Blog Tausiyah275

Agustus 6, 2007

Hukum Mengadzankan Bayi Baru Lahir

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:18 pm

Selama ini aku mendapatkan informasi bahwa bayi yg baru lahir hendaknya diadzankan. Dari informasi yg aku dapat saat itu, adzan ‘mesti’ menjadi hal pertama yg didengar oleh bayi agar bayi tersebut kelak di saat besar nanti akan senantiasa mengingat ALLOH SWT dan terhindar dari godaan syetan. Bapakku sendiri tidakmenceritakan apapun ttg peng-adzan-an ini, karena aku sendiri memang belum bertanya pada beliau. 😉

Nah, belakangan ini aku kian rajin untuk mencek lagi ‘amalan2′ yg aku sendiri kadang masih tidak yakin akan hadits/referensinya. Hasilnya, aku dapatkan informasi yg lebih lengkap mengenai hukum mengadzankan bayi.

Ternyata mengadzankan bayi BUKAN SUNNAH. Penyebabnya adalah dari 3 hadits yg meriwayatkan adazan untuk bayi, ternyata semuanya tidak ada yang mencapai derajat shahih ataupun hasan. Bahkan, ketiga hadits tersebut mempunyai derajat dhaif bahkan maudhu’.

Adapun ketiga hadits yg sering dijadikan rujukan mengadzankan bayi adalah sebagai berikut:
Diantara haditsnya yaitu :

Pertama,

Dari ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ dari bapaknya (yakni Abu Rafi’), ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah adzan di telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah?” (HR. Abu Dawud no. 5105, Tirmidzi no. 1514 dan Baihaqi 9/305, semuanya dari jalan Sufyan Ats Tsauri dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari bapaknya)

Sanad hadits ini dha’if karena ‘Ashim bin Ubaidillah bin ‘Ashim adalah seorang rawi yang lemah dari sisi hafalan. Dia telah dilemahkan oleh jama’ah ahli hadits seperti : Ahmad bin Hambal, Sufyan bin Uyainah, Abu Hatim, An Nasai, Ibnu Ma’in dan lainnya sebagaimana diterangkan oleh Al Hafizh pada Kitab Tahdzib 5/46-49.

Kedua,
Hadits Ibnu Abbas dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (6/8620) dan Muhammad bin Yunus dari Al-Hasan bin Amr bin Saif As-Sadusi ia berkata : Telah menceritakan pada kami Al-Qasim bin Muthib dari Manshur bin Shafih dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas.

“Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan pada telinga Al-Hasan bin Ali pada hari dilahirkannya. Beliau adzan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kiri”.

Al-Baihaqi mengatakan pada isnadnya ada kelemahan. Kami katakan : Bahkan haditsnya maudhu’ (palsu) dan cacat (ilat)nya adalah Al-Hasan bin Amr ini. berkata tentangnya Al-Hafidh dalam At-Taqrib : “Matruk”.

Abu Hatim dalam Al-Jarh wa Ta’dil 91/2/26) tarjumah no. 109 :’Aku mendengar ayahku berkata :’Kami melihat ia di Bashrah dan kami tidak menulis hadits darinya, ia ditinggalkan haditsnya (matrukul hadits)”.

Berkata Ad-Dzahabi dalam Al-Mizan : “Ibnul Madini mendustakannya dan berkata Bukhari ia pendusta (kadzdzab) dan berkata Ar-Razi ia matruk.

Terakhir,
Hadits Al-Husain bin Ali adalah dari riwayat Yahya bin Al-Ala dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin Ali ia berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil) tidak akan membahayakannya”.

Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah (hadits 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma’ Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari, ia matruk”.

Pada hadits Husain bin Ali ra. diatas terdapat rawi yang bernama Jubarah dan Yahya bin ‘Alaa Al Bajaliy. Al Bukhari berkata tentang Jubarah, ‘Haditsnya mudhtharib’ (Mizaanul I’tidal Juz 2 hal. 387 oleh Imam Adz Dzahabi), sementara itu Imam Ahmad berkomentar terhadap Yahya bin ‘Alaa Al Bajaliy, ‘Seorang pendusta, pemalsu hadits? (Mizaanul I’tidal Juz 4 hal. 397)

Kesimpulannya: MENGADZANKAN BAYI BUKANLAH SUNNAH RASULULLOH SAW. Tidak perlu repot2 mengadzankan bayi yg baru lahir. Untuk menjadikan bayi tersebut (saat besar) senantiasa ingat kepada ALLOH SWT dan terhindar dari godaan syetan, mesti dididik dengan pendidikan yg baik dan bekal pengetahuan agama yg baik.

Iklan

17 Komentar »

  1. Ada yang bilang kelak sifat si bayi akan sama dengan orang yang mengadzankannya…

    Komentar oleh ahmad simanjuntak — Agustus 7, 2007 @ 1:01 am | Balas

  2. trimakasih banget mas….:D

    Komentar oleh insumilaki — Agustus 8, 2007 @ 12:24 pm | Balas

  3. Kalau hanya sekedar menambah wawasan saya setuju 100%, akan tetapi sebagai usulan..kita tidak usah meributkan sunnah, apakah kuat/lemah, selama itu baik dan didasari oleh niat yang baik pula maka saya yakin Alloh ta’ala akan sangat “legowo” menerimanya. Kita mesti banyak belajar pengalaman, bahwasanya umat islam banyak terpecah belah, saling menyalahkan, menghujat (diantaranya) oleh karena masalah2 seperti ini…..Sekali lagi sebagai referensi yesss..tapi kita tidak boleh menghakimi……”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
    Maaf kalo ada kata2 yang salah…..

    Komentar oleh kuriman — Agustus 13, 2007 @ 7:10 pm | Balas

  4. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Qutoe kuriman :

    “kita tidak usah meributkan sunnah, apakah kuat/lemah, selama itu baik dan didasari oleh niat yang baik pula maka saya yakin Alloh ta’ala akan sangat “legowo” menerimanya”

    Maaf mas… syarat sebuah amalan diterima oleh Allah SWT adalah dgn niat ikhlas dan dgn ilmu

    ilmu di sini maksudnya ada dalil yg sahih.

    jd niat saja tidak cukup .

    Rasulullah SAW bersada ( saya tdk hafal hadits dan sanadnya ) , intinya bahwa segala sesuatu yg bukan berasal dari kami, maka ia akan ditolak.

    walaupun itu niat nya sangat baik , tp klo itu ibadah yg tidak ada dalilnya, maka itu menjadi bid’ah.

    CMIIW 🙂

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Komentar oleh Andre — Agustus 13, 2007 @ 11:34 pm | Balas

  5. Ass. Wr. Wb.
    Saya orang yang masih sangat “cethek” ilmu agamanya, banyaknya pendapat yang beragam justru membuat umat bimbang…mana yang harus diyakini kalo hadits aja ada yang kuat/lemah. Yg saya tau, yg lebih utama dari segalanya adalah sholat, karena sholat adalah kepala dari semua amal-ibadah kita. Jika sholatnya baik, InsyaAllah semua amal-ibadahnya juga baik. Tapi jika sholatnya saja kurang baik maka semua amal-ibadahnya juga kurang baik.
    Marilah kita tingkatkan kesempurnaan sholat kita agar amal-ibadah kita juga InsyaAllah sempurna. Amin…
    Wass. Wr. Wb.

    Komentar oleh anto — April 3, 2008 @ 11:32 am | Balas

  6. Ass..
    mudahan khilaf ini bisa menambah pemahaman / perbendaharaan ilmu buat kita.. amin. sedikit saya mencoba menambahkan, untuk adzan yang saya pahami adalah sebagai panggilan yang sifatnya mengingatkan bagi kaum muslim bahwa waktu sholat telah tiba selanjutnya diteruskan dengan qomat, bahwa sholat berjamah akan segera dilaksanakan. kaitannya dengan kelahiran bayi mungkin fungsi adzan dan qomat disini akan akan menjadi berubah. dan bila dapat saya ambil contoh, bahwa celana yg agak naik dengan tidak menyentuk tanah adalah bab sombong bukan pada bab sholat..
    wass…

    Komentar oleh cahyo — November 28, 2008 @ 8:43 am | Balas

  7. buat ente, tu pendapat ente&jgn pernah ngajak orang laen untuk ikut otak ente.

    Komentar oleh ilyas — Agustus 22, 2010 @ 2:23 pm | Balas

  8. mau azan ataupun tidak pada bayi baru lahir terserah ortunya dan keluarganya. saya sendiri setuju kalo keluarga/suami saya berazan di telinga anak kami yang baru lahir. Itu baik sekali daripada lgs dengan music disco (siapa tahu pasien sebelah/pengunjung ring tonenya disco). sekalian bwwt reminder kita2 bhw solat itu amatlah pentingnya untuk diri kita sendiri.

    Komentar oleh calon ibu — November 3, 2010 @ 12:30 am | Balas

  9. buat ILYAS, kalau bicara yang sopan, jangan asal ngomong, kalau memang anda orang muslim komentarlah yang sopan, komentar anda memang bermutu tapi rendah….!!!!

    Komentar oleh roy — Desember 22, 2010 @ 9:34 pm | Balas

  10. jika salah telinga dlm mengadzankannya ( adzan ditekinga kiri & iqamat pd telinga kanan ), apakah akan ada masalah dan akan berpengaruh kedlam perkembangan karakter & mentalnya dikemudian hr kelak? terus terang sy br ingat beberapa jam stlh mengadzankannya ( saat lahir pada saat dini hari jd agak mengantuk & over-exciting, jd ketika sang bidan menggendongnya sy slh sisi dkm mengadzankannya )…teriakasih 🙂

    Komentar oleh sedusa — Mei 21, 2011 @ 7:13 pm | Balas

  11. saya setuju jika adzan & iqamat selayaknya mmng dikumandangkan ditelinga bayi Muslim yg baru lahir dan saya tidak melihat hal tsb utk diperdebatkan… jika mmng sunnah, sebaiknya dilaksanakan saja sunnah tsb, jika mmng wajib ya mmng sudah baik jd dikerjakan saja …tiada ruginya.bukankah hanya kpd Allah kita memohon perlindungan dan kita mengharapkan perlindungan Allah utk bayi kita yg msh kecil & lemah serta kita blm mengerti bahasa bayi tsb… semua tergantung pemahaman ilmu & iman masing2 saja.
    @Ilyas: mengapa komentar anda spt itu? something wrong?

    Komentar oleh irish — Mei 21, 2011 @ 7:19 pm | Balas

  12. menurut saya, kajian anda tentang hadist juga masih perlu diragukan… yang saya pahami mengapa bayi diadzankan saat baru lahir adalah berkaitan dgn perjanjian dengan Allah saat masih di zaman ruh, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah begitupun saat dilahirkan tidak ada kata2 lain, yang paling pertama kali di dengar oleh bayi selain kalimat tauhid dari azan tersebut.

    Komentar oleh nadya — Juni 3, 2011 @ 9:03 pm | Balas

  13. Adapun hadits-hadits yang dlaif (lemah) tidak bisa menentukan suatu hukum apapun. Juga tidak bisa mewajibkan sesuatu atau menjadikannya mustahab (sunat) seperti ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Tidak seorangpun dari para ulama yang menyatakan bolehnya menganggap sesuatu adalah wajib atau mustahab dengan hadits dlaif. Barangsiapa yang mengatakan demikian, maka dia telah menyelisihi ijma’ dan kesepakatan para ulama!”. (Majmu’ Fatawa, 251)

    Komentar oleh y2k — Juni 20, 2011 @ 10:58 am | Balas

  14. Dalam perkara agama
    “Itu kan baik”
    Lalu baik kata siapa?kalo baik kata Allah dan Rasul-Nya itu baru bener, tapi kalo baik menurut pendapat manusia…wah,bisa ancur ni agama.

    Gimana kalo ketika shalat pada saat ruku’ saya baca al-fatihah 3X,pada saat i’tidal saya baca al-kafirun 2X dan pada saat sujud saya baca yasin1X.
    Kalo di tanya lalu saya jawab “kan itu baik”

    Komentar oleh suka2 — Juli 14, 2011 @ 11:09 am | Balas

  15. Dalam urusan agama (ibadah) BAIK saja belum cukup, harus diikuti dengan BENAR, sesuai dengan syariat.

    Komentar oleh wawan — Juli 18, 2011 @ 4:49 pm | Balas

  16. Kembalilah kepada Alqur’an dan sunnah, perlu kita ketahui 90 persen dari kita beragama berdasarkan dari kebiasaan orang tua (Turunan), klo orang tuanya islam ya islam pula anaknya, sekarang tugas kita bagaiman beribadah dengann berdasarkan Alqur’an dan hadist….(bukan berdasarkan niat aja, itukan lebih baik, kan gak ada salahnya, kan itu buat syiar agama…dll)
    Klo berdebat tidak menggunakan dalil dalil, maka akan berkembang menjadi perpecahan sesama umat…, dimana mereka saling mempertahankan pendapat masing2….Allahualam

    Komentar oleh Pro-Sunnah — Agustus 22, 2011 @ 10:27 am | Balas

  17. Maaf, saya tidak berusaha menyalahkan siapa pun, tapi ada hal yang harus kita ingat, fiqh ibadah adalah JANGANLAH BERIBADAH KEUALI YANG DIPERINTAHKAN sedangkan fiqh muamalah adalah LAKUKAN APA SAJA KECUALI YANG DILARANG.
    Bila adzan di iqomat di teliga bayi baru lahir dianggap sebagai muamalah dan membawa kebaikan, maka apakah Rosulullah DIANGGAP tidak memberiikan contoh yang baik? Padahal kita tahu Rosulullah adalah sebaik-baik contoh bagi kita.
    Wallahu a’lam bishshowab

    Komentar oleh Anton — Agustus 25, 2011 @ 6:49 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: