Blog Tausiyah275

Mei 24, 2006

Kisah Seorang Muslimah di US

Filed under: HOT NEWS,Tidak Jelas Juntrungannya — Tausiyah 275 @ 10:16 am

Sebuah kisah yg menarik… 🙂
Cukup panjang…jadi, harap luangkan waktu yg cukup 🙂 😉

note : Tadinya ini tulisan untuk kumpulan artikel “What They Think of Us ?”. Tapi berhubung saya terlambat mengirimkannya, jadi ya saya publish saja di jurnal ini.

————————————————————————————————

*My Name is Dewi, and I am a Muslim.*

* *

*Bayangkan kalau anda sebagai Muslim yang tinggal di Amerika, tiba-tiba ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan ini:*

* *

*”Apakah orang Islam percaya dengan angels seperti kita, orang Kristen?.Apa namanya sama, angel Michael, Gabriel dan lain-lain”.*

* *

*”Kenapa perempuan Islam seperti anda harus bertutup kepala ?.Apa tidak panas kalau summer?.*

* *

*”Apa betul di Islam, seorang laki-laki boleh punya banyak istri ?.Apa nabi anda juga punya banyak istri ?.Lalu apa perempuan juga boleh punya suami banyak ?”.*

* *

*”Kenapa sepertinya orang Islam di negara-negara Islam , sangat membenci orang Kristen atau orang Barat?. Apa salah kami ?”.*

* *

*Duh..repotnya menjawab. Tidak dijawab bagaimana, lha yang bertanya menunggu jawaban. Kalau dijawab juga takut salah, ya kalau mengerti kalau makin tidak mengerti dan apriori, **kan** repot.*

*Belum lagi kalau pertanyaannya seperti ini ,*

* *

*”Kata penterjemah saya di Irak, gol orang Islam sedunia harus mengIslamkan semua orang dan menjadikannya satu negara Islam?.Apa benar begitu, bagaimana kalau kami tidak mau masuk Islam ?.Apa akan dipaksa ?”.*

* *

*Sebetulnya pekerjaan saya adalah menjadi guru bahasa Indonesia,alias kerennya Language Instructur.*

* *

*Mulai belajar dari,”Ini Budi. Ini ibu Budi “, ups…dirubah sedikit ya menjadi,”Ini George. Ini Richard.Ini istri Richard”.*

*Atau juga “Ini A, pronounciation-nya Aaaaa…bukan E lho ya. Tapi Aaaa…”.(Sambil membuka mulut besar-besar, melafalkan huruf A. Maklum alfabet **Indonesia**, pengucapannya berbeda **kan** dengan alfabet Inggris ).*

*Setelah minimal 6-7 bulan,biasanya mereka sudah lancar berbahasa **Indonesia**, paling tidak sudah bisa berargumentasi, atau mendengarkan berita dari TV lewat internet, lalu menceritakan kembali apa isi berita tersebut.*

* *

*Kembali ke cerita semula, walau saya seharusnya “hanya” menjadi guru ,tapi dalam kenyataanya yang terjadi, saya sering menjadi “unofficial ambassador” / duta besar tidak resmi dari Indonesia. Ikut memperkenalkan segala kultur,budaya dan segala ciri khas yang ada. Juga menjelaskan tentang agama-agama, tentang hukum, tentang politik dan lain-lain.*

* *

*Mau tidak mau saya jadi harus rajin membuka-buka buku atau mengumpulkan informasi tentang hal-hal terbaru atau perubahan-perubahan hukum atau politik bahkan tren **gaya** hidup yang ada.*

*Kadang repot juga sih, apalagi saya punya banyak kegiatan lainnya yang mesti saya kerjakan. Belum lagi mengurusi rumah tangga, dengan 2 anak menjelang remaja. Jadi sering harus pintar-pintar bagi waktu, mencari informasi dari berbagai macam buku dan dari browsing di internet.*

*Tapi karena tuntutan pekerjaan, ya apa boleh buat.*

* *

*Sebetulnya sih kalau untuk hal-hal yang bersifat budaya, kultur termasuk segala tren hidup yang ada, saya masih bisalah menjelaskan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan murid-murid saya.*

* *

*Tapi yang repot kalau sudah masuk urusan politik atau agama. *

*Kalau urusan politik, lebih banyak karena saya tidak selalu mengikuti perkembangan terbaru. *

*Sedang untuk masalah agama ,karena ini masalah sensitif, jadi saya biasanya hati-hati menerangkan kepada mereka. Apalagi sebagian besar orang Amerika masih yang tidak banyak tahu tentang Islam yang sebenarnya. Yang mereka tahu kebanyakan mereka dapat dari berita-berita di koran, majalah, TV atau browsing iseng di internet.*

* *

*Walau ada juga dari murid-murid saya ini ( terutama yang tentara-tentara) pernah punya pengalaman tinggal **di Irak**, **Afghanistan** atau **Pakistan **, tapi tetap saja informasi yang mereka dapatkan itu seringkali tidak lengkap atau malah hanya sepotong-sepotong. *

*Jadi imej mereka tentang Islam dan Muslim seringkali salah kaprah. *

*Apalagi kalau misalnya ada hal-hal yang bersifat internasional dan melibatkan Islam dan Muslim. Seperti misalnya saat ada kerusuhan masal di Inggris, atau saat kontroversi kartun Nabi Muhammad SAW itu. *

* *

*Kalau sudah begini, pasti tidak lama kemudian akan ada berondongan pertanyaan mereka kepada saya. Kenapa begini , kenapa begitu, kalau misalnya begini bagaimana, kalau misalnya yang terjadi seperti itu kira-kira bagaimana dan sebagainya.*

* *

*Wah, pokoknya repot deh, apalagi kalau saat mereka bertanya, mereka sudah punya data pembandingnya. Jadi harus pandai-pandai menjawabnya, kalau tidak mau terbentur sendiri, atau kena senjata makan tuan.*

*Juga agar tidak terjadi debat kusir, saya juga harus pandai-pandai mencari “dasar yang sama / common ground”, daripada belum apa-apa sudah menyalahkan atau menentang pendapat mereka. Apalagi kalau ada yang membawa-bawa dasar pemikiran yang mereka ambil dari Bible atau buku agama lainnya.*

* *

*Juga dengan adanya kenyataan diantara guru-guru lainnya yang ada, memang hanya saya yang berjilbab, dan insya Allah masih tetap berusaha menjalankan kewajiban-kewajiban saya sebagai Muslim ( shalat, puasa dan lain-lain). *

*Jadi kadang biasanya pertama-tama bertemu, bagi mereka saya dianggap “puritan” atau terlalu sok bersih. *

*Nanti biasanya lama-kelamaan barulah mereka mengerti :*

* *

*Kenapa saya tidak mau ikut dengan mereka ke bar setelah jam-jam sekolah.*

*” Mbak Dewi, let’s go to DragonFly. This is a very cool place .They just open it couple weeks ago “. *

*”No , I can’t, my husband will pick me up in a couple minutes. Beside I never like to go to those kind of places”. *

*Eh.. murid yang perempuan masih juga tidak mau tahu, dia sibuk menarik-narik tangan saya dan membujuki saya untuk pergi.*

* *

*Kenapa saya tidak pernah mau minum-minuman beralkohol bahkan bir sekalipun ( kadang dalam acara pesta-pesta internasional, bir selalu saja jadi bagian dari makanan yang ada ) . Dan bir sudah jadi bagian dari pesta apapun di Amerika.*

*”You don’t like it ?. How come ?. You mean, you never taste it at all ?. Really ?. Why ?. You won’t be drunk, if only just 1 or 2 can As long as you are not drunk, it is OK in Islam, right ?”. *

*Melihat saya menggeleng-gelengkan kepala, lalu akhirnya sambil agak bingung mereka akan mencarikan Coca Cola sebagai gantinya. Sementara saya setelah tahu kebiasaan-kebiasaan ini, sebisa mungkin mencoba menghindar dari acara-acara pesta di kantor. *

* *

*Kenapa saya tidak mau makan daging babi, *

*”But pork meat is already inspected thouroughly in **America**. There is no such parasit or things like that in here , if Islam says you are not suppose to eat it because of the parasites. “. *

*Tinggal saya yang kebingungan lagi, apa ya alasan yang masuk akal menerangkan kepada mereka bahwa kita Muslim tidak boleh sama sekali makan babi. Tapi toh, mereka menghargai keputusan saya ini. Hingga pada saat jam makan siangpun, walau makan bersama-sama di kantin, tapi kalau ada yang makan ham, sausage dan lain-lain, mereka akan duduk jauh-jauh dari saya.*

* *

*Kenapa saya tidak mau dipeluk oleh mahasiswa yang laki-laki walau hanya pelukan tanda terimakasih ( orang Amerika sangat hobby memeluk-meluk, terutama saat bilang terimakasih pada orang yang dikenal baik). Lalu saya bilang ,*

*”I’m sorry, I don’t want to be rude. But I don’t want to be hugged by you. I know you want to say thank you for the souvenirs, but in Islam only my husband can touches and hugs me. Sorry, guys”. Duh..kasihan juga sih, melihat mata mereka yang bersinar malu dan seperti bersalah..*

*Akhirnya satu murid perempuan saya yang jail, Sharon, punya akal baru. Kalau ada yang mau memeluk saya, alih-alih dia akan memegang tangan teman laki-lakinya itu, lalu tangan **Sharon** yang lain akan memegang tangan saya, sambil berkata,” Here, since you guys couldn’t hug her (saya maksudnya) , so you hold my hand, and I hold mbak Dewi’s hand. So I am the bridge”, sambil cengengesan ketawa-ketawa.*

* *

*Atau kenapa saya sering meminta mereka keluar saat jam-jam tertentu sebentar, sementara saya melakukan shalat di dalam ruangan. Dan pertama kali saat mereka lihat saya bermukena, mereka tampak agak kaget dan penasaran. *

*”You remind me of that ghost on Haloween, mbak Dewi. Aren’t you feel hot under that mukena ( mereka sudah saya beri tahu namanya).But you look cool”.
*

*Dan nanti kalau saya agak kelamaan berdzhikir sehabis shalat, lagi-lagi ** Sharon** dengan bandelnya akan menempelkan bibirnya ke kaca jendela kelas, sambil mengetuk-ngetuk jendela.. Tinggal saya yang senyum-senyum sendiri membuka pintu kelas tersebut. Lalu pura-pura melototi mereka satu-satu.*

* *

*Atau saat saya tampak sangat kelelahan setelah mengajar 3 kelas seharian, karena saya tidak bisa makan dan minum saat puasa. *

*”Pleaseee, we don’t want our teacher to be miserable. Pleaseeee…….drink a little bit, or here, .how about if we treat you. We buy you any lunch you want, just choose it “. *

*Atau ” You don’t want to try this snack just a little bit ?. Are you sure?. Are you sure ?”. *

*Dan wajah-wajah mereka yang iba karena melihat saya sudah kelelahan setelah mengajar seharian.*

* *

*Juga saat saya kepanasan , saat menemani mereka berjalan-jalan saat “Field Trip” di musim panas.Lalu mereka bilang pada saya, agar saya membuka saja jilbab saya, lalu mengangin-anginkan kepala di hembusan angin sepoi-sepoi dari sungai Potomac River.*

*” Do you really need to wear that headscarf, mbak Dewi, eventhough the sun blazing hot like now ?. How about just take it off a little bit, and then you could put it back after a while. Nobody seeing you here, except us “.*

*Karena saya tetap tidak mau membukanya, lalu tiap berjalan dengan mereka, selalu mereka berusaha mencari jalan-jalan yang teduh.*

*Dan banyak hal-hal lainnya.*

* *

*Tapi dari interaksi sehari-hari itulah, sepertinya mereka akhirnya jadi banyak tahu tentang apa itu Islam, siapa itu Muslim, apa saya yang kita percayai, apa kesamaan dan perbedaan antara Islam dan agama lainnya (terutama Kristen) , apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh muslim dan sebagainya. *

* *

*Dalam diskusi-diskusi kecil kami, maupun dalam kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan sehari-hari yang selalu mereka amati, saya hampir tidak pernah berusaha menggurui mereka dengan ayat-ayat atau hadist-hadist dari Al Qur’an. *

*Apalagi berusaha mencari perbedaan-perbedaan antara agama Islam dan Kristen, lalu misalnya mencari kesalahan-kesalahan yang ada dalam agama mereka itu.*

*Tapi dengan menerangkan secara hati-hati dengan berusaha mencari kesamaan-kesamaan atau “common ground” tersebutlah, sepertinya dakwah kecil-kecilan yang saya lakukan terhadap mereka , malah banyak sekali informasi yang mereka dapat.*

* *

*Hadiah yang paling berarti bagi saya adalah saat masing-masing dari mereka setelah suatu diskusi berakhir, lalu berkata ,” Well, I never know that Islam is not as scary like we think before. Actually, there are so many similarity between us. I think a moderate Muslim like you need to speak more and start to take charge , stand up and represent yourself. So, no more those hardliner-Western-hatred people represent Islam again”. *

**

*Atau seperti kata **Sharon**,” Mbak Dewi, you are the best – the coolest Muslim I’ve ever know. Thank you so much, and don’t ever change “. Lalu dengan santainya dia peluk saya sambil ketawa-ketawa..*

* *

*Reston, awal Maret 2006.*

*Dwitra Zaky, dwitrazaky@yahoo.com*
http://dwitrazaky.multiply.com/journal/item/58

======

“Ibu, I Miss You So Much”
Jamil Azzaini – Kubik Leadership

Jakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

Iklan

3 Komentar »

  1. Kok ada dua artikel?

    maksudnya mas Aryo? hanya 1 kok … 🙂

    Tapi keduanya sangat inspiratif buat saya, merasuk banget ke perasaan.

    Buat Mbak Dewi, setiap kesulitan yang dihadapinya dalam mempertahankan Islam, semoga tercatat sebagai amalan baik bagi beliau.
    Kalo tiap hari dapat cobaan seperti itu, artinya, tiap hari Mbak Dewi panen kebajikan.

    Kisah Pak Jamil jelas menusuk perasaan saya, hiks…
    Mesti sering-sering menelusuri sejarah, memperbaiki kesalahan yang sudah lewat.Yang terpenting, jangan sampai terulang kembali.

    tepat sekali mas Aryo…
    terima kasih untuk komentarnya 🙂

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — Mei 24, 2006 @ 11:42 am | Balas

  2. gini dong mi…
    jangan salah tempat lagi…

    artikel2 bagus kaya gini memang harus dikumpulin…

    ok mas Didats.. 🙂

    Komentar oleh didats — Mei 27, 2006 @ 3:07 am | Balas

  3. waduh mbak…ngajar dimana di Amrik mbak? SMA?SMP?COLLEGE?, saya rasa mbak tipe orang yang cukup cerdik ya….pertanyaan murid2 mbak susah2 loh, bener deh!! saya aja sampe sekarang masih bingung, kalo saya mikir2 misalnya ada orang yg nanya kayak gitu, saya mau jawab apa?? hahah….tapi mbak hebat loh….sukses trus ya….hahahaha

    Komentar oleh abi — Desember 19, 2006 @ 2:24 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: