Blog Tausiyah275

September 24, 2006

Hukum&Sifat Perkawinan/Pernikahan

Filed under: Fiqh — Tausiyah 275 @ 9:00 am

Pernikahan mempunyai beberapa tingkatan hukum&sifat, tergantung kondisi yang dialami…

1. Pernikahan Wajib
Menikah mempunyai hukum wajib bagi seseorang jika dia mempunyai kesanggupan dan memenuhi syarat, serta KHAWATIR dirinya akan jatuh dalam perzinaan. Ini artinya menjaga diri dan mengindari barang haram (zina) hukumnya wajib, dan hal ini hanya bisa dihindari dengan menikah.

Jika ada yg ingin menikah tapi tidak mampu, maka ada 2 ‘obat penawar’:
a. An Nur(24):33, “Dan hendaklah orang-orang yang belum mampu menikah menjaga kehormatan diri mereka, sampai ALLOH memberi mereka kemampuan dengan karunia-Nya.”
b. Hadits Rasululloh SAW,”Hai golongan pemuda!! Siapa diantaramu yg sanggup, hendaklah ia menikah, karena itu lebih menutup pandangan mata dan lebih memelihara kehormatan diri! Dan siapa yg tidak(belum) sanggup, hendaklah ia berpuasa, karena itu merupakan obat penawar syahwat!”

2. Pernikahan Sunnah
Jika seseorang yg sudah berkeinginan dan sanggup (mampu) tetapi ia DAPAT MENJAMIN dirinya tidak tergelincir kepada perbuatan yg dilarang ALLOH, maka bagi dirinya pernikahan bersifat SUNNAH.

(tambahan) Hanya saja, memang sebaiknya dia menyegerakan menikah, sesuai dengan pernyataan Ibnu Abbas:”Tidak tercapai kesempurnaan orang beribadat, sebelum ia menikah lebih dahulu!” (ini sesuai dengan pernyataan bahwa menikah = menyempurnakan 1/2 agama)

3. Pernikahan Haram
Menikah bisa bernilai haram hukumnya jika orang/pria tsb akan menyia-nyiakan pihak istri mengenai nafkah lahir-batin disebabkan TIDAK MAMPU, walau keinginan ada. Salah satu pendapat datang dari Qurtubi: “Jika seorang laki-laki mengetahui bahwa ia takkan mampu memberi nafkah atau membayar mas kawin kepada istrinya, atau memenuhi kewajiban-kewajibannya yang lain, maka ia TIDAK BOLEH mengawini perempuan itu SEBELUM HAL ITU DIJELASKANNYA kepadanya, atau diketahuinya bahwa ia telah dapat memenuhinya.”

Hal yg sama (haram) juga berlaku jika ia mengidap suatu penyakit yg menghalanginya dari hubungan suami istri. Selain itu, dari pihak laki-laki tidak boleh berbohong mengenai status sosial + harta, yg tidak benar (berbohong mengenai kondisi2 tersebut).

Dari pihak istri juga sama. Tidak boleh ada tindakan mengelabui pihak laki2. Dan bila salah seorang dari suami-istri menemukan cacat pada diri yg lain, maka ia berhak menolaknya. Jika kebetulan cacat itu terdapat pada diri wanita, maka si suami dapat menolak wanita itu dan meminta kembali mas kawin yg telah diserahkannya (dan selanjutnya dicerai).

4. Pernikahan Makruh
Pernikahan bersifat mubah jika ada lelaki yg tidak mampu melayani istrinya dalam nafkah lahir-batin, namun tidak ada lontaran kekecewaan yg disampaikan sang istri. Sebagai contoh, seorang perempuan kaya raya dan tidak terlalu berhasrat berhubungan kelamin.

Selain itu, jika pernikahan itu akan mengganggu kesibukannya dalam suatu ibadah/mendalami ilmu, maka hukumnya makruh juga.

5. Pernikahan Mubah
Pernikahan hukumnya mubah(boleh), jika tidak ada sebab-sebab yg mewajibkan dan tidak ditemui pula halangan2 yg merintanginya.

Mudah2an sekilas info mengenai pernikahan ini berguna.

Iklan

5 Komentar »

  1. mo tanya nh,klo nikah sama sepupu lngsung bleh gk??ada kmungkinan pa gk bs sama skali di dlm islam,mhon jwabannya

    Komentar oleh akbar_qjunk — September 25, 2006 @ 2:36 am | Balas

  2. kalo kawin sama cewek sekampung ada hukumnya gak koh?

    Komentar oleh oón — September 25, 2006 @ 3:50 pm | Balas

  3. Mau tanya nih..
    kalou nikah tadi didasari karena si pasangan ini dulu pernah berbuat zinah kemudian bertaubat,bagaimana, apakah pernikahan itu masih mendapatkan barokah dari ALLAH SWT ???

    Komentar oleh jojo — November 13, 2007 @ 12:06 pm | Balas

  4. […] Saya sempat menulis tentang hukum dan sifat pernikahan. […]

    Ping balik oleh Berapa Usia Yang Tepat Untuk Menikah? « Blog Tausyiah275 — Desember 2, 2011 @ 6:04 pm | Balas

  5. […] kita ingin merujuk ke norma yg ditetapkan Islam, maka seseorang mesti merujuk ke hukum dan sifat pernikahan sebagai rujukan […]

    Ping balik oleh Menikah Muda Ajaran Islam? | Blog Tausiyah275 — Desember 29, 2013 @ 7:25 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: