Blog Tausiyah275

Juni 7, 2007

Islam dan Pengeras Suara

Filed under: Fiqh,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 7:07 am

Beberapa hari yg lalu, selama lebih kurang 2 hari berturut-turut, sebuah masjid yg letaknya dekat aku tinggal, membunyikan dan menyiarkan kaset pengajian (melalui pengeras suara) sejak pagi hingga sore hari. Semula aku pikir akan ada pengajian (tablig akbar), sehingga pengurus masjid menyalakan kaset pengajian, untuk memberi tanda bahwa akan diselenggarakn pengajian, dengan demikian para warga sekitar tahu dan berdatangan ke masjid untuk mendapatkan siraman rohani.

Namun ternyata dugaanku salah. Karena ternyata TIDAK ADA pengajian atau kegiatan masjid apapun. Aku sendiri tidak tahu apa alasan pengurus masjid membunyikan kaset pengajian. Mungkin maksudnya baik, untuk mengajak masyarakat umum mendengar ayat2 ALLOH SWT. Akan tetapi, yg aku rasakan malah terasa mengganggu, karena hal ini dilakukan di hari libur (Sabtu dan Minggu) yg pada saat itu aku sedang butuh istirahat setelah energi dan waktuku tersita untuk pekerjaan.

Di lain waktu, di hari kerja, ternyata masjid yg sama juga melakukan hal yg sama. Sejak pagi mereka sudah menyetel kaset pengajian. Saat aku berangkat, sekitar jam 8 pagi, gema orang mengaji sudah terdengar. Dan pada saat aku pulang, sekitar jam 5.30 sore, menjelang magrib, suara pengajian juga masih terdengar.

Bukannya aku tidak setuju atau aku dianggap tidak Islami, namun sepengetahuanku, cara seperti ini (mengaji menggunakan pengeras suara, disetel ke luar dan menyetelnya keras2) bukanlah hal yg dicontohkan Rasululloh SAW. Sepengetahuanku, Rasululloh SAW mencontohkan ibadah yg menggunakan suara keras untuk 2 hal:
1. Adzan
2. Khutbah (baik khutbah Jum’at, ‘Idul Fitri ataupun ‘Idul Adha)

Jika dibandingkan dengan masjid yg ada di dekat rumahku yg di Bandung, sangatlah kontras. Pengeras suara (keluar) digunakan hanya jika kedua hal di atas dilakukan. Sementara untuk pengajian, pengeras suara keluar digunakan untuk pengajian sebagai tanda bahwa akan ada pengajian. Mengaji via kaset ini pun TIDAK LAMA DIBUNYIKAN/DILANTUNKAN. Mungkin hanya 1-2 jam sebelum pengajian dimulai.

Sementara, pada saat pengajian dilakukan, pengurus masjid hanya menggunakan pengeras suara dalam (internal), sehingga suaranya tidak mengganggu masyarakat sekitar. Kecuali pengajian yg sifatnya besar (tablig akbar) maka digunakan pengeras suara luar.

Belakangan aku dapatkan informasi dari Dewan Masjid Indonesia, berkaitan dengan penggunaan pengeras suara ini. Dalam Buku Pedoman Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Jawa Barat halaman 26-27, dituliskan Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid.

Inti yg bisa diambil:
1. Pengeras suara dalam keadaan baik sehingga suara yg keluar tidak mengganggu.
2. Speaker luar dan dalam harus dipisah.
3. Pada dasarnya suara yg memakai speaker luar hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu sholat. Pada saat sholat dan doa, tidak perlu digunakan speaker luar.
4. Penggunaan speaker pada saat sebelum shubuh (untuk membangunkan kaum Muslim ataupun untuk penanda bahwa menjelang Imsyak pada saat Ramadhan) paling awal 15 menit, menggunakan speaker luar saja, agar tidak mengganggu orang yg sedang beribadah di masjid.
5. Aktivitas Jum’at seperti pengumuman, do’a dan khotbah dapat menggunakan speaker dalam.
6. Pada bulan Ramadhan, penggunaan speaker untuk tujuan tadarus bisa menggunakan speaker dalam.
7. Takbir Idul Fitri dan Idul Adha dapat digunakan speaker dalam dan luar.
8. Ceramah atau tablig akbar bisa menggunakan speaker dalam dan luar.
9. Speaker bisa dipakai untuk kepentingan umum (sepanjang bermanfaat) seperti pengumuman kematian, musibah dan bencana.

Dari 9 poin di atas, bisa ditarik benang merah, yakni MASJID MESTI MENYEDIAKAN SPEAKER DALAM (INTERNAL) DAN LUAR (EKSTERNAL). Masing2 speaker mesti digunakan sesuai dengan kapasitasnya.

Aku bersyukurnya, pengurus masjid di dekat rumahku ternyata sudah cukup mengerti akan penggunaan speaker dalam dan luar. Sehingga aku merasa cukup nyaman jika aku sedang berada di rumah di Bandung. Sementara untuk masjid yg di Jakarta, seperti yg aku tulis di awal, bukannya aku tidak Islami, namun kegiatan tersebut malah mengganggu…dan aku yakin tidak saja kaum muslim yg terganggu, namun non-muslim yg kebetulan rumahnya dekat masjid, akan mengomel karena merasa terganggu.

Aku sendiri melihat, kadang kaum Muslim sekarang cenderung beribadah hanya untuk kesenangannya sendiri. Mereka cenderung tidak peduli dengan kondisi sekitar, apakah terganggu atau tidak….apakah ibadah mereka bermanfaat bagi orang lain atau tidak.

Jika merujuk pada poin 7 di atas, kita akan dapati di beberapa masjid, orang bertakbir terlalu berlebihan (menurutku). Aku ingat, saat malam takbir ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha lalu, ada beberapa masjid yg bertakbir non-stop sejak selesai Isya hingga menjelang Subuh.

Aku ‘heran’ dengan perilaku ini. Apakah mereka (yg bertakbir semalaman) tidak memikirkan orang lain butuh beristirahat agar esok hari mereka bisa beribadah (sholat sunnah ‘Id) dengan baik? Menurutku, mereka cukup menggunakan speaker dalam saja…atau jangan terlalu kencang.

Intinya: gunakan speaker dengan proporsional (sesuai kebutuhan). Jangan berlebih-lebihan, karena Islam tidaklah menyukai sesuatu yg berlebih-lebihan.

Iklan

15 Komentar »

  1. yoih yoih.. 😀

    Komentar oleh aRdho — Juni 7, 2007 @ 2:54 pm | Balas

  2. bidah gak?
    *log out*

    insya ALLOH bukan bid’ah. Dalam kesempatan lain, insya ALLOH akan dibahas.. 🙂

    Komentar oleh Luthfi — Juni 8, 2007 @ 10:46 am | Balas

  3. Thanks for the article, dari dulu gw pengen tahu kenapa toa?

    Komentar oleh saylow — Juni 8, 2007 @ 4:09 pm | Balas

  4. Masalahnya bukan seperti itu koh. Kalau pendapat situ

    Bukannya aku tidak setuju atau aku dianggap tidak Islami, namun sepengetahuanku, cara seperti ini (mengaji menggunakan pengeras suara, disetel ke luar dan menyetelnya keras2) bukanlah hal yg dicontohkan Rasululloh SAW. Sepengetahuanku, Rasululloh SAW mencontohkan ibadah yg menggunakan suara keras untuk 2 hal:
    1. Adzan
    2. Khutbah (baik khutbah Jum’at, ‘Idul Fitri ataupun ‘Idul Adha)

    Maka akan ada pertanyaan, “Emangnya di zaman rasululloh udah ada speaker?”

    aku pernah baca, hanya lupa referensinya. Rasululloh SAW memilih Bilal sebagai muadzin (utama) adalah karena Bilal mempunyai suara yg keras. Jadi, bukan enak-tidaknya suara muadzin yg menjadi syarat utama.

    Sementara untuk pertanyaanya di atas, jelas, ‘tidak bisa’ langsung terkait dg speaker. Pertanyaan yg ‘masuk akal’ adalah apakah Rasululloh SAW pernah BERAMAI-RAMAI (terutama membaca dg keras2) saat mengaji dll?

    Demikian mas Dhoni…

    Hal ini berkaitan dengan ibadah yang mengganggu orang lain. Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam melarang ibadah yang sifatnya mengganggu orang lain. Seperti tidak bolehnya mengeraskan bacaan Al Qur’an apabila ada orang yang juga membacanya. Karena rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam melarang keras Al Qur’an dilawan dengan Al Qur’an.

    Mendengarkan Al Qur’an itu harus tepat dan juga dalam kondisi yang tepat. Mendengarkan Al Qur’an adalah untuk dihayati ayatnya, agar kita mendapatkan pahala. Tapi justru kerusakanlah yang terjadi kalau kita mendengarkannya melalui pengeras suara.

    Seperti, ada seorang fulan yang biasa meniru suara Murotal. Kemudian ada suara murotal yang diperdengarkan di masjid. Nah, bagaimana jika si fulan itu ada di WC atau kamar mandi? Ia mungkin secara tak sadar membaca ayat-ayat Al Qur’an di tempat itu. Nah, di sini yang salah siapa?

    Dan juga ketika disiarkan di masjid pake pengeras suara seperti itu, misalnya ada orang yang sakit dan butuh istirahat tidur, istirahatnya terganggu karena suara tersebut, dan membuat ia tidak sehat. Nah, ini mudharat. Dan hal seperti ini harus dihindari.

    ini point yg aku maksudkan… 🙂

    Wallahu’alam bishawab.

    Komentar oleh romadhoni — Juni 9, 2007 @ 6:19 pm | Balas

  5. Aku bersyukurnya, pengurus masjid di dekat rumahku ternyata sudah cukup mengerti akan penggunaan speaker dalam dan luar. Sehingga aku merasa cukup nyaman jika aku sedang berada di rumah di Bandung. Sementara untuk masjid yg di Jakarta, seperti yg aku tulis di awal, bukannya aku tidak Islami, namun kegiatan tersebut malah mengganggu…dan aku yakin tidak saja kaum muslim yg terganggu, namun non-muslim yg kebetulan rumahnya dekat masjid, akan mengomel karena merasa terganggu.

    Aku sendiri melihat, kadang kaum Muslim sekarang cenderung beribadah hanya untuk kesenangannya sendiri. Mereka cenderung tidak peduli dengan kondisi sekitar, apakah terganggu atau tidak….apakah ibadah mereka bermanfaat bagi orang lain atau tidak.

    “Tabayun adalah jalan yang paling selamat….., menerka-nerka itu dilarang sebagai mana firman allah dalam surat al hujurat (qs. 49 ayat 11) “wahai orang yang beriman janganlah sekumpulan orang menggunjing/meremehkan sekumpulan yang lain karena boleh jadi yang di remehkan itu lebih baik dari kamu yang menggunjing”

    Bisanya pengajian hanya untuk mengingatkan akan segera datang waktu sholat dan pengajian. bisanya g terlalu lama
    Kalau lebih dari 1/2 – 2 jam. qt perlu tabayun dan mengingatkan kalo bisa, kalo tida diam dan minta do’akan ampunan bagi sodara qt yang mungkin belum tau ilmunya atau lupa. menggunjing/ ngomel/ menyebar kebencian adalah bukan ciri seorang muslim.

    yang harus jadi catatan udah berapa banyak kontribusi antum untuk ta’mirul masajid (mengidupkan kegiatan masjid dan menjadi washilah orang jadi rajin kemesjid). ana khawatir itu terjadi karena masjid udah terasing dari umatnya (disaat adzan berkumandang jamaahnya masih sibuk nyucimotor, makan, nyetel musik untuk atas nama istirahat, dll sedang di masjid hanya baru datang marbot dan imam masjid)

    Siapa yang salah…………….?? jamahnya yang susah datang disaat adazan berkumandang apa marbot yang lagi cari kegiatan biar ketauan sama pengurus ada ?

    Wawllohhu a’lam………..

    Komentar oleh balebat — Juni 15, 2007 @ 4:59 pm | Balas

  6. aku pernah baca, hanya lupa referensinya. Rasululloh SAW memilih Bilal sebagai muadzin (utama) adalah karena Bilal mempunyai suara yg keras. Jadi, bukan enak-tidaknya suara muadzin yg menjadi syarat utama.

    Benarkah begitu? Sebab sampai sekarang saya belum pernah mendapatkan dalilnya. Walau banyak cerita-ceriti..apakah Bilal enak adzanya atau sekedar bisa bersuara keras. Nampaknya harus ada kejelasan..bukan sekedar lupa karena ini memberikan data yang kurang valid.
    mungkin kalau boleh urun…adzan di mesjid makkah, madinah, kairo, Uni Emirat Arab enak-enak didengar…tidak hanya sekedar bisa terdengar…so?

    Komentar oleh akur — April 24, 2008 @ 4:39 am | Balas

  7. saya tidak setuju penggunaan speaker luar yang berlebihan ( acara arisan majlis taklim,dll selain utk adzan )ini biasanya di mushola kampung,tolong pihak yg berwenang (mui)mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan pengeras suara

    Komentar oleh budi — November 3, 2008 @ 5:41 pm | Balas

  8. iya benar MUI harus segera mengeluarkan fatwa mengenai aturan pengeras suara, makin sini makin berlebihan, apalagi subuh2..

    Komentar oleh anto — Februari 10, 2010 @ 6:40 am | Balas

  9. Islam sebagai agama yg mengajarkan Akhlaqul Kariimah sbgmn selalu dicontohkan Rasulullah Saw, saya setuju Loudspeaker yg di Masjid,Mushala,dll, untuk suara keluar hanya utk keperluan Adzan,Qamat dan Pengumuman Penting. Sedang untuk Khutbah, pengajian,dzikir supaya menggunakan loudspeaker didalam masjid.
    Diharap Depag,MUI,para Da’i dan Pemda melakukan sosialisasi penggunaan pengeras suara utk bersama menjaga keharmonisan masyarakat dilingkungan masjid.

    Komentar oleh hans vd boer — September 5, 2010 @ 11:14 pm | Balas

  10. […] Sebelum masuk ke situ, ada baiknya kita melihat dulu beberapa artikel ttg Islam yg terkait dengan teknologi: – Masjid dengan hotspot – Tentang Facebook – Ringtone Al Qur’an sebagai dering hp – Islam dan pengeras suara […]

    Ping balik oleh Twitteran Saat Jum’atan? Sebaiknya Jangan! « Blog Tausyiah275 — Desember 2, 2011 @ 6:34 pm | Balas

  11. banyak orang berprilaku akan dasar hukum diri,tanpa mempertimbangkan hukum2 yg lain:
    -hukum agama
    -hukum negara
    -hukum adat
    -hukum tatausila
    bila hanya mendirikan hukum diri saja, maka egoisme yg tampil.

    Komentar oleh alvi — April 29, 2012 @ 12:11 pm | Balas

  12. Memang bangsat aktifis masjid, gw jg muslim jd muak gw,,, saat gw nulis ini di jam 1 malam… Aktifitas masjid masih guna’in TOA!!! BESOK SENIN BANGSAT!!! kenapa ga pagi/siang/sore ngelakuin aktifitas rebana yang sangat2 berisik!!!!! ga ada pemberitahuan sama sekali aktifitas ini! dn sy sangat2 terganggu! sy manusia punya HAK!! dmn sy bs mengadkan ini!!! kalau sy ke masjid, sy di sembelih layakny orng islam kesetanan!! BiADAB!!

    Komentar oleh islamjadiberisik — Agustus 6, 2012 @ 1:14 am | Balas

  13. […] atas jelas salah besar! Sebenarnya sudah sejak lama masjid dipasang teknologi. Coba anda perhatikan pengeras suara. Saya yakin masjid-masjid sudah memasang pengeras suara, minimal digunakan untuk adzan. Meski ada […]

    Ping balik oleh Ketika Teknologi Merambah Masjid | Blog Tausiyah275 — Januari 10, 2014 @ 6:03 am | Balas

  14. ajaran arab baidap pancung tkw indonesia pasti melakukan kekerasan dalam prakteknya melalui kekerasan suara masjid bangunan arab sebagai bukti ajaran arab yang keras dan biadap pancung tkw indonesia

    Komentar oleh anti phedopile — November 8, 2014 @ 12:31 pm | Balas

  15. http://www.solopos.com/2015/07/16/lebaran-2015-takbiran-semalam-suntuk-tak-sesuai-tuntunan-islam-624882 kita hidup di negara yang berbineka tunggal ika harus bisa saling menghormati. salam sejahtera untuk semua.

    Komentar oleh widiadd — September 11, 2016 @ 9:17 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: