Blog Tausiyah275

Januari 13, 2007

Bacaan di Akhir Pekan – Maaf dan Terima Kasih

Filed under: Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 12:11 pm

Jika kita perhatikan, 2 istilah di atas merupakan hal yg jarang diucapkan pada orang lain jika kita mendapat bantuan dan/atau melakukan kesalahan dari/pada orang lain. Istilah ini lebih jarang lagi kita dengar di ibukota, karena sifat masyarakatnya yg sudah cenderung egois dan individualistis.

Sebagai contoh, kita menyenggol atau menginjak kaki orang. Jarang sekali kita minta maaf, apalagi jika proses penyenggolan dan penginjakan hanya berlangsung sekilas. Namun, kita bisa lihat dan baca di koran, beberapa peristiwa kriminal, seperti pengeroyokan dan penusukan, dilatar belakangi kasus seperti ini. Dikarenakan si penginjak tidak minta maaf, akibatnya si korban tersinggung dan akhirnya mengeroyok si penginjak. Ujung2nya ada yg tewas karena hal sepele, TIDAK MINTA MAAF.

Kasus lainnya, yg mungkin lebih parah, terjadi untuk kasus atasan-bawahan, serta militer-sipil. Jarang sekali ada boss yg mau minta maaf untuk kesalahan yg dia lakukan kepada stafnya. Bahkan seringkali kita lihat, malah si stafnya yg minta maaf untuk kesalahan yg diperbuat bossnya. Hal yg aneh…untuk apa kita minta maaf untuk perbuatan yg tidak kita lakukan?

Lebih aneh lagi jika kita lihat kasus militer-sipil. Meski yg melakukannya oknum militer, namun kadangkala tindakan yg dilakukan juga (lebih) tidak masuk akal. Sebagai contoh, ada kasus seorang militer berpangkat kapten menembak sopir yg mendahului mobilnya di jalan raya. Padahal, yg salah adalah si kapten, karena dia tidak memberi jalan kepada sopir yg sudah minta jalan (baik mengklakson atau menyalakan lampu dim), tapi alih2 minta maaf, dia malah menembak si sopir. Di lain waktu, aku juga pernah melihat seorang militer (AU) menempeleng seorang sopir karena si sopir tidak segera maju saat lampu lalu lintas berubah warna.

Hal ini jelas ‘bertentangan’ sekali dg contoh yg diberikan Rasululloh SAW. Dalam satu cerita yg mungkin sering kita dengar, Rasululloh SAW bahkan bersedia dipukul sahabatnya karena beliau PERNAH TIDAK SENGAJA MEMECUT sahabatnya ketika berperang.

Ini artinya, JIKA BERBUAT SALAH MAKA SUDAH SELAYAKNYA KITA MINTA MAAF KEPADA KORBAN.

Cerita lainnya, Rasululloh SAW membuat istrinya, Aisyah, tertidur karena beliau mesti diskusi agama yg cukup lama dengan sahabat2nya. Akibatnya, saat Rasululloh SAW mengetuk pintu berkali-kali, Aisyah tidak membuka pintunya. Kemudian Rasululloh SAW tidur di depan pintu rumahnya. Saat Aisyah tahu bahwa tidurnya telah membuat Rasululloh SAW tidur di depan pintu, alih2 Aisyah minta maaf karena tidak mendengar ketukan beliau, malah Rasululloh SAW yg minta maaf karena beliau menganggap kesalahan ada pada beliau.

Untuk cerita terakhir ini, mungkin bisa dijadikan cermin bagi para suami (yg hendak mengikuti sunnah Nabi) agar mau minta maaf jika memang berbuat salah kepada istrinya.

Ok….kita beralih ke terima kasih…

Istilah ini juga jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, meski terang2an kita baru ditolong orang, tak jarang kita langsung ‘ngeloyor’ begitu saja. Pertolongan yg aku maksud di sini, bersifat umum.

Coba kita perhatikan, pertolongan yg telah kita terima sehari-hari:
– Mengisi bensin
– Membeli koran
– Dibuatkan minuman (oleh office boy)
– Sepatu/tas kita dijaga oleh petugas penitipan
– Diantar oleh sopir/kernet angkutan umum
– Menabung
– dan masih banyak lagi (silakan anda tulis sendiri daftar pertolongan yg telah anda terima sehari-hari)

Dari sekian banyak daftar pertolongan yg telah anda terima, sekarang anda cek lagi, berapa kali dan kepada siapa saja kita sudah mengucapkan terima kasih. Atau bahkan, selama ini kita ngeloyor begitu saja??

Padahal, salah satu tanda bersyukur atas nikmat (pertolongan) adalah berterima kasih kepada pemberi nikmat (penolong). ALLOH SWT berfirman di Ibrahim(14):7,”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” Jika menggunakan ‘pikiran sempit’, dengan demikian sudah ‘sewajarnya’ jika kita berterima kasih kepada para penolong kita.

Bahkan, semestinya kita berterima kasih kepada para pengemis…karena:
1. Dengan adanya pengemis, berarti kita lebih beruntung mendapatkan harta dibanding mereka.
2. Dengan adanya pengemis, berarti kita berkesempatan untuk meningkatkan amalan kita.

moral story: mari kita galakkan dan budayakan mengucapkan maaf dan terima kasih…terlebih kita sudah memasuki tahun 2007, hendaknya kita mulai hari ini membudayakan hal ini…

Iklan

1 Komentar »

  1. Maaf koh, mo numpang komen..
    Terima kasih diperbolehkan numpang komen..

    Iya, ternyata lebih lega pake maaf dan terima kasih..

    Komentar oleh mBu — Januari 16, 2007 @ 3:23 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: