Blog Tausiyah275

September 25, 2006

Doa/Niat Puasa/Shaum

Filed under: Fiqh,HOT NEWS,SMS Tausyiah — Tausiyah 275 @ 10:18 am

Assalamu’alaykum wr wb

Saudara2ku, aku minta maaf, karena aku lupa memuat artikel tentang bacaan doa/niat berpuasa. Semestinya dimuat 2-3 hari lalu, sebelum puasa, tapi baru bisa aku muat hari ini. Tidak apa-apa kan? 😉

Niat berpuasa:
“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaai fardli syahri ramadlaani haadzihis sanati lillaahi ta’alaa “

Iklan

33 Komentar »

  1. Makasih Makasih

    Komentar oleh Jauhari — September 25, 2006 @ 12:45 pm | Balas

  2. Hmm.. Kan udah disms Mi jadi gag usah feeling quilty gitu lah! hehe..

    Komentar oleh abe — September 25, 2006 @ 3:00 pm | Balas

  3. Akh Fahmi ysh,
    Silakan Antum memeriksa terlebih dahulu di kitab-kitab hadits manapun. Antum tidak akan menemukan hadits-hadits shohih yang berisi bacaan khusus untuk niat sebelum shoum. Cukuplah niat itu ditanamkan dalam hati pada malam hari, atau paling lambat ketika hendak makan sahur. Jika rasanya niat itu belum mantap, bukankah Rosululloh mengajarkan bacaan BISMILLAH sebelum makan dan melakukan setiap amal sholih. Walloohu a’lam bish-showaab.

    Komentar oleh Musafir Laut — September 25, 2006 @ 4:37 pm | Balas

  4. iya tu koh, bukannya kalo kita sahur itu otomatis menunjukkan niat kita mo puasa

    Komentar oleh Santriwan — September 25, 2006 @ 5:32 pm | Balas

  5. Kayaknya harus dikoreksi, bahwa niat puasa tidak pernah dilafalkan Nabi, terbukti dengan tidak adanya rujukan Haditsnya. Dan seperti biasa.. “kullu bid’atin dholaalah”

    Komentar oleh adhi nugraha — September 26, 2006 @ 8:18 am | Balas

  6. Kalo bisa kasih artikel tentang hal-hal yang membatalkan puasa juga donk, baik yang fisik maupun non fisik. makaciii… ^^

    Komentar oleh pemula — September 26, 2006 @ 9:45 am | Balas

  7. Maaf…kalo sahur menunjukkan niat mau berpuasa, lalu kenapa pula Nabi mewajibkan melakukan niat di malam hari, bahkan tidak sah kalau niat nya siang hari…
    Bagaimana kalau sahurnya brniat agar tidak lapar di siang hari apakah sah puasanya…?
    Permasalahan lapadz Nawaetu…..jangan terlalu dipermasaalahkan, apalalgi langsung dicap Bid’ah, banyak ulama yang mengatakan kalau mengucapakan niat itu sunat,…bukankah Ulama pewarits Nabi..

    Komentar oleh udin — September 26, 2006 @ 12:21 pm | Balas

  8. Akh Udin ysh,
    Memang benar bahwa persoalan melafalkan niat itu menjadi khilafiyah sejak dahulu. Bila kita bersungguh-sungguh mengikuti Sunnah Nabi, maka laksanakanlah apa yang diajarkan Nabi dan tinggalkanlah apa yang tidak diajarkan Nabi dalam masalah ibadah. Berhubung niat puasa itu termasuk satu paket ibadah puasa, maka kita perlu mencontoh bagaimana Nabi melakukannya. Survey membuktikan bahwa Nabi tidak pernah mengajarkan bacaan niat puasa. Yang menjadi prioritas rujukan dalam urusan ibadah adalah Nabi, sedangkan ulama pewaris Nabi itu nomor berikutnya. Saya tidak mengatakan bahwa bacaan niat puasa itu adalah bid’ah, justru yang menyatakannya adalah sama-sama ulama pewaris Nabi. Harap juga tidak bersangka buruk bila ada ulama yang mengatakan demikian. Tujuan mereka baik, agar hendaknya Umat bisa membedakan mana yang Sunnah dan mana yang tradisi dan bukan Sunnah. Apa jadinya agama ini bila ajaran dan tradisi bercampur aduk jadi satu, seperti agama Yahudi dan Nasrani. Mohon bersangka baik kepada ulama yang hendak menjaga kemurnian ajaran agama Islam.
    Niat puasa boleh dilakukan sejak malam hari hingga sewaktu sahur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits2 yang shohih. Kalau ditanya apa alasannya niat puasa dimulai sejak malam hari, saya tidak bisa menjawabnya. Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahuinya.

    Komentar oleh Musafir Laut — September 26, 2006 @ 9:50 pm | Balas

  9. Berkenaan dengan melafalkan niat, baik itu adalah niat untuk puasa, shalat dan wudhu jika memang itu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Mohon diberikan nashnya atau dalil-dalil yang membenarkan niat tsb. Karena setiap ibadah yang kita lakukan akan berbuah menjadi amal jika didasari oleh niat karena Allah swt dan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sesuai dengan sabda Nabi saw “Segala sesuatu bergantung kepada niat” dan “Setiap amal-amalan yang tidak sesuai dengan contoh kami maka hal itu ditolak”……………… Mohon penjelasan lebih lengkap dalil-dalil mengenai niat tsb diatas.

    Komentar oleh @ndi — September 27, 2006 @ 11:03 am | Balas

  10. Yang memperdebatkan khilafiyah tuh keliatan bodohnya lho….!

    Komentar oleh khoer — November 21, 2006 @ 10:14 am | Balas

  11. Terima kasih atas bacaan / Niat puasanya, sehingga mengingatkan saya untuk tidak lupa membaca niat puasa pada malam harinya, maaf klo tidak salah niat puasanya adalah seprti ini ” Nawaitu shauma ghodin ‘an adaai fardli syahri ramadlaana haadzihis sanati lillaahi ta’alaa “

    Kata Ramadhona gak bisa dibaca ramadhini karna dalam ilmu nahu / bahasa arab nama bulan ga bisa dirobah kata2nya yaitu tetap baca romadhona ” klo tidak salah seperti itu bacanya, silahkan diskusikan kepada yang lebih Alim / berilmu. maaf sekali lagi klo saya salah komentar.

    salam,

    Adi

    Komentar oleh adi — September 10, 2007 @ 8:22 am | Balas

  12. lupa niat buka puasa la

    Komentar oleh appel — September 13, 2007 @ 1:12 pm | Balas

  13. lupa niat puasa la, boleh tolong tak?

    Komentar oleh appel — September 13, 2007 @ 1:15 pm | Balas

  14. Antum sekalian, ana mau tanya. Apakah mahzab sayafi’i yang sebenarnya memuat suatu niat yang dilafalkan melalui lisan? bagai mana niat itu kalau diucapakan? bid’ah yang bagai mana itu?

    Komentar oleh kaboel — Oktober 15, 2007 @ 7:34 pm | Balas

  15. kal pusa senen kamis bacaanya gimana ya????///

    Komentar oleh nasrul — Oktober 29, 2007 @ 2:42 pm | Balas

  16. yang baca ga salah,
    yang ga baca ga salah,
    yang salah ya.. yang ga puasa tanpa alasan
    udah tahu wajib ga puasa
    dasar borokokok

    Komentar oleh kang_udin — Agustus 27, 2008 @ 9:48 am | Balas

  17. Jazakallah atas infonya
    Fiuh hampir aja..
    Mau sahur nih..
    eh lupa niatnya..
    Trus googling dulu deh, nah web Antum. Insya Allah berpahala karena telah membantu saya mengingat kembali 🙂

    Komentar oleh Rahmat Miftahul Habib — September 1, 2008 @ 2:22 am | Balas

  18. sebenarnya sih niatnya nggak perlu kita baca karena tempat niat itu dalam hati jadi tidak perlu make nawaitu…segala.

    Komentar oleh fath_qusyairi — September 9, 2008 @ 11:27 am | Balas

  19. benar kata anda, bahwasannya niat nggak perlu di lafazkan. Niat2 tersebut datangnya dari para sahabat rosul. Sahabatpun dapat wahyu dari rosul. Krn stelah wafatnya rosul, abubakar adalah org yg pertama diturunkan ilmu rosul melalui qolbu. sampe saat ini rosul masih ada pada diri kita dan diri orang2 yg taqwa sebagai jembatan penghubung. Niat adalah adab yg diajarkan oleh para sahabat, adab dapat disamakan sperti ketika kita hendak bertamu ke rumah orang dgn mengucapkan salam. Jadi kesimpulannya, mau pake niat nawaitu (dgn niat yg ikhlas), atau hanya niat didalam hati alias tanpa menyebutkan nawaitu semuanya shohih. Tergantung kpd ke ikhlasan niat tersebut. Allah maha mengetahui. Sesungguhnya agama islam itu adalah agama yg mudah. Jika ada kesalahan dr saya mohon dibenarkan. Krna saya hanya manusia biasa yg terus mencari kebenaran. ALLAHU AKHBAR

    Komentar oleh ariefmyguitar — September 25, 2008 @ 6:05 am | Balas

  20. niat merupakan penentu seseorang dalam beramal. tanpa niat maka tdk ada baginya kebaikan baginya. sebagaimana sabda rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menyatakan…”sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya”..Dalam ibadah ada 2 syarat untuk diterima. pertama mengikhlaskan niat dan yang kedua adalah mengikuti Rasul…terkait dgn melafadzkan niat..ini adalah sesuatu yg tdk dikenal dalam Islam..krn tempat niat ada didalam hati. Jadi jgn melegalkan sesuatu kebiasaan yang tidak ada sumber syariatnya. Antum tdk akan mendapatkan seorang pun dari tiga generasi sahabat yg terbaik yg mengamalkan hal ini. klw memang itu dilafadzkan seperti yg antum tulis..tunjukan kebenarannya. ingat akh..peringatan Allah dlm surat al isra’:36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

    Komentar oleh al_akh86 — Oktober 28, 2008 @ 3:31 pm | Balas

  21. menurutku anda sedikit slah tentang niat yg perlu dilafazkan dng lisan,menurutku rosul tak pernah mengajarkan hal ini.
    niat ya di hati tak usah dilafazkan baik itu mandi,solat,puasa etc.
    jangan terlalu fanatik dengan ajaran 4 madzab.
    kita harus mengikuti rosul
    dng hadits2nya yg sahih…
    para imam madzab juga berkata”jika kalian menemukan ada hadits rosul yg sahih maka tinggalkanlah ucapanku dan ikuti rosul”
    namun di indonesia banyak yg terlalu fanatik dgn madzab mereka,sehingga banyak perbedaan dan teman2 perlu tahu bahwa hadits “perbedaan adalah rahmat” adl dla’if.baca kitab dari syaikh imam al-albani.
    maka kita dianjurkan untuk jangan ada perbedaan dlm syariat dan jangan ada jadi ahlul bid’ah.
    ikutilah semua ajaran rosul.

    Komentar oleh najib — Desember 4, 2008 @ 7:45 pm | Balas

  22. Cukuplah kita mengmalkan sesuatu yang memang sudah ada di jelaskan dalam Al`Quran dan hadist…. Tentang niat yang dilafazkan rasanya memang tidak ada sandarannya baik al`quran maupun hadist. Saya pernah membaca hadist, maaf saya lupa riwayat siapa “Niat yang dilafazkan itu, hanya haji dan umroh “Wallahu a`lam”

    Komentar oleh lia — Januari 28, 2009 @ 10:49 pm | Balas

  23. Saya minta izin mengkopi Tausyiyahnya.
    jzk.

    Komentar oleh Adho — Maret 17, 2009 @ 12:54 pm | Balas

  24. harap jangan mempelajari agama hanya dengan “MENURUTKU”,…. agar tidak timbul penafsiran yang bermacam-macam., kita punya pegangang Alquran, hadist dan tafsir…

    Komentar oleh abdullah mashari — Agustus 22, 2009 @ 2:15 am | Balas

  25. Assalamualaikum Wr wb.
    Saya jadi kurang menangkap inti yg di perdebatkan disini. Sebenernya yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi SAW itu dilafadzkannya bacaan “Nawaitu shauma ghodin ‘an adaai fardli syahri ramadlaani haadzihis sanati lillaahi ta’alaa “ ;
    Atau bacaan nawaitu shauma ghodin itu sendiri ???

    Soalnya bisa saja setelah membaca argumen saudara2 disini saya beranggapan bahwa :”“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaai fardli syahri ramadlaani haadzihis sanati lillaahi ta’alaa “ boleh-boleh saja selama diucapkan didalam hati ???

    Wassalam.

    Komentar oleh Pendosa — Agustus 29, 2009 @ 1:53 pm | Balas

  26. pusing? sebetulnya gak juga. yang bikin saya pusing adalah niatnya niat. banyak komentar yang menyanggah pengucapan niat. saya setuju karena rasulullah tidak pernah mencontohkannya. mau dicari sampai ke manapun tidak akan pernah ada nash dalil yang mendukungnya. niat apa pun, tidak hanya puasa/shaum. Kalau pun benar harus ada niat, maka saya menjadi bingung. pengucapan niat katanya perlu/harus, trus… niatnya niat lebih perlu lagi dong? bingung deh saya…., niat untuk mengucapkan niat seperti apa ya? terus niatnya mengucapkan niat untuk niat gimana juga? jadi bingung ah… memang niat itu bukan perbuatan lisan koq… syukron

    Komentar oleh budi di bandung — September 2, 2009 @ 1:22 pm | Balas

  27. wah rame uey..teruslah buat nambah wawasan…

    Komentar oleh asep — September 15, 2009 @ 3:33 pm | Balas

  28. mana nih tulidan arabnya dan artikel yg lainnya

    http://www.dana-dyariah.com/?id=12.000

    Komentar oleh udin — Agustus 2, 2010 @ 5:25 pm | Balas

  29. thanx for doa nya,,,

    Komentar oleh puji — Agustus 10, 2010 @ 5:36 pm | Balas

  30. udah lah kenapa juga kita memperdebat kan penting ga nya doa/baca niat puasa yang terpenting kita berpuasa emang karena ALLAH S.W.T mendingan kita khusuk dalam menjalan kan ibadah puasa karena belum tentu juga puasa kita sempurna dalam 1 bulan penuh….

    Komentar oleh orang biasa — Agustus 11, 2010 @ 1:35 am | Balas

  31. DiBaca atau Gak Dibaca BEDA DENGAN GAK NIAT. jADI YANG PENTING nawaitu NYA APA

    Komentar oleh M. Maas — Agustus 12, 2010 @ 5:44 pm | Balas

  32. […] dilakukan oleh kebanyakan orang. Salah satu contoh niat puasa yg pernah aku dengar bisa dibaca di sini. Namun ada juga yg menyatakan bahwa niat itu cukup dinyatakan dalam hati, tidak perlu […]

    Ping balik oleh Rukun Puasa « Blog Tausyiah275 — Juli 19, 2012 @ 10:05 pm | Balas

  33. […] artikel puasa, bisa dilihat di sini: – Doa/Niat Shaum – Warung Buka Di Bulan Puasa, Bagaimana? – Khutbah Rasululloh SAW Menyambut Shaum […]

    Ping balik oleh Rukun Islam « Blog Tausiyah275 — November 24, 2012 @ 5:08 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: