Blog Tausiyah275

Oktober 22, 2006

Lelaki Yang Tak Pernah Mencaci Keledai

Filed under: Hikmah — Tausiyah 275 @ 7:51 pm

Lelaki itu heran. Dilihatnya orang-orang berbincang tentang banyak hal.Tetapi selalu saja sumber perbincangannya berasal dari sesosok orang khusus. Abu Juray, lelaki yang heran itu terus mencari tahu, siapa gerangan sosok khusus itu. Tak ada pembicaraan orang, kecuali bersumber dari sosok itu.

“Siapa sosok orang ini?” tanyanya pada orang-orang.
“Dia Rasulullah,” jawab mereka.

“Alaikassalam wahai Rasulullah,” gumamnya.
“Hei, jangan berkata ‘Alaikassalam tapi Assalamu’alaikum sebab ‘alaikassalam itu ucapan untuk orang yang mati,” jawab orang-orang.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, Abu Juray bertanya, “Engkau Rasulullah?”
Rasul menjawab, “Aku adalah Rasul utusan Allah, Dzat yang apabila kamu terkena kesulitan, lalu kamu berdoa kepadaNya. Dia akan melepaskan kesulitan itu dari kamu. Jika kamu mengalami musim kering lalu kamu meminta kepadaNya, niscaya Dia akan menumbuhkan tanaman untuk kamu. Jika kamu berada di tanah tak bertuan atau padang gersang, lalu binatang tungganganmu hilang, lalu kamu memohon kepadaNya, niscaya Dia akan mengembalikannya untukmu..”

Hari itu Abu Juray belajar tentang Allah SWT. Tentang betapa Maha Pengasih dan PenyayangNya Allah, Tuhan seru sekaliyan alam. Tampaknya ia telah mendapat jawaban atas penasarannya. Begitupun rasa herannya, ia mendapati sosok yang dari dirinya mengalir begitu banyak nasehat, ajaran budi, pijakan perilaku dan penuntun ke jalan yang terang. Abu Juray kemudian meminta nasehat khusus kepada Rasulullah.

“Nasehati aku dengan nasehat yang mengikat,” pintanya pada Rasulullah.
Janganlah kamu mencaci seorang pun. Janganlah kamu menghina sebentuk kebajikan apapun. Bicaramu dengan sesama saudaramu dalam keadaan wajahmu yang cerah, sungguh itu adalah sebuah kebajikan. Tinggikan kainmu dan jangan juntaikan karena itu bagian dari kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Dan jika seseorang menghina kamu dan mencaci kamu dengan sesuatu yang dia tahu bahwa itu memang ada pada dirimu, janganlah kamu membalas menghina dan mencacinya dengan sesuatu yang kamu tahu ada pada dirinya. Biarkan kesudahannya kembali pada dirinya. Dan bagimu pahalanya. Dan jangan mencaci apapun“.
[yuk, kita hindari mencaci orang…biarkan saja jika ada orang mencaci, toh pahalanya akan menjadi milik kita…;)]

Hari-hari sesudah itu bagi lelaki itu, adalah iman, pencerahan, jalan lurus, menunaikan janji yang diminta dari Rasulullah dan perjuangan mempertahankan konsistensi. Abu Juray benar-benar mengambil jalan hidupnya yang tercerahkan. Ia menuturkan, “Sungguh,sesudah itu aku tidakpernah menghina dan mencaci seorang pun,budak maupun orang orang mereka, tidak pula aku pernah mencaci keledai maupun domba.” Di lain waktu ia berkata, “Sungguh, sesudah itu aku tidak pernah mencaci orang atau binatang.”

Ini tak sekedar soal mencaci binatang atau manusia. Alangkah besarnya perhatian Islam kepada ummatnya. Ini adalah pilar-pilar besar yang diatasnya dibangun model hubungan sosial antara sesama orang-orang beriman.

Rasulullah bersabda dalam kesempatan lain, “Orang mukmin itu bukanlah tukang menuduh, tukang mencaci bukan pelaku perbuatan-perbuatan keji dan hina, bukan pula seorang yang mulutnya kotor.” (HR Bukhari)

“Seorang muslim adalah yang orang muslim lain selamat dari lisan dan tangannya..” Adakah yang lebih detail, dari memberi contoh, bahwa sebentuk amal kebajikan adalah engkau menuangkan air di embermu ketempat air saudaramu?

Abu Juray telah mengambil sisi yang besar dalam keputusan hidupnya. Dia sadar bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab hidup orang lain pedih dan getir dalam bentuk apapun. Dan dari lisan bisa menjadi salah satu bara api yang mampu membakar kehidupan kemanusiaan. Karena itu wahai sahabat, jagalah lisanmu!

“Mulut seseorang adalah toserbanya perbendaharaannya dan kedua bibirnya adalah kuncinya, sedangkan giginya adalah cakarnya. Apabila seseorang membuka pintu toserbanya, akan jelaslah bagi dirinya baik dan buruknya” (Yahya bin Mu’adz)

Lihatlah lisan dan tutur katanya, maka akan tampaklah pribadinya.

(sumber: Lelaki Pendek Hitam dan lebih jelek dari untanya, Ahmad Zairofi AM , Tarbawi Press,2006)

Iklan

1 Komentar »

  1. Karena lidah tak bertulang… Semenjak kecil bunda selalu mengajarkan, kita harus berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu pada seseorang, karena lidah tak bertulang, tak kan terasa kita akan menyakiti perasaan orang lain ketika kita berbicara apabaila kita tidak berpikir dulu sebelum mengatakannya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang2 yang selau menjaga lisan kita, semoga Allah senantiasa menjaga Qta dari perkataan yang buruk. Amin.

    Komentar oleh chubby — November 24, 2006 @ 10:42 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: