita sedikit teliti melihat kultur suatu bangsa maka kita bisa melihat
    bagaimana praktek poligami ini melekat pada ciri khas bangsa itu.Praktek
    poligami biasanya dilakukan secara luas di lingkungan masyarakat suku
    (tribal) , baik yang hidupnya menetap atau berpindah-pindah dan hidup
    di lingkungan yang keras serta sering terjadi perang antar suku.

    Sementara di lingkungan masyarakat negara bangsa , yang penduduknya
    hidup menetap dan dilengkapi aturan sebagaimana layaknya sebuah negara
    dan relatif aman dan makmur serta masyarakatnya hidup dari hasil tanah
    negri itu seperti bangsa China , Romawi , Persia dsb praktek poligami
    hanya dilakukan secara terbatas terutama di kalangan yang memiliki
    akses kekuasaan dan kekayaan tapi tidak di lingkungan masyarakat
    kebanyakan.Praktek poligami dalam bangsa seperti ini biasanya lebih
    didorong oleh nafsu dimana perempuan ditempatkan dalam posisi sebagai
    alat atau obyek untuk bersenang-senang.

    Masyarakat Arab pada masa Nabi s.a.w merupakan masyarakat suku
    (tribal) , suku-suku di Arab pada waktu itu saling berperang satu sama
    lain biasanya didorong oleh perebutan lahan penggembalaan atau sumber
    air.Dalam perang antar suku ini pihak yang kalah biasanya akan dimusnahkan ,
    semua laki-lakinya dibunuh dan perempuannya ditawan sebagai pampasan
    perang untuk dijadikan budak atau diperistri.Posisi perempuan dalam
    lingkungan masyarakat seperti ini dianggap tidak ubahnya sebagai barang .
    Sehingga tidak mengherankan kalau praktek poligami banyak dilakukan di
    masyarakat seperti ini.

    Selain itu praktek poligami bagi masyarakat suku / tribal juga dipandang
    sebagai sebuah kebutuhan , para pria suku biasanya sering berpergian
    dalam jangka waktu yang lama , misal untuk berburu , menggembala
    ternak , berdagang ke negri yang jauh ataupun berperang.Sehingga
    keberadaan istri yang banyak bisa membantu tugas-tugas rumah tangga
    dan urusan nafkah keluarga ketika ditinggalkan juga berfungsi untuk
    saling menjaga dan memberi perlindungan antar anggota keluarga selama
    ditinggalkan , dalam hal ini bisa disamakan dengan kedudukan singa
    betina dalam komunitas atau kawanan singa.

    Dalam konteks inilah dapat dimengerti kenapa Nabi dan para sahabat
    banyak yang berpoligami sementara kakek-kakek kita di Indonesia
    jarang yang berpoligami.Perbedaan konteks budaya kita dan Arab
    pada masa lampau mempengaruhi pandangan mengenai poligami ini ,
    jadi argumen sebagian pihak yang memakai dalil berpoligaminya
    Nabi dan para sahabat sebagai dalih untuk membenarkan , menganjurkan
    bahkan mewajibkan poligami dengan alasan sunnah nabi tidak dapat
    diterima .

    Apabila kita melihat lebih teliti lagi golongan Muhajirrin lebih banyak yang
    berpoligami dibandingkan golongan Anshar , karena golongan mujahirrin
    yang berasal dari Mekkah biasanya mengandalkan kehidupannya dari
    berdagang atau menggembala ternak berbeda dengan golongan anshar
    yang lebih banyak bercocok tanam.Karena itulah ketika Rasulullah s.a.w
    tiba di Medinah yang pertama dibangunnya adalah pasar untuk menyediakan
    sarana penghidupan bagi kalangan muhajirrin.

    Dari uraian ini nampak jelaslah bahwa praktek poligami yang dilakukan
    para sahabat lebih dipengaruhi oleh adat kebiasaan setempat yang dipengaruhi
    oleh konteks lingkungan pada masa itu.Turunnya ayat mengenai poligami
    yang pada dasarnya lebih berhubungan dengan masalah pemeliharaan anak yatim
    , sebetulnya lebih pada pembatasan poligami , dari tidak ada batas menjadi
    dibatasi 4 istri , dari tanpa syarat menjadi bersyarat adil , jadi ketika
    ada sebagian pihak yang memutarbalikkannya menjadi ajaran Islam untuk
    memperbanyak istri dengan membuang bagian awal ayat (An Nisa’ : 3) ,
    mereduksi makna adil dengan tidak memperhatikan peringatan Allah dalam
    surah An Nisa : 129 , bahkan menganjurkannya dengan alasan sunnah Nabi
    dan para sahabat tanpa memperhatikan konteks pada waktu itu , sesungguhnya
    orang itu bukanlah membawa dalil poligami melainkan menggunakan agama
    sebagai dalih untuk berpoligami.

    Komentar oleh Saleh Aziz — Juni 13, 2007 @ 3:21 am | Balas

  60. 5. MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?
    March 19th, 2007 by hatinurani21

    Pengantar
    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).
    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!
    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

    Sumbangan dari Forum Religiositas Agama
    di Yogyakarta dan Bali

    Komentar oleh B Ali — Agustus 11, 2007 @ 12:17 am | Balas

  61. Di situs ini, saya menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan hati saya. Ini website-nya: http://agamarasional234.blogsource.com/

    Dalam artikel tsb, inilah salah satu yang dipaparkan:

    13. Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).


    hal yg sudah basi…standar musuh Islam dalam menyerang Islam…saya tidak akan komentari, hanya buang waktu dan tenaga..

    Komentar oleh Saleh Aziz — Agustus 23, 2007 @ 3:47 am | Balas

  62. Menurut Al-Qur’an, siapa saja musuh-musuh Islam?

    Komentar oleh Saleh Aziz — Agustus 23, 2007 @ 4:25 pm | Balas

  63. @Saleh Aziz dkk

    Siapa penyebar agama Nasrani di Indonesia dan seluruh dunia??? Inggris, Portugis, Belanda dkk. Apakah mereka menyebarkannya dengan KASIH..??? Manusiawikah???….aaaah yg bener.
    Apakah itu hanya terjadi zaman dulu saja??? nggak juga tuh…Irak, Afganistan dll, rencana selanjutnya Iran.
    Adakah ajaran atau sekolah yg tegas2 menghina seorang pemimpin agama terbesar Islam dgn memasang plakat disekolahnya yg isinya menghina??? Ada, di sekolah2 misionaris barat sana, ada yg buat kartun2 joroknya lagi.
    Umat Islam pernah menghina Yesus??? Ndak pernah lah ya
    Apakah Islam yang bisa menjelaskan secara rinci tentang kisah Yesus (Isa Al Masih) dan juga dihormati (Umat Islam) dan diakui oleh juga nasrani??? BETUUUL….

    Kenapa agama2 terbesar asal-muasalnya terlahir di Timur Tengah??? Karena dulu banyaknya org2 biadab dan tak beradab banyak disana jadi banyak firmanpun turun disana termasuk nasrani to..!!!

    Katanya Islam terlahir waktu Jaman Tribal, loh katanya sudah terlahir Si Juru Selamat padahal jauh sebelum Nabi Muhammad yang dikejar-kejar dan akhirnya terbunuh dan yg bunuh ongkang2 kaki dan lenggan kangkung itu JAMAN APA YA???

    Apakah hanya wanita Islam (salah satu contoh yg katanya budaya Arab) yg cuma pake kerudung ato Jilbab??? loh Bunda Maria dan Suster2 katolik zaman sekarang kayaknya pake kerudung deh..!!!🙂

    Kita bergantung sama anjing…??? satu RT tempat saya tinggal gak ada yg pelihara anjing aman-aman aja tuh..!!!

    Kita tahu siapa atau kelompok atau negara mana yg dari dulu hingga sekarang sering memaksakan kepercayaannya dan tidak suka dengan kejayaan dan kemajuan Islam.

    Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 191 tercantum kalimat “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya “DAN FITNAH ITU LEBIH SANGAT (DOSANYA) DARIPADA PEMBUNUHAN..”.

    Inilah bahayanya FITNAH….. FITNAH bisa mematikan karakter seseorang dan membuat mati perlahan keluarga hingga banyak orang. Maka berhati-hatilah…

    Komentar oleh Dejavu — September 4, 2007 @ 11:35 am | Balas

  64. Wah. Jelas mereka ga setuju poligami. Islam saja tidak setuju dengan poligami yang terjadi pada masa jahiliah, oleh karena itu islam datang dengan gaya radikal membatasi poligami hanya sampai empat saja dan lebih jauh lagi, HARUS ADIL. Cita-cita luhur dari poligami yang sudah diperketat ini supaya nantinya secara gradual akan hilang sama sekali. Kasusnya kaya khamer dan perbudakan, larangan ga turun langsung selesai, tapi bertahap.

    Komentar oleh Yudyth Bastian — Oktober 24, 2007 @ 8:34 am | Balas

  65. Nabi Muhammad menjalani perkawinan monogami yang bahagia kurang lebih 28 tahun dengan Siti Khatidjah. Dan perkawinan poligaminya cuma kurang lebih 6 tahun dengan banyak istri. Kalau mau sunnah Rasul, ikuti perkawinan monogaminya! Yang terjadi sekarang poligami cuma pembenaran untuk laki-laki yang suka naruh sembarangan burungnya. Kalau Anda bilang laki-laki muslim ada yang menolak poligami dan Anda mempertanyakan lagi kemuslimannya, saya tanya, emang Anda? Biar Tuhan yang menilai, dia punya jalannya sendiri, argumen Anda dangkal, karena ga semua pria punya keinginan untuk memperlakukan istri bak mainan yang sewaktu-waktu bosen, ganti. Inti dari perkawinan itu untuk menjalani kehidupan bersama, SUKA MAUPUN DUKA. Kalau istrinya sakit, ya jangan ditinggal. Emang suami mau ditinggal istri kalau suami sakit? Kalau ga punya anak trus kawin lagi, itu lebih ga adil lagi, perempuan yang dinikahi kemudian, cuma jadi mesin pembuat anak, dia ga diperlakukan seperti istri seharusnya. BAH. Baca AlQuran sepotong-potong…

    Komentar oleh Yudyth Bastian — Oktober 24, 2007 @ 8:50 am | Balas

  66. Siapapun orangnya yang negajarkan poligami itu boleh n halal, pastilah orang itu gak beres jiwanya!Siapapun orangnya yang bersedia di poligami pasti juga gak beres jiwanya.Jadi pelaku2 poligami pastilah orang2 yang gak normal….parahnya, ada agama yang membolehkan poligami,betapa kacaunya agama ini!

    Komentar oleh krisso — Januari 27, 2008 @ 6:53 am | Balas

  67. Ajaran poligami adalah ajaran yang absurd dan tidak relavan lagi untuk konteks sekarang ini.

    Mana ada Tuhan yang mengeluarkan aturan yang menyakiti sebagian dari umatnya?

    Mana ada Tuhan yang mengeluarkan aturan yang hanya menguntungkan pihak tertentu (dalam hal ini laki-laki)?

    Semuanya itu adalah hasil interpretasi laki-laki waktu itu (jaman jahiliyah). Sayangnya umat muslim mempergunakan kesempatan ini tanpa menyadari bahwa sikap yang demikian adalah sanyat tidak relevan lagi.

    Komentar oleh mukmin — Februari 14, 2008 @ 12:32 pm | Balas

  68. Quran dulu dibuat waktu jaman perang. Ayat-ayatnya hanya berlaku untuk situasi saat itu.
    Cilakanya, orang-orang yang membuat ayat-ayat Quran itu tidak memikirkan bahwa kehidupan manusia dan tata sosial masyarakat selalu berubah.

    Hasilnya, disamping ayat-ayat quran mengandung banyak kesalahan tata bahasa, ayat-ayat ini makin tidak relevan untuk kehidupan umat.

    Jadi musuh utama bagi Quran adalah WAKTU.

    Komentar oleh resist — Maret 24, 2008 @ 1:50 pm | Balas

  69. Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.

    Komentar oleh Khairun Abubaker — April 9, 2008 @ 5:29 pm | Balas

  70. Assalaamu’alaikum
    mas, tulisanya boleh tak copy, biar bermanfaat bagi yang lain

    Komentar oleh hangga — April 16, 2008 @ 1:34 pm | Balas

  71. @ hangga,
    Saya tidak mengerti kepada siapa anda bertanya.
    Yang jelas, apa yang saya tulis bisa disebarkan supaya bermanfaat bagi yang lain.
    Terima kasih,

    Komentar oleh Khairun Abubaker — April 18, 2008 @ 5:44 pm | Balas

  72. bismillah.dibalik 1 kejadian ada hikmah tersimpan didalamnya.bersyukurlah pada allah.barang siapa yang tidak poligami,kami juga tak ingin menyakiti hati istri,atau anak yang kita cintai..tapi jalan hidup,seseorang sesungguhnya allah telah mengaturnya..se detil2nya..oleh karena itu mintalah selalu petunjuk darinya.agar kita dijauhi dari godaan syaitan..dan jadikanlah allah teman curhat yang paling mantap….wassalam….

    Komentar oleh baday — April 19, 2008 @ 3:08 am | Balas

  73. hay wanita….kalau gak terima dipoligami…tukar aja dah kelaminnya..sekalian aja.bilang allah tidak adil…terima tidak terima…knapa anda diciptakan allah sbg wanita….renungkanlah…wassalam…

    Komentar oleh baday — April 19, 2008 @ 3:13 am | Balas

  74. Saya sangat setuju dengan baday.

    Poligami dihalalkan dalam Islam. Kenapa orang pada repot-repot? Orang-orang yang menolak kehalalan poligami adalah orang-orang yang kafir. Mereka akan pasti tidak masuk surga. Mereka masuk neraka dengan api yang membara.

    Untunglah kita lahir sebagai laki-laki muslim. Kita sudah dijamin masuk surga dengan menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kita akan dikelilingi oleh banyak bidadari di surga.

    Yang penting kita di akherat nanti. Para bidadari sedang menunggu laki-laki muslim. Wanita-wanita di dunia semuanya tidak ada nilainya. Dipoligami saja mereka. Kalau ada wanita yang berani macam-macam di ranjang, kita pukul saja mereka seperti yang disarankan oleh kitab suci Al-qur’an. Yang penting memukul wanita adalah dihalalkan oleh kitab suci Al-Qur’an.

    Orang-orang yang mengeritik poligami adalah orang-orang kafir yang iri hati melihat keuntungan yang diberikan oleh Allah kepada laki-laki muslim. Itu kesalahan mereka sendiri. Mereka sakit hati melihat kita laki-laki muslim diuntungkan oleh Allah. Kenapa tidak pilih saja agama yang menguntungkan laki-laki? Wanita jangan terlalu dihargai. Wanita adalah sampah dunia. Makanya Al-Qur’an menetapkan bahwa laki-laki muslim saja yang akan dikelilingi bidadari di surga. Sedangkan wanita akan tidak mendapatkan apa-apa di surga. Itupun kalau mereka berhak masuk surga.

    Inilah keunggulan kita menjadi muslim laki-laki.
    Allahu Akbar !

    Komentar oleh Solihin — April 20, 2008 @ 9:01 pm | Balas

  75. hai..kaum berfikir ataupun yang tidak…
    gak usah ngebahas masalah ini lagi deh!!!
    kl mo ngomong simpan aja sendiri!!! itu urusan kalian masing2. Bagi kalian para Muslim, ajaran Rasulullah SAW itu tidak pernah salah. dan bagi kalian yang meragukannya, siap2 tidak dapat syafaat dari Rasulullah SAW dan silakan pikirkan kembali ke ISLAMAN KALIAN…
    Bagi non muslim, urusi saja urusan kalian sendiri, tidak usah campuri urusan muslimin. Toh tidak ada manfaat dan faedahnya kalian mencampuri urusan muslimin.

    Komentar oleh wibowo — Mei 7, 2008 @ 4:02 pm | Balas

  76. LAGI-LAGI OKNUM POLISI YANG DI FPI MELAKUKAN KEBRINGASAN

    Wah ! Lagi terjadi kekerasan a la jaman kegelapan.

    Seharusnya bukan FPI yang dilarang di Indonesia, malah Islam seharusnya dilarang di Nusantara karena idiologi ini hanya menyulut kebencian dan membuat keonaran, kerusuhan, anarki yang membuat masyarakat Indonesia resah.

    Komentar oleh Rustan Zali — Juni 2, 2008 @ 2:05 pm | Balas

  77. Poligami adalah aturan barbar. Akal-akalan laki-laki di Timur Tengah waktu jaman jahiliyah. Bagi orang yang pernah ke Timur Tengah baru bisa melihat budaya Arab yang sebenarnya. Kebudayaan Nusantara jauh lebih tinggi dan lebih luhur dari budaya Arab yang bejat itu.

    Di Eropah, seseorang yang marah dengan seorang temannya lazim berkata: “Kamu ini kerjanya seperti orang Arab saja.” Ini artinya bahwa temannya itu kerjanya jelek, tidak teratur, bodoh, lugu, dsb.

    Jadi kata “Arab” itu konotasinya bodoh, lugu, tidak teratur, bego, tidak tepat waktu, semrawutan, barbar dan hal-hal yang negatif lainnya.

    Sayangnya di Indonesia, kita saat ini kesurupan budaya Arab. Tidak mengherankan kenapa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis multi-dimensi, dalam keadaan porak-poranda.

    Komentar oleh Zulfiki Bin Taha — Agustus 7, 2008 @ 4:49 pm | Balas

  78. Katakan kepada kaum hawa alias wadon, jika wanita-wanita tersebut kurang setuju dengan poligami suruh mereka cari dunia yang lain. Bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang beriman yang hanya beriman kepada Allah dan Rasulnya. Dan kami generasi Islam akan merembutnya kembali dari tangan-tangan kaum yahudi,kristen, dan manusia-manusia munafik.

    Komentar oleh Wildan — Oktober 14, 2008 @ 10:06 am | Balas

  79. poligami memang tidak dilarang oleh agama-agama di dunia kecuali kristen. tapi umat kristen sering melanggar aturan itu. tapi tetap dilarang, menyakitkan

    Komentar oleh alo — November 19, 2008 @ 3:49 pm | Balas

  80. Assalamu Alaikum Wr Wb Kepada yg Beragama ISLAM, Sory Ikut komentar mas2 an mbak2, Intinya Penghuni Surga itu adalah org Yg bersih hatinya, g ada prasangka macam2, apalagi prasangka kpd sang maha segala galanya, Yaitu ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA, Urusan Poligami Ko diributkan sampai segitunya,Urusan Poligami itukan terserah Pelakunya, La ini yg Pada Ribut ko malah sampiyan2, org Poligami enak ko, Mestinya klo mau ribut.., Jangan So’al Poligami, tp sono tuh yg dibantai manusia2 yg g berdosa dan pencaplok2 negara org dan koruptor2 di negeri sendiri ini yg kalian ributkan, Dan banyak lg PR yg harus di urus, Terutama di Negeri Lita Tercinta ini…

    Komentar oleh manap — Agustus 15, 2010 @ 6:21 am | Balas

  81. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Ini Halal, Itu Haram, Jadi Anda Pilih Yang Mana? – […]

    Ping balik oleh Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! « Blog Tausyiah275 — Desember 11, 2011 @ 1:38 pm | Balas

  82. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Efek Samping Poligami « Blog Tausyiah275 — Desember 28, 2011 @ 5:14 pm | Balas

  83. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Press Release dari Aa Gym « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:35 am | Balas

  84. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Jangan Haramkan Yang Halal, Juga Jangan Halalkan Yang Haram | Blog Tausiyah275 — Agustus 25, 2013 @ 10:35 am | Balas

  85. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Surat-surat Pendukung Poligami | Blog Tausiyah275 — Desember 20, 2013 @ 10:47 am | Balas

  86. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Puisi Suami yang Minta Ijin Poligami | Blog Tausiyah275 — Desember 20, 2013 @ 10:48 am | Balas

  87. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu Haram, Jadi Anda Pilih Yang Mana? – Puisi Suami […]

    Ping balik oleh Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? | Blog Tausiyah275 — Desember 20, 2013 @ 10:51 am | Balas

  88. […] terkait: – Poligami vs Playboy – Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak? – Hentikan Mengghibah Aa Gym!!! – Ini Halal, Itu […]

    Ping balik oleh Balasan Puisi Sang Istri … | Blog Tausiyah275 — Desember 20, 2013 @ 10:59 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: