Blog Tausiyah275

Oktober 25, 2006

Ketika Bertemu Sistem Yang Korup

Filed under: Fiqh,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 10:10 am

Artikel ini sebuah ‘corat coret’, refleksi serta hasil obrolan yg pernah aku lakukan dengan orang2 yg lebih mempunyai kompetensi serta ilmu (baik ilmu agama maupun ilmu non-agama) yg lebih dariku. Mudah2an bermanfaat serta bisa diambil hikmahnya, serta dapat mencerahkan kita semua. 🙂

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Indonesia adalah sebuah negara yg cukup korup, baik hasil penilaian dari ‘orang luar’ maupun dari pengalaman kita sehari-hari. Hal yg paling menyedihkan, dari penelitian yg pernah dilakukan awal 2006 ini, Departemen AGAMA menjadi departemen yg paling korup. Hal yg sangat ironis, ketika kita menyadari dan mengetahui bahwa Depag merupakan tempat orang2 yg mempunyai ilmu agama (lebih) dibandingkan yg lainnya.

Dari sekian banyak korupsi yg dilakukan di depag, biaya keberangkatan naik haji (ONH) adalah salah satu ‘sumber duit’ yg senantiasa menjadi ladang garapan para tikus itu. Hal lainnya adalah pengurusan nikah, yg seringkali menjadi ‘kursi basah’.

Tentu, yg aku tulis di sini adalah KEBANYAKAN staf Depag, TIDAK SEMUA. Aku masih yakin, MASIH BANYAK orang2 jujur di Depag, namun sayangnya mereka tidak bisa muncul di permukaan, karena sistem yg korup membuat mereka tidak bisa menampilkan kejujuran dan kapabilitas yg sebenarnya.

Tempat lain yg menjadi sarang koruptor adalah KEPOLISIAN. Di sini, banyak hal yg bsia dikorupkan, mulai dari PEMBUATAN SIM, MENGURUS TILANG, BAHKAN HILANG KENDARAAN menjadi obyekan para tikus yg menjijikkan itu. Yang mengherankan, praktik ini kian tidak malu dilakukan terang2an, meski beberapa di antaranya masih dilakukan dg ‘malu-malu kucing’. 😉

Untuk mengurus tilang, sebenarnya tidak hanya polisi yg ‘wajib’ disalahkan. Para pelanggar juga semestinya sadar bahwa sikap mereka yg memilih ‘damai’ yg membuat korupsi senantiasa lestari dan mendarah daging dalam praktik kehidupan (kerja) para pak polisi. Padahal para pelanggar ini JELAS2 BERSALAH, SUDAH GITU MALAH MENYUAP. Jadi, sebenarnya mereka sudah melanggar 2hukum, hukum positif (hukum lalu lintas) dan hukum agama. 😦

Yg lebih parahnya, adalah ‘pemerasan’ yg dilakukan polisi bila ada warga yg melapor karena kendaraannya hilang. Pemerasan kian berani (+kian besar) jika kendaraan yg hilang ternyata diasuransikan. Polisi ikut meminta ‘jatah’ dari uang asuransi yg akan didapat, padahal mereka tidak punya hak sama sekali. 😦

Membuat SIM kini memang lebih enak. Jika kita perhatikan di kantor polisi (tempat membuat SIM), kita akan bisa melihat calo-calo (sipil) lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, keberadaan calo2 ‘sipil’ itu ternyata digantikan oleh calo-calo berseragam (polisi itu sendiri).

Dari sekian banyak cara para tikus itu untuk mendapatkan uang, UJIAN PRAKTIK menjadi sumber penghasilan yg cukup menggiurkan. Pengalamanku, lebih dari 90% peserta ujian praktik SELALU GAGAL di ujian praktik, padahal jika kita melihat penampilan ujian mereka, rata-rata kemampuan mereka cukup baik. Kenyataannya, mereka sulit diluluskan ujian praktik. Ternyata ada udang di balik bakwan, pak polisi meminta bayaran untuk kelulusan ujian praktik ini.

Nah, bagaimana sikap kita menghadapi sistem yg sedemikian korup?

Aku berusaha mengobrol, diskusi dg banyak orang2 berilmu, terutama yg ilmu agama. Hal ini dikarenakan Rasululloh SAW sudah jelas2 mengancam para pelaku korupsi (suap), bahwa baik pelaku maupun penerima suap maka dua2nya adalah NERAKA. Jika memang begini, maka sudah berapa kali kita ‘memesan’ tempat di neraka, untuk perbuatan suap yg kita lakukan? Naudzubillah…

Hasil obrolan dengan mereka, aku mendapatkan beberapa kesimpulan:
– Jika pada kasus tilang, kita jelas2 bersalah….namun kita malah meminta damai dengan pak polisi, dg menyetorkan sejumlah uang. Maka perbuatan ini jelas2 DILARANG. Untuk kasus ini, menurut mereka, keduanya akan terkena ‘ancaman’ Rasululloh SAW yg aku sebut di atas, yakni KEDUANYA MASUK NERAKA, INSYA ALLOH. Hal ini dikarenakan pelanggar lalu lintas yg ‘memaksa’ polisi untuk membudayakan korupsi (suap) dalam sistem mereka. Solusinya? Jika melanggar lalu lintas dan kena tilang, yaaa…mesti siap menerima resikonya, menjalani sidang. Tidak mau ikut sidang karena waktu dan tenaga terbuang? Solusinya juga mudah, JANGAN MELANGGAR LALU LINTAS. 😉

– Untuk kasus ONH, para calon haji insya ALLOH tidak akan terkena ancaman Rasululloh SAW. Justru para staf Depag itu yg akan mencicipi api neraka, karena praktik korupsi yg mereka lakukan. Para calon haji tidak dikenai hukum korupsi, karena pada dasarnya mereka membayar ONH yg telah ditetapkan oleh Depag. Masalah ONH ada uang2 ‘siluman’, maka itu sudah menjadi tanggung jawab para staf Depag. Hal yg berbeda jika para calon haji membayar para staf Depag agar mereka dibantu untuk masuk kuota, meskipun kuota yg ada telah habis. Ini kasusnya sama dg tilang, malah orang2 yg aku ajak diskusi menyatakan, bahwa haji yg mereka lakukan bisa masuk haji yg tidak mabrur, karena ada prosedur ‘haram’ yg dilakukan.

– Sementara untuk membuat SIM, ada sedikit ‘keringanan’, yg tentunya bukan dijadikan pembenaran untuk melakukan suap. Jadi begini, untuk kasus membuat SIM, USAHAKAN SEMINIMAL MUNGKIN MELAKUKAN SUAP. Sebagai contoh, membuat SIM itu ada 2 macam, yakni membuat sendiri dan diuruskan oleh orang lain (calo). Nah, para ulama yg aku ajak obrol+diskusi, mereka sepakat bahwa orang yg membuat SIM yg diuruskan oleh orang lain (menggunakan calo) maka akan terkena hukum suap, insya ALLOH, masuk neraka. Hal ini dikarenakan calo yg membantu membuat SIM akan MENYUAP para polisi agar si pembuat SIM dimudahkan membuat SIM, seperti tidak perlu ujian teori, ujian praktiknya diluluskan (tanpa ujian, adapun jika melakukan ujian praktik maka itu formalitas semata), dst dst. Sementara jika membuat sendiri, kemudian terhambat di ujian praktik lalu mesti membayar (menyuap) polisi agar bisa lulus, pendapat para ulama ini terpecah. Ada yg tetap mengharamkan, karena itu tetap masuk praktik suap. Ada yg membolehkan dg alasan kondisi darurat, bahwa sistemnya ‘mengharuskan’ suap utk lulus dari fase itu. Meskipun demikian, mereka tetap menyarankan bahwa suap itu merupakan jalan terakhir yg dilakukan, apabila misalnya telah melakukan ujian praktik dg baik (kemampuan cukup baik) namun polisi2 itu tetap ‘menggagalkan’ usaha para pembuat SIM untuk mendapatkan SIM dg cara yg ‘halal’.

Demikian artikel ini, semoga mencerahkan…

ps: aku tidak ‘menjudge’ mereka2 masuk neraka begitu saja, karena ALLOH SWT yg berhak untuk menentukan apakah mereka masuk neraka atau tidak (terutama jika mereka2 bertobat). Aku hanya merefer (merujuk) dari hadits Rasululloh SAW. Demikian, agar tidak salah paham dg menganggap aku adalah wakil Tuhan. 😉

Iklan

3 Komentar »

  1. “dilema”.. cuma itu yang mungkin saya dan kebanyakan orang rasakan.. Mo “lurus” bener2, dianggapnya ga mendukung program, dan ‘sok suci’.. kalo mo ngikutin arus, hati nurani menolak.. so ?? Bukan cuma di depag atau kepolisian aja, di kantor2 kecil juga banyak…

    Komentar oleh Beti — Oktober 30, 2006 @ 8:54 am | Balas

  2. untuk mendapatkan proyek di kantor juga melalui suap. padahal, pekerjaan di kantor adalah untuk menyambung hidup. dilema gw kerja di jakata.

    Komentar oleh adhi nugraha — Oktober 30, 2006 @ 9:54 am | Balas

  3. emang susah jaman gini, peran ulama begitu penting ato paling ga tokoh panutan.Tapi yang parah, masih ada juga tokoh yang seharusnya dijadikan panutan umat yang melenceng,terlepas dari “no bodies perfect”.

    begitu banyak masalah fiqih kontemporer yang butuh penjelasan terutama bagi orang awam,jika tak ada sumber informasi itu yang sulit,umat tambah bobrok, bukannya disuguhi hal-hal bermanfaat di dunia akhirat, saat ini kita (khususnya di Indonesia) disuguhi tayangan-tayangan yang boleh dikata kurang bermanfaat seperti sinetron-sinetron yang mengagungkan keglamoran,klenik,pembodohan umat (kiai usir jin ato hantu,emang ada???) habis tuh tayangan infoteinment yang menggerogoti dari pagi sampe pagi lagi.

    alangkah hinanya umat Islam saat ini…i miss u khilafah

    Komentar oleh fajreen — Juni 3, 2007 @ 10:48 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: