Blog Tausiyah275

Mei 4, 2006

Tiara Lestari vs Andhara Early

Filed under: HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 10:31 pm

Aku dapatkan email ini dari salah seorang teman…dia dari temannya lagi…jadi, aku tidak sempat minta ijin kepada pemilik asli postingan ini untuk artikelnya yg dimuat ini…

=== awal dari email ===

Hari Jumat kemaren tgl 14 April 2006, sepulang dari kebaktian Jumat Agung di gereja, saya “cukup” dikejutkan oleh acara Kick Andy di Metro TV yang ditayangkan pada jam 2 siang.

Yang mengejutkan saya adalah seorang perempuan bernama Tiara Lestari, gadis berdarah Solo, Jawa Tengah. Yang penampilan topless-nya mengguncangkan dunia perinternetan dan media cetak majalah berskala dunia: Playboy.

Gadis ini terakhir tampil di Playboy Spanyol, dengan pose tubuh eksotiknya yang tanpa selembar benangpun! Tak cukup disitu aja, gadis yang selama aktif sebagai model majalah2 internasional yang memilih tinggal di Singapura ini, ternyata (menurut pengakuannya sendiri) telah wara-wiri di dunia per”topless”an di berbagai majalah yang terbit di Thailand, Belanda, Perancis, Australia, Jerman, Singapura (FHM).

Ck…ck….ck…. saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Apa iya sudah nggak ada pekerjaan lain lagi yang lebih terhormat di dunia ini, sehingga dia mau membuka auratnya hanya untuk menangguk dolar?

Tapi satu hal yang menarik hati saya, ternyata saat ini dia memilih pulang kembali ke Indonesia dan meninggalkan dunia foto bugil itu karena sang Ibu sakit dan merana akibat pekerjaannya itu. Bayangkanlah, bagaimana perasaan seorang ibu melihat anaknya yang manis terpampang telanjang di majalah? Amburadul pasti.

Saat ditanya sang host Andy: “bagaimana perasaan Anda saat melakukan pemotretan dengan pose telanjang bulat itu? Apakah tak ada perasaan risi atau canggung? Dari bibir Tiara meluncur kata-kata: “Yaaaa…awalnya memang demikian, tapi itu adalah bagian dari pekerjaan saya. Saya hanya ingin totalitas dan berusaha untuk profesional saja.” Astaghfirullahhhh….. (meski saya Kristen, saya juga bisa istighfar), saya mengurut dada berkali-kali. (Saya telanjang di depan teman sesama perempuan aja canggung, gimana saya harus telanjang depan photographer dan kru2 laennya ya?).

Namun, hati saya cukup terhibur, saat saya mendengar Tiara bicara lagi tentang alasan kenapa dia memutuskan untuk kembali ke tanah air: “Apa yang saya dapatkan itu ternyata tak sebanding dengan apa yang dialami oleh Ibu saya.”

Jadi, hal itulah yang membuat hatinya tergerak untuk pulang kembali ke Indonesia dari base camp-nya yang nyaman di Singapura.

Tiara, sang model topless, mengawali karier modelingnya dari ajang cover girl di tahun 90-an (1998), sebagai finalis cover girl sebuah majalah teenage di tanah air, dia akhirnya memutuskan untuk join dengan model agent di Singapura pada usia belia (lulus SMA) karena tergiur oleh kompensasi yang cukup besar jumlahnya dan ketenaran.

Namun apa dikata, sepak terjangnya yang malang melintang hampir ke seluruh benua itu ternyata malah membuahkan sakit bagi sang ibu. Dan sebuah kesadaran akhirnya muncul, “untuk apa aku mendapatkan semuanya ini jika Ibuku harus menderita?” Dan hati nurani seorang Tiara Lestari memberi jawabannya sendiri: tak ada nilainya. Materi yang dia dapat tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami ibunya.

Jika seorang Tiara memilih untuk “bertobat” dan meninggalkan dunia pose-pose telanjangnya, lantas kenapa pula Indonesia malah memulai menerbitkan majalah yang memajang pose-pose yang diharamkan agama itu?

Jika kita tidak siap dengan “ketelanjangan” lantas untuk apa semua yang berbau telanjang mesti dilanjutkan? Bumi pertiwi ini sudah cukup carut marut dan kalang kabut dengan berbagai permasalahan, kenapa mesti kita tambahi dengan “sesuatu” yang tidak memberi nilai tambah positif bagi pembangunan ahlak dan moral bangsa kita? Karena jelas-jelas, hal inilah (moral dan ahlak yang rusak) yang mendasari munculnya berbagai masalah di tanah air tercinta ini. Jika begini terus, saya hanya bisa berkata: “selamat datang lara (duka)….” karena saya akan makin berduka untuk negri ini.

=== akhir dari email ===

Hmmm…jika aku refleksikan email di atas dengan artikel perbandingan diri dengan yg lebih jelek, aku punya pemikiran seperti ini… Jika anaknya Early besar nanti, apakah dia tidak malu jika teman2nya mengolok-olok dirinya, bahwa mereka sudah melihat ibunya (Early) dalam keadaan (maaf) seronok?? Bagaimana Early menjelaskan ini pada anaknya?

Bagaimana juga jika (semoga tidak pernah terjadi) anaknya Early berbuat suatu ‘kenakalan’ dan menunjuk temannya lebih nakal dari dia, sebagaimana alasan Early?

Mungkin lebih ‘beruntung’ anaknya Ineke, yg jika disodori foto/film ibunya ketika masih ‘hobi’ beradegan panas, Ineke bisa menjelaskan bahwa itu semua dia lakukan ketika dia masih belum ngerti agama, dst dst…

Jadi, mbak Early…mungkin anda bisa berkaca diri…jadikan diri lebih baik…carilah acuan/panutan yg lebih baik sikapnya…bukan malah beralasan ada yg lebih buruk dari anda. ๐Ÿ™‚

Mari kita doakan, semoga mbak Early segera sadar … ๐Ÿ™‚

Iklan

6 Komentar »

  1. Tinggal berada dimana dia berada, apakah di tempat yang masih menjunjung tinggi tingkat malu, atau di tempat yang tidak

    Semuanya ada di pikiran

    hehehe…komentar yg biassssss… :p

    Komentar oleh andriansah — Mei 4, 2006 @ 10:39 pm | Balas

  2. kenapa harus mencela orang apa kita sendiri sudah benar hidupnya,

    lho, saya tidak mencela…
    maksud saya justru refleksi ke diri saya sendiri…apakah di masa depan saya masih bisa konsisten atau malah jadi ngawur??

    yang harus kita sadari adalah yang tidak dilihat orang lebih banyak dan itu mungkin lebih buruk dari yang dilihat orang

    betul sekali (mbak?) Stanley… saya setuju dg pendapat anda ini ๐Ÿ™‚

    jadi saran saya kenapa masalah tiara lestari harus diperdebatkan dan mengapa majalah play boy menjadi obrolan menarik jangan munafik dengan apa yang dilihat lebih baik kita terang-terang saja seperti mba tiara toh itu kan bagian dari seni dan hidup yang dia jalani daripada so alim so agamais tetapi malah bejad dibelakang saran saya jangan menggunakan agama sebagai kedok apalagi mendompleng nama besar sebuah agama untuk membentuk organisasi-oraganisasi yang tidak jelas kemudian menjastifikasi bahwa si A salah dan tidak boleh begitu karena bertentangan dengan ajaran agama yang di anut.

    lho, anda sendiri kok jadinya malah mencela orang lain?? ๐Ÿ˜‰ ;))

    sekali lagi jangan bunafik hai kelompok-kelompok sipil yang berperilaku seperti penegak hukum.

    betul…berantas saja semua, jangan pilih2…
    begitu maksudnya kan mbak(?) Stanley?? ๐Ÿ™‚

    trima kasih

    sama-sama…

    Komentar oleh stanley — Mei 5, 2006 @ 6:41 am | Balas

  3. bagaimana kalo sekarang kita lebih banyak memperbaiki diri, merenung dan berani jujur pada diri sendiri dengan segala kekurangan dan kesalahan kita??jangan merasa diri kita sudah benar/baik, karena itu akan menutup hati kita dari kebenaran yang datang dari orang lain, dan kita tidak akan pernah mau memperbaiki diri(krn merasa sudah benar+baik). Kalau kita berusaha memberi teladan yang baik, mudah2an orang lain pun akan termotivasi untuk mencontoh…:) untuk semua saudaraku…ayo kita teladani akhlak Rosulullah SAW, karena beliau diutusNYA untuk menjadi contoh kebaikan, supaya kita selamat di dunia&akhirat…

    terima kasih mbak Bee.. ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh Bee — Mei 5, 2006 @ 12:16 pm | Balas

  4. elehh elehhh

    kenapa mas NNFYTK?

    Komentar oleh noneedforyoutoknow — Mei 6, 2006 @ 6:51 pm | Balas

  5. kata aa’ gym..mulailah dari diri sendiri

    tapi mesti kita tularkan pada orang lain, mas Mangli ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh mangli — Mei 8, 2006 @ 1:45 am | Balas

  6. Hanya hati yang picik dan gelap, yang selalu menolak nasehat dari luar.
    Dia akan selalu mencari alasan pembenar, demi mencari legimitasi pada pendapatnya.
    Bahkan kalo perlu, mencari kesalahan si penasehat demi menolak isi nasehat itu.
    Misalnya dengan kalimat, “benerin diri kamu dulu, baru kasih nasehat ke aku”

    makanya mas Aryo…
    kita mesti PARALEL…tidak saja memperbaiki diri sendiri, namun juga menularkannya kepada orang lain ๐Ÿ™‚

    idealnya memang, diri sendiri sudah oke punya baru mengajak orang lain…tapi seperti anda bilang, jika semua orang selalu beralasan dirinya/diri yg memberi nasihat belum benar, maka tidak ada perubahan (ke arah yg lebih baik) ๐Ÿ™‚

    terima kasih komentarnya ๐Ÿ™‚

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — Mei 9, 2006 @ 4:04 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: