Blog Tausiyah275

Januari 14, 2007

Kisah Berhaji (05)

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 2:14 pm

*artikel keempat*

3.1 Kejadian 6

Setelah sholat Ashar, akhirnya kamipun bersiap-siap untuk ber-umroh. Pak H Tabrani mengajarkan saya untuk memakai pakaian Ihrom. Ia menjelaskan untuk memakai pakaian Ihrom, 2 lembar kain yg dililit dipinggang, satunya lagi di bahu.

“Latihan pakai kain kafan “, demikian penjelasannya.
Meskipun ia bukan Tourist Guide, namun ia begitu telaten mengajarkannya pada saya. Meskipun kadang-kadang menghardik saya, seperti waktu saya tanya kenapa koq nggak boleh pakai celana dalam. Ia hanya menjawab “Jangan didebat !!! ini daerah otak kanan ! “. Untung saya sudah rada kalem sekarang karena beberapa kali mengalami peristiwa2 yg lalu, kalau tidak, mungkin sewotnya H Tabrani berkelanjutan.

Setelah mengambil niat di Miqod, diperjalanan kami mulai membaca Talbiah :

Labbaik Allohumma labbaik
Labbaik Lasyarika laka labbaik
Innal hamda, Wal nikmata, Laka wal mulk
La syarikalak

Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu
Tiada syarikat bagimu
Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kuasa Hanyalah dari engkau. Tiada syarikat bagimu.

Pembacaan Talbiah baik di pesawat maupun diperjalanan/bus, sangat diliputi rasa haru yg luar biasa.

Kamipun tiba di Mekkah, kota Haram. Hotel kami cukup dekat dengan Masjidil Haram. Sementara barang-barang diurus oleh petugas travel, kami berwudhu di Hotel, kami langsung memasuki Masjidil Haram, sebuah Masjid yg paling terkenal yg mungkin paling tua didunia. Saat itu saya belum merasakan pesonanya.

Namun setelah melepas sandal dan memasuki Masjid, saya terdiam melihat benda hitam pekat persegi empat yg berada ditengah-tengah Masjid. Ka’bah ternyata berukuran lebih besar dari perkiraan saya. Saya menahan tangis didepan rombongan tapi tak kuasa. Dengkul saya lemas luar biasa. Sulit sekali menggambarkan pesonanya. Saya kurang tahu persis pada saat itu tapi saya percaya Iqbal, anak Pak H Tabrani yg pertama kali Umroh juga terdiam tak bersuara tak bergerak. Ia juga mengalami hal yg sama.

Saya lemas dan duduk. Saya berusaha perlahan-lahan bergerak mendekat, namun semakin dekat, semakin tak kuasa menahan tangis. Akhirnya saya mulai meraung seperti anak kecil. Saya menangis sambil duduk tidak mengerti kenapa. Dan saya tahu persis saat itu saya tidak sedih.

Benda itu berada ditengah-tengah Masjid, besar, besar sekali. Hitam pekat sekali. Benar-benar saya tak mengira bahwa Ka’bah berukuran sebesar itu.

Saya tidak pernah berfikiran bahwa di dalamnya ada Allah sedang bersemayam. Sepintas hanya sebuah batu yg disusun dan dilapis kain hitam. Namun saya melihat sedemikian banyaknya manusia mengitarinya melakukan yg disebut tawaf. Bukankah ini bukti dari hasil kerja Muhammad.

Analisa saya bermain, apakah sekian banyaknya manusia datang kesini hanya ditipu satu orang yg bernama Muhammad. Namun intuisi saya juga bermain, bahwa kegiatan ini pasti bukan baru dimulai kemarin. Kegiatan ini dilakukan pasti sejak ajaran Muhammad. Pendapat ini adalah pendapat awal saya yg kemudian di konfirmasikan beberapa hari kemudian oleh H Tabrani bahwa kegiatan ini sudah ada bahkan sejak milata Ibrahim, bapak besar berbagai bangsa yg melahirkan agama Yahudi, Nasrani (bukan Kristen) , yg kemudian juga Islam.

Saya mulai tawaf putaran pertama. Sambil air mata bercucuran (tanpa malu-malu lagi sebab kanan kiri sayapun demikian) saya dibimbing H Tabrani membaca do’a-do’a putaran pertama. Posisi kami sangat dekat dengan Ka’bah dan senantiasa saya semakin merapat kedalam. Kami merasa seperti memasuki sebuah gravitasi luar biasa yg menarik ketengah. Seolah kami bergerak perlahan bersama tanpa menginjak bumi (seperti melayang), semakin rapat dan semakin pekat ketengah. Kita tak kuasa menentukan arah (kecuali sedikit), kita hanya dapat berserah diri mengikuti arus putaran itu. Sambil memegang buku do’a kecil, saya coba baca juga artinya.

Disitu terdapat do’a permintaan umur panjang dan keturunan yg banyak serta soleh.

Saya tanya ke H Tabrani, ” Loh Pak…kok ada permintaan seperti ini ya…?”
H Tabrani menjawab, “Ya memang ada, khan saya sudah katakan boleh minta apa saja”.

Pada tawaf putaran kedua, saya kembali membaca do’a khusus untuk putaran kedua – sambil juga melihat artinya. Agak sulit memang karena banyak jama’ah Iran berbadan besar berdo’a lantang sekali. Kadang saya tak mendengar suara H Tabrani sehingga sulit mengikuti apa yg didiktenya.

Kembali saya lihat artinya, ” Loh…Pak, koq disini ada permintaan terhadap rezeki yg banyak”.
H Tabrani pun kembali menjawab, ” Ya memang boleh. Anda saja yg cuma minta petunjuk dan nggak mau minta yg lain. Minta harta boleh…habis -kalau tidak – anda mau minta ke siapa lagi kalau bukan sama Dia “.

Pada tawaf putaran ketiga, saya kembali membaca do’a sambil membaca artinya. Terdapat dengan jelas disitu “Tijarotan Lantabur ” yg artinya “perdagangan yg jauh dari rugi”. Saya kembali bertanya dengan lebih antusias karena masalahnya erat dengan kehidupan saya yg memang bergerak di bidang ini.

“Loh-loh…ini lebih aneh lagi Pak…kok boleh minta dagang agar jauh dari rugi, ini khan urusan dunia. Bagaimana kita bisa rugi – ya karena manajemen yg buruk, sedangkan bagaimana kita bisa untung ? ya dengan manajemen yg baik ? “.
Akhirnya H Tabrani mulai sewot lagi, ” You khan bilang waktu dipesawat, bahwa you hanya minta petunjuk, betul ndak…?”

“Betul Pak “, jawab saya.
“OK kalau begitu nggak usah do’a saja …” , tegas H Tabrani.

Analisa dan intuisi saya jalan lagi, dan tiba-tiba saya teringat surat Al-Fatihah, ayat 4, “Iyya ka na’ budu wa iyya ka’ nastaiyn”. Kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami minta pertolongan. Saya fikir ini harus berlaku pada semua hal – segala hal – segala sesuatu – termasuk hal-hal duniawi seperti bisnis. Sehingga musyrik hukumnya jika kita meminta pertolongan dalam bidang bisnis kepada Kadin, Pemda, Katabelece Pejabat untuk menggoalkan proyek kita. Haram hukumnya meminta pertolongan kepada Bagian Purchasing untuk melakukan bisnis dengan kita.

Permintaan tolong hanyalah kepada Allah semata. Adapun, Kadin, Pemda,
Pejabat, dan bag Purchasing, hanyalah perantara.

Hal ini jangan dianggap sepele, karena ini yg akan menentukan strategi
manajemen perusahaan kita, apakah kita akan melakukan KKN atau
melakukannya dengan pendekatan lain.

Akhirnya dengan pemahaman yg seperti ini, saya kembali berdo’a dengan segala kerendahan hati. Meminta kepada yg mempunyai, memohon kepada pemilik yg sesungguhnya, meminta kepada Penguasa yg sesungguhnya, penguasa segala sesuatu, penguasa absolut. Statemen awal saya dipesawat, sekarang terbantai semua. Saya ternyata tak hanya meminta pertunjuk,tetapi saya – dengan kesadaran baru ini – juga meminta duniawi.

Demikian saya melihat Rahman rohim Allah. Jika kita meminta dunia saja, Allah mungkin saja berikan, dan mungkin juga tidak. Namun jika kita meminta keridhoan akhirat – insya Allah kita juga akan mendapat dunia. Persis lagu Bimbo yg dinyanyikan Sam. Persis juga sama dengan do’a – do’a di akhir tawaf yakni fiddunia hasanah – wa fil akhiroti khasanah. Saya pun kembali berdo’a dengan lebih khusuk, dengan kesadaran baru – tanpa banyak pertanyaan lagi.

(bersambung ke seri keenam…kejadian 7)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: