Blog Tausiyah275

Desember 12, 2006

Beretika Dalam Memberikan Komentar

Filed under: Hikmah — Tausiyah 275 @ 5:11 pm

Semula aku tidak berniat menuliskan (dan memuat) artikel ini, karena aku beranggapan para pengunjung blog (serta memberikan komentarnya) adalah orang2 yg dewasa dan matang pemikirannya. Namun, dalam kenyataannya, dalam banyak artikel yg bersifat serius, aku sering dapati komentar2 yg *maaf kalo agak kasar* tidak beretika.

Beberapa ‘model’ komentar yg tidak beretika aku tuliskan di sini:
– Menghina agama lain, baik itu Tuhan, Nabi/Rasul, maupun ustadz/ulama/pemuka agama lain
– Menghina cacat fisik orang
– Menghina penulis artikel, tanpa melakukan konfirmasi/diskusi/tabayyun (cross-check)
– Melontarkan caci maki, baik kepada penulis artikel maupun orang2 lain yg berkomentar di artikel itu
– Mengghibah/menggosipkan orang
– dan masih banyak lagi model2 komentar2 yg tidak beretika lainnya

Blog ini pun tidak terlepas dari komentar2 yg tidak beretika itu. Semula aku tidak terlalu ‘ngeh’ dengan komentar2 ini, karena aku sendiri jarang online untuk memeriksa komentar2 yg masuk. Namun, beberapa hari lalu, aku sempat baca komentar ini dan ini, barulah aku ‘tersadarkan’ bahwa (nampaknya) banyak komentar2 tidak senonoh dan tidak beretika yg masuk.

Aku segera cek di bagian komentar, dan memang, aku dapati beberapa komentar tidak beretika seperti yg (mas?) Execute sebut. Walhasil, aku segera filter komentar2 dari ‘provokator’ itu. 🙂

Saudara-saudaraku, aku hendak mengingatkan pada diri sendiri dan pada para pengunjung blog, hendaknya kita berkomentar yg lebih beretika.

“Lalu, ukuran beretika atau tidak seperti apa?”

Hmmm…mungkin poin2 yg aku sebutkan di atas bisa jadi acuan…tapi barangkali yg bisa dijadikan acuan juga adalah jenis artikelnya. Jika artikelnya bernuansa humor/guyon, yaa…mungkin kita bisa memberi komentar yg bernuansa becanda/guyon juga. Tapi, JANGAN MENGHINA ATAU MELONTARKAN KATA2 KOTOR…itu menunjukkan level anda bergaul. 😉

Aku sendiri masih melihat dalam 1-2 minggu ini, jika komentar2 tidak pantas itu masih muncul, mungkin aku akan set ‘moderate’ untuk komentar2 yg masuk, sehingga bisa terhindar dari kata2 yg tidak pantas. 😉

So, dari sini, aku mengajak saudara2ku (dan tentu saja aku sendiri) untuk lebih beretika dalam memberikan komentar… 😉

Iklan

16 Komentar »

  1. wah pada takut berkomentar jadinya koh 😀
    luthfi sih!
    *menuduh

    Komentar oleh oon — Desember 12, 2006 @ 7:04 pm | Balas

  2. – komentar dihapus, terkait tidak beretika dalam diskusi –

    di sini bukan forum untuk menghina suatu ajaran agama!
    Nabi kami Muhammad SAW, membawa ajaran “untukku agamaku, untukmu agamamu…”, tolong anda belajar beretika dan menghargai orang lain, jika anda merasa ajaran agama yang anda anut itu baik,jangan tunjukkan kejelekan anda sendiri!!!

    admin tausyiah275

    Komentar oleh ardan — Desember 13, 2006 @ 5:10 am | Balas

  3. udah difilter aja mas fahmi…setuju saya.. 😀

    Komentar oleh cahyo — Desember 13, 2006 @ 8:43 am | Balas

  4. Menjadi tua itu sudah pasti, sedangkan menjadi dewasa itu pilihan..

    Ternyata masih banyak yang tidak mau menjadi dewasa..:(

    Komentar oleh Suhendri — Desember 13, 2006 @ 8:49 am | Balas

  5. coba ngetes, engkoh ngefilternya pake apa 🙂

    Komentar oleh Bukan Ardan — Desember 13, 2006 @ 9:48 am | Balas

  6. ooohh.. kirain termasuk budayakan berkomentar 😀

    Komentar oleh om7ack — Desember 13, 2006 @ 12:57 pm | Balas

  7. nggak jadi komentar ahk.

    Komentar oleh saylow — Desember 14, 2006 @ 5:23 pm | Balas

  8. Ini Bukan Komen[titik]
    dan tentunya sudah mengikuti aturan dan etika per-komen’an[titik]

    Komentar oleh Yanuar — Desember 15, 2006 @ 11:57 am | Balas

  9. Kak, saya ada pertanyaan tapi bingung postingnya dimana. Ini pertama kalinya saya baca blog Kakak. saya banyak menemukan pencerahan disini.
    Saya ini baru sebulan belajar Islam. Baru banget ya Kak. Kesadaran saya tentang Islam dimulai ketika saya tinggal selama dua bulan dilingkungan yang sangat Islami. Selain itu, saya sempat berpacaran dengan pria muslim. Dia sangat taat beribadah. Saya belajar banyak dari dia. Dialah yang membuka mata saya tentang hidup saya selama ini yang gelap. Baru sekarang saya menyadari, sebanyak apapun tindakan baik saya ketika saya tidak tau kepada siapa saya melakukan itu, semua itu percuma.
    Sebulan yang lalu, saya bangun karena azan subuh. Baru sekali ini saya bangun dan merasakan kerinduan yang amat sangat dengan pencipta saya. Saya merasa dipangggil. Ada keinginan yang saat kuat untuk sholat tapi saya belum bisa melakukannya.
    Hari itu juga saya mencoba mencari tau tentang Islam. Ketertarikan saya semakin besar. Saya banyak menemukan jawaban untuk semua pertanyaan saya dari Alquran. Semakin hari, saya semakin mencintai Allah.
    Tapi ada yang mengganjal dihati saya. Saat ini saya berada diambang kebingungan. Saya ingin secepatnya sahadat tapi saya takut. Takut saya tidak bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah dan disatu sisi saya diharuskan menjalankan ibadah ortu saya yang sudah tidak saya yakini lagi.
    Bagaimana ya Kak,saya tau saya harus menolak jika disuruh melakukan ibadah itu. Semakin saya memahami Islam, semakin saya mencintai ortu saya. Saya tau doa yang diterima itu doa anak sholeh.
    Saya dengar beberapa nabi juga memiliki ortu nonmuslim.
    Tolong bantu saya ya Kak. Untuk memperteguh keyakinan saya. Terimakasih…

    Komentar oleh Rani — Desember 16, 2006 @ 7:01 pm | Balas

  10. Betul… Saya laki-laki hehehe. Makasih comment2 yang tidak senonoh sudah di hapus dari list.

    Komentar oleh ExeCute — Desember 18, 2006 @ 4:38 pm | Balas

  11. /me kok baru baca… :p

    Komentar oleh oon — Juni 30, 2007 @ 1:43 pm | Balas

  12. Hehehe… betul, buat apa blog ramai komentar kalau komentarnya cuman “pertamaaaaaaaaa…”

    Saya termasuk yang lebih suka mementingkan “value” dari sebuah blog… dan komentar tentunya… 🙂

    Komentar oleh OrangeMood — Juli 13, 2007 @ 3:15 pm | Balas

  13. hue hue hue . .. .
    blog skrg fungsinya sebagai bahan gaul dan sumber iklan kok
    komentar seadanya donk.. yang penting absen

    *anti pertamax

    Komentar oleh funkshit — Juli 28, 2007 @ 4:12 pm | Balas

  14. duh, ada minta saran yang sulit? Ayo, Pak Fahmi kasih saran …

    Komentar oleh auliahazza — April 5, 2008 @ 3:52 pm | Balas

  15. tulisannya bagus, sy minta ijin mo kutip di multiply. ada yg permasalahkan soal etika baku memberikan komentar. minta tolong juga, kalo misal ada sumber referensi yg bisa memperkuat. trims!

    Komentar oleh Leo Kusuma — Mei 19, 2008 @ 9:21 pm | Balas

  16. mau nanya,biar komentar orang tampil di blog kita gimana?

    Komentar oleh wobum — Januari 29, 2009 @ 1:55 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: