Blog Tausiyah275

Oktober 3, 2007

Lebaran Berbeda? Jangan Donk!

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 3:03 pm

Saudara-saudaraku, kita sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Ini berarti 1 Syawal akan segera tiba dan itu berarti umat Islam (Indonesia) kembali akan berdebat dan berbeda pendapat mengenai penentuan kapan 1 Syawal tiba. ‘Penyakit’ ini, anehnya, hanya muncul pada saat penentuan 1 Syawal, sementara untuk hari raya Idul Adha tidak ada masalah.

Jauh-jauh hari, Muhammadiyah sudah mengeluarkan pernyataan bahwa (menurut mereka) 1 Syawal akan jatuh pada 12 Oktober 2007. Sementara NU dan Pemerintah sendiri, meski belum secara pasti menetapkan, dari kalender yg beredar dan kita gunakan, 13 Oktober 2007 yg dinyatakan sebagai awal 1 Syawal 1428H.

Aku sendiri, terus terang, merasa lelah melihat perdebatan tiada akhir untuk penentuan 1 Syawal ini. Sekian ratus tahun lalu, rasa-rasanya tidak pernah ada cerita kaum Islam ribut untuk masalah seperti ini.

TOLONG, PARA PEMIMPIN ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA….JANGANLAH KALIAN EGOIS, DENGAN LEBIH MEMENTINGKAN GOLONGAN KALIAN SENDIRI!!

Tanya: “Lho, Mas, kok anda menganggap para pemimpin organisasi Islam tersebut egois?”
Jawab: “Ya…saya memang menyatakan mereka egois!”

T: “Lho, apa sebabnya Mas? Hati2 lho jika bicara!!”
J: “Justru saya merasa saya sudah cukup hati-hati dan sopan berbicara. Saya katakan mereka egois karena sikap mereka membuat umat terpecah belah! Logikanya, bagaimana mungkin, para kaum muslim di sebuah negara merayakan hari raya yg berbeda? Maaf, ini tidak masuk logika saya…kecuali anda bisa menjelaskan!”

T: “Bukankah mereka juga menggunakan dan punya pendapat yg shahih untuk menetapkan hari raya 1 Syawal?”
J: “Saya tahu itu, dan saya juga yakin ilmu mereka, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan mereka juga bagus. Mereka juga pasti punya alasan, namun bagaimanapun…sikap mereka membuat umat resah dan menjadikan saling menyalahkan.”

Percakapan imajiner di atas mungkin pernah kita dengar, bahkan barangkali kian sering kita dengar seiring dengan adanya perbedaan merayakan 1 Syawal. Aku sempat lihat, lebih kurang 3-4 kali kita, umat Muslim di Indonesia, merayakan 1 Syawal di hari yg berbeda (berdasr kalender Masehi). Yg sering aku tangkap, kegelisahan umat yg begitu meruyak dan membubat miris hati.

Di saat umat lain sudah tiba di permukaan bulan (dan mengeksplor dan meneliti bulan) serta mulai ‘berebut’ menjelajah planet, bahkan galaksi lain, umat Islam (terlebih lagi umat Islam di Indonesia) masih saja ribut di tataran yg (sebenarnya) sederhana ini.

T: “Lantas, apa pendapat dan solusi dari anda, Mas?”
J: “Baik…saya akan jelaskan sebagai berikut. Menurut saya, kaum muslim di Indonesia hendaknya MEMPERCAYAKAN KEPADA PEMERINTAH untuk MENETAPKAN 1 SYAWAL INI!”

T: “Lho, mengapa kita mesti bergantung pada pemerintah?”
J: “Saudaraku, saya punya pendapat bahwa pemerintah punya wewenang untuk mengambil/menetapkan suatu kebijakan untuk menenangkan umat. Dalam kasus ini, agar umat tidak terpecah belah dalam penentuan 1 Syawal, hendaknya pemerintah segera melakukan tindakan.”

T: “Tindakan seperti apa yg Mas maksudkan?”
J: “Pemerintah bisa mengutus dan memerintahkan sebuah lembaga/organisasi yg independen (dari kepentingan organisasi2 agama) dan mempunyai ilmu pengetahuan di bidang astronomi untuk melakukan perhitungan dan pengamatan agar didapat hasil final tentang awal 1 Syawal.”

T: “Aduh, saya tidak mengerti…bisa Mas jelaskan lebih lanjut?”
J: “Begini…di Indonesia sudah banyak ahli2 astronomi, terutama yg beragama Islam. Tidak sedikit di antara mereka mempunyai ilmu agama dan ilmu astronomi yang lebih mendalam daripada rakyat kebanyakan. Mereka ada yg bekerja di LAPAN, ada yg menjadi pengamat. Nah, pemerintah bisa meminta mereka bersama-sama dengan ulama (dari berbagai aliran), untuk duduk bersama, melakukan pengamatan, merumuskan dan akhirnya menetapkan kapan 1 Syawal dimulai.”

T: “Hmmm…betul juga. Ide yg bagus, terutama mengundang dan mengikutsertakan ulama dari berbagai aliran. Dengan demikian, kesepakatan yg diambil tidak bersifat sepihak dan merugikan serta menyalahkan orang lain.”
J: “Ah, tepat sekali…anda mulai mengerti maksud saya.”

T: “Lalu…lalu…?”
J: “Saya malah mempunyai usulan, bagaimana jika penelitian yg dilakukan para ilmuwan dan ulama tersebut juga dijelaskan kepada masyarakat, bahkan jika perlu disiarkan secara langsung prosesnya. Misalnya, proses melihat bulan (hilal). Kamera televisi, bahkan kamera digital di jaman sekarang sudah mempunyai tingkat ketelitian dan hasil pengamatan yg cukup teliti. Dari sana, rakyat bisa melihat (dan dilibatkan) secara langsung proses yg sedang berlansung. Jika memang bulan tampak, maka 1 Syawal sudah segera tiba. Sebaliknya 1 Syawal akan ‘mundur’ apabila dari hasil pengamatan ternyata tidak tampak bulan. Hasilnya kaum muslim tidak ‘dibodohi’ seperti selama ini. Selain itu, dengan adanya keterlibatan kaum muslim, akan membuat kaum muslim Indonesia juga ikut bertanggung jawab serta lebih dewasa dalam bersikap.”

T: (menyimak)
J: “Saya sendiri yakin, selama ini pemerintah melakukan hal di atas. Namun, kaum muslim (yg notabene adalah masyarakat awam) lain tidak, eh, belum dilibatkan. Mudah2an usul saya ini bisa diterima dan dilakukan.”

T: “Oooo…begitu ya. Jadi, kenapa sekarang di Indonesia selalu terjadi perbedaan 1 Syawal ya Mas?”
J: “Seperti yg saya katakan tadi, para pemimpin ormas (organisasi massa) Islam di Indonesia kadang (atau malah sering?) selalu egois. Mereka lebih mengedepankan kepentingan golongannya dibandingkan kepentingan umat semua. Mereka lebih suka menyalahkan dan memicu persoalan serta perbedaan, daripada duduk bersama dan mencari solusi. Apakah mereka tidak menyadari bahwa umat menjadi terpecah belah dan terkotak-kotak akibat tindakan egois mereka?”

T: “Ya ya ya…betul juga. Saya setuju dengan pendapat anda.”
J: “Begitulah…padahal mestinya umat Islam tidak perlulah dipusingkan dengan perbedaan2 ‘tidak penting’ seperti ini. Kapan majunya kita jika energi dan waktu kita habis terbuang percuma untuk mengurus hal2 seperti ini?”

T: “Setuju. Nah, omong-omong, sikap anda sendiri bagaimana tentang 1 Syawal ini?”
J: “Insya ALLOH saya akan ikut pemerintah, nurut saja…tapi bukan berarti tidak kritis. Seperti yg saya sebutkan di atas, saya yakin pemerintah kita tidak sembarangan menentukan 1 Syawal. Banyak pihak, ilmuwan dan ulama, dilibatkan.”

T: “Jika saya ikut 1 Syawal ormas yg berbeda, bagaimana?”
J: “Yaa…itu hak anda, saya tidak bisa melarang dan memaksa anda ikut pendapat saya. Hanya saja saya jadi ga sreg…”

T: “Ga sreg gimana tho?”
J: “Yaaa…kok bisa, umat Islam ada yg sudah Lebaran sementara ada umat Islam lain yg masih puasa?”

T: “Bukannya kebalik? Sudah lebaran kok masih puasa?”
J: “Ya ya ya…itu bergantung dari sudut pandang siapa.”

T: “Tapi tali silaturahim kita tidak putus kan Mas?”
J: “Lho, kenapa beda pendapat seperti ini mesti memutuskan tali silaturahim?”

T: “Soalnya saya sering mendengar berita, karena beda merayakan 1 Syawal, lantas kampung A memusuhi kampung B. Bahkan di dalam keluarga, anak dan bapak bisa bermusuhan karena si anak ikut ormas sementara si bapak ikut pemerintah, atau malah sebaliknya.”
J: “Wah wah wah….ternyata ruyam toh masalahnya karena beda 1 Syawal?”

T: “Betul juga Mas. Eh, omong2, nama Mas siapa ya? Dari tadi kita ngobrol, saya belum kenalan nich..”
J: (terdiam seribu bahasa)

Iklan

26 Komentar »

  1. Lebaran Berbeda? Jangan Donk, siapa sih yang menjawab nya.
    saya penasaran, pasti orangnya suka persatuan dan ukhuwah,
    idul fitri itu sunah,dan ukhuwah itu wajib, penting mana, wajib apa sunah? sudah jelas kan

    Komentar oleh AIRF — Oktober 4, 2007 @ 6:03 am | Balas

  2. Memang bener kalo ada ormas tertentu yang sikapnya egois, seperti tahun kemaren sempet membuat resah warga disekitar kampung saya. Kebetulan saya selalu mengacu ke beberapa sumber pengamatan hilal, seperti http://www.icoproject.org/, moon calculator punyanya Dr Monzur Ahmed, etc. dan kebetulan penetapan 1 Syawal di sumber2 itu selalu sama dengan pemerintah. Kayak untuk Syawal mendatang ini, di ICOP jatuh pada tanggal 13 untuk wilayah negara kita (http://www.icoproject.org/icop/shw28.html).

    Komentar oleh Guntur — Oktober 4, 2007 @ 8:54 am | Balas

  3. J: “Saya tahu itu, dan saya juga yakin ilmu mereka, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan mereka juga bagus. Mereka juga pasti punya alasan, namun bagaimanapun…sikap mereka membuat umat resah dan menjadikan saling menyalahkan.”
    Tanggapan: Tidak ada yg salah untuk menyampaikan pendapat. Justru yg kuatir melihat mereka yg mencoba mengadu domba pendapat yg satu dengan yang lagi, mengais permusuhan, membeda-bedakan, di atas perbedaan yg ada, bukan sebaliknya mencari cara untuk mendamaikan, menentramkan.

    J: Di saat umat lain sudah tiba di permukaan bulan (dan mengeksplor dan meneliti bulan) serta mulai ‘berebut’ menjelajah planet, bahkan galaksi lain, umat Islam (terlebih lagi umat Islam di Indonesia) masih saja ribut di tataran yg (sebenarnya) sederhana ini.
    Tanggapan: Kalau perbedaan pendapat malah dipanas2i, yang terjadi yg beginilah. Seharusnya yg lebih tepat kita mengatakan: Banga lain sudah ke bulan, tapi umat kita masih mau aja dipanas-panasi, di adu domba, disulut emosinya, padahal itu ga urusan kita.

    J: “Baik…saya akan jelaskan sebagai berikut. Menurut saya, kaum muslim di Indonesia hendaknya MEMPERCAYAKAN KEPADA PEMERINTAH untuk MENETAPKAN 1 SYAWAL INI!”
    Tanggapan: Marilah kita pikirkan lebih jauh lagi. Kita suka sekali memberi kesempatan pada pemerintah/negara untuk ikut campur urusan agama di satu urusan, tapi tidak di urusan lainnya. Haji, Kawin, Cerai, Waris, dan segala perkara di Pengadilan Agama, sampai disitu saja peran negara buat Islam. Lalu sebentar lagi ada orang yg usul agar urusan Syawalan, diserahkan jadi urusan negara. Tapi giliran pelacuran, kita protes pada perda. Giliran syariat Islam, lantas kita teriak lantang: “Negara dan Agama jangan dicampur2 dunk…!!” Jadi seolah kita mau pake baju tapi ga mau pake celana…setengah2.
    Jadi daripada setengah2 begitu, maka yg paling tepat memang Pemerintah-lah yg berwenang sebatas menentukan kapan hari libur nasional. Sedangkan penetapan 1 Syawal-nya itu sendiri bukan urusan pemerintah. Bisa jadi, karena pemerintah ikut2an menetapkan (tanpa ada dasar) malah urusan jadi tambah runyam. Menteri Agamamnya aja sendiri pusing. Pokoknya urusan fiqh-agama kl pemerintah ikut2an malah bukan makin bagus, malah makin runyam.

    J: “Saudaraku, saya punya pendapat bahwa pemerintah punya wewenang untuk mengambil/menetapkan suatu kebijakan untuk menenangkan umat. Dalam kasus ini, agar umat tidak terpecah belah dalam penentuan 1 Syawal, hendaknya pemerintah segera melakukan tindakan.”
    Tanggapan: Sepertinya ini hanya untuk memanas-manasi dan memberi potret bahwa “umat sedang tidak aman.” Padahal yg merasa tidak aman mungkin hanya sekelompok oknum, yang lalu memanas-manasi orang lain supaya ikut2an tidak aman dan membuat perpecahan. Cenderung berlebihan jika dikatakan perbedaan Syawalan dituding merusak ketentraman. Sekaligus saja urusan Syawalan nanti jadi urusan Densus 88 juga.

    J: “Wah wah wah….ternyata ruyam toh masalahnya karena beda 1 Syawal?”
    Tanggapan: Tidak runyam jika yg dipakai adalah toleransi, bukan prasangka.

    Komentar oleh MPK — Oktober 4, 2007 @ 12:52 pm | Balas

  4. Penetapan 1 syawal itu bukan urusan pemerintah tapi urusan MUI, kita tunggu aja apa kata MUI

    Komentar oleh WILI — Oktober 4, 2007 @ 2:34 pm | Balas

  5. Tapi setau saya lebaran kita gak bakalan beda koq.

    Sama-sama 1 syawal. 😀

    Komentar oleh Sundoro — Oktober 4, 2007 @ 4:53 pm | Balas

  6. Ikut Mekkah!!! ngikut kiblat!!! gitu aja koq repott!!! .. Mekkah kan telat sekian Jam dari kita … jadi kalo kita paginya dah shalat Ied .. trus siang sekitar jam 10 11 an Mekkah shalat ied juga brarti bener deh …

    jangan kayak kmaren2 😛
    Mekkah hari ini … kita besoknya … astagfirullah … jangan jangan emang bener dah deket kiamat ya? matahari edarnya dah kebalik??????

    untung yang kmaren kmaren gw ngikut Muhammadiyah 😛 … bareng deh ama Mekkah 😛

    Komentar oleh Nooruddien M — Oktober 6, 2007 @ 3:36 pm | Balas

  7. Mas Nooruddien, penanggalan bulan itu berbeda dengan penanggalan matahari. Kalo untuk matahari bagian timur lebih dulu daripada barat, untuk bulan sebaliknya.

    Referensi bisa dilihat di wiki, saya quote:

    “The moon sets progressively later than the sun for locations further west, thus western Muslim countries are more likely to celebrate some holy day one day earlier than eastern Muslim countries.”

    ini linknya: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_calendar

    Jadi kalo Mekkah duluan itu bisa jadi begitu, dan bisa jadi untuk daerah kita belum saatnya 🙂

    Komentar oleh Guntur — Oktober 7, 2007 @ 5:29 am | Balas

  8. Loh, bukannya Dep Ag sudah punya Dewan Isbat, yang melakukan tugasnya (menurut saya) sudah benar, yaitu melototin langit tiap penghabisan bulan..
    Sayangnya memang banyak golongan yang ngga mendukung pemerintah, sehingga mereka memutuskan hal yang berbeda..

    cmiiw. wassalamualaikum

    Komentar oleh nina — Oktober 8, 2007 @ 10:41 am | Balas

  9. yah, emang kita mestinya ngikut aja ke pemerintah yg membentuk dewan isbat. Kan dewan isbat udah terdiri atas berbagai macam organisasi Islam di Indonesia, yg sudah musyawarah mufakat memutuskan mulainya 1 syawal. kalo kemudian ada yg menyimpang dari keputusan bersama, apa tuh namanya…

    Komentar oleh syamsul — Oktober 8, 2007 @ 12:34 pm | Balas

  10. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”
    Beliau juga berkata mengutip hadits nabi SAW: “Tangan Allah SAW bersama Al-Jama’ah.”
    Apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diamini oleh para ulama hingga sekarang ini. Salah satunya adalah arahan dan petunjuk dari Al-’AllamahSyeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.
    Beliau berkata, “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing”

    Komentar oleh syamsul — Oktober 8, 2007 @ 12:53 pm | Balas

  11. Bagaimana jika kepercayaan rakyat ke pemerintah makin berkurang.. rakyat akan mengikuti siapa. apalagi pemerintah indonesia kl saya perhtikan sangat mengikis akidah umat muslim dengan cara tayangan2 tv yg tidak di tertibkan oleh mereka, dst dst dst. pemerintah tidak menghormati umat muslim, tidak berniat membuat umat Islam menjalani agamanya dengan benar. justru arahnya membuat umat muslim lupa akan agama dan Tuhannya. jadi percaya sama siapa saya .. ?? ikut dengan imam mana saya .. ?? saya lebih memilih ikut dengan mekkah yang InsyaAllah lebih saya anggap benar dari pada pemerintah sendiri… bukan masalah muhammadiyah atau nu. dan kebetulan lebaran di mekkah sama dengan waktunya dengan yg muhammadiyah .. mudah2an Allah memberi petunjuk kepada pemimpin2 kita agar rakyat nya dibawa kearah yg lebih islami . amiin

    Komentar oleh ahmad — Oktober 9, 2007 @ 1:33 pm | Balas

  12. mas -mas 1 syawal kok di masalahin. kita ini udah biasa berbeda , padahal itu untuk hala- hal yang hukumnya wajib mis. qunut dan tidak qunut ketika sholat shubuh, membaca basmalah ketika jadi makmum, padahal itu ber kaitan dngen sah tidaknya sholat kita, tapi kita bisa menerima. untuk hal sholat ied kenapa kita harus berdebat padahal itu adalah amalan sunnah. yang pentin ukhuwah islamiyah nahnu ummatab wahidun. itu aja kok rapat….eh repot….

    mas Doel, saya baru tahu bahwa qunut dan membaca basmalah terkait dg sahnya sholat. apakah anda bisa memberikan referensi/haditsnya?

    Komentar oleh doel — Oktober 10, 2007 @ 4:07 am | Balas

  13. @ahmad: lebih baik ikuti perintah Nabi. dalam hal ini, Nabi pernah bersabda

    “Berpuasalah kalian jika kalian melihatnya (hilal) dan ber’iedhul Fithrilah kalian jika kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Di sisi lain, kita juga diperintahkan untuk mentaati Ulil Amri diantara kita, dalam hal ini pemerintah

    “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian…” (an-Nisaa’: 59)

    Bagaimana apabila pemerintah kita dhalim dan fasik? Maka tetap ada kewajiban bagi kita mengikutinya, selama yang diperintahkan tidak membawa pada kekafiran. Hal-hal semacam ini bukan sesuatu yang mudah disepelekan bagi pemerintah, karena tanggung jawabnya di hadapan Allah yang besar. Rasulullah pernah bersabda

    “Sesungguhnya akan terjadi setelahku kedhaliman-kedhaliman dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada orang yang mengalami masa tersebut dari kami?” Beliau menjawab: “Tunaikanlah hak-hak mereka atas kalian, dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.” (HR. Muslim)

    yang dimaksud “mereka” dalam “Tunaikanlah hak-hak mereka atas kalian” adalah penguasa.

    @doel: masalah 1 syawal berkaitan dengan haram tidaknya berpuasa di hari itu atau hutang tidaknya puasa Ramadhan kita. kalo shalat iednya sih emang sunnah. 🙂

    Komentar oleh Guntur — Oktober 10, 2007 @ 5:52 am | Balas

  14. Ass. Wr. Wb.
    Koq malah jadi ribut beneran? gini aja, gimana kalo kita jalanin mnurut keyakinan kita, toh yg menilai pada akhirnya ALLAH S.W.T. kita sebagai hambaNYA menajalankan perintahNYA sebaik mungkin. ada yg ikut pemerintah, silahkan, ada yg muhammadiyah yah silahkan.. Memang saya juga bukan hambaNYA yg sempurna, saya juga masih punya dosa dan kebiasaan buruk lainnya. Tetapi saya pribadi ikut muhammadiyah, bagi anda2 yg percaya sm PEMERINTAH, SILAHKAN..(tohh kita sdh sm2 tau koq bagaimana kinerja pemerintahan R.I tercinta kita ini.(no offense)
    Wassalam.

    Komentar oleh Allan — Oktober 10, 2007 @ 6:01 am | Balas

  15. Menentukan 1 Syawal oleh siapapun dengan cara atau metode hisab, boleh2 saja sekalipun hal itu tidak diperintahkan Nabi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana jika hasil perhitungan tersebut tidak sesuai dengan keputusan pemerintah. Bukankah hal ini akan membingungkan umat? Saran saya di masa2 mendatang hasil hisab yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyaraakat tersebut, JANGAN DULU DISEBARLUASKAN, APALAGI DIPAKSAKAN KEPADA KHALAYAK RAMAI UNTUK MENAATINYA. Al-Qur’an memerintahkan kepada kita untuk taat kepda Allah, kepada Rasul dan kepada Pemerintah kamu. Bukan kepada organisasi, partai atau kepada orang perorangan. Demikianlah, wassalamu alaikum warahmatullah. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H, taqabballahu minna waaminkum.

    Komentar oleh RcA — Oktober 11, 2007 @ 8:38 am | Balas

  16. ya udah kalo gitu besok-besok jangan ada kalender,jadi nentuin pergantian bulannya ngliat bulan dulu.jelas-jelas dah ada ilmu perhitungannya.nentuin kalender sampai tahun berapa aja bisa dihitung.nentuin gerhana bulan,tanggal, hari jamnya aja dah bisa dihitung dan tepat.apalagi alam lagi ngga bisa ditebak.coba deh berpikir pake logika.pemerintah lbh cenderung politis karena sulit tuk nentuin kebijakan dalam waktu singkat.pasti berdampak pd ekonomi terutama perbankan.kita shalat kiblatnya mekkah.tapi lebaran???pada akhirnya semuanya berbalik pd hati masing2.LISTEN TO YOUR HEART.Yang penting FITRInya bukan salat iednya.udah deh kita sm2 berpedoman pd alquran dan hadist.OK???

    Komentar oleh riza — Oktober 11, 2007 @ 5:14 pm | Balas

  17. Baiat dan taat pada pemerintah selama tidak menyuruh maksiat kepada Allah merupakan kewajiban umat islam dalam suatu negara, dan itu termasuk salahsatu ushul/pokok dari beberapa ushul aqidah ahlussunnah wal jama’ah…juga itu termasuk ibadah.
    Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan bait, maka mereka termasuk pengikut kaum khowarij.

    Komentar oleh alu shiddiq — Oktober 15, 2007 @ 6:23 am | Balas

  18. Daripada ribut, mending lebaran ikut Saudi aja….karena :
    1. Kalau pemerintah = NU (13 Okt), pasti Muhammadiyah nolak
    2. kalau pemerintah = Muhammadiyah (12 Okt), tentu Nu nya yang nolak
    Kalau ikut Saudi, paling NU sama Muhammadiyah yang nolak…..jadi…..gak pada lebaran tuh….
    Hari gini masih ribut ngitungin bulan, orang lain dah pada sampe ke bulan…..Rukyat dan Hisab dua-duanya ada nash nya…..jadi kalau nyalahin yang satu pasti kita mengingkari yang satu demikian seterusnya…..Jadi daripada ribut-ribut mulu (yang demen dan seneng tentu orang lain), mending menyatukan pendapat yaitu : IKUT SAUDI, toh saat wukuf di arafah ulama nya NU dan MUHAMMADIYAH ikut Mufti nya SAUDI, tul gak, walaupun beda dgn penanggalan di tanah air, pasti ulama NU dan MUHAMMADIYAH gak ada yang protes dan gak mau wukuf di tanggal yang telah ditetapkan sang Mufti….walaupun ada yang berpendapat gak logis, tapi dalam hal agama memang kadang2 ada yang gak bisa diterima secara logika….contoh : kenapa shalat subuh 2 rakaat bukan 4 rakaat….??? Yang penting umat islam harus bersatu….coba deh buka Al Quran surat 30:30-32…..So…mari kita berlebaran tanggal 1 Syawalnya Saudi….

    Wassalam,
    AI

    Komentar oleh Ary — Oktober 18, 2007 @ 10:17 am | Balas

  19. Persoalan sebenarnya bukanlah pada maasalah teknologi. Tapi pada “Perintah Nabi”. Kalau tidak ada petunjuk Nabi seperti itu, yah tentu kita bebas menggunakan metode apa saja. Itu soalnya. Jadi bukannya penganut ru’yat tidak mau menggunakan teknologi.

    Komentar oleh RcA — Oktober 29, 2007 @ 7:25 am | Balas

  20. Kenapa harus ikut Arab? Just because they have Kabah, it doesn’t mean they have power to control moslems all over the world.

    Akar perbedaan NU & Muhammadiyah dalam penentuan 1 Syawal kan pada metodenya. NU bertahan pada metode a-la zaman Nabi (pengamatan visual), sedangkan Muhammadiyah ngotot menggunakan hitungan matematis astronomis.

    Saya sendiri berpendirian: mendingan serahkan suatu urusan kepada ahlinya. Saya tidak mengerti astronomi, jadi mending dengerin aja omongan ahli astronomi. Bukannya apatis, tapi kalo begitu hukumnya berarti saya juga harus menguasai ilmu waris, zakat, fiqih, niaga, perkawinan, weleeeehh…. kapan kerjanyaaaa…. ?

    Kalo ternyata para ahli astronomi NU & Muhammadiyah berbeda pendapat, ya artinya saya harus ikut salah satunya, dong. Jujur saja, saya tidak menggunakan dasar apapun untuk menjatuhkan pilihan. Ngapain repot-repot mikir, toh mereka berdua sama-sama ahli.

    Itu artinya, saya benar kalo ikut salah satunya. Yang salah adalah jika saya tidak ikut dua-duanya. Dalam kasus Lebaran 2007 ini, saya bisa disebut salah kalo memilih ikut berlebaran pada tanggal 13 Oktober, misalnya.

    Kalo dah gini, saya bisa tertawa penuh kemenangan di depan ulama NU & Muhammadiyah sambil berkata “Ini lho.. masih ada satu umat Islam yang tidak termakan nafsu egoismu”…..

    Komentar oleh zailani — Oktober 30, 2007 @ 1:58 pm | Balas

  21. sepengetahuan saya alasan ingin mendahulukan lebaran klasik “mengikuti lebaran di mekkah” Sebenarnya salah besar. pernahkah terpikir oleh anda, waktu makan sahur aku melihat tv ada Presiden SBY berbuka puasa di mekkah. itu artinya kalo kita mengikuti waktu di mekkah, bagaimana dengan waktu shalat wajib yang kita laksanakan, buat apa kita shalat subuh toh di mekkah juga lagi waktu magrib, kalo kamu manusia ikuti lebaran sesuai pemerintah indonesia jangan menginduk orang mekkah

    Komentar oleh Sarjana Agama — Januari 10, 2008 @ 11:15 am | Balas

  22. Bismillah, ketentuan masuknya Ramadlan dan keluarnya hendaknya dikembalikan kepada keputusan Pemerintah RI.
    Karena Hari Raya, Puasa adalah ibadah jama’i yang dipimpin oleh imam dalam hal ini adalah penguasa. Rasulullah SAW bersabda:
    الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
    “Hari Idul Fitri adalah orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul Adlha adalah hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 731 dari Aisyah RA, beliau berkata: hadits shahih gharib)
    Rasulullah SAW juga bersabda:
    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
    “Puasa adalah hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 633, Ibnu Majah: 1650 dari Abu Hurairah RA)
    At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin) dan mayoritas manusia.” (Tuhfatul Ahwadzi: 2/235).
    Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi Al-Hindi berkata: “Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. (Hasyiyah Ibni Majah As-Sindi:3/431)
    Imam yang memiliki legalitas adalah Pemerintah melaului Depagnya, bukan PBNU, PP Muhammadiyah, PP Persis, mursyid thariqat atau Amir LDII, karena melihat tafsir ayat “WA ULIL AMRI MINKUM” tentang pemerintah yang wajib dita’ati(QS. An-Nisa: 59) yang merujuk pada penguasa yang MAUJUD (memiliki legalitas, aparat, perangkat) bukan Imam yang MA’DUM (abstrak) seperti pimpinan berbagai organisasi atau sekte.
    Menurut Ibnu Taimiyah bahwa kalau ada seseorang melihat hilal sendirian dan persaksiannya ditolak oleh pemerintah dengan alasan apapun maka ia tetap MENGIKUTI KEPUTUSAN PEMERINTAH. (Lihat Majmu’ Fatawa: 6/65)
    Yang demikian karena ijtihad ini (tentang hari raya) tidak menjadi tugas individu atau kelompok tetapi sudah menjadi IJTIHAD PENGUASA dalam rangka menyatukan kaum muslimin.

    Pada jaman pemerintahan Umar bin Khathtab RA suatu waktu ada 2 orang melihat hilal Syawal kemudian salah satunya tetap puasa (karena tidak ingin menyelisihi masyarakat yang masih berpuasa) yang satunya berhari raya sendirian. Ketika permasalahan ini sampai kepada Umar RA maka beliau berkata kepada orang yang berhari raya sendirian: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal maka kamu akan saya pukul.” (Majmu’ Fatawa: 6/75) Dalam riwayat lain akhirnya Umar meng-isbat bahwa hari itu adalah hari raya dan menyuruh kaum muslimin unuk membatalkan puasa mereka berdasarkan kesaksian 2 orang tersebut. (Mir’atul Mafatih: 12/303-304)
    Suatu ketika Masruq (seorang tabi’in) dijamu oleh Aisyah RA, ia berkata: “Tidak ada yang menghalangiku dari puasa ini (Arafah) kecuali karena takut ini sudah Idul Adha.” Maka Aisyah menolak alasannya dengan mengatakan: “Idul Adha adalah hari orang-orang beridul adha bersama-sama dan idul fitri adalah hari orang-orang beridul fitri bersama-sama.” (Silsilah Shahihah Al-Albani: 1/223) Ini karena Masruq telah menyendiri dari puasanya penduduk Madinah.
    Suatu ketika Yahya bin Abu Ishaq (seorang tabi’in) melihat hilal Syawal sekitar dhuhur atau lebih dan ada beberapa orang yang ikut berbuka dengannya. Kemudian ia dan beberapa orang mendatangi Anas bin Malik RA (sahabat Nabi SAW) dan memberitahukan kepada beliau perihal rukyat hilal Syawal dan beberapa orang berbuka (membatalkan puasanya) pada hari itu. Maka beliau berkata: “Adapun aku maka telah genap aku berpuasa 31 hari karena Al-Hakam bin Ayyub (penguasa ketika itu) telah berkirim surat kepadaku bahwa beliau berpuasa sebelum puasanya orang-orang.Dan aku benci untuk berbeda hari raya dengan beliau dan puasaku akan aku sempurnakan sampai nanti malam.” (Zaadul Ma’aad: 2/37)
    Dan yang semakna adalah kasus penolakan Ibnu Abbas RA (sahabat Nabi) terhadap kesaksian Kuraib (tabi’in) yang telah merukyat hilal Syawal di Syam bersama Mu’awiyah RA (sahabat Nabi) pada hari Jum’at karena bertentangan dengan puasa dan hari raya warga dan otoritas kota Madinah yang berhari raya Sabtu.Dalam kasus ini Kuraib menyendiri dari penduduk kota Madinah. (Subulus Salam: 2/462)
    Maka saya berpesan pada pemilik situs ini agar menyampaikan tulisan saya ini kepada mereka-mereka yang egois yang bangga dengan ijtihadnya sendiri baik dengan hisab atau rukyat dalam keadaan menyelisihi isbatnya pemerintah maka sadar atau tidak mereka telah berupaya memecah belah umat.
    JIka orang-orang egois itu bertanya bahwa kadang-kadang penguasa bertindak tidak adil seperti menolak persaksian rukyat karena beda madzhab atau alasan politis dsb?
    Maka Rasulullah SAW menjawab:
    يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
    “Mereka (penguasa) itu shalat untuk kalian. Jika ijtihad mereka benar maka pahalanya untuk kalian, kalau ijtihad mereka keliru maka pahalanya tetap atas kalian dan dosanya ditimpakan atas mereka.” (HR. Bukhari: 653)
    Semoga ini dapat menjadi bahan renungan ditengah-tengah upaya penyatuan hari raya kaum muslimin Indonesia.

    Komentar oleh Abu faqihah — September 18, 2009 @ 9:06 pm | Balas

  23. […] – Lebaran Berbeda? Jangan Donk! […]

    Ping balik oleh Beberapa Artikel Tentang Lebaran Yang Berbeda « Blog Tausyiah275 — Juni 14, 2012 @ 12:04 pm | Balas

  24. […] dengan adanya perbedaan merayakan Idul Fitri (Lebaran), maka aku muat artikel tanya jawab sekitar perbedaan […]

    Ping balik oleh Tanya Jawab Sekitar Lebaran Yang Berbeda « Blog Tausyiah275 — Juni 14, 2012 @ 12:05 pm | Balas

  25. […] artikel terbaru tentang perbedaan 1 Syawal* Share this:FacebookTwitterLike this:SukaBe the first to like this. Komentar […]

    Ping balik oleh Jika 1 Syawal Berbeda… « Blog Tausyiah275 — Juni 14, 2012 @ 12:06 pm | Balas

  26. […] terjadi agak lama (jika aku tidak salah dengar). Namun, hal ini kian meruncing pada saat terjadi perbedaan penentuan hari Lebaran 1428 H, dan ‘meledak’ pada 26 Oktober 2007 […]

    Ping balik oleh Larangan Terhadap Orang Yg Hendak Jum’atan « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:40 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: