Blog Tausiyah275

Februari 13, 2007

Valentine, Hal (Paling) Ga Penting!!!

Filed under: Aqidah,HOT NEWS,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 8:23 pm

Menjelang tanggal 14 Februari, aku paling bosan dengan hal2 yg berkaitan dengan hari Valentine…karena banyak dari saudara2 kita, sesama muslim, ikut merayakan hari Valentine.

Padahal, jelas2 hari Valentine itu TIDAK ADA MANFAATNYA BAGI KAUM MUSLIM, karena:
1. Pemborosan.
Orang2 beramai-ramai belanja untuk keperluan yg TIDAK ADA MANFAATNYA (mubazir)

2. Ajang zina.
Banyak pasangan tidak resmi (belum menjadi suami istri) melakukan hubungan sex, dengan dalih kasih sayang.

3. TIDAK ADA CONTOH DARI RASULULLOH.
Jelas lah ini tidak ada contoh dari Rasululloh SAW.

“Lho, berarti Islam tidak mengajarkan kasih sayang?”
Ah…benar2 pertanyaan jebakan…dan berusaha membenarkan perbuatan sia2… 😦

Insya ALLOH kali lain aku akan sempatkan untuk menulis mengenai hal ini…berikut ini, cukup ‘nikmati’ beberapa artikel yg pernah aku muat dan aku dapatkan dari internet….

Apa Sesungguhnya Valentine’s Day?
Haruskah Kita Merayakan Valentine???

==berikut beberapa artikel hasil copy-paste==
Kampanye Mengganti Valentine Day dengan Muhammad Day
Selasa, 14 Peb 06 09:10 WIB

Sejumlah pemuda Mesir menyerukan kaum Muslimin untuk merubah perayaan Valentine’s Day yang bertepatan dengan 14 Februari dengan Muhammad Day. Seruan ini disampaikan di sejumlah situs internet Islam untuk memberi alternatif yang sangat positif, di samping menampilkan kecintaan dan dukungan Muslim kepada Rasulullah saw. Terlebih, baru saja kaum Muslimin dunia diguncangkan oleh kartun yang melecehkan Rasulullah saw.

“Berdasarkan bahwa cinta adalah nilai prinsip dalam Islam, maka kami menyerukan kampanye “Yelaa Noheb bi jidd” (Mari Benar-benar Mencintai) dengan meluruskan pemikiran tentang makna cinta yang sesungguhnya. Mereka menyodorkan pemikiran baru tentang cinta di simbol “Yela Noheb Zey Nabiyena” (Mari mencintai pakaian Nabi kita). Seruan ini bukan merupakan pengakuan kecintaan sakral sebagaimana sikap yang ditampilkan oleh para pendukung Valentine. Tapi kecintaan yang disalurkan dalam koridor Islam yang lebih utama.

Selain itu mereka juga menyebutkan bahwa ide ini disampaikan berdasarkan pemikiran bahwa tidak ada yang lebih berhak menampilkan cinta melebihi cinta Rasulullah saw. “Rasulullah saw tidak pernah melampiaskan cinta keluar dari ikatan pernikahan. Dan karenanya pelajaran romantis harus diambil dari hubungan suami istri. Berbeda dengan percintaan suci para pendukung valentine yang lebih banyak diarahkan pada hubungan lain jenis yang tidak diikat dengan tali pernikahan.”

Karena itulah, menurut mereka, cinta dalam Islam lebih utuh dan lebih mulia dalam seluruh aspeknya. Mereka menyerukan para pemuda dan pemudi Islam tidak terlibat dalam acara percintaan ala valentine’s day. Tapi dirubah dengan memperingati hari Muhammad Day, dengan membenahi pemahaman cinta dengan pemahaman yang benar sesuai pengajaran yang didapat dari Rasulullah saw. Seruan ‘Muhammad Day’ juga dilakukan melalui sms ke berbagai nomor hand phone di kalangan muda mudi Mesir.

Para pemuda Islam yang menyerukan Muhammad Day menyatakan bahwa ide mereka ini bukanlah bid’ah ditinjau dari sisi syariat. Karena apa yang dilakukan adalah untuk memanfaatkan event tertentu terutama kasus penghinaan atas Rasulullah saw melalui kartun oleh sejumlah media Barat. “Ide peringatan hari Muhammad Day adalah dengan tujuan menyampaikan pesan, bukan ditetapkan sebagai kesempatan yang harus dilakukan setiap tahun,” ujar mereka. (na-str/iol)

ooOOoo

Merayakan Valentine Day, Berarti Ikut Menuhankan Yesus
Kamis, 1 Peb 07 14:11 WIB

Di hari-hari ini, sesekali pergilah ke mall atau supermarket besar yang ada di kota Anda. Lihatlah interior mall atau supermarket tersebut. Anda pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik—apakah itu berbentuk pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga—yang didominasi dua warna: pink dan biru muda.

Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan Valentine Day.

Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja perkotaan. Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam besar seperti Indonesia.

Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda.

Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan semacamnya sedikit pun tidak mengandung muatan religius. Sedangkan Valentine Day sarat dengan muatan religius, bahkan bagi orang Islam yang ikut-ikutan merayakannya, hukumnya bisa musyrik, karena merayakan Valentine Day tidak bisa tidak berarti juga ikut mengakui Yesus sebagai Tuhan. Naudzubilahi min Dzalik. Mengapa demikian?

SEJARAH VALENTINE DAY

Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:

Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.
Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.

TRADISI KIRIM KARTU

Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.

Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya.

Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!

Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.

Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.

Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

KEPENTINGAN BISNIS

Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.

Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

PESTA KEMAKSIATAN

Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.

Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.

Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary” kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.

Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.

Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.

IKUT MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN

Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?

Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya.

Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Wallahu’alam bishawab.(Rz)

Iklan

16 Komentar »

  1. Tapi apa salahnya, membeli satu kotak cokelat (yang memang merupakan salah satu makanan kesukaannya) dan kartu ucapan di tanggal 14 Februari? Buatku, hari itu memang nggak penting, aku nggak minta apa pun. Tapi aku ingin memberi orang yang kucinta sesuatu, dan aku ingin memberitahukannya tentang cintaku, yang nggak kuungkapkan setiap hari lewat kata-kata.

    Komentar oleh Joan — Februari 13, 2007 @ 10:23 pm | Balas

  2. Kalo menurut saya valentine days ya kita sikapi bijaksana saja, walaupun sebenarnya bukan dari budaya kita, tapi kalau ada saudara2 muslim kita yang melaksanakan ya yang sederhana saya, sekedar coklat sebatang atau buah apel diikat pita, boleh lah…gak terlalu boros saya rasa…anggap saja symbol kasih sayang kepada orang yang bersangkutan, valentine days dijadikan sarana moment saja…T A P I…!!! kalau merayakannya dibarengi dengan pesta berlebihan sampai keurusan zina…..hmmm…dengan dalih apapun is…NO WAY !!!
    Salam

    Komentar oleh herman — Februari 14, 2007 @ 8:35 am | Balas

  3. Kalau memang kita cinta kepada saudara – saudara kita yang muslim, lebih baik pada hari valintine kita memberikan sesuatu kepada saudara – saudara yang sedang tertimpa musibah, agar beban yang mereka derita sedikit hilang

    Komentar oleh Jun — Februari 14, 2007 @ 10:02 am | Balas

  4. Setau aku sih, dr yang aku baca.. Valentine’s Day itu ada muatan ‘agama’nya, walopun skrg kesannya seperti budaya aja..Lagian, kalo mo ngunkapin or nunjukin kasih sayang ga perlu nunggu tgl 14 Februari khan ? Bkn masalah boros atau ngga-nya, bkn juga nilai kado-nya yg diliat.. Rasulullah saja tidak menganjurkan utk berpesta atau merayakan hari-hari besar Islam spt Isra Mi’raj,etc.. apalagi Valentine’s Day yang jelas-jelas di ajaran kita tuh ga ada.. Dan kynya emang lebih banyak mudharat-nya deh.. Sorry,klo krg berkenan.. Peace..

    Komentar oleh Nilam — Februari 14, 2007 @ 11:17 am | Balas

  5. Mohon Komentar..

    Sebagai Pembanding = Mudik Lebaran (BUKAN “IDUL FITRI”-nya)

    1. Pemborosan.
    Orang2 beramai-ramai belanja untuk keperluan yg TIDAK ADA MANFAATNYA (mubazir)

    2. Ajang riya.
    Banyak keluarga pulang ke kampung memamerkan kekayaan/kesuksesan/”kekotaan”-nya
    (walau sering dengan ngutang, yang akhirnya juga dilego kembali ke toko emasnya atau disite perusahaan leasing) dengan dalih “Membanggakan” Keluarga.

    3. TIDAK ADA CONTOH DARI RASULULLOH !!!!!!!!!!!
    !!!!!!!
    !!!!!!!
    !!!!!!!

    “Lho, berarti tidak boleh pulang kampung?”
    “kan Ingin bebagi dengan sesama…..”
    Ah…benar2 pertanyaan jebakan…dan berusaha membenarkan perbuatan sia2…
    Jawabnya: “kan setiap libur / ada waktu juga bisa pulang” tidak perlu menunggu lebaran saat harga2 barang dan tiket naik gila2-an..
    Mohon Maaf Lahir Batin?
    Kan ada inovasi produk canggih bernama Kartu Ucapan,
    kalau mau ngomong langsung, ada Handphone yang tarif lokal sama dengan interlokal!! (nggak iklan ini..)

    Jadi.. Hilangkan budaya mudik juga?
    Kan itu budaya JAWA, bukan Islam..
    Kalau boleh dibilang penduduk luar pulau PADA AWALNYA kan nggak mudik..

    Harap Sabar dan Senyum sebelum memberi Komentar 🙂
    terima kasih,

    .yog..

    Komentar oleh yogi — Februari 16, 2007 @ 12:49 am | Balas

  6. Menurut saya,
    Jangan salahkan zinah melainkan dari lemahnya iman.
    Jangan salahkan riya melainkan dari kurangnya pemahaman.
    Pemborosan adalah kita yang buat.
    Gengsi adalah kita yang tahan.

    saya setuju pendapat banyak pihak yang menyatakan para penjual memanfaatkan momentum dan mengubahnya menjadi “hype” (berlebihan) seperti yang terjadi pada hari vaentine, dan terutama pada saat natal..
    Namun begitu juga saat 1 Januari dan Lebaran, dimana akhiiiiiirnya ada yang bernyanyi:
    “Baju baru Alhamdulilah, tuk dipakai di hari raya,
    nggak punya pun nggak apa apaa..”
    ..
    Ingatkah kita pada keadaan sebelum slogan ini berkibar?
    ..
    .
    Sebaiknya, kita berlatih dari dalam diri, pada hal2 yang prinsip seperti iman dan pengendalian diri disertai skala prioritas..
    Dengan demikian, meskipun kita sesekali berpesta (pora) namun manfaat-lah yang didapat, bukan mudharat..

    .yog..

    Komentar oleh yogi — Februari 16, 2007 @ 1:05 am | Balas

  7. PS: saya sebenarnya juga anti-valentine, coklat, bunga, kartu, dll.. Hell, inget2 tanggal2 peringatan aja nggak!
    (coba tanya cewe-ku, Haha..)

    termasuk hal2 bikin pusing yang tiap hari ditayangkan sinetron dengan maksud membujuk perempuan2 muda bahwa ada sesuatu yang dinamakan “Keagungan Cinta” ..
    (selain dari Allah)

    Melakukan semua demiiiiiii…. Halah..

    Nggak Pentiiiiiiiiing..
    suka ya suka, ndak usah aneh2..
    mikir aja mau kawin nggak nantinya, kapan, gimana caranya..

    (terutama saat masyarakat kita masih kesulitan membedakan “kenyataan” dan cerita roman..)

    tapi justru generasi sekarang lebih parah ya..
    zaman dulu ada Siti Nurbaya ya trus ndak semua anak mudanya mau dinikahi Datuk Maringgih..
    (atau bilang it’s okay / kereen nikah sama datuk2..)

    piye jal..

    .yog..

    Komentar oleh yogi — Februari 16, 2007 @ 1:18 am | Balas

  8. Menurut pendapatku ada benernya kata mas Yogi. Skarang yang penting adalah bagaimana cara kita menyikapi dan memaknai suatu momen yang sedang terjadi di sekeliling kita dengan cara yang bijaksana. Entah itu Idul Fitri, Tahun Baru, Valentine, Imlek or apa lah. Kalo kita menyikapinya dengan berlebihan pasti jadi mudharat juga.

    Yah setaun sekali mumpung lagi banyak yg jualan, beliin sepotong coklat atau setangkai bunga buat pacar/istri/suami/ortu ga ada salahnya juga kan? Hehehe. Balik lagi ke niatnya. Niat kita cuma berbagi kasih sayang. Bukan buat bermudharat, maksiat atau mengikuti tradisi ibadah agama lain. Mohon maaf jika pendapat saya keliru.

    Komentar oleh PG — Februari 16, 2007 @ 5:33 pm | Balas

  9. – komentar dihapus, terkait tidak beretika dalam diskusi –

    di sini bukan forum untuk menghina suatu ajaran agama!
    Nabi kami Muhammad SAW, membawa ajaran “untukku agamaku, untukmu agamamu…”, tolong anda belajar beretika dan menghargai orang lain, jika anda merasa ajaran agama yang anda anut itu baik,jangan tunjukkan kejelekan anda sendiri!!!

    admin tausyiah275

    Komentar oleh Valentino — Februari 27, 2007 @ 6:14 pm | Balas

  10. Walau memang sebaiknya dihindari… Segala berpulang pada niatnya.

    Tidak bijak mengecam orang lain tidak Islami, kafir, kufur nikmat, dan sebagainya. Berprasangka baik sajalah.

    Saya sendiri tidak merayakannya barang sedikitpun, tapi tidak mengecamnya secara berlebihan. Islam adalah agama yang toleran, seperti kata Rasulullah.

    Komentar oleh The Nightwatchman — Maret 1, 2007 @ 11:59 am | Balas

  11. waduh mz yogi keren…..

    bener toh…

    kita ga seharusnya bilang kya gto ma agama yang laen…

    kita kan pengen damai ma semua agama…

    hehehe

    Komentar oleh rahmand — Januari 11, 2008 @ 2:04 pm | Balas

  12. setahu saya, Valentine tak ada hubungan langsung dengan Yesus.

    hari2 yang berhubungan langsung dengan Yesus hanyalah Natal, Jum’at Agung, Paskah, dan hari Kenaikan Yesus Kristus. konten Kristen dalam hari Valentine hanyalah sebatas Kasih sayang yang menjadi dasar ajaran Kristen

    Santo Valentinus hanya diakui dalam ajaran Katolik, yaitu seperti yang disebutkan di atas menjadi Santo yang dirayakan kematiannya (pesta nama); tapi non-canon dalam ajaran Kristen Protestan. sekali lagi Kristen Protestan kebanyakan hanya mengambil konten kasih sayangnya, tanpa ada hubungan langsung

    di sini saya hanya mencoba memberi tambahan informasi, tanpa ada maksud apapun, jadi semua kembali pada Saudara-saudara Muslim

    Salam

    Komentar oleh reidge — Februari 15, 2008 @ 8:20 pm | Balas

  13. seanDai’a Qta nGerayain Valentine day buKan denGan niat bErbuat makSiat, namUn karenA keCintaan pAda oRangtua Maupun sAhabat, apKah Qta daPat terMasuk oRang yang mentuHankan yEsus, padaHalkan RasuLullah juga mEngajarkan Qta untuk menyaYangi sesama maNusia, apAlagi oRangtua Qta.

    Komentar oleh n0e_rHus — Januari 25, 2009 @ 10:11 pm | Balas

  14. ya menurut saya haram lah kan kata nabi hari kasih sayang itu kan tipa hari

    AYA-AYA WAYE

    Komentar oleh adit — Februari 2, 2009 @ 7:32 pm | Balas

  15. […] tidak saja membahayakan aqidah, namun seringkali bertentangan dengan aqidah. Sebagai contoh adalah hari Valentine, yg begitu gegap gempita dirayakan oleh banyak generasi muda (muslim) Indonesia dengan melakukan […]

    Ping balik oleh Budaya Halloween « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:39 am | Balas

  16. […] (Umat Islam) Bangsa Indonesia mudah sekali dipengaruhi budaya2 Barat yg tidak saja membahayakan aqidah, namun seringkali bertentangan dengan aqidah. Sebagai contoh adalah hari Valentine, […]

    Ping balik oleh Budaya | My Blog — Maret 18, 2014 @ 5:32 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: