Blog Tausiyah275

Agustus 31, 2006

Nomor Rekening

Filed under: Muamalah — Tausiyah 275 @ 10:16 am

Seorang rekan bercerita padaku. Dia menyumbang ke sebuah lembaga agama, dengan cara transfer uang ke sebuah nomor rekening (bank), atas nama seseorang (A). Beberapa waktu kemudian, dia mengkonfirmasikan transfer tersebut ke A, pemilik rekening tersebut via sms.

Tak lama, balasan muncul, menanyakan jumlah yg ditransfer, rekening tujuan dan atas nama (pengirim). Rekanku ini menjawab pertanyaan A. Eh, beberapa saat kemudian, A meng-sms lagi menanyakan hal yg sama. Rekanku menjawab lagi pertanyaan tersebut. Dia pikir mungkin ada salah pengertian di awal jawabannya, sehingga dia pikir dg jawaban yg terakhir tadi, urusan selesai.

Hwalah Mas, sahut dia, ternyata A masih meng-sms, ‘konfirmasi’ lagi pengiriman uang tadi. A menyatakan uang yg rekanku kirim TAKUT TERCAMPUR DG UANG2 YG LAIN.

Hal ini yg hendak aku bidik…

Tak jarang, sebuah lembaga bantuan (agama) menggunakan nama seseorang untuk dicantumkan sebagai pemilik rekening. Di beberapa mailing list dan beberapa email serta beberapa situs, aku juga temukan fenomena tersebut. Dengan kata lain, rekeningnya bersifat ‘umum’, cenderung ‘tidak jelas’ tujuannya.

Aku bandingkan dengan rekening2 bantuan milik televisi2 swasta dan/atau koran, mereka lebih ‘apik’ dan tertib administrasi. Sebagai contoh, saat kejadian gempa Yogya, sebuah tv swasta membuka rekening dg ‘imbuhan’ Yogya Peduli. Ini akan mempermudah para donatur dan tim audit (keuangan) untuk melakukan transaksi dan auditing.

Sayangnya, jika berdasar cerita temanku tadi, lembaga2 agama (Islam) masih ada yg menggunakan nama perorangan untuk dijadikan pemegang tabungan (yg dijadikan pengumpulan dana). Tidak heran jika beberapa waktu lalu, ada yg mempersoalkan bahwa pengumpulan dana kemanusiaan untuk Yogya diselewengkan, karena pemilik no rekening adalah perorangan, bukan lembaga.

Aku tidak menyalahkan lembaga/pribadi yg menggunakan nomor rekening atas nama perorangan untuk pengumpulan dana/sumbangan. Barangkali lebih simple, mudah administrasi, dan hal-hal lain yg menjadi penyebab mereka menggunakan nama perorangan. Namun, seperti kasus rekanku itu, TERCAMPURNYA UANG SUMBANGAN DG UANG YG LAIN, hendaknya dijadikan suatu masukan/’kasus’ serius yg mesti diperhatikan. Karena tercampurnya uang sumbangan dg uang2 yg lain, bisa mengakibatkan status uang pada rekening tersebut menjadi syubhat, bahkan haram untuk digunakan, karena TIDAK JELAS.

Alih-alih untuk kemaslahatan umat, uang tersebut malah tidak tersalurkan sebagaimana yg diharapkan oleh donatur. Bagi donatur mungkin tidak masalah, aku yakin niatnya untuk menyumbang sudah menjadi amalan di sisi ALLOH SWT. Namun, bagi pemilik rekening+lembaga sosial yg hendak menyalurkan bantuan, hal ini akan menjadi bias.

Semoga kita terlindungi dari uang-uang yg sifatnya syubhat…terlebih lagi haram. 🙂

Iklan

4 Komentar »

  1. Waspadalah waspadalah

    betul sekali, mas Jauhari…waspada lebih baik 🙂

    Komentar oleh Jauhari — Agustus 31, 2006 @ 11:18 am | Balas

  2. Kalo aku membidik obyek yang lain.

    Seandainya jawaban teman Bang Fahmi itu berupa SMS, dan si A masih ragu, bukankah bisa membaca ulang isi SMS tadi. Kenapa sampai harus minta konfirmasi ulang? bahkan sampai tiga kali.

    Apakah SMS tadi langsung dihapus?
    atau karena … ah, kenapa aku merasa ada yang aneh di sini?

    ya ya ya…mungkin memang ada keanehan di sini…
    saya sendiri tidak bisa bantu… 😦
    tapi yaa..sudah terjadi…skip saja deh… 😉

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — Agustus 31, 2006 @ 4:59 pm | Balas

  3. bikin rekening bank atas nama lembaga refotssss… kudu bin harus dilengkapi dengan surat inilah..itulah… dan prosesnya gak sesingkat rekening pribadi. oleh sebab itu, BANYAK UANG RAKYAT YANG MAMPIR DI REKENING PRIBADI [baca: PEJABAT].

    *hihihi… slah fkous*a

    nah..ini dia mas Azil, yg jadi kebiasaan buruk yg saya ‘takutkan’….pejabat mencampur adukkan uang rakyat dg uang pribadinya…tidak heran korupsi subur…:(

    Komentar oleh Azil — September 1, 2006 @ 9:29 am | Balas

  4. MEmang kalo bikin rek. a.n. lembaga butuh surat2 legalitasnya (npwp, akte pendirian dll). SOlusinya, buat aja a.n. perorangan tp cq nama lembaga.
    Ex : sumanto cq. majelis taklim hidayah.

    Komentar oleh hamid — September 10, 2006 @ 11:44 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: