Blog Tausiyah275

Mei 26, 2007

Menyelusuri Makna Memberi

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 5:15 pm

London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku tengah terpukau oleh birunya langit serta binarnya sang mentari. Cabang serta reranting pohon buah pear dan plum yang tinggi menjulang dan telanjang tanpa dedaunan itu tampak kontras dengan birunya langit. Suasana pagi itu tampak cerah dan ceria. Seakan hatiku bersenandung. Berkidung. Betapa tidak karena beberapa pekan terakhir ini suasana winter yang melankolis begitu menampak. Dari hari kehari langit nampak kusam kelabu diiringi rintik gerimis, kadang hujan lebat dan bahkan berangin kencang.

Tiba-tiba telefon berdering. Aku segera menjawabnya dengan perasaan bungah, gembira, hatiku menduga-duga siapa gerangan. Oh, ternyata salah seorang sahabatku. Elsye. Ia bertanya kenapa aku kedengarannya begitu senang dan bahagia. Kutanya balik dari mana ia tahu kalau aku bahagia. “Dari getar getar suaramu, Teteh. Aku bisa merasakan, aku tahu dan kenal dirimu, bukan ?” jawabnya.

Lalu kubilang: “Syukur deh, Elsye. Kamu ko brilyan banget sih. Pinter. Aku seneng dan bahagia memang,” kataku. “Walau bukan karena aku punya apa-apa.” Kedengarannya ia ingin tahu kenapa kali ini aku sangat lain dan malah bahagia..

“Lagi jatuh cinta ya, Teteh? ”

Dugaan Elsye ini membuat aku tertawa. ‘”Yeep bisa jadi, El. Tapi bisa lebih dari itu. ” Jawabanku yang satu ini malah membuat Elsa tambah penasaran. Agar Elye tidak semakin kebingungan, aku teruskan kata-kataku : “Aku bahagia karena bisa mencoba memberi apa yang kupunya. Tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan.” imbuhku. ‘Ohh I see..’ tukasnya.

Mendengar jawabanku itu, aku merasakan betapa sahabatku nampak ikut bahagia dan bersyukur pula. Karena ia pun tahu, memang akhir-akhir ini aku tengah dirundung galau tak menentu. Kiranya cocok diumpamakan sebagai seorang pasien yang lagi menderita sakit, tetapi sang dokter tak bisa mendiagnosa apa penyakitnya. Aku sempat membuat perumpamaan seperti itu. Kata yang kuucapkan itu rupanya mengena.

“Oh, Tetehku lagi seneng nih karena bisa memberi,” ujarnya. “Hemm, memberi. Jadi topik kita kali ini memberi, niih ?” Lanjut dia seperti setengah menyindir.

“Kamu telefon emangnya mau dengar ceramah atau mau diskusi atau apa..?,” tanyaku balik.

“Engga siih. Cuma mau tahu gimana kabarnya, ada perkembangan apa gituuu, habis aku kawatir banget sama Teteh, terutama akhir akhir ini. Hampir dua minggu Teteh engga muncul di pengajian kita jadi kawatir banget, gituuu loh Teh”, Elsa menerangkan kekhawatirannya.

“Oh iya aku tahu, makasih. Aku kerjanya rajin nelefonin temen-temen, masih ingat, kan ? Kalau giliran si Teteh gak nelefon, kalian bingung. Bener ngggak ?”, tanyaku setengah menuntut dalam bumbu canda.

“Bener seratus persen, Teteh tuh orangnya ekstra komunikatif. Kalau engga mengirim email, ya sms atau nelefon. Nah makanya kalau kita engga dengar suaranya atau namanya nongol di milis, kita malah yang jadi bingung. Kan biasanya Teteh muncul secara rutin di salah satu media kontak itu.. Lagian kalau kita ngobrol di telefon juga bukan ngegunjing, tapi ya obrolan yang produktif, walaupun kadang Teteh suka komplain, kritis gitu. Sori ya Teh,” rajuk Elsa. Aku membenarkan.Kufikir kali ini malah dia yang agak judes.

Sahabatku yang satu ini memang “she speaks her mind,” begitu kata orang Inggris. Mengatakan apa adanya. Ceplas ceplos. Kadang galak atau judes kedengaranya, walau tidak bermaksud menyakiti. Aku sempat mohon dengan memelas. “Duuh jangan dijudesin Tetehnya dong. Aku jadi sedih”.

Lain Elsye, lain pula dengan wong Wonogiri, Jawa Tengah, mas Bambang yang rajin mengirimkan email dan suportif banget terhadapku itu. Ia suka komplain jenis lain. Ia suka protes kalau gaya bicaraku macam khotbah. “Orang jadi terancam bosan lo dengernya kalau gaya mengutarakan sesuatu darimu model khotbah seperti itu,” katanya terus terang. Hmm aku sempat kesel juga dikritik sama orang Jawa Tengah ini. Tapi ya aku harus menerima kritikannya untuk kebaikan diriku. Mungkin selama ini aku tidak menyadari tabiat komunikasiku itu.

“Eiih makasih aku diingetin niih. Sori lah kalau aku sok atau belagak macam ustadzah aja, padahal aku tak ada potongan untuk tukang ceramah khan ? Atau mungkin gaya bicaraku sok konsultatif ya ? Bergaya macam konsultan di mana bagi orang lain bisa begitu menyebalkan ? ” begitu penjelasanku. Akhirnya aku minta maaf, karena aku memang tidak bermaksud sok menggurui.

Kembali ke Elsye. Ia melanjutkan, “Tapi kita seneng aja ko denger pengalaman hidup Teteh yang lumayan ruwet dan ribet, sok sibuk walaupun sibuknya memang beneran. Habis gak mau bagi-bagi siiih. Anyway, nanti kalau pengajian, giliran Teteh dong kasih kultum, bagi-bagi pengalaman dan ilmunya ya Teh ?”. Aku cuma bisa mengiyakan.

Aku jadi senyum- senyum sendirian mendengar kata-kata “bagi-bagi pengalaman dan ilmu.” Ilmu apa sih yang kumiliki?

“Oya tadi tuh kata kata ‘memberi’ itu memang ada penjabarannya Teh ? Bisa diterusin artinya ?” El memulai lagi.

“OK tadi aku bilang ‘Aku bahagia… karena bisa memberi apa yang kupunya. Misalnya tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan yaa.'”

“OK, aku coba jabarkan ya. Bahwa saat ini kita, ehh.. aku diberi nikmat kesehatan fisik berarti aku punya tenaga untuk bantu orang dengan tenagaku atau fisikku seperti menyopiri * bemoku. Aku punya kebebasan untuk menolong siapa saja, tanpa membedakan ras golongan, bangsa, warna dan agama. Kalau soal waktu bisa diatur, walau aku sempit dan sibuk tetap kuusahakan.

Kemudian Allah memberikan aku sedikit akal budi, maksudnya kita khan gak bodoh-bodoh amat ya. Artinya di saat aku dihadapkan dengan kesulitan atau teman yang mendapat kesulitan, aku mencoba membantu dengan mencari solusi yang kiranya tepat dan memadai. Aku percaya tidak ada kesulitan di dunia yang tidak bisa kita atasi.

Satu lagi niih, Allah rupanya melimpahkan rasa mudah iba yang dalam. Empati. Hatiku mudah koyak. Kayaknya rapuh banget gitu. Aku percaya Allahlah yang menyelipkannya ke sanubari hingga mampu melahirkan rasa iba, simpati sekaligus empati kepada orang-orang yang terkena musibah, korban kedzaliman, perang sehingga hatiku tergerak untuk segera berbuat, setidaknya perhatian.

Nah, sedikit buktinya di saat aku ceria, kamupun ikut bahagia, iya khan ? Jadi aku pun, agak GR nih, sudah memberi kebahagiaan untukmu, bukan ?'” jelasku. Syukurlah, loncatan ucapan itu di dalam hati aku susul dengan istighhfar. Siapa tahu aku baru saja melakukan show off, riya ?

Sahabatku diam mendengarkan celotehanku. Lalu kusambung: “Jadi El, dari pengalaman yang Teteh alami dan rasakan, aktivitas ‘memberi’ itu bukan main maknanya. Dahsyat sekali. Seringnya kita tidak memahami, mau memberi sesuatu mikirnya lama dan bahkan menghitung-hitung untung dan ruginya. Aku sendiri tidak menyadari sampai aku membaca tulisan pengalaman orang-orang, ada beberapa ungkapan yang aku suka lalu mencocokan dengan hadith-hadith, misalnya seperti di bawah ini: “Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi banyak.”…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.

“Siapa yang ingin dicintai, maka belajarlah mencintai orang lain dulu”

Dan ini yang paling berat buat kita: “Siapa yang ingin dicintai Allah maka cintailah Rasulnya.” .

“Tapi aku sudah merasakan betapa diri kita sendirilah yang akan merasakan bagaimana hati diliputi oleh rasa bahagia, ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Jadi sesungguhnya justru kita sendirilah yang merasakan paling bahagia di saat kita bisa memberikan bantuan. Selain tentunya, perasaan hati fihak lain yang telah ikhlas kita bantu.”.

“Misalnya apa, Teh?'” sergah Elsye.

“Dari hal-hal yang kecil. Sederhana. Ya, misalnya menjaga anak atau bayi teman yang berstatus sebagai mahasiswa ketika dirinya yang sedang belajar untuk menempuh ujian. Mengantar pulang teman yang rumahnya jauh dan sudah malam. Mengantar sahabat ke bandara yang musti check-in diwaktu subuh dan seterusnya. Ah pokoknya banyak deh, pokoknya yang bisa meringankan kesusahan orang, kurang lebihnya begitu ibuu,” kataku.

Lanjutku, “Jadi memberi atau sedekah itu tidak mesti besar, walaupun cuma dengan setengah kurma, yang penting ikhlas”. Elsyepun tertawa. “Ah aku engga mau dikasih kurma setengah. Aku mau satu doos dari toko Zam-zam di Green Street”, kelakarnya.

“Sama deh, Teh. Aku juga belum bisa bersadakah dalam bentuk materi,” lanjut El. Dia nampak menyetujui pendapatku. “Siapa bilang ? Rumahmu yang dijadikan sebagai tempat pengajian, minimal seminggu sekali, bukankah itu Elsa sudah memberi ? Itu pun jelas pula sebagai sedekah. Memberikan tempat untuk perbuatan menuju kebaikan, pastinya sudah pula mendapatkan pahala. Setidaknya rumahmu mendapatkan baroqah dan rakhmat dari Allah, bahkan telah pula menolong agama Allah.”

Kali ini Elye agak nampak bingung dengan kata-kata “menolong agama Allah.”

“Artinya…” aku narik napas sebentar, ” El memperlancar jalannya syiar agama, dakwah, buat teman-teman yang ingin meningkatkan keimanannya, sang gurupun mengamalkan ilmu agamanya, belum rasa ukhuwah yang terjalin antara kita, jadi berarti El memberi dan menolong agama Allah. Coba berapa hikmah dan baroqah yang Elsa dapat?” ‘ Sepertinya Elsye baru menyadari hal ini.

“Bayangkan…para malaikat diatas rumahmu yang mengepakkan sayapnya lalu melaporkan kepada sang Khalik, ‘Ya Rabb ummatmu tengah menyebut dan membesarkan namamuMu,’ padahal Allah tahu apa yang ummatnya tengah lakukan”, aku menambahkan.

Akhirnya kututup percakapan di telefon dan kita berjanji untuk jumpa di pengajian pada Jumat minggu depan. “Bener lo Teh datang ya. Kita kangen banget niih. Sambel cabe ijo sudah nunggu di kulkas tuh minta dilahap seusai pengajian,” tutup Esyel. Kami pun berpisah saling meminta maaf dan mendoakan.

***

Lain halnya dengan sahabatku, yang aku sebut sebagai adik, yaitu Iwan. Ia pernah tiba-tiba mengeluh pada saat ia mengalami futur, di saat dia membutuhkan bantuan, seakan orang tak mau tahu dengan problemnya. Apalagi membantu dalam bentuk materi:

Ia mengeluh, “Perasaan sih saya banyak memberi, membantu gitu loh, bukan memberi uang siih, maksud saya beri bantuan berupa tenaga dan fikiran, pengetahuanku, membantu orang, walaupun saya tidak bilang minta dibayar, mbok ngerti gitu.Tapi di saat saya perlu bantuan, saya tidak mendapat bantuan tuuh, saya jadi bingung dan gak paham jadinya nih” , keluhnya.

“Ooops sori. Astaghfirullah al aziim,” lanjutnya. Dia rupanya menyadari kekeliruannya dan menetralisir sendiri. “Kalau begitu saya mengharapkan dibalas oleh mereka yang saya bantu. Salah ya Teh ? Aku engga ikhlas dong ya ? Semua buyar deh amalku ya?,” sesalnya.

“Ntar dulu Wan. Masalahnya jelas tidak pada awalnya ? Ada hitam di atas putih tidak. Apa tidak bisa dibedakan dulu antara business atau amal, atau fisabilillah ? Kalau tidak jelas dari awalnya, memang kita dan semuanya bisa susah dong. Sorry no free lunch, sir, ” ketusku.

“Tapi betul ko Wan, kau tidaklah sendirian. Aku juga kadang suka begitu frustrasi di saat aku perlu bantuan, butuh bantuan, rasanya tidak ada yang memberikan bantuan. Diriku merasa banget sedih dan ada kecewa. Sampai aku kadang terloncat untuk bilang, “Biarin. Lihat ntar lo. Aku mau hidup sendiri aja, semua kukerjain sendiri aja, aku tidak boleh bergantung sama orang, aku harus mandiri.”

Bukankah itu prinsip yang keliru ? Padahal kita tahu hukumnya, kalau kita memberi bantuan atau bersadakah mustinya kita tidak harus mengharapkan balasan dari orang yang kita beri bantuan. Bersedekah selayaknya dilakukan tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang kita beri, demikian kata beberapa pakar dan hadith. Karena kita yakin bahwa Allahlah yang akan membalas kita, bukan dari orang yang kita bantu.

“Iya bener, Teh, begitu mestinya ya. Tetapi kadang keikhlasan kita diuji terus sama Allah ya. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat orang yang kita tolong atau beri bantuan. Allah akan memberi pertolongan dari arah yang tidak kita duga dan ketahui, bukan?'”

‘Wan…niiih aku dapat cuplikan dari tulisan Aa Gym: sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki. Sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, di mana tiap-tiap butir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha Kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah ! ”

Iwan tertawa mendengarkan bahwa balasan itu akan datang 100 kali 7 bulir, berarti 700 kali lipat. “Ah itu mah nanti di akhirat kali. Teh. Itu pun kalau Allah berkenan melimpahkan RakhmatNya buat kita. Sekarang gimana caranya jadi orang ikhlas..susah niih euy ,” ujarnya sambil meneruskan ketikannya di komputer.

“Tapi,” kataku lanjut, “aku sudah merasakan sendiri ko bahwa kita yang akan merasakan sendiri kaya gimana si hati, bahagia, seneng di saat kita bisa memberikan sesuatu kepada orang laini, ya atau iya? Jadi sesungguhnya keuntungannya ya kita sendiri yang akan merasakan kebahagiaan itu.” Iwan setuju dengan pendapatku terakhir ini.

***

Nah yang ini, rada aneh tetapi menarik, adalah yang terjadi pada adikku yang bernama Wahyu. Selama ini ia merasa dirinya belum mampu untuk berbuat, atau memberi, karena keterbatasannya, entah waktu atau ilmu.

“Aku belum bisa terjun dulu, Teh. Apalagi memberi dalam bentuk materi. Tetapi bukan itu masalahnya. Wahyu berkata, “aku sendiri masih membenahi diri, agamaku masih pas-pasan, kondisi ekonomiku saja masih morat-marit, juga aku belum bisa memberikan contoh yang baik sebagai sosok muslim yang sholeh. Jadi maaf ya Teh, aku belum bisa bantu apa-apa dulu deh,” ujarnya ketika aku mengundangnya untuk bergabung di sebuah paguyuban.

Rasanya kecut juga hati ini. Padahal selama ini dia selalu kritis terhadap keadaan sosial di negeri kita, banyak memberi saran, banyak mengharap tapi kenapa giliran kuajak gabung, ko malah menghindar ? Mungkin ia masih beralasan bahwa keperluan diri pribadinya sendiri masih banyak, masih merasa miskin materi atau miskin ilmu sehingga tidak bisa membantu orang lain. Hanya dirinyalah yang tahu.

“OK adikku, kita hanya memberi peluang bagi mereka yang mau beramal, bersadakah dalam bentuk tenaga dan waktu, dan semuanya itu harus dilandasi oleh keikhlasan.” begitu jawabku untuk adikku yang satu ini. Padahal, bukankah Islam, agama kita, mengajarkan kita untuk tetap bersedekah di waktu lapang maupun di waktu sempit? Seperti dikatakan di surat Ali-Imran: 133-134 : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Artinya : Anjuran mulia dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. Meski cuma sedikit, secuil, yang terpenting adalah pemberian dilakukan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho Illahi.

Tapi aku bisa memaklumi bahwa setiap orang memiliki sikap, prinsip dan pemahaman yang berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman dasar dan naluri keTauhidan kita masing masing. Yang aku yakini, sekali kita bersyahadat, bertestimoni, atau memberikan pengakuan, maka di situ ada sebuah perjanjian, komitmen.

Seyogyanyalah testimoni atau kesaksian ini dipelajari, dipahami hingga mampu merembes turun ke dalam sanubari kita. Sehingga bukan cuma sekedar basa-basi, karena born muslim, pemantes, untuk mengisi spasi kosong di KTP atau cuma sekedar ucapan yang hanya terhenti sampai di kerongkongan belaka.

Adiku Iwan, dulu rajin memberikan tausiah lewat telefon. Misal input atau masukan seperti ini: “Teh, jadikan sebuah kebiasaan membaca Al-Quran, lalu kita baca makna dan pahami isinya. Juga hadith. Lalu kita pilih, pahami, ayomi dan mencoba mengamalkannya. Tidak usah banyak banyak, pilih yang kita suka, jadikan favorit, “ujarnya.

Dari buku karya Dr. Yusuf Qardawi yang berjudul Fiqih Prioritas telah aku temukan beberapa petikan hadith yang aku suka, lalu kupindahkan ke buku harian. Buku itu sendiri sudah tampak lecek karena berulang-ulang kubaca, penuh coretan di sana sini. Ada beberapa hadith yang kuhafal dan yang satu ini kumasukkan ke hati dan mencoba untuk mengamalkannya:“Barangsiapa yang membantu menyelesaikan kesusahan seseorang di dunia (lebih-lebih lagi saudara sesama Islam), niscaya Allah akan membantu menyelesaikan kesusahannya di dunia dan akhirat”. (Imam Bukhari)

London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku terus terpukau oleh birunya langit serta binarnya sang mentari. Semua itu nikmat dan pemberian dari Allah semata. Aku kini terus mencoba mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan itu dengan menyusuri makna terdalam dari aktivitas memberi. Kemudian berjuang sebisaku, untuk melakukannya. Saya yakin, Anda telah pula melakukan hal yang juga serupa.

By Al Shahida

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: