Blog Tausiyah275

September 12, 2007

Bermaaf-maafan Menjelang Ramadhan Dan Saat Lebaran

Filed under: Ensiklopedia Islam,Hikmah,HOT NEWS,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 5:50 am

Hampir setahun lalu, aku menulis sebuah artikel berisi tradisi menjelang Ramadhan. Dalam salah satu poin, aku tuliskan bahwa di Indonesia berlaku tradisi untuk mengucapkan maaf kepada orang lain, meminta maaf atas kesalahan2 yg pernah diperbuat, beberapa hari menjelang Ramadhan dimulai.

Aku berniat MENGGUGAT tradisi ini. Mengapa? Kembali, Rasululloh SAW TIDAK PERNAH MENCONTOHKAN kegiatan ini!

Lho, bukankah ini perbuatan baik? Kenapa dilarang?

Saudara2ku, kegiatan maaf memaafkan memang baik, tapi hendaknya DILAKUKAN TIDAK SAJA MENJELANG RAMADHAN, namun (jika perlu) dilakukan tiap hari setelah sebelumnya melakukan muhasabah.

Aku sendiri jelas mempunyai banyak kesalahan, terlebih lagi karena kita semua bukanlah Nabi yang ma’sum (terjaga dari kesalahan). Namun demikian, sekali lagi, aku TIDAK PERNAH MENEMUKAN hadits ataupun contoh Nabi, bahkan ijtihad para ulama, yg menyatakan/mencontohkan sikap/tindakan saling memaafkan menjelang Ramadhan.

Perbuatan meminta maaf hendaklah dilakukan segera setelah kita melakukan perbuatan salah, baik sengaja ataupun tidak. Bukankah hal tidak mungkin, apabila pada 17 Agustus lalu, saat kita menonton acara 17an, lalu kita menginjak kaki seseorang…lalu baru meminta maaf sekarang?

Selain itu, ‘tradisi’ meminta maaf ini kadangnya sifatnya musiman. Maksudnya, 2 hari menjelang Ramadhan, si A meminta maaf kepada si B, tapi saat tarawih malam pertama, si A berbuat kesalahan dan tidak meminta maaf. Walhasil, permintaan maaf yg dilontarkan si A beberapa hari yg lalu terkesan hanya sebatas ucapan di bibir saja, tidak diikuti dg niat dan tindakan yg nyata.

Hal kedua yg hendak aku gugat adalah pernyataan maaf saat Lebaran (‘Idul Fitri) tiba. Sama halnya dg tradisi bermaaf-maafan menjelang Ramadhan, untuk kasus ini aku juga tidak temukan di hadits manapun. Barangkali hanya tradisi di Indonesia dan kaum Muslim di Timur saja ya?

Rasululloh SAW sendiri memberikan contoh, pada saat Lebaran tiba, beliau mengucapkan,”taqabbalallahu minaa wa minka”, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Hanya saja, hadits ini dianggap dhaif oleh ulama Al Baihaqi.

Adapun di masyarakat kita, sudah terjadi salah kaprah. Ucapan yg senantiasa terlontar adalah “Minal ‘Aidzin wal Faidzin”, yg diteruskan dg “Mohon Maaf Lahir Batin”. Padahal, ucapan lengkapnya adalah “Ja’alanallahu Wa Iyyakum Minal ‘Aidin Wal Faidzin”, yg artinya “Semoga ALLOH SWT menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang)”.

Padahal sebenarnya ucapan tersebut hanyalah KEBIASAAN di masyarakat. Selain itu, ucapan tersebut lebih layak diberikan kepada orang2 yg memang telah berhasil menjalani ibadah Ramadhan dg ibadah yg benar serta berbekas di bulan2 selanjutnya.

Sayangnya, kesalahkaprahan ini sudah sedemikian merasuk. Orang2 yg puasa Ramadhannya masih ‘bolong2’, kemudian tetap mengeluh saat Ramadhan tiba (sehingga hatinya tidak ikut berpuasa dg baik) ikut diucapi kalimat ini.

Lalu, ucapan Lebaran seperti apa yg ‘benar’?

Memang, ucapan Lebaran ini tidak termasuk kepada ritual/ibadah. Tidak dicontohkan oleh Rasululloh SAW, bukan berarti ucapan Minal ‘Aidzin ini lantas dilarang. Aku sendiri menulis artikel ini tidak berarti ‘mengharamkan’ ucapan2 Lebaran yg berlangsung di masyarakat kita…justru aku juga senang dg ucapan2 Lebaran tersebut, karena pada dasarnya ucapan2 tersebut adalah DOA.

Aku hanya berniat ‘meluruskan’ dan memberitahukan apa2 (pengetahuan agama) yg aku ketahui. Tugasku hanya menyampaikan, tidak ada paksaan untuk mengikuti apa2 yg aku tuliskan, karena aku manusia biasa, bisa jadi yg aku ucapkan dan tuliskan justru salah.

Jadi…jika anda-anda pendukung gerakan ini merasa tersudutkan atau telinganya menjadi panas serta hatinya geram apalagi sampai merasa kebakaran jenggot, aku minta maaf untuk kelancanganku ini.

Iklan

39 Komentar »

  1. Menurut saya, kadang kita gak tau kapan berbuat salah. Misal kita nginjek kaki orang, tapi kita gak sadar, sedangkan orang diinjek udah naik pitam, lalu waktu berlalu begitu aja tanpa ada penyelesaian, apa salah kalo kita minta maaf sekarang ? Pada dasarnya, saya mengatakan ‘mohon maaf lahir bathin’ sebelum puasa, karena mau ‘bersih’ sekalian pada saat menjalankan ibadah puasa. Kalau dibilang sekedar lipservice, kita kembalikan ke masing2 orang ya..

    Komentar oleh Arie — September 12, 2007 @ 10:15 am | Balas

    • Intinya si niat minta maaf dr lubuk hati yg terdalam ..dan tidak berbut lagy kesalhan yg seperti kemarin yg sudah kita perbuat…perpedaan hidup wajar…intinya haya satu niat minta maaf dan ibadah karna alloh s.w.t

      Komentar oleh ajun_samawa58@gmail.om — Juli 16, 2015 @ 8:15 am | Balas

  2. Semua amalan berpulang kepada niatnya … Kalau syariat memang sudah pasti harus kita jalankan, tapi jika tidak disyariatkan, ya tidak selalu harus langsung ditinggalkan mentah-mentah dan menganggapnya bidah.

    Kalau dulu zaman Nabi yang Mulia orang tidak naik pesawat kalau berangkat Haji lalu jangan lantas yang tidak dicontohkan itu (naik pesawat) dikesankan jelek, atau salah..

    Jangan asik mencari perbedaan, yakini saja yang menurut kita terbaik karena sebagai manusia dewasa, konsekuensi perbuatan kita adalah harus bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allh SWT sebagai pribadi masing-masing..

    Komentar oleh googler — September 12, 2007 @ 10:51 am | Balas

  3. Setuju sama bang Fahmi.
    Aku paling sebel sama orang yang bilang “Tunggu aja pas lebaran, ntar juga dimaafin.” –> kesannya jadi seperti nggak menyesali kesalahannya dan enggan meminta maaf (kan, maaf adalah salah satu kata tersulit untuk diucapkan dengan sungguh-sungguh, setuju?).
    Lalu, kalau sudah melewati lebaran, ada orang yang masih belum/sulit memaafkan kesalahan orang lain, langsung dicap yang aneh-aneh. Padahal, bisa jadi sebenernya kesalahan yang diperbuat kepadanya itu sungguh-sungguh berat, sampai untuk merelakan dan memaafkannya pun butuh perjuangan.
    But… namanya juga udah jadi budaya… *sigh* mau gimana lagi.

    Komentar oleh tya — September 12, 2007 @ 10:51 am | Balas

  4. Jadi mesti gimana kalo ini salah ini bid’ah????? Saya pikir jangan semakin membuat bingung banyak orang, kasihan jika kebetulan si pembaca artikel ini orang yang pengen belajar dan tahu banyak nanti jadi tambah bingung…… Kita jalanin aja sesuai keyakinan kita masing – masing, pada prinsipnya kita sama – sama mencari amal di dunia ini jadi biarkan Allah SWT yang menilai atas apa yang kita lakukan.Yang pasti Jalan kan perintah AllAh sesuai Al Qur’an dan ikut sunnah Rasul dengan pengetahuan dan keyakinan for the next Wallahualam bishawab….

    Komentar oleh looky — September 12, 2007 @ 4:06 pm | Balas

  5. bang….coba di googling keyword ‘persiapan puasa’

    di poin ketiga….
    Persiapan Puasa yg perlu dilakukan:
    1. Berdoa agar diberikan umur yg cukup agar sampai ke Ramadhan
    2. Merasa bergembira dg kedatangan bulan Ramadhan
    3. Minta maaf kepada kerabat, teman, dan kenalan2

    gmn tuh??

    Komentar oleh sumi — September 12, 2007 @ 4:22 pm | Balas

  6. Berbaik sangka…
    Itu yg ingin saya sampaikan pada penulis… kita semua setuju bahwa meminta maaf adalah perbuatan baik. Apakah perbuatan baik itu karena dilakukan berbarengan dengan (yg penulis anggap)tradisi menjadi “tidak baik”? Anda mengatakan tidak seharusnya dilakukan beberapa hari menjelang puasa. Kenapa tidak boleh? Apa karena tidak ada tuntunan dr Rosul jd kita tidak boleh meminta maaf menjelang Ramadhan tiba? Teman… jangan karena mempermasalahkan timing (waktu) saja sehingga esensi dari bermaaf-maafan jadi dinafikan. Apa saudara tidak melihat banyaknya pertikaian yg mencair setelah bermaafan menjelang puasa dan saat idul fitri?
    Kenapa menunggu waktu menjelang puasa dan idul fitri? Menurut saya jawabannya adalah meminta maaf dan memaafkan dengan tulus dan ikhlas perlu persiapan bathin. Dan ini bukan masalah sepele, terlebih bagi 2 pihak yang berseberangan pendapat, cara pikir dan yang sedang berselisih. Atmosfer Ramadhan yg bergitu kuat membawa suasana bathin yg lebih tenang baik dalam berfikir maupun bertingkah laku. Itulah salah satu yg mendorong seseorang untuk introspeksi diri sehingga menyadari ada salah yg dilakukan di masa lalu kpd rekan, kerabat dan saudara. Saat bathin sudah siap maka ucapan mohon maaf dan memberi maaf dengan tulus sudah tidak ada halangan lagi. Semangat menghadapi Ramadhan inilah yg seharusnya kita ambil.
    Memang idealnya meminta maaf dilakukan pada saat itu jg. Yang jd permasalahan apakah kita benar2 sadar kapan telah berbuat salah kepada seseorang. Kalau saya….. saya jawab dengan tegas “Saya tdk tahu kapan dan dimana ucapan dan perbuatan saya yg menyinggung perasaan orang lain” Mungkin anda tahu?

    Mengapa anda tidak memberikan pemikiran “Bagaimana memberi maaf dengan tulus menjelang Ramadhan dan Idul Fitri?” Karena memberi maaf Jauh lebih berat dari meminta maaf.
    Sekali lagi berbaik sangkalah… komentar ini jg dalam rangka berbaik sangka…

    Komentar oleh syams — September 13, 2007 @ 10:27 am | Balas

  7. assalamualaikum,

    mungkin saya boleh ikutan memberikan masukan, sesungguhnya semua perbuatan ibadah itu haram dikerjakan kecuali ada dalil perintah dari Allah dan dicontohkan oleh Rasulallah saw, dan semua perbuatan menyangkut keduniaan itu adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
    untuk kasus di atas, kalau anda menyebut salam-salaman tersebut bukan ibadah, kenapa anda berani sekali mengatakan hal tersebut salah… maaf-memaafkan adalah perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap mahluk yang merasa salah, karena dalam diri kita ini tidak ada yang sempurna.

    Allahu’a’lam

    Komentar oleh zamroni — September 13, 2007 @ 11:10 am | Balas

  8. Coba deh baca buku lentera hari karya Prof. Dr. Quraish Shihab. Beliau menjelaskan masalah ini juga dengan sangat bijaksana.

    Komentar oleh irwanto — September 13, 2007 @ 1:28 pm | Balas

  9. assalamua’laikum
    menurut saya, anda kurang begitu bijaksana dalam menggunakan kata kata.Memang salam-salaman itu bukan hanya waktu lebaran saja, dalam sebuah hadist “tashofahu yadzhabul ghillu” tapi yang saya minta, anda lebih bijaksana dalam menggunakan kata kata , Jazakumulloh khoiron katsron
    wassalamu’alaikum

    Komentar oleh luthfi — September 14, 2007 @ 5:32 am | Balas

  10. Emm… kalo esensi melakukan kesalahan tanpa disadari apakah termasuk perbuatan dosa?
    Bukankah dosa itu tidak berlaku untuk 3 hal, yakni: tidak tau, tidak sengaja, tidak ingat.

    Jadi kalo tidak sadar melakukan kesalahan, lalu minta maaf untuk hal apa? Bagi yang memaafkan, memaafkan untuk hal apa?

    Kalo sadar telah melakukan kesalahan, ya minta maaf saat itu juga.
    Kalo misalnya was-was ada kesalahan yang telah terjadi, minta maafnya segera, bukan menunggu timingnya.

    Komentar oleh Aryo Sanjaya — September 14, 2007 @ 8:39 am | Balas

  11. kita ngomongin apa to bro?

    Komentar oleh elthuzad — September 14, 2007 @ 2:40 pm | Balas

  12. gitu aja kok repot. seperti dicontohkan para nabi apabila kita
    bersalah hendaknya langsung minta maaf jangan nunggu lebaran ntar keburu mati malah di tagih di akhirat………. hahahaha

    Komentar oleh omenisty — September 14, 2007 @ 5:26 pm | Balas

  13. easy bro, sabar sabaar sabaaar hehehehehehe

    Komentar oleh budi santoso — September 15, 2007 @ 8:04 am | Balas

  14. sudahlah… manusia itu unik, punya pikiran, pengalaman dan rasa sendiri2.. yang penting khan iman dan amal saleh..
    jangan buat ruwet.. ini masalah sepele, aku yakin Alloh tidak mempermasalahkan hal ini (insyaAlloh.. mudah2an Alloh ampuni kalo hamba salah.. amin…)
    sekarang yang dipikir adalah: setelah puasa ini kita tetep bisa bantai (ekstreemnya) syahwat ngga? tetep bisa nahan marah ngga? tetep bisa khusyuk ngga? tetep belajar islam ngga? lebih produktif ngga? lebih pinter ngga? hilangkan malas ngga? berhenti merokok ngga? berhenti mengeluh ngga? berhenti liat bokep ngga (hayoooo…)? tetep ke masjid ngga? tetep tahajud ngga?

    coba bayangkan, kita disini masih debat masalah sepele seperti bermaaf-maafan. padahal, diluaran sana, orang yang ngga puasa dan lebaran udah mikirin gmana caranya buat kapal yang bagus, kuat melawan ombak. gmana caranya buat pesawat yang irit bahan bakar. gmana caranya buat mobil yang ramah lingkungan. gmana caranya mengatasi global warming.gmana caranya mengatasi kemiskinan keluarga. dll
    ya ngga?

    udahlah… yuk kita lebih maju 🙂
    pizz… wassalam

    Komentar oleh rendy — Oktober 11, 2007 @ 2:20 pm | Balas

    • Betul bang rendy

      Komentar oleh aa — Juli 16, 2015 @ 8:25 am | Balas

  15. kalo kayak gini mah saya sependapat sama bang rendy, mendingan kita mikirin gimana caranya mensejahterakan umat, dimana sebagian besar umat islam baik di negara kita di afrika sana & di belahan dunia lainnya masih banyak yg kelaparan…….daripada mempersoalkan hal2 yg tidak prinsipil seperti ini…wassalam

    Komentar oleh ridwan — Oktober 11, 2007 @ 8:02 pm | Balas

  16. take it easy man….
    maaf2an pada saat sebelum ramadhan & lebaran budaya yang baik…

    Komentar oleh lisa nazla — Oktober 13, 2007 @ 8:22 am | Balas

  17. Memang Halal bihalal ini,sbgmn yg menjadi tradisi sampai saat ini tidak ada landasan dlm agama Islam,baik itu dr Al Qur’an maupun Hadit2 Rasulullah SAW,hal ini hanya merupakan tradisi di Indonesia terutama orang jawa,seperti balimau,katibo bulan Ramadhan di daerah minang.
    Bila suatu kebiasaan seperti halal bihalal yang terkait dengan amalan agama, maka dasarnya adalah:
    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunan (ajaran)nya dari kami, maka amalan itu akan tertolak (di sisi Allah subhanahu wata’ala).” (HR. Muslim)

    Komentar oleh utomo — Oktober 30, 2007 @ 6:57 am | Balas

  18. aku pernah baca :
    Doa malaikat Jibril menjelang ramadhan…. kalau ga salah bunyinya gini….

    “Ya Allah, tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulanramadhan dia tidak melakukan hal2 sbb:
    1. tidak minta maaf, terlebih kepada ke-2 orang tuanga (jk masih ada).
    2. tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri
    3. tidak bermaafan terlebih dahulu dengan saudara dan orang2di sekitarnya…
    Maka Rasulullah pun mengatakan amin sebanyak 3x.

    Komentar oleh via — September 2, 2008 @ 10:48 am | Balas

    • adakah sumber yang relevan tentang apa yang telah anda sampaikan…??

      Komentar oleh dfsmkn41 — Juni 5, 2016 @ 6:43 pm | Balas

      • dan jika ada maka anda harus mengetahui apakah hadits yang anda bawakan merupakan hadits yang benar(shahih),ataukah hanya hadits yang dhaif(sesat)…yang saya ketahui bunyi dari hadits tsb seperti ini :
        Dari Ka’ab bin Ujrah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Mendekatlah kalian ke mimbar!”

        Lalu kami pun mendekati mimbar itu. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, “Amin.” Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, “Amin.” Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, “Amin.”

        Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata,

        “Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.”

        Rasulullah saw. bersabda, “Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata,

        “Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan.” Maka aku berkata, “Amin”

        Ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata,

        “Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu.” Aku pun berkata, Amin.’

        Ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata,

        “Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga.” Akupun berkata, Amin :”  (HR. Hakim)

        Komentar oleh dfsmkn41 — Juni 5, 2016 @ 6:52 pm

  19. maksud ikhwan(sobat) ku betul… tapi kita kaji dulu makna iedul fitri pasti semua dah tau makna nya…
    dan seperti penjelasan ikhwan tadi bahwa insan yang mempunyai sifat ma’sum hanya lah nabiyyullah saw. jadi kita sebagai insan biasa adalah tempat nya salah dan lupa kita diberi allah swt untuk untuk saling memaafkan dihari lebaran ini harus nya ikhwan banyak bersyukur diberi nikmat umur hingga dapat menikmati indah nya iedul fitri… masihkah kita bertemu dihari lebaran mendatang…(B)(Y)

    Komentar oleh rajagoda — September 16, 2008 @ 7:54 pm | Balas

  20. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin
    Salam Kenal..

    Komentar oleh senja — Oktober 2, 2008 @ 3:04 pm | Balas

  21. ente smw hanya mikirin syariatnya az…..ga mikirin hakikatnya
    bukankah klo dah salaman setiap insan telah luntur tuh kesalahan dan dosa..kita az ga tau amal ibadah kita d terima ato ngga…..rasain klo kita salaman sambil mendekap erat siapa saja yang kita cintai dengan haknya…coba rasain…….disitu tuh hakikatnya
    jangan sampe yang kita pelajarin ato kita belajar ma buku doang robek satu halaman….jd seseuatu yang hilang ……dari ilmu.makanya jangan belajar ma buku doang…
    belajar ma guru yang membawa kita pd cinta Allah…”fas aluu ahla dzikri inkuntum lata’lamun”.Akhirnya kita harus btanya juga ma ahli zikir,,…Orang yg bener2 deket ma Allah.” Akhirnya kan “la’alakum tattakun”

    Komentar oleh hoiri — Oktober 6, 2008 @ 4:20 pm | Balas

  22. hoiri,..pass banget..:)..Kang Fahmi,…iya tuh,..yg begitu aja dipermasalahkan,..hari gini gitu lho?..kan bangus maaf2an mau kapan pun juga,…mau menjelang ramadhan kek mau kapan kek,…pas mau lebaran kan bagus juga supaya ibadah puasanya ga ada halangan,..ya ga kang?…mohon maaf lahir batin nih buat Kang fahmi,…udah msuk 2 hari ramadhan,..(iseng kunjungi blog nya)

    Komentar oleh bunga — Agustus 24, 2009 @ 2:15 pm | Balas

  23. tuk sdr. via, yg anda sebutkan itu hadist riwayat sapa n shahih apa gak? cantumkan dong..Barangkali ada yg tau, tlg ya?

    Komentar oleh giri — September 8, 2009 @ 5:03 am | Balas

  24. salut buat antum

    Komentar oleh indra — Oktober 13, 2009 @ 11:37 am | Balas

  25. Walla..mau berbuat baik aja susah….piye to….weslah maafin yee…mo masuk bulan ramadhan nich..hehehe

    Komentar oleh agung — Agustus 5, 2010 @ 1:53 pm | Balas

  26. Ini perlu diwaspadai karena biasanya, ajang maaf-maafan dilakukan oleh laki2 & perempuan yang bukan mahramnya!

    Komentar oleh Ucup — Agustus 6, 2010 @ 12:47 pm | Balas

  27. wahai saudaraku yang insya Allah dimuliakan Allah,
    saya sepakat bahwa kita tidak boleh kita harus mengikuti sunah Rasul dan tidak boleh menambah-nambah sunahnya. saya pegang prinsip itu karena bid’ah itu memang sesat. tapi perlu dicatat bahwa bid’ah itu hanya berkaitan dengan ibadah, bila hal baru bukan berkaitan dengan ibadah tentu bukan termasuk ibadah. minta maaf sebelum Ramadhan (tremasuk juga saat Idul Fitri) bukan suatu ritual yang ditujukan langsung kepada Allah artinya walaupun itu hal baru tapi itu bukanlah bid’ah.
    selain itu sebelum Ramadhan dan saat Idul Fitri adalah moment yang sangat tetap. Mungkin saja waktu2 biasa kita sungkan untuk minta maaf selain itu bisa saja kita tidak tahu kalau kita sudah berbuat salah.
    Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda
    “Barangsiapa yg membuat sunah di dalam Islam sunah yg baik maka baginya pahala dan pahala orang yg mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala orang yg mengikutinya. Dan barangsiapa yg melakukan sunnah dalam Islam sunah yg buruk maka baginya dosa dan dosa orang yangmengikutinya tanpa mengurangi dosa orang tersebut.”

    Komentar oleh Muksin — Agustus 11, 2010 @ 8:52 am | Balas

  28. […] kaprah lainnya adalah bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran. Share this:FacebookTwitterLike this:SukaBe the first to like this post. Tinggalkan sebuah […]

    Ping balik oleh Bersih-bersih Dan Mandi Menjelang Ramadhan « Blog Tausyiah275 — Desember 1, 2011 @ 5:41 pm | Balas

  29. […] lalu saat Isra’ Mi’raj, kemudian rajaban, belum lagi tahlilan, yasinan di malam Jumat, bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran, dan masih banyak […]

    Ping balik oleh Ibadah Di Momen/Waktu Tertentu Saja « Blog Tausyiah275 — Juli 6, 2012 @ 5:29 am | Balas

  30. […] ini kita lakukan pada rekan kerja ataupun pada bawahan kita, maka minta maaflah esok harinya. Tidak perlu menunggu Ramadhan atau Lebaran setahun lagi untuk meminta maaf, takutnya anda keburu […]

    Ping balik oleh Pintu-pintu Kesombongan « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:39 am | Balas

  31. o.. kurang ajar koe le’…..!!

    Komentar oleh mirza — Agustus 5, 2013 @ 11:59 pm | Balas

  32. Jgn jadikan sesuatu yg hukumnya tdk jelas dijadikan sbgai sesuatu yg wajib, seakan2 klo gk halal bihalal atau tidak minta2 maaf menjadikan Romadan yg akan kita jalani menjadi tidak sempurna, utamakan ibadah dan keikhlasan hati utk memaafkan tanpa harus diminta maafnya olh org lain, InsyaAllah itu lebih utama

    Komentar oleh rosyid — Juni 29, 2014 @ 10:15 pm | Balas

    • tepat sekali, mas Rosyid 🙂

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juni 30, 2014 @ 5:21 pm | Balas

  33. Buat admin. Apa anda waktu lebaran tidak saling maaf memaafkan kepada orang tua. Sodara. Teman dan tetangga anda.?
    Kalau anda melakukan nya. Sebaik nya gk perlu menulis seperti ini. Pada dasar nya saling maaf memaafkan itu baik. Apalagi di hari fitri. Idul fitri. Tau kan mksd dari fitri.

    Memang tidak ada di ajaran nabi. Apa salah nya.

    Bener anda bilang. Tidak mengharamkan. Tidak melarang. Itu kan hanya tulisan. Apa hati nya juga bilang seperti yg anda tulis.?

    Numpang lewat aja ya.

    Komentar oleh admin blog — November 27, 2014 @ 1:29 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: