Blog Tausiyah275

September 17, 2006

Nasehat Pernikahan

Filed under: Hikmah,Muamalah — Tausiyah 275 @ 5:17 pm

*lupa dapat dari siapa ya….thx anyway…*

Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, dan/atau Punya Niat Untuk Nikah

Dapat dari teman, jika berkenan…sebarkan kepada orang2 yang kalian kenal……..mudah2an bermanfaat. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜‰

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bias mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya. Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu…terapkan dalam keseharian kita…….setuju friend’s???

…..Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya, dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap.

Mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda.

Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya ๐Ÿ™‚

Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah ๐Ÿ™‚

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita) Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya.

Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.

Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.

Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak, Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa.

Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

* Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”

* Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!”

* Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat. Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh ….

Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi …. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … ๐Ÿ™‚

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan, Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens”

Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.

*Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar tapi bodoh*

Iklan

15 Komentar »

  1. bagus banget gitu loh.. insyaallah dalam waktu dekat ini saya menikah.. doain menjadi keluarga yang sakinnah dan mawadda ya.. amin

    Komentar oleh david — September 17, 2006 @ 9:57 pm | Balas

  2. Mau nikah mi…?

    go..go..go..

    –budiw

    Komentar oleh budiw — September 19, 2006 @ 9:32 am | Balas

  3. jadi.. kapan nikah mi ?

    Komentar oleh adhi nugraha — September 19, 2006 @ 12:21 pm | Balas

  4. *Klik File >> Save As >> “persiapan-nikah.html”*

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — September 20, 2006 @ 5:04 pm | Balas

  5. jadi inget suami…beliau kalo marah,bicaranya lebih sedikit, kalem, dan jelas. Kalo marah,biasanya ambil wudlu terus sholat sunat, setelah sholat…baru berusaha untuk berdiskusi mencari solusi bersama. Kalo lagi berantem, biasanya dzikir atau tadarus Qur’an-nya lebih lama…hehe…

    Alhamdulillah, semoga dirimu selalu istiqomah dalam kebaikan, lebih dan lebih baik lagi…:)

    Thank you,ALLOH…telah Engkau titipkan padaku seorang imam dan teman hidup yang baik, semoga kami selalu bisa mensyukuri setiap nikmatMU.Aamiin…:)

    teriring doa dalam setiap langkah hidupmu,
    Salam Hormat,

    your beloved wife

    Komentar oleh Bee — September 21, 2006 @ 1:14 pm | Balas

  6. pertengkaran kecil itu bumbu pernikahan, rada gede romantika pernikahan, udah gede…. nukah lagi….h

    Komentar oleh udymarshall — September 25, 2006 @ 10:14 am | Balas

  7. selamat idul fitri untuk kaum muslimin dan muslimat dimanapun berada, mohon maaaf lahir dan bathin

    Komentar oleh amarullah — November 2, 2006 @ 9:43 am | Balas

  8. alhamdulillah saya sudah menikah walaupun masih baru
    makasih atas pencerahannya, mudah2an marahnya semata karena ketidak sukaan saya atas perangai buruk istri saya, tidak lain tidak lebih. sebenar-benarnya saya mencintainya, teramat lagi kalo istriku sedang marah, roman mukanya tambah “cuantik”.
    makasih atas pencerahannya. Love U All!

    Komentar oleh dedy — Mei 8, 2007 @ 12:16 pm | Balas

  9. Subhanallah…cinta itu rahmat, bahkan marahpun bisa menjadi nikmat bagi orang yang mau menyadari bahwa setiap ujian atau ketidakenakkan itu bisa bernilai ibadah. Orang tidak akan pernah merasakan nikmatnya sehat, kalau ia tidak pernah merasakan sakit. Begitu pula dalam pernikahan, orang tidak akan merasakan nikmatnya mencintai dan dicintai, sebelum ia bisa memahami karakteristik pasangannya, apalagi pada saat marah, karena sejatinya marah dan pertengkaran itu juga buah dari cinta yang begitu dalam.
    Tapi jangan keseringan berantem ya bro…….
    Dari Abu Hurairah ra, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw, “berilah aku wasiat”, Rasul bersabda “Jangan marah”, Beliau mengulang-ulang beberapa kali ucapan ” Jangan marah” (HR Bukhari)

    Komentar oleh Ewi — Juni 4, 2007 @ 9:43 pm | Balas

  10. wah…postingnya kok pas di tgl 17 September 2006 ya?ini 17 September pagi2/subuh??hmmm…kayanya sambil ngapalin lafal ijab-kabul ya?;;)

    Komentar oleh Bee — Juni 5, 2007 @ 7:55 pm | Balas

  11. bagus banget artikelnya, jd terinspirasi mau nikah,…he.he.he

    Komentar oleh aedha — Juni 12, 2007 @ 7:39 pm | Balas

  12. thx buat artikelnya yang bagus bgt, semoga mendapat banyak hikmah dari tulisannya dan semoga Allah memberikan kpdku pasangan yang baik dan sabar amien

    Komentar oleh Dee — Oktober 5, 2007 @ 4:41 pm | Balas

  13. ya nich………..mupeng banget pengin nikah.Tapi calonya belum ada.Aq pengin nikah muda nech.Aq yakin Allah mempermudah segalanya…….Makasih

    Komentar oleh wahyuningsih — November 16, 2007 @ 11:46 am | Balas

  14. ini nasehat pernikahan, tapi kami juga bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari walaupun kami belum menikah…
    jzkllh…

    Komentar oleh ukhti — November 21, 2009 @ 9:53 am | Balas

  15. Waaah… bagus banget artikelnya….. aku pengen upload ke facebook, gimana caranya ya….???

    Komentar oleh Nina Misman — Januari 11, 2010 @ 10:54 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: