Blog Tausiyah275

April 17, 2007

Antara Mahram Dan Muhrim

Filed under: Ensiklopedia Islam,Lain-lain — Tausiyah 275 @ 10:16 am

Kaum muslim(ah) seringkali dibingungkan (salah kaprah) dengan istilah muhrim dan mahram. Aku sendiri, pada awalnya, termasuk yg golongan ini.

Muhrim, bagi kebanyakan kaum muslim, berarti pihak2 yg DILARANG DINIKAHI. Sementara istilah mahram sendiri, mungkin tidak banyak yg tahu.

Jika ditinjau dari bahasa, muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun (huruf mimnya di-dhammah) yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun (huruf mimnya di-fathah) artinya orang yang diharamkan nikah dengannya selama2nya (baik lelaki atau perempuan lain).

Dengan info ini, seharusnya kita terhindar dari salah kaprah ini. Berikutnya, aku akan bahas mengenai mahram.

Dari sebuah referensi, aku dapatkan keterangan sebagai berikut…

Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).

Mahram karena nasab:
Ayah kandung, kakek dari jalur ayah maupun dari jalur ibu dan seterusnya keatas (kalo ada buyut), saudara kandung laki-laki, anak kandung, cucu dan seterusnya kebawah (kalo ada cicit), saudara laki2 kandung ayah (yaitu paman dari jalur ayah), saudara laki-laki kandung ibu(paman dari jalur ibu), saudara laki-laki kandung kakek, saudara kandung laki-laki nenek, anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki/perempuan (yaitu keponakan laki-laki), cucu saudara kandung dan seterusnya kebawah.

Mahram karena pernikahan:
Suami, ayah suami (mertua), kakek dari suami, anak laki-laki dari suami (anak tiri), suami dari anak (menantu), suami ibu (ayah tiri), suami nenek (kakek tiri).

Mahram karena susuan:
Anak susuan, anak dari anak susuan (cucu susuan) dan seterusnya ke bawah, Ayah susuan, Ayah dari ayah/ibu susuan, saudara laki-laki dari ayah susuan, saudara laki-laki dari ibu susuan, saudara laki-laki sesusuan, anak laki-laki dari saudara sesusuan, cucu laki-laki dari saudara sesusuan dan seterusnya ke bawah.
(note: urutan mahram susuan sama dgn urutan mahram karena nasab berdasarkan hadits “Darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah nasab”[HR. Al Bukhari dan Muslim])

Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:
1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita
2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu
4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

Dalilnya adalah,“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” An-Nisa(4): 23

Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan ALLOH SWT,“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” An-Nisa(4):23.

Ayat di atas menunjukkan dan menjelaskan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama.

Dengan demikian, anak si ibu tidak diperbolehkan menikah dg anak sepersusuan, karena keduanya (berdasar ayat di atas) sudah menjadi mahram. Kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah. Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.

Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:
1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.
3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.
4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.

Dari referensi lain, ada hal yg masih ‘diperdebatkan’…yakni masalah definisi sepersusuan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman ALLOH SWT,“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.” Al-Baqarah(2): 233

Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.

Selain itu, yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.

Kesimpulan:
– Istilah yg ‘benar’ untuk laki-laki/perempuan yg dilarang dinikahi adalah MAHRAM. Muhrim = orang yg berihram.
– Seorang perempuan yg hendak bepergian hendaknya dilindungi lelaki yg menjadi mahramnya, agar terhindar dari kejahatan yg mungkin muncul selama perjalanan.
– Seseoang dinyatakan menjadi mahram apabila dia menyusu sebelum umur 2 tahun, dan tindakan menyusu dilakukan (sedikitnya) 5 kali penyusuan.

Iklan

40 Komentar »

  1. oOo… begitu to…
    dulu sempet salah kaprah juga nih, pernah dikasih tau juga sama temen, cuman setelah baca artikel ini jadi lebih jelas dan mantab 🙂

    oh iya…
    titip juga..
    istilah silaturahim dan silaturahmi?
    apakah ada bedanya?

    Komentar oleh chung — April 17, 2007 @ 4:51 pm | Balas

  2. info yang sangat berguna sekali ya. saya sendiri tak faham tentang beda antara keduanya sebelum membaca artikel ini. thanks ya.
    -salam ukhwah fillah-

    Komentar oleh huda — April 17, 2007 @ 8:48 pm | Balas

  3. Koh, lbh bgs lagi kalo ada tulisan arabnya … biar kliatan jls bedanya …
    sekedar saran lho … 🙂

    Komentar oleh Luthfi — April 18, 2007 @ 9:00 am | Balas

  4. kalau pacar, termasuk yg mana mi ? 😀

    Komentar oleh adhi nugraha — April 18, 2007 @ 12:56 pm | Balas

  5. ada gak ya, isim maf’ul yang berwazan maf’alun? sehingga menjadi mahramun????:-)
    Untuk yang nanya’ silaturrahim dan silaturrahmi:
    silah berarti menyambung, rahim berarti persaudaraan, sedangkan rahmi berarti perut. sehingga lihat dulu acaranya, kalau acaranya nyambung perut, berarti itu silaturrahmi, tapi kalau acaranya dalam rangka menyambung persaudaraan, maka itu namanya SILATURRAHIM.

    Komentar oleh khoer — April 19, 2007 @ 11:47 am | Balas

  6. Tulisan ini sangat bermanfaat untuk memberi tahu umat. Sehingga mereka tahu batasan dan tidak terjebak kepada perbuatan dosa. Amin.

    Sarono Putro Sasmito
    HP 08153801762

    Komentar oleh Sarono Putro Sasmito — April 25, 2007 @ 3:28 pm | Balas

  7. Sukron. Tulisan ini mengobati keraguan ana di 2 istilah yang sekilas sama itu 🙂

    Komentar oleh camagenta — Mei 4, 2007 @ 1:37 pm | Balas

  8. Ternyata kata yang lebih tepat untuk istilah ‘yang dilarang dinikahi’ adalah MAHRAM ya….kenapa kita lebih familiar dengan MUHRIM ya?? Thx for the info…

    Komentar oleh lia — Agustus 6, 2007 @ 8:04 am | Balas

  9. Syukran atas infonya. Kalo sepupu laki-laki dari pihak ayah dan ibu itu mahram atau bukan si???
    Nuhun.

    Komentar oleh septi — Oktober 13, 2007 @ 5:23 pm | Balas

  10. aku jg jadi tau, makasih yaw….

    Komentar oleh antok — Januari 17, 2008 @ 8:05 pm | Balas

  11. satu petanyaan : apakah cucu dr saudara laki-laki ibu saya termasuk mahram???

    Komentar oleh Stiawan — Januari 19, 2008 @ 8:28 am | Balas

  12. Insya Allah ilmu ini sangat bermanfaat.. trus saya mau tanya; kira2 batasan2 apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan SESAMA MAHRAM?; CONTOH ; Seorang laki2 dengan adik iparnya yang perempuan, apakah boleh berkhalwat, bepergian, pegang tangan? dll… makasih yaa

    Komentar oleh S. Arif — April 7, 2008 @ 10:27 am | Balas

  13. syukron jazakallah.. selama ini ane juga salah kaprah..setelah baca penjelasan diatas skr jadi faham

    Komentar oleh sinar — Juni 13, 2008 @ 9:37 am | Balas

  14. saudara Arif, seorang laki2 dengan saudara ipar yg perempuan (maksudnya istri dari adek laki2 nya ya? atau bisa juga adek dari istrinya?) itu bukan termasuk mahram nya… masi boleh menikah dengan saudara ipar tersebut.. jadi ga boleh dong berkhalwat…

    Komentar oleh dea — Agustus 28, 2008 @ 12:28 am | Balas

  15. bustok2 oye semogs bustok jaaaaaaaaaaaaaaaaaayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Komentar oleh bustok — September 9, 2008 @ 1:07 pm | Balas

  16. apakah anak susuan juga berhak atas waris ibu/ayah susuannya, seperti anak kandung? soalnya aku punya anak susuan, takutnya ada hak yang tidak diberikan karena tidak tahu hukumnya?

    Komentar oleh maggie — September 10, 2008 @ 9:36 am | Balas

  17. Thanks,saya cari pengertian muhrim lewat google,ketemu juga yg mudah pemahamannya.

    Komentar oleh nwin — Oktober 6, 2008 @ 11:16 pm | Balas

  18. Thnkx bwt tulisannya… jadi tw deh skrg bedanya! ^_^

    Komentar oleh Hazna — November 2, 2008 @ 9:16 am | Balas

  19. Kurang jelas tuh bos, tapi udah cukup buka wawasan…

    Komentar oleh Anto — Januari 29, 2009 @ 6:35 am | Balas

  20. alhamdulillah dengan adanya ini dapt menambah penetahuan iman kita

    Komentar oleh ahmad — Februari 12, 2009 @ 8:48 pm | Balas

  21. alhamdulillah,dengan adanya situs ini dpt mnambh ilmu n mnmbah kuat iman qt.amin

    Komentar oleh m.dody sudibyo — Februari 12, 2009 @ 8:54 pm | Balas

  22. Assalamu’alaikum ustadz……..
    Aq mau nanya nich ustadz seputar mahram itu,aq lg ada sedikit masalah.Jadi begini…..Aq kn punya pacar tp masalahnya dia itu anak pamanku.Jadi kakekku sama kakek pacarku itu adik beradik.Aq mau tanya ,klo seperti itu kami(aq ma pacarku)blh menikah apa tidak? Cos ada yg ksh tau aq lo kami msh sedarah,jd g blh nikah ma pacarku itu.Tlng dijawab pertanyaan ku ini…Aq lg bingung bgt nich ustadz.Terima kasih sebelumnya….

    Komentar oleh Ari — Maret 20, 2009 @ 9:48 am | Balas

  23. Mohon ijin untuk nge-link ke tulisan saya ya.. diAutistik + Masa Depandalam “cahaya Muslimah”

    Komentar oleh yanti — Juni 6, 2009 @ 12:07 pm | Balas

  24. Jazakallahu khairan katsiran

    Komentar oleh yanti — Juni 6, 2009 @ 12:09 pm | Balas

  25. subhanallah…
    terima kasih atas kejelasannya, sekarang saya bisa lebih tahu lagi…

    Komentar oleh Darryl — Oktober 1, 2009 @ 7:57 pm | Balas

  26. Jazakumullah Khairan Katsira, saya juga salah awalnya, tapi kalo istilah untuk orang yang boleh dinikahi apa?

    Komentar oleh fitri agustina — Desember 28, 2009 @ 4:01 pm | Balas

  27. jadi, kalo sepupu termasuk mahram bukan???

    Komentar oleh usman — Januari 18, 2010 @ 8:16 pm | Balas

  28. waaaah, nih gw baru tau nih

    Komentar oleh cakra — Februari 12, 2010 @ 2:18 am | Balas

  29. Jazakallah yah…,sekalian nunut Co pas yah….biar bisa aku sebarkan ke sodara2 muslim.

    Komentar oleh Rudy — Februari 26, 2010 @ 8:50 am | Balas

  30. saya mau nanya nih, kalo sama sepupu laki-laki gak boleh bersalaman dan berboncengan yah?

    boleh saja salaman, cukup sentuh sekilas.
    berboncengan pun mesti menjaga etika, tidak boleh ‘menempel’.

    demikian.

    Komentar oleh vika — September 14, 2010 @ 10:07 pm | Balas

  31. Ass..
    mau nanya,, Cucu saudara laki2 nenek boeh gak dinikahi?? thanks

    Komentar oleh GIGSI — November 29, 2010 @ 6:07 pm | Balas

  32. ,alhamdulilah….
    ‘sukron…atas tausiah yg tlah d brikan moga bsa bermanfa,at bagi kami & semuanya…

    Komentar oleh Andre — Desember 19, 2010 @ 7:21 am | Balas

  33. Mencintai sepupu ibu?
    apakah blh dalam islam???
    Aku menyukai tanteku. Usianya terpaut 2thun lebih muda dari aku, saat ini dia ru msuk kuliah and aku udah selesai kuliah, usiaku 20 th, aku bner2 bngung dgn smua ini..tante ku ini dari sebelah ibu tapi tidak sekandung,atau istilahnya satu buyut..
    tp ku mencintai nya dan menyayanginya,…bagaimana menurut anda

    sepengetahuan saya,selama tidak 1 garis langsung, atau istilahnya sepupu, seperti yg anda katakan, insya ALLOH boleh.

    Komentar oleh Morrison — Juni 26, 2011 @ 11:30 am | Balas

  34. aq mSih bingung neee muHrim m mAhram.lok qw leh nanya .qw bingung m semua jwbn orng2.
    1.batal gag sic suami istri bersentuhan ketika sholat?
    2.

    silakan baca di http://tausyiah275.blogsome.com/2008/03/24/bersentuhan-dengan-lawan-jenis-bukan-mahram/

    Komentar oleh zulya — September 26, 2011 @ 7:31 am | Balas

  35. Diatas tadi disebutkan bahwa mahram berarti dilarang DINIKAHI,
    sementara dalam kelompok mahram karena pernikahan disebutkan salah satunya SUAMI, bagaimana mungkin suami tidak boleh menikahi istrinya ? Mohon penjelasan.

    Komentar oleh DURACHMAN R — November 17, 2011 @ 11:51 am | Balas

  36. […] perbuatan ini (bersih2 menjelang bulan Ramadhan, apalagi sampai bercampur laki-perempuan bukan mahram) tidak pernah diajarkan dalam […]

    Ping balik oleh Bersih-bersih Dan Mandi Menjelang Ramadhan « Blog Tausyiah275 — Desember 1, 2011 @ 5:41 pm | Balas

  37. […] dan mengenyangkan, maka anak ibu A dan anak ibu B menjadi saudara sepersusuan. Itu artinya mereka MAHRAM DAN HARAM […]

    Ping balik oleh Hukum Bank ASI « Blog Tausyiah275 — Juli 19, 2012 @ 8:55 pm | Balas

  38. […] artikel lalu, tentang mahram dan muhrim, aku sempat bahas bahwa salah satu penyebab mahram adalah sepersusuan (disusui). Berawal dari […]

    Ping balik oleh Saudara Sepersusuan « Blog Tausyiah275 — Juli 19, 2012 @ 10:06 pm | Balas

  39. […] menurut Islam (jadi bukan menurutku), DILARANG MENYENTUH LAKI-LAKI/PEREMPUAN YG BUKAN MAHRAMNYA. Menyentuh saja tidak boleh, apalagi menciumnya, walau sekedar pipi. Well…ini sebenarnya […]

    Ping balik oleh Untuk Tukul Arwana « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:48 am | Balas

  40. […] Miss World jelas2 memperlihatkan auratnya kepada khalayak umum, notabene kepada kaum pria yg bukan mahramnya. Saya tidak munafik, bahwa saya suka dengan perempuan2 cantik tapi saya pun tahu diri untuk […]

    Ping balik oleh Miss World Vs (Miss) World Muslimah | Blog Tausiyah275 — September 14, 2013 @ 8:32 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: