Blog Tausiyah275

Oktober 19, 2006

Jika 1 Syawal Berbeda…

Filed under: Ensiklopedia Islam,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 5:03 pm

Salah satu hal yg sering menjadi ‘permasalahan’ yg dialami kaum muslim di Indonesia adalah perbedaan penentuan Lebaran (1 Syawal). Sebenarnya tidak hanya penetapan 1 Syawal yg bermasalah, namun juga penetapan 1 Ramadhan. Alhamdulillah, untuk tahun ini, kaum ulama (dari berbagai organisasi) sepakat bahwa 1 Ramadhan dimulai per 24 September 2006 lalu.

Namun, kini terjadi ‘perselisihan’ dalam penetapan 1 Syawal. Siapa yg mesti kita ikuti? Mari kita kupas permasalahan ini 🙂

Sebagaimana kita ketahui, penentuan awal puasa dan/atau awal lebaran bisa dilakukan dengan metode perhitungan (hisab) dan/ataupun melihat bulan (hilal). Aku tidak akan membahas 2 metode ini di artikel kali ini, mungkin akan aku buat di artikel terpisah (artikel baru).

Di artikel ini, aku hanya ingin menyampaikan hasil diskusi dengan seseorang yg aku anggap guru (karena mempunyai pengetahuan agama yg lebih baik dariku). Beliau menyatakan JIKA ADA 2 LEBARAN, MAKA PILIHLAH YG SESUAI DENGAN KEYAKINAN KITA.

Penjelasan dari pernyataan beliau adalah:
– Jika kita mengikuti NU + Muhammadiyah, yakni memilih berlebaran tgl 23 Oktober 2006, maka hari Minggu, 22 Oktober 2006 merupakan hari terakhir berpuasa. Dengan demikian puasanya 29 hari.

– Sedangkan jika kita mengikuti pemerintah, maka kita berlebaran tgl 24 Oktober 2006, dan TETAP BERPUASA PADA HARI SENIN (23 OKTOBER 2006). Dengan demikian, puasanya akan genap 30 hari.

Beberapa pertanyaan yg sempat aku utarakan, terkait dengan lebaran beda hari ini, beliau juga jawab:

Q: Apakah boleh kita lebaran hari Senin, tapi sholat ‘Ied hari Selasa?
A: Tidak boleh…sholat ‘Ied Fitri hanya dilakukan SATU KALI, DAN PADA TGL 1 SYAWAL MENURUT KEYAKINAN/PILIHAN KITA.

Q: Apakah kita berdosa berpuasa pada hari Senin, karena ada yg merayakan Lebaran pada hari Senin?
A: Insya ALLOH tidak berdosa, karena kita mempunyai pilihan berlebaran hari Selasa, maka kita ‘wajib’ menggenapkan puasa menjadi 30 hari, sebagaimana sabda Rasululloh SAW,”Dari Ibnu Umar ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bila kalian lihat hilal, maka berpuasalah. Dan bila kamu melihat hilal maka berLebaranlah. Tapi kalau tidak nampak oleh kalian, maka kadarkanlah (hitunglah).” (HR Muttafaq ‘alaihi)

Q: Apakah orang yg lebarannya tidak sama dengan kita bersalah?
A: Insya ALLOH tidak bersalah, karena kita mesti merujuk pada ulama/ahli agama. Maksudnya, kita termasuk orang awam yg tidak memenuhi kriteria orang yg BERWENANG untuk menghitung (hisab) ataupun melihat bulan (hilal). Kita cukup percayakan pada ahlinya. Insya ALLOH, sepanjang mereka mempunyai dasar, alasan, dalil serta bukti yg kuat, maka pendapat mereka benar.

Q: Mana yg benar dalam menetapkan lebaran, apakah Muhammadiyah+NU atau Pemerintah?
A: Seperti jawaban saya sebelumnya, keduanya insya ALLOH benar, sepanjang punya dalil yg bisa dipertanggungjawabkan.

-info ttg telepon dihapus- 😉

KESIMPULAN: PILIH LEBARAN SESUAI DENGAN KEYAKINAN ANDA…BAIK MUHAMMADIYAH+NU ATAUPUN PEMERINTAH SAMA BENARNYA…

*update: artikel terbaru tentang perbedaan 1 Syawal*

Iklan

11 Komentar »

  1. itu nomer fren sapa mi?

    Komentar oleh awan — Oktober 20, 2006 @ 1:15 pm | Balas

  2. kalau saya mah ikut pemerintah aja. siapa lagi kalau gak ikut pemerintah. pemerintah kan yang mempunyai wewenang untuk meentukan. iya gak

    Komentar oleh huda — Oktober 20, 2006 @ 3:20 pm | Balas

  3. caelah.. pake sebar no telpon.. gayak amaatt..

    Komentar oleh aRdho — Oktober 22, 2006 @ 10:24 pm | Balas

  4. saya kurang jelas mengneai puasa dibulan syawal, apakah kita boleh puasa esok harinya setelah di hari lebaran? setelah
    s

    Komentar oleh DARYATI — Oktober 25, 2006 @ 9:28 pm | Balas

  5. Mengapa dalam penentuannya harus melihat bulan (ru’yatul hilal)..karena hal itu dicontohkan Nabi,Imam Syafi’i dalam Al-Umm juz 2 hal. 94 menyatakan, Imam Rabi’i mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Imam Syafi’i berkata: Malik
    berkata pada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasul berkata: Bulan itu ada yang 29, jangan kamu masuk puasa kecuali kamu melihat bulan (hilal) dan janganlah berhari raya kecuali melihatnya. Kalau hilal (bulan) ditutup oleh awan, maka cukupkanlah bilangan bulan
    sebelumnya dengan 30 hari. Dalil lain yang menyatakan untuk menyempurnakan bilangan puasa dengan 30 berdasar ada atau tidaknya Ru’yatul Hilal:
    – Shahih Bukhari juz I hal 231
    – Shahih Tirmidzi juz III hal 204
    – Shahih Muslim juz I hal 436
    – Sunan Abud Daud II hal 302

    Komentar oleh Hadi — Oktober 29, 2006 @ 11:38 pm | Balas

  6. memang tidak sepatutnya kita
    embicarakan mana yan betul dan mana yang salah, kalau menurut saya keduanya sama betulnya karena memang sama-sama mempunyai dasar hukum yang kuat

    Komentar oleh shdiq — Oktober 30, 2006 @ 8:48 pm | Balas

  7. hmm bagus bagus mas

    Komentar oleh Jauhari — November 1, 2006 @ 4:42 pm | Balas

  8. ass.wr.wb salam kenal
    saya hanya ingin mengomentari Coba direnungkan kembali “apakah kebenaran itu bersifat relatif?? karena kalau melihat artikel tadi bahwa 2 pendapat itu kedua BENAR’ kalau begitu jika ada 10 pendapat yang mempunyai argument kuat apakah kita akan mengatakan bahwa semuanya BENAR ??

    Komentar oleh muhididn — November 13, 2006 @ 7:57 am | Balas

  9. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

    di dalam shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah kalian ketika kalian melihat hilal dan berhentilah kalian berpuasa ketika kalian melihat hilal. Dan jika mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari”
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda “Janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan (bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Dan janganlah kalian berhenti berpuasa (Ramadhan) sebelum kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan (bulan Ramadhan menjadi 30 hari)” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan An-Nasaa’i dengan sanad shahih]

    berikut adalah latarbelakang adanya hadist diatas

    Nabi saw. bersabda, “Sesungguhya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung bulan). Sebulan itu demikian dan demikian, yakni sekali waktu dua puluh sembilan hari, dan sekali waktu tiga puluh hari.”(H.R. Bukhari dari Ibnu Umar)

    Dari hadist diatas dijelaskan bahwa pada masa itu umat islam belum pandai membaca, menulis serta berhitung. Maka Nabi saw mengajarkan cara yang paling mudah untuk menentukan awal bulan yaitu dengan cara ru’yat.

    Selain dengan cara tersebut Nabi saw juga menganjurkan cara Hisab untuk menentukan awal bulan,

    “Janganlah kamu berpuasa (Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Ramadhan) dan janganlah berbuka (mengakhiri puasa Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Syawwal). Jika dihalangi oleh awan/mendung maka kira-kirakanlah”. (H.R. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar)

    dari Hadist diatas Nabi saw tdk memerintahkan untuk menggenapkan menjadi 30 hari, tapi Nabi saw memerintahkan kepada kita untuk ber-ijtihad dalam menentukan awal bulan dengan cara hisab, jadi bisa digenapkan 30 atau dicukupkan 29 hari.

    Ilmu Hisab merupakan hasil ru’yat/pengamatan terhadap benda-benda langit yang dilakukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu.

    Pada masa sekarang ini ilmu Hisab sudah bisa diandalkan untuk menentukan awal bulan secara lebih akurat, bahkan untuk menentukan kapan terjadinya gerhana matahari/bulan dengan Ilmu Hisab kita dapat menghitung kapan akan terjadi.

    Dalam kehidapan sehari-hari Ilmu Hisab sudah kita manfaatkan sebagai petunjuk waktu, sebagai contoh Jadwal Sholat yang kita gunakan sehari-hari merupakan hasil hisab (perhitungan)

    Selain itu Hisab memiliki Kelebihan dalam hal akurasi.Hisab Lebih akurat ketimbang ru’yat yang dibatasi banyak kendala seperti; terbatasnya daya lihat manusia, jadi sangat memungkinkan terjadinya salah liat (dikira yang dilihat hilal ternyata benda langit yang lain)

    Tentunya Hisab juga mempunyai kekurangan-kekurangan namun masih mungkin untuk diperbaiki lagi.

    saya berpendapat bahwa ru’yat bukan satu-satunya cara untuk menentukan awal bulan.

    Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

    Komentar oleh Ferry — Oktober 13, 2007 @ 3:52 am | Balas

  10. […] – Jika 1 Syawal Berbeda… […]

    Ping balik oleh Beberapa Artikel Tentang Lebaran Yang Berbeda « Blog Tausyiah275 — Juni 14, 2012 @ 12:04 pm | Balas

  11. […] berarti 1 Syawal akan segera tiba dan itu berarti umat Islam (Indonesia) kembali akan berdebat dan berbeda pendapat mengenai penentuan kapan 1 Syawal tiba. ‘Penyakit’ ini, anehnya, hanya muncul pada saat penentuan 1 Syawal, sementara untuk […]

    Ping balik oleh Lebaran Berbeda? Jangan Donk! « Blog Tausyiah275 — Juni 14, 2012 @ 12:06 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: