Blog Tausiyah275

Oktober 2, 2006

Puasaku Tahun-Tahun Lalu

Filed under: Hikmah,Kegiatan Ramadhan — Tausiyah 275 @ 10:54 pm

***aku dapatkan artikel ini dari inbox, terkait dg artikel yg kutulis sebelumnya, tentang anggaran Ramadhan***

Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa. Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu membawa kegembiraan dan suasana yang berbeda. Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa. Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga aku menghadiahi abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.

Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku. Rupanya dari isteriku. “Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2 kemudian beli kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak sulit bawanya, saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah.” ” Pasti”, jawabku, “Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis, kelapanya yang banyak. ”

Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk, nasi, minuman. Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah mengantuk. Isteriku setiap sore hari rajin ke rumahmakan membeli makanan jadi yang kemudian selalu bersisa.

Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV yang penuh candaria. Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun. Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor dimulai setengah jam lebih lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal.

Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid lingkungan perkantoran. Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi membiarkan tubuhku berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan dilarang tiduran di masjid, tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.

Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama yang diselenggarakan oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia mempromosikan biro perjalanan hajinya. Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan sangat berlimpah ruah. Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera sibuk mengambil berbagai macam tajil yang tersedia. Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke mangkuk, mengambil piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas minuman hangat dan dingin.

Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa kemudian bergegas sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda selera. Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk yang menggunung. Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura, tekwan…. Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan piring yang beradu, gelak tawa, obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan yang tersedia. Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan di piring dan mangkuk.

Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang tidak bisa dimakan lagi akibat penyakit ‘lapar mata’ yang parah dari hampir semua undangan. Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan lebih banyak lagi.

Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya sekedar menunda makan dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan perut. Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka puasa kami selalu merasa tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja.

Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya seperti semangat puasa sebenarnya. Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah. Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang yang berpuasa di daerah bencana. Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan untuk disedekahkan. Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk mengkaji ilmu agama, mengaji, bersama anak-anak.

Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari buta. Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang istimewa. Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk urusan makan dan minum. Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa sayang melihat makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan sendiri, begitu alasannya 🙂

Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah bahkan sebaiknya ada kelebihan. Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa pengeluaran untuk belanja dapur selalu membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?

Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk keperluan makan dan minum. Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar menunda makan dan minum; tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah ‘membalasdendam’ – dan terlalu berlebihan?

[Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]
————–
“………Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al ‘Araaf;7:31]

Iklan

2 Komentar »

  1. Ya, pada dasarnya kita banyak yg punya kebiasaan mengkhususkan menu Ramadhan. Alhamdulillah, keluarga saya mencoba seperti adanya pada hari-hari biasa. Tidak ada yg kami istimewakan pada buka puasa, selain teh hangat yg kemudian memang terasa sangat istimewa. Tidak ada makanan khusus buka puasa, tidak ada persiapan menu khusus sahur, semuanya seperti biasa. Ibadah jadi terasa syahdu, membaca shalawat saja jadi bisa meneteskan air mata, bisa memberi makan anak jalanan saja jadi terharu sendiri melihat riuh mereka berebut makanan, mendengar kisah Rasul tercinta atau pujian kepada beliau selalu membuat jadi terharu sekali. Entahlah, apa itu karena makanan, atau memang hawa Ramadhan. Semoga rahmat dan barokah Allah beserta semua saudaraku sesama muslim

    Komentar oleh andumslamet — Oktober 3, 2006 @ 10:28 am | Balas

  2. bulan luar biasa… makan dan minumnya juga luar biasa donk… 😀

    Komentar oleh aRdho — Oktober 3, 2006 @ 4:45 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: