Blog Tausiyah275

Juni 17, 2007

Memberantas Pelacuran Itu Gampang-gampang Susah

Filed under: Muamalah,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 7:45 am

Pelacuran merupakan salah satu hal yg diharamkan di Islam, terutama terkait dengan perilaku perzinahan yang jelas2 dilarang. Akan tetapi, memberantas pelacuran sangatlah sulit, jangankan di seluruh dunia, untuk wilayah kelurahan pun, terasa tidak mudah. Bahkan, aku pernah baca di sebuah media, di jazirah Arab sendiri pelacuran itu sebenarnya ada, hanya saja lebih tersamar.

Di Indonesia dan negara2 lain, pelacuran cenderung dibiarkan, bahkan ‘dipelihara’…dengan menempatkan mereka di sebuah tempat, yang sering disebut kawasan lampu merah atau kawasan remang remang atau lokalisasi. Maksudnya mungkin bagus, agar mudah memantau dan menertibkan apabila terjadi kasus penyakit kelamin ataupun hal2 lain. Selain itu, penempatan para pelacur di lokalisasi, sedikit banyak (SEHARUSNYA) membuat para lelaki jengah dan malu untuk berkunjung, karena datang ke tempat2 seperti itu akan diidentikkan dengan bertransaksi dengan para pelacur.

Jaman dahulu, orang (perempuan dan lelaki) akan merasa malu dan marah jika dikaitkan dengan kasus/tindakan pelacuran. Apalagi jika ybs tertangkap basah melakukan praktik pelacuran (atau melacur). Julukan pelacur, lonte, germo, dst dst…kala itu membuat orang sebisa mungkin menjauhi bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan dunia lembah hitam itu.

Akan tetapi, anehnya, belakangan ini sikap orang dan masyarakat berubah. Banyak kalangan pria dan wanita tidak malu untuk bersinggungan, bahkan berkecimpung di dunia pelacuran itu. Terlebih lagi di malam minggu, lokalisasi kian ‘hidup’…ini berarti jumlah pengunjung dan penikmat kian bertambah. Belum lagi adanya perubahan istilah…yg ‘menghaluskan’ dan ‘membolehkan’ pekerjaan mereka. Kini istilah Pekerja Seks Komersial disematkan pada para pelacur. Dari sekian banyak alasan, ada beberapa alasan yg membuat para pelacur itu ‘dimanusiakan’:
1. Pelacuran merupakan salah satu bentuk pekerjaan.
2. Adalah hak manusia untuk memilih bentuk pekerjaan (terkait no 1).

Apabila 2 poin di atas diperdebatkan dan dipermasalahkan oleh kaum agama, maka pembelaan dan argumentasi yg selalu dijadikan andalan adalah MELANGGAR HAM (HAK ASASI MANUSIA). Suatu pembelaan dan argumentasi yg (maaf) tidak cukup kuat…karena HAM yg dijadikan alasan adalah buatan manusia, bukan hukum ALLOH SWT.

Alasan lain yg seringkali diajukan adalah hasil mereka melacur digunakan untuk kepentingan keluarga mereka. Dengan kata lain, perut dijadikan alasan. Mereka senantiasa beralasan bahwa perbuatan mereka masih lebih baik daripada mencuri, merampok, bla bla bla…

Bahkan kini istilah pelacur seringkali diberikan kepada para pemuka agama (notabene ulama). Para musuh Islam menjuluki ulama sebagai pelacur agama, karena mereka beranggapan para pemuka agama senantiasa memanipulasi dan memelintir agama demi kepentingan mereka sendiri. Aku hanya mengelus dada dan prihatin atas kejadian tersebut. Jika seorang ulama berbuat salah, itu urusannya dg ALLOH SWT, namun kita tetap mesti hormat dan mengikuti ucapan dan tindakannya…jika itu memang benar.

Saudara2ku, aku tidak bermaksud untuk berdebat kusir tentang masalah pelacuran ini. Justru melalui artikel ini, aku hendak memberikan solusi yg mudah2an berguna…dan SEHARUSNYA bisa diterapkan.

Kembali ke judul artikel ini, pemberantasan pelacuran.

Menurutku memang gampang2 susah. Gampang karena kita bisa usir dan tutup lokalisasi. Dengan demikian para pelacur dan pemakai tidak akan bisa lagi beraktivitas seperti biasa. Gampang karena kita bisa lakukan razia dan tangkap para pelacur yg berkeliaran di jalan…serta memasukkan mereka ke dalam lembaga sosial pembinaan.

Sudah 2 gampang yg kita bahas…berarti hanya tinggal 1 susah yg masih menjadi masalah. Repotnya, 1 susah ini-lah yg menurutku menjadi kunci.

Susah yg aku maksudkan adalah KEMISKINAN. (jika ada yg menolak alasan ini, karena di negeri barat yg makmur tapi kok ada pelacuran…aku akan ajukan lagi alasan mendasar…MENTAL YG BOBROK. jika masih tidak setuju…aku jawab lagi dg alasan yg lebih global…GODAAN SETAN ;-)).

Rasululloh SAW sendiri sudah memperingatkan jauh2 hari, bahwa kemiskinan merupakan hal yg berbahaya…dan bisa menjadi bom waktu. Beliau bersabda,“Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Ath-Thabrani)

Selain sabda beliau ini, kita merujuk ke An Nisa(4):9,“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dua rujukan di atas ‘mengharuskan’ kita untuk menyiapkan generasi yg lebih baik, yg tidak miskin, tidak saja miskin harta namun juga miskin jiwa.

Yang menjadi masalah sekarang, kemiskinan sudah merebak dan menyebar luas sedemikian rupa di negara ini, negara yg mengaku Islam sebagai agama mayoritas. Tindak tanduk pemimpin yg cenderung memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, membuat mereka melupakan tanggung jawab mereka sebagai seorang pemimpin. Itu sebabnya aku pernah tulis, bahwa dipercaya itu sulit…!! Hanya saja, sayangnya, kebanyakan orang (pemimpin) tidak mengetahui. Mereka semua sama, berpikiran bahwa menjadi pemimpin berarti kesempatan memperkaya diri.

Kembali ke masalah pelacuran.

Kemiskinan membuat banyak perempuan di daerah miskin teperdaya dan akhirnya dijebak untuk menjadi pelacur. Dan rata2, begitu terjebak menjadi pelacur, tidak ada niat dan tindakan untuk meninggalkan pekerjaan ini.

Razia yg dilakukan juga tidak bermanfaat banyak. Setelah mereka dimasukkan ke dalam lembaga sosial, diajari ini itu, saat dilepas kembali bergaul dengan masyarakat, mereka justru kembali melakukan pekerjaan lamanya, melacur.

Jadi siapa yang salah?

Aku sempat berdiskusi dengan seorang temanku, yg sempat bergaul dengan pelacur. Hasil dari diskusi yang kami lakukan mempunyai kesimpulan berikut:
1. Untuk mengurangi, bahkan menghapus pelacuran, maka kemiskinan harus dihapuskan. Kemiskinan hanya bisa dihapuskan (dikurangi) jika semua masyarakat mendapat tingkat pendidikan yang cukup. Untuk itu, kaum muslim di Indonesia (salah satunya melalui lembaga pendidikan) HARUS PINTAR/MELEK PENDIDIKAN.

2. Pelacuran akan tetap sulit diberantas karena mental mayoritas pelacur memang MAU GAMPANGNYA. Menurut penuturan temanku, pelacur dg modal (maaf) badan dan kasur, bisa menghasilkan uang yg cukup besar, bisa Rp 1 juta/hari. Sedangkan untuk kerja normal dan halal, dengan tingkat pendidikan (terkait dg no 1) yg mereka dapatkan, jelas tidak mungkin angka tersebut bisa diraih. Sementara untuk gaya hidup dan kebutuhan mereka, jelas sudah terkondisikan dengan pengeluaran yg cukup besar. Walhasil, meski mereka sudah dibekali dg ilmu2 mencari rejeki (halal), mereka cenderung kembali melacur karena uangnya yg besar. Hanya saja, apakah mereka tidak memikirkan masa tua mereka? Entahlah.

3. Penutupan lokalisasi tetap perlu dilakukan. Kecenderungan untuk selalu bernegosiasi dengan para germo dan alasan perut, tidak akan pernah menyelesaikan…karena akan selalu berujung pada telur dan ayam, mana duluan yg mesti ‘dibereskan’.

4. Hukum pria yg menggunakan jasa pelacur. Selama ini hanya pihak perempuan yg selalu terkena hukuman.

Maka, memberantas pelacuran adalah gampang2 susah. Tugas kita, selaku umat Islam adalah ikut memberantas pelacuran. Caranya? Tidak perlu repot dan sulit…cukup banyak membantu/menyalurkan bantuan ke lembaga2 pendidikan, terutama pesantren. Insya ALLOH dana yg kita kucurkan akan bermanfaat untuk kemajuan santriwan/wati, yg biasanya berasal dari kelompok yg pendapatannya tidak seberuntung kita.

Yuk…mari kita bantu lembaga pendidikan. Itu tanggung jawab kita lho…!!

Iklan

6 Komentar »

  1. maap mas…..koq daftar arcive sama waktu nutupin tulisan sie mas? apa monitor gw yang kurang gede ya?

    Komentar oleh didit — Juni 18, 2007 @ 2:36 pm | Balas

  2. Koh

    Komentar oleh Azil — Juni 19, 2007 @ 6:33 pm | Balas

  3. karena itulah, murut saya, diperlukan agama..

    untuk orang yang ‘gak mau susah’

    kalo ada yang gampang ngapain sussah..

    Komentar saya :
    “artikel terlalu panjaaang..”
    kalo panjang jarang ada yang baca..

    Komentar oleh yogi — Agustus 9, 2007 @ 3:04 pm | Balas

  4. Pelacuran masih ada yang membutuhkan !!

    Komentar oleh Nur — Mei 7, 2008 @ 2:18 pm | Balas

  5. pelaciran telah menggurita dalam tubuh masyarakat. dan yang bikin aku heran adalah mengapa pelacuran itu sendiri di tempatkan hanya pada pelacuran kelamin saja, dan trusterang saya menjadi kurang sreg dengan ini semua. padahal pelacuran itu datang dengan banyak bentuk diantaranya: pelacuran moral, etika, budaya dan kejujuran. jadi apa kita sedang memperbincangkan kita sendiri. dan apakah pantaskah kita menilai oranglain dari kacamata hidup kita yang sebenarnya sama-sama kotor dengan orang lain

    Komentar oleh citra — April 13, 2009 @ 6:07 pm | Balas

  6. […] dari 6 tahun lalu, saya pernah menulis artikel bahwa memberantas pelacuran itu gampang gampang susah. Disebut gampang jika yg dilakukan hanyalah menutup lokasi pelacuran. Gampang juga untuk […]

    Ping balik oleh Menutup Lokalisasi Bukan Solusi Memberantas Pelacuran! | Blog Tausiyah275 — Desember 9, 2013 @ 10:11 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: