Blog Tausiyah275

Januari 5, 2007

Kisah Berhaji (02)

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 5:05 am

*artikel pertama*

2.3 Kejadian 3

Di pesawat, saya dikenalkan oleh pramugari kepada 2 orang penumpang yg menekuni manajemen pikiran. Dian, pramugari yg sebelumnya terlibat diskusi agama dengan saya dan H Tabrani, menyarankan agar masalah saya diungkapkan kepada mereka. Kamipun berkenalan, seorang bernama Nur Cahyo, seorang lagi bernama Kartiko (mungkin muridnya).

Saya jelaskan permasalahan utama saya. Akhirnya ia menjelaskan, ” Sdr Andry, selama ini saya tahu anda telah banyak berupaya, namun upaya itu belum optimum. Apa sebab – karena sdr hanya menggunakan sebahagian yakni bagian kiri saja dari otak sdr “.

“Karena otak, mempunyai 2 belahan, belahan kiri yg fungsinya untuk menganalisa, kalkulasi, logika, konsentrasi, hipotesa, dsb, dan belahan kanan yg berfungsi mencerna keindahan, emosi, seni (spt musik), euphoria, keimanan, dsb. Kedua belahan otak tsb harus sdr gunakan. Wajar kalau saudara hanya mengandalkan analisa dan mendewakan sirkuit logika”.

“Ada daerah kekuasaan Tuhan yg tidak dapat dianalisa dan didiskusikan. Daerah tsb hanya dapat dicerna oleh perasaan yg kita sebut iman”.

“Loh…itu khan basic prinsip Quantum Learning, saya tahu benar itu “, kilah saya.
“Betul…bagus kalau anda tahu – tapi pernahkah anda terapkan dalam pencarian ini ?”.

Saya mulai bingung dengan pertanyaan Kartiko. Saya tahu benar ilmu itu, karena saya sering jadi pembicara tentang metode belajar dan bekerja menggunakan keseimbangan otak kiri – kanan.

Kepala saya seperti dipentung oleh senjata saya sendiri.

Kartiko melanjutkan, “Jika yg sdr cari adalah petunjuk, ia dapat berupa ilham, mimpi, atau fenomena dan kejadian-kejadian yg tak masuk akal. Sdr tak akan bisa menelaah semua itu nanti di perjalanan dengan otak kiri (analisa) saja. Hasilnya akan sdr pisah-pisah dan terlihat tidak berkaitan satu sama lain. Namun apabila sdr gunakan juga otak kanan (intuisi/rasa/iman), hasilnya akan sangat menakjubkan”.

H Tabrani pun ikut terlibat diskusi, dan ia banyak membenarkan perkataan Kartiko. Sebelum Kartiko kembali ke kursi duduknya, saya bertanya kepadanya, “Anda kuliah dimana ?”.

Kartikopun menjawab “Politeknik Mekanik Swiss”.

“Astaga, angkatan berapa ?”.
“Angkatan 88″, jawabnya.

Akhirnya, kami pun bertambah mesra.

Saya mulai menarik hipotesa dengan kedua belahan otak saya ;
1. Apakah instrumen ini berguna (telaah menggunakan kedua belahan otak)untuk pencarian saya ?
2. Kenapa saya tak pernah menggunakannya, padahal saya tahu dan gandrung dengan ilmu itu ?
3. Apakah ia hanya seorang kenalan di pesawat, atau kah sebuah petunjuk agar saya menggunakan instrumen itu dalam perjalanan sekarang dan nanti ?
4. Apakah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan ?
5. Apakah Kartiko juga seorang yg kebetulan berlatar belakang pendidikan sama dengan saya sehingga jalan berfikir kami sepertinya klop !?

Saya kembali membahas ini dengan H Tabrani.
Beliau seperti biasa sambil sewot, ” Terserah…you mau lihat dari kacamata kebetulan atau kacamata kebesaran Allah !”.

Sayapun mulai tak percaya dengan diri saya.
Saya mulai goyah dengan pandangan saya selama ini.

2.4 Kejadian 4

Akhirnya kami pun tiba di Jeddah, yg kemudian perjalanan disambung ke Madinah.
Malam hari kita berangkat sholat Isya’ ke Masjid Nabawi. Disini Rasululloh dimakamkan, jelas H Tabrani.

“Kok kuburan di Masjid Pak Haji, nggak bener itu !”
“Wah you ini mau sholat apa nggak ! You khan bisa sholat karena orang yg dimakamkan disini !”.

Tanpa banyak bantah saya ikuti ajakannya sholat diluar (halaman) Masjid (karena larut, pintu masuk sudah ditutup). Saya sholat tepat disamping pintu makam Rasululloh, sedang H Tabrani sholat 5 meter didepan saya.

Tiba-tiba, baru saja saya takbiratul ihrom, pintu disamping saya berdebum. Sayup-sayup berdebum. Seperti suara orang kerja. Tapi lebih mirip suara orang marah-marah membanting meja atau kursi.

Tiba-tiba perasaan takut saya datang.
Akhirnya saya batalkan sholat saya, pindah menjauhi makam Rasululloh. Makam orang yg saya pikir pembuat Al-Qur’an. Dan saya mulai dihantui pemikiran tersebut. Sholat saya sudah nggak bisa khusuk lagi.

“Andry…kamu kenapa pindah sholatnya ?”, tanya H Tabrani.
“Nggak tahu tuh Pak, ada suara berisik dipintu, sepertinya pintu itu mau dibuka orang “, jawab saya.

“Suara berisik apa “.
“Loh Pak Haji nggak denger barusan ”

“Enggak ah…, Iqbal…kamu dengar suara ?”
“Enggak Pak…”

Perasaan saya mulai nggak karuan. Rasa takut dicampur rasa bersalah.

Saya coba analisa pakai belahan kiri, bahwa mungkin posisi saya yg tegak lurus dengan pintu menyebabkan saya bisa dengar, namun mereka karena tidak tegak lurus, mereka tak bisa mendengar. Tapi harusnya juga dengar. Mustahil tidak, karena suara itu keras koq.

Akhirnya saya ceritakan ke H Tabrani tentang perasaan kacau saya. Saya ceritakan bahwa saya pernah menulis e-mail yg berpendapat apakah semua ini bisa-bisa nya Muhammad. Kala itu saya tetap menyangsikan kronologi turunnya wahyu. Hingga saya mensejajarkan posisi Muhammad dengan Napoleon, Karl Marx, Einstein, Aristoteles, Plato, dan pemikir besar dunia lainnya.

“Wah…kalau you udah sadar itu salah, you mesti minta maaf besok didalam Masjid, tepat disamping makamnya kalau bisa “, kilah H Tabrani.

Esok hari, pagi-pagi sekali kami bangun, berangkat menuju Masjid Nabawi. Masjid besar dengan halaman yang juga besar. Dengan terhuyung sambil ngantuk (karena nggak biasa bangun dan sholat shubuh) saya berjalan menyusuri halaman Masjid seperti menyusuri 2 kali panjang lapangan bola. Seluruh lantainya ditutupi Pualam putih.

Setelah melewati pintu utama, saya berjalan memasuki ruang dalam Masjid area perluasan King Fadh. Saking besarnya, pandangan lepas kita tak dapat melihat ujung Masjid lainnya. Lantai, dinding dan Tiang ditutupi marmer yg dipolish licin. Setiap tiang terdapat lubang AC yg dapat mengatur suhu ruangan otomatis.

Kami terus berjalan menuju Raudah (batas bangunan asli Masjid yg dibangun Muhammad) melewati area perluasan King Azis. Antara perluasan King Fadh dan King Azis terdapat Kubah yg dapat terbuka dan tertutup otomatis. Sempat terfikir oleh saya, betapa besar biaya yg diperlukan untuk ini semua. Namun saya coba tahan pemikiran negatif itu dan menggantikannya dengan fikiran betapa besar pengaruh Muhammad sampai sekarang hingga dapat terwujud Masjid sebesar dan seagung ini.

Kamipun hampir mencapai Raudhah, namun tak bisa masuk karena penuhnya. Setelah sholat Shubuh, saya dianjurkan H Tabrani untuk berdo’a di area Rhaudah.

“Kenapa …?”, tanya saya.
“Berdoa disana Insya Allah lebih amat makbul (dijawab oleh Allah terhadap permintaan doa kita).”

Sempat terbesit pertanyaan saya, apakah doa orang yg berdoa di Masjid Dago Atas tidak makbul ? Namun saya mulai menahan diri terhadap pemikiran dan pertanyaan model itu.

Setelah berdoa, kamipun berdesakan keluar melalui Pintu Jibril, pintu yg melewati tepat muka makam Rasululloh. Saya ambil barisan paling kiri, barisan yg paling dekat dengan sisi makam. Kami berjalan berdesakan, perlahan, penuh sesak namun sangat tertib. Dari kejauhan saya melihat pagar makam yg didalamnya gelap tak ada cahaya. Dalam antrian perlahan saya mendekati makam. Didalam pagar terlihat tiga makam yg ditutupi kain. Saya tak tahu yg mana Makam Rasululloh, yg mana makam Abu Bakar, dan yg mana makam Khadijah, isteri Nabi.

(bersambung ke seri ketiga…kejadian 5)

Iklan

2 Komentar »

  1. lanjutannya..?!?

    Komentar oleh mBu — Januari 5, 2007 @ 4:25 pm | Balas

  2. nama saya kok disebut kang pahmi (* mode ge-er on*)

    bagooos..lanjutannya ditunggu mas pahmi…:-D

    Komentar oleh cahyo — Januari 6, 2007 @ 9:03 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: