Blog Tausiyah275

Oktober 16, 2006

Rasulullah SAW Figur Suami Yang Menyenangkan

Filed under: Hikmah,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 4:16 pm

*duh, jadi renungan buatku juga…* 😉

Banyak orang yang beranggapan bahwa Muhammad SAW adalah seorang rasul yang selalu serius dan kaku, anggapan ini tidaklah benar sebab sesungguhnya beliau adalah seorang suami yang menyenangkan bagi istrinya, selalu menampakkan wajah yang berseri-seri, dan sering bercanda dengan para istrinya pada saat-saat tertentu.

Aisyah RA berkata, “Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah SAW berada di pintu kamarku, sedangkan saat itu di dalam masjid ada beberapa orang Habsyi (Abyssinia) yang sedang bermain tombak. Rasulullah SAW pun kemudian menutupiku dengan selendangnya agar aku tidak terlihat oleh orang banyak namun aku dapat melihat permainan mereka. Aku sandarkan wajahku diantara bahu dan telinga beliau dengan menempel di pipi beliau, kemudian beliau bersabda: “Wahai Aisyah, apakah engkau sudah puas?” Aku menjawab, “Belum” dan aku tetap melihat permainan itu dari tempatku berdiri sampai aku merasa puas.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau tetap berdiri karena menemaniku (‘Aisyah) melihat permainan itu hingga aku puas, lalu aku pergi meninggalkan permainan itu, maka perkirakanlah dengan perkiraan wanita remaja yang masih senang melihat permainan” (HR Bukhari dan Muslim)

Tujuan Rasulullah SAW mencontohkan berbagai macam kegiatan dan permainan bersama istri beliau adalah agar setiap suami istri bisa memperoleh kesenangan bersama psangan hidupnya. Disamping itu, bercanda dengan pasangan hidup bertujuan agar kehidupan suami istri tidak terasa membosankan dan monoton.

Aisyah RA berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping.Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau,”Slakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari. Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silahkan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau berkata,”Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ” Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, “Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Beliau menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad” Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, “Tidak demi Tuhan Ibrahim!”. Aisyah pun menjawab, “Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah, bahwa berakhlaq baik terhadap istri tidaklah sebatas menahan diri dari menyakiti mereka tetapi juga mampu menanggung perilaku buruk mereka dan juga mampu bersabar atas kesalahan dan kemarahan mereka sebagai upaya meneladani Rasulullah SAW. Para suami hendaknya memiliki sifat humoris ketika berada di rumah guna menyenangkan hati istri, meringankan beban hidup yang dilalui bersama dan menghilangkan ketegangan setelah seharian bekerja.

Contohlah Rasulullah SAW, karena beliau adalah figur seorang suami yang menyenangkan bagi istri.

(Sumber: Wanita Teladan, Mahmud Mahdi Al Istanbuli & Mustafa Abu NAshr, IBS, 2005)

Iklan

2 Komentar »

  1. Engkoh juga suami yang menyenangkan kok…;;)

    Komentar oleh Wify — Oktober 18, 2006 @ 3:15 pm | Balas

  2. Subhannallah, bahagia sekali memiliki suami seperti Rasulullah. Yang mengerti bagaimana memperlakukan istrinya. Sayangnya, tidak semua suami menyadari ataupun meneladani beliau. Bersyukurlah, hanya itu yang bisa kulakukan, meski kadang berat, menerima orang yang egois,tapi inilah pilihan hidupku, Semoga Allah mendampingiku menghadapi segala cobaan, ujian, semoga aku diberi ketabahan. Amin.

    Komentar oleh DEWI — Juli 17, 2008 @ 1:13 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: