Blog Tausiyah275

Oktober 10, 2006

Beberapa Definisi Yang ‘Salah’

Filed under: Ensiklopedia Islam,Muamalah,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 10:42 am

Sekitar 10 hari lalu, aku tulis juga ‘kesalahan’ yg dilakukan pada saat Ramadhan, yg terkait dg rumah makan. Kali ini kita akan bahas tentang beberapa definisi + perbedaan pendapat yg, menurutku, tidak perlu.

Saat kita kecil, bahkan hingga saat ini, seringkali kita temukan beberapa ‘definisi’, yg terkait dengan puasa/shaum, yg ‘salah’.

‘Kesalahan’ yg aku maksud adalah:
1. Bohong, dusta, menipu, melihat gambar porno dan perbuatan/amalan buruk lainnya, akan membatalkan puasa. Ini jelas definisi yg salah…karena Rasululloh SAW sendiri menyatakan bahwa puasa hanya dibatalkan oleh 6 hal, yakni (3 pertama ini sering kita dengar) makan, minum, dan berhubungan suami istri, selain itu muntah dg sengaja, haid, dan nifas juga merupakan penyebab batalnya puasa.

‘Kesalahan’ definisi ini bisa diperbaiki dengan menambahkan kata ‘pahala’, sehingga definisinya menjadi Bohong, dusta, menipu, melihat gambar porno dan perbuatan/amalan buruk lainnya, akan (mengurangi) membatalkan AMALAN puasa. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, bahwa banyak umat Islam yg berpuasa namun tidak mendapatkan apa2 kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dikarenakan selama mereka berpuasa, mereka tetap mengerjakan hal2 yg (telah aku sebut di atas) akan mengurangi dan bahkan membatalkan amalan puasa mereka.

Mari kita ajarkan bahwa larangan untuk berbuat DOSA saat Ramadhan AKAN MENGURANGI AMALAN PUASA, NAMUN (tidak semua) MEMBATALKAN PUASA.

2. Saat IMSAK tiba, kita TIDAK BOLEH MAKAN. Ini juga, menurutku, definisi yg salah. Ini didasarkan dari hadits Rasululloh SAW. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya”(Hadits Riwayat Abu Daud 235, Ibnu Jarir 3115. Al-Hakim 1/426, Al-Baihaqi 2/218, Ahmad 3/423 dari jalan Hamad dari Muhammad bin Amir dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, sanadnya HASAN. Ada jalan lain diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Hakim 1/203,205 dari jalan Hammad dari Amr bin Abi Amaran dari Abu Hurairah, sanadnya SHAHIH )

Yang dimaksud adzan dalam hadits di atas adalah adzan subuh yang kedua karena telah terbitnya Fajar Shadiq dengan dalil tambahan riwayat, yang diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Ibnu Jarir At-Thabari 2/102 dan selain keduanya setelah hadits di atas. “Dahulu seorang muadzin melakukan adzan ketika terbit fajar” (Riwayat tambahan ini membatalkan ta’liq Syaikh Habiburrahman Al-Adhami Al-Hanafi terhadap Mushannaf Abdur Razaq 4/173 ketika berkata : “Ini dimungkinkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya muadzin adzan sebelum terbit fajar!!” Walhamdulillahi wahdah.)

Yang mendukung makna seperti ini adalah riwayat Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu. “Telah dikumandangkan iqamah shalat, ketika itu di tangan Umar masih ada gelas, dia berkata : ‘Boleh aku meminumnya ya Rasulullah ?’ Rasulullah bersabda : “Ya’ minumlah” (Hadits Riwayat Ibnu Jarir 2/102 dari dua jalan dari Abu Umamah)

Dari riwayat2 ttg Imsak yg aku tulis di atas, kita bisa simpulkan:
– saat Imsak, kita MASIH BOLEH makan – minum (bersahur).
– jika saat kita bersahur, lalu adzan, maka kita selesaikan sahur kita dg tenang, tidak perlu terburu-buru.

3. Tidurnya orang di bulan Ramadhan itu ibadah. Sabda Rasululloh SAW yg selalu dijadikan ‘alasan pembenaran’ adalah “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” Akibatnya, seringkali kita melihat orang2 tidur di masjid selepas sholat dhuhur. Bahkan, tidak sedikit yg pulas sehingga baru bangun saat asharsleepy. Akibatnya, produktivitas menurun karena terlalu banyak tidur.

Padahal jika kita perhatikan, Ramadhan merupakan ajang untuk lebih meningkatkan kualitas kerja, karena waktu kerja kita tidak terpotong oleh makan siang, sehingga kita bisa lebih fokus kerja. 🙂

Sedangkan beberapa perbedaan pendapat yg selalu terjadi adalah:
1. Terlalu mempermasalahkan jumlah raka’at tarawih. Pengikut 23 raka’at dan 11 raka’at saling menyalahkan serta menganggap pihak lain sebagai pihak yg bid’ah. Padahal aku sudah tulis di artikel2 terdahulu (silakan anda cari sendiri) bahwa tarawih 23 dan 11 raka’at = SAMA-SAMA BENAR. Lho, kalo semua benar, lantas siapa yg salah? Ya gampang…YG SALA adalah YG TIDAK SHOLAT TARAWEH. Setuju kan? 🙂

2. Tentang niat puasa, juga tidak perlu dipermasalahkan. Sama halnya dg yg sholat dengan ushalli atau tidak. Menurutku, masing2 punya referensi/rujukan. Selama ada rujukannya, meskipun dhaif, menurutku tidak ada salahnya. Setidaknya, jika aku kutip dari beberapa guru+ulama, dhaif itu lebih baik daripada palsu. 🙂 Di beberapa penjelasan ulama yg pernah aku terima, sahur bisa dikategorikan sebagai niat puasa. (karena logikanya, mana ada orang yg sahur jika dia tidak ada niat puasa?)

Demikian beberapa point yg aku uraikan di artikel ini. Semoga bermanfaat dan mencerahkan. 🙂

Iklan

10 Komentar »

  1. Koreksi mi..
    Lafal niat puasa ngga ada Haditsnya, begitu juga lafal niat sholat . Jangankan yg shahih, yg dhaif aja ngga ada haditsnya.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 10, 2006 @ 12:16 pm | Balas

  2. hal kecil gitu aja jadi masalah ya? masih banyakkah yang blom tau masalah itu koh?

    Komentar oleh oón — Oktober 11, 2006 @ 7:58 am | Balas

  3. pyuuhh… untung gw selalu makan terus walopun udah imsak..

    Komentar oleh aRdho — Oktober 11, 2006 @ 8:01 pm | Balas

  4. Aku setuju dengan koreksi Sdr.Adhi Nugraha.

    Niat puasa dan niat sholat yang dilafalkan tidak ada petunjuknya dari Rosululloh SAW. Bagi yang merasa bahwa niat puasa dan niat sholatnya LEBIH MANTAP dengan cara dilafalkan, MENGAPA tidak cukup membaca BISMILLAAH saja?

    Jelas-jelas, bacaan BISMILLAAH disunnahkan Rosululloh SAW untuk memulai setiap amal sholih.

    Logika dhoif itu lebih baik daripada palsu, saya setuju. Masalahnya tidak ada satupun hadits dhoif yang menerangkan bacaan niat puasa dan sholat.

    Walloohu a’lam.
    -Musafir Laut-

    Komentar oleh Musafir Laut — Oktober 12, 2006 @ 10:53 pm | Balas

  5. Pengendara Espass

    Gimana rasanya seandainya kamu tanpa sebab yang jelas, gak pernah ketemu orang itu, tiba-tiba dia memaki kamu dengan kalimat “bodoh”, “tolol”, dan sejenisnya? Aku tadi sore mengalaminya, hiks. Kejadiannya sewaktu aku pulang dari kantor, ketika mele…

    Lacak balik oleh Life After Death — Oktober 16, 2006 @ 11:40 pm | Balas

  6. Loh koh, maaf gak sengaja kena trackback ke sini. Maksudnya sih cuma ingin ngelink aja ke sini, lha ternyata engine movabletype otomatis ngetrackback 😀

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — Oktober 16, 2006 @ 11:49 pm | Balas

  7. @adhi nugraha n Musafir Laut

    Benar..tidak ada hadits-nya. Niat itu di dalam hati. Melafadzkan niat itu untuk memantapkan mulainya ibadah yang akan dilakukan. Tidak ada perintah untuk melafadzkan, tetapi juga tidak ada larangan jika dilafadzkan.

    So..terserah kita.

    Komentar oleh org awam — Agustus 5, 2007 @ 8:37 pm | Balas

  8. banyak orang mempermasalhkan hal hal yang katanya dianggap sepele tapi dampaknya sangat besar, jangan pernah mengatkan bahwa hal yang kecil itu sepele apalagi itu masalah agama, kalau toh kita tidak menemukan permasalah dalm hadist atau al-quran tapi alangkah lebih bijaknay kita bertanya kepada para ulama tau membacca kitabnya, jangan pernah juga kita menganggap para ulama itu tidak penting sehingga kita tidak mau mengikuti mereka sementara kita mempelajari islam lewat tulisan atau analisa akal yang bisa menjerumuskan kita , cari dulu sumbernya baru komentar.

    Komentar oleh musanif — November 25, 2007 @ 8:55 pm | Balas

  9. […] lagi jika ada pertanyaan, maka pertanyaan yg diajukan selalu yg itu-itu juga. “Apakah boleh makan saat imsyak?” “Jika belum mandi besar, apakah bisa puasa?” “Apakah menangis itu […]

    Ping balik oleh Apakah Da’i Seleb Dan Ulama Gaul Itu Diperlukan? | Blog Tausiyah275 — Juni 23, 2014 @ 1:40 pm | Balas

  10. […] Sekian tahun menghirup udara dunia dan menjalani kehidupan di bulan Ramadhan, tiap kali itu pula saya melihat masih adanya salah kaprah terhadap istilah imsak. […]

    Ping balik oleh Salah Kaprah: Mengenai Imsak | Blog Tausiyah275 — Juli 26, 2014 @ 7:23 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: