Blog Tausiyah275

Agustus 2, 2006

Sebuah Surat Untuk Aa Gym

Filed under: Aa Gym,Hikmah,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 10:16 am

**sebenarnya tidak terlalu hot news…tapi, bagus untuk dibaca+direnungkan…**

SURAT TERBUKA K2PSI KEPADA ABDULLAH GYMNASTIAR
Risa Octavianty
(Aktivis Gema Nusa Banten)

Pada bulan Juni 2005 lalu, kami mengirimkan surat terbuka kepada seorang da’i kenamaan Aa Gym (panggilan akrab dari Abdullah Gymnastiar) melalui pos kilat, sekaligus e-mail Aa Gym (sekre_gemanusa@yahoo.com). Surat itu ditulis langsung oleh Bung Hafis dengan tema utama: “Memperkenalkan keluarga tapol kepada Aa Gym”. Tak berapa lama Bung Hafis bertandang ke rumah Aa Gym di Bandung, dan karenanya – sayang sekali – tidak ada balasan atas surat yang dianggap kontroversial itu. Meski begitu, kita dapat membaca adanya perubahan dahsyat pada dakwah-dakwah tokoh agama asal Sunda (bukan Jawa) itu, bahkan pada situs-situs yang diasuhnya. Pada November 2005 lalu telah ditampilkan pemikiran-pemikiran Bung Karno selama tiga minggu berturut-turut dalam CyberMQ, yang menjadi bahan kajian menarik di sekitar komunitas Daruttauhid Bandung dan Jakarta, serta Gema Nusa Banten, Yogya dan Surabaya. Berikut ini kami tampilkan surat Bung Hafis – setelah mendapat izin darinya – yang ditujukan kepada kiai kondang kelahiran Pasundan itu:

Yang terhormat,
K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
di
Tempat

Assalamualaikum wr.wb.,

Aa Gym yang baik,
Beberapa waktu lalu kami berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan terkemuka yang selama puluhan tahun telah dizalimi oleh Orde Baru (bersama dengan ratusan ribu pendukung Bung Karno lainnya).

Pramoedya menganjurkan agar kaum muda menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia lagi, sebagai kelanjutan dari pesan Bung Karno bahwa “revolusi kita belum selesai”. Pengertian revolusi ini tidak mesti dipahami sebagai bertikai atau menumpahkan darah (seperti yang telah dilakukan Soeharto dan Orde Baru antara 1965-1966 lalu).

Bagaimanapun kita ini belum selesai sebagai suatu bangsa (nation), konsekuensinya tanah-air kita belum selesai menjadi suatu negeri Indonesia yang merdeka. Juga pola keberagamaan bangsa ini sama sekali tak bisa dikatakan sebagai manusia beriman yang baik, yang ditekankan oleh Bung Karno dalam sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa). Para orang tua dan leluhur kita (terlebih-lebih dari Jawa) masih mengagungkan hal-hal dogmatis dalam tata-keberagamaan mereka, di mana pikiran mereka telah mengalami kelumpuhan dalam memahami substansi agama itu sendiri.

Bagimana mereka mampu memahami agama secara rasional, ketika praktek sembahyang masih diselubungi oleh kepercayaan-kepercayaan purba pada kekuasaan Dewi Laut Selatan (Nyi Roro Kidul). Coba perhatian, ke mana mereka berkiblat pada awal Muharam atau Maulid Nabi? Bagaimana mungkin suatu bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa, masih memperlakukan mesjid dan gereja sebagai berhala-berhala; Al-Quran sebagai jimat dan mantra-mantra; bahkan tidak sedikit yang menghamburkan kekayaannya untuk pergi haji berkali-kali (seakan-akan sorga dapat dibeli dengan uang), tanpa peduli orang-orang miskin dan telantar yang butuh bantuan di sekitar mereka. Boleh jadi keberangkatan haji itu malah hasil dari memeras hak kaum miskin, karena kekuasaan yang didominasi oleh orang-orang kuat atau tuan-tuan tanah di kampung-kampung mereka.

Aa Gym yang baik,
Maaf kami tidak bermaksud untuk menggurui. Kami hanya ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu phobi mendengar kata “revolusi”. Pengertian revolusi ini harus difokuskan pada penegakan keadilan dan kebenaran, yang menjadi anjuran bagi seluruh agama-agama besar dunia. Pengertian revolusi ini – sekali lagi – tidak selalu harus diartikan dengan bertikai atau menumpahkan darah, meskipun kita harus punya kesiapan mental-spiritual bila dimungkinkan ada darah tertumpah.

Bukankah Muhammad di sepanjang hijrah ke Medinah telah dituduh sebagai pemberontak yang melakukan makar dan keonaran, hingga memisahkan hubungan orang-orang tua dari anak-anaknya? Bukankah Ibrahim telah melakukan “pembangkangan” hingga menghancurkan bisnis orang tuanya sendiri (meskipun dari bisnis itu ia telah dinafkahi)? Bukankah Musa justru “mengorbankan” pengasuhnya sendiri (Firaun) yang sering menimang-nimangnya sejak bayi? Dan bukankah ketiga rasul itu yang justru paling dipopulerkan dalam sejarah (Al-Quran)?

Lantas siapakah Bung Karno dan kawan-kawan founding fathers kita? Bukankah mereka pun dijuluki sebagai pembangkang-pembangkang, yang oleh kolonialisme Belanda disebut “Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)”?

Ini tentulah berbeda dengan model penulisan sejarah selama kekuasaan Orde Baru (Soeharto), di mana Raja Penguasa Indonesia, bersama dinasti raja-raja Jawa sebelumnya telah diagung-agungkan sedemikian rupa, tanpa peduli pada fakta-fakta bahwa mereka sebetulnya adalah pelaku-pelaku penindasan terhadap rakyatnya sendiri. Ya, sejarah Jawa adalah sejarah penguasa yang menang, sedangkan mereka yang dianggap kalah harus dibungkam dan diasingkan (diperlakukan selaku Togog). Konsekuensinya sejarah Jawa penuh dengan manusia-manusia populer yang telah berhasil menindas dan menganiaya lawan politiknya, dan inilah yang terjadi dalam genosida ideologis antara tahun 1965 dan 1966.

Dan kita mengerti bahwa Islam (dan agama apapun) secara telak melarang praktek-praktek kekuasaan semacam itu, karena yang berhak mendapat kehormatan justru adalah mereka-mereka yang sanggup mengendalikan diri dari tindakan zalim dan sewenang-wenang. Islam mengajarkan kita bahwa orang-orang yang layak tercatat dalam sejarah adalah mereka yang tinggi kadar ketakwaannya. Hal ini bisa dibandingkan dengan kebesaran Ali bin Abi Thalib (dalam sejarah), meskipun ia telah dikudeta secara “merangkak” oleh Muawiyah. Bahkan juga Isa Al-Masih yang telah difitnah dan diperlakukan sewenang-wenang oleh kolaborasi Romawi dan Yahudi? Tentu saja hal ini sepadan dengan kolaborasi Orde Baru bersama induk-semangnya (CIA dan Amerika) yang telah menjatuhkan Bung Karno secara tidak bertanggungjawab….

Aa Gym,
Dengan kebesaran hati kami mengakui ketokohan Aa Gym sebagai cendikiawan muslim dan pembaharu Indonesia, karenanya tak perlu phobi kepada kata komunisme, marxisme, leninisme dan seterusnya. Ketakutan dan kephobian kita selama ini tak lain karena kita telah terjebak oleh sejarah-sejarah bikinan Orde Baru yang disusupkan kepada kita semua, agar kita “mendewakan” mereka sebagai bapak pembangunan, di bawah kaki landasan para fakir-miskin yang dijadikan korban.

Konsekuensi dari revolusi ini tentu akan memisahkan garis pendukung Bung Karno dan pendukung Soeharto, suatu “perang” antara pembaharuan dan kemapanan (status quo), suatu “pertempuran” antara kebenaran dan pembenaran, suatu “perbenturan” antara mereka yang menuduh diktator dengan diktator yang sesungguhnya.

Aa Gym,
Pembunuhan terhadap pendukung-pendukung Bung Karno yang mencapai jumlah sekurang-kurangnya 700.000 hingga 1.000.000 korban (sumber resmi Amnesty International) untuk membutuhkan pengakuan sebagai penguasa baru, tidak bisa ditoleransi dengan alasan apapun. Dan agama melarang kita untuk melupakan pembunuhan satu jiwa pun (tanpa alasan yang benar). Ini telah dilakukan oleh Soeharto dan kroni-kroninya… untuk menakut-nakuti seluruh rakyat… untuk menunjukkan pengakuan dirinya sebagai penguasa (Jawa) yang baru, dengan lebih dulu memenjarakan Bung Karno di Wisma Yaso (hingga wafatnya), menggelapkan sejarahnya, memaksanya untuk menandatangani supersemar, memecat menteri-menteri pendukungnya, membentuk DPR baru, merekayasa sidang MPRS hingga menampilkan dirinya sebagai Penguasa Indonesia.

Apapun dan siapapun pelaku G30S, Soeharto telah mengambil keuntungan dari peristiwa tragis itu, dengan menghalangi Bung Karno untuk menyampaikan pertanggungjawaban (di pengadilan), karena dia sudah telanjur menuduh Bung Karno terlibat dalam G30S, tanpa ada bukti dan pembuktian apapun.

Aa Gym yang baik,
Kalau ada kelompok tertentu yang berpendapat bahwa kita harus menjunjung-tinggi bapak pembangunan, dengan mengucap terimakasih pada Bapak Soeharto, maka kami tidak akan berbaris dalam kelompok atau gerombolan semacam itu. Lebih baik kami bersandar pada kekuatan hukum yang legitimasinya langsung diakui oleh Tuhan (Al-Quran). Bukankah dalam surat Asy-Syu’ara (ayat 18-22) difirmankan tentang adanya dialog panjang, di mana Firaun telah mengkalim Musa sebagai anak yang tidak tahu rasa terimakasih? Bahkan dengan angkuhnya Firaun mengatakan: “Bukankah aku yang mengasuhmu sejak kecil, memberimu makan dan membesarkanmu? Kenapa setelah dewasa kau menjadi pemuda pembangkang yang tidak tahu balas-budi dan balas-jasa kepada orang yang menafkahimu?” Tetapi kemudian, sejarah telah membuktikan kepada siapakah Tuhan berpihak dan memberi kemenangan….

Aa Gym, seperti yang telah Aa Gym katakan, perjuangan melawan ketidakadilan ini bukanlah pekerjaan sepele dan ringan. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran dan kematangan intelektual yang tinggi. Karena itu tidak sedikit para pejuang – termasuk sebagian pejuang reformasi kita – telah terjatuh dan terperangkap untuk berkompromi dengan pelaku-pelaku penindasan. Bolehlah hal ini kita anggap sebagai suatu proses, dan karenanya kita bertanggungjawab untuk mengingatkan saudara-saudara kita itu.

Mengingat pengakuan publik yang sedemikian besar kepada Aa Gym, dalam usia yang masih terbilang muda (43 tahun), kami akan sangat menghargai bila Aa Gym lebih memfokuskan dakwah-dakwah agama pada
titik sumber kejahatan yang utama, yakni kesewenangan dan kezaliman Penguasa Orde Baru selama 32 tahun ini. Tentulah kesalahan kecil pun tak bisa diremehkan, dan setiap kesalahan manusia tentu akan dihakimi oleh imajinasinya sendiri. Tapi persoalannya, bila seorang da’i atau mubalig hanya sibuk berkutat di wilayah kesalahan sepele atau di tingkat maling ayam dan kriminal-kriminal kecil, lantas mengabaikan fakta-nyata terhadap rejim yang telah menyelenggarakan kezaliman dan kesalahan besar selama puluhan tahun ini, rasanya kita hanya menjadi penolong-penolong agama Tuhan di tingkat – mohon maaf – kelas teri dan loakan saja. Karena itu kami mengusulkan kepada segenap para da’i maupun ulama – dan berharap optimis pada Aa Gym – untuk lebih memfokuskan perhatian pada hal-hal urgen dan prinsipil, agar menjadi prioritas bagi bahan dakwah maupun fatwa-fatwa agama.

Bagi angkatan muda, perjuangan semacam ini akan mengandung konsekuensi berhadap-hadapan dengan kehendak ideologi (agama) dari para orang tua dan leluhur, namun inilah keniscayaan perjuangan yang memang tidak mengenal kompromi terhadap segala bentuk kesewenangan dan ketidakadilan. Bagaimanapun perjuangan untuk suatu perbaikan hidup, dengan menciptakan iklim peradaban yang lebih manusiawi dan demokratis, adalah cita-cita yang dikumandangkan oleh setiap agama maupun ideologi-ideologi mulia, yang merupakan tanggungjawab kita bersama untuk menegakkannya. Semoga suara-suara kebenaran yang sedang kita perjuangkan, menjadi kesatuan integral yang membawa fajarbudi dan pencerahan Indonesia di kemudian hari.

Demikian surat kami, semoga Aa Gym, keluarga dan komunitas Daruttauhid dalam keadaan baik-baik selalu, dan semoga lain kali bisa kita sambung kembali….

Wassalam,

Hafis Azhari
(Ketua K2PSI)

Iklan

28 Komentar »

  1. hmmmm…
    jadi gimana donk?
    komen PERTAMAX yah?

    hehehe….:)

    Komentar oleh fidrik keren — Agustus 2, 2006 @ 2:20 pm | Balas

  2. Kayaknya Aa Gym punya tugas baru nih?Tetap Semangat untuk berdakwah kepada siapa saja.

    insya ALLOH, Aa Gym akan selalu berdakwah kepada siapa saja, untuk menyampaikan kebenaran 🙂

    Komentar oleh sari — September 2, 2006 @ 2:45 pm | Balas

  3. Terasa benar kandungan nada hasutan dan provokasi dalam tulisan tersebut. Dendam? Mudah-mudahan tidak. Bukankah Islam akan indah jika semua umatnya mempunyai jiwa pemaaf yang tulus sekalipun sadar benar bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki di tanah air ini. Mari jauhi dendam, dan sama-sama kita perbaiki negeri ini dgn selalu memohon pertolongan Allah. Terlalu lelah rasanya untuk selalu “bertikai”.

    Komentar oleh Firdauzie D — September 5, 2006 @ 3:42 pm | Balas

  4. Bagus…bagus…kita bisa saling mengingatkan. Apapun yang kita lakukan, kalo didasarkan atas ketulusan dan keiklasan untuk menjadi lebih baik Insyaallah ada manfaatnya deh…
    Pokoknya tanpa tendensi untuk kepentingan sendiri or kelompok… yang penting kemaslahatan umat 🙂

    Komentar oleh hiday — September 8, 2006 @ 12:22 pm | Balas

  5. Bang Hafiz, bagaimana dengan korban yang dibantai oleh PKI ? Ada berapa orang ?. Buyutku adalah salah satu yang dibantai oleh PKI..Terlepas apakah Bung Karno salah atau Benar,, KOMUNIS tetap KOMUNIS yang perlu dikikis sampai ke AKAR-AKARNYA.. Wong NAZI saja di JERMAN dilarang.

    Komentar oleh Didik — September 12, 2006 @ 12:59 pm | Balas

  6. wah…bang hafiz mungkin lagi mengigau

    Komentar oleh budi — September 13, 2006 @ 8:44 pm | Balas

  7. ah udah lah biar hukum yang menyelesaikan tak usah dendam, permasalahan di rumah aja masih semrawut. Kita aja masih susah untuk bisa disiplin boro2 mikirin yg gede2. Sudah lah kita mulai dari diri dari yang kecil dan saat ini. Sholehkan dulu kitanya nih. Padahal kita juga susah untuk sholeh dan istiqomah. Ayolah bangun diri nih . gak usah bawa2 ideologi. Ideologi kita Islam Qur’an dan HAdits. Punten ya kalo agak kurang sopan. Wassalam.

    Komentar oleh dadan — September 14, 2006 @ 7:05 pm | Balas

  8. Terlepas siapa yang salah dulu, demdam tidak akan mengelesaikan masalah. Sekarang mari kita mulai dari diri kita untuk membangun Indonesia dengan beralaskan syariat, kebenaran serta perdamaian

    Komentar oleh TP — September 18, 2006 @ 4:07 pm | Balas

  9. Aah, setuju Aa’ Gym terus di aliran bawah sajaaaa….

    Membangun yang baik diawali pondasi yang baik, yaitu tatanan kerikil yang rapat dan teratur mendukung beberapa batu penjuru dan batu-batu besar, dimana batu besar berfungsi menjaga kesatuan baru kerikil tersebut supaya tidak tercerai berai saat menahan beban bangunan di atasnya….

    Keunggulan Aa Gym dalam menangkap inti permasalahan batu kerikil (rakyat kecil) dan kemampuan nya untuk ‘merekatkan kesatuan’ dan keteraturan barisan adalah harapan kita semua!!

    Sebaiknya kita bergerak di bidang yang kita kuasai dan memetik hasil yang maksimal darinya, daripada mencoba mempelajari bidang lain, dimana waktu yang terbuang untuk belajar dan beradaptasi terhadap bidang baru tersebut lebih baik digunakan untuk mengamalkan di bidang keahlian dan membawa jauh lebih besar manfaat!!

    Kami rakyat kecil membutuhkan Aa Gym untuk MASYARAKAT!!

    Jangan mau dibelokkan, dan malah berfokus menambah beban pikiran.. yang seharusnya bisa untuk menangkap permasalahan yang ada di kalangan rakyat kecil dan memberi solusi yang menyejukkan sesuai GaYa khas aa GYm!

    salam.
    .yog..

    Komentar oleh yogi — September 24, 2006 @ 6:54 pm | Balas

  10. tatap lah hidup ini untuk terus maju dan menuju arah yang lebih baik. orang yang beriman ialah orang yang selalu mau memaafkan saudaranya bahkan musuhnya. jadikanlah masa pahitmu itu suatu pelajaran dan bekal ilmu yang berharga.yang utama sekarang ini ialah kita mulai perbaiki diri mulai dari diri kita masing2.niscaya kita akan menemukan jalan nya.. asal diiringi usaha dan do’a. amin

    Komentar oleh DODO — September 25, 2006 @ 3:14 pm | Balas

  11. Segala sesuatu diawali dari hal yang kecil termasuk perbaikan moral masyarakat kita. Aa Gym yang sholeh, kami tetap membutuhkan fatwa – fatwa Aa, nasehat – nasehat Aa yang sesuai dengan lingkungan kecil kami. Semoga Aa tabah dan bersabar…..

    Komentar oleh Dinna — September 25, 2006 @ 3:51 pm | Balas

  12. memperbaiki yang besar mungkin memang harus di mulai dari yang kecil dulu, memang mungkin akan membutuhkan waktu tp saya rasa ini yang terbaik untuk kita saat ini.
    mendengarkan ceramah Aa dan doa bersama yang selalu meneteskan airmata yang menyejukkan hati, sepertinya ini masukan untuk di cerna oleh banyak orang. orang yang sudah menyadari akan kekurangan dirinya akan segera memperbaiki dengan memulai hal paling kecil dari dirinya menjadi yang terbaik dan itu secara otomatis akan mempengaruhi lingkungan terdekat dan meluas hingga akhirnya ke hal yang besar yang akan mengikuti yang baik. Aa teruslah menjadi Aa gym yang seperti sekarang ini, ceramah, petuah, nasehat dan semua yang Aa sampaikan selama ini tetap di perlukan banyak orang, terus berjuang Aa.

    Komentar oleh wantopiyu — September 27, 2006 @ 2:49 pm | Balas

  13. Astagfirullah…
    Bung Hafis…
    sepertinya pendukung orde lama ya ?
    kasiannn..deh lu…
    jangan ngeliat kebelakang terus…tatap masa depan…
    jangan lupa…TOBAT…
    komunis kok mau dibangkitkan lagi..!!!!!!!!!

    Komentar oleh iwan — September 28, 2006 @ 10:58 am | Balas

  14. Gak ada salahnya kita ngeliat lagi kebelakang, tapi jangan di jadikan kejadian yang sudah lalu untuk mendoktrin masyarakat kecil menjadi pendendam bukan pejuang. ingat bung Hafis Dendam itu tidak baik, apa lagi komunis, sudah selayaknya komunis tidak ada.

    Komentar oleh Andit — September 30, 2006 @ 3:35 pm | Balas

  15. Pengen tau..bagaimana komentar dari AA Gym sendiri ya????

    Komentar oleh Adhienda — Oktober 2, 2006 @ 11:52 am | Balas

  16. Hidup ini sederhana saja..tidak usah di bikin pusing. Allah maha tahu..Allah maha adil,AAGym teruslah membangun umat.Salam untuk AA

    Komentar oleh Irfan — Oktober 11, 2006 @ 10:37 am | Balas

  17. alhamdulillah dan terima kasih atas saran 2 dari para sahabat semua, untuk mengenal aa dan DT lebih lanjut silahkan klik :
    http://www.dtjakarta.or.id ,..terima kasih

    Komentar oleh Amrullah — November 8, 2006 @ 2:18 pm | Balas

  18. “Bagimana mereka mampu memahami agama secara rasional…..” kutipan ini menunjukan bahwa sipenulis surat hanya berpijak pada aqal untuk memahami syariat islam, Ingat dan perlu dicatat bahwa “AQAL ADALAH CIPTAAN ALLOH SWT” jadi aqal pasti penuh dengan keterbatasan, hati-hati jika kita menafsirkan SYARIAT ISLAM yang tidak bisa lepas dari AL-QURAN dan HADIST hanya dengan menggunakan AQAL, maka biasananya orang-orang seperti ini akan cenderung tersesat.

    Komentar oleh muhididn — November 13, 2006 @ 8:26 am | Balas

  19. Hm… sepertinya penulis mendendam yang teramat sangat kepada Orde Baru, terlepas sebagai seorang masyarakat biasa, saya pun sangat mengecam apa yang terjadi pada masa Orde Baru serta mendukung segala bentuk perubahan ke arah yang lebih baik yang di sebut sebagai Reformasi oleh kebanyakan orang, namun perlu di cermati kembali apa yang telah terjadi si jaman Sukarno, mendaulat dirinya menjadi presiden SEUMUR HIDUP apakah ini bukan tipikal raja2 jawa yang haus akan kekuasaan? merujuk kata2 saudara yang menyudutkan raja2 Jawa pada surat kepada Aa’ Gym, ahh… namun rasanya saya juga belum cukup pengetahuan untuk mampu berdebat dengan saudara, saya bukanlah masyarakat yang hidup di jaman itu, sehingga detail peristiwa yang terjadi pun saya ketahui secara samar-samar, namun yang pasti adalah Komunis tetaplah Komunis! sebuah organisasi terlarang di negeri ini! ketika bukti kebenaran telah di tampakkan di seluruh penjuru dunia, masihkah kita harus berpaling, bahkan mengklaim bahwa Tuhan itu tiada? bukankah itu pendapat2 yang di utarakan oleh kaum Komunis? namun yang pasti adalah tegakkan “Kebenaran”, tumbuh kembangkan “Keadilan”, serta tolak semua hal yang akan mengarahkan masyarakat ke arah “Penyimpangan”.
    tetap berda’wah Aa’ Gym…

    Komentar oleh budy boy — November 15, 2006 @ 6:19 pm | Balas

  20. Sebagai muslim yang sedang mencari ilmu di negara komunis, cerita soal ini basi banget….gak ada berita yg lbh up to date ya………., belajar memandang ke depan dong…kan Allah menciptakan mata di depan bukan di belakang….. terus berjuang A’a, biar aja anjing menggonggong kafilah berlalu….

    Komentar oleh Rimayastuti — Desember 2, 2006 @ 11:05 pm | Balas

  21. – komentar dihapus, terkait tidak beretika dalam diskusi –

    di sini bukan forum untuk menghina suatu ajaran agama!
    Nabi kami Muhammad SAW, membawa ajaran “untukku agamaku, untukmu agamamu…”, tolong anda belajar beretika dan menghargai orang lain, jika anda merasa ajaran agama yang anda anut itu baik,jangan tunjukkan kejelekan anda sendiri!!!

    admin tausyiah275

    Komentar oleh garut — Desember 9, 2006 @ 8:38 am | Balas

  22. al-hamdulillah, masih ada oraqng yang mau mengingatkan.Aa Gym adalah seorang panutan, maka selayaknya kita harus mencontohnya dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan. apalagi kita adalah seorang muslim, yang harus saling tolong menolong antar sesama. al-mu’minu lilmu’mini kal bunyaani yasyuddu ba’dhuhum ba’daan

    Komentar oleh fatahillah — Juni 8, 2007 @ 9:11 pm | Balas

  23. BANG HAFIT JANGAN CUMA NGOCEH,INTROSPEKSI AJA PADA DIRI SENDIRI, UDAH BENER APA BELUM ? SEBAIK- BAIK MUSLIM ADALAH TIDAK MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN.

    Komentar oleh HERMAN — September 10, 2007 @ 11:19 pm | Balas

  24. Kang Hafiz, dan semua kawan2, kalo kita cermati semua pandangan kita tidak merata, masuk dulu, angkat badan lihat kondisi, Insya Allah kalau kita melihat secara keseluruhan akan tergurat garis, mana yang hak dan mana yang bathil, yah.., tidak usah saling mencemooh, bisa jadi pendapat Kang Hafiz tersebut benar adanya, atau bisa juga salah. Sepengetahuan saya, Kang Hafiz peneliti untuk kejadian th. 65, yah, dengan bermodalkan penelitian yang mencakup jawa-bali itulah beliau berpendapat seperti itu. Berpikir Bijak, dan tidak saling menjatuhkan, intinya adalah Baik Korban ataupun Pelaku G30S, adalah sejarah yang harus dipelajari, buat Kang Herman, sssssssssstt… jangan mencampuri urusan orang lain…, perkataanya di jaga.

    Terima Kasih.

    Komentar oleh Muhamad Thorik — September 13, 2007 @ 8:09 am | Balas

  25. Ass. Wr. Wb.
    Saya dengar Yayasan Daruttauhid ada semacam Komunitas semacam Biro Jodoh, tolong dong alamat yang bisa dihubungi. Saya tertarik untuk ikutan.
    Terimakasih
    Ws. Wr.Wb.

    Komentar oleh Sukur Sutrisno — Desember 21, 2007 @ 6:52 pm | Balas

  26. Bapak/Ibu yang saya hormati.Saya dari lembaga eksekutif mahasiswa di universitas islam indonesia tepatnya di jalan kaliurang km 14,5 saya ingin menanyakan mekanisme untuk mendatangkan A’a gym untuk menjadi narasumber kami dalam acara maulidnabi yang jatuh pada tanggal 9 maret bagaimana.

    WASSALAM

    Komentar oleh adityo dananjoyo — Januari 19, 2009 @ 12:08 pm | Balas

  27. surat kacangan jangan dilirik. qwa tao… yang ngirim surat ke aa cuman yang iri aja.. yang gak punya popularitas

    Komentar oleh koko — Maret 17, 2009 @ 1:06 pm | Balas

  28. Yth. Aa Gym mungkin saya kurang sopan, tpi itu memang realita. saya memandang Aa seorang theologis dan pengusaha yang handal, saya sendiri seorang pengusaha warnet yg kurang modal, saya memohon bantuan dana kepada Aa untuk membuat “cafe studen” saya ingin memadukan teknologi internet dengan education fun… memfasilitasi anak2 memperoleh data dengan cepat dan dapat mendorong bakat anak2, selain itu saya dapat merekrut karyawan sehingga pengangguran dapat sedikit berkurang. amin
    saya harap AA Gym dapat memaklumi dan dapat membantu.

    hormat saya

    arif

    Komentar oleh arif nurrohman, SH — April 29, 2009 @ 10:18 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: