Blog Tausiyah275

September 5, 2006

Tahlilan

Filed under: Aqidah,Fiqh,Hikmah — Tausiyah 275 @ 10:16 am

Tahlilan berasal dari kata TAHLIL, yg mempunyai arti mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan yg layak disembah selain ALLOH SWT). Aku sebenarnya pernah tulis artikel yg serupa, yakni:
mengupas kandungan kalimat tauhid (tahlil juga bisa disebut kalimat tauhid)
khutbah Jum’at 14 Juli 2006

Yang hendak aku kupas di sini adalah amalan tahlilan yg biasa dilakukan oleh masyarakat (muslim) Indonesia. Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, tahlilan identik dengan ‘perayaan’ (memperingati) kematian seseorang. Yg biasa dilakukan adalah tahlilan 3hari meninggalnya, 40hari, 100hari, dst. Fenomena ini dilakukan tidak saja di lingkungan dusun/kampung, namun juga dilakukan oleh masyarakat perkotaan.

Pertanyaannya, bagaimana amalan tahlilan ini?

Jika kita lihat amalan tahlilan yg ‘biasa’ (bukan dalam rangka memperingati sekian hari meninggalnya seseorang), hanya berupa mengucapkan kalimat tauhid…maka ini dianjurkan. Karena lidah yg terbiasa melafadzkan kalimat tauhid, insya ALLOH di ujung hidupnya lidahnya tetap akan senantiasa basah dengan mengucap dan mengingat ALLOH SWT.🙂

Sementara jika yg dimaksud dg tahlilan di sini adalah BERKUMPULNYA KAUM MUSLIM DI RUMAH SESEORANG, DALAM RANGKA MEMPERINGATI SEKIAN HARI WAFATNYA ANGGOTA KELUARGA PEMILIK RUMAH, mari kita simak dulu beberapa hal berikut.

Imam Asy Syafi’I, yakni seorang imamnya para ulama’, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam kitabnya Al Um (I/318) :
” Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .”

Dari pernyataan Imam Syafi’i di atas, beliau menerangkan bahwa berkumpul di rumah ahli mayit (meskipun menurut kebiasaan) akan memperbaharui kesedihan (dengan kata lain, si pemilik rumah, yg anggota keluarganya wafat, akan merasa sedih lagi, meskipun tidak mesti menangis). JANGAN SALAH, ini bukan berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak! Perkataan Imam Syafi’I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Dari beberapa sumber referensi, aku dapatkan pengertian bahwa : ” beliau (imam Syafi’i) dengan tegas MENGHARAMKAN berkumpul-kumpul di rumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau di sertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

Sementara itu, Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.

Bahkan para ulama/imam empat (Imam Malik, Syafi’i, Hanafi dan Hambali) sepakat dengan melarang hal tersebut (tahlilan). Mereka berempat tidak berselisih/berbeda pendapat tentang larangan hal tersebut melainkan dalam masalah tingkatannya, haram atau makruh saja. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bolehnya tahlilan. Bahkan para sahabat g menggolongkan hal tersebut sebagai niyahah/ratapan terhadap si mayit. Dan ulama telah sepakatkan keharaman niyahah.

Dengan demikian, TAHLILAN BUKANLAH AJARAN ISLAM…melainkan adopsi dari agama Hindu. Aku yakin para Wali Sanga mempunyai alasan tertentu mengapa beliau2 tidak menghapus budaya ini. Salah satu alasan yg aku ketahui adalah untuk memudahkan penyebaran agama Islam. Sebagaimana diketahui, masyarakat Indonesia (terutama Jawa) sangat mencintai budayanya (bahkan cintanya berlebihan).

Aku yakin, Wali Sanga mempunyai keinginan untuk menghapus (secara berangsur-angsur) budaya yg tidak Islami ini. Namun sayangnya, mereka tidak sempat menghapus budaya ‘sesat’ ini, sehingga budaya ini terus menerus diajarkan turun temurun.😦

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi kita semua.🙂

97 Komentar »

  1. ada buku : tahlilan menurut madzhab syafi’i

    Komentar oleh Luthfi — September 5, 2006 @ 2:27 pm | Balas

  2. trus gimana caranya kita ‘meluruskan’ mereka,Koh??apalagi kalo udah dijadikan tradisi/’warisan’ dari orang tua atau leluhur??pernah punya pengalaman bertentangan paham dengan orang tua??mohon petunjuknya…hehe…makasih!

    Komentar oleh Bee — September 5, 2006 @ 5:43 pm | Balas

  3. Kita perlu bijak dalam menyampaikan da’wah Islam berkenaan dengan tahlilan, karena saudara-saudara kita yang mempunyai latarbelakang pendidikan dan tempat tinggal dari lingkungan NU tentu mempunyai resistensi yang sangat kuat terhadap penolakan tahlilan. Ini adalah fakta yang terjadi pada mayoritas Umat Islam di Indonesia, yang merupakan buah dari pendidikan Islam yang kurang komprehensif. So, jangan main hantam kromo sehingga menyinggung perasaan mereka. Mari kita berda’wah dengan hikmah dan mau’izhoh hasanah. Jangan sekali-kali, menghina mereka sebagai ahli bid’ah karena Rosululloh tidak pernah menunjuk hidung si A atau si B sebagai ahli bid’ah. Rambu ini yang kurang diperhatikan oleh sebagian saudara-saudara kita karena merasa paling baik dalam melaksanakan Sunnah Nabi SAW

    Komentar oleh afaishalfahmy — September 5, 2006 @ 8:43 pm | Balas

  4. Ah, yang bener ? Gayanya kok sok paling pinter dan paling bener sendiri. Emangnya Penthol ?

    Komentar oleh Miftahudin — September 7, 2006 @ 12:45 pm | Balas

  5. saya sudah paham tentang tahlilan ini namun bagaimana dengan sholawatan dll?

    Komentar oleh bambang purwantoro — September 8, 2006 @ 8:20 am | Balas

  6. bagaimana kalau amalan tahlilan itu dilakukan oleh ahli waris itu sendiri? dan kalau tahlilan dimasjid …?

    Komentar oleh sarwono — September 8, 2006 @ 11:20 am | Balas

  7. Saya kira persoalan khilafiah seperti tahlil, qunut dan sholawatan tidak usah diperpanjang lagi. Jadilah pendakwah yang bijak sekaligus dapat memahami islam tidak sepotong-sepotong. Kalau antum tidak mau ikut tahlilan silakan kalau mau ikut silakan. Wong orang kumpul-kumpul memuliakan asma alloh kok ribut, tapi indomaret dan alfamart di pe;osok pelosok kota dan desa jualan khamer kita diam. Lagipula jadikan saja kegiatan tahlilan sebagai ajang silaturrahmi antar semua masyarakat, jadi guyub. Kalau Imama Syafii melarang kumpul-kumpul di temapt aorang yang sudah meninggal haruslah dipahami dari kalimat yang anda tulis sendiri, bahwa hal itu dibenci bila menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan, tapi kalau untuk berzikir sekalian menghibur, menemani keluarga yang ditinggalkan why not. Sekian dulu sy tak mau panjang-panjang, tidak produktif. masih banyak urusan ummat yang lebih urgen

    Komentar oleh ahmad — September 8, 2006 @ 1:44 pm | Balas

  8. mau tahlilan monggo…nggak ya monggo…
    terus terang Alhamdulillah,dilingkungan sy dgn tahlillan,lingkungan mnjd geguyub..
    “hablumminnallah dan hablumminnannas..lah”

    Komentar oleh fahrul — September 12, 2006 @ 4:19 pm | Balas

  9. mas apa anda ketinggalan jaman, masalah tahlilan sudah dibahas sejak lama. apa nggak ada bahasan yang sifatnya bukan merupakan khilafiah. tolong angkat masalah-masalah yang lebih produktif bagi umat, jgan melemparkan masalah yg menimbulkan berbagai macam penafsiran. yok opo carane wong islam gak dadi wong kere terus, itu lebih masuk akal dan produktif

    Komentar oleh Endiat — September 13, 2006 @ 9:02 am | Balas

  10. semoga dengan tahlilan di rumah duka menjadi terhibur setidaknya… yang penting tidak merepotkan tuan rumah.. gitu kali ya!!!!1

    Komentar oleh yusah — September 13, 2006 @ 1:28 pm | Balas

  11. #4 : coba baca dengan menyeluruh, siapa sih yang sok pinter sendiri ? Hanya karena ada orang yang mengatakan bahwa : Tahlilan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, Anda sudah mencap sok pinter.

    #7 : mas, masalahnya gini, sampai sekarang, tata cara atau rukun tahlilan itu sama sekali ngga ada dalilnya. Segala ritual ibadah itu pasti ada rukun dan syarat sahnya yang berdasar pada contoh Rasulullah.

    #9 : bukan khilafiah namanya mas.. ini masalah ritual ibadah yg diada-adakan.

    Buat kaum tahlilin.. tolong saya dicarikan dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah mengadakan atau melakukan tahlilan dalam memperingati wafatnya keluarga ataupun sahabat Beliau.
    *Pasti gw akan dapet jawaban : ya.. ngga ada dalilnya hehehehehe…*

    Komentar oleh adhi nugraha — September 15, 2006 @ 10:53 am | Balas

  12. buat kita yang ndda setuju dengan tahlil, sebaiknya kita lebih bijaksana, dan pintar membaca kondisi umat islam yang ada di Indonesia. sesuatu yang baik, tetapi tidak ada menurut kita di dalam syariat islam janganlah lantas di katakan bid’ah, karena di dalam bid’ah itu sendiri terbagi menjadi dua:
    1. bid’ah yang baik
    2. bid’ah yang kurang baik.

    untuk kita yang tidak setuju, sebaiknya kita bertanya langsung kepada para kyai yang melakukan kegiatan tahlil itu sendiri. karena saya sangat yakin para ulama kita pasti melihat dari sudut pandang lain. dan bagi yang setuju dengan tahlil jangan juga menghardik mereka yang tidak melakukan tahlil, “Perbedaan pendapat itu adalah Rahmat”, kebenaran itu hanya mutlak milik allah,

    Komentar oleh syamsudin — September 16, 2006 @ 1:58 pm | Balas

  13. kalo ndak salah tahlilan adalah ajaran agama budha.yooii setuju, setahu saya Rosuulloh tidak perna mengajarkan tahlilan.jadi siapa yang paling sempurna keimanannya selain Beliau?
    siapa yang lebih mengenal Islam selain beliau?

    Komentar oleh abi — September 18, 2006 @ 10:16 pm | Balas

  14. #11. ah suka main kata2 bid’ah. Sayyidina Umar aja bisa ngumpulin ummat untuk tarawih bersama di masjid. gr2 beliau masjid2 jadi rame kalo romadlon.apa pd zaman rosululloh ada tarawih seramai itu. malah waktu beliau masih hidup tarawih di masjid sama Nabi ditinggal kok masjidnya. khawatir jadi wajib. belum lagi maslah pencuri, maslah pembukuan Al Qur’annya sayyidina Utsman.apa yang seperti itu masih anda tuduh suka bid’ah?

    Komentar oleh koko — September 19, 2006 @ 12:14 pm | Balas

  15. #14 Nabi pernah melakukan shalat tarawih berjamaah. Pada awalnya, shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri, kemudian banyak sahabat mengikuti beliau datang ke masjid, sehingga pada suatu hari Rasulullah tidak datang ke masjid. Setelah di tanya, beliau mengatakan bahwa takut shalat tarawih akan menjadi kewajiban.
    Intinya begini mas.. shalat tarawih pernah dilakukan berjamaah, jadi.. yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab tidak mengada-ada, tapi pernah dicontohkan.

    #15 bidah dalam bidang apa dulu ? kalau bid’ah (tambahan) dalam ibadah, ya nanti dulu..
    wong dalam Rasulullah mengatakan sendiri, dalam setiap awal khutbahnya
    ‘.. fainna asdaqol hadiits kitaabullah, wa khoirol hadyi hadyu muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. wa syarrul umuuri mukhdatsatuhaa, wa kulla mukhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’ah dholaalah ..’

    Perbedaan dalam hal apa dulu ? kalau dalam aqidah gimana ? Ya jelas ndak boleh.
    Okelah, kalau misalkan perbedaan itu khilafiyah, seperti interpretasi terhadap perintah Rasulullah misal : seperti dua adzan sebelum shalat jumat. Lha wong tahlilan yg 7 hari, 40 hari, sampai 1000 hari itu ndak ada perintahnya atau contohnya dari Rasulullah sama sekali kok.
    Jangan-jangan nanti kalau ada yang melakukan shalat sunnah rawatib setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit dianggap tidak salah dan didiamkan saja..

    Komentar oleh adhi nugraha — September 20, 2006 @ 8:10 am | Balas

  16. untuk semuanya,jgn merasa anda2 adalah yg benar..klo yg satu mrasa benar..kmdian yg satu jg mrasa benar..trus gmn?tp harus diinget,kebenaran paling hakiki adalah ALLAH Azza wa Jalla..kbenaran anda belum tentu benar buat yg lain…
    yang penting hidup podo rukune…ojo podo padu goro2 mung bedo prinsip…nek isih ngono yo jenenge durung iso dadi muslim sing kaffah!!!
    HIDUP GUSDUR..!

    Komentar oleh fahrul — September 21, 2006 @ 3:51 pm | Balas

  17. Setuju dengan bung adhi. Buat no.#12 hadist nabi yang mana yang mengatakan Bid’ah terbagi 2, hasanah dan dhalalah??? Setiap bid’ah adalah dhalalah…ini yang shahih. Kemudian “setiap perbedaan adalah rahmat” hadistnya dhaif. Memang kebenaran adalah mutlak milik Allah, dan Rasulullah tlah mencontohkannya.. sehingga beliau berkata “Ikuti yang aku contohkan….” Jadi kalo tidak dicontohkan oleh beliau ya jangan diikuti… untuk yang berkaitan dengan ibadah tidak bisa main2x.. harus ada dalilnya.. kalo tetap diikuti juga dengan merujuk ke kyai anu.. or ustad anu… apakah kyai atau ustad tersebut tlah dijamin masuk surga oleh Allah seperti Rasulullah??? apakah ustad tersebut lebih baik dari rasulullah yang telah dijamin Allah masuk surga??? apakah kyai tersebut lebih pintar dari rasulullah??? apakah meraka juga akan memberikan safaat saat berkumpul di padang mahsyar nanti jika mengikuti cara mereka beribadah sebagaimana Rasulullah yang akan memeberikan safaat bagi umat yang mengikutinya???? Jangan lupa memeriksa dalilnya… Shahih atau tidak…

    Komentar oleh anggun — September 21, 2006 @ 4:09 pm | Balas

  18. ikutan komen ah, buat no 12
    perbedaan diantara umatku adalah rahmat —>
    1. Hadistnya dhoif (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah, silakan cek ke silsilah hadits dhoif dan maudhu’ oleh Nashiruddin al-albani.
    2. Secara logika, jika perbedaan adalah rahmat, maka negasinya persatuan adalah adzab. Dan ini tentu tak mungkin ….

    Komentar oleh Luthfi — September 23, 2006 @ 4:12 pm | Balas

  19. # 16
    aneh sekali, setelah anda mengatakan kebenaran hanya milik Alloh, anda malah memuja2 gusdur.
    Dunia sungguh aneh ……..

    Komentar oleh Luthfi — September 23, 2006 @ 4:13 pm | Balas

  20. #16
    mohon maaf,kanyanya aneh deh kalo anda bela2 gus dur…
    seorang gus dur yang sering menghina agama islam kok dibela2-in… padahal tadinya anda mengatakan bahwa kebenaran adalah milik ALLOH SWT.
    tolong sedikit kritis terhadap dengan ucapan2 yang akan anda keluarkan, karena segala sesuatu akan ada pertanggung jawabannya. mudah2-an ALLOH mengampuni dosa hamba2-Nya yang ingin bertaubat Amiiieennnn

    Komentar oleh Achum — September 24, 2006 @ 5:47 pm | Balas

  21. bagi saya, tahlil adalah adat/budaya karna nggak ada syari’at atau tuntunannya dari Rosulullah saw, tidak menghadiri tahlilan lebih utama buat saya. tarawih, mencontoh Rosulullah saw lebih utama, tarawih sendiri 11 rakaat di rumah mulai jam 1 dini hari dan panjangkan baca’annya, buat saya sangat jauh lebih nikmat rasanya🙂

    Komentar oleh Prima Adi — September 30, 2006 @ 11:53 am | Balas

  22. Subhanalloh, umat islam makin pintar kaum muda makin pintar alhamdulillah, semoga islam semakin maju dan kuat.
    Tahlilan bukan ajaran agama budha karena budha tidak mengenal ALLOH, atau hindu karena hindu tidah bersyahadat,tapi tahlilan mengucapkan LAAILAAHAILLALLAH,ALLOHUAKBAR SUBHANALLOH, TAHMID TAKBIR.
    tidak ada dalam tahlilan yang mengucapkan amitabha,om shanti shanti om, kitab ramayana,kitab mahabarata, yang dibaca ASMA ALLOH BACAAN AL QUR’AN, sholawat nabi,do’a.
    Ustad Arifin Ilham memimpin zikir itu benar, ustad dirumah saya memimpin tahlil itu benar.kalau anda mati (yg tulis artikel) lalu tidak ada yang ta’ziah, tidak ada yg gotong ke kuburan lalu apakah anda akan jalan sendiri kekuburan? mana mungkin sedangkan anda sudah mati.
    memang betul dijaman rosululloh tidak ada tahlilan (berkumpul dirumah orang untuk membaca tahlil) kaarena jaman rosul masih menyebarkan tauhid dan sekarang kitalah yang mengumandangkan tauhid.

    Komentar oleh imam ahmadi — Oktober 1, 2006 @ 3:56 am | Balas

  23. Sebenarnya kita tidak perlu mempermasalahkan hal2 yang dipandang tidak perlu untuk dipecahkan dengan menggunakan otot yang berlebihan (menguras pikiran). semua ada dasar dan panutannya. memang benar bidah adalah tambahan yang ada dalam agama. Bukankah dikala jaman nabi dahulu adzan subuh itu tidak ada khiorumm minannaum. tapi ketika Bilal bin Rabiah mengumandangkan adzan subuh dengan khiorumm minannaum nabi membenarkan perkataan Seruan adzan bilal tersebut? itu menandakan bahwa nabi tidak mempermasalahkan tambahan yang bersifat tidak merubah tata caraibadah yang bersifat mahdhoh.
    saya kira sudah cukup kita memperdebatkan masalah khiliyah yang demikian, karena saya yakin hal tersebut dihembuskan oleh orang2 kafir agar umat islam memusuhi saudaranya maka akan timbul perpecahan yang akan mudah dimanfaatkan mereka untuk menghamtam kita dengan strategi agar umat islam mengikuti milad (ajaran mereka), hal itu lah yang sepatutnya kita pikirkan sekarang bagaimana menghadang strategi mereka dalam mencapai tujuan mereka.
    PERSATUAN UMAT SANGAT KITA BUTUHKAN, BUKAN PEPECAHAN HANYA KARENA PRKARA YANG SEPELE SAJA.

    Komentar oleh Nur Elman — Oktober 2, 2006 @ 2:50 pm | Balas

  24. #23 antum bilang soal ibadah itu sepele ? wow…
    saya lebih baik TIDAK BERSATU bersama orang-orang yang ngotot sholat shubuhnya 3 rakaat sampai mereka kembali bertaubat.
    Atau saya lebih baik TIDAK BERSATU dengan orang-orang rafidhah yang mengaku bahwa ayat Al Qur’annya lebih banyak dari Mushaf Utsmani sampai mereka kembali bertaubat.
    Yang bisa menyatukan umat Islam bukanlah dengan cara mendiamkan sesuatu yang -salah-.
    Tetapi berpegang teguh kepada tali Allah. maksudnya apa ?
    Ya.. menjauhi semua larangannya dan menjalankan perintah Allah.
    Darimana ceritanya sampai antum membandingkan antara selametan tahlilan yang sama sekali belum pernah ada di jaman Nabi maupun di jaman sahabat, tabi’in dan tabi’t tabi’in dengan adzan yang memang sudah ada dan penambahannyapun atas sizin Nabi ?
    Bagaimana bisa selametan tahlilan itu masalah khilafiyah ?
    Coba tolong antum definisikan dengan benar apa itu khilafiyah, sepertinya pemahaman antum tentang khilafiyah beserta contohnya rancu.

    Sebenarnya kita tidak perlu mempermasalahkan hal2 yang dipandang tidak perlu untuk dipecahkan dengan menggunakan otot yang berlebihan (menguras pikiran). semua ada dasar dan panutannya.”

    Lha.. sekarang panutan selametan tahlilan itu dari mana dan dari siapa ?
    Atau gini deh.. tantanganku tambah satu buat kaum tahlilin..
    Tolong ceritakan asal muasal adanya selametan tahlilan.
    Terserah mau dari kitab mana deh.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 4, 2006 @ 12:34 pm | Balas

  25. #22
    “memang betul dijaman rosululloh tidak ada tahlilan (berkumpul dirumah orang untuk membaca tahlil) kaarena jaman rosul masih menyebarkan tauhid dan sekarang kitalah yang mengumandangkan tauhid.”
    menurut saya, analoginya -maaf- ngawur. Bukan berarti kalau mengumandangkan tauhid, kemudian menghalalkan ritual ibadah yang diada-adakan lho..
    Jaman sekarangpun, kita masih harus menyebarkan tauhid. Banyak kemusyrikan baik yang besar maupun yang kecil yg dilakukan disekeliling kita.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 4, 2006 @ 12:47 pm | Balas

  26. artikel dan komentarnya cukup bagus, aku mendukung usaha pemurnian agama islam (diantaranya dg artikel). Dengan tidak bermaksud menggurui, menurutku cara beragama yg hrs kita ikuti adalah spt apa2 yg telah disampaikan oleh rosul, bukankah Alloh melalui rosulnya telah menyempurnakan Islam sbg agama utk kita.
    Mungkin karena itu menuntut ilmu agama itu wajib agar kita tau mana ya…yg diajarkan oleh rosul dan mana yg bukan /merupakan tradisi.
    analoginya, jikalau kita berjalan mengikuti jejak rosul maka kita akan semakin dekat berjumpa dg rosul (sampai di surga) tapi jika kita berjalan mengikuti jejak leluhur/tradisi maka akan semkin dekat ketemu dg leluhur kita. Kalo kita ikutin jln rosul, sudah pasti surga jaminannya tapi kalo leluhur atau tradisi? kalo kita sudah tau jln yg benar kenapa tidak melaluinya/mengikutinya
    Waduh…udah kebanyakan nih, maaf jika ada yg kurang berkenan…

    Komentar oleh dodi — Oktober 5, 2006 @ 12:50 pm | Balas

  27. #22 Anda bisa memberikan satu hadist saja yang mengatakan bahwa Rasullullah memimmpin zikir/majelis zikir?? Ta’ziah apa yg anda maksud?? membuat tahlilan dgn cara membebankan orang terkena musibah (krn hrs menyiapkan besek & kue2x serta memberikan uang kepada yg membacakan doa)kah?? Ta’ziah menurut nabi adalah kita menghibur hati orang yg terkena musibah bukan membebaninya. Menggotong mayit merupakan fardhu kifayah yg jika tidak dilakukan oleh orang2x disekitar-nya maka berdosalah mereka.. Tauhid itu bukan untuk dikumandangkan pak… bukan untuk dipamerkan tapi untuk ibadah… hubungan personal antara manusia (mahluk yg dicipta) dengan Allah (sang pencipta). Bedakanlah antara yg baik dengan yang benar, yg baik itu belum tentu benar pak… sedangkan yang benar pasti baik dan benar..

    Komentar oleh anggun — Oktober 5, 2006 @ 3:34 pm | Balas

  28. subhanallah, saya yakin Rasulullah saw akan sedih dan menangis melihat umatnya yang seperti kita ini. Allohuma sholi ala Muhammad.

    Komentar oleh mail — Oktober 5, 2006 @ 4:34 pm | Balas

  29. Untuk lebih mudahnya saya ulangi deh ya..
    1. tolong saya dicarikan dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah mengadakan atau melakukan tahlilan dalam memperingati wafatnya keluarga ataupun sahabat Beliau.
    2. Tolong juga dicarikan asal muasal atau mungkin tepatnya kapan pertama kali selamtean tahlilan itu dilaksanakan. Pasti dong ada sejarahnya.. sama seperti ibadah2 yang lain, pasti ada saat pertama kalinya.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 6, 2006 @ 10:13 am | Balas

  30. Paling Mantap itu Mas Adhi Nugraha…pasti ilmunya tinggi banget sampai bisa komnetar seperti itu…hebat…hebat…(kasihan….)

    Komentar oleh phiqur — Oktober 10, 2006 @ 11:17 am | Balas

  31. #30 Yang menjadi objek dalam hal ini bukan saya, tapi soal tahlilan. Jadi, mohon maaf kalau saya ngga ngerti maksud komentar sampeyan yang menjadikan saya sebagai objek.
    Dari awal diskusi, saya berusaha tidak mendeskritkan orang per orang. Jadi, saya kembali kepada tantangan saya di komentar nomer 29, tolong jika anda dapat memberikan saya bukti yang meyakinkan, maka, demi Allah, saya menjadi orang yang paling depan dan paling lantang dalam rangka mengkampanyekan slametan tahlilan.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 10, 2006 @ 11:44 am | Balas

  32. #30 kok anda jadi mengarah ke personal ya… kita disinikan diskusi cari KEBENARAN bukan PEMBENARAN so selama anda tidak bisa menunjukkan dalil-nya yg sahih mana bisa kita melakukan hal2x tidak ada dalilnya. Ingat lho beribadah itu dasarnya haram sampai datang petunjuk (dari Rasulullah). Kalo bermuamalah memang benar, halal sampai datangnya larangan.

    Komentar oleh anggun — Oktober 10, 2006 @ 2:25 pm | Balas

  33. #28 ya pak, dan Rasulullah akan makin sedih jika melihat ummatnya melakukan apa yang tidak pernah beliau contohkan. Umatnya ternyata lebih “pintar” dan “lebih mengetahui” cara beribadah dari pada beliau sendiri. Astagfirullah….

    Komentar oleh anggun — Oktober 10, 2006 @ 2:31 pm | Balas

  34. ane stuju bgt sma anggun n adhi nugraha deh,,oya klo mo nanya2 ada yg bls gk seh??

    Komentar oleh qjunk — Oktober 11, 2006 @ 11:21 am | Balas

  35. Karena saya org awam saya tidak bisa ikut debat, tapi satu hal yg terpenting adalah menjaga kerukunan antara umat seagama(agama Islam)tanpa harus menganggap saya yg paling benar. kalau mau di perdebatkan bukalah forum debat yg baik dan menghadirkan ulama-ulama yg mengerti tentang maslahnya.

    Komentar oleh Junaidi — Oktober 17, 2006 @ 11:42 am | Balas

  36. Saya selalu ingin menangis ketika kaum muda islam berdebat. Apakah ini salah satunya yang dikuatirkan Rasulullah SAW hingga di akhir hayatnya mengucapkan ummati.. ummati.. ummati.

    Komentar oleh anton — Oktober 23, 2006 @ 2:07 pm | Balas

  37. Bagaimana islam mau maju dan bersatu, kalau dengan temen islam sendiri terus cekcok, walau hanya dalam pendapat, tapi setidakya ini akan membawa pada kesenjangan sosial budaya, padahal sekarang sudah bukan zamannya lagi, pengalaman sudah membuktikan kekalahan islam dimasa-masa yang lalu, sekarang dirubah saja, saya setuju istilah tahlil dirubah saja, acaranya makan bersama, yang sebelumnya membaca dzikir, lafdzul jalalah, istighfar, tasbih dan do’a bersama. setujuuuuuuuuuuu ?????

    Komentar oleh sodikin — November 19, 2006 @ 2:08 am | Balas

  38. “Tahilal adalah suatu acara yang didalamnya mengumandangkan do’a-do’a”. satu kalimat yang terlontar dari mulut orang yang ahli tahilaln. satu hal, saya keberatan ketika tahlilal dikatakan ‘sunnah’. dari mana asalnya, kitab apa ruju kannya?. saya adalah salah satu orang yang tidak menerima adanya ritual tahlilan karena itu adalah suatu yang megnada-ada. awas…jangan hanya melihat dari namanya saja tetapi tetapi harus dilihat dari mana datangnya dan asalnya. kalo mau beribadah jangan meraba-raba coy..dan jangan pakai perasaan bahwa itu seperti yang baik, padahal….?. nah, coba kawan-kawan cari lagi darimana asal-usul tahlilan.trims!!.

    Komentar oleh abhi — Desember 13, 2006 @ 11:43 pm | Balas

  39. Daripada susah susah mengatakan tahlilan “TIDAK” benar, mendingan mencontohkan apa yang benar. Bikinin donk artikel yang mencontohkan apa apa yang disunnahkan untuk ahli keluarga arwah.

    Komentar oleh Andri — Januari 12, 2007 @ 2:17 pm | Balas

  40. astagfirullah…nyatanya syetan telah menguasai nurani ahli bid’ah.semoga allah menurunkan hidayah buat kita semua agar terhindar dari bid’ah.dan sebaik-baik dalil bagi ahli bid’ah adalah diam.pesan saya;”bila ada permasalahan yang tidak terselesaikan,kembalilah pada al-qur’an dan sunnah niscaya kita tidak akan tersesat selamanya”insya allah. ammiin………

    Komentar oleh deni_we_lah — Februari 21, 2007 @ 9:34 am | Balas

  41. weleh weleh apa gak bosen tuh yang begitu dibahas. mentang mentang sudah tau islam (padahal baru secuil, mereka juga saudara qita , jalan islam itu banyak mas. pintu surgaa juga banyak, carilah yang sesuai menurut jalur mu, jangan jangan yang tidak suka tahlilan karena tidak suka bersilaturahmi, atau jangan jangan ya jangan jangan deh, wong ndesho juga islam, masih satu syahadat, mabinya juga sama, kalau berani perangi tuh amerika, berbuat lah yang banyak untuk sekelilingmu jangan hanya retorika bahas ini,itu gak keru-keruan.mau dari pintu surga mana kamu masuk?mau dari kiri, tengah, atau kanan?biasanya orang yang nyela orang didalam dirinya juga ada yang tercela,he..he..jangan marah ya mas.lebih baik mari kita sama sama gerakan tangan kita untuk menghimpun kekuatan bagi yang masih lemah .trims ah. sikapi lah diri kita baru kita bisa menyikapi orrang lain.oke mas saya permisi

    Komentar oleh yayat hendrayana — April 19, 2007 @ 10:42 am | Balas

  42. buat mas deni_we_lah, janganlah qt mudah mengatakan ahli bid”ah pada sesama muslim,perangilah orang “kafir” yang nyata-nyata didepan mata anda secara berani.sompret betul anda berani mengatakan ahli bid”ah. belajar agama dulu lah.banyak banyak membaca buku tidak hanya satu rferensi,membaca satu buku dan qt bukan ahli penelaah akan tersesat jadinya.maka saya sarankan “belajar” euy jadi manusia bijak.mas deni yang terhormat, belajar nahwu sharaf dulu yah, setelah itu beli buku yang banyak baru berkomentar. marah ya haaaaaaa, kulo nyuwun pangapunten.

    Komentar oleh s_anoa — April 19, 2007 @ 10:51 am | Balas

  43. buat mas adhi anugrah, seolah olah andalah yang paling tau mengenai islam, padahal belum.begini mas adhi, nama anda sangat besar tapi penilaian bukan sepenuhnya pada saya. anda pintar dalam ber”kritisi”.emosi harus terkendali ya.kalau kata orang sunda mah “jelema mah saukur bebeneran” nu bener mah anging gusti Alloh sareng rasulna” cari sendiri ya artinya ga perlu dijelaskan.oke mas adhi, bravo lah buat kamu. tingkatkan terus ibadah sampai menyentuh qalbu sekelilingmu.

    Komentar oleh s_anoa — April 19, 2007 @ 10:56 am | Balas

  44. ass.wr.wb
    Menurut pendapat saya tahlilan itu hekekatnya dzikir berjamaah. Ketika kita berdoa tentu diawal kita akan memuji allah dengan bacaan dzikir atau bacaan al-qur’an. dan kemaudian membaca sholawat. Mungkin seperti ketika ustad arifin ilham memimpin dzikir ( sama urutanya) kemudian diakhiri dengan do’a mohon si mayit diampuni dosanya. salahkah?. Tetapi tidak semua orang memahami bacaan dan niat dalam bertahlilan sehingga di dalam masyarakat identitik kirim tahlil utk si mayit. Tolonglah kita pahami kondisi masyarakat kita yang banyak memeluk islam karena keturunan. Sehingga banyak yang kita kerjakan tapi kita tidak tahu kenapa kita mengerjakan, tahunya pokoknya seperti itu. Mari kita kaji setiap kebiasaan dimasyarakat.
    wassalam

    Komentar oleh syaiuudin — Mei 2, 2007 @ 11:42 am | Balas

  45. Iya ya, jaman Rasulullah, Al Quran tidak dibukukan, tetapi jaman sahabat barulah dibukukan. Gimana nih, berarti para sahabat telah melakukan bid’ah dong ???? Katanya kalau menambahkan hal yg baik bagi syiar Islam menjadi pahala, seperti pembukuan Al Quran, kalau tahlil & maulid khan hal yang baik juga, walau tak ada tuntunannya. Pusing nihhh ama komentar2 kalian yang hebat2 :((((

    Komentar oleh aku — Mei 4, 2007 @ 10:32 pm | Balas

  46. tahun 2006 silam bertempat di lumajang, Jawa timur diselenggarakan konggres asia penganut agama hindu. Salah satu point penting yang diangkat adalah ungkapan syukur cukup mendalam kepada Tuhan mereka, karena bermanfaatnya salah satu ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblakke dalam istilah jawa, untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran itu oleh sebagian umat islam.

    Komentar oleh iqbal — Mei 5, 2007 @ 12:04 am | Balas

  47. Keutamaan tahlil:
    Sabda Rasul SAW, Sesungguhnya doa yang terbaik adalah membaca: Alhamdulillaah. Se-dang zikir yang terbaik adalah: Laa Ilaaha Illallaah.”HR. At-Tirmidzi 5/462, Ibnu Majah 2/1249, Al-Hakim 1/503. Menurut Al-Hakim, hadits tersebut adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya, Lihat pula Shahihul Jami’ 1/362.

    Keutamaan majelis dzikir:
    Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim)

    Komentar oleh orang awam — Mei 8, 2007 @ 1:07 am | Balas

  48. Dalil perintah/anjuran berdoa:

    Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Q.S., Al-Mukmin: 60).

    “Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S., Al-Baqarah: 186).

    Komentar oleh org awam — Mei 8, 2007 @ 3:03 am | Balas

  49. Dalil untuk mendoakan saudaranya:

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Komentar oleh org awam — Mei 8, 2007 @ 3:14 am | Balas

  50. “Ta’ziyah, yaitu menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”

    Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Yaitu memotivasi orang yang tertimpa musibah agar lebih bersabar, dan meghiburnya supaya melupakannya, meringankan tekanan kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya”

    Kapan? Sebagian ulama Syafi’iyah dan Hanbaliah membebaskannya waktunya. Sampai kapan saja, tidak ada pembatasan waktunya. Sebab, menurut mereka, tujuan dari ta’ziyah ini untuk mendo’akan, memotivasinya agar bersabar dan tidak melakukan ratapan, dan lain sebagainya. Tujuan ini tentu saja berlaku untuk jangka waktu yang lama.

    Komentar oleh org awam — Mei 8, 2007 @ 3:19 am | Balas

  51. Ketika seorang muslim mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya, serta menghibur agar bersabar dari cobaan. (Dalil #50)

    Tidak ada yang lebih baik dari menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit dan keluarga yg ditinggalkannya. Inilah yang kemudian menjadi majelis tahlil (tahlilan), karena dalam majelis itu yang dibaca terutama adalah kalimat tahlil. Dasarnya adalah #47.

    Mengenai waktu-nya sesuai #50, bebas. JIka tradisi masyarakat adalah hari 3,7,40 dst.. itu hanya tradisi, tidak ada masalah karena tidak ada larangan dalam kaidah agama. Jika anda mau takziah hari ke 25 pun silahkan.

    Yang dilarang itu adalah jika kita mewajibkan peringatan 3, 7, 40 hari dst sebagai keharusan,.. karena tidak ada dalil yg mewajibkannya.

    Komentar oleh org awam — Mei 9, 2007 @ 9:44 am | Balas

  52. Kata Gusdur di Pikiran rakyat beberapa waktu yang lalu, tahlilan itu budaya. Mengapa harus dipandang dari kaca halal haram, wong namanya juga budaya ya baiarkan saja. Organ tunggal juga gak dibahas dalam-dalam. repot-repot amat sih

    Komentar oleh lugas — Juni 11, 2007 @ 11:39 am | Balas

  53. Tahlil itu sebuah metode dakwah yang waktu itu dilaksanakan oleh para wali (wali songo)yang memang belum final dakwahnya tapi mereka (wali songo) sudah kembali dulu ke hadirat rabbi. Bagi saya selama itu (tahlil) masih ada manfaat nda masalah tetap kita jalankan bahkan ditetapkan sebagai metode dakwah yang jitu (ini terbukti karena Indonesia bisa mayoritas Islam) saya kira itu saja, tahlilan merupakan sebuah metode dakwah, dan itu sebuah fenomena agama yang tidak perlu dicari benar atau salahnya.

    Komentar oleh Shoiman — Juni 13, 2007 @ 8:53 am | Balas

  54. hai… jangan bicara tahlilan yang bingkainya agama, yang nyata2 musyrik juga boleh. Gusdur ikutan hajat bumi kan? kata KH.Hasyim Muzadi pada pembukaan Baitul Muslimin (sayapnya PDI) kita ini harus menjadi muslim domistik, ya mungkin sinkretik musyrik dikit2 mah boleh-boleh saja. Tidak ada dalil yang mengharamkan “tahlilan”, kenduri, hajat bumi dll. pokoknya mari kita menjadi muslim domistik yang enggak usah melirik syariah atau hukum-hukum lah. capek, kasihan saudara kita yang doyan sinkretik. he..he..he..

    Komentar oleh darus — Juni 17, 2007 @ 2:54 pm | Balas

  55. dan jika dibacakan olehmu ayat-ayat Allah(al-quran),diamlah agar engkau mendapat rahmat (al A’raff, 204), ini dalil bahwa dalam islam tidak ada dzikir jamaah, baca quran jamaah, OK barakallahu fikkum…

    Komentar oleh abu fajr — Agustus 23, 2007 @ 8:37 pm | Balas

  56. Oii….. Lu anTum sMua tuh begOO, iLmu ceteK ngomongnya geDE. menDing Lu sMua pindaH agaMa ajE(kong Hu cHu juga bagus tuh). Jangan2 kBanyakan Lu sMua cMa usTad kacangan yg keRjanya tiduR ama ngitung duit amaL di msJid2 kamPus….

    Komentar oleh yanto_majnun — September 13, 2007 @ 11:06 pm | Balas

  57. Bung abu fajr (#55), anda mendapat tafsir ayat qur’an itu dari mana? Tidak ada kitab tafsir yang menafsirkan demikian, bahwa dari ayat itu trs tidak ada dzikir jamaah.

    Simak lagi keutamaan dzikir jamaah (#47). Keutamaan majelis dzikir: Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata,

    Rasulullah saw. bersabda: “Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim)

    Komentar oleh org awam — Oktober 2, 2007 @ 4:17 am | Balas

  58. pengertian zikir jangan diartikan dalam arti sempit, misalnya bil lisan saja. ada makna yang lebih luas dari pengertian zikir tersebut, selain lisan juga amaliah seluruh anggota jasad. lisan mengucapkan asma Allah sedangkan anggota badannya mengamalkan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.zikir lisan tanpa amal tidak akan bermakna.

    Komentar oleh ahmad corel — Oktober 10, 2007 @ 11:23 am | Balas

  59. kebanyakan masyarakat kita terjebak kedalam pengertian zikir dalam arti sempit. misalnya dengan berkumpul atau sendiri-sendiri mengucapkan kalimat-kalimat Allah. padahal zikir itu pegertiannya adalah ingat kepada Allah. berarti dimanapun kita, ditempat kerja, dirumah, di perjalanan dan dimanapun kita berada ataupun sedang dalam kegiatan berarti kita mesti ingat kepada Allah, dengan pergertian ingat kepada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

    Komentar oleh ahmad corel — Oktober 10, 2007 @ 11:39 am | Balas

  60. Yach begitu dech, klo santri kilat dgn murobiqoh/ murobiahnya yg jg barusan ngaji dan kebanyakan hanya bersumber dari sedikit kitab dan menerjemahkannya sepotong2, “sak-enak udel-e”. Isu bid’ah dsb, merupakan isu gak laku lagi dari kalangan salafy/wahabi/iwannul muslimin/MU yg mentransformasi menjadi HT/JI/MMI/dsb seperti isu teroris yg digembargemborkan USA. Mbok yach mereka berjihad dgn mengusir kaum kafir dari Saudi dulu yg menjadi pangkalan utk menyerang sesamanya terutama Arab Muslim jgn berdakwah ke sesama muslim dgn menjustifikasi yg jelek2/mentertawakan ke sesamanya krn belum tentu mereka jelek. Masa’ kejadian pemberontakan Saud ke Kesultanan Ustmaniah Turki dgn menghancurkan negara2 Arab/situs2 Islami dengan aliansi Inggris/negara kafir akan terulang lagi… Apa di hadits Rasululloh juga ada larangan utk mengagungkan asma Alloh melalui bacaan tahlil???

    Komentar oleh JAVAVAMPIRE — Oktober 21, 2007 @ 2:54 am | Balas

  61. Sebagai penyeimbang.. coba simak ni,

    http://orgawam.wordpress.com/2007/10/01/tahlil-dan-tahlilan/

    semoga manfaat.

    Komentar oleh org awam — November 6, 2007 @ 2:56 am | Balas

  62. semoga anda tidak memerlukan doa, setelah anda meninggal,

    Komentar oleh bagoes_edie — Februari 23, 2008 @ 10:34 am | Balas

  63. wis gak usah podo ribut mas…

    Komentar oleh yanuri — Februari 25, 2008 @ 9:45 am | Balas

  64. Maaf saya ikut nimbrung nih !!!
    Sebelumnya mohon maaf apabila menyinggung salah satu fihak, ini pendapat saya loo…..
    Pendapat saya sebelum berdebat harus disamakan dulu dasarnya yang kita pakai, apakah pakai Al-Qur’an dan Hadits kalau sama baru bisa dibahas, tapi kalau dasarnya sudah tidak sama ya sampai kapanpun tidak akan nyambung.
    Sebagai tambahan dulunya saya islam KTP, solatpun jarang sekarang alhamdulillah meskipun tidak tepat diawal waktu shalat dan dulu saya suka melaksanakan tahlilan (ajaran dari guru agama/ustad) tapi setelah saya sedikit demi sedikit membaca buku-buku agama khususnya islam dengan pegangan Al-Qur’an dan Hadist maka sekarang saya sudah tidak melaksanakan tahlilan lagi mengingat tidak ada Hadistnya yg sohih.
    Pernyataan para Imam (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal)dalam buku Sifat Shalat Nabi dari Muhammad Nashiruddin Al-Albani diterangkan bahwa pada intinya bermakna sbb :”Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah, tinggalkanlah pendapatku itu”. Mohon maaf sekali lagi apabila ada kata-kata yang menyinggung salah satu fihak karena ilmu agama saya masih sangat cetek.

    Komentar oleh joko — Maret 6, 2008 @ 2:16 pm | Balas

  65. mhon maaf,sebenarnya, ma’tam adalah tradisi jahiliyah dalam menyikapi mayyit dengan tangis berlebihan, berteria-teriak, menjambak rambut sendiri, bergulung-gulung dan sebagainya. Selanjutnya, apakah ada zaman sekarang,majelis tahlil dengan tradisi seperti itu kalau memang harus disamakan secara paksa antra majelis tahlil dengan ma’tam ? Jadi, menurut saya, menjadikan pernyataan Imam Syafi’i sebagai hjjah untuk memojokkan tradisi tahlil merupakan hal yang sangat di paksakan.

    Komentar oleh latif — Maret 22, 2008 @ 11:43 am | Balas

  66. “…menurut kepercayaan datuk-nenek-moyang kita zaman purbakala, apabila seorang mati, datanglah roh orang yang mati itu ke dunia kembali, lalu dia mengganggu ke sana ke mari, sehingga ada orang yang sakit. Oleh sebab itu dianjurkan supaya kalau orang telah mati, hendaklah keluarga berkumpul-kumpul beramai-ramai di rumah orang yang kematian itu sejak hari pertama, hari ketiga, hari keempat sampai hari ketujuh. Kemudian dia akan datang lagi mengganggu pada hari yang ke empat puluh. Setelah itu dia akan datang lagi mengganggu pada hari yang ke seratus, dan paling akhir sekali dia akan datang kembali pada hari yang ke seribu. Sebab itu hendaklah orang beramai-ramai di rumah itu di hari-hari tersebut. Sebab roh itu takut datang kalau ada ramai-ramai! Maka setelah nenek-moyang kita memeluk Agama Islam belumlah hilang sama sekali kepercayaan animisme itu, sehingga berkumpul-kumpullah orang di rumah orang kematian di hari-hari yang tersebut itu, sebagai warisan zaman purbakala. Cuma diganti mantra-mantra cara lama dengan membaca al-Qur’an, terutama Surat Yasin.”[1] Padahal, mengikuti atau melanjutkan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, apalagi masalah itu dari adat kepercayaan orang musyrikin, maka sangat dilarang. Sedang tatacaranya itu sendiripun, misalnya bukan karena mewarisi kaum musyrikin, tetap dilarang, karena ada riwayat:

    قال جرير رضي الله عنه: كنا نرى الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه لغيرهم من النياحة. (أحمد ).

    “Jarir RA berkata: ‘Kita berpendapat bahwa kumpul-kumpul ke kekeluarga orang mati dan membuat makanan untuk disajikan kepada para tamu setelah dikuburnya mayit, itu hukumnya termasuk meratapi mayit.” (Riwayat Ahmad).

    Meratapi mayit itu jelas dilarang dalam Islam.

    Hal tersebut mengenai kesukaan yang sama antar para kaum Nahdliyin di berbagai tempat. Lantas dalam hal ketidak sukaannya terhadap hal-hal tertentu pun tampaknya sama. Misalnya ketidak sukaannya terhadap Muslimin yang dulu disebut pembaharu yang memberantas upacara tidak syar’i misalnya tahlilan selamatan/ peringatan orang mati dan sebagainya. Deliar Noer (pakar politik di Indonesia) mencatat beberapa peristiwa sebagai berikut:

    Perbedaan pendapat antara kalangan tradisi (NU dan semacamnya, pen) dan kalangan pembaharu (Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dsb, pen) ini kadang-kadang meletus menjadi tuduhan kafir-mengkafirkan terhadap sesama mereka, sampai-sampai perkelahian fisik pun juga terjadi. Umpamanya; di Ciledug, Cirebon, tanggal 29 Juli 1932, Verslag Openbaar Debat Talqin (Bandung; Persatuan Islam, 1933, selanjutnya disebut Verslag Talqin); di Gebang Cirebon, Mei 1936 (Verslag Debat Taqlied, hal 7).[2]

    Selanjutnya Deliar Noer memberikan catatan kaki: Kadang-kadang Nahdlatul Ulama dituduh sebagai organisasi yang didirikan Belanda, sekurang-kurangnya sebagai organisasi yang disokong Belanda dalam melawan golongan pembaharu (anti bid’ah, khurafat, takhayul, dan kemusyrikan, pen). Lihat umpamanya Oemar Amin Hoesin, “Sedjarah Perkembangan Politik Moderen di Indonesia, “ Hikmah, tahun VIII, No. Lebaran 20/21 (1955). Hoesin menyebut kahadiran Charles van der Plas pada Kongres al-Islam di Cirebon tahun 1922 sebagai bukti tuduhan tersebut. Penulis buku ini (Deliar Noer, pen) berpendapat bahwa kehadiran seorang pejabat seperti itu pada suatu kongres, Islam atau bukan Islam, merupakan suatu hal yang biasa semenjak masa permulaan Sarekat Islam. Tentang tuduhan ini, lihat juga Hindia Baru, 19 Februari 1926.

    Selanjutnya Deliar Noer mengemukakan: Tentang peranan van der Plas di Indonesia, George McT Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca, N.Y. Cornell Universsity Press, 1952), hlm 370, catatan 72, mengatakan:

    Dr van der Plas telah menjadi figur yang setengah merupakan dongeng di Indonesia, dengan fantasi serta kenyataan sama-sama banyak tersangkut pada namanya. Yang pasti ialah bahwa ia termasuk orang istimewa. Banyak pemimpin utama Indonesia, walaupun melihat van der Plas sebagai inkarnasi setan, percaya bahwa ia banyak mengetahui tentang orang Indonesia lebih dari Belanda manapun juga, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dan mereka kagum tentang kesanggupan van der Plas ini. Bila pemerintah Belanda memperlihatkan sesuatu yang mencerminkan kepandaiannya yang licik, terdapat kecenderungan pada intelektual Indonesia untuk berkata: “Ha, ini pekerjaan van der Plas”.

    Bintang Islam, 1926, Tahun IV No.20, hal 324 menyebut Nahdlatul Ulama dengan nama Syarikat Biru, suatu penamaan yang mengingatkan seseorang pada sarikat Hedjo, suatu organisasi gelap yang mendapat sokongan PEB (Politiek Economische Bond –partai yang dibentuk orang-orang Belanda Januari 1919 yang mempunyai pendirian bahwa Politik Etis “terlalu maju” buat Indonesia. PEB ini kerjasama dengan Sindikat Gula –Suiker Syndicaat yang mengawasi produksi dan ekspor gula di Indonesia, dalam memusuhi Sarekat Islam) untuk mengacaukan kalangan pembaharu dan nasionalis lain. Akan sangat penting untuk mencatat di sini bahwa NU tidak pernah mengalami kesukaran sehubungan dengan kegiatan organisasi seperti Sarikat Hedjo. Memang golongan tradisi lebih dapat ditolerir oleh kepala-kepala anak negeri (di Jawa) yang memang disokong oleh kalangan penghulu.[3]

    Meskipun demikian, gejala kini ada pula hal-hal yang tidak disukai oleh sebagian warga NU yang “nyempal” dari polah tingkah orang NU. Hanya saja suara penyempal itu sering kalah, karena kalah dalam hal braok dan bedigasannya (lantangnya bersuara dan polah tingkahnya). Di sini tidak dilihat benar atau salahnya menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah oleh kebanyakan warga NU bahkan para kiyainya atau ulamanya, tetapi hanya dilihat dari banyak tidaknya pendukung atau kuat tidaknya pengaruh pelaku.

    Contoh paling nyata adalah kasus pengadaan do’a bersama antar berbagai agama yang ditokohi oleh ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Hasyim Muzadi pengganti Gus Dur. Tokoh lain yang menggalakkan adanya do’a bersama antar agama dan bahkan benar-benar melaksanakannya lebih dulu, di antaranya adalah Dr Said Agil Siradj tokoh NU yang konon suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke gereja, dan isteri Gus Dur, Ny Sinta Nuriyah. Sampai-sampai perempuan setengah umur yang sudah tidak bisa berjalan itu pun, dengan digledek pakai kursi roda, Ny Sinta Nuriyah mengadakan atau hadir dalam acara do’a bersama antar agama di kuburan Pondok Rangon Jakarta Timur, 1996, bersama orang-orang aneka macam agama yang kebanyakan dari golongan kekiri-kirian. Itu berarti telah lebih dulu ketimbang Hasyim Muzadi yang menyelenggarakan acara do’a bersama antar agama secara besar-besaran dengan nama Indonesia Berdo’a, di Senayan Jakarta, Agustus 2000, setelah Gus Dur jadi Presiden dan masyarakat (mayoritas non NU dan non Palangis) tampaknya tidak puas dengan kepemimpinan Gus Dur yang kurang bermanfaat atau malah banyak mudharatnya.

    Dalam arus kuat di kalangan NU yang hingar bingar dengan menggalakkan upacara do’a bersama antar agama itu ada juga kiyai-kiyai NU yang anti. Mereka ini suka menyebut diri sebagai NU yang tidak pro (alias anti) Gus Dur dan Agil Siradj. Di antaranya Kiyai Bashori Alwi dari Malang Jawa Timur dan kawan-kawannya serta santri-santrinya. Itu salah satu contoh “penyempal” dari hingar bingar polah tingkah orang NU. Padahal yang “menyempal” ini, yaitu yang anti mengadakan do’a bersama antar berbagai macam agama itu justru yang masih konsisten dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebenarnya. Hanya saja dalam hal yang sudah mendarah daging di kalangan orang NU, misalnya kebiasaan tahlilan memperingati orang meninggal, tidak terdengar adanya orang NU yang “menyempal” alias anti terhadap acara yang jelas bid’ah dan meniru orang musyrikin animisme itu. Kalau seseorang tidak mau upacara-upacara tahlilan memperingati orang mati model animisme itu maka biasanya di masyarakat NU langsung dicap/ dikecam sebagai orang Kramandiyah atau Kamandiyah yang maksudnya adalah Muhammadiyah, atau bahkan dicap sebagai bukan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di situlah kemudian dihembuskan di masyarakat bahwa yang Ahli Sunnah wal Jama’ah itu adalah orang NU, yang oleh mereka kemudian sering disingkat menjadi Aswaja. Padahal, secara lafdhiyah maupun maknawiyah, yang namanya Ahli Sunnah wal Jama’ah itu adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan yang menambah-nambah ajaran Islam dengan tradisi animisme ataupun amalan-amalan bid’ah lainnya. Sedang yang suka menambah-nambah itu dalam istilah aqidah disebut ahlul ahwa’ wal bida’. Artinya ahli hawa nafsu dan bid’ah. Disebut demikian karena tidak menepati apa yang diajarkan oleh wahyu, tetapi mengikuti hawa nafsu, dan menciptakan atau melakukan hal-hal baru dalam hal beribadah atau taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

    Meskipun demikian, jangan coba-coba langsung mengatakan kepada orang-orang yang senang mengadakan selamatan memperingati kematian dengan ungkapan ahlul ahwa’ wal bida’ atau ahli bid’ah. Karena, mereka dalam mempertahankan kebid’ahannya itu kadang lebih gigih dibanding mempertahankan Islam itu sendiri. Dalam kehidupan nyata pun tampak sekali, misalnya ummat Islam di Ambon diserang dan dibantai oleh orang-orang Nasrani, namun pihak ahlul ahwa’ wal bida’ itu tampaknya tidak ada pembelaannya sama sekali terhadap Muslimin atau sarana-sarana Islam seperti masjid-masjid yang dibakar dan dirusak. Kecuali yang memang orang sana (tempat kejadian itu sendiri), walaupun misalnya mereka termasuk ahlul ahwa’ wal bida’ namun karena langsung mendapatkan serangan dari non Islam, maka tentu saja mempertahankan diri sebagaimana siapa saja yang kena serangan mesti melakukannya. Namun yang di tempat lain, di luar tempat kejadian, bahkan di pusat, justru kaum ahlul ahwa’ wal bida’ itu lebih sangat sayang terhadap gereja-gereja, hingga mereka dikerahkan untuk menjadi centeng tukang pukul di gereja-gereja. Akibatnya, ketika ada peristiwa ledakan bom di berbagai kota di dekat-dekat gereja pada malan natalan 2000, khabarnya ada satu orang dari Anshor atau Banser (Barisan Anshor Serba Guna), organisasi pemuda di bawah NU, yang mati kena bom karena jadi centeng (penjaga)di gereja Eben Heizer Mojokerto Jawa Timur. Beritanya sebagai berikut:

    Bom meledak di 22 gereja di 10 kota se-Indonesia terjadi pada Malam Natal 2000, Ahad malam 24 Desember 2000 sekitar pukul 21.

    Menurut Republika, pada waktu itu, secara serentak bom meledak di 22 gereja pada 10 kota. Hampir semuanya adalah gereja Katolik. Chandra Tirta Wijaya (16) yang meninggal Sabtu 6/1 2001 adalah korban ke-20 yang meninggal, termasuk seorang anggota Banser yang demi solidaritas keagamaannya ikut menjaga Gereja Eben Heizer, Mojokerto, Jawa Timur. (Tajuk Republika, “Korban itu pun meninggal”, Senin 8 Januari 2001, halaman 6).

    Kota-kota yang dikhabarkan diguncang bom di dekat gereja-gereja adalah Jakarta, Bandung, Medan, Mojokerto, dan Mataram NTB.

    Demikianlah sikap keberagamaan orang-orang NU dan organisasi-organisasi di bawahnya. Sehingga kadang umat Islam justru dianggap oleh ahlul ahwa’ wal bida’ ini sebagai suatu ancaman. Maka kelompok ahlul ahwa’ wal bida’ itu pernah ditawar pula oleh pihak Nasrani untuk maju bersama dengan kaum Nasrani dalam menghadapi Muslimin di Ambon, dalam bahasa untuk mengamankan. Penawaran itu tentu saja melalui berbagai pertimbangan. Di samping sikap keberagamaan mereka sudah diketahui demikian, sikap politiknya pun sudah diketahui pula. Di antara yang mencolok mata adalah di zaman pemerintahan Soekarno, digencarkan istilah Nasakom (Nasional – Agama- dan Komunis). Yang namanya Agama di situ adalah orang-orang NU. Sehingga ada lagu wajib yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah, judulnya “Nasakom Bersatu”, yang di antara baitnya berbunyi:

    “Nasakom bersatu

    hancurkan kepala batu…”

    Maksudnya, orang-orang Nasionalis (kaum sekuler anti syari’at Islam), Agama –yaitu orang-orang NU, dan Komunis – orang-orang PKI anti Tuhan –semuanya (3 komponen) itu bersatu, lalu mereka berkomando untuk menghancurkan kepala batu. Yang dimaksud kepala batu adalah orang-orang Islam Masyumi.

    Sikap bergabung dengan orang-orang anti syari’at Islam dan bahkan dengan komunis anti Tuhan itu sudah diketahui oleh umum, makanya kaum Nasrani pun berani menawar mereka untuk kerjasama melawan Muslimin Ambon. Belakangan, Februari 2001M, para ahlul ahwa’ wal bida’ itu diduga bekerja sama dengan anak cucu PKI mengadakan kerusuhan besar-besaran di Jawa Timur dengan menghancurkan masjid, madrasah, panti asuhan terutama milik Muhammadiyah dan menebangi ratusan pohon pinggir jalan, lalu dihadangkan di jalan raya, agar semua kendaraan tidak bisa lewat. Tingkah merusak dan menghalangi kepentingan umum itu mereka lakukan hanya karena ashobiyah/ fanatik buta mendukung presiden Gus Dur yang sedang digoyang DPR dari kursi kepresidenannya.

    Dalam sejarah Islam, hanya orang-orang Yahudi dan munafiqin serta orang-orang yang lemah imannya/ ragu-ragu dan tidak mau berhijrah saja yang mau bergabung dengan kaum kafir dalam berperang menghadapi ummat Islam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan, orang-orang yang tak mau berhijrah dan kemudian dipaksa oleh orang kafir Makkah untuk bergabung dalam menghadapi Muslimin, kemudian mereka mati, maka mereka masuk neraka, walaupun alasan mereka karena dilemahkan oleh kaum kafir Makkah.

    Allah SWT berfirman:

    إن الذين توفهم……..

    …… ولا يهتدون سبيلا. ( النساء: 97-98).

    “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: `Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)`. Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di negeri itu? Orang-orang itu tempatnya ialah neraka jahannam , dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa: 97).

    Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). (QS An-Nisaa’: 98).

    Ada beberapa riwayat berkenaan dengan turunnya ayat tersebut, di antaranya sebagai berikut:

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat Kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya) yang turut berperang menentang Rasulullah saw sehingga ada yang terbunuh karena panah atau pedang pasukan Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (S4:97) sebagai penjelasan hukum bagi Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya sendiri (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas).

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah musyrikin itu antara lain Qais bin Walid bin Mughirah, Abu Qais bin Al-Faqih bin Mughirah, Walid bin ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayah bin Khalaf. Dan selanjutnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada peperangan Badr, di saat mereka melihat jumlah Kaum Muslimin sangat sedikit, timbullah rasa keragu-raguan pada mereka dan berkata: “Tertipu mereka dengan Agamanya”. Orang tersebut di atas mati terbunuh di perang Badr itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih).

    Keterangan: Menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang tersebut dalam hadits di atas termasuk juga al-Harts bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajjaj.

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika segolongan orang-orang Mekah telah masuk Islam dan Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut berhijrah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S 4:97,98) sebagai ancaman hukuman bagi yang enggan dan takut memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali orang yang tidak berdaya. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani yang bersumber dari Ibnu Abbas).[4]

    Peringatan ayat Al-Qur’an sedemikian tegas, namun hal yang harus dijauhi benar-benar itu oleh sebagian kelompok justru dijadikan model yang digalakkan dalam golongannya, yaitu berkasih-kasihan dengan musuh-musuh Islam, bekerjasama, dan saling tahu menahu dalam hal menghadapi Muslimin yang dianggap bukan golongannya. Bahkan Muslimin yang ingin menegakkan Islam secara murni kadang direncanakan untuk dijadikan sasaran pengganyangan atau sebagai musuh bersama. Jadi tidak cukup hanya mengadakan do’a bersama antar berbagai agama (yang hal itu merupakan bid’ah dholalah alias sesat)[5], namun kemungkinan sekali akan mempraktekkan teori menjadikan Muslimin yang konsekuen dengan Islam sebagai musuh bersama.

    Lakonnya tidak jelas sambil berkilah

    Kembali kepada NU, dalam hal-hal yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan lagak lagu NU, biasanya para kiyai NU bukan sekadar menyetujui ataupun mengamini tradisi yang berkembang di NU, namun justru mereka bertandang menjadi pelopor, walaupun tradisi itu tidak terdapat dalam ajaran Islam. Mereka kadang mencari-cari kilah untuk mendalili lakon dan lagak lagu NU itu. Hal itu tampaknya sudah menjadi khitthah (garis) dalam NU sejak awal mula. Buktinya? Ada seorang kiyai di Magelang bertanya kepada Kiyai Ali Yafie (waktu masih berkecimpung dalam PBNU, 1987) dalam konferensi ulama NU di Pesantren Watu Congol Muntilan Magelang Jawa Tengah. Kiyai Magelang itu bertanya kepada Kiyai Ali Yafie, kenapa dulu Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU, kakek Gus Dur) melarang murid-muridnya membaca kitab Subulus Salam (Syarah/ penjelasan Kitab Bulughul Maram –kitab hadits disusun dengan pengelompokan urutan secara hukum-hukum fiqh)?

    Kiyai Ali Yafie menjawab, karena Kitab Subulus Salam itu dikarang oleh As-Shon’ani, orang Syi’ah.

    Jawaban Kiyai Ali yafie itu sendiri belum bisa dipertanggung jawabkan. Dan andaikan itu benar pun, hampir tidak ada dalam kitab itu ajaran yang mempropagandakan Syi’ah. Seandainya masalahnya karena Syi’ah pun, bagi NU tidak ada masalah. Karena kedua-duanya (NU dan Syi’ah sama-sama doyan tasawuf, sama-sama doyan klenik yang dibungkus seolah Islami. Sedangkan tentang Syi’ah, di Indonesia saat tahun 1940-an belum terdengar gencar, baru setelah revolusi Iran 1979 lah terdengar gencarnya, karena penguasa Iran, Khomeini adalah tokoh Syi’ah, maka orang-orang yang tidak mantap kesunniannya seperti Jalaluddin Rachmat orang Bandung lalu coba-coba mencari proyek baru dalam hal sekte. Mula-mula Jalal malu-malu, sampai-sampai dia katakan dirinya Susi, Sunnah-Syi’ah, akhirnya dia mendirikan Ijabi, tahun 2000, nama ormas berkedok Ahlul Bait, yang hakekatnya adalah Syi’ah, dengan menjajakan tasawuf yang digemari oleh kalangan NU.

    Yang jelas, pelarangan membaca kitab syarah (penjelasan) hadits Bulughul Maram oleh pendiri NU itu masih menjadi teka-teki bagi murid Syeikh Hasyim Asy’ari itu sendiri sampai sekarang. Sejalan dengan itu, sampai tahun 1970-an, podok Pesantren Krapyak Yogyakarta pimpinan Kiyai Ali Maksum tokoh NU, tempat mondok Masdar F Mas’udi –kini tokoh NU yang menginginkan ibadah haji itu wuqufnya di Arafah dan mabitnya di Mina jangan hanya di bulan Dzul Hijjah–, konon dulu masih melarang santrinya membaca koran. Anehnya, di Yogyakarta pula sejak 1995-an muncul kelompok anak-anak NU yang justru gandrung (sangat cinta, untuk tidak disebut ngebet) membaca buku-buku kekiri-kirian misalnya buku Hasan Hanafi tokoh alyasarul Islami (kiri islam) yang banyak dikecam oleh ulama Islamiyun (ulama yang bukan sekuler, bukan kekiri-kirian, dan fahamnya teguh terhadap Islam) di Mesir. Bahkan anak-anak muda NU di Yogyakarta itu menyebarkan faham kekiri-kirian lewat buku-buku terjemahan yang mereka terbitkan. Sampai buku yang menghantam Imam Syafi’i pun mereka edarkan, padahal di tempat dibuatnya buku itu di Mesir, pembuatnya justru sangat dikecam oleh ulama Islamiyun.

    Setahu saya, dulu tokoh penyebaran literatur kekiri-kirian di Yogyakarta ini sering mengaji kitab-kitab ke Pak Tholchah Mansur, dosen IAIN Yogya yang mengadakan pengajian kitab-kitab Riyadhus Sholihin dan semacamnya, kitab Sunnah yang sama sekali jauh dari arah kekiri-kirian. Tetapi kenapa tahu-tahu 20 tahun kemudian menjadi pelopor menyebarkan faham kiri. Apakah karena mereka dikader secara khusus oleh tokoh NU-nya yaitu Gus Dur yang memang anak asuh guru kesayangannya, Ibu Rubi’ah yang orang Gerwani (orang komunis perempuan) dan memang kemudian Gus Dur tampak ingin menghidupkan komunis kembali di Indonesia dengan bukti ingin mencabut TAP MPRS No XXV tahun 1966 tentang pelarangan Komunis di Indonesia, atau memang ada hal-hal lain? Tidak jelas pula.

    Dari gambaran itu, di kalangan NU serba ada hal-hal yang tidak jelas. Kiyai Fulan A melarang santrinya membaca kitab Subulus Salam tanpa alasan yang jelas. Kiyai Fulan B melarang santrinya membaca koran tanpa alasan yang jelas. Kiyai Fulan muda menjejali generasi muda NU dengan faham-faham kekiri-kirian tanpa alasan yang jelas pula. Nyonya Fulanah mengajak jama’ahnya untuk berdo’a bersama antar berbagai macam agama di kuburan tanpa hujjah (dalil/ argumentasi) yang jelas. Kiyai Fulan C mengajak do’a bersama antar berbagai macam agama dengan mengatas namakan Indonesia tanpa hujjah yang nggenah. Memang dari beberapa contoh itu sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah hal-hal yang tidak jelas.

    Apanya yang tidak jelas?

    Yang tidak jelas adalah cara mereka berbuat, berlagak lagu, berpola pikir, dan bermetode dalam beragama. Karena sudah menyangkut masalah cara beragama, maka penyalahan (kritik tajam) yang dilakukan orang terhadap lakon orang dalam menjalankan agama –yang salah— itu adalah sah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw menyuruh sahabatnya untuk mengulangi shalatnya, karena shalatnya kurang benar. Atau ada pula yang disuruh mengulangi wudhunya, atau Nabi saw menyuruh mengulangi wudhu cucunya dengan cara mengajarkan urutan-urutan praktek wudhu satu persatu dengan maksud agar orang dewasa tahu cara-cara wudhu yang benar. Itu ditampilkan dalam Hadits-hadits, di antaranya di Hadits Al-Bukhari. Atau hal-hal lain berupa sikap Nabi Muhammad saw meluruskan, memberikan teguran, bahkan sampai marah-marah, seperti terhadap sahabat yang membunuh musuh dalam perang jihad melawan orang kafir yang sudah mengucap لااله إلا الله. .

    Islam membolehkan peneguran-peneguran seperti itu. Karena Islam adalah agama nasehat. Dan nasehat itu ada pula yang sampai bentuknya marah-marah, apabila memang sikap yang pas adalah marah-marah. Namun tentu saja harus proporsional. Bahkan Islam akan menegakkan hukuman pula terhadap siapa yang melanggar, yang kadar pelanggarannya sampai pada batas dikenakan hukuman. Hingga Nabi Muhammad saw pun bersumpah, seandainya puterinya, Fathimah binti Muhammad, mencuri maka pasti beliau potong tangannya.

    والذي نفسي بيده لو سرقت فاطمة بنت محمد لقطعت يدها.

    “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti saya potong tangannya.” (HR Muslim).

    Itu semua adalah mendudukkan masalah pada tempatnya. Bukan hantam kromo, asal ngamuk, asal marah, dan asal main rusak, main bakar, main tebang kayu seenaknya, main kroyok, main paksa dan sebagainya seperti yang diduga dilakukan oleh orang-orang Nahdliyin di Jawa Timur Februari 2001 hanya demi membela Gus Dur agar tidak diturunkan dari jabatan presiden, sekalipun DPR yang mengangkatnya/ memilihnya sebagai presiden itu sudah memutuskan bahwa Presiden Gus Dur diduga terlibat dalam kasus pengucuran dana Yanatera Bulog (yayasan dana kesejahteraan karyawan Badan Urusan Logistik) Rp35 miliar, dan mulut Gus Dur dinilai tidak konsisten dalam memberikan keterangan tentang sumbangan dari Sultan Brunei Darus Salam, Sultan Hasanal Bolkiah 2 juta dolar Amerika.

    Asal marah atau asal ucap pun dilakonkan oleh Presiden Gus Dur beserta para pendukungnya, dengan cara mengancam akan membubarkan DPR. Ini ibarat pepatah: air susu dibalas dengan air tuba. Tidak pantas, orang yang diangkat oleh DPR menjadi presiden, lalu ketika sudah jadi presiden malah mau membubarkan DPR yang mengangkatnya itu. Tidak pantas pula seandainya ada anak yang dilahirkan oleh ibu, lalu ketika si anak merasa dirinya punya pendukung, sedang ibunya menasihati dan minta pertanggungan jawab perbuatan si anak yang diduga terlibat kasus duit dan mulutnya bohong, malah si anak mengancam untuk mengusir sang ibu dari rumah sang ibu itu sendiri.

    Barangkali para pendukung Gus Dur balik berkata: Itu juga sama. Amin Rais dan konco-konconya itu adalah orang yang memprakarsai dipilihnya Gus Dur untuk jadi presiden. Kenapa sekarang justru mereka yang paling getol untuk menurunkan Gus Dur?

    Untuk menjawab hal itu, cukup dengan kata-kata ringan. Yang namanya nikah saja yang kaitannya harus memakai syarat dan rukun secara cermat agar sah, namun kalau memang kemudian ada hal-hal yang gawat, maka diperbolehkan untuk thalaq. Bahkan, isteri yang sebenarnya tidak punya hak menthalaq pun diberi hak untuk minta dithalaq atau istilahnya gugatan cerai apabila ada masalah yang sesuai syara’ untuk adanya gugatan cerai. Apalagi ini mayoritas pemilih Gus Dur dulu yaitu anggota DPR sudah nyata menginginkan cepatnya Gus Dur turun dari jabatan presiden. Maka sebenarnya, ibarat suami mau menthalaq isteri, tidak ada kekuatan hukum bagi si isteri untuk mengatakan “bagaimanapun saya tidak mau dicerai”, apabila memang prosedurnya sah.

    Dalam kasus ini ada hadits Nabi saw tentang status pemimpin yang sudah tidak disenangi oleh orang-orang yang dipimpin.

    ثلاثة لا ترفع صلاتهم فوق رؤوسهم شبرا، رجل أم قوما وهم له كارهون، وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط، وأخوان متصارمان. (ابن ماجة باسناد حسن).

    “Ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat sejengkalpun di atas kepalanya. Yaitu laki-laki yang mengimami (memimpin) suatu kaum, sedang mereka membencinya. Perempuan yang tidur malam sedang suaminya dalam keadaan marah kepadanya. Dua saudara yang saling memutuskan hubungan kekeluargaan.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan).

    Barangkali para pendukung Gus Dur masih mempersoalkan, kalau kebenciannya itu hanya karena golongan?

    Memang pertanyaan itu benar. Tetapi, dalam kasus Gus Dur, dalam kenyataannya justru yang memprakarsai untuk dipilihnya Gus Dur itu adalah kelompok Amien Rais dkk, bukan kelompok PKB. Dengan demikian, tidak bisa dituduhkan bahwa keinginan menurunkan Gus Dur itu hanya karena benci lantaran golongan. Tetapi justru di situ ketidak senangan itu timbul karena lakon Gus Dur sendiri yang menimbulkan ketidak simpatian. Sedangkan sebaliknya, PKB dan NU bukannya melihat lakonnya, tetapi mereka mendukung itu hanya karena golongan. Kenapa? Karena Gus Dur adalah dulunya ketua umum PBNU, dan juga deklarator PKB, partai telor ayam, di samping partai tai ayam (menurut perkataan Gus Dur, yaitu PKU –Partai Kebangkitan Umat dan PNU –Partai Nahdlatul Umat) yang ketiga-tiganya berarti keluar dari pantat NU, menurut analog yang dikemukakan Gus Dur.

    Kalau dulu kaum NO (Nahdlatoel Oelama, ini benar-banar U model lama yaitu Oe ) untuk mempertahankan apa yang disebut bid’ah oleh kaum pembaharu dengan jalan main tegang bahkan bentrok bahkan kafir mengkafirkan, maka kini dalam mempertahankan Gus Dur dengan model ashobiyahnya maka sampai merusak bangunan-bangunan, bahkan masjid, panti asuhan, madrasah, dan menebangi ratusan pohon diambrukkan ke sepanjang jalan. Meskipun demikian, mereka tetap tidak terus terang mengakui tindak pengrusakannya itu, sebagaimana mereka tidak mengakui pula bahwa didirikannya NO (kini NU) itu untuk mengganjal gerakan pemberantasan Bid’ah, khurafat, takhayul, dan kemusyrikan yang dilancarkan oleh Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad dan lainnya. Demikian pula gencarnya sorotan bahwa NO (NU) itu organisasi yang didukung Belanda bahkan BEF dalam bekerjasama untuk menghadapi kaum pembaharu dulu nyaring terdengar, sebagaimana kenyataan sekarang para tokoh NU berkasih sayang dengan Yahudi, Nasrani, bahkan anak cucu PKI yang memang ajarannya anti Tuhan demi menghadapi musuh, yang menurut Gus Dur musuh terbesarnya itu adalah Islam kanan. Di zaman Orde Lama, saat Presiden Soekarno pro PKI maka NU bergabung dalam Nasakom, Nasional, Agama (NU), dan Komunis. Zaman Orde Baru, ketika Presiden Soeharto memaksakan asas tunggal pancasila, NU ambil muka untuk jadi barisan terdepan dalam rangka pemaksaan itu. Dari berbagai data dan fakta ini berarti sikap ketidak jelasan NU dari dulu sampai kini sudah cukup jelas.

    Komentar oleh Nurilahi — Maret 23, 2008 @ 10:19 am | Balas

  67. kalau menurut saya kita tidak usah memperpanjang lagi masalah khilafiyah seperti tahlilan, mauludan dan lainlain….karena tradisi yang kita lakukan ini umurnya sudah berabad-abad dilakukan dan disadari atau tidak justru dengan adanya tradisi seperti itu nenek moyang kita tertarik untuk masuk islam dan malah memperbandingkan dengan kepercayaan yang dianut pada waktu itu……jadi alangkah bodoh dan konyolnya bila kita justru tidak melestariakan tradisi tersebut……ingat jika dahulu tahlilan ataupun mauludan tidak ada saya masih sangat yakin masyarakat indonesia masih berkubang dalam masa jahiliyah….oleh karena itu mari kita hargai jasa2 para wali yang yang dengan kecerdasan adan kearifannya menciptakan sarana dakwah yang efektif untuk masyarakat jawa khususnya indonesia…

    Komentar oleh Raffy — Maret 27, 2008 @ 2:48 pm | Balas

  68. maaf bukannya saya sok pinter, tapi maaf….
    kalau saya ….lebih suka ngelihat anak saya ikut acara tahlilan dari pada nongkrong ditepi jalan yang hanya dunia melulu yang difikirkan. salam semoga perbedaan dari kita semua semakin membuat persaudaraan umat islam semakin kuat, amin.

    Komentar oleh kangparjo — April 2, 2008 @ 11:14 pm | Balas

  69. loh bukannya NU sendiri telah men-fatwakannya sebagai bid’ah yang hina di Muktamar NU ke-1 di Surabaya.. la yang mau di enut(dituruti) yang mana???

    Komentar oleh abu_fadhil — April 22, 2008 @ 9:05 am | Balas

  70. Gus Dur Kyai Sinting, yang suka ngomong dan fitnah orang seenaknya,seperti orang yg ga pernah ngerti agama..! ngomong kok seenak perutnya aja! dasar Kyai sableng!

    Komentar oleh islam pemula — Juni 13, 2008 @ 7:25 pm | Balas

  71. datangkan dalil yang melarang tahlilan, kerana yang dilarang tampa dari nabi kita juga dinamakan bidaah kerana lakukan apa yang nabi kita tidak lakukan (yaitu melarang orang buat tahlilan )

    Komentar oleh an-nuria — Juni 27, 2008 @ 10:56 pm | Balas

  72. Kalau aku sih ngikut pendapatnya Imam Syafi’i aja, wong Imam mahdzab-nya ngomong pahalanya g’ sampai yo ikut aja. Lucu juga, sepertinya Indonesia yg dominan bukan mahdzab Syafi’i tapi mahdzab guru2 dan kyai2-nya. Peace ah

    Komentar oleh me — September 16, 2008 @ 4:04 pm | Balas

  73. Gus Dur itu tidak pantas bergelar kiyai, omangannya selalu berpotensi membuat umat pecah. Liat saja partai yang dipimpinnya selalu saja timbul perpecahan dalam partai itu…. amit-amit deh klo dia jadi preseden…nooooooo.

    Komentar oleh Slamet — Oktober 3, 2008 @ 10:46 pm | Balas

  74. @abu_fadhil (#69)

    Anda ini sengaja menipu atau anda tertipu bukunya si mantan kyai. Setelah dicek ternyata itu fatwa fitnah, simak di sini;

    http://orgawam.wordpress.com/2008/03/04/mantan-kiai-nu-menggugat/#comment-807

    Komentar oleh orgawam — Oktober 16, 2008 @ 12:39 am | Balas

  75. Assalamu’alaikum.Wr.Wb, Islam adalah agaama yang damai,selamat, penuh rahmat dll.agama Islam tidak pernah memberatkan ummatnya. saya tidak mengomentari tentang tahlilan ini, tapi kalau bisa saya ingin mengenal kepada saudara/i yang pro dan kontra tenyang tahlilan ini.ni no HP saya: 081378969837 atas nama Rian. terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Komentar oleh Riansyah — Maret 23, 2009 @ 1:16 pm | Balas

  76. فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لاَ تَلْحَق الْمَيِّت ، وَفِيهَا خِلاَف ،
    Untuk baca al Quran dan pahalanya di berikan kepada mayat , atau melakukan salat untuk mayat dll , maka madzhab Syafii dan kebanyakan ulama menyatakan tidak akan sampai ke mayat . Namun masih hilaf
    وَالْمَشْهُور مِنْ مَذْهَب الشَّافِعِيّ وَمَالِك أَنَّ ذَلِكَ لاَ يَصِل اِنْتَهَى مُخْتَصَرًا كَذَا فِي ضَالَّة النَّاشِد الْكَئِيب .
    Yang populer dari madzhab Syafii dan Malik , sesungguhnya hal itu ( Salat , puasa dan baca al Quran ) tidak sampai pada mayat .

    Komentar oleh Ramli — April 24, 2009 @ 9:05 am | Balas

  77. Syekh Muhammad bin Abd rohman Al Magrabi berkata :
    أَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيْزِ فَمِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَأَمَّا إِهْدَاؤُهُ لِلنَّبِي صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يُنْقََلْ فِيْهِ أَثَرٌ مِمَّنْ يُعْتَدُّ بِهِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ مِنْهُ لمِاَ فِيْهِ مِنَ التَّهَجُّمِ عَلَيْهِ فِيْمَا لمَ ْيَأْذَنْ فِيْهِ مَعَ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ حَاصِلٌ لَهُ بِأَصْلِ شَرْعِهِ صلى الله عليه وسلم وَجَمِيْعُ أَعْمَالِ أُمَّتِهِ فِي مِيْزَانِهِ وَقَدْ أَمَرَناَ الله باِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَحثَّ صلى الله عليه وسلم عَلَى ذَلِكَ
    Membaca al Quran termasuk taqarrub pada Allah terbaik, bila pahalanya di hadiyahkan kepada Nabi saw, tidak ada hadis yang menjelaskannya dari perawi yang terpercaya. Bahkan layak sekali di larang dan termasuk su`ul adab pada Nabi saw, karena melakukan hal yang tidak di restui oleh Nabi saw, . Sekalipun Nabi saw, juga mendapat bagian dari pahala bacaan tersebut dan seluruh amal perbuatan umatnya. Rasul hanya memerintah kepada kita untuk membaca sholawat kepadanya.
    Syekh Ibrahim berkata : “ Syekh Abdul wahhab Al warraq , Abu Hafes berkata :
    وَقَالَ الَأكْثَرُ لَايَصِلُ إلَىالميِت ثوابُ القِراءةِوانّ ذَلكَ لِفَاعِله
    Mayoritas ulama` menyatakan : Pahala baca Al Quran tidak akan sampai ke mayat , ia hanya untuk pembaca.
    Imam Nawawi berkata :
    وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاَة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لاَ تَلْحَق الْمَيِّت ، وَفِيهَا خِلاَف ،
    Untuk baca al Quran dan pahalanya di berikan kepada mayat , atau melakukan salat untuk mayat dll , maka madzhab Syafii dan kebanyakan ulama menyatakan tidak akan sampai ke mayat . Namun masih hilaf
    وَالْمَشْهُور مِنْ مَذْهَب الشَّافِعِيّ وَمَالِك أَنَّ ذَلِكَ لاَ يَصِل اِنْتَهَى مُخْتَصَرًا كَذَا فِي ضَالَّة النَّاشِد الْكَئِيب .
    Yang populer dari madzhab Syafii dan Malik , sesungguhnya hal itu ( Salat , puasa dan baca al Quran ) tidak sampai pada mayat .

    Ittiba`lah dan jangan bikin bid`ah , nanti akan bimbang

    Komentar oleh Ramli — April 24, 2009 @ 9:07 am | Balas

  78. Saya bisa mengerti banyak kebid`ahan yang harus di tinggalkan dari buku karya H Mahrus ali yang terkenal dengan mantam kiyai Nu . Bukunya antara lain : “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat & Dzikir Syirik”, “Mantan Kiai NU Meluruskan ritual-ritual Kiai Ahli Bid’ah yang Dianggap Sunnah”, “Mantan Kiai NU Membongkar praktek syirik”, “Mantan Kiai NU Bongkar habis kasidah syirik”

    Komentar oleh Ramli — April 24, 2009 @ 9:10 am | Balas

  79. MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari ratapan (yang dilarang).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “ocehan” orang-orang bodoh (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

    Komentar oleh sandhi — Mei 6, 2009 @ 4:09 pm | Balas

  80. Bid’ah adalah BID’AH tidak ada bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik Ingat setiap khutbah yang dibawakan ” kul bid’ah is dhalalah khulu dhalalah is finNaar”
    Jadi ahli bid’ah sudah diperingati oleh Rasulullah tempatnya adalah jahanam.
    Jangan kita merasa semua perbuatan baik itu baik.
    dalam beribadah mengada ada yang tidak di ajarkan adalah BID’AH pada semua ahlil bid’ah yang mengerjakan pekerjaan ibadah sedang tidak diperintahkan berarti mereka merasa lebih pintar dari RasuluLLah saw Naudhu Billah.

    Komentar oleh Helmi Baisa — November 11, 2009 @ 2:55 am | Balas

  81. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    Keputusan Masalah Diniyyah No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Tentang
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. Tapi banyak mudharatnya .

    KETERANGAN :
    1. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Kitabul Janaiz:

    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”Kami menganggap berkumpul di ( rumah keluarga ) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    2. Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    “Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN ORANG-ORANG BODOH” (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). ”
    SUMBER: Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), hal. 15-17, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

    Komentar oleh sandhi — Januari 27, 2010 @ 10:11 am | Balas

  82. Lebih lanjut di Kitab I’anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu’in, juz 2, hal.145 – KItab rujukan warga Nahdliyyin dan Nahdlatul Ulama (NU) disebutkan:

    “Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID’AH MUNGKARAT YANG BAGI ORANG YANG MEMBERANTASNYA AKAN DIBERI PAHALA.”

    Komentar oleh sandhi — Januari 27, 2010 @ 10:13 am | Balas

  83. Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyah (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19, Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

    Imam An-Nawawi رحمه الله berkata di dalam Syarah Muslim 1: 90:
    “Adapun bacaaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang mashyur dalam madzhab Syafi’i, adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi. Adapun dalil Imam Syafi’i dan pengikutnya adalah firman Allah QS.An-Najm : 39: “Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri” dan sabda Rasulullah , “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal yaitu: sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdoa untuknya.”

    Komentar oleh sandhi — Januari 27, 2010 @ 10:14 am | Balas

  84. Lihat juga: Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi 2:145, Mughnil Muhtaj 1: 268, Hasyiyatul Qalyubi 1: 353, Al-Majmu’ Syarah Muhadzab 5: 286, Al- Fiqhu Alal Madzahibil Arba’ah 1:539, Fathul Qadir 2:142, Nailul Authar 4:148. Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله di dalam Al-Umm 1: 248:
    “Aku membenci ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru.”
    Lebih lanjut di Kitab I’anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu’in, juz 2, hal.145 – KItab rujukan warga Nahdliyyin dan Nahdlatul Ulama (NU) disebutkan:

    “Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID’AH MUNGKARAT YANG BAGI ORANG YANG MEMBERANTASNYA AKAN DIBERI PAHALA.”

    Komentar oleh sandhi — Januari 27, 2010 @ 10:15 am | Balas

  85. Tahill dan ga Tahlil monggo mas
    Tapi saya juga Tahlil,Tapi saya tidak merasa paling Benar, Lebih benar, Karena buanyak sekali alasan yang dikemukan di Tulisan tulisan Internet / web/blog masing masing punya alasan. Mari kita Islamkan yang belum Islam Mudah – mudahan Allah mengampuni dan Merahmati Umat Islam, Rahmat Lil Alamin.
    Syukron

    Komentar oleh Dim Fais — Februari 24, 2010 @ 11:07 pm | Balas

  86. dari semua jawaban saudara2 tak ada satupun menyebutkan hadist tahlilan…kenapa kita harus mempertahankan sesuatu yang tidak jelas…kembalilah ke ajaran Rosullulah SAW..karna bila kita mengaku islam harus mengkuti perbuatan beliau…

    Komentar oleh Buchory — Mei 12, 2010 @ 1:08 pm | Balas

  87. KALIAN SEMUA BODOH, APA YANG KALIAN PAMERKAN DENGAN KEIMANAN KALIAN, BELAJAR NIAT SAJA BELUM BISA, KALIAN SUDAH PADA RIBUT, SOK TAHU, APALAGI YANG MENYOMBONGKAN SUDAH SOLAT TARAWEH 11 RAKAAT, DIKERJAKAN JAM 1, DASAR ORANG SOMBONG , RIYA DALAM IBADAH, KALIAN SEMUA KUNYUK2 PENGHANCUR ISLAM,

    Komentar oleh aji — Agustus 23, 2010 @ 12:31 pm | Balas

  88. kebenaran hanya mlik Allah , tp qt sbagai manusia yg d beri akal dan hati wjib mncari kbenaran itu , tahlilan mrupakan tradisi masa silam yg hrus d luruskan kbenarannya , pa ad contoh ato tidk , dlm mncari pmbenaran qt bkn mncari puas tp mncari jelas , tulisan di atas mudah2an bisa mncerhkan bg smua .

    Komentar oleh Rahman BACIP — Agustus 24, 2010 @ 1:00 pm | Balas

  89. kalo tahlilan adalah harom,maka lihat hal hal barikut :

    takbiran
    cadar
    merayakan isro’mi’roj
    sholat tarawih di masjid sebulan penuh
    jenggot (tidak ada haditsnya lho…)
    mengheningkan cipta (sama dengan tahlilan)
    membaca al qur’an (dalam bentuk buku)
    membukukan hadist (padahal dilarang)
    sajadah
    sholawatan

    hal hal diatas adalah perkara bid’ah dan khilafiyyah,nggak usah di ungkit2,itu ciri2 golongan wahabbiyyah yaitu suka mengungkit ungkit amalan khilafiyyah.

    orang tahlilan itu baik,paling tidak memperbanyak dzikir dan mengurangi dosa,jangan bisanya memperbanyak jenggot dan memper pendek panjang celana. ha ha ha,
    lihat al-qur’an surat muhammad ayat 19,anda akan tahu

    Komentar oleh bejo — September 11, 2010 @ 9:00 pm | Balas

  90. Sebatang bambu bisa menjadi banyak kerajinan ditangan yang ahli.

    Seseorang yang mengangab dirinya lebih pintar dari yang lainnya, sesungguhnya ia tidak sadar bahwa dirinyalah orang yang bodoh.

    Sunguh perdebatan ini tidak akan selesai hingga tubuh kita kurus kering.

    Komentar oleh FIRMAN — September 25, 2010 @ 2:37 pm | Balas

  91. Assalamualaikum wr wb, salam kenal
    saya jadi bingung dengan umat muslim kenapa bertengkar dengan masalah budaya yaitu tahlil, tahlil adalah media dakwah yang ditrapkan oleh para wali kita dan yang pasti tahlil bukan ritual keagamman seperti sholat, puasa, atau haji,tahlil adalah suatu budaya yang berkembang diindonesia untuk media dakwah kalau ingin dalilnya :
    al luqman 27 Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana jelas undang undang tidak bisa di jelaskan secara leterlux(textual)kalau dijelaskan secara textual ilmu allah seperti diterangkan oleh surat tersebut (tidak cukup)

    Al Hujurat 13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
    penjelasan surat tersebut adalah allah menghargai budaya siapapun yang penting budaya tersebut mendukung keimanan bukan menentang keimanan dan diterangkanlebih jelas lagi pada surat:
    Az zumar 17. Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,

    Az zumar18. yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.
    kita boleh berkreasi dan berinovasi dalam penyebaran agama yang penting jangan merobah tatanan agama yang baku seperti sholat, puasa, penulisan alquran dengan bahasa aslinya,haji itu semua adalah tatanan baku yang tidak bisa di rubah rubah tapi kalau kitaberkresi dan berinovasi sangat diperbolehkan bahkan di dukung oleh nabi kita muhamad saw saat berdialog dengan Mu’adz bin Jabal yang isinya kurang lebih demikian :”Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?” “Kitabullah”, ujar Mu’adz. “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula. “Saya putus dengan Sunnah Rasul” ujar Mu’adz. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?” “Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia”. Maka berseri-serilah wajah Rasul¬ullah, sabdanya: “Segala puji bagi Allah yang telah mem¬beri taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridlai oleh Rasulullah . . . “.
    dan apabila umatmuslimbertemulebihdari satu apa kewajibannya : surat al ashr
    Demi masa.
    Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
    kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

    menurut kesimpulan saya kita kaum muslim tidak usah berargumen dengan masalah tehnik, lebih baik berdiskusi bagaimana menjadi orang yangbaik seperti di uraikan pada surat
    al hasyr 18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    al hasyr 19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

    Komentar oleh edy witanto — Oktober 31, 2010 @ 9:41 pm | Balas

  92. capekkk aku… kasian aku yang baru mau tahu tentang islam.. malah jadi pusing…
    koq jadi gini ya… padahal aku masuk islam karena pengen damai.. tapi????

    Komentar oleh islam barusan — Maret 17, 2011 @ 7:15 pm | Balas

  93. Intinya orang2 NU itu semuanya SESAT…NU itu pengikut Kyai dan bukan pengikut nabi, mereka semua taklid buta seperti binatang ternak…

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”

    “Dan apabila di serukan kebaikan kepada mereka, mereka menjawab: cukuplah apa yang kami dapat dari bapak kami, nenek moyang kami dan kyai-kyai kami”

    Komentar oleh Pemburu Berkat — Mei 11, 2011 @ 12:50 am | Balas

  94. Agama harus d jadikan tradisi bukanya tradisi d jadikan agama

    Komentar oleh AM — Mei 19, 2011 @ 7:40 pm | Balas

  95. Memang banyak orang pinter tapi keblinger..
    Suka mengkafirkan orang lain, padahal dia lupa dengan kafirnya dirinya sendiri

    Komentar oleh MERANA — Juni 1, 2011 @ 9:50 am | Balas

  96. kenapa semua hanya melihat bungkus saja?
    isinya tidak ?
    coba kalo: 1. botol madu diisi dengan arak /tuak?
    2. botol arak yg belum dipakai, diisi dengan madu?
    ente pasti pilih botol madu berisi tuak kah ?
    esensi tahlil itu apa saja?
    semua terdiri dari ayat Qur’an+sholawat+tasbih+tahmid+takbir+istighfar+do’a.
    bacaan mana yagn terlarang ???
    sedangkan semua itu di dalam alQur’an sendiri Allah MEMERINTAHKANNYA !!!

    Komentar oleh do_el — Juli 12, 2011 @ 5:23 pm | Balas

  97. […] demikian jika kita melihat buku Yasinan yg biasa ada di masjid ataupun biasa dibagikan saat tahlilan, itu bisa dikatakan sebagai mushaf Qur’an, meski tidak memuat Al Qur’an lengkap (30 […]

    Ping balik oleh Apakah Mushaf Al Qur’an? | Blog Tausiyah275 — Mei 5, 2014 @ 6:00 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: