Blog Tausiyah275

Januari 20, 2007

Bacaan di Akhir Pekan – Mencari Nafkah Menebus Dosa

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 10:10 am

*renungan bagi kita..terutama pria (suami) untuk tidak malas bekerja*

Pada hari itu di awal Agustus tahun 2002 di perapatan Otista Jakarta, seorang petugas lalu lintas dari dinas kepolisian malas bangkit dari pembaringan. Badannya terasa amat pegal, letih dan lelah. Hari itu ia merasa malas. Malas untuk bangun di pagi buta seperti rutinitasnya di setiap hari.

Hampir setiap pagi ia harus bangun, mandi dan mengenakan seragam berpakaian cokelat itu. Kemudian dengan sepeda motor dinas, ia pergi ke pos penjagaan yang telah enam bulan ia rasakan. Setelah laporan kepada komandan dan mengisi absen, ia pun harus mengatur lalu-lintas dekat ‘lampu merah’ yang telah selama itu pula telah menjadi pos pelayanannya.

Hari itu sang petugas merasa lemas. Ia malas untuk bangkit lalu bangun demi melakukan rutinitasnya mengatur lalu-lintas pagi yang biasanya semrawut. Dan, hari itu pun sang petugas lalai untuk tidak hadir ke tempat tugasnya demi menebus dosa.

Menebus dosa? Apa gerangan. Mengapa hal sedemikian dikaitkan dengan penebusan dosa. Ya! Karena ia malas bangkit & bangun dari peraduannya untuk mencari nafkah dan menjalankan tugasnya, karenanya ia dirundung sesal dan rasa berdosa yang luar biasa tak berkesudahan.

Pagi itu, sebab sang petugas tidak hadir di lampu merah tempat ia berjaga. Beberapa pengendara yang dikejar waktu, mencoba untuk tidak taat kepada aturan lampu lalu-lintas. Sebuah angkot mencoba menerobos lampu yang jelas berwarna merah, diikuti dengan klakson dari beberapa kendaraan yang berjalan dari arus berseberangan maka membuat kendaraan-kendaraan tersebut tersendat sesaat.

Begitu lampu dari arah asal angkot tersebut berubah ‘hijau’, maka kendaraan dari arus ini pun mulai bergerak. Arus yang cukup panjang, tak ubahnya seekor naga besar yang tak berujung. Saat lampu kembali berubah menjadi ‘merah’, giliran kendaraan dari arus lain yang mendapat kesempatan mulai bergerak. Namun siapa sangka, saat beberapa kendaraan tersebut mulai bergerak.. Memasukkan gigi satu. dua.. dan kecepatan mulai dinaikkan, maka sekonyong-konyong ada sebuah motor yang dikendarai seorang pelajar mencoba menerobos.

Seolah berpacu dengan lampu yang kini berubah menjadi ‘merah’, maka sepeda motor itu berlari bagai tak menapak bumi. Namun nahas, dari arah lain tengah meluncur beberapa kendaraan yang sedang adu balap untuk meraih ‘barisan terdepan’ setelah lampu merah itu berubah. Sebuah motor mencoba mengelak saat berpapasan dengan motor nekat tadi.

Mobil Peugeot warna biru tua pun mengeluarkan suara klakson panjang menunjukkan kekesalan pengemudinya. Tiba giliran sebuah truk tiga perempat berwarna kuning yang tidak sempat mengira akan datangnya motor sial tadi. Sopir truk mencoba untuk banting stir, namun jarak yang hanya beberapa meter tersebut hanya mampu membuat sopir hanya menandukkan ujung bumper saja pada sisi belakang motor.

Motor itu limbung, bergoyang dan kemudi pun tidak mampu lagi dikuasai. Setelah oleng beberapa jarak, motor itu pun jatuh terjerembab menimpa sebuah gerobak es dawet ayu yang saat itu melayani seorang bocah SD yang terkena nahas.

Sebuah kecerobohan yang dilakukan pengemudi motor. Kejadian yang tidak bisa dihindarkan oleh sopir truk, serta musibah nahas bagi pedagang es dawet ayu dan pembelinya seorang bocah SD. Pengemudi sepeda motor tersebut meninggal dunia sebab patah tulang belakang, kaki dan iga. Juga bocah SD bernasib sama, tewas setelah kepalanya terbentur dengan keras ke tanah yang mengakibatkan ia menderita gegar otak. Sementara itu, sopir truk harus berurusan dengan kepolisian dan pedagang es harus kehilangan dagangan dan gerobaknya.

Kejadian ini berbuntut pada kegusaran komandan polisi. Saat ia mendapati bahwa hal ini terjadi disebabkan hanya karena ketidak hadiran anggotanya yang semestinya pada saat itu bertugas pada lokasi kejadian perkara. Maka dipanggillah sang anggota, dan ia dinyatakan keluar dari korps kepolisian disebabkan kelalaian yang ia perbuat dengan sengaja. Maka sang anggota polisi tersebut menyesali seumur hidup akibat kemalasannya. Kemalasan yang berbuntut rasa penuh dosa yang telah mengakibatkan melayangnya dua jiwa. Itu semua karena ia merasa malas untuk bangkit dan mencari nafkah pada hari itu.

Demikianlah, rasa berdosa akibat kelalaian dalam mencari nafkah! Dan itu sering terjadi pada kehidupan keseharian kita dimana kita malas untuk bangkit dan pergi ke luar rumah demi mencari nafkah halal.

Selain anggota polisi di atas, masih sering kita dapati adegan dan episode kehidupan yang mengajarkan kepada manusia bahwa bila ia malas dalam mencari nafkah dan menjalani tugasnya, maka akan berakibat fatal bagi dirinya dan orang lain.

Betapa banyak perawat di beberapa rumah sakit yang seharusnya menangani pasien gawat darurat akibat kecelakaan, penyakit akut atau lain sebagainya, hanya karena tidak ada uang jaminan atau keluarga yang bertanggung jawab, ia lalai menjalankan profesi kemanusiaan yang diembannya. Ia tega, membiarkan pasien tergeletak meregang nyawa sementara ia sibuk berbicara atau mengerjakan hal lain yang tidak berkenaan dengan nasib sang pasien yang amat membutuhkan pertolongan. *cerita yg serupa dengan paragraf ini, bisa dilihat di sini…*

Begitu juga tidak sedikit pimpinan negara di dunia ini, yang tidak mau mengeluarkan kebijakan strategis bagi negaranya seputar ekonomi, politik, social, yang mengakibatkan rakyat sengsara & mati kelaparan. Para pemimpin tersebut, berdalih bahwa mereka masih memperhitungkan kepentingan negara. Namun, peran yang tidak mereka ambil… kebijakan yang tidak mereka buat akan menjadikan masyarakat menjadi kesal dan tidak lagi mencintai para pemimpinnya.

Begitulah, saat manusia tidak menjalankan peran yang diemban. Tidak melaksanakan tugas dengan baik. Malas untuk bangkit dan mencari nafkah, maka ia akan dianggap berdosa di sisi Allah.

Cukuplah dosa pertama yang akan ditanya pada suami penganggur di akhirat nanti adalah dosa tidak memberi nafkah pada keluarganya. Saat sang suami malas bekerja, tidak bangkit untuk menghidupi anak dan istrinya. Lebih memilih menganggur dan mendengkur tidur di siang hari, maka ia akan dicap berdosa oleh Allah sebab ia malas untuk mencari nafkah. Meskipun sang suami yang menganggur tadi adalah hamba Allah Swt yang taat dan rajin ibadah kepada-Nya.

Menurut Rasulullah, orang yang payah mencari nafkah, bekerja keras dan kurang tidur demi mencari nafkah yang halal, beroleh pahala yang bisa menghapus dosa-dosanya. Rasulullah juga mengatakan bahwa ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus dengan apapun, kecuali dengan kesusahan dan kepayahan mencari nafkah.

Dari Abu Nuaim, Beliau Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya ada sebagian dosa yang tidak terhapus oleh shaum atau shalat, Ditanya kepada beliau, “Apa yang menghapusnya, ya Rasulullah?” Jawab Rasul “Bekerja mencari nafkah penghidupan.”

Seiring dengan sabda Rasul, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat At Taghabun:9 “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh (bekerja dengan giat) niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” Dalam kesempatan lain, Allah Swt berfirman hal serupa: “Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal saleh (bekerja dengan sungguh-sungguh), (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. 5:9)

Demikianlah. Allah Swt telah menyampaikan janjinya bahwa mereka yang beriman dan bekerja sungguh-sungguh akan mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang pernah dibuat oleh diri kita semua. Semoga Allah Swt berkenan menghapus dosa serta kesalahan kita bersama dengan berbagai jalan yang salah satunya adalah dengan mencari nafkah! (Bobby Herwibowo)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: